[Seri Gunung Bandung] Pendakian yang bikin gemes ke Gunung gemes Artapela

 

Tak dikejar, gunung tak lari kemana

Konon, peribahasa di atas sering dijadikan pereda kerinduan para pendaki, terutama yang sudah lama tidak naik gunung. Banyak hal yang bisa menjadi faktor kegagalan para pendaki berangkat naik gunung, entah ga dapet tiket, kondisi cuaca yang tidak kondusif, ada kerjaan mendadak, ga dapet izin dari pihak terkait, salah satu anggota tim batal berangkat, terus yang lainnya ikutan batal *malah curhat. Masalahnya, klo ga dikejar, klo ga direncanain, klo ga diusahain, klo ga dipaksain, jadinya ya kita ga kemana-mana, yekan?! Nah, baru-baru ini saya mengalami tersebut. Rencananya, untuk penutup pendakian sebelum bulan Ramadhan, saya dan beberapa teman di grup WA berencana mendaki gunung Ceremai via Apuy (pendakian Ceremai via Linggasana bisa dibaca di sini 😉 ). Saya sendiri sebenarnya agak ragu-ragu, karena tepat hari sebelumnya 2 hari berturut-turut kekurangan tidur dan stamina agak letoy gara-gara lembur, walaupun saya coba mengatasinya dengan coba lari di Sabuga.

Packing bisa dianggap beres, habis ngantor nanti tinggal saya bawa perlengkapan di rumah, toh berangkatnya malam. Tahu-tahunya, salah satu rekan batal karena ada acara, rekan yang lain katanya ga enak badan. Ya sudah, rencana pendakian pun ditunda batal. Tapi dasar pada ga kerasan, kami coba rencanakan pendakian lain tapi ke gunung yang lokasinya sekitar Bandung besok harinya, dengan syarat : tektok (lagi males bawa perlengkapan banyak) tapi juga bisa dapet viewnya. Makanya kami rencanakan berangkat malam. Oya, dari sekian banyak gunung Bandung, kami jatuhkan pilihan kami ke Gunung Artapela yang berada di daerah Ciparay, salah satu alasannya karena diantara kami juga belum ada yang pernah pergi kesana. Esok harinya, hari Sabtu 20 Mei 2017, sambil nunggu konfirmasi titik kumpul dan waktu kumpul, saya coba cari informasi Gunung Artapela ini. Gunung Artapela yang berketinggian + 2194 mdpl ini terletak di Kecamatan Kertasari, dapat ditempuh melalui 2 titik basecamp pendakian : Pacet (Argasari) dan Pangalengan. Jika melalui Pangalengan, katanya sih basecampnya di Warung Dano yang lokasinya dekat Situ Aul dengan terlebih dahulu melewati perkebunan teh Kertamanah. Sementara di jalur pendakian lewat Pacet terdapat basecamp pendakian yang dikelola oleh warga.

Hingga siang, setelah ditunggu konfirmasi titik kumpul dan waktu kumpul, ternyata kejadian lagi, satu anggota tim batal berangkat, yang lainnya juga batal. Hadeuh. Setengah kesal dan gemes, saya nekat aja berangkat sendiri, berbekal informasi yang saya dapat dari internet. Toh, nanti di basecamp bisa ikut barengan tim lain …

Artapela, here we I come.

