Meniti Tanjakan Tiada Akhir di Gunung Cikuray 2821 Mdpl

It’s always further than it looks.

It’s always taller than it looks.

And it’s always harder than it looks.

3 Rule of Mountaineering

Quote di atas memang sangat berlaku untuk semua perjalanan pendakian, apalagi gunung yang akan saya jelajahi kali ini. Nah, berawal dari kegagalan untuk menapaki puncak tertinggi Pulau Jawa, akhirnya saya dan teman-teman di grup Anjasss memilih menapaki puncak tertinggi Priangan Timur : Gunung Cikuray. Gunung Cikuray sendiri terletak di kabupaten Garut. Gunung dengan ketinggian +- 2818 mdpl ini dapat kita lihat jika melalui jalan antara Garut-Tasik. Gunung Cikuray di kalangan pendaki lazim dimasukkan ke dalam rangkaian gunung Paguci (Papandayan, Guntur, Cikuray) karena letaknya cukup berdekatan. Bahkan beberapa pendaki tak jarang melakukan double summit (mendaki 2 gunung sekaligus dalam 1 rangkaian pendakian, ga harus 1 hari ya).

DSC02969
Rangkaian Gunung Paguci : Cikuray (kerucut di tengah), Papandayan (paling kanan), dilihat dari gunung Guntur.

Berbekal informasi dari google dan teman-teman pendaki lain, akhir Mei 2016 itu kami berangkat menuju Garut. Nah, yang membuat saya tertarik dengan gunung ini adalah bentuk kerucutnya yang akan terlihat sangat mencolok jika kita lihat dari jalan Garut-Tasik. It made me wonder, bagaimana pesona alam dan trek pendakian gunung yang dikenal dengan trek “dengkul ketemu lutut” ini.

Untuk mencapai puncak Gunung Cikuray sendiri terdapat beberapa jalur pendakian yang lazim digunakan : Cikajang, Bayongbong, Cilawu/Pemancar. Menurut beberapa informan, jalur Cikajang adalah jalur yang paling landai dan relatif mudah dilalui, tetapi lintasannya paling panjang. Sementara jalur Bayongbong terhitung sebagai jalur yang pendek namun jalurnya paling sulit. Terakhir, yang paling sering dilalui adalah lewat jalur Cilawu via Pemancar. Di jalur Cilawu sendiri ternyata ada beberapa titik pendakian diantaranya dekat gerbang utama Perkebunan Dayeuhmanggung, Patrol, dan (yang terbaru) Kiarajenggot. Untuk jalur Dayeuhmanggung & Patrol akan bertemu di basecamp Pemancar. Jika melalui jalur Kiarajenggot tidak akan lewat Stasiun pemancar, tapi nantinya akan bertemu di jalur Pemancar di sekitar pos 6-7.

Kami memilih lewat jalur Cilawu dekat dengan gerbang utama perkebunan Dayeuhmanggung. Ini juga karena saya kurang informasi, biasanya pendaki memilih jalan lewat Patrol, karena jalannya relatif lebih bagus. Nah, jika kita menggunakan kendaraan umum dari Bandung, bisa menggunakan elf Bandung-Garut turun di terminal Guntur, sekitar Rp. 35rb, lanjut dengan angkot Guntur-Cilawu warna putih biru/abu-abu sekitar Rp. 7-10rb. Saya sendiri memakai sepeda motor (yang saya sesali belakangan).

