Catatan Pendakian Gunung Lembu Purwakarta : Sunset, Sunrise, Nightscape, Danau, kurang view apalagi?

Dibalik ketinggian gunung, ada kerendahan hati – T. Bachtiar

Akhir-akhir ini dunia pendakian di Indonesia diributkan dengan masalah sampah yang ada di gunung-gunung, terutama gunung wisata. Netizen ramai-ramai mengutuk ulah oknum pendaki yang entah sengaja atau tidak meninggalkan sampah di puncak ataupun area camp, langsung dicapnya mereka pendaki alay atau pendaki modal duit. Hal ini sebenarnya bukan masalah baru sih, bahkan di atap bumi Everest, sampah menjadi masalah besar , terakhir masalah sampah pendakian juga bisa ditemui di puncak tertinggi Indonesia. Masa sih pendaki gunung tertinggi dan tingkat kesulitan tinggi itu ga punya tanggung jawab atau kecintaan terhadap alam? Terlepas mungkin ada kesulitan teknis dan non-teknis yang kebanyakan orang tidak ketahui, kalau menurut saya pribadi sih ketinggian gunung tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kesulitan pendakian, coba tengok gunung salak dengan ketinggian 2211 mdpl, atau gunung-gunung Bandung, pasti bikin wakwaw 😁

Oya, akhir-akhir ini saya memilih untuk lebih banyak mengeksplor gunung-gunung sekitar Bandung/Jawa Barat, alasannya sederhana, tidak perlu waktu banyak (untuk perjalanan), juga budgetnya tidak terlalu besar. Gunung Bandung konon memang ada ratusan, tapi untuk menjelajahinya perlu pengetahuan lebih dan disertai pendaki yang lebih berpengalaman. Alhasil, penjelajahan saya di gunung-gunung Bandung juga terbatas. Alhamdulillah, tidak jauh dari Bandung sekitar 60km ke arah barat, terdapat kompleks pergunungan yang sudah ramai dikunjungi. Salah satunya sudah pernah saya kunjungi tahun lalu. Nah, dulu gunung Parang dengan trek via Ferratanya sukses membuat jantung dan lutut saya lemas, ternyata di sekitar gunung Parang ini juga terdapat gunung lainnya dengan pesona masing-masing, gunung Bongkok dan gunung Lembu. Karena jaraknya hanya sekitar 2 jam dari rumah, akhirnya September 2017 lalu berangkat saya dengan rombongan dari Jakarta berjumlah 8 orang. Saya berangkat dengan motor dari Bandung, sementara teman-teman dari Jakarta berangkat menggunakan kereta lokal Walahar Ekspress dari Tanjung Priok ke Stasiun Purwakarta. Tujuan kami : Gunung Lembu, 792 mdpl.

9 September 2017

Teman-teman berangkat dari Tanjung Priok dengan kereta jam 10an. Dengan estimasi perjalanan kereta sekitar 2 jam, saya berangkat dari Bandung jam 9. Melewati Padalarang-Cikalong-Purwakarta saya berangkat menuju Stasiun Purwakarta. Ternyata jalanan cukup lengang saat itu, pukul 11 siang saya sudah sampai di Stasiun Purwakarta, yang ternyata dekat dengan taman air mancur Sri Baduga yang konon merupakan air mancur menari terbesar di dunia. Jelas karena masih siang, saya tidak bisa menikmati keindahannya. Sepertinya matahari berjarak lebih dekat di Purwakarta, di accuweather tercatata suhunya sekitar 37°C, makjang. Rasanya makan eskrim sekali ga cukup menghilangkan gerahnya kota ini. Hingga jam 12 siang, ternyata teman-teman dari Jakarta baru sampai di Cikampek. Mungkin karena kereta dengan tarif 6500 ini prioritasnya lebih kecil, jadi harus rela dilalui kereta-kereta lain. Karena lapar, saya pun makan di warung nasi sekitar Stasiun. Oya, sambil menunggu teman-teman, saya membantu mencarikan angkutan untuk ke basecamp. Di sekitar stasiun terdapat angkot, kebetulan kami dapat tarif 400rb PP stasiun-basecamp, mungkin bisa dapet lebih murah lagi sih, tapi menurut saya ongkos segitu sudah lumayan mengingat jalan ke basecamp lumayan jauh dan sulit.

