Kemping Ceria di Puncak Bintang

‘Cause you’re a sky, ’cause you’re a sky full of stars
I wanna die in your arms
‘Cause you get lighter the more it gets dark
I’m gonna give you my heart

Coldplay – Sky Full of Stars

Siapa disini yang tidak suka menatap langit malam yang bertabur bintang? Sebenarnya bintang-bintang tetap bersinar saat siang hari, hanya saja cahayanya dikalahkan sama benderang matahari kita. Entah apa yang menarik kita untuk menatap titik-titik yang menurut beberapa orang kaya ketombe, apakah memikirkan kehidupan lain di luar sana, apakah sekedar mengagumi kerlap-kerlipnya, atau apakah ada semacam keterkaitan batin seperti yang dibilang sama Neil Degrasse Tyson : We are the son of stars, karena unsur-unsur yang menunjang kehidupan kita berasal dari bintang-bintang yang masih hidup (matahari) dan yang sudah mati.

Di perjalanan sekarang, saya tidak akan mendiskusikan topik astronomi atau tempat yang ada hubungannya sama astronomi, tapi tempat wisata (relatif) baru di Bandung yang mencatut nama Bintang! : Puncak Bintang.

Sebelum teman-teman kecewa, di Puncak Bintang ini tidak ada observatorium, teleskop atau fasilitas penelitian astronomi milik LAPAN atau ITB. Jika ingin ke observatorium beneran di Bandung, berkunjunglah ke Observatorium Bosscha. Nah, obyek wisata yang terdapat di daerah Cimenyan Kabupaten Bandung ini berjarak sekitar 30 menit dari Terminal Bus Cicaheum, atau sekitar 1.5 jam dari pusat kota Bandung. Nama puncak bintang diambil dari pemandangan kemilau cahaya lampu di perkotaan malam hari yang seperti bintang-bintang di langit.

Hari rabu saat itu adalah salah satu hari di periode long weekend tahun 2016. Awalnya saya berencana ga kemana-mana (bedakan dengan ga berencana kemana-mana :p), mengingat long weekend di Bandung adalah semacam ‘neraka’, karena di jalannya bakal macet, dan di tempat-tempat wisatanya bakal terlalu rame. Waktu itu di Bandung juga masih musim hujan. Nah hujan-hujan sih enaknya camping (loh), tapi males juga naik gunung, pasti rame dan jalanan juga macet, akhirnya kemcer di Puncak Bintang jadi pilihan. Letaknya ga jauh dari kota, persiapan juga ga perlu banyak-banyak.

Puncak Bintang ini sebenarnya ga baru-baru amat, lokasinya berdekatan sama obyek wisata Bukit Moko dan Caringin Tilu yang udah popular sedari lama. Dulunya hanya area perkebunan pohon pinus yang dikelola Perhutani. Nah, untuk menuju ke lokasi Puncak Bintang, jalur utamanya adalah lewat jalan Padasuka ke arah utara, melewati Saung Udjo, Caringin Tilu, sampai … jalanan aspal habis (literally). Tidak ada angkutan umum yang trayeknya khusus ke tempat ini. Mungkin kalau pergi sendiri baiknya sewa motor atau naik ojek (ga tau nih Goje*k atau U*ber bisa nganter kesini ga).  Lepas jalan padat permukiman, jalanan akan terus menanjak terjal, paling parah di tanjakan terakhir tepat sebelum mencapai parkiran. Pastikan kondisi kendaraan harus fit, apalagi saat perjalanan pulang, konon banyak kecelakaan di sini terjadi karena rem blong!

Saat di tanjakan, kita akan dipungut retribusi parkir Rp. 5000/motor, tapi kalau kita kemping kita akan dipungut Rp. 15rb, uang 10rb terakhir dibayarkan di tempat parkir khusus ke Puncak Bintang. Jalan sekitar 5 menit ke gerbang utama, untuk masuk dikenakan Rp. 10rb, dan untuk kemping Rp. 8rb per orang. Area kemping disediakan di sebelah timur, ke arah dermaga bintang, dan di sebelah utara di dekat puncaknya Puncak Bintang. Lokasinya tidak terlalu jauh, cuma sekitar 5 menit melalui paving block yang sudah disediakan. Fasilitas pendukung seperti toilet, musholla tersedia disini (dan gratis), penerangan jalan dan listrik ada sampai sekitar pukul 9 malam, tapi air di toilet mengalir terus, jadi tidak perlu bingung soal sumber air. Selain itu papan petunjuk dan papan informasi tersedia di beberapa tempat.

DSC01733
Dermaga Bintang, cukup mencolok dengan background pepohonan pinus

Saya memilih ngecamp di dekat area puncak, di antara pepohonan pinus. Di sini tersedia dataran yang cukup luas dan datar untuk mendirikan kemah, mungkin sekitar 10-15 tenda. Kebetulan ada sekitar 3 tenda lain yang ada di sana. Untuk yang pengen hammock-an, di sini termasuk surganya, karena tersedia banyak pohon pinus untuk jadi pancang.