Screen Shot 2016-06-10 at 1.48.35 AM
Persimpangan jalan utama dengan jalan perkebunan Dayeuhmanggung menuju basecamp Pemancar

Setelah menunggu teman-teman yang menggunakan angkot, selanjutnya kami memilih menggunakan ojek sampai ke Pemancar. Biayanya Rp. 35-40rb, biasanya sih sudah segitu, ga bisa ditawar lagi. Pilihan lainnya adalah menggunakan mobil bak terbuka (pick up), harganya juga segitu, dan biasanya baru berangkat jika sudah ada 10 orang. Kalau tidak menggunakan kendaraan, kita juga bisa berjalan kaki hingga basecamp, menurut informasi sih sekitar 3 jam perjalanan. Lumayan juga, apalagi masih bawa beban lengkap. Saran saya sih setelah melalui treknya yang bikin banyak berdoa, jangan bawa motor matic! mending pakai ojek/pick up saja, harga segitu sudah sip, coba saja :)).

Lanjut, kami melalui perkebunan teh Dayeuhmanggung yang sangat asri. Jalanan yang dilalui adalah jalan makadam, disertai banyak percabangan. Ini juga pertimbangan lain untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi. Perjalanan ditempuh sekitar 45 menit. Akhirnya sekitar pukul 14.00 kami sampai di Stasiun Pemancar. Stasiun Pemancar ini adalah stasiun televisi yang aktif dan digunakan oleh MNCTV dan Global TV. Di sekitar stasiun pemancar sendiri terdapat warung, mushola dan toilet umum yang cukup bersih, jadi bisa mandi atau nitip ngecharge HP dulu. Selain itu terdapat tempat penitipan motor & helm yang dibandrol Rp. 10rb, yang tempatnya cukup aman.

DSC05596
Basecamp Stasiun Pemancar Cikuray

Di basecamp pemancar ini tidak ada pungutan apapun, karena registrasi dan retribusi dilakukan di Pos 1 yang berjarak sekitar 30 menit. Sekitar pukul 15.00 kami melanjutkan perjalanan ke pos 1. Nah, perjalanan awal ini pun kita sudah disuguhi tanjakan cukup terjal dan licin melalui perkebunan teh.

DSC05593

Setelah 15 menit dari basecamp pemancar, kami sampai di Pos 1 yang ditandai dengan plang Gunung Cikuray dan pos registrasi. Di pos registrasi ini kita diwajibkan mengisi log book yang menginformasikan nama, anggota kelompok, nomor HP yang bisa dikontak, dan membayar retribusi Rp. 15rb/orang. Kita tidak perlu melampirkan kartu identitas di sini. Oya, di sekitar pos 1 ini juga terdapat beberapa warung dan toilet.

Dari pos 1, kami lanjutkan perjalanan ke pos 2 yang berjarak sekitar 1,5 jam. Di awal perjalanan kami langsung disuguhi tanjakan yang cukup cihuy, yet dinamai Tanjakan Cihuy! Tanjakan ini sih cukup parah kalau dilalui pas hujan-hujan, licin banget, sebaiknya gunakan sandal/sepatu yang gripnya masih bagus, kalau perlu gunakan treking pole.

DSC05574
Salah satu tanjakan ‘alay’ yang ada di Cikuray, Tanjakan Cihuy!

Menuju pos 2, kami melalui perkebunan warga hingga batas hutan. Treknya masih relatif landai, tapi yang menyulitkan jalan tanahnya cukup licin dan jarang ada akar atau tumbuhan untuk pegangan. Pemandangan yang cukup ajaib kami saksikan saat melalui jalur ini. Kabut dan gerimis mengiringi perjalanan kami, membuat trek yang kami lalui lebih licin, saat itulah kami menjumpai sekelompok pendaki remaja (cewek cowok) yang tengah turun, tanpa jas hujan, dan … sendal jepit! Bikin gemes aja #eh, bahkan hal ini tidak sekali kami jumpai di sini. Setelah melalui perjalanan sekitar 1,5 jam, sampailah kami di Pos 2, ditandai dengan tanda penunjuk. Di pos 2 ini area cukup sempit didominasi akar pohon dan rasanya sulit mendirikan tenda di sini.