Konsekuensi dari berangkat naik gunung sendiri adalah kita harus siap membawa semua perlengkapan dan logistik sendiri. Informasi yang saya dapatkan trek pendakian tidak terlalu berat, jadi logistik secukupnya untuk 1 malam dan sarapan saja, ditambah 2 x 1.5 L air, karena tidak ada sumber air di jalur pendakian. Repotnya sih karena bawa tenda, matras, dan perlengkapan lenong. Sleeping bag bahkan saya ga bawa karena hari sebelumnya dipinjam kakak, walhasil bawa sarung saja sekalian buat solat, sekali lagi karena menurut perkiraan saya ga bakal terlalu dingin (keputusan yang disesali kemudian). Jam setengah 2 siang, setelah minta izin ortu, saya berangkat ke basecamp Artapela di Sukapura. Untuk mencapai basecamp Artapela di Sukapura, kita melalui jalur Bandung-Ciparay, di pasar Ciparay belok ke arah Pacet hingga pertigaan di daerah sebelum Pasar Pacet ke jalan Barukaso. Dari pertigaan Barukaso-Pacet, basecamp tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 300m. Perjalanan dari pusat Kota Bandung menempuh waktu sekitar 2 jam. Jika menggunakan kendaraan umum, kita bisa menggunakan angkutan umum Tegallega-Ciparay (5000-7000) atau Elf Kalapa-Ciparay (5000), dari pasar/terminal Ciparay lanjut angkot kuning Ciparay-Pacet (8000), dari pertigaan tinggal jalan kaki atau naik ojek ke basecamp.

pertigaan sukapura.jpg
pertigaan Pacet-BC Artapela dari arah Bandung
bcartapela
Basecamp Artapela via Sukapura/Argasari

Sekitar pukul 4 sore saya sampai di basecamp Artapela Sukapura, di basecamp ada tempat parkir motor yang cukup menampung sekitar 30 motor, mobil juga bisa sih di sekitar halaman rumah warga. Secara umum kondisi jalannya cukup mulus. Di basecamp saya mengisi formulir registrasi ketua kelompok dan anggota, serta membayar total 15rb rupiah untuk tiket masuk dan parkir motor.

tarifartapelaKarena saya berangkat sendiri, saya disarankan pergi dengan rombongan lain. Kebetulan saat itu ada Rofi dan Andi, pasangan pendaki dari Bandung. Sapi suci … saya tahu nasib saya nanti gimana sepanjang perjalanan jadi nyamuk buat pasangan ini, tapi bodo amat deh, yang penting ada temen buat naik. Andi menjadi leader karena sudah pernah ke Artapela sebelumnya. Di jalur pendakian Argasari ini terdapat 2 jalur yang biasa digunakan : jalur 7 (seven) field dan jalur Datar Jamuju. Jika lewat jalur 7 field hingga ke puncak perjalanan sekitar 3 jam, sementara lewat Datar Jamuju bisa memakan waktu hingga 5 jam. Umumnya pendaki menggunakan jalur 7 field. Dari basecamp ke jalur pendakian utama masih berjarak sekitar 500 meter, hingga menemui mesjid Nurul Falah di pertigaan pertama, ambil kanan. Dari mesjid, ambil jalur hingga gudang gemuk/pupuk. Di perjalanan menuju gudang pupuk kami sempat berpapasan dengan truk petani.

slide8
Perbandingan jalur 7 field dan Datar Jamuju (http://artapela.blogspot.co.id/2016/04/menuju-artapela.html)

Di jalur awal sepertinya agak tricky karena terdapat beberapa percabangan kebun (lihat foto tarif di atas), tapi secara umum hindari jalur yang mengarah ke bawah, hingga sampai di percabangan kebun wortel yang ada sebuah gubug & kolam. Dari sini, jalur menuju puncak relatif jelas yang ditandai dengan tanjakan, dan tanjakan … Tidak ada papan petunjuk arah menuju puncak pun petunjuk pos, tapi umumnya para pendaki istirahat di gubug-gubug yang dibuat petani.

Lepas dari rangkaian tanjakan pertama, kami disambut pemandangan luas perkebunan sayuran (wortel & kentang sepertinya). Namun karena kabut yang cukup tebal jadi kami tidak bisa menikmati sunset maupun pemandangan perbukitan sekitar artapela yang kalau siang lebih ciamik. Tapi untungnya karena kabut jadi perjalanan tidak terasa panas. Kebayang sih kalau lewat jalur ini panasnya bakal gimana kalau siang hari, belum lagi debunya karena tanah disini tanah gembur, hampir tidak ada tempat berteduh, sigh. Oya, pemandangan perkebunan ini akan kita temui bahkan hampir sampai ke puncak, tidak ayal jalur ini dinamai jalur 7 field.