DSC01713
Pal Triangulasi puncaknya Puncak Bintang : 1442mdpl
DSC01711
Nyaman bwt para hammockers, jangan lupa pake layer tambahan ya, udaranya cukup semriwing

Setelah memilih tanah untuk berkemah, saya langsung mendirikan tenda. Malam itu entah kenapa cuaca juga tidak terlalu dingin. Menu makan malam yang dipilih saat itu ada nasi bungkus yang kami beli di warung nasi sebelum ke sini, coklat panas dan makaroni rebus La F*onte (yang sekarang jadi makanan instan favorit saya bwt pengganti indo*mi). Setelah makan, sholat, dan mumpung belum hujan, saya langsung gelar perlengkapan lenong. Panorama Kota Bandung malam hari memang selalu dirindukan. Jauh dari riuh ramai perkotaan, lokasi Puncak Bintang ini memang pas untuk pelarian saat long weekend.

DSC04795
mengasingkan diri dari riuhnya perkotaan, ga perlu jauh-jauh

Sambil berkeliling di sekitaran tenda, ga sengaja mencuri dengar pembicaraan orang-orang di tenda sebelah, kayaknya sih mereka dari kelompok MAPALA. Kebetulan tetangga sebelah menyalakan api unggun yang memberikan ambience yang apik untuk foto-foto.DSC04793DSC04803

Tidak terasa malam semakin larut, dan perburuan ini harus dihentikan (lah kaya ekspedisi alam gaib). Setelah masuk tenda, sempet main kartu beberapa set, akhirnya saya tertidur lelap sampai keesokan subuhnya.

Merenung Sesaat di Patahan Lembang

Tidak terasa subuh menjelang, sekitar pukul 4.30 saya terbangun, saat itu listrik sudah menyala kembali, lampu penerangan paving block yang mengarah ke toilet dan mushola juga sudah menyala. Setelah sholat subuh, saya menatap langit dan melihat sedikit jejak-jejak galaksi bima sakti. Penampakannya cukup singkat, karena setelah itu awan kembali menyelimuti langit.

DSC04811

DSC04821

Sambil menunggu matahari terbit, saya putuskan untuk foto-foto lagi di sekitaran tenda. Oya, untuk menikmati pemandangan di Puncak Bintang yang terbaik dan ga mau treking, kita bisa datang saat sore hari saat matahari terbenam, lanjut sampai agak malam. Kalau ingin makan berat atau sekedar ngopi, bisa mampir ke warung Bukit Moko, atau di warung-warung yang ada di sekitar parkiran. Nah, untuk pemandangan matahari terbit, kita ga bisa langsung dapatkan di Puncak Bintang, kita bisa turun sedikit ke bukit depan Puncak Bintang, atau treking ke Patahan Lembang dengan background gunung Bukit Tunggul.

Nah lho, apa lagi Patahan Lembang? Patahan Lembang adalah zona patahan yang terjadi karena pergerakan lempeng, yang memanjang sekitar 25 km dari Maribaya, sampai ke Cisarua. Patahan ini terlihat seperti perbukitan yang memanjang dan bisa terlihat jelas jika kita berada di Gunung Putri Lembang. Saat ini Patahan Lembang masih dinyatakan aktif dan berpotensi menimbulkan gempa 6-7 skala richter [1]. Dengan jarak hanya 15km dari Kota Bandung, tentunya potensi ini harus disikapi dengan seksama.

Nah di Puncak Bintang, Patahan Lembang yang dimaksud adalah salah satu titik dataran di pinggir/jurang patahan Lembang, ya mirip-mirip Tebing Keraton lah. Untuk menuju Patahan Lembang ini, kita harus treking sekitar 20 menit. Treknya agak menanjak, tapi tidak terlalu panjang. Sebelum treking, sarapan dulu ya gaes, #biarsetrong.

DSC04832

Habis sarapan, cus langsung ke Patahan Lembang. Dari tempat camp, tinggal turun ikuti petunjuk arah ke Patahan Lembang, nanti akan ditemui papan informasi dan toilet yang belum bisa dipakai. Pemandangannya juga ga ngebosenin, sepanjang jalan pepohonan pinus, di beberapa tempat masih ada wadah-wadah pengambilan getah pinus

DSC04854

Bersama saya waktu itu, ada serombongan keluarga yang juga sedang menuju Patahan Lembang. Oya, pastikan kita membawa persediaan air minum yang cukup dan cemilan. Sebenarnya ada saung-saung saat perjalanan sekitar 10 menit, cuma sepertinya waktu kesana lagi pada tutup.

Treknya sendiri sudah cukup jelas, karena cuma satu jalur. Nah saat ketemu semacam portal akan ada percabangan, cukup ikuti jalur lurus (jangan belok kiri). Jalur ini adalah pertemuan antara jalur pejalan kaki dari Puncak Bintang dengan pemotor trail/warga, jadi jangan kaget kalau nanti ketemu sama motor trail.

Jangan terlalu percaya sama petunjuk waktu di plang penunjuk arah, yang pasti tergantung pace jalannya, kalau capek tinggal istirahat 😉 Nah setelah 20 menit, sampailah kita di tempat yang dituju. Tempatnya sendiri terdapat agak di bawah, jadi kita perlu turun sedikit dari jalan utama. Nanti akan ditemukan plang Patahan Lembang.