Sekitar pukul 13.30 saat tubuh saya hampir meleleh karena matahari Purwakarta, akhirnya teman-teman sampai di Stasiun Purwakarta, menurut cerita mereka parah juga keretanya, udah lama, 1 kursi (yang hadap2an biasa diisi 2-3 orang) bisa diisi 4-5 orang, udah kaya oven aja katanya, lol. Sempat mengisi perut dan logistik di minimart dekat stasiun, sekitar pukul 14.30 kami berangkat ke basecamp gunung Lembu lewat daerah Sukatani, belok tepat di plang PT. Gunung Kecapi.

plang gunung kecapi
Plang PT. Gunung Kecapi

Dari plang ini, perjalanan menempuh sekitar 1 jam melewati jalan yang jelek di awal, melintasi rel kereta, baru lewat jalur aspal perkampungan yang cukup mulus nan sempit dan turun naik, asap knalpot angkot semakin pekat ketika melalui tanjakan. Di perjalanan, kita bisa melihat gunung Parang, gunung Bongkok dan bukit-bukit tetangganya.

Pukul 15.30 kami sampai di basecamp gunung Lembu, kondisi sarana prasarana sudah terbilang bagus, terdapat lapang yang dikelola warga yang bisa digunakan untuk tempat parkir motor/mobil menginap. Sambil repacking, kami langsung registrasi dengan membayar simaksi 12500 per orang. Di basecamp tersedia warung-warung, tempat mandi, toilet dan mushola, ada juga kantor kelurahan, barangkali ngurus surat pengantar nikah dulu #eh.

Di basecamp terdapat banner berisi informasi seputar gunung Lembu, misalnya proses terjadinya gunung Lembu yang ternyata dulunya terdapat gunung yang lebih besar yang kemudian meletus, kemudian erosi menyisakan sumbat lava yang jumlahnya tersebar di sekitar gunung Lembu. Diketahui juga penamaan gunung Lembu karena jika dilihat dari sisi timur (dari gunung Parang?) bentuknya seperti seekor lembu yang sedang duduk #masasih. Pukul 16.30 kami mulai treking melalui jalur di samping basecamp, estimasi awal sampai puncak sekitar pukul 6/7 malam, momen sunset sepertinya akan terlewat apa boleh buat. Yang lebih membuat cemas sih karena kami berangkat hari sabtu, takutnya ga kebagian tempat untuk berkemah. Akhirnya tim dibagi dua supaya tim paling depan bisa ‘booking’ tempat dulu.

Treknya? Dari mulai awal trek, langsung disuguhi tanjakan 30-40° melewati kebun bambu, trek ini awet sampai sekitar 20 menit, kami sampai di Pos 1 Lapang Kapal. Di sini terdapat lapangan untuk 50an tenda, juga terdapat warung serta semacam menara pandang dari bambu. Tidak jauh dari lapang Kapal ini juga terdapat semacam jembatan/dermaga dari bambu untuk foto-foto. Kami istirahat beberapa saat di pos ini.

Lepas pos 1, kami menemui kembali kebun bambu lalu, beberapa saat kemudian vegetasi bambu berganti pepohonan rindang. Saat pergantian vegetasi ini kami disambut dengan tanjakan terjal sekira 50°, pendek sih. Btw, sebelum tanjakan tadi ada alternatif trek yang lebih landai di percabangan ke sebelah kanan, lumayan hemat tenaga 😁 Di ujung tanjakan tadi sudah ada bonus dan disambut petilasan Mbah Jonggrang, tidak jauh dari situ sudah sampai di Pos 2 sekitar pukul 17.10. Di pos 2 ini terdapat beberapa warung yang buka, kelapanya sangat menggoda apalagi diminum siang-siang. Dari pos 2 ini trek lalu menurun, di sebrang sana ada sebuah bukit lagi yang sepertinya puncak Lembu, mirip-mirip trek Puntang, untungnya bukitnya tidak menjulang tinggi. Nah, saat trek turun berbentuk seperti sadel ini kita bisa melihat view Jatiluhur dan rumpon-rumpon nelayan, fiuhh, what a view.

Tanjakan terakhir sebelum mencapai puncak Lembu ditempuh sekitar 15 menit, menurut peta sih harusnya ada pos 3 sebelum puncak, di tanjakan juga sempat ada petilasan lagi, tahu-tahu sudah sampai puncak aja. Kami sampai di puncak Lembu 792 mdpl sekitar pukul 17.30. Puncak Lembu ini mungkin bisa menampung 15 tenda lebih + hammock, di sekitarnya rimbun jadi tidak bisa lihat view apa-apa. Kebetulan belum ada tenda lain di puncak, kami memutuskan mendirikan tenda dulu sebelum turun (ya, turun!) ke Batu Lembu tempat utama di gunung Lembu.