Kami sudah berjalan kurang lebih 2 jam, adzan magrib berkumandang di kejauhan, karena statusnya sedang syafar, kami niatkan solat magrib di-jama’ ketika sudah sampai puncak. Karena cahaya sudah minim, Rofi dan Andi mulai menyalakan headlamp masing-masing. Hingga sekitar 45 menit sebelum puncak, treknya cukup landai, namun di punggungan terakhir ada tanjakan lumayan panjang hingga ke puncak yang karena kami membawa beban, jadi harus kami lalui dengan tersengal-sengal. Di tanjakan ini pula kita akan menemui pohon-pohon pinus yang menandakan puncak sudah dekat *bukan PHP. Di kejauhan terdengar lolongan anjing-anjing yang memang berkeliaran di perbukitan sekitar Artapela.

Di akhir tanjakan tadi kita akan menemui sabana yang sebenarnya adalah perkebunan yang ditinggalkan warga, di kejauhan sudah terdengar riuh para pendaki lain dan cahaya dari senter dan tenda. Alhamdulillah sekitar pukul 7 malam kami sampai di puncak gunung Artapela yang dinamai Puncak Sulibra. Di puncaknya sendiri terdapat lapangan yang bisa menampung puluhan tenda, pun ada pepohonan besar yang bisa digunakan untuk bivak maupun hammocking. Saat saya datang sudah ada mungkin lebih dari 20 tenda, mungkin karena minggu itu terakhir musim pendakian sebelum puasa. Setelah memilih tempat mendirikan tenda, mulailah drama lain. Kami mulai membongkar keril masing-masing, dan memutuskan mendirikan tenda terlebih dahulu. Pas bagian saya, lepas membongkar seisi keril, eh ternyata frame tendanya ketinggalan, eh kan suwe’. Karena saat itu di Artapela beberapa hari sudah tidak hujan, akibatnya suhunya dingin, anginnya semriwing. Akhirnya saya putuskan membantu Andi dan Rofi mendirikan tenda dulu, setelah itu harus improvisasi buat bikin bivak dari tenda yang saya bawa. Dengan menggunakan treking pole, akhirnya jadilah tenda seadanya, ya lumayan lah buat sekedar menghalau angin pas tidur nanti. Nyaman? Jelas tidak, wkwkwk, tapi gimana lagi, masa numpang di tenda sebelah, kan jadi ga enak :’) Samar-samar terdengar ocehan dari tetangga sebelah yang bilang tendanya tenda Harry Porter, entah maksudnya apa -_-

Sambil memanaskan air untuk membuat cokelat dan spageti, saya solat jama’ magrib dan Isya. Setelah makan spageti, Andi dan Rofi bergabung untuk ngobrol, Andi menceritakan beberapa pengalaman mendakinya. Oya sebenarnya saya ditawari makan bareng (logistik yang dibawa mereka), cuman ga enak sih, biasanya logistik yang dibawa pendaki bakal pas-pasan. Bahkan ada yang bilang klo ada pendaki yang nawarin minum itu tulus, tapi kalau nawarin makan itu mah basa basi :p Toh, spageti, coklat dan roti yang saya bawa juga sudah cukup. Ga enak juga sih ngeganggu lovebird, barangkali mau suap-suapan, kan jadi momen awkward #eaaak.

