Catatan Pendakian Gunung Lembu Purwakarta : Sunset, Sunrise, Nightscape, Danau, kurang view apalagi?

Dibalik ketinggian gunung, ada kerendahan hati – T. Bachtiar

Akhir-akhir ini dunia pendakian di Indonesia diributkan dengan masalah sampah yang ada di gunung-gunung, terutama gunung wisata. Netizen ramai-ramai mengutuk ulah oknum pendaki yang entah sengaja atau tidak meninggalkan sampah di puncak ataupun area camp, langsung dicapnya mereka pendaki alay atau pendaki modal duit. Hal ini sebenarnya bukan masalah baru sih, bahkan di atap bumi Everest, sampah menjadi masalah besar , terakhir masalah sampah pendakian juga bisa ditemui di puncak tertinggi Indonesia. Masa sih pendaki gunung tertinggi dan tingkat kesulitan tinggi itu ga punya tanggung jawab atau kecintaan terhadap alam? Terlepas mungkin ada kesulitan teknis dan non-teknis yang kebanyakan orang tidak ketahui, kalau menurut saya pribadi sih ketinggian gunung tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kesulitan pendakian, coba tengok gunung salak dengan ketinggian 2211 mdpl, atau gunung-gunung Bandung, pasti bikin wakwaw 😁

Oya, akhir-akhir ini saya memilih untuk lebih banyak mengeksplor gunung-gunung sekitar Bandung/Jawa Barat, alasannya sederhana, tidak perlu waktu banyak (untuk perjalanan), juga budgetnya tidak terlalu besar. Gunung Bandung konon memang ada ratusan, tapi untuk menjelajahinya perlu pengetahuan lebih dan disertai pendaki yang lebih berpengalaman. Alhasil, penjelajahan saya di gunung-gunung Bandung juga terbatas. Alhamdulillah, tidak jauh dari Bandung sekitar 60km ke arah barat, terdapat kompleks pergunungan yang sudah ramai dikunjungi. Salah satunya sudah pernah saya kunjungi tahun lalu. Nah, dulu gunung Parang dengan trek via Ferratanya sukses membuat jantung dan lutut saya lemas, ternyata di sekitar gunung Parang ini juga terdapat gunung lainnya dengan pesona masing-masing, gunung Bongkok dan gunung Lembu. Karena jaraknya hanya sekitar 2 jam dari rumah, akhirnya September 2017 lalu berangkat saya dengan rombongan dari Jakarta berjumlah 8 orang. Saya berangkat dengan motor dari Bandung, sementara teman-teman dari Jakarta berangkat menggunakan kereta lokal Walahar Ekspress dari Tanjung Priok ke Stasiun Purwakarta. Tujuan kami : Gunung Lembu, 792 mdpl.

9 September 2017

Teman-teman berangkat dari Tanjung Priok dengan kereta jam 10an. Dengan estimasi perjalanan kereta sekitar 2 jam, saya berangkat dari Bandung jam 9. Melewati Padalarang-Cikalong-Purwakarta saya berangkat menuju Stasiun Purwakarta. Ternyata jalanan cukup lengang saat itu, pukul 11 siang saya sudah sampai di Stasiun Purwakarta, yang ternyata dekat dengan taman air mancur Sri Baduga yang konon merupakan air mancur menari terbesar di dunia. Jelas karena masih siang, saya tidak bisa menikmati keindahannya. Sepertinya matahari berjarak lebih dekat di Purwakarta, di accuweather tercatata suhunya sekitar 37°C, makjang. Rasanya makan eskrim sekali ga cukup menghilangkan gerahnya kota ini. Hingga jam 12 siang, ternyata teman-teman dari Jakarta baru sampai di Cikampek. Mungkin karena kereta dengan tarif 6500 ini prioritasnya lebih kecil, jadi harus rela dilalui kereta-kereta lain. Karena lapar, saya pun makan di warung nasi sekitar Stasiun. Oya, sambil menunggu teman-teman, saya membantu mencarikan angkutan untuk ke basecamp. Di sekitar stasiun terdapat angkot, kebetulan kami dapat tarif 400rb PP stasiun-basecamp, mungkin bisa dapet lebih murah lagi sih, tapi menurut saya ongkos segitu sudah lumayan mengingat jalan ke basecamp lumayan jauh dan sulit.

Sekitar pukul 13.30 saat tubuh saya hampir meleleh karena matahari Purwakarta, akhirnya teman-teman sampai di Stasiun Purwakarta, menurut cerita mereka parah juga keretanya, udah lama, 1 kursi (yang hadap2an biasa diisi 2-3 orang) bisa diisi 4-5 orang, udah kaya oven aja katanya, lol. Sempat mengisi perut dan logistik di minimart dekat stasiun, sekitar pukul 14.30 kami berangkat ke basecamp gunung Lembu lewat daerah Sukatani, belok tepat di plang PT. Gunung Kecapi.

plang gunung kecapi
Plang PT. Gunung Kecapi

Dari plang ini, perjalanan menempuh sekitar 1 jam melewati jalan yang jelek di awal, melintasi rel kereta, baru lewat jalur aspal perkampungan yang cukup mulus nan sempit dan turun naik, asap knalpot angkot semakin pekat ketika melalui tanjakan. Di perjalanan, kita bisa melihat gunung Parang, gunung Bongkok dan bukit-bukit tetangganya.