DSC04176
Puncak Lembu

Tidak lama setelah mendirikan tenda, kelompok yang lain sampai satu per satu ke puncak. Saya pun langsung berlari membawa perlengkapan lenong untuk turun ke Batu Lembu, masih berharap mendapat sunset, walaupun dari tadi awan mendung. Sekitar 5 menit, saya sampai di daerah terbuka dimana pijakan tanah berganti menjadi batuan padat dengan view 180° ke arah waduk Jatiluhur! Masyaallah. Duh, tapi sayangnya memang belum rejekinya dapet sunset yang cetar di gunung Lembu ini. Oya, terdapat beberapa undakan di Batu Lembu ini, daerah paling luas adalah yang berbatasan langsung dengan jurang, tapi terdapat pagar pengaman berupa kabel sling yang mengelilingi lapangan. DSC03849

Lepas magrib, kabut masih menyelimuti gunung Lembu dan sekitarnya, akhirnya kami putuskan untuk makan malam dulu, berharap nanti malam pemandangannya akan lebih cetar. Setelah mengisi perut, sekitar jam 10 malam kami turun kembali ke batu Lembu, karena penasaran dengan view malam yang katanya lebih indah. Ada sekitar 30 orang di area batu Lembu saat itu. Oya tidak disarankan mendirikan tenda di daerah batu Lembu, selain karena berbatasan langsung dengan jurang, anginnya besar, area tanah juga cukup sedikit, namun demikian di jalan turun ke batu Lembu ada area yang bisa digunakan berkemah. Di batu Lembu ini juga ada warung & toilet kering yang selalu buka. Benar saja, pemandangan di Batu Lembu ke arah waduk Jatiluhur ini memang lebih indah dari pemandangan tadi sore. Lampu-lampu dari rumpon nelayan di waduk Jatiluhur seperti permukiman penduduk di darat. Terbayang, permukiman penduduk jaman sebelum waduk Jatiluhur ini digunakan.

Tidak terasa kami menghabiskan waktu 2 jam di Batu Lembu ini, sepertinya yang tersisa hanya kelompok kami. Terhitung 4 kali saya bolak balik puncak-Batu Lembu -_- Sampai di tenda, kok hawa-hawanya mirip di pantai, gerah-gerah gimana gitu. Apalagi kalau masuk ke tenda hampir seperti oven. Ah, akhirnya saya menggelar matras di luar tenda. Tidak beberapa lama saya pun tertidur. Dilema pun hadir, tidur di tenda gerah, pake sleeping bag gerah, tidur diluar ga pake sleeping bag dikeroyok nyamuk -_- Untungnya waktu subuh tiba, penderitaan pun berakhir.

10 September 2017

Subuh menyingsing di Puncak Lembu, walau tidak terasa dingin, tapi badan saya agak gemetaran. Setelah solat Subuh, membangunkan teman-teman lain, kami bergegas turun untuk menyambut mentari pagi. Jam 5 pagi di batu Lembu ternyata sudah dipenuhi para pendaki. Kebanyakan berangkat tektok pagi buta tadi. Jam 6 lebih, mentari terbit di ufuk timur, bentuknya bulat sempurna, dingin yang sedari tadi bersahabat dengan angin yang sama tadi malam perlahan menghilang. Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami, kepada-Nya lah kita kembali 🙂 Oya, dari batu Lembu ini selain waduk Jatiluhur di selatan, gunung Parang di sebelah tenggara, di arah barat daya kita juga bisa melihat pemandangan serupa pulau Padar dengan perbukitannya. Yah, lihat miniaturnya dulu lah ya.

 

 

DSC04085
sunrise di batu (gunung) Lembu, perlu dilempar ga nih 2 orang?😆 Jam 

Jam setengah 8 kami kembali ke tempat camp untuk sarapan sekalian packing untuk pulang. Setelah sarapan, bukannya langsung packing, ternyata masih ngantuk, jadilah sekitar sejam saya pun tertidur. Baru sekitar jam 10 kami bergegas turun. Jam segini suhunya sudah lumayan terik, jadilah saya pun berjalan agak cepat, sehingga perjalanan turun tidak terasa, mungkin sekitar 30 menit sebagian dari kami sudah sampai di basecamp. Sebagian lagi istirahat di Pos 2 membeli kelapa muda. Bapak angkot juga sudah standby di basecamp. Sebagian mandi di WC umum di sekitar warung dan kantor kelurahan, selepas Zuhur saya pun berpisah dengan rombongan untuk pulang ke tempat masing-masing. Lewat rute yang sama, 2 jam saya sudah sampai di rumah. Dengan demikian, selesai sudah perjalanan untuk melengkapi 2/3 gunung gemes di Purwakarta, lain waktu mungkin saya lengkapi perjalanan ke gunung Bongkok, insya Allah. Rating untuk gunung lembu ini : view 4/5, trek 2/5, akses/sarana-prasarana 4/5.

