Tips-Tips Foto Milkyway

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Qs. Al Imron : 190-191)

Martin Luther King, Jr pernah berkata “Only when it is dark enough can we see the stars“. Bagi manusia modern yang hidup di kota berselimut cahaya lampu seperti saya, berada di alam sambil memandangi langit malam bertabur bintang adalah kenikmatan tersendiri, kalau bukan bisa dibilang pengalaman transendental, bagaimana tidak, membayangkan ukuran manusia dibanding bintang-bintang dan galaksi diluar sana. Bahkan saya pernah mewek waktu pemutaran visual proyeksi bintang di Planetarium Jakarta 😂 Oya, sepertinya sudah pada mafhum bahwa bumi kita berada, mengitari matahari yang mana juga adalah sebagian kecil dari galaksi yang dinamakan Galaksi Bimasakti. Karena bentuk galaksi Bimasakti seperti piringan, maka kita di bumi akan melihat bagian galaksi Bimasakti seperti cincin, di bagian inti galaksi terlihat lebih terang dibanding piringan luarnya. Garis/jalur seperti cincin ini yang kerap dinamakan Milkyway atau Jalur Susu, tapi jarang sih yang bilang Jalur Susu.

Nah, berhubung ada beberapa lomba foto di IG terkait pemandangan foto malam & astrophotography, akhir-akhir ini saya sering foto pemandangan yang ada Milkywaynya. Lalu ada beberapa komentar dari teman saya : “Kak, itu foto milkywaynya editan apa asli sih? kaya tempelan, wkwkwkwk”, “Kak, itu bintang-bintangnya klo dilihat benerannya sebagus itu ga sih?”. Ya sudah, sekalian menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi saya akan coba share tips-tips memoto milkyway menggunakan kamera digital. Saya jauh jika dikatakan ahlinya, tapi semoga dengan berbagi ilmu saya bisa belajar lebih banyak lagi.

Sedikit teori, menurut penelitian retina mata manusia berfungsi seperti sensor pada kamera. Pada retina terdiri dari dari sel-sel yang berfungsi sebagai penangkap cahaya (fotoreseptor). Di SD yang belajar IPA kita tahu ada sel batang dan sel kerucut. Jumlah sel batang dan sel kerucut ini diperkirakan mencapai sekitar 130 juta sel, menurut artikel ini setara dengan sensor berukuran 576 Megapixel, bandingkan dengan sensor kamera saya Sony Nex-6 yang hanya berukuran 16 MP. Maka tidak salah jika ada yang bilang lensa terbaik adalah mata, dan kamera terbaik adalah otak kita. Yang menariknya, dari 130 juta sel, 124 juta adalah sel batang (rod cell) yang lebih aktif pada kondisi pencahayaan kurang, dan 6 juta lainnya adalah sel kerucut (cone cell) yang bisa menangkap semua warna. Dampaknya, pada malam hari saat memandangi Milkyway, mata kita hanya bisa menangkap sebagian warna dan cahayanya, mirip-mirip awan putih di atas background hitam. Sementara pada kamera tidak, sensor warnanya bisa digunakan sepanjang waktu. Jadi wajar, jika apa yang kita lihat langsung tidak secemerlang di foto-foto. Tapi asli lho ya, bukan editan ✌

PS, selain itu konon jumlah sel kerucut pada wanita lebih banyak dibanding pria, makanya tidak heran wanita bisa memiliki penamaan warna lebih banyak 😁 Sementara pada pria, sel batang justru lebih banyak, sehingga lebih sensitif pada kondisi pencahayaan kurang, tidak salah jika pria disuruh membimbing wanita bukan? #eaa

Baik, sudah terlalu panjang bishi-bashinya, berikut persiapan yang biasa saya lakukan :