Tidak terasa sudah pukul 9 malam di Puncak Sulibra, masih banyak pendaki yang datang. Kebanyakan sepertinya dari warga sekitar Bandung didengar dari bahasanya. Pasangan lovebird sudah kembali ke tendanya, saya karena belum ngantuk jadi coba foto-foto sekitaran. Karena cuaca dingin dan sumber kayu bakar yang melimpah di sekitar puncak, banyak pendaki yang membuat api unggun, akibatnya saya sulit membedakan mana asap dan kabut gunung. Saya coba lihat jejak milkyway di aplikasi Stellarium rupanya baru muncul sekitar pukul 11/12 malam di arah tenggara, jadi waktu saya coba foto yang kelihatan baru ekornya. Kabut juga datang dan pergi begitu cepat, ah akhirnya saya putuskan untuk tidur dulu saja. Nah ini juga drama lainnya, karena saya ga bawa sleeping bag, kondisi tenda juga seadanya, udah ga jelas lah gimana posisi tidurnya, keril sampai dijadikan penghalang angin. Lagi-lagi saya bersyukur teman-teman saya ga jadi berangkat, kasian juga klo kondisi tendanya kaya gini 😀 Di luar tenda, bukannya makin sepi, eh makin banyak pendaki-pendaki alay yang teriak-teriak, bahkan kata-kata kasar dan jorok terlempar, dalam hati nyerocos bagusnya sih orang-orang ini diculik genderuwo saja. Seiring ocehan pendaki-pendaki tadi, saya terlelap tidur …

DSC01664Tidur saya rasanya tidak nyenyak karena kerap harus menata posisi tidur karena kedingingan, tapi lihat jam ternyata sudah jam setengah 12 malam, tenda sudah basah oleh kabut. Di luar, ternyata suhunya tidak sedingin yang saya kira. Selain itu, kirain endaki-pendaki yang ngoceh tadi udah pada tidur, ternyata masih juga berisik, maunya apa ini, ckckck. Masih banyak juga pendaki yang ngobrol atau sekedar menghangatkan diri di api unggun. Saya sendiri memilih menikmati langit malam yang bersih bertabur bintang di atas sana. Ah dengan ini berarti pecah telor juga foto milkyway-nya tahun ini. Setelah hampir setengah tahun tidak bisa foto milkyway karena cuaca yang tidak menentu, akhirnya bisa ketemu dan diabadikan, ditambah drama-drama yang saya alami tadi siang, jelas malam ini saya bahagia, Alhamdulillah :’)

DSC01687DSC01729

Hampir seisi lapangan di puncak Sulibra ini saya langkahi untuk mencari spot, bolak balik sampe bosen, tahu-tahu sudah jam 2 pagi. Kabut bercampur asap api unggun menutupi langit malam, dan akhirnya saya kembali harus menyerah ke ‘gubug derita’, saya pun terlelap dan masih ditemani ocehan-ocehan pendaki lain yang tidak menyerah walau hari berganti, sigh.

DSC01698Waktu menunjukkan pukul 4.20 ketika saya lagi-lagi terbangun karena dingin, daripada maksain tidur lagi akhirnya saya bangun sekalian aja, toh waktu subuh sebentar lagi menjelang. Tenda sebelah yang sebelumnya ngoceh sudah tidak ada (maksudnya penghuninya pada tidur –red) alhamdulillah. Lepas solat subuh, saya memanaskan air untuk kopi dan sarapan kari ayam *beneran loh, bukan bentuk mie :p. Sekitar jam 5, Rofi dan Andi keluar dari tendanya. Pendaki lainnya juga sudah terbangun untuk menyambut mentari pagi. Dari puncak Sulibra jika tidak berkabut dapat terlihat pemandangan kota Bandung. Sayangnya waktu itu kabutnya nanggung, view kotanya ga dapet, lautan awan juga ga ada. Matahari juga nampaknya malu-malu menampakkan dirinya. Sekitar pukul 6.15 akhirnya menampakkan dirinya dari balik gunung Rakutak. Oya,  dari puncak Sulibra ini jika cuacanya memungkinkan, kita bisa melihat jajaran gunung Bandung seperti Rakutak, Kendang, Gambung (yang ini sebelahnya banget) bahkan Cikuray dan Papandayan di kejauhan.