Pukul 15.30 kami sampai di basecamp gunung Lembu, kondisi sarana prasarana sudah terbilang bagus, terdapat lapang yang dikelola warga yang bisa digunakan untuk tempat parkir motor/mobil menginap. Sambil repacking, kami langsung registrasi dengan membayar simaksi 12500 per orang. Di basecamp tersedia warung-warung, tempat mandi, toilet dan mushola, ada juga kantor kelurahan, barangkali ngurus surat pengantar nikah dulu #eh.

Di basecamp terdapat banner berisi informasi seputar gunung Lembu, misalnya proses terjadinya gunung Lembu yang ternyata dulunya terdapat gunung yang lebih besar yang kemudian meletus, kemudian erosi menyisakan sumbat lava yang jumlahnya tersebar di sekitar gunung Lembu. Diketahui juga penamaan gunung Lembu karena jika dilihat dari sisi timur (dari gunung Parang?) bentuknya seperti seekor lembu yang sedang duduk #masasih. Pukul 16.30 kami mulai treking melalui jalur di samping basecamp, estimasi awal sampai puncak sekitar pukul 6/7 malam, momen sunset sepertinya akan terlewat apa boleh buat. Yang lebih membuat cemas sih karena kami berangkat hari sabtu, takutnya ga kebagian tempat untuk berkemah. Akhirnya tim dibagi dua supaya tim paling depan bisa ‘booking’ tempat dulu.

Treknya? Dari mulai awal trek, langsung disuguhi tanjakan 30-40° melewati kebun bambu, trek ini awet sampai sekitar 20 menit, kami sampai di Pos 1 Lapang Kapal. Di sini terdapat lapangan untuk 50an tenda, juga terdapat warung serta semacam menara pandang dari bambu. Tidak jauh dari lapang Kapal ini juga terdapat semacam jembatan/dermaga dari bambu untuk foto-foto. Kami istirahat beberapa saat di pos ini.

Lepas pos 1, kami menemui kembali kebun bambu lalu, beberapa saat kemudian vegetasi bambu berganti pepohonan rindang. Saat pergantian vegetasi ini kami disambut dengan tanjakan terjal sekira 50°, pendek sih. Btw, sebelum tanjakan tadi ada alternatif trek yang lebih landai di percabangan ke sebelah kanan, lumayan hemat tenaga 😁 Di ujung tanjakan tadi sudah ada bonus dan disambut petilasan Mbah Jonggrang, tidak jauh dari situ sudah sampai di Pos 2 sekitar pukul 17.10. Di pos 2 ini terdapat beberapa warung yang buka, kelapanya sangat menggoda apalagi diminum siang-siang. Dari pos 2 ini trek lalu menurun, di sebrang sana ada sebuah bukit lagi yang sepertinya puncak Lembu, mirip-mirip trek Puntang, untungnya bukitnya tidak menjulang tinggi. Nah, saat trek turun berbentuk seperti sadel ini kita bisa melihat view Jatiluhur dan rumpon-rumpon nelayan, fiuhh, what a view.

Tanjakan terakhir sebelum mencapai puncak Lembu ditempuh sekitar 15 menit, menurut peta sih harusnya ada pos 3 sebelum puncak, di tanjakan juga sempat ada petilasan lagi, tahu-tahu sudah sampai puncak aja. Kami sampai di puncak Lembu 792 mdpl sekitar pukul 17.30. Puncak Lembu ini mungkin bisa menampung 15 tenda lebih + hammock, di sekitarnya rimbun jadi tidak bisa lihat view apa-apa. Kebetulan belum ada tenda lain di puncak, kami memutuskan mendirikan tenda dulu sebelum turun (ya, turun!) ke Batu Lembu tempat utama di gunung Lembu.

DSC04176
Puncak Lembu

Tidak lama setelah mendirikan tenda, kelompok yang lain sampai satu per satu ke puncak. Saya pun langsung berlari membawa perlengkapan lenong untuk turun ke Batu Lembu, masih berharap mendapat sunset, walaupun dari tadi awan mendung. Sekitar 5 menit, saya sampai di daerah terbuka dimana pijakan tanah berganti menjadi batuan padat dengan view 180° ke arah waduk Jatiluhur! Masyaallah. Duh, tapi sayangnya memang belum rejekinya dapet sunset yang cetar di gunung Lembu ini. Oya, terdapat beberapa undakan di Batu Lembu ini, daerah paling luas adalah yang berbatasan langsung dengan jurang, tapi terdapat pagar pengaman berupa kabel sling yang mengelilingi lapangan. DSC03849