1. Timing

Milkyway sebenarnya bisa dilihat kapan saja. Tapi ada waktu yang paling bagus untuk pengamatan. Tentukan kapan milkyway akan muncul, dimana posisinya, kapan terbit & tenggelam, apakah ada bulan dan peristiwa astronomi lainnya. Timing berguna juga untuk menentukan kondisi cuaca saat foto yang jelas membutuhkan cuaca cerah. Ada yang bilang waktu terbaik melihat Milkyway adalah bulan April-September karena saat itu musim kemarau. Tapi kondisi iklim pancaroba menyulitkan jika menjadikan bulan sebagai patokan, karena itu biasanya saya memantau kondisi cuaca beberapa hari ke depan dari aplikasi BMKG & Accuweather. Saya pribadi senang pada bulan mei-juni karena pada bulan-bulan tersebut jam terbit & tenggelam Milkyway bagian intinya akan terlihat lebih lama dari bulan lain.

stellarium
tampilan aplikasi stellarium di Android

Posisi milkyway ini biasanya saya lihat dari aplikasi di android seperti Stellarium, Google Sky, dll. Yang biasa saya gunakan adalah Stellarium (beli yak, murah kok cuma Rp. 31rb), salah satu fiturnya adalah kita bisa melihat posisi Milkyway secara realtime menggunakan giroskop di HP kita, ada pengaturan polusi cahayanya, bisa menentukan lokasi secara manual, dll. Cara manualnya dengan memperhatikan posisi rasi Skorpius & sagitarius, posisi Core Milkyway diapit oleh 2 rasi ini, tapi cara ini saya sendiri masih belum mahir di lapangan 😁

How to find the Milky Way
Menentukan posisi Milkyway dari posisi rasi Skorpius & Sagitarius. https://goldpaintphotography.com/2015/07/24/how-to-find-the-milky-way/

Oya, bulan (Moon) tidak selamanya menjadi lawan dalam mengabadikan Milkyway, pada posisi dan intensitas yang tepat akan membantu untuk memberikan ambience pada foreground/landscape.

2. Lokasi

Setelah menentukan waktu yang cocok untuk mengabadikan Milkyway, selanjutnya seperti marketing property : lokasi, lokasi, lokasi!. Selama masih di Indonesia mungkin tidak jauh berbeda posisinya, namun akan menentukan kapan terbit & tenggelamnya Milkyway. Selain itu, pilih lokasi yang minim polusi cahaya, tidak selalu di pegunungan, tapi umumnya adalah tempat-tempat yang jauh dari perkotaan. Hampir sulit sih mencari tempat yang polusi cahayanya minim di Pulau Jawa, kecuali di daerah selatan, coba lihat sebaran cahaya lampu di pulau Jawa berikut :

polusi cahaya jawa
Polusi cahaya di pulau Jawa ( http://www.nightearth.com/?@-7.193072,109.782644,7.605103306700306z&data=$bWVsMg== )

Foto Milkyway di dekat kota? mungkin saja sih, kebetulan sempat hunting di daerah Caringin Tilu, bisa dapet juga walaupun agak sulit melakukan tuning di fotonya dan tentunya bintang-bintangnya tidak terlalu cemerlang.

DSC05766
Milkyway Caringin Tilu

Ya, idealnya mungkin paling bagus keluar Jawa, Indonesia timur mungkin ya #kode. Oya, berikut adalah foto Millkyway yang saya dapatkan waktu perjalanan ke puncak Rinjani tahun 2015 silam, foto ini adalah salah satu foto favorit saya karena memuat banyak elemen menarik : Milkyway, Segara Anak, bagian gunung Rinjani & Moonset.

DSC04356
Milkyway Rinjani

Beberapa tempat di sekitar Bandung yang bisa saya rekomendasikan untuk hunting Milkyway saya posting di artikel terpisah ya.

3. Perlengkapan

Perlengkapan foto yang saya bawa biasanya :

  • kamera Sony Nex-6
  • lensa Samyang 12mm f2.0
  • lensa kit Sony 16-50
  • tripod
  • beberapa batre cadangan
  • tisu kering & blower.
  • remote kamera.
  • properti, lampu LED misalnya.