DSC01798DSC01793

Dengan datangnya matahari, sirna pulalah penderitaan saya karena dingin tadi malam. Pukul setengah 8 pagi setelah berkemas, kami mengakhiri perjalanan pendakian gunung Artapela lewat Argasari ini. Karena tidak ada kabut, kali ini pemandangan perkebunan menjadi sangat jelas. Beberapa petani sudah menggarap lahannya. Yang ngeselin di satu kebun sekitar 30 menit dari puncak ada motor dong :)) Ya konon sih motor bahkan bisa sampe puncak Sulibra. Dengan trek kemarin sih rasanya mungkin-mungkin aja motor trail sampe puncak. Tau gitu adek ngojek bang :’) Kali ini pemandangan sekitar jalur 7 field lebih jelas terlihat, termasuk gunung Kendang. Di perjalanan kami bertemu dengan rombongan remaja mesjid sepertinya yang sedang melakukan hiking ke puncak Sulibra.

Perjalanan dari puncak ke basecamp memakan waktu sekitar 2 jam diselingi istirahat dan foto-foto. Iseng saya juga merekam trek pendakian menggunakan aplikasi GPS (Geotracker, donlot di sini), tracklognya silahkan unduh di sini. Katanya sih waktu registrasi harusnya dapet tracklognya juga, tapi kemarin ga dikasih tuh. Kami sampai di basecamp sekitar pukul 9.30, langsung dikasih tikar buat istirahat. Saya sempat jajan bakso goreng yang terlalu keras untuk dimakan di sekitar basecamp. Sekitar pukul 10 kami meninggalkan basecamp dan berpisah setelah bertukar nomor HP jika perlu jalan lagi bareng nantinya. Kesan saya untuk pendakian Artapela ini karena banyak hal-hal gemas yang harus saya lalui dan temui makanya saya namai pendakian gemes, ditambah banyak dedek-dedek gemes yang mendaki, sepertinya tidak terlalu istimewa. Treknya tidak ada yang ekstrim, pun mungkin pemandangannya tidak sebagus Guntur, namun lumayan lah untuk kemping ceria atau tektokan buat ngabuburit. Lain kali mungkin pengen coba mendaki gunung Gambung yang ada di sebelahnya atau nyobain ke Artapela lewat Pangalengan.

DSC01831

Cost Damage :

  • Bensin : 15rb
  • Logistik : ~30rb
  • Tiket masuk + Parkir : 15rb

Contact Person :

Mang Nurdin 0857 2043 0201 atau kunjungi instagram BC Artapela via Argasari di @artapela_official

Iklan

[Seri Gunung Bandung] Gunung Wayang 2241 Mdpl : Jalur Pendakian Semi Panjat Tebing Yang Sukses Bikin Lutut Lemas

“Bandung dilingkung ku gunung” adalah ungkapan yang sering dilontarkan budayawan sunda untuk menggambarkan kondisi kota/kabupaten Bandung yang memang dikelilingi gunung-gunung, seolah-olah berada dalam mangkok. Rupanya, menurut penelusuran yang dilakukan teman-teman di Jelajah Gunung Bandung menyatakan bahwa ada sekitar 500 gunung yang berada di tanah yang katanya diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum ini. Konon, kalau dikunjungi 1 per 1 per bulannya, akan membutuhkan kurang lebih 58 tahun untuk mengecup setiap puncak pergunungannya.

Salah satu gunung Bandung yang mungkin sudah cukup dikenal pendaki Bandung, namun rasanya jarang ada ajakan pendakian adalah gunung Wayang. Saya sendiri tahu keberadaan gunung Wayang, karena keberadaan pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) Wayang Windu yang dioperasikan perusahaan Star Energy waktu kuliah Teknik panas bumi sekian semester yang lalu. Bagi teman-teman fotografer yang sering main di daerah Pangalengan pasti pernah mengabadikan gunung ini karena letaknya berada tepat di arah timur Situ Cileunca, matahari pagi merayap dari balik gunung ini.