DSC05558

Setelah istirahat, kami lanjutkan ke pos berikutnya : Pos 3. Dari sini tanjakan lebih terjal lagi dan jalanan didominasi akar pepohonan. Tidak jarang, kami melalui trek yang menjadi julukan trek Cikuray : “dengkul ketemu dagu”. Di perjalanan ini, kami melalui salah satu tanjakan yang cukup populer : Tanjakan Sanghyang Taraje. Namanya memang sama dengan salah satu air terjun di Garut, tapi di jalur ini kami tidak menemui mata air, apalagi air terjun.

DSC05552.jpg
Tanjakan Sanghyang Taraje, cihuy juga

Setelah  1,5 jam melalui trek yang tanjakannya berasa tiada akhir dan meniti akar-akar sampailah kami di pos 3. Di pos 3 ini terdapat dataran yang cukup untuk mendirikan sekitar 4-5 tenda. Saat kami kesana sudah ada 2 tenda milik teman-teman dari Cimahi. Mereka sempat mengajak kami camp di pos 3 saja, mungkin biar ga kesepian, tapi karena kami merasa masih kejauhan dari puncak, kami putuskan lanjut ke pos 6. Oya, sepanjang perjalanan tadi kami berpapasan dengan pendaki lain yang turun. Kabarnya, akhir-akhir ini kawanan babi hutan sedang agresif, jadi kami disarankan untuk camp di pos 6.

DSC05551
Pos 3

Kami sampai di pos 3 sekitar pukul 18.00, di kejauhan adzan magrib berkumandang, malam pun menjelang, headlamp pun dinyalakan. Walaupun sudah malam, tapi trek di Cikuray ini relatif jelas, panduannya sih : klo ga nanjak, berarti salah jalan 😀 Trek yang tanpa bonus kami lalui sampai tibalah di pos 4 sekitar 15 menit kemudian. Rupanya memang tidak salah yang dibilang teman-teman pendaki yang kami temui, trek dari pos 3-6 sebenarnya relatif dekat. Di pos 4 sendiri tanahnya cukup miring dan sepertinya jarang digunakan untuk camp. Dingin memaksa kami agar terus berjalan supaya badan tetap terasa hangat. Perut saya mulai berontak, akhirnya diinfus dulu dengan Choki-choki. Sekitar 30 menit berikutnya kami sampai di pos 5. Kondisinya relatif sama dengan pos 4, tempatnya cukup rimbun.

Sekitar 30 menit berjalan menuju pos 6, saya mulai melihat temaram lampu dari tenda. Benar saja, akhirnya kami sampai di pos 6 pada pukul 19.30. Di pos 6 yang kadang dibilang Puncak Bayangan (beberapa bilang puncak bayangannya di pos 7) ini sudah berdiri sekitar 8 tenda. Kami memilih mendirikan tenda di dekat bangunan yang sepertinya sih warung, harapannya warungnya buka, jadi bisa beli gorengan (belakangan kabarnya warungnya cuma buka setiap weekend).

Menemani malam, kami memasak mie instan dan menggoreng Cireng yang saya bawa, rasanya nikmat banget. Oya, yang lucu, teman saya Rifky (Kimong) membawa mie Shin Ramyun (dari Indom*aret), waktu itu belum ada label halalnya. Jelaslah kami berempat berdebat, tapi si Kimong bilang “Udah gua tanya mas-mas Indomaretnya ini halal kok, di tempat itu juga ga jualan produk non-halal”. Tapi si Indra (Badaq) bilang mienya paling enak, kayaknya emang beneran haram :)) Habis makan, dibahas lagi, gitu terus sampe Kangen Band duet sama Siti Nurhaliza -_- Sekitar pukul 10 malam, setelah briefing untuk summit jam setengah 4 subuh nanti, kami lanjut tidur.