Summary

Sebagai penutup, berikut rekap waktu tempuh dan biaya yang diperlukan :

Waktu Tempuh :

  • stasiun purwakarta – basecamp : 1.5-2 jam.
  • basecamp-pos 1 : 15 menit
  • pos 1-pos 2 : 30 menit
  • pos 2-puncak : 15 menit
  • puncak – batu lembu : 5 menit
  • total waktu treking naik 60-90 menit, turun ~30-45 menit

Cost Damage :

  • Simaksi : 12500/orang
  • Parkir Motor/malam : 5000

Peta Trek :

trek lembu
Peta Gunung Lembu

 

Iklan

Catatan Perjalanan Gunung Salak, Puncak Manik Salak 1, via Cidahu

With great power, comes with greater responsibility – Ben Parker

Salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan orang ke saya soal mendaki gunung adalah “Kak, pernah liat yang aneh-aneh ga sih di gunung?”. Tentunya pertanyaan tersebut mengarah bukan soal ketemu orang-orang dengan kelakuan yang aneh, karena hampir di setiap grup, ada aja minimal 1 orang yang begitu, klo ga ada, ya saya sendiri yang aneh :)) Maksudnya mungkin pengalaman berinteraksi dengan “you know what”. Well, alhamdulillah sih selama sudah menjalani belasan pendakian, belum menemui hal-hal tersebut, walaupun pernah salah satu anggota tim mengalaminya. Mungkin ‘mereka’ tahu sih saya penakut, jadi ga ditakut-takutin juga udah takut sendiri -_-. Bicara soal hal mistis, gunung apa yang katanya paling mistis? Menurut saya sih Merapi, karena dulu ada filmnya 😀 Tapi berdasarkan survei salah satu akun pendaki gunung, salah satu gunung paling mistis adalah Gunung Salak di Sukabumi. Mungkin bukan tanpa alasan, beberapa kejadian tragis terjadi di gunung dengan salah satu puncaknya bernama Puncak Manik dengan ketinggian 2211 mdpl. Sebutlah, kejadian terakhir Sukhoi Superjet 100 yang menabrak tebing di sekitar komplek Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Beberapa acara tv bahkan sempat mengangkat kejadian mistis di gunung Salak. Makanya tidak aneh, dari 5 orang yang saya ajak , 3 diantaranya menolak :))

Tanggal 4-6 Agustus 2017, akhirnya saya rencanakan untuk melakukan pendakian ke gunung Salak, via Cidahu. Motivasi saya bukan untuk membuktikan kemistisannya, tapi sama saja dengan gunung-gunung lain, untuk merasakan kondisi trek serta kondisi flora dan faunanya. Di tanggal yang sudah direncanakan, bersama pak Firman, teh Ayunda, mang Darus dan Mukti, kami berangkat dengan titik awal di rumah pak Firman sekitar pukul 8 malam. Oya, kami menggunakan kendaraan pribadi. Terlebih dahulu kami jemput teh Ayunda dan mang Darus di Cileunyi, sekalian lewat tol keluar Padalarang, karena kami memilih lewat jalur Cianjur-Sukabumi. Jalur ini terhitung lebih dekat ketimbang harus lewat Jagorawi. Perjalanan terasa begitu cepat (yaiyalah karena hampir setelah di mobil saya tertidur pulas) sampai Sukabumi, sekitar 1 jam sebelum sampai di basecamp Cidahu tepatnya campground Cidahu. Di kota Sukabumi kami membeli logistik di gerai minimart yang kebetulan buka 24 jam. Lanjut ke jalan Cidahu, ternyata sedang dilakukan pengecoran jalan, akhirnya harus melipir melalui jalan alternatif lewat perkampungan yang kondisinya jauh lebih buruk, mana sepi banget. Akhirnya kembali ke jalan utama Cidahu, jalannya mulus cuma idealnya dilalui 1 lajur, kalau papasan truk apalagi, bakal susah dilalui. Alhamdulillah kami sampai di basecamp Cidahu sekitar pukul 2 pagi. Rencananya kami mulai treking jam 5 pagi, mengingat kata pa Firman perjalanan bisa mencapai 12 jam.

