[Seri Gunung Bandung] Explore Hutan Pangalengan Yang Tersisa : Gunung Gambung Sedaningsih 2221 mdpl

“Ketika pohon terakhir ditebang,
Ketika sungai terakhir dikosongkan,
Ketika ikan terakhir ditangkap,
Barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang.”

~Eric Weiner, The Geography of Bliss: One Grump’s Search for the Happiest Places in the World

Fiuh, genap 5 bulan sudah blog ini belum diupdate, 4 bulan belum naik gunung, dan 2 bulan sudah kami menikah. Yak, kami dua penulis blog ini sudah menikah akhir Desember tahun lalu, alhamdulillah. Bahagia rasanya bisa menunaikan ibadah yang menjadi penggenap agama ini. Mohon doanya supaya kami bisa menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah dan bisa menjadi suri tauladan yak, aamiin.

Setelah lama tidak menulis, rasanya gagap mau nulis apa untuk tulisan pertama di kehidupan baru dan 2018 ini. Beruntung banyak foto-foto mengendap yang bisa jadi referensi saya untuk menulis. Tulisan kali ini adalah cerita perjalanan saya bulan oktober 2017 lalu ke gunung Gambung Sedaningsih di perbatasan Kertasari-Pangalengan. Oya, yang mengikuti blog ini pasti pernah mendengar gunung Gambung saat saya mengulas perjalanan ke gunung Artapela. Letaknya memang bersebelahan dengan gunung Artapela. Cukup sedikit informasi terkait toponim atau sejarah terkait gunung ini, yang jelas, belakangan berdasarkan GPS di hp, ketinggian gunung ini adalah +2221 mdpl, lebih tinggi dibandingkan puncak Sulibra Artapela dengan ketinggian + 2066 mdpl. Untuk menuju gunung Gambung ini bisa melalui Pacet , melewati trek Artapela, atau jalur lebih cepat melalui Pangalengan seperti yang saya gunakan bersama pak Firman 14 Oktober 2017 lalu. FYI, gunung Gambung ini lokasinya berbeda jauh dengan perkebunan teh Gambung yang ada di Ciwidey sana.

Seperti biasa, rencana pendakian dengan pak Firman diadakan secara dadakan :v Kebetulan sore itu juga ada rencana foto di daerah Pangalengan, jadi saya membawa motor sendiri dan pak Firman dengan mobilnya sendiri. Jalur yang kami lalui lewat perkebunan Kertamanah, terus melalui perkebunan teh di kiri kanan jalan yang mulus. Kami sempat sholat dulu di mesjid sekitar sini sebelum melanjutkan perjalanan. Sebelum SD kertamanah, terdapat pertigaan, karena kami berdua belum pernah ke gambung sebelumnya, kami malah mengambil jalan ke kiri karena rekomendasi google, alhasil kami harus menghadapi jalanan yang biadab. Padahal jalan paling bagus dan cepat lurus saja melewati penangkaran rusa, sampai segitiga pertigaan Wayang Windu, ambil kiri. Tapi ya namanya perjalanan, nikmati saja, alhamdulillah ban motor juga ga bocor.

gerbang kertamanah
persimpangan pangalengan-perkebunan kertamanah
pertigaan-pangalengan-gambung
pertigaan SD Kertamanah-Gambung, jangan belok kiri, jalannya ancur :v

Kurang lebih 1 jam kami melalui jalanan berbatu dengan kecepatan seadanya, akhirnya kami menemukan jalan aspal yang lebih manusiawi yang langsung mengarah ke parkiran menuju Artapela/Gambung yang ternyata terdapat salah satu sumur PLTG Wayang Windu. Tidak ada pos pendaftaran di sini, terdapat pos satpam di sana, tapi tidak ada petugas yang berjaga. Kami hanya menitipkan kendaraan ke petani sekitar. Pulangnya kami disambangi oleh warga yang mengaku menjaga parkir, kami hanya membayar sekitar 15ribu total untuk mobil & motor. Kalau weekend ada warga yang menjaga parkir karena memang ramai, kalau hari biasa tidak direkomendasikan karena tidak ada yang menjaga.

Saat kami kesana tidak ada tanda-tanda tempat pendakian Artapela/Gambung, jalan masuk jalur pendakian, arahan dari warga kami ditunjuki jalur yang terlihat dari parkiran, kami harus melewati kolong pipa uap untuk PLTG wayang Windu yang terasa panas. Di awal pendakian adalah jalur penuh pepohonan tinggi yang berbatasan dengan perkebunan di sebelah kanan, jika kita teruskan ke sebelah kanan kita akan temui danau/situ Aul. Btw, Aul sendiri adalah sebutan makhluk mitos yang orang barat namai dengan Wirewolf a.k.a manusia anjing yang konon menghuni daerah sekitar Gambung/Artapela.

Lepas dari jalur perbatasan hutan, sekitar 10 menit kami keluar dari hutan dan langsung menemui trek kebun warga. Jalurnya tanah gembur, umumnya didominasi sayur-sayuran seperti kol, kentang, wortel. Tidak ada mata air yang kami temui. Kemiringan jalur tidak terlalu terjal. Karena berangkat siang hari suasana terasa cukup gerah, beruntung masih ada pepohonan tinggi dan rimbun semak-semak menaungi kami. Di perjalanan kami bertemu dengan petani yang menggunakan motor, set dah, kayaknya bisa sampe Artapela ini pake ojek. Selepas jalur perkebunan yang masih dihiasi pepohonan selanjutnya ditemui jalur perkebunan yang lebih terbuka. Di sana kami sempat berbincang dengan warga yang menjelaskan nama-nama daerah di sekitar gunung Gambung, sebelum akhirnya kami berpamitan.

40 menit berjalan kami sampai di dataran luas semacam sabana. Di kiri kanan jalur tidak ada tumbuhan tinggi selain ilalang. Ah rupanya ini yang dinamakan dengan Datar Anjing. Daerah ini dinamai Datar Anjing karena berbentuk dataran luas dan biasanya banyak ditemui anjing, mind blowing bukan? Mungkin suara lolongan dan salakan anjing yang saya temui waktu mendaki Artapela sumbernya dari daerah Datar Anjing ini.

DSC04757

DSC04775
Datar Anjing dan gunung Gambung di sebelah kanan

Kami sempat berfoto-foto di Datar Anjing sebentar sebelum lanjut ke puncak Gambung. Lain kali kayaknya enak camping di sini, cuma ga tahu deh karena daerahnya terbuka mungkin angin dan suhu agak galak di sini. Oya, dari Datar Anjing ini view terbaik adalah ke arah timur, tempatnya cucok untuk view sunrise. Sampai Datar Anjing ini sih bisa dilalui dengan motor trail, terlihat juga jejak dari motor petani. Saat kami berkunjung ke sini, masih terdapat bekas ilalang yang terbakar, entah disengaja atau tidak. Yang jelas, di beberapa tempat sudah dijadikan perkebunan warga. Oya, dari Datar Anjing ini kita bisa melanjutkan perjalanan ke Puncak Sulibra yang berjarak sekitar 45 menit.

Dari Datar Anjing trek menuju puncak Gambung cukup terlihat jelas, sebenarnya bisa saja mengambil jalan lurus lewat melewati jalan samping gubuk, entah kenapa waktu itu mesti melipir dulu :v Dari Datar Anjing sampai ke daerah puncakan memakan waktu sekitar 30 menit, treknya agak susah karena lewat jalan kebun yang lunak.

DSC04832
jalur naik/turun ke puncak Gambung dari Datar Anjing

Sampai puncakan, langsunglah kami mencari plang puncak yang klo ga salah dulu pernah dibuat kelompok Jelajah Gunung Bandung. tapi setelah berjalan berputar-putar di daerah yang diduga sebagai puncak, ga ketemu-temu juga. Oya puncak Gambung ini masih tertutup rapat oleh semak belukar, tidak bisa digunakan untuk berkemah. Setelah 30 menit berputar-putar, kami putuskan beristirahat di kebun sebelum puncak dengan view ke arah Ciparay. Dari tempat kami beristirahat tampak daerah Datar Anjing, Artapela dan siluet gunung sekitar Bandung seperti Kendang dan Rakutak.

DSC04803
Puncak gunung Gambung

Namun dibalik pemandangan yang indah ini, tidak bisa disangkal ada hal yang miris juga melihat daerah yang mungkin dulunya hutan rapat ini sudah berganti menjadi perkebunan warga. Dari Artapela sampai Datar Anjing mungkin hanya tersisa sedikit daerah yang masih ditumbuhi pepohonan tinggi. Entah sampai kondisi ini akan bertahan, kalau melihat trendnya sangat mungkin daerah perkebunan ini meluas memakan daerah yang masih rimbun. Kalau sudah demikian, jangan salahkan alam jika suatu saat dia akan mengambil alih haknya 😦

Sejuta pertanyaan tadi masih berputar-putar seiring tidak terasa beberapa bungkus roti dan sekotak Hydro-Coc*o  sukses melepas lapar dan dahaga. Sebelum turun gunung, kabut mulai memasuki daerah Datar Anjing. Pak Firman sempat berseloroh, petani-petani tadi ga akan di kebun lebih dari jam 4/5 sore, soalnya klo udah malam ada kemungkinan ‘penghuni’ hutan lainnya turun mencari makan. Ah, amannya berarti kami juga harus segera turun. Melalui jalur yang sama untuk turun, hanya memakan waktu sekitar 40 menit sampai di parkiran. Kami sempat bertemu rombongan yang akan berangkat ke Artapela. Untuk memuaskan rasa penasaran kami juga sempat mencari danau Aul yang saat itu sepertinya sedang surut.

Kami sampai di parkiran sekitar pukul 4 sore, parkiran lebih ramai, sepertinya milik rombongan yang kami temui tadi. Saya pun berpisah dengan pak Firman karena akan meneruskan perjalanan langsung ke Pangalengan. Dengan demikian berakhir pula catatan perjalanan gunung Gambung ini, pendakian yang tidak memerlukan waktu dan tenaga yang banyak, tapi menyisakan beban pikiran cukup berat, sampai kapan alam ini bisa memuaskan kebutuhan manusia yang sepertinya tak berbatas #tsah. Mudah-mudahan saja nanti ada pihak yang peduli dengan kondisi alam Gambung. Menurut saya rating untuk gunung Gambung ini view 3/5, trek 2/5, akses sarana/prasarana 3.5/5.

Summary

Sebagai penutup, berikut rekap waktu tempuh dan biaya yang diperlukan :

waktu tempuh :

  •  Bandung-Pertigaan Kertamanah : 2.5-3jam
  • Pertigaan Kertamanah-parkiran 45menit
  • Parkiran-Datar Anjing : 45 menit
  • Datar Anjing-Puncak Gambung : ~30menit
  • total waktu treking ~1jam, turun 30-35 menit

Cost Damage :

  • logistik ~20rb
  • parkir motor ~5rb, mobil ~10rb

Track log : cek kulkas

trek gambung