Saya tidur paling dekat dengan pintu tenda, agak was-was sih dengan isu babi hutan yang beredar, jadi tidur juga kurang nyenyak. Apalagi 3 orang komplotan setenda ini ngoroknya kenceng banget, tiap kebangun bingung antara ini suara ngorok apa suara babi hutan. Bukan kenapa-kenapa, takutnya suara ngoroknya dikira teman-temannya si babi hutan :))

Akhirnya jam setengah 4 subuh menjelang, di samping tenda, teman-teman pendaki lain mulai menampakkan aktivitas. Beberapa tengah membuat api unggun dan membuat air panas, yang lain subuh-subuh gini udah sesi curhat aja, busyet dah. Perkiraan sampai puncak dari pos 6 sih sekitar 1.5-2 jam, jadi kami bisa sampai di sana sebelum sunrise.

Setelah berdoa, saya bawa perlengkapan lenong, air dan snack secukupnya, kami lanjutkan perjalanan ke puncak, tentunya treknya masih menanjak, tapi kali ini treknya didominasi semak belukar, sesekali melewati akar-akar pohon. Di perjalanan ke puncak ini kami melihat persimpangan dengan trek lain (Kiara Jenggot). Petunjuknya cukup jelas jika kita akan kembali ke pemancar, jadi insyaallah tidak akan tersesat. Sepanjang perjalanan kami juga tetap waspada kalau-kalau si babi menyapa, walaupun katanya babi hutan jarang menyerang kalau orangnya banyakan.

DSC05520

Sampai di pos 7, setelah berjalan sekitar 45 menit. Di pos ini dataran cukup luas, mungkin bisa digunakan lebih dari 6 tenda, saat itu ada 3 tenda. Sebuah tanda peringatan serangan babi hutan/bagong ditemukan di pos ini.

DSC05509
Peringatan serangan babi hutan di Pos 7

Mendekati puncak, kondisi trek mulai berubah, pepohonan mulai tidak terlalu rapat, sesekali ditemui jalanan berbatu, di kejauhan samar-samar terdengar pendaki-pendaki yang berteriak. 30 menit berikutnya sampailah kami di Puncak Cikuray yang ditandai dengan sebuah shelter. Alhamdulillah segera saya panjatkan saat itu. Karena kami naik bukan saat weekend, di puncak pun hanya ada sedikit pendaki. Menurut cerita pendaki lain, waktu long weekend sebelumnya, Cikuray ini padat banget, tempat camp pun sampai di puncak.

DSC05362

Dari puncak Cikuray ini kita bisa melihat panorama kota Garut dan sekitarnya. Di kejauhan kita bisa melihat beberapa gunung baik yang ada di Garut seperti Papandayan dan Guntur, maupun tetangganya seperti Ciremai dan Tampomas. Selain itu juga terlihat kepulan uap yang diluminasi lampu yang berasal dari PLTG Darajat.

DSC05365
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Darajat
DSC05351
Saling deketan bukan karena modus, tapi karena dingin :s
DSC05359
Calling for nearest autobot

Pagi itu terasa sangat syahdu, tidak terasa dinginnya mulai menusuk kalbu #setdah. Matahari baru akan terbit sekitar 30 menit lagi, sialnya kami ga bawa kompor untuk bikin air panas, lapisan jaket juga tidak terlalu membantu. Akhirnya kami ikut menghangatkan diri di dalam shelter yang di dalamnya ternyata ada yang mendirikan tenda, 2 biji pula :))

Kali ini sepertinya kami kurang beruntung, saat momen matahari terbit kabut muncul bahkan disertai angin cukup kencang, sepertinya kami berada dalam badai karena angin dan kabutnya berputar di sekitar puncak saja. Kami memutuskan menunggu sampai sekitar pukul 8 pagi. Pendaki-pendaki lain mulai berdatangan ke puncak, mulai dari orang Garut sendiri, Jakarta, Bandung dan Cimahi.

Hingga pukul 8, kabut masih datang, namun sesekali pemandangan cukup jelas, kami bisa melihat kembali panorama kota yang dijuluki Swiss van Java ini. Selain panorama kota dan pegunungan, ternyata kita bisa melihat pantai selatan Garut.