Hari sabtu pagi itu saya diajak oleh kang Mbok Hasby untuk berkunjung ke gunung berketinggian + 2183 mdpl yang secara administratif berada di Pangalengan, kabupaten Bandung. Kami ber-6 sepakat kumpul dulu di Carefour Kircon yang terkenal dengan durasi lampu merahnya yang bisa sambil namatin 1 season Cinta Fitri. Kang Mbok bertindak sebagai team leader dan penunjuk arah pendakian gunung Wayang ini karena sebelumnya sudah pernah kesana. Saya sendiri belum tahu gambaran treknya bakal seperti apa, mengingat sedikit dokumentasi tentang gunung ini, tapi dapet info dari pak Firman sih, miniatur gunung Raung yang terkenal itu. Saat itu sih belum dapet firasat apa-apa. Akhirnya setelah berkumpul semua anggota sekitar jam 8 lebih, kami ber-4 motor berangkat menuju titik awal pendakian. Dari kota Bandung kami arahkan kendaraan ke arah Pangalengan via Dayeuh kolot-Banjaran, menyusuri jalanan berliuk-liuk, sampai sebelum mencapai pusat kota akan ditemui persimpangan ke perkebunan teh PTPN VIII Kertamanah, ambil ke kiri, lalu mengikuti jalan ke arah power house pembangkit listrik geotermal Wayang Windu, atau ke arah Wayang Windu bike park. Patokannya sih sebrang toko oleh-oleh Pia Kawitan, di sekitar persimpangan ini juga terdapat warung nasi untuk mengisi perut atau membeli bekal.

gerbang kertamanah
persimpangan jalan raya Pangalengan – PLTP Wayang Windu/PTPN Kertamanah

Menurut informasi dari dokumentasi kawan-kawan JGB rupanya jalur pendakian gunung wayang ini terdapat 4 jalur : Kertamanah via PLTP wayang windu, Cisanti, Kertamanah via Cibeureum, dan satunya lagi apa ya. Jalur yang sering dilalui adalah lewat Kertamanah. Tidak ada basecamp khusus untuk pendakian gunung Wayang, pun tidak ada angkutan khusus ke titik pendakian awal. Tapi kalau dari Bandung kita bisa naik angkutan elf dari Tegal Lega-Pangalengan, turun di persimpangan perkebunan Kertasari, lanjut naik ojek ke PLTP Wayang Windu.

Setelah sekitar 2 jam mengendarai motor dari titik kumpul kami, akhirnya sampailah di pintu portal PLTP Wayang Windu. Saat itu kami masih boleh menitipkan motor di dekat pos satpam yang dikelilingi hutan pinus. Namun terakhir saya kesana sih sudah tidak boleh parkir disana, alih-alih parkirnya harus di suatu lapangan yang dikelilingi pipa uap panas bumi. Tidak ada tempat penitipan khusus kendaraan maupun basecamp di sini, jadi lumayan was-was sih ninggalin kendaraan. Oya, jalan menuju ke tempat parkir kendaraan yang melalui perkebunan teh ini juga memberikan pemandangan yang menyejukkan mata, walaupun kondisi jalan dari pertigaan antara portal PLTG-Wayang Windu Bike Park ini berupa bebatuan lepas, yang mengharuskan kita tetap fokus berkendara.

 

Kalau menitipkan kendaraan di pos satpam, masih butuh waktu sekitar 15 menit berjalan kaki ke lapangan tempat parkir yang saya sebut tadi, melewati kompleks PLTG dimana terdapat sebuah helipad.

Dari lapangan tempat parkir, perjalanan dilanjutkan treking ke kawah Wayang dimana kita akan melewati perkebunan warga. Di perkebunan warga ini bisa ditemui sayuran seperti wortel, kol, hingga tembakau. Tidak ada persimpangan yang berarti sih, kalau bingung bisa menanyakan warga kemana arah kawah Wayang. Di jalan setapak ini ternyata masih bisa dilalui motor trail, tau gitu kan … 😀