DSC02994
Peta jalur di pos basecamp Cidahu

Btw, nama gunung Salak diambil dari kata Sansekerta Salaka yang berarti Perak. Berbeda dengan yang dianggap banyak orang yang katanya diambil dari buah Salak. Pertama kali datang, kami langsung melakukan registrasi di pos, semua nama tim harus dituliskan berikut nomor kontak dan backupnya, titip KTP, sama bayar 22.000/orang untuk 2 hari 1 malam. Oya, jalur resmi untuk menuju puncak Salak 1 ini terdapat 2, via Cidahu Cimuncang dan via Pasir Reungit. Adapun via Cimelati jalurnya (saat artikel ini ditulis) masih ilegal walaupun konon jarak tempuhnya lebih singkat. Menunggu waktu subuh, sebagian tim ada yang melanjutkan tidur, sebagian lagi termasuk saya ga bisa tidur, beli teh manis panas dan indomie rebus di warung sekitar basecamp, sekalian ngobrol dengan pengunjung termasuk sekelompok mahasiswa dari Tangerang yang sedang melakukan survey untuk kegiatan kampus. Suasana menghangat dengan diskusi dan api unggun.

DSC02630

Pagi Menjelang di Cidahu

Lepas subuh kami melakukan recheck peralatan, oya sekedar tips, jarak dari basecamp ke pintu rimba tempat awal pendakian Salak 1 ada kayaknya 2 km melalui jalanan aspal tapi itu pun tanjakannya lumayan. Kami memilih memarkirkan kendaraan di Javana Spa/Hotel sekitar 500m dari pintu Rimba, di jalan menuju Javana Spa juga ternyata ada jalur menuju Salak 1 tanpa melalui pintu Rimba, dan katanya lebih ‘bersahabat’. Kami membayar parkir 100rb/malam diiming-imingi janji petugasnya katanya nanti klo sudah turun bisa ikut mandi di Javana, saya pikir wah lumayan. Keputusan untuk parkir di Javana ini tidak disesali karena dengan tanjakan seperti tadi, bisa menghemat waktu sekitar 1 jam juga tenaga, fiuhh. Oya, di dekat pintu rimba ada sebuah warung dan toilet, tapi karena datangnya kepagian jadi belum buka. Selain berjalan kaki dari basecamp, sampai pintu rimba juga ada jasa semacam angkot/pickup katanya bayar 20rb/orang.

Efektifnya kami mulai treking pukul 6.30 dari pintu rimba ini melalui jalur alternatif yang nantinya juga bertemu di percabangan jalur utama. Lewat jalur alternatif ini kami melalui jalanan aspal, di sekitarnya terdapat area rekreasi milik Javana Spa, tapi tidak nampak satu orang pun disana, mungkin daerah wisata utamanya di area lain.

DSC02664
percabangan jalur utama & javana spa

Oya, jalur treking Salak 1 ini terhitung yang paling rapi karena terdapat patok penunjuk jarak di setiap 100m. Penamaan patok dimulai dari HM0 (hektometer 0), setiap 10HM berganti jadi KM, sampai puncak Salak 1 di KM5 (HM50), belakangan diketahui ukuran jarak ini berdusta! :)) Jalur dari pintu rimba sampai Simpang Bajuri berjarak sekitar 25HM, treknya mirip jalur Gede Pangrango via Cibodas, terdapat trek yang jelas berupa jalur batu kali. Treknya masih standar, tanjakannya masih manusiawi. Kami sampai di Simpang Bajuri setelah berjalan sekitar 1 jam. Karena berjalan di pagi hari, suhunya masih sangat sejuk, sesekali matahari mengintip dari balik dedaunan.

Simpang Bajuri adalah jalur persimpangan bagi pendaki yang ingin ke puncak dan ke Kawah Ratu, selain itu juga jalur pertemuan pendaki yang memulai dari basecamp Pasir Reungit. Lahannya cukup untuk sekitar 10 tenda lebih, juga terdapat sebuah sungai kecil dengan air sangat jernih, rasanya mirip Aq*ua, toh Aq*ua juga salah satu sumber airnya dari gunung Salak ini 😀 Btw, plis klo buang sisa makanan jangan langsung ke sungai ya, jijik dan sayang juga kejernihan sungai ini dikotori sama sisa-sisa makanan. Di simpang Bajuri ini kami istirahat sekitar 15 menit. Dari simpang Bajuri ke Kawah Ratu berjarak sekitar Di plang yang terdapat di Simpang Bajuri dapat diketahui jarak ke puncak Manik adalah 5km. Dengan ketinggian 2211 mdpl, mulai timbul rasa ‘meremehkan’ gunung ini, paling 3 jam kan ya. ‘Perasaan’ yang saya sesali kemudian :)) Setelah berjalan 5 menit, baru nyadar plang jarak menuju Puncak direset lagi jadi 0KM. Jadi perjalanan kami 2.5KM sebelumnya tidak berarti??!! (efek zoom in zoom out ala sinetron).