Untuk kamera pastikan memiliki sensor yang memiliki sensitivitas (ISO) tinggi dan noise yang yang bisa diterima. Untuk lensa gunakan lensa dengan aperture (bukaan) paling besar (Samyang 12mm saya maksimal f2.0, dan lensa kit 16-50 f3.5 pada fl 16mm). Tujuannya supaya kita mendapatkan cahaya bintang sebanyak-banyaknya. Siapkan beberapa batre cadangan karena pada kondisi dingin, biasanya batre bisa cepat habis. Tisu kering bisa digunakan jika terjadi fogging dan membersihkan lensa. Selain itu bagus juga kalau kita membawa silika gel di tas kamera/lensa karena saat malam hari di lingkungan terbuka biasanya lembab. Oya, pilihan kamera bisa apa saja, mirrorless, DSLR, bahkan beberapa smartphone sudah support foto bintang/milkyway. Bedanya tentu di kualitas foto nantinya.

Perlengkapan lain selain peralatan kamera adalah perlengkapan pribadi, baju hangat, sarung tangan, makanan & minuman, apalagi di tempat-tempat tertentu malam hari suhu bisa mencapai satuan derajat 🤒

4. Eksekusi

Langit sudah cerah, lokasi sudah PW, perlengkapan komplit, apalagi? tinggal eksekusi bosque. Sebelumnya, ada beberapa teknik foto Milkyway atau astrofotografi yang saya ketahui : single exposure, composite & panorama/Stitching. Single exposure berarti foto diambil dalam satu kali jepret. Composite adalah gabungan beberapa foto yang masih dalam 1 frame komposisi, biasanya digunakan untuk menggabungkan elemen foreground (foto landscape) & background (bintang/milkyway-nya sendiri). Sedangkan teknik Panorama/Stitching adalah menggabungkan/menjahit beberapa foto single exposure menjadi 1 gambar dengan view lebih luas atau mengurangi noise & menambah kecerahan bintang. Oya, pada single exposure selain mengandalkan tripod, ada juga yang menggunakan star tracker sehingga bisa mendapatkan image milkyway yang lebih dalam, terang dan noise lebih kecil karena bisa menggunakan ISO rendah.

Balik lagi ke kamera kita, siap, setup tripod, pasang lensa (jangan lupa buka tutup lensa), nyalakan lensa dan gunakan primbon berikut :

  • Setingan Kamera
    • Set mode kamera di Manual untuk full control di setingan eksposure nantinya.
    • Matikan fitur body image stabilization di kamera & lensa, karena kita sudah menggunakan tripod, kalau tidak foto akan shake.
    • Matikan fitur noise reduction atau low light compensation di kamera karena akan memperlambat saat menyimpan foto.
    • set output foto berupa RAW. Tujuannya untuk mempermudah di post-processing.
    • White balance set Auto saja, karena sudah menggunakan RAW, WBnya bisa disesuaikan di post-pro.
  • Setingan Lensa
    • Focusing gunakan manual focus (MF), matikan setingan auto focus di body & lensa.
    • Pastikan titik focus berada di infinity, nah ini agak tricky karena memutar penuh ring focus di lensa kadang tidak otomatis mensetup focus lensa di infinity. Maka lakukan focusing manual dengan memilih objek cukup terang dengan jarak cukup jauh, misal lampu BTS, lampu kota atau suruh teman berdiri di jarak cukup jauh 1km misal (kejauhan :p), 10 meter cukup biasanya. Jika di kamera ada zoom untuk focus & focus assist akan lebih memudahkan untuk mendapat fokus yang kita inginkan.
    • Untuk panjang lensa, jika kita ingin mendapatkan komposisi foto milkyway dan landscape sekitar gunakan lensa wide, untuk foto milkywaynya saja bisa menggunakan lensa normal (>50mm). Tidak direkomendasikan menggunakan lensa tele karena aperturenya terlalu kecil & rentan shaking.
  • Sebelum memencet tombol shutter, sama seperti foto biasa, perhatikan segitiga eksposure berikut
    • aperture, pada lensa gunakan bukaan terbesar. Pengaruhnya ke apa? semakin besar bukaan, semakin banyak cahaya yang dikumpulkan, semakin besar kontras & warnanya pula.
    • shutter speed. Karena rotasi & revolusi, posisi bintang terhadap pengamat juga berubah. Shutter speed terlalu lama mengakibatkan gambar bintang akan berubah menjadi trail, namun kalau terlalu sebentar berarti eksposurenya lebih kecil. Untuk menghitung shutter speed sebelum bintang berubah dari seperti titik menjadi garis, biasanya digunakan rule 500, yakni 500/(focal length lensa, ekuivalen di full frame). Misal, lensa Samyang saya focal lengthnya 12mm di APSC, maka di full frame setara dengan 12*1.5~18mm (crop factor APSC 1.5x), maka shutter speed maksimal yang bisa saya gunakan adalah 500/18~27,7 detik. Terkadang hitungan ini terlalu optimis (sudah mulai keliatan trailnya), amannya saya gunakan shutter speed antara 20-25 detik.
    • ISO. Gunakan ISO tinggi, minimal 1600 (di Nex-6). Gunakan iso lebih tinggi lagi 6400/12800 hanya untuk test shoot untuk mengecek komposisi & focus.
  • Sudah pencet tombol shutternya? jangan duluu. Terakhir, untuk mengurangi resiko shaking karena memencet tombol shutter, gunakan shutter release/wireless untuk mengambil foto, alternatif lain menggunakan timer, set di 2s
  • Setelah semua item diatas sudah dicek, tunggu apalagi, langsung jepret bosque.