Selama kurang lebih 30 menit berjalan pemandangan kebun mulai berganti semak belukar dan samar-samar tercium bau telur busuk, yang dimasak. Ah, inilah tandanya kawah Wayang sudah dekat, dan betul saja kami sampai di kawah Wayang dengan pemandangan yang not-like-earthy. Keberadaan kawah Wayang yang menyemburkan uap dan gas solfatara ini menjadi tanda bahwa gunung Wayang ini adalah gunung berapi yang aktif. Bau belerangnya sendiri tidak terlalu menyengat seperti di papandayan. Treknya terasa begitu hangat (klo tidak panas). Dari kawah Wayang ini, perjalanan menuju puncak Wayang agak sedikit tricky karena tidak ada patokan untuk menemukan jalan setapak, pokoknya yang mengarah ke atas dan masih bisa dilalui dengan mudah, nanti ketemu jalan setapak yang berundak. Rasanya hanya ada satu jalur menuju puncak dari sini. Dari sana perjalanan terus menanjak, ada kali 60”

Tanjakan berundak tadi tidak begitu lama dilalui, hanya sekitar 15 menit. Nah, dari sini, perjalanan mulai terasa menantang. Dari ujung tanjakan tadi, kita sudah bisa melihat batu yang jadi iconnya gunung Wayang : Batu Wayang (Oh, thank you, captain). Trek yang tadinya berupa tanah, kini kami harus melalui jalur bebatuan. Tak jarang kami harus mendaki, mencoba mencari celah-celah batuan untuk berpijak dan berpegangan. Perjalanan mulai deg-deg-ser karena jalan di samping trek bebatuan tadi ya jurang. Di beberapa tempat, kami harus merayap, bukan lagi dengkul ketemu lutut, apa aja bagian badan yang bisa ditempel, ya ditempel. Lutut rasanya sudah lemas, bukan karena cape, tapi ya keder. Tidak salah kalau jalur Wayang ini dikatakan jalur semi panjat tebing.

Sampai di lokasi batu Wayang, sekitar 15 menit dari ujung tanjakan yang saya bilang tadi. Di sini kami sempat beristirahat dulu. Di batu wayang terdapat sebuah plang “Batu Wayang”. Dinamai batu Wayang karena bentuk batu tersebut mirip seperti Gunungan dalam pertunjukan Wayang. Kurang tahu sih klo di tempat lain dinamai apa, kenapa ga dinamai gunung Gunungan, mungkin nanti malah dibilang gunung boongan, kan gunung-gunungan #krik.

collectie_tropenmuseum_wajangfiguur_van_karbouwenhuid_voorstellende_een_pauzeteken_tmnr_4551-27
Gambar Gunungan (https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/2/26/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Wajangfiguur_van_karbouwenhuid_voorstellende_een_pauzeteken_TMnr_4551-27.jpg)

Nah, berita baiknya, batu Wayang sudah ditemui. Berita kurang baiknya : puncaknya masih setengah perjalanan. Kami masih harus melalui dan memanjat jalur bebatuan kembali untuk mencapai puncaknya. Tidak ada pilihan jalur, hanya jalur sempit yang dibawahnya menganga jurang. Di beberapa tempat dibutuhkan webbing untuk berpegangan. Well harusnya sih kita bawa perlengkapan pengaman yang lebih lengkap. Tapi saya sendiri juga ga tw klo jalurnya kaya gini, tau gitu kan … T.T

Tidak begitu lama sih jalur batunya, lepas jalur batu berikutnya kami menemui lagi jalur tanah, tepatnya tanah kemerah-merahan yang klo ujan ga tahu mau melorot kemana. Jangan senang dulu, karena jalur tanah yang saya maksud adalah jalur dengan kemiringan mendekati 75”, dengan tanah lepas, yang minim pegangan. Karena saya paling depan, dan cuma dibilang terus aja ke atas, mau gimana lagi, saya berpegangan sebisa mungkin ke tetumbuhan, sambil terus berdzikir moga2 ini tanah ga tiba-tiba longsor. Ga kepikiran motret jalurnya, dalam batin yang penting cepet beres aja lewat ini jalur. Alhamdulillah, jalur tadi mungkin hanya sekitar 5-10 menit, nah ujung dari tanjakan tadi : Puncak Wayang