DSC05502
Dilihat dari posisinya sih sepertinya pantai Karang Paranje

Oya, selain terkenal dengan tanjakannya yang tiada akhir, Cikuray sendiri terkenal dengan lautan awannya, sayangnya sampai jam 8 pagi itu sepertinya kami belum berkesempatan melihat fenomena tersebut. Mempertimbangkan teman-teman yang harus pulang ke Jakarta, pukul 8 tersebut kami langsung turun ke tenda kami di pos 6. Saat perjalanan turun itulah, baru kelihatan jalurnya ternyata memang lumayan 😀

DSC05528

Perjalanan dari puncak ke pos 6 hanya memakan waktu 45 menit. Setelah sarapan brunch sekitar jam 11 kami memutuskan turun ke basecamp. Beruntung cuaca saat itu lumayan baik, jadi treknya jadi tidak terlalu licin. Kami sampai di pos 1 sekitar pukul 12.30, beruntung lagi karena pas datang, pas hujan turun cukup deras. Setelah agak reda, kemudian checkout di pos penjagaan, kami lanjutkan perjalanan.

DSC05556
Jangan takut kehabisan tanjakan, banyak stoknya di Cikuray

Di pos 1, do you think it’s over yet? Belum kawan, trek dari pos 1 ke basecamp pemancar yang melewati kebun teh ini berupa tanah gembur yang setelah hujan turun, licinnya minta ampun, kami menghabiskan waktu hampir 20 menit karena tidak bisa berjalan cepat. Saya sendiri terjerembab beberapa kali.

DSC05592

Sampai di pos pemancar, sambil nunggu hujan yang turun lagi, saya cari gorengan, saat itu kami ditawari angkutan pickup turun seharga Rp. 35rb sudah termasuk angkot ke terminal guntur, tawaran tersebut jelas diambil. Saya sendiri sebenarnya klo motornya bisa diangkut sih, mending pakai pickup saja :)) Apa daya, akhirnya saya bawa motor tepat di belakang pickup karena takut nyasar di perkebunan walaupun terbanting-banting, sambil berdoa dalam hati moga-moga ban ga sempet bocor. Kami turun melewati jalur yang berbeda, ternyata lewat Patrol, kondisi jalannya relatif bagus dibanding jalur kemarin. FYI, kalau lewat jalur patrol, kita akan melalui portal yang mengharuskan kita membayar retribusi Rp. 10rb, kalau turun sih ga bayar apa-apa. Saat sudah sampai di jalan raya yang aspalnya mulus, saya langsung bersyukur, yah walaupun perjalanan pulang masih 3 jam lagi. Alhamdulillah, selesai sudah rangkaian gunung Paguci ini. Saya berpamitan dengan teman-teman dari Jakarta.

Yang perlu mendapat catatan besar adalah Cikuray ini adalah salah satu gunung yang paling kotor, sampah tersebar di banyak titik, walaupun papan peringatan untuk membawa turun sampah juga terpampang di sepanjang jalur pendakian. Overall trek Cikuray ini terhitung unik, mulai dari titik ‘pendakian’ dari pangkalan ojek, jalurnya cukup jelas, viewnya walaupun ‘kalah’ dari Guntur, tetapi saya sendiri masih penasaran dengan view lautan awannya, so insyaallah definitely come back someday.