Fiuh, untuk sementara segitu dulu tips yang bisa saya tuliskan, masih banyak yang belum dicover seperti teknik pengeditan, stacking, dll, tapi sejauh ini semoga bermanfaat dan bisa diupdate lain waktu, seperti biasa saya selalu terbuka dengan saran dan komentarnya teman-teman sekalian. Oya, terakhir lagi, setelah semua persiapan selesai, jangan lupa berdoa dan meminta restu dari pihak-pihak yang berwenang, selamat hunting ✌😁

Iklan

Berburu Kabut di Bukit Penjemuran a.k.a Pamoyanan Subang

Kadang, yang terindah tak diciptakan untuk dimiliki. Cukup dipandangi dari jauh, lalu syukuri bahwa ia ada di sana untuk dikagumi dalam diam.

Fiersa Besari

Biasanya paragraf pertama untuk tulisan di blog yang sudah lama tidak ditengok ini adalah permintaan maaf karena banyak kesibukan dan segudang alasan lainnya 😀 Padahal kadang males aja, hehe. Tapi bener deh, beberapa bulan terakhir saya dan istri lumayan sibuk dengan pekerjaan kami, termasuk saya yang baru pindah kantor, hampir tidak ada waktu untuk menulis bebas, pulang sudah cape pengennya langsung tidur. Weekend, seringnya males pergi kemana-mana, sudah terkenal kalau Bandung macet di akhir pekan. Makanya tidak heran ada peribahasa “Doing nothing di akhir pekan mungkin adalah kemewahan terakhir yang dimiliki para pekerja”…

Di tulisan pertama setelah lebaran ini (mohon maaf lahir batin ya netizen), saya ingin bercerita tentang perjalanan ke salah satu tempat wisata yang populer beberapa bulan belakang. Hari sabtu itu, sedianya saya dan orang tua saya ingin pergi ke pemandian air panas Ciater, Subang, biar badan enakan katanya. Ya sudah, udah lama ga Ciater, pun lama juga ga jalan-jalan bareng keluarga, quality time kata orang. Sebelum berangkat, saya juga memantau kondisi cuaca, kangen juga pengen treking atau sekedar camping, ah ya sudah sekalian bawa hammock, matras, flysheet dan kamera. Kalaupun nanti mendung, tinggal balik ke rumah saja. Kami berangkat dari rumah kurang lebih sekitar jam 6 pagi, sampe Ciater jam 7, sarapan, berendam sampai jam 10.