Rasa syukur langsung saya ucapkan setelah melewati jalur ‘nista’ tadi, bersyukur juga karena kami masih diberikan keselamatan. Di puncak Wayang ada plang Puncak Wayang yang sudah lebih mirip plang tanda perlintasan kereta api. Di puncaknya terdapat sebidang tanah yang mungkin bisa ditempati sekitar 4 tenda. Dari puncaknya kita bisa melihat di sebrang ada pasangan Wayang : Windu, kemudian gunung Tilu, Datar Anjing dan Artapela. Kabut masih menyelimuti hari yang sudah melewati tengah siang saat kami sampai di puncak. Dari kejauhan kita bisa melihat pembangkit Wayang Windu.

Gerimis mungkin dari kabut mulai turun, untungnya kami sudah bersiap dengan mendirikan bivak sederhana dari plysheet. Setelah shalat, kami mengeluarkan bekal masing-masing, kompor juga dinyalakan untuk membuat air panas. Tidak terasa, setelah kenyang ngantuk melanda, ditambah suasana puncak yang sepi (tidak ada pengunjung lain saat itu, tau kan alasannya?). Kami sempat tertidur di bivak juga hammock yang dibuat di sekitar pepohonan.

DSC02007
jalan di belakang itu jalur lewat Cisanti, belakangan juga kami pakai untuk turun ke jalur kawah

Sekitar jam 3 sore, kami memutuskan untuk pulang, tapi selain kang Mbok, tidak ada yang mau melewati jalur naik tadi, naiknya aja susah, turun lebih susah-serem lagi 😆 Hanya ada pilihan lewat Cisanti yang treknya lebih jauh dari tempat parkir, atau tetap ke arah tempat parkir dan ‘buka jalur’.

Kang Mbok sebenarnya sudah kesini sebelumnya, tapi karena kondisi jalur yang masih rapat dan jarang dikunjungi, sempat membuat kami kehilangan arah. Sempat kami coba buka google maps (oya, sinyal smartfren 4g lumayan kuat di puncak loh) untuk melihat peta kontur untuk mencari arah kawah. Kami harus melewati semak belukar, main perosotan di tebing dengan pegangan di semak-belukar yang ada, hingga akhirnya kami sampai kembali di kawah sekitar pukul 4 sore. Lagi, tidak ada panduan atau papan petunjuk jalur turun (saat itu), maka ada baiknya selain membawa peralatan safety, juga harus sama orang yang pernah/biasa ke tempat ini. Kabut sekarang menyelimuti kawah, bercampur asap belerang, membuat pemandangannya seolah-olah other-world. Sambil istirahat, ya kami foto-foto terakhir sebelum pulang.

Saat perjalanan pulang melewati jalur perkebunan tadi pagi, hujan turun dengan deras, untungnya kami semua membawa jas hujan. Sampai di tempat parkir, kami berpamitan ke Satpam dan membayar ‘seikhlasnya’ 5000 rupiah per orang, dan diiringi bunyi dari cerobong uap pembangkit dan hujan saat itu kami berpisah.

Sebagai penutup, gunung Wayang ini adalah salah satu trek gunung yang cukup unik dan menantang, ketidak-tinggiannya sebagaimana gunung-gunung Bandung lainnya, tidak membuat gunung ini mudah untuk dilalui, alih-alih saya sendiri malah boleh dibilang kapok naik kesini, tangan basah keringetan, lutut selain lemas juga sakit, nah yang terakhir ini ga tw sih, karena naik gunung atau emang kurang olahraga :p Berhubung pendakiannya bisa ditempuh dalam satu hari (tektok), klo punya waktu 2 hari untuk treking gunung Bandung, bisa dilanjut/digabung dengan Burangrang, atau Manglayang.

Cost Damage

  • Parkir : 5rb
  • konsumsi : ~20rb

Info Kontak Basecamp :

Nihil, atau pantau grup Jelajah Gunung Bandung di Facebook groupnya.