DSC05512
Suasana di Pos 7

851416671_13939317727794939631

Cost Damage

  • Terminal Guntur-Pangkalan ojek Dayeuhmanggung/Patrol : Rp. 7rb-10rb.
  • Ojek naik dari pangkalan ojek ke pemancar : Rp. 40rb (pastikan uang pas, kalau ngasih 50rb, kadang dibilang ga ada kembalian -_-), kalau ojek turun Rp. 35rb sudah termasuk ongkos angkot ke terminal Guntur.
  • Retribusi lewat Patrol Rp. 10rb.
  • Simaksi : Rp. 15rb/orang.
  • Gorengan : Rp. 1rb/biji.
  • Nitip motor : Rp. 10rb/malam

Catatan

  • Waktu yang ditempuh antar pos :
    • Pos Pemancar – Pos 1 : 15 menit
    • Pos 1 – Pos 2 : 1.5 jam
    • Pos 2 – Pos 3 : 1.5 jam
    • Pos 3 – Pos 4 : 15 menit
    • Pos 4 – Pos 5 : 30 menit
    • Pos 5 – Pos 6 : 45 menit
    • Pos 6 – Pos 7 : 45 menit
    • Pos 7 – Puncak : 30 menit
    • Total : 6 jam
  • Tidak ada mata air di sepanjang trek, jadi pastikan bawa air minum yang cukup dari bawah.
  • Mushola, toilet, tersedia di pos pemancar & pos 1.

 

1 Hari di Pekanbaru, Kemana Aja Ya?

“But cities aren’t like people; they live on and on, even though their reason for being where they are has gone downriver and out to sea.” – John Updike, Trust Me

Jadi, pekan lalu saya diberi kesempatan untuk mengunjungi Pekanbaru untuk keperluan pekerjaan. Waktu itu bukan kali pertama saya ke Pekanbaru, jadi sudah tidak terlalu kaget dengan kondisi suhunya bisa mencapai 40°C. Bandingkan dengan Bandung yang suhu rata-rata tahunannya 28ºC. Wajar saja dengan ketinggiannya hanya sekitar 12 mdpl dan posisinya lebih dekat ke ekuator. Kondisi ini membuat saya (tadinya) malas pergi kemana-mana. Untungnya kebanyakan pekerjaan dilakukan siang hari di dalam ruangan ber-AC. Waktu luang yang tersedia ya klo ga pagi-pagi, sore sampe malam hari. Sayang juga kan ga menyempatkan diri jalan-jalan di kota yang termasuk ke dalam salah satu kota paling bersih di Indonesia ini [1] .

Hasil browsing sih banyak tempat menarik di Pekanbaru, seperti Istana Siak Indragiri, Kebun Binatang Sang Kulim, dll. Tapi karena keterbatasan waktu, saya cuma sempat jalan-jalan di sekitar kota. Oya, untuk menjelajah kota Pekanbaru ini ada beberapa pilihan moda transportasi, selain mobil sewaan, ada Trans Metro Pekanbaru, angkot, metromini dan ojek. Saya sendiri memilih jalan kaki karena jarak ke tempat-tempat yang saya tuju tidak terlalu jauh.

1. Mesjid Agung An-Nur

Mesjid yang berada di tengah kota Pekanbaru ini harus jadi salah tujuan utama. Kebetulan tempatnya juga deket banget hotel tempat menginap. Mesjid yang arsitekturnya campuran Melayu, Turki, Arab dan India ini digadang-gadang sebagai “Taj Mahal”nya provinsi Riau. Mesjid dengan luas bangunan 50 x 50 m dan luas halaman 400 x 200 m ini konon bisa menampung 4500 orang jamaah [2]. Mesjid ini terdiri dari 3 tingkat, walaupun yang saya lihat cuma 2 tingkat, tingkat atas dipakai untuk sholat, sementara lantai bawah dipakai untuk kantor dan TPA. Di gerbang utamanya terdapat tangga dan eskalator yang sepertinya cuma dinyalakan saat-saat tertentu saja.