Selesai berendam, cuaca sepertinya bagus, akhirnya saya pamit orang tua, untuk meneruskan perjalanan ke Bukit Pamoyanan, Tanjungsiang, Subang. Bukit Pamoyanan ini konon terkenal dengan pemandangan kabut pagi harinya. Bukit Pamoyanan ini juga menjadi target saya dan kawan-kawan untuk berburu fogwave, terinspirasi dari foto-foto fogwave pakde Nick Steinberg .  FYI, foto fogwave adalah foto kategori long exposure dimana kabut yang bergerak bisa diabadikan sehingga terlihat seperti aliran air. Berbekal informasi dari internet dan babang Dedot, saya melanjutkan perjalanan ke Bukit Pamoyanan yang berjarak sekitar 30-45 menit dari pemandian air panas Ciater. Dari bunderan Jalan Cagak/Tugu Nanas, ambil jalan ke arah Tanjungsiang/Sumedang.

Ada kurang lebih 3 SPBU sebelum mencapai gerbang masuk, jadi tidak perlu khawatir kehabisan bensin. Sebelum gerbang Desa Kawungluwuk tempat Bukit Pamoyanan berlokasi, akan ditemui beberapa baligo sponsor Bukit Pamoyanan, gerbangnya sendiri terdapat di sebelah kanan dari arah Subang.

pamoyanan-gerbang.png

Gerbang desa Kawungluwuk, seiring popularitas naik, gerbangnya sudah diganti dengan yang lebih besar

Dari gerbang ini jalan akan menyempit dari 2 lajur jadi 1 lajur dengan trek menanjak, mungkin kalau bawa mobil agak sulit kalau berpapasan dengan kendaraan lain. Kurang lebih 5 menit dari gerbang akan ditemui pos tiket Bukit Pamoyanan di sebelah kanan.

gerbang pos tiket pamoyanan

Di pos tiket ini akan dipungut retribusi oleh warga setempat Rp. 10000/orang, nantinya di tempat parkir motor akan dikenakan Rp. 10000 untuk parkir camping & Rp. 5000 untuk parkir non-camping. Saya sampai di parkiran sekitar pukul 13.00, berhubung matahari berada tepat di ubun-ubun saya memilih solat Dzuhur dulu di musholla dekat parkiran, selain itu ada beberapa warung dan WC umum.

 

 

Lepas solat, sambil menunggu matahari agak bersahabat, saya beristirahat di musholla. Karena masih siang, hanya terlihat beberapa pengunjung. Pukul 14.30 saya memutuskan berangkat ke tempat camp. Dari parkiran terdapat tangga cukup terjal, sepertinya baru dibangun, lumayan juga panas-panas gini bikin keringat bercucuran. Tangga beton tadi tidak terlalu panjang, selanjutnya trek tanah & batu saja, sepertinya dulu jalan ini pernah bisa dilewati mobil. Nanti akan ditemui beberapa saung dan warung, sebelum percabangan, lurus (kiri) ke arah warung-warung, kanan langsung ke tempat camp.

 

 

Saya memilih langsung ke tempat camp karena khawatir tidak kebagian tempat. Sampai di tempat camp agak kaget karena sudah banyak tenda yang didirikan. Ternyata, tenda-tenda tadi adalah tenda yang disewakan pengelola dengan tarif 50rb per malam. Camping ground sepertinya hanya diperbolehkan di undakan-undakan yang dibuat pengelola, karena ketika ada pengunjung membuka tenda di puncak Bukit langsung ditegur. Sebelah utara camping ground ini adalah pemandangan ke arah kota Subang dengan view 180° sehingga kita bisa melihat sunrise & sunset. Di sebelah selatan camping ground ada Gunung Canggah yang treknya kelihatannya mirip-mirip gunung Puntang. Di kejauhan sebelah barat bisa samar-samar bisa terlihat gunung Tangkuban Perahu & Burangrang.