Lepas magrib, kabut masih menyelimuti gunung Lembu dan sekitarnya, akhirnya kami putuskan untuk makan malam dulu, berharap nanti malam pemandangannya akan lebih cetar. Setelah mengisi perut, sekitar jam 10 malam kami turun kembali ke batu Lembu, karena penasaran dengan view malam yang katanya lebih indah. Ada sekitar 30 orang di area batu Lembu saat itu. Oya tidak disarankan mendirikan tenda di daerah batu Lembu, selain karena berbatasan langsung dengan jurang, anginnya besar, area tanah juga cukup sedikit, namun demikian di jalan turun ke batu Lembu ada area yang bisa digunakan berkemah. Di batu Lembu ini juga ada warung & toilet kering yang selalu buka. Benar saja, pemandangan di Batu Lembu ke arah waduk Jatiluhur ini memang lebih indah dari pemandangan tadi sore. Lampu-lampu dari rumpon nelayan di waduk Jatiluhur seperti permukiman penduduk di darat. Terbayang, permukiman penduduk jaman sebelum waduk Jatiluhur ini digunakan.

Tidak terasa kami menghabiskan waktu 2 jam di Batu Lembu ini, sepertinya yang tersisa hanya kelompok kami. Terhitung 4 kali saya bolak balik puncak-Batu Lembu -_- Sampai di tenda, kok hawa-hawanya mirip di pantai, gerah-gerah gimana gitu. Apalagi kalau masuk ke tenda hampir seperti oven. Ah, akhirnya saya menggelar matras di luar tenda. Tidak beberapa lama saya pun tertidur. Dilema pun hadir, tidur di tenda gerah, pake sleeping bag gerah, tidur diluar ga pake sleeping bag dikeroyok nyamuk -_- Untungnya waktu subuh tiba, penderitaan pun berakhir.

10 September 2017

Subuh menyingsing di Puncak Lembu, walau tidak terasa dingin, tapi badan saya agak gemetaran. Setelah solat Subuh, membangunkan teman-teman lain, kami bergegas turun untuk menyambut mentari pagi. Jam 5 pagi di batu Lembu ternyata sudah dipenuhi para pendaki. Kebanyakan berangkat tektok pagi buta tadi. Jam 6 lebih, mentari terbit di ufuk timur, bentuknya bulat sempurna, dingin yang sedari tadi bersahabat dengan angin yang sama tadi malam perlahan menghilang. Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami, kepada-Nya lah kita kembali 🙂 Oya, dari batu Lembu ini selain waduk Jatiluhur di selatan, gunung Parang di sebelah tenggara, di arah barat daya kita juga bisa melihat pemandangan serupa pulau Padar dengan perbukitannya. Yah, lihat miniaturnya dulu lah ya.

 

 

DSC04085
sunrise di batu (gunung) Lembu, perlu dilempar ga nih 2 orang?😆 Jam 

Jam setengah 8 kami kembali ke tempat camp untuk sarapan sekalian packing untuk pulang. Setelah sarapan, bukannya langsung packing, ternyata masih ngantuk, jadilah sekitar sejam saya pun tertidur. Baru sekitar jam 10 kami bergegas turun. Jam segini suhunya sudah lumayan terik, jadilah saya pun berjalan agak cepat, sehingga perjalanan turun tidak terasa, mungkin sekitar 30 menit sebagian dari kami sudah sampai di basecamp. Sebagian lagi istirahat di Pos 2 membeli kelapa muda. Bapak angkot juga sudah standby di basecamp. Sebagian mandi di WC umum di sekitar warung dan kantor kelurahan, selepas Zuhur saya pun berpisah dengan rombongan untuk pulang ke tempat masing-masing. Lewat rute yang sama, 2 jam saya sudah sampai di rumah. Dengan demikian, selesai sudah perjalanan untuk melengkapi 2/3 gunung gemes di Purwakarta, lain waktu mungkin saya lengkapi perjalanan ke gunung Bongkok, insya Allah. Rating untuk gunung lembu ini : view 4/5, trek 2/5, akses/sarana-prasarana 4/5.

Summary

Sebagai penutup, berikut rekap waktu tempuh dan biaya yang diperlukan :

Waktu Tempuh :

  • stasiun purwakarta – basecamp : 1.5-2 jam.
  • basecamp-pos 1 : 15 menit
  • pos 1-pos 2 : 30 menit
  • pos 2-puncak : 15 menit
  • puncak – batu lembu : 5 menit
  • total waktu treking naik 60-90 menit, turun ~30-45 menit

Cost Damage :

  • Simaksi : 12500/orang
  • Parkir Motor/malam : 5000

Peta Trek :

trek lembu
Peta Gunung Lembu

 

Iklan

4 tanggapan untuk “Catatan Pendakian Gunung Lembu Purwakarta : Sunset, Sunrise, Nightscape, Danau, kurang view apalagi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s