DSC04876

Viewnya 11-12 sama view di tebing Keraton lah ya, di sebelah utara kita bisa melihat daerah Cikole, Ciburial, agak ke barat kita bisa melihat gunung Tangkuban Perahu 🙂

DSC01702
Gunung sebelah kiri Burangrang, sebelah kanannya Tangkuban Perahu, agak ke depan Gunung Putri. Foto ini diambil beberapa waktu sebelumnya, cabang pohonnya masih tinggi.
DSC04872
Yang ini diambil waktu terakhir kesana, awan agak tebal dan cabang pohonya sudah patah 😦
DSC01693
Waktu nganter turis Jogja

Puas foto-foto di Patahan Lembang, saatnya kembali ke kemah. Selain Puncak Bintangnya sendiri dan Patahan Lembang, masih ada obyek lain di Puncak Bintang ini : Dermaga Bintang. Letaknya paling kanan dari pintu masuk, ditandai dengan semacam bangunan rangka besi dengan icon bintang (namanya juga Dermaga Bintang). Tingginya sekitar 6-7m dengan konstruksi yang cukup kokoh.

DSC01715

Dari dermaga ini kita bisa melihat pemandangan perkebunan di dekat Puncak Bintang, Bukit Moko dan Kota Bandung dari titik yang lebih tinggi.

DSC01718DSC01722

Kalau belum puas menjelajah di sekitaran Puncak Bintang ini, kurang sempurna rasanya kalau ga main di hutan pinus dan me-reka-ulang adegan-adegan di Bollywood.

DSC04894DSC04886DSC04884

Kalau udah puas atau udah kecapean habis dari Patahan Lembang, yasudah pulang saja, pastikan rem kendaraan kita masih berjalan baik karena jalanan akan terus menurun sampai Cicaheum, sampai ketemu di perjalanan berikutnya 😉

Cost Damage

  • Tiket parkir : Rp. 5rb (kunjungan biasa), tambah Rp. 10rb (klo kemping)/motor
  • Tiket masuk : Rp. 10rb (kunjungan biasa), tambah Rp. 8rb (klo kemping)

Untuk angkutan umum, kalau banyakan bisa sewa angkot dari dekat Terminal Cicaheum/pertigaan Padasuka, kalau sendiri bisa pakai ojyek, kurang lebih Rp. 50rb PP.

Referensi

[1] http://geomagz.geologi.esdm.go.id/sesar-lembang-heartquake-di-jantung-cekungan-bandung/

Iklan

Naik Sepur Atas Benteng Van der Wijk di Kebumen dan Mencicipi Sate Kambing Muda Brebes

nostalgia/nos·tal·gia/ n 1 kerinduan (kadang-kadang berlebihan) pada sesuatu yang sangat jauh letaknya atau yang sudah tidak ada sekarang; 2kenangan manis pada masa yang telah lama silam; (KBBI daring)

Berhubung saya belum dapet foto buat melengkapi catatan susur pantai selatan Jawa Barat bagian 4, akhirnya saya memutuskan bwt bikin tulisan lain. Kebetulan hari Sabtu minggu kemarin, saya dapet undangan pernikahan temen di Banjarnegara. Saya berangkat hari jum’at sekitar jam 8 malam dari Bandung menggunakan mobil sewaan bersama teman-teman satu kantor. Perjalanan dari Bandung ke Banjarnegara biasanya menempuh waktu sekitar 8-9 jam. Kami memilih jalur selatan (lewat Tasik),  namun rupanya Mas Firman yang bawa mobil udah kadung kecapean, jadi sekitar jam 1 pagi kami istirahat di daerah Banjar.

Sabtu paginya, pukul 6 kami melanjutkan perjalanan dan singgah di rumah makan di daerah Cilacap. Singkat kata, kami sampai di kondangan lebih awal. Ternyata Banjarnegara ini panas juga, akhirnya nunggu acara dimulai, saya numpang ngadem di mesjid yang ber-AC. Beres acara jam 1, rencananya kami langsung akan pulang ke Bandung, tapi kan sayang juga klo jauh-jauh ga sempet mengunjungi obyek wisata yang ada di daerah yang termasuk ke dalam wilayah “Republik Ngapak” (Kebumen, Banyumas, Cilacap, Purwokerto, Tegal, Brebes, Pemalang, Pekalongan, Purbalingga, dan Banjarnegara) ini. Saya sempat lewat ke daerah ini beberapa kali tapi belum tahu obyek wisata apa yang ada. Taunya dataran Dieng deket Banjarnegara, telur asin di Brebes, sama warung Tegal 😀 Nah, iseng lihat google maps, ternyata ada Benteng Van der Wijk di Kabupaten Kebumen.

Lihat dari foto-fotonya, sepertinya bangunannya menarik. Akhirnya saya bujuk-bujuk mas Firman supaya bisa nganter kesana, toh ‘satu arah’ dengan jalan pulang, hehe. Dari kota Banjarnegara, berbekal rute dari Waze, perjalanan menempuh sekitar 1 jam, melewati beberapa bukit, persawahan, sungai dan Waduk Sempor. FYI, jangan terlalu percaya sama Waze/Google Maps, buktinya kami sempat disarankan lewat jalur perkampungan yang harus melewati jembatan khusus pejalan kaki/motor, untung masih bisa putar balik -_-

DSC05192
Waduk Sempor

Singkat kata, sekitar jam 2.30 akhirnya sampailah saya di Benteng Van der Wijk. Untuk memasuki obyek wisata ini, setiap orang dikenakan tiket masuk Rp. 25000 sudah termasuk tiket masuk benteng, kolam renang (kolam renang?), kereta tour untuk mengelilingi benteng dan kereta atas benteng. Loh, apa itu kereta atas benteng? Ayo jalan bareng dulu.