 

 

Saya sendiri memilih mencari pasangan pohon untuk mendirikan hammock. Setelah mendirikan hammock dan flysheet saya lanjut explore daerah puncak Pamoyanan. di puncak terdapat sebuah shelter untuk bernaung jika pengunjung tidak membawa tenda. di sekitarnya camping ground bisa menampung ratusan tenda. Soal logistik juga tidak perlu khawatir karena ada beberapa tenda yang buka 24 jam. Musholla dan WC umum juga tersedia di sebelah selatan camping ground. Udah enak banget sih tempatnya, tidak aneh kalau banyak pengunjung dari luar kota termasuk Tangerang & Bekasi yang sampai kesini. Oya, di puncak Pamoyanan ini terdapat beberapa platform untuk dijadikan tempat berfoto, termasuk menara 2 tingkat setinggi kurang lebih 5 meter yang terbuat dari bambu. Saya sendiri mencoba naik, walaupun terlihat ringkih tapi setelah dicoba ternyata lumayan kokoh, jangan lupa gantian dengan pengunjung lain ya.

Sore itu, alhamdulillah cuaca sangat mendukung, senja menyongsong di ufuk barat menemani camping ground yang makin ramai.

Malam di Bukit Pamoyanan

Magrib menjelang di bukit pamoyanan, saya dan sebagian pengunjung solat di musholla. Lepas sholat, waktunya mengisi perut di warung, beberapa ulén (snack dari ketan) dan mie instan + telur sukses mengenyangkan, harganya masih normal sih. Target saya di bukit pamoyanan ini sebenarnya hanya berburu kabut nanti pagi sih, tapi karena malam masih panjang, akhirnya mengambil beberapa foto malam yang ternyata tidak kalah menarik. Walaupun kelihatannya tidak mendung, tapi sepertinya kabut tipis dan polusi cahaya dari permukiman membuat bintang-bintang di langit tidak terlalu jelas, selain itu saat itu juga bulan purnama.

 

 

Beruntung, sebelum purnama muncul kabut dan awan sedikit menghilang, dapet lah milkyway tipis-tipis. Sekitar pukul 9 malam bulan terbit di ufuk timur. Karena purnama, area camping ground bisa terlihat cukup jelas walaupun tidak menggunakan headlamp.

 

 

Setelah puas berfoto, saya kembali ke hammock berniat untuk tidur. Saya kira di Pamoyanan ini bakal gerah karena daerah Subang, ternyata angin yang berhembus cukup kencang membuat saya perlu menggunakan sleeping bag. Karena dingin, akhirnya banyak pengunjung membuat api unggun, nah asap api unggunnya ini somehow mengarah ke tempat camp saya, kan bgz*d 😂 Awalnya cukup dengan buff, tapi lama-lama ga kuat juga, akhirnya saya cari tempat nongkrong lain. Jam 11 malam saya balik lagi ke hammock karena angin tidak terlalu kuat dan asap sudah bersahabat. Mungkin karena sudah berendam dan kecapean, saya tertidur pulas walaupun asap kembali datang …

Bukit Pamoyanan, Subuh

Jam 4 pagi, kumandang tadarus & sholawat bersahutan dari mesjid di sekitar kaki gunung, saya pun terbangun. Beberapa pengunjung berdatangan, sepertinya khusus untuk mengejar momen sunrise. Karena belum adzan, saya coba foto-foto sebentar. Konon momen kabut di Bukit Pamoyanan ini tidak selalu ada, tapi peluangnya lebih besar muncul di musim kemarau. Dari menara pandang sudah dapat terlihat kumpulan kabut menutupi permukiman. Tidak lama adzan subuh berkumandang, saya pun bergegas ke mushola.

Pukul 5.30 pagi saya sudah mencari spot untuk berburu fogwave, di ufuk timur sudah mulai muncul warna jingga, ternyata bisa terlihat gunung Tampomas dan Ciremai. Waktu sore kemarin sepertinya kurang jelas terlihat karena haze.

DSC07496

Pukul 6 pagi matahari muncul di ufuk timur diiringi riuh para pengunjung yang sibuk mengabadikan momen. Saya sendiri hampir tidak bisa bergerak dari spot foto awal karena ramainya pengunjung. Makin siang, kabut semakin tebal, angin yang bertiup lembut ke arah barat mengisyaratkan sepertinya ideal untuk foto fogwave. Saya sendiri belum tahu settingannya, tapi menurut pakde Nick Steinberg ambil ekposure sekitar 200 detik. Kalau eksposