Catatan Perjalanan Susur Pantai Selatan Jawa Barat : Part 1, Pantai Ujunggenteng

Kalau ada yang bertanya siapa yang ingin kembali ke masa lalu, atau pergi ke masa depan, mungkin semua orang menunjuk tangan. Sayangnya hingga saat ini (saat tulisan ini dibuat) mesin waktu (untuk manusia) belum bisa dibuat. Padahal jika ada yang sadar, ada komponen alam semesta yang sudah melakukan penjelajahan waktu : Cahaya. Cahaya dapat bergerak melintasi waktu. Cahaya bintang yang kita lihat malam ini mungkin datang dari bintang yang sudah mati, cahaya matahari yang kita lihat saat ini berasal dari matahari 8 menit yang lalu. Termasuk Foto. Ya, foto pada dasarnya adalah berkas cahaya yang disimpan ke dalam medium (digital/film), dan mereka berasal dari masa lalu dan dapat kita saksikan saat ini.

Selain foto, masih ada tulisan, yang menjadi tanda keberadaan akan suatu peradaban (karena itu, masa-masa peradaban manusia dimana tidak ditemukan sumber tulisan dinamakan masa pra-sejarah/nirleka). Jangan lupa, ingatan manusia juga terbatas, maka keberadaan tulisan

Nah, cukup prolognya, kita lanjut basabasinya :p Di tulisan ini, saya akan menuliskan catatan perjalanan hasil penelusuran pantai selatan jawa barat. Terlahir di Kota Bandung yang dikelilingi gunung-gunung, mungkin perjalanan saya ke pantai dapat dihitung jari. Namun terinspirasi dari tulisan kak Wiranurmansyah (http://wiranurmansyah.com/10-pantai-paling-dekat-dengan-bandung) akhirnya beberapa tahun yang lalu muncul niat untuk menjelajahi pantai selatan Jawa Barat. Keinginan ini hanya menjadi wacana hingga terwujudkan tanggal 5-9 April 2016 dengan bantuan sponsor (dari kantor) 😀 Perjalanan ini sebenarnya dadakan juga, mengingat sebelumnya kami berencana berwisata melakukan rapat kerja ke daerah Malang, namun karena satu dan satu hal lainnya, agenda ini urung dilakukan.

Secara umum perjalanan menelusuri pantai selatan Jawa Barat dari Bandung memakan waktu 5 hari 4 malam dan menempuh lintasan

Bandung – Pantai Ujung Genteng – Curug Cikaso – Pantai Jayanti – Pantai Sayangheulang – Bodyrafting Citumang – Pantai Pangandaran – Cipanas Garut – Bandung

sepanjang kurang lebih 800 km menggunakan kendaraan pribadi.

Di tulisan bagian pertama ini, saya akan menuliskan pengalaman di hari pertama.

5 April 2016

Kami (Saya, Pories, Arief dan Wahyu) sepakat berangkat dari Bandung jam 05.00 di ITB, dan akan menjemput mas Firman di Kota Baru Parahyangan. Sialnya, malam sebelumnya saya belum pesan ke orangtua untuk dibangunkan lebih awal, akibatnya saya baru bangun jam 5.15, dan akhirnya baru berangkat jam 06.00. Jadilah saya bulan-bulanan anak-anak sepanjang perjalanan, #pasrah. Sampai di Kota Baru, langsung jemput mas Firman, rencananya sarapan di kupat tahu Padalarang, tapi ternyata ada rumah makan yang sudah buka di Kota Baru, jadilah kita sarapan di sana. Sepiring nasi uduk dan teh tawar hangat menjadi menu pembuka saat itu. Pukul 07.00 kami lanjutkan perjalanan ke pantai Ujung Genteng melalui Cianjur-Sukabumi. Sebenarnya ada jalur lain lewat Ciwidey, namun menurut beberapa informan, jalan ke Ciwidey tidak terlalu bagus (nurut juga sama yang punya mobil) dan sebagai Network Engineer, selain itu kami usahakan jalan yang dilalui efisien sesuai prinsip Traveling Salesman Problem #gaya.

Perjalanan melalui daerah Citatah yang lalu lalang oleh truk-truk besar pengangkut kapur dari pegunungan karst dengan jalan-jalan mulus yang berbelok-belok, untungnya masih pagi jadi jalan tidak terlalu macet. Lalu tidak terasa kami melewati persawahan Cianjur hingga akhirnya sampai di Sukabumi sekitar pukul 10. Memasuki Sukabumi, kami putuskan melalui jalur alternatif via Warungpeuteuy dengan alasan menghindari kemacetan di kota Sukabumi. Jalan yang melewati komplek persawahan ini ternyata kondisinya sangat jelek dengan lubang disana-sini dan aspal bergelombang. Kami melalui jalanan seperti ini selama kurang lebih 2 jam, selebihnya jalan yang kami lalui lumayan mulus. Selama perjalanan, selain mengandalkan google maps, rupanya mas Firman dan istrinya ternyata orang Jampang. Sebelumnya kami mengisi bahan bakar di daerah Baros. Sepanjang perjalanan dapat ditemui beberapa minimart, selebihnya hanya pepohonan dan rumput yang bergoyang.

Trek yang dilalui sebenarnya tidak sesuai jalur awal, karena seharusnya kita tidak melalui Tegalbuleud. Kami sampai di daerah Tegalbuleud sekitar pukul 14.00, di sini agak sulit rupanya menemukan tempat makan, banyak warung bakso tapi saat kesana kebanyakan tutup. Akhirnya kami makan di warung nasi dekat Curug Cikaso, di tengah perkebunan jati dan dekat sungai Cikaso. Saya memesan nasi + 2 perkedel jagung + tumis jamur, saat membayar, Makjang, 97000 untuk ber-5, lumayan muahal :)) Tapi karena sudah kelaparan, apa daya, setelah itu kami lanjutkan perjalanan ke Pantai Ujunggenteng. Dari tempat makan tadi, sekitar 15 menit kami melewati gerbang Curug Cikaso, tapi cuma lewat.

DSC03494
Warung nasi mahal 😦 tempatnya asik sih, terbuka dan dikelilingi hutan jati dan sungai

Sekitar pukul 3 sore, kami sampai di gerbang masuk daerah objek wisata Pantai Ujunggenteng, 1 mobil (berisi 5 orang) dikenakan biaya Rp. 35000, instead of diberikan karcis, kami diberi stiker Pantai Ujunggenteng. Mungkin karena plat nomornya Bandung, sudah pasti dikenakan retribusi, coba bilang mau ketemu Haji Dadang, mungkin gratis, mungkin loh ya.

DSC03501
Gerbang retribusi objek wisata pantai Ujunggenteng

Perjalanan berikutnya adalah menuju penginapan. Sepanjang perjalanan kita akan melalui permukiman dan kebun-kebun yang jadi tempat menggembala sapi.

DSC03504

Sebelumnya saya sempat search tempat menginap yang bisa muat 5 orang, full AC dan kamar mandi di dalam. Dari booking.com kami temukan Hotel Turtle Beach yang berada di pantai barat dengan harga Rp. 767.000/malam (sudah termasuk sarapan untuk 4 orang, wifi tersedia tapi bayar 10.000/jam), untungnya sinyal 3G Tsel masih kuat disini. Fasilitasnya terhitung bagus, tempat parkir luas, view sunset, laguna, dan jarang dilewati orang-orang. Hotel belum kami booking, untungnya lagi masih ada kamar kosong, dan ternyata harganya lebih murah sekitar 100rb dari harga website. Kami pilih kamar beach view di lantai 2 dengan alasan lebih privat :p Oya, penginapan ini berada tepat di depan gerbang menuju pantai Pangumbahan, jadi letaknya cukup strategis, walaupun jalan menuju penginapan adalah jalan tanah yang bergelombang, entah gimana klo hujan.

58263001
Kolam renangnya berair payau, jadi kurang seger :s

Lepas sholat dan istirahat sejenak, rencananya mau explore pantai sekitar, lalu malamnya dilanjut ke Pantai Pangumbahan untuk melihat penyu bertelur. Tapi apa daya, ternyata sore itu hujan mengguyur deras 😦 Alhamdulillah pukul 5 sore hujan berhenti dan kami bergegas ke pantai untuk mengejar matahari. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, perlengkapan lenong langsung digelar.

DSC03551
Plang penunjuk arah ke kota-kota besar di Dunia yang ada di halaman pantai Hotel Turtle Beach, note that Brasil arahnya ke dalam bumi. NB : jarak mungkin tidak akurat, jadi jangan coba-coba jalan kaki :p
DSC03537
Sunset belum lengkap tanpa silverqueen model
DSC03546
pose andalan B-)
DSC03569
Bersama rombongan kami juga terdapat pelancong lain yang ikut menikmati sunset

Tidak banyak yang dapat kami lakukan saat itu selain duduk di pinggir pantai menikmati sang senja terbenam di shelter-shelter yang terdapat di halaman hotel. Karena gerah saya sempat mandi di kolam renang ditemani dede-dede gemes dan om-om ganas :O

DSC03562
menikmati senja bersama teman tercinta sekantor
DSC03566
Wish you were here …

Lepas magrib, kami makan malam di restoran, saya memesan nasi goreng dengan harga 27ribu-an dan segelas es teteh manis, lumayan mengobati rasa lapar dan dongkol karena warung nasi mahal tadi siang, hehe. Setelah makan, rencana kami adalah mengunjungi Pantai Pangumbahan, tapi teman-teman sudah pada kepayahan, jadilah kami hanya beristirahat di kamar. Pories mengajak membeli snack di indominimart di jalan arah pantai timur Ujunggenteng, tapi hanya kami bertiga (Saya, Pories, Wahyu) yang ikut.

Setelah berbelanja, spontan Pories mengajak pergi ke Pantai Pangumbahan (sekitar pukul 8 malam waktu itu), kami sepakat berangkat melalui jalan depan penginapan menggunakan mobil. Dari gerbang masuk menuju Pantai Pangumbahan, terdapat 2 jalur, pertama lewat kiri melalui pinggir pantai, dan jalur kanan melalui permukiman nelayan.

DSC03658
Jalur kiri ke pantai Pangumbahan saat siang, agak khawatir kalau malam apakah jalannya masih bisa dilalui saat pasang

Kami melalui jalur kanan melewati permukiman nelayan, terdapat petunjuk jalan menuju konservasi penyu. Kondisi jalan sangat sepi, hanya ada 1 pengemudi motor yang kami temui, dengan kiri kanan setelah permukiman dipenuhi belukar dan pepohonan, tanpa penerangan. Kondisi jalan kurang baik, jadi kecepatan kendaraan pun paling sekitar 10km/jam. Tiba di petunjuk jalan terakhir sekitar 1.5km sebelum konservasi penyu terdapat percabangan, dua-duanya jalan yang gelap, kami gunakan jalan ke kiri yang dipenuhi belukar dan jalanan berbatu rapat dan cukup tajam. Disinilah kejadian yang tidak disangka-sangka itu terjadi :))

Saat melalui jalan gelap tersebut sekitar 5 menit dengan kecepatan seadanya, supir (Pories) saat itu juga sudah cukup kesusahan mengendalikan laju kendaraan, tepat dibawah pohon cukup besar, mobil kami tiba-tiba mati (terjadilah kejadian yang sebelumnya hanya kami dengar di cerita-cerita horor radio/film :)) ). Kendaraan tidak bisa dinyalakan. Kami pun kebingungan, karena dari Bandung kok ga ada masalah ini mobil. Pertimbangan logis, mungkin aktuatornya kebetulan ga berjalan baik. Dengan kondisi saya ga bawa HP, dan cuma Pories yang bawa HP bersenter, kami coba kontak orang di penginapan, katanya sih disuruh nunggu. Akhirnya, kami coba langkah berikutnya untuk menyalakan mobil, berdua (Saya dan Wahyu) coba mendorong mobil yang pake mesin pun susah jalannya, tak beberapa lama mobil berhasil dinyalakan. Tanpa berpikir panjang, kami putuskan balik arah, kembali ke penginapan. Di mobil kami bertiga tidak berbicara apa-apa :)) Sampailah di penginapan lalu langsung menceritakan perihal yang terjadi. Rencananya, saya ingin memotret malam waktu itu, tapi karena terjadi hal tadi, rencana ini urung saya lakukan. Malam itu sepertinya memang kami tidak ditakdirkan untuk istirahat di kamar saja, main kartu, lalu tertidur pulas.

6 April 2016

Lepas solat subuh, kami rencananya ke pantai timur untuk melihat sunrise, tapi saya sendiri kebablasan, jadinya bangun setengah 6, akhirnya ga kemana-mana, sampai setelah sarapan yang disediakan penginapan (nasi goreng+telur+es teh manis), kami duduk ngopi-ngopi ganteng di shelter penginapan.

Setelah sarapan, sekitar jam 8 pagi kami berencana ke Pantai Pangumbahan, Saya dan Wahyu waktu itu memutuskan jalan duluan menyusuri pantai. Karena ada miskomunikasi, 3 rekan lain malah pergi ke Pantai timur yang berlawanan arah. Akhirnya hanya saya berdua yang ke Pantai Pangumbahan. Jangan percaya kata penduduk yang bilang dari gerbang masuk depan penginapan kami ke konservasi cuma paling lama setengah jam :)) Saya berjalan hampir sejam dan belum tampak tanda-tanda daerah konservasi penyu ini. Jam 9 saat itu di sudah cukup terik, peluh bercucuran sampai mata pun perih karena keringat.

DSC03608
Moga-moga yang punya perahunya juga barokah, aamiin
DSC03627
Panas coyy..

Jalanan cukup sepi, sesekali ada pengendara motor, penduduk sepertinya, yang lewat. Sampai di pantai yang dibatasi oleh Tembok tinggi, kami diarahkan jalan ke arah daratan sampai ketemu rumah penduduk juga penginapan (katanya ini penginapan paling dekat ke konservasi penyu). Rumah tersebut juga menjadi titik temu jalan dari gerbang masuk menuju pantai Pangumbahan (lewat permukiman dan pinggir pantai), dan rupanya memang tinggal dikit lagi dari tempat tragedi agak horor semalam. Di sana kami juga membeli minuman dingin yang langsung habis diteguk. Dari rumah tersebut, jaraknya sekitar 1km ke tempat konservasi penyu yang dituju. Tidak ada petunjuk yang memberitahu dimana tempat tersebut. Ternyata saat ini pantai tersebut dikelilingi oleh tembok untuk melindungi habitat penyu (terakhir sekitar tahun 2010an belum ada tembok ini).

DSC03654

Tembok pembatas daerah konservasi penyu/Pantai Pangumbahan

DSC03630
Pantai Pangumbahan/tempat konservasi penyu dibatasi oleh tembok tinggi dan jalan seperti ini, konon ini jalan Pemda dan akan diaspal pada waktu berikutnya.

Untuk memasuki pantai Pangumbahan/tempat konservasi penyu, cukup telusuri tembok ini hingga ditemui pintu masuk (tanpa daun pintu) yang didalamnya terdapat belukar dan bakau). Walaupun cukup rimbun, tapi terdapat jalan setapak yang mudah dilalui dan dilihat. Sekitar jam setengah 10 pagi, akhirnya sampailah kami di pantai Pangumbahan, Subhanallah pasirnya memang lembut dan bersih :3

DSC03648
Pemandangan sekitar Pantai Pangumbahan
DSC03643
Entah karena weekday, atau siang-siang hanya kami berdua pengunjung di sini, privat sekali :3
DSC03652
Santai dulu coyy..
DSC03642
merem-melek nahan panasnya matahari jam 10 pagi, kebayang jam 12 lewat gimana -_-

Datang ke pantai pangumbahan ini memang baiknya sore-sore sih, sambil menikmati sunset dan panasnya ga kebangetan. Kami agak dodol juga dateng ke sini siang-siang. Karena mengejar waktu check-out hotel jam 11, kami ga banyak menghabiskan waktu di pantai Pangumbahan ini (selain panas), padahal ke arah barat pantai ini masih ada pantai Pasir Putih, dan Ombak 7 yang cukup populer oleh turis mancanegara. Kecapean dan kepanasan, saat ditawari ojek 20rb berdua sampai penginapan kami tidak banyak tanya lagi, perjalanan lebih singkat jadi sekitar 20 menit, tahu gini kan naik mobil aja -_- Dari mamang ojek ini kami juga jadi tahu tarif guide/ojek ke beberapa spot yang saya sebutkan tadi, sekitar 200ribu/orang. Di jalan menuju Pantai Pangumbahan ini juga terdapat penginapan penduduk dengan tarif sekitar 100rb/malam.

Sampai di penginapan, mandi secepatnya, berkemas, main kartu se-game, langsung checkout. Rasanya belum puas explore di pantai ini, suatu saat insyaallah saya akan kembali ke tempat ini. Perjalanan belum usai, jadi stay tune di seri catatan perjalanan susur pantai selatan Jawa Barat berikutnya: Curug Cikaso

Cost damage (seingatnya) :

  • retribusi masuk objek wisata : 35rb/mobil
  • beli snack : 50rb
  • mendoan : 10rb/5 potong, beli 15 potong, kebanyakan :))
  • nasi goreng seafood (diluar sarapan) : 27rb
  • hotel : 650rb
  • ojek : 20rb

Hal-hal yang perlu dibawa/diperhatikan :

  • sunblock
  • cari informasi lebih baik tentang penginapan dan objek wisata yang ada, tidak ada panduan jelas tentang objek wisata yang tersedia, entah gunakan jasa guide penduduk, atau cari koordinatnya di google maps
  • pastikan kondisi kendaraan fit
  • bawa minum yang cukup
  • bawa senter dan selalu charge HP kalau mau bepergian, terutama malam :p

DSC03625

Iklan

2 tanggapan untuk “Catatan Perjalanan Susur Pantai Selatan Jawa Barat : Part 1, Pantai Ujunggenteng

  1. Sungguh menarik panoramanya dan tak kalah pula menariknya hasil jepretan foto ‘seascap’nya. Sungguh menginspirasi! Seandainya diizinkan, bolehkah saya mengunggah beberapa foto panorama lautnya untuk saya lukis sesuai sudut pandang saya? Terimakasih sebelumnya. Salam budaya…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s