DSC05207
Gapura Benteng Van der Wijck

Oya, sebelum masuk ke dalam, saya sempat mencari informasi tentang Benteng Van der Wijck. Benteng ini konon satu-satunya benteng di Indonesia yang berbentuk segi delapan (yak coba lihat di google maps). Luas benteng ini sekitar 3600 m² dan terdiri dari 2 lantai + atap.

Screen Shot 2016-05-16 at 11.29.39 PM
Kompleks Benteng Van der Wijk, pintu masuknya di sebelah kiri bawah, deket kotak-kotak ijo yang sebenarnya adalah kolam renang/waterpark

Nah, saya kira Benteng Van der Wijck ini cuma ada sebuah bangunan benteng. Ternyata sudah jadi obyek wisata yang memiliki fasilitas seperti tempat permainan anak, waterpark, hingga penginapan. Oya Benteng Van der Wijck ini berada di kompleks militer. Kalau dilihat dari sejarahnya, benteng yang didirikan pada tahun 1818 ini digunakan sebagai benteng pertahanan militer oleh Belanda. Nama Van der Wijck kemungkinan diambil dari nama komandan militer Belanda saat itu. Saya kurang tahu apa hubungannya dengan novel “Tenggelamnya kapal Van der Wijck” atau tokoh Letjen Johan Cornelis Van der Wijck yang menjadi komandan di daerah Magelang tahun 1880 (https://en.wikipedia.org/wiki/Johan_Cornelis_van_der_Wijck).

Lanjut, jadi dari gerbang tiket hingga benteng memang perlu jalan dikit, nah salah satu fasilitas yang disediakan pengelola adalah kereta mobil gandeng yang akan mengantar dari gerbang masuk, kemudian mengelilingi benteng dan memasuki lapangan di dalam benteng. Sayangnya pulangnya harus jalan kaki sih.

DSC05327
Kereta gandeng yang akan mengantar pengunjung dari gerbang masuk ke bangunan Benteng
DSC05326
Di kompleks ini juga terdapat tempat makan “Kampoeng Kuliner” tapi waktu kesini warungnya cuma ada 1, itu pun sepi, padahal hari Sabtu.
DSC05211
Entah kenapa di kompleks bangunan sejarah ini ada dinosaurus, atau monster Lochness, apa karena monster ini yang menenggelamkan kapal Van der Wijck?
DSC05321
Fasilitas hotel wisata, bangunannya sih relatif terawat, cuma sepertinya …

Kereta masih berjalan dengan kecepatan sekitar 5 km/jam, dilengkapi dengan bunyi reyot. Benteng Van der Wijck ini pada saat kekuasaan Jepang digunakan sebagai barak militer tentara PETA, berlanjut ketika sudah dikuasai oleh tentara RI, dan hingga kini digunakan sebagai obyek wisata sejarah yang dipugar pada tahun 1999 (https://jackvanderwyk.wordpress.com/2013/11/21/the-van-der-wijck-name-in-indonesia-nothing-to-be-proud-of/).

Kereta sampai di bangunan benteng utama. Bangunan berwarna merah ini terlihat cukup terawat, di beberapa bagian bangunan malah ada AC-nya (loh). Di depan benteng ini kita akan disambut sepasang tank, meriam dan patung tentara kumpeni. Di bagian kanan pintu masuk benteng terdapat tulisan “Aku dibangun tahun 1818”. Di bagian atas gerbang terlihat plang Kereta wisata atas benteng yang menurut saya makin merusak nuansa sejarahnya.

DSC05323
Interior depan Benteng Van der Wijck

Lanjut ke dalam bangunan benteng ini, dapat terlihat klo bangunan benteng ini terdiri dari 2 lantai + roof. Tangga menuju lantai 2 & roof ada di samping pintu masuk. Di dekat pintu masuk ada tanda Studio Foto, ya Allah apa lagi ini. Ternyata yang dimaksud Studio Foto adalah salah satu barak yang diberi dekorasi seperti di keraton, zzz.

DSC05235
“Studio Foto”
DSC05241
Tangga menuju lantai 2 & roof

Penasaran dengan kereta atas benteng, saya lanjutkan jalan ke bagian atap benteng ini. Kebetulan ada 1 keluarga pengunjung yang bersama rombongan saya. Di bagian atap benteng terdapat loket tiket yang sudah tidak berfungsi, juga seorang bapak sebagai pengelola sekaligus pengemudi kereta. Berbeda dengan kereta di bawah benteng, di atap ini terdapat rel yang mengelilingi atap benteng. Dari sini, kita bisa melihat area sekeliling benteng dengan kecepatan sekitar 2km/jam, sudah termasuk bunyi reyot dan getar-getar. Yang luarbiasa dari atap benteng ini adalah, atapnya terdiri dari batu bata yang disusun seperti dinding. Fungsinya jelas untuk melindungi bahaya seperti bom atau peluru dari atas, ya kali benteng pake genteng gerabah atau seng.

DSC05247
Taraa, inilah kereta atas benteng.
DSC05259
Atap benteng yang tersusun dari batu bata dilengkapi cerobong dan pintu akses

Perjalanan menggunakan kereta atas benteng menempuh waktu sekitar 10 menit, setelah itu kita keluar melalui pintu masuk. Dari atap benteng ini kita bisa melihat lapangan dalam benteng.

DSC05268
Menggunakan mode panorama di kamera, kita bisa melihat bentuk segi 8 dari benteng Van der Wijck, aduh itu toren air ngeganggu pemandangan

Turun dari atap, di lantai 2 kita bisa melihat barak-barak yang sudah diberi nama seperti ruang bupati, ruang pahlawan, tidak ada penjelasan kenapa tiap ruangan diberi nama seperti itu. Di beberapa tempat juga terdapat papan peringatan ada CCTV, tapi CCTVnya dimana saya ga lihat juga.

Turun ke lantai 1/dasar ternyata ada ruangan yang berisi foto-foto lama dan dokumentasi saat benteng direnovasi. Sayangnya menurut saya di ruangan ini sangat minim informasi yang mungkin bermanfaat bagi pengunjung.

Selanjutnya saya jalan ke area lapangan di benteng. Terlihat beberapa bapak petugas yang sedang bersih-bersih dan mengobrol. Suasana benteng berwarna merah maroon ini memang instagramable sih. Di tengah lapang terdapat dasar berbentuk segi 8 dan lingkaran berlubang, saya coba lihat ke dalam sepertinya sumur atau saluran pembuangan (atau jangan-jangan ruangan lain :s).

DSC05310
Area tengah lapangan benteng
DSC05303-Pano
Panorama 360 derajat dari tengah benteng
DSC05307
Langit mendung, berawan, dan berangin berarti waktunya untuk foto long exposure B-)

Langit di atas Benteng Van der Wijck saat itu memang mendung dan sekitar pukul setengah 4 sudah mulai ada rintik-rintik hujan, jadi kami memutuskan untuk meninggalkan benteng ini. Kesan saya terhadap benteng ini adalah pertama untuk kebersihan terhitung juara, saya hampir tidak menemukan sampah yang tercecer, mungkin karena pengunjungnya saat itu sedikit, atau juga usaha aktif dari pengelola. Bangunan benteng juga terlihat cukup terawat.

Kekurangannya adalah ketidaksinkronan antara unsur sejarah dan hiburan yang ada, seperti patung-patung, kereta, studio foto, waterpark, oh my … Informasi terkait bangunan sejarah ini juga terkesan sangat minim, alhasil setelah mengunjungi bangunan ini tidak ada pengetahuan lebih yang bisa dirasakan pengunjung. Kesan spooky rasanya sih ga berasa di sini (mungkin karena saya datang saat siang, coba malem-malem, atau sayanya aja yang kurang peka :p). Fasilitas umum seperti toilet, mushola juga tersedia, saya ga sempet lihat ke kafeterianya, tapi rasanya mending bawa makanan/minuman dari luar saja. Keluar dari kompleks benteng juga terdapat warung-warung warga.

Pulang dari Kebumen, kami menuju tol Pejagan, sekalian lewat Brebes untuk menikmati sajian sate kambing yang berjajar hampir di sepanjang jalan kota yang terkenal dengan oleh-oleh Telur Asin-nya ini. Kami sempatkan makan di sekitar alun-alun, sholat di mesjid agung Brebes dan berbelanja oleh-oleh telur asin (saya sih ngga, ngirit -_-). Seporsi sate kambing muda, nasi dan es teh manis ini dibandrol Rp. 40.000, puas sih, apalagi dibayarin, hehe. Selain sajian sate, kita juga bisa mencoba kuliner Brebes lain seperti Tahu Aci (semacam batagor tapi tanpa bumbu) dan Sate Blengong (spesies peranakan bebek dan itik), bisa juga ngemil telur asin (ga ada yang ngelarang kan).

Kami meninggalkan Brebes sekitar pukul 10 malam, dan sudah saya duga, setelah makan sate kambing, pasti pada ngantuk berat, akhirnya istirahat dulu di mesjid beberapa lama, lanjut lewat tol Pejagan-Cipali, saya sampai di bandung sekitar jam 2 malam, perjalanan yang cukup luarbiasa buat ke kondangan. Jadi barangkali ada teman-teman yang main ke Kebumen, selain belanja oleh-oleh seperti Lanting, mungkin mau wisata sejarah (klo kata temen, merasakan suasana penjajahan, lha enak-enak merdeka, ini pengen ngerasain gimana dijajah -_-), silahkan mengunjungi benteng yang dibuka dari pukul 08.00-16.00 ini.

DSC05325

Cost Damage :

  • Tiket masuk : Rp. 25.000/orang

 

Catatan Perjalanan Susur Pantai Selatan Jawa Barat : Part 4 Pantai Sayangheulang

Jarak adalah sebuah garis batas, tetapi jalinan perasaan adalah penembusnya – Agustinus Wibowo, Garis Batas

6 April 2016

Saya meninggalkan Pantai Jayanti sekitar pukul 6 sore, sore itu walaupun angin berhembus kencang tapi tidak mengalahkan gerahnya udara pantai, alhasil sampai di mobil, AC langsung digeber (sebentar). Malam mulai menyelimuti jalan Raya Cidaun, jalanan juga makin sepi, hanya ada beberapa truk pengangkut kayu dan warga yang pulang dari mesjid. Sekitar 30 menit, kami sampai di perempatan pantai Rancabuaya. FYI, dari perempatan Rancabuaya ini kita bisa menuju Bandung melalui Pangalengan sekitar 4-5 jam melalui jalan yang turun naik (perjalanan ke Rancabuaya lewat Pangalengan ini insyaallah akan dibahas di tulisan lain 😉 ). Di perempatan ini dapat ditemui dynamic duo minimart, jadi bisa belanja barang-barang kebutuhan perjalanan. Di Rancabuaya ini kami hanya numpang lewat karena tujuan kami hari ini adalah pantai Sayangheulang, yey!

Pantai Sayang Heulang terletak di Desa Mancagahar, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut Selatan. Dari pantai Jayanti, Pantai Sayangheulang berjarak sekitar 60 km. Dari Rancabuaya, kondisi jalannya sekitar 80% adalah aspal mulus, dengan pemandangan sebelah selatan adalah samudera Hindia. Tapi karena jalan malam, tentunya pemandangan lautnya ga bisa kelihatan, tapi kita bisa melihat beberapa sinar lampu yang berasal dari perahu nelayan dan tambak yang berada di sekitar pantai. Sesekali kita akan melalui beberapa jembatan besi, diantaranya cukup populer menjadi obyek foto. Kondisi penerangan sangat minim, ditambah permukiman juga cukup jarang, maka ada baiknya untuk selalu waspada. Entah kenapa pantainya dinamai Sayang Heulang (yang klo diterjemahkan artinya Sarang Elang), mungkin dulunya di sana memang habitat elang.

Oya, dari Rancabuaya ke Sayangheulang sebenarnya juga dapat ditemui beberapa obyek wisata seperti Puncak Guha, Pantai Cicalobak, Pantai Kareng Tepas, Pantai Cimari, dll. Sekitar pukul setengah 8 malam, kami sampai di pertigaan Pantai Santolo, dari sana perjalanan hanya sekitar 5 menit ke pertigaan Pantai Sayang Heulang.

Screen Shot 2016-05-05 at 8.02.04 PM.png
Gerbang menuju pantai Sayang Heulang

Tapi karena perut kosong, kami tidak langsung menuju pantai, kami singgah dulu di rumah makan Cilauteureun yang berada sekitar 10 meter dari pertigaan Sayang Heulang. Tempat makan ini sangat recommended karena rasanya enak, harganya juga terhitung murah, 2 porsi cumi masak (1 porsi 25rb), 1 ayam kampung goreng (harganya lupa berapa, kaget juga sama ukurannya karena biasanya ayam kampung kecil-kecil ini gede banget, mungkin 1.5x ayam goreng KF*C), 5 es gelas es teh manis, dan nasi untuk 5 orang cuma 90rb!

DSC03896

Setelah makan, kami langsung menuju penginapan yang berjarak sekitar 3 km dari jalan raya, dari hasil browsing selama perjalanan, pilihan jatuh ke penginapan Karang Laut, 1 kamar dengan ukuran sekitar 4x5m dengan fasilitas 2 kasur, kamar mandi dalam dan AC dibandrol Rp. 450rb, untungnya tersisa 1 kamar yang langsung kami sewa.

Penginapannya cukup bersih, namun waktu di kamar sinyal seluler nyaris nihil, akibatnya hampir semuanya mati kutu. Tidak banyak yang kami lakukan saat itu, Pories langsung tidur, Saya, Wahyu dan Arief sempat bermain kartu beberapa game. Sampai sekitar jam setengah 10 malam saat kami tiduran, tiba-tiba saya merasakan kasur bergoyang, spontan yang lain juga saling tatap, saya lihat botol air eh kok goyang juga. Saya coba keluar kamar, pohon-pohon juga bergoyang, keadaan ini berlangsung kurang lebih 15 detik. Saya dan Pories bergegas ke pantai untuk melihat apakah ada tanda-tanda tsunami, sekalian cari sinyal dan informasi dari BMKG. Rupanya memang gempa berkekuatan 6.1 SR dengan episentrum 101km barat daya Garut. Beberapa pengunjung terlihat bergegas memakai kendaraan untuk evakuasi, sementara warga sendiri tidak terlihat beraktivitas. Setelah memastikan tidak ada potensi tsunami, kami kembali ke kamar, lalu langsung terlelap. Saya sendiri niatnya klo beneran tsunami sih mau lari ke menara pengawas yang ada di dekat tugu elang. Untungnya ga beneran tsunami, karena saat besoknya saya cek, tangga di menara pengawas sekarang sudah raib …