DSC05036

Tidak hanya megah di luar, suasana di dalam mesjidnya pun adem banget karena di dalam bangunan utama terdapat kipas dan AC, jadi nyaman buat ngadem ibadah, hehe. Halaman parkirnya juga luaaas banget.

annur1
Foto boleh, tapi jangan sampai mengganggu kekhusyukan yang beribadah ya 🙂
DSC05044
Mesjid Agung An-Nur dengan background awan badai

Di halaman mesjid ini terdapat sebuah kolam dengan pancuran kecil yang membuat pemandangan mesjid ini lebih kece dengan refleksinya. Kesan terhadap refleksinya juga berubah-ubah sesuai waktu dan cuaca Pekanbaru. Saya paling suka pemandangan di mesjid ini saat malam hari :).

DSC05108
Mesjid Agung An-Nur, Pekanbaru pagi hari
DSC05055
Mesjid Agung An-Nur, Pekanbaru malam hari, lebih indah lagi dengan cahaya lampunya

Kalau kita datang pagi-pagi, biasanya halaman mesjid ini akan diramaikan oleh warga sekitar yang jogging dan senam pagi. Selain itu, ada beberapa stand pakaian dan makanan, jadi bisa sekalian sarapan. Kebanyakan menu sarapan di sana ketupat sayur, lontong padang dan bubur ayam. Nah, sayangnya yang datang pagi-pagi itu hampir semuanya bapak-bapak sama ibu-ibu, ga ada dede gemesnya #eh.

DSC05123DSC05104

DSC05094
Ga lupa buat selfi :p

FYI, mesjid ini dibuka sejak subuh hingga malam hari sekitar pukul 22.00.

2. Gedung Pemerintahan Provinsi Riau Yang Ciamik

Waktu itu saya dapat penginapan di sekitar jalan Sudirman, yang notabene adalah jalan protokol yang mana terdapat beberapa gedung pemerintahan penting seperti Gedung Gubernur, Kepolisian, Gedung DPRD, dll. Yang menarik, gedung-gedung pemerintahan di sini terkesan unik dan terdapat campuran unsur tradisional dan modern. Tengok saja gedung DPRD Provinsi Riau yang sangat mirip bangunan Marina Bays di Singapura. Dengan kekayaan alam seperti minyak bumi, gas dan barang tambang lainnya, wajar saja banyak pendapatan pemerintah daerah. Sayangnya, sudah 3 periode berturut-turut, Walikota Pekanbaru ini tersangkut kasus korupsi #eh.

DSC05141
Gedung DPRD Provinsi Riau
DSC05150
Gedung DPRD dan Gubernur Provinsi Riau

Gedung DPRD Provinsi Riau ini terletak satu kompleks dengan gedung Gubernur Riau yang terletak di Tugu 0 Km (baru) Pekanbaru. Di tugu 0 Km ini terdapat sebuah patung yang dinamai Patung Tari Zapin karya pematung ternama Nyoman Nuarta. Tugu 0 km ini katanya menjadi kontroversi, selain biaya pembuatan, detail patung yang dinilai agak seronok karena menampilkan secara cukup detail bagian badan tertentu dari patung tersebut (beberapa kalangan masyarakat bahkan menamai patung Bahenol), juga karena sebelumnya tugu 0 Km ini sebenarnya sudah ada dan terletak di Pasar Ramayana.

DSC05156
Tugu 0 Km yang baru
tugu0kmpekanbarulama
Tugu 0 km yang lama (http://www.riaudailyphoto.com/2012/10/tugu-0km-pekanbaru.html)

Satu lagi bangunan pemerintahan yang ciamik tentunya adalah Perpustakaan Soeman HS. yang terletak di Jalan Cut Nyak Dien, letaknya bersebelahan dengan kompleks gedung DPRD Provinsi Riau. Dinamai Perpustakaan Soeman HS. sebagai apresiasi kepada penulis ternama Soeman Hasibuan yang berasal dari Riau. Perpustakaan Soeman HS ini menurut saya adalah gedung perpustakaan yang penampilannya sangat modern, dibanding perpustakaan lain yang pernah saya temui. Perpustakaan ini buka dari hari Senin-Jum’at jam 09.00-15.00, katanya sih bebas dikunjungi. Sayangnya saya ke gedung ini waktu pagi-pagi sebelum perpustakaan dibuka, jadi kurang tahu gimana kondisi dalamnya. Next time mungkin saya mau ngabuburit di perpustakaan ini.