Tidak jauh dari simpang Bajuri (sekitar HM5-7), kami diingatkan pa Firman soal keberadaan rawa-rawa di trek Salak yang siap menelan hidup-hidup sepatu para pendaki. Kurang lebih ada 3 rawa yang harus kita lalui untuk menuju puncak Manik. Saat melalui rawa-rawa ini terdapat batang pohon untuk membantu melewati trek, klo ga ada batang pohon terpaksa nyemplung, kadang harus merangkak melewati pohon, oya hati-hati juga karena di sekitar rawa terdapat sarang tawon/lebah, beberapa kali pa Firman tersengat tawon di sini. Beruntung saat kami datang, hari sebelumnya tidak turun hujan, jadi kondisinya tidak separah yang diceritakan banyak orang.

Selepas trek rawa ini, trek berikutnya akan terus menanjak hingga puncak bayangan. Target kami saat Dzuhur sudah berada di puncak bayangan untuk ishoma. Setelah berjalan kurang lebih 3 jam, kami sampai di sekitar HM 20, ada tanah cukup lapang untuk beristirahat. Disanalah kami baru bertemu rombongan pendaki lain, kebanyakan yang tektok, ngiri banget lah, mereka cuma bawa tas kecil & botol minum, lha kita bawa kulkas :v Btw, tempat istirahat pertama kami setelah simpang bajuri ini mirip pos Batu Kuda di Ciremai deh.

DSC02773.jpg

Kami istirahat kurang lebih 15 menit, kemudian lanjut perjalanan. Lepas rest area ini, trek kok rasanya familiar, trek dengkul ketemu dada ini mengingatkan saya dengan trek Gunung Cikuray :)) Trek tanah dan terjal silih berganti, rasanya kok ga ada bonusnya ini trek. Setelah 30 menit berjalan, sampailah di tebing ber-webbing pertama kami. Tingginya ada mungkin 7-8 meter. Dari tebing ini juga bisa terlihat pemandangan Kawah Ratu.

Dari tebing tadi, sekitar 15 menit kami sampai di pos bayangan, dan tebak berapa pal jaraknya ? baru HM 25!!! Itu artinya perjalanan kami baru setengah perjalanan, ya Allah, kapan sampenya ini :(( Meningat perjalanan masih jauh, kami pacu kecepatan jalan kami semampunya, beberapa kali kami istirahat, sekitar pukul 12 kami istirahat agak lama di trek, kami sempat ngemil dan bikin minuman panas, saya sendiri sempat tertidur. Lepas itu kami lanjutkan perjalanan, semakin atas rasanya vegetasi sudah berganti dari pepohonan rimbun menjadi lebih terbuka. Kami sempat melewati bagian trek yang sebagiannya sudah longsor, di bawahnya? jurang dalam … Di tempat ini belakangan waktu jalan pulangnya, tas saya sempat tersandung pohon di sebelah kiri, hampir saja saya terhempas ke jurang, Alhamdulillah masih dikasih selamat -_-

DSC02813.jpg

Pukul 13.00 kami sampai di puncak bayangan, suatu area cukup luas sebelum puncak Manik. Walaupun luas, bisa menampung 3-4 tenda, tapi permukaannya tidak terlalu rata, ada banyak batu dan akar pohon. Pendaki bisa menginap di sini untuk melakukan summit attack nantinya. Di puncak bayangan ini kami melakukan ishoma. Walaupun trek Cidahu ini jalur utama selain jalur Cimelati, tapi hanya beberapa kali kami menemui pendaki lain, kebanyakan yang tektok, alasannya mungkin sudah cukup jelas :))

DSC02820

Kami istirahat cukup lama di pos ini, ada kali 1.5 jam. Pukul 14.30 kami melanjutkan perjalanan ke puncak. Dari puncak bayangan ini bisa terlihat trek ke puncak Manik ini menjulang tinggi, apalagi dari puncak bayangan treknya menurun dulu, udah kebayang gimana trek naiknya nanti. Betul saja, selepas sadel pemisah antara puncak bayangan ke trek Puncak, langsung ketemu tebing hampir 80°. Di tebing tersebut terdapat webbing untuk membantu pendaki naik. Mukti bahkan harus dibantu dibawakan dulu kerilnya karena kondisi treknya cukup menyulitkan ruang gerak. Di sini mesti ekstra hati-hati apalagi kalau treknya dilalui saat hujan. Oya, tebing ini ditemui di HM 39, atau sekitar 1 KM sebelum puncak.