DSC03891

7 April 2016

Sekitar jam 3 pagi saya terbangun, niatnya mau hunting milkyway, tapi mata masih ngantuk, merem bentar tau-taunya udah jam 4 -_- Kebetulan Wahyu sudah bangun juga, jadi saya ajak temenin aja, takut kenapa-kenapa :p Niatnya sih mau motret jembatan Santolo ini, cuma dari penginapan ternyata jauh dan ga akan sempet -_-

882559_727583550591303_1283746556_o
(arsip) Jembatan pulau Santolo, terakhir sih rusak parah jadi ga bisa dilalui (sabotase? :p)

Nah, akhirnya cuma motret di reruntuhan warung yang ada di sepanjang jalan pantai. Untuk menentukan posisi milkyway selain dengan pengamatan langsung (di tempat yang polusi cahayanya rendah seperti di pedesaan, pantai yang sepi atau gunung, milkyway bisa terlihat jelas), saya menggunakan aplikasi di smartphone seperti stellarium atau google sky. Untuk pemotretan, saya menggunakan Sony Nex-6 dengan lensa Samyang 12mm (ekivalen 16mm di APS-C) di bukaan 2.0, ISO 1600, shutter speed 20-25 (mengikuti aturan 500/focal length lensa). Saat itu posisi milkyway melintang dari arah selatan ke utara. Hasilnya … Subhanallah …

DSC03804
Aku disini, dan kau di sana, kita memandang langit yang sama, jauh di mata, jauh dari mana-mana juga …
DSC03819
Milkyway over stall ruin
DSC03818-2
Paling enak klo ronda, pemandangannya kaya gini, bukannya jaga, malah foto-foto, ckckck

Ah, subuh berlalu sangat cepat, adzan subuh bergaung bersahutan, warga juga sudah mulai beraktivitas. Langit mulai berubah kebiruan, jadi saya bergegas kembali ke penginapan untuk sholat subuh. Usai solat, saya sempet main kartu 1 game, lepas itu ngajak yang lain untuk mengejar sunrise di pantai. Oya pantai Sayang Heulang ini terdiri dari pasir kecoklatan yang cukup halus, dilanjutkan dengan hamparan dataran karang yang menjorok kurang lebih 500m ke arah laut, airnya tenang dan dangkal, sementara ombak pecak di penghujung karang, jadi cukup aman untuk tempat bermain anak-anak. Di dalam karang juga terdapat ikan-ikan kecil yang terperangkap (hati-hati juga ada ular laut) yang biasanya dimanfaatkan nelayan.

Sekitar pukul 6 pagi, matahari terbit di ufuk timur, saya ga punya lensa tele jadi pakai lensa kit untuk memotret. Saat itu matahari terbit berbentuk bulat sempurna dan memancarkan warna jingga yang cantik.

DSC03859
Man of Still
DSC03863
pose andalan, pardon my calf 😉

Setelah foto-foto rasanya kok kepala agak berat, rebahan dikit di pasir, tau-tau ketiduran setengah jam. Matahari rasanya naik cukup cepat, tidak terasa panasnya mulai menusuk. Saya langsung pulang ke penginapan, mandi, repack, rencananya kami sarapan di rumah makan Cilauteureun lagi. Sekitar pukul 9 pagi, kami check out dari penginapan menuju rumah makan. Siang hari akan terlihat pemandangan perkebunan dan persawahan sepanjang gerbang pantai ke jalan raya Cilauteureun. Kalau memakai kendaraan umum sepertinya sih perlu naik ojek dari jalan raya.

DSC03892
Suasana jalan dari/menuju pantai Sayang Heulang
DSC03908
ada sawah juga

Di rumah makan Cilauteureun, kami memesan nasi rames dengan sayur, ati ampela dan pepes ikan, total sekitar 70rb untuk 5 orang. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke obyek wisata berikutnya : Pantai Cipatujah & Body Rafting di Citumang. Tunggu catatan perjalanan berikutnya ya, semoga belum bosan 😉

Cost Damage :

  • isi bensin : Rp. 200rb
  • tiket : Rp. 3rb/orang (waktu jalan-jalan sebelumnya)
  • penginapan : Rp. 450rb
  • makan : Rp. 90rb (malam), Rp. 70rb (pagi)

DSC03899

Catatan Perjalanan Susur Pantai Selatan Jawa Barat : Part 3, Pantai Jayanti

Search not for a friend in time of need, for a true friend shall find thee – Aristoteles

6 April 2016

Siang itu menunjukkan sekitar pukul 14.00 saat kami meninggalkan Curug Cikaso. Perjalanan dari Curug Cikaso kami lanjutkan ke obyek wisata berikutnya, yaitu Pantai Jayanti. Hujan mengguyur cukup deras saat kami memasuki daerah Tegalbuleud yang dikelilingi hutan karet dan hutan jati. Kondisi jalan masih mulus dan berkelok-kelok melalui perbukitan.

Sesekali kami berpapasan dengan pengendara lain, termasuk teteh-teteh yang masih berpakaian seragam lengkap, membawa motor tanpa jas hujan di tengah hujan yang lebat, pengen rasanya diajak bareng aja, kan kasian motornya #eh. Oya kondisi jalanan seperti ini mengingatkan saya lagi dengan jalan antara Belitung barat dan Belitung timur. Jarang sekali ditemui permukiman penduduk, apalagi pom bensin, sepi.