DSC05148
Perpustakaan Soeman. HS

3. Mesjid Raya Pekanbaru (yang lama)

Konon, pusat kerajaan Siak yang menjadi cikal bakal berdirinya kota Pekanbaru berada di daerah Sinapelan. Nah, di daerah Senapelan ini berdiri sebuah mesjid tertua di Pekanbaru yang didirikan sejak abad 18. Letaknya di Kecamatan Sinapelan, sekitar 5 meter dari sungai Siak, dekat dengan pelabuhan juga. Saat ini mesjid raya Pekanbaru (yang lama) ini sudah direvitalisasi sehingga bentuknya sudah berbeda dengan bangunan lama. Di samping mesjid ini juga terdapat kompleks pemakaman keluarga Kesultanan Siak yang sering dikunjungi peziarah.

DSC05174
Penampakan depan Mesjid Agung Pekanbaru yang lama
DSC05166
Interior Mesjid Agung Pekanbaru lama
DSC05171-Pano
Sepertinya masih dalam proses renovasi

Namun, waktu saya berkunjung ke mesjid ini, sepertinya mesjid ini masih dalam proses renovasi, beberapa bagian interior dan eksterior mesjid bahkan masih terlihat telanjang. Di luar mesjid, terdapat halaman yang cukup luas dan koridor yang juga masih dalam pembangunan. Kebetulan saat itu halaman mesjid juga digunakan oleh warga untuk latihan taekwondo. Yah kita doakan saja, semoga pembangunannya segera beres.

DSC05179
Halaman Mesjid Agung Pekanbaru lama
DSC05176
Halaman Mesjid Agung Pekanbaru lama (2)

4. Wisata Kuliner di Sepanjang Jalan Sudirman

Nah, terakhir pastinya setelah jalan-jalan, tak lengkap rasanya kalau tidak mencicipi kuliner Pekanbaru. Salah satunya mencicipi kuliner dari cemilan sampai makanan berat di pedagang kaki lima yang mangkal di sepanjang Jalan Sudirman. Di jalan ini selain PKL juga terdapat mall buat yang cari suasana dan ngadem, juga toko-toko makanan. Umumnya PKL di jalan Sudirman ini mulai buka sejak sore sekitar jam 5. Nah, yang saya sering kunjungi di jalan ini adalah Sate Padang dan Martabak Radar yang letaknya dekat hotel Amaris Pekanbaru.

DSC05028

DSC05019

sate pekanbaru
Sate padang + es teh manis untuk Pekanbaru yang ‘hangat’

Seporsi sate padang (sekitar 6 tusuk) dengan daging sapi + nasi dihargai Rp. 16rb, ditambah segelas es teh manis untuk mendinginkan suasana Pekanbaru yang selalu membara. Kalau masih belum kenyang (emang porsi sate padangnya kurang banyak, selalu), bisa juga mencoba martabak mesir seharga Rp. 17rb dan mie goreng berbumbu rempah yang cukup tajam dan porsinya buanyak, harganya juga Rp. 17rb.

DSC05022
Martabak Mesirnya maknyos
DSC05026
Proses pembuatan Martabak Mesirnya juga saya lihat berbeda dengan martabak mesir yang biasa ditemui di Bandung
DSC05182
Mie Goreng Dadar for a hungry soul

Tentunya masih banyak tempat wisata lain di Pekanbaru yang bisa dikunjungi, cuma dengan waktu dan akomodasi saya yang terbatas, cuma tempat-tempat diatas yang bisa saya kunjungi. Kalau ada rekomendasi tempat wisata lain di Pekanbaru yang worth untuk dikunjungi silahkan komen yak 😉