Mengingat Pal HM yang masih berjarak 1KM saya sudah menduga kalau trek tebing ini akan banyak ditemui di depan, lha biasanya 300 meter vertikal dari puncak Ciremai/Guntur aja bisa sejam lebih. Tidak salah dugaan saya, tebing demi tebing harus kami lalui sebelum mencapai puncak. Ada mungkin sekitar 7-8 webbing yang membantu kami melewati tebing-tebing yang ada. Tutupan vegetasi semakin terbuka. Tidak terasa pal HM sudah menunjukkan HM 49, itu artinya sebentar lagi puncak! Alhamdulillah, kami pun sampai di puncak sekitar pukul 16.00, kami disambut oleh pohon-pohon Akasia yang sepertinya hanya kami temui di puncakan ini. Rupanya puncakan Salak 2 ini mirip-mirip puncakan Tampomas. Terdapat 2 bagian puncak, ada daerah puncak yang terbuka dan daerah yang kami gunakan untuk berkemah yang dinaungi pohon-pohon akasia. Sebelum mendirikan tenda, kami foto-foto dulu di plang puncak. Tidak ada pemandangan yang berarti di puncak ini karena sekitar kami hanya ditutupi kabut. Tapi nyampe puncak pun sudah sangat bersyukur karena perjalanan panjang kami bisa berakhir.

Kami mendirikan tenda di daerah yang ditutupi akasia karena mempertimbangkan angin dan kabut yang datang silih berganti. Pilihan kami tidak salah karena sampai malam, angin terus bertiup kencang, tapi tenda kami aman tentram. Suara angin yang melalui lembah dan membuat pohon bergesekan sepertinya menimbulkan suara cukup seram, mungkin suara-suara ini yang dianggap sebagian pendaki suara dari alam lain. Apalagi saat malam pohon-pohon akasia yang konstan ditiup angin Salak berbentuk seperti makhluk tinggi besar dengan tangannya menjuntai kesana kemari.

DSC02877

Oya, di daerah terbuka Puncak Manik cukup luas untuk menampung hingga puluhan tenda. Di puncak ini terdapat petilasan Mbah Salak, terdapat juga sebuah shelter yang mungkin digunakan peziarah/pendaki beristirahat. Hari itu sepertinya ada beberapa peziarah yang datang, kalau dilihat dari pakaiannya. Keberadaan petilasan ini juga konon menambah kemistisan gunung Salak.

DSC02885

Pukul 21.00 kami sudah membereskan perlengkapan makan kami dan siap-siap istirahat. Karena kami istirahat di puncak, jadi enaknya ga perlu summit attack. Saya sempat terbangun beberapa kali bukan karena mimpi atau dingin, tapi karena pengen foto bintang, Tiap bangun, buka tenda, liat keluar tenda, sambil berharap ga ada yang ngelirik balik :)) Di luar tidak terdengar apa-apa selain suara angin yang tak berhenti berujar. Diluar masih saja berkabut, bahkan hujan sempat turun. Bangun-bangun sekitar jam 4 lebih, beberapa pendaki sudah bangun, apalagi klo bukan buat curhat. Adzan subuh belum berkumandang, karena cuaca sudah membaik saya coba mengabadikan suasana syahdu dini hari di puncak Salak. Milkyway jelas sudah lewat, namun langit cukup jelas berbintang. Di ufuk barat masih nampak sisa-sisa bulan yang terbenam menimbulkan cahaya jingga serupa matahari terbenam. Ah, nikmat mana yang engkau dustakan.