DSC03725

Kondisi jalanan yang mulus ini dilalui sekitar 1.5 jam sampai tiba-tiba kami melalui jalan yang nampaknya semalam dihujani meteor. Cek di peta, rupanya kami sudah sampai di sekitar perkebunan Agrabinta yang termasuk ke dalam wilayah kabupaten Cianjur. Perkebunan ini menjadi batas wilayah antara kabupaten Cianjur dan Sukabumi.

Dengan kondisi jalan seperti ini, praktis mobil kami tidak bisa melaju dengan cepat, ada mungkin 20-30 km/jam, sesekali kolong mobil harus beradu dengan batu karena tidak ada pilihan jalan lain. Di beberapa lokasi juga ada perbaikan jalan seadanya yang dilakukan oleh warga. Di sekitar perkebunan ini dapat ditemui warung-warung (dan klo ga salah juga ada yang jual bensin), mobil setum yang teronggok dan truk-truk pengangkut kayu. Sekitar 15 menit kami melalui jalan ini, sampai akhirnya bertemu dengan jalan mulus lagi dan mobil pun dipacu lebih kencang, #fiuh.

DSC03748
tarik maang …

Oya, sepanjang perjalanan kita juga akan menemui beberapa sungai dan jembatan (di antaranya cukup panjang).

DSC03750

Nah, jika sudah mulai banyak ditemui jembatan dan permukiman warga, artinya kita sudah memasuki daerah Sindangbarang. Di Sindangbarang ini terdapat SPBU, minimart mesjid raya dan Alun-alun Sindangbarang. Kami sampai di Sindangbarang sekitar pukul 4 sore, sayangnya kami tidak banyak menghabiskan waktu di sini, cuma lewat.

DSC03753

Dari Sindangbarang, mungkin sekitar 1 jam kita melalui jalan raya Cidaun, kita akan menjumpai persimpangan antara jalan utama dan Pantai Jayanti. Untuk menuju pantai Jayanti, belokkan kendaraan ke sebelah kanan, yang ditunjukkan plang penunjuk arah.

Memasuki gerbang pelabuhan Jayanti, akan dijumpai pos tiket, namun karena kami datang saat sore (jam 5), sepertinya petugasnya sudah pulang, jadi kami tidak membayar apa-apa. Tidak lama sekitar 10 menit, kami sampai di area pelabuhan Jayanti.

DSC03759

Kondisi langit yang mendung mengurungkan niat saya untuk berburu sunset. Struktur pantai Jayanti ini terdiri dari pepasir hitam dan bebatuan (sepertinya bukan karang). Di sekitar pantai ini terdapat banyak perahu nelayan yang bersandar (ya iya lah namanya juga pelabuhan), pasar ikan, dan beberapa mercusuar. Ombak yang cukup kencang menjadi alasan yang cukup kuat untuk larangan berenang.

DSC03763
Sore mendung di Jayanti

Dari mercusuar (entah masih beroperasi atau tidak), kita dapat melihat pantai Jayanti secara luas dari ketinggian. Kondisi mercusuarnya sendiri rasanya cukup ringkih, terdapat tangga (tambang) yang bisa digunakan pengunjung untuk naik ke mercusuar. Saya sendiri cuma berani ke lantai dasar mercusuar.

Hal yang saya sukai dari pantai ini adalah kombinasi dari pasir, obyek foto yang mencolok (mercusuar), bebatuan dan ombak yang cukup besar menjadi komposisi yang menarik untuk foto slow speed, kurang milkyway aja sih ini 😀

DSC03776
mendung galau di Jayanti …

Ombak semakin berdebur kencang dan air laut juga mulai pasang, akhirnya kami berjalan-jalan di sekitar pelabuhan ini, rupanya terdapat beberapa penginapan, sayangnya saya tidak sempat bertanya rate-nya berapa. Sebelum meninggalkan pantai Jayanti, saya sempatkan naik ke mercusuar berwarna biru yang ditemui saat memasuki pelabuhan, tingginya mungkin sekitar 10m, yah lumayan lah dapet bird view tanpa drone :3

Sepertinya mercusuar ini memang tidak dirancang untuk dinaiki banyak orang, soalnya ketika sampai di puncak, waktu itu ada 5 orang di atas, saya pribadi merasakan mercusuarnya goyang :)) Entah faktor angin atau memang struktur mercusuarnya seperti itu, saya memutuskan untuk segera turun. Secara umum, saya menyukai pantai ini karena terdapat komposisi obyek foto yang jarang ditemui di tempat lain di pantai selatan Jawa Barat seperti yang saya sebutkan sebelumnya, jadi cocok lah buat para fotografer landscape. Kalau dari segi fasilitas, sepertinya sih sudah cukup, karena pantai ini memang tidak ditujukan untuk berenang jadi saya tidak menemui kamar ganti umum, selain itu tempat parkir luas, tempat makan dan penginapan juga tersedia. Saya sih ga terlalu berharap pantainya seramai pantai Santolo atau Pangandaran.

Tidak berapa lama, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Sayangheulang, tunggu catatannya di tulisan berikutnya 😉

DSC03777
Ciao, Jayanti