DSC02904-Pano
Puncak Manik Salak 2 di bawah naungan akasia

Subuh menjelang di puncak Manik, dingin tidak terasa menusuk badan, saya tidak menyadarinya sampai setelah ingusan tiada henti. Sambil menunggu sunrise, saya sempat membuat minuman hangat. Satu persatu pendaki mulai bangun dan meriuhkan suasana puncak. Tempat terbaik melihat sunrise di puncak Manik adalah di area terbuka puncak. Dari tempat itu pula di arah tenggara dapat terlihat si kembar Gede Pangrango yang mengintip dari sela-sela pepohonan. Saat melihat Gede Pangrango dengan ambience jingga ini rasanya tak henti bersyukur, mungkin ini salah satu hadiah dari Sang Pencipta Salak bagi para pendakinya 🙂

DSC02937
Gede Pangrango dari Puncak Manik Salak 1

Tiba saat momen sunrise, para pendaki ramai berkumpul di sisi timur semua siap mengabadikan kehadiran sang surya. Saat muncul dari balik awan yang menyelimuti daerah Cianjur/Sukabumi kami sontak berteriak. Lagi, katanya pemandangan ini juga jarang ditemui di gunung yang sejak semalam diselimuti kabut. Alhamdulillah.

DSC02956.jpg

Setelah melihat matahari terbit, kami langsung menyiapkan sarapan dan packing karena pukul 8 nanti kami harus bergegas turun. Karena kabut dan hujan semalam saat turun trek lebih licin tapi masih aman dilalui. Saat turun kami hampir tidak beristirahat, nah tiba saat sampai di daerah rawa-rawa. Tahu-tahu pa Firman berteriak, kaget kan ya kita, ternyata saat menginjak kayu-kayu yang jadi pijakan di rawa itu ada sarang lebah/tawonnya, jadilah dia disengat beberapa kali di tangan. Ada bahkan pendaki yang disengat di jidat, wew. Langsunglah dioles dengan fresh*are, sengatnya juga sempet keluar. Kami sampai di Simpang Bajuri lewat zuhur, disana kami memutuskan istirahat agak lama. Makan-makan lagi kan ya kami, toh basecamp sudah dekat. Kami istirahat disana sampai sekitar 14.30 lalu turun lewat Javana Spa. Waktu melewati jalur turun ini tepat di bawah pohon besar ada 2 lebah yang terus berputar, karena saya paling depan jadilah saya yang pertama dikejarnya. Awalnya saya lari ke depan sambil melindungi muka, terus lari ke belakang, lebahnya malah ngejar teh Ayunda & pa Firman. Jadilah pa Firman disengat lagi, aduh punten pa -_-”

Sampai di Javana Spa niatnya mau numpang mandi, udah kebayang pake air anget kan ya, eh ternyata si bapa yang kemarin ngejanjiin belum shiftnya masuk, zzz. Akhirnya hanya mengambil mobil, lalu mandi dan makan baso tahu di warung sekitar area camp arah basecamp. Fiuh, berakhir pula pendakian yang dibayang-bayangin cerita kemistisan yang ternyata lebih dikalahkan oleh kondisi treknya yang ajip. Seperti yang dibilang, treknya ‘pendek’, ketinggiannya ‘tidak seberapa’, ternyata waktu tempuhnya luar biasa. Jadi pelajaran untuk tidak meremehkan pendakian gunung dilihat dari ‘mdpl’nya. Klo rating saya untuk gunung Salak ini, view 3/5, trek 4/5 dan akses ke basecamp 4/5. Selamat mencoba, keep safe dan berdoa!

trek chart salak agustus 2017
Trek Salak 1

Summary

Waktu tempuh :

  • Basecamp – pintu rimba/Javana Spa : 10-15 menit (klo naik mobil), klo jalan bisa 1 jam
  • Pintu Rimba – Simpang Bajuri : 2 jam
  • Simpang Bajuri – puncak bayangan : 5.5 jam
  • Puncak Bayangan – Puncak Manik : 1.5 jam
  • Turun : X 1/2 ~ 4-5 jam.

Cost Damage

  • Simaksi : 22rb
  • Logistik : ~100rb
  • Mandi : 2rb

Catatan :

Cuaca di Salak umumnya berkabut, selalu siap dengan jas hujan, sumber air terakhir di Simpang Bajuri, konon ada sumber air di dekat puncak sekitar trek dari Cimelati, tapi saya sendiri belum lihat. Untuk camp di puncak usahakan di daerah yang ditutupi akasia/belukar supaya lebih nyaman. Oya, kalau ada budget lebih mending naik ojek/mobil angkutan dari basecamp ke Pintu Rimba, lumayan menghemat waktu & tenaga :))

Kontak BC Salak Cidahu :

  • Gunung Salak Jalur Kawah Ratu / Javana Spa : 085724995370 (P.Dadang)
  • Jalur Cidahu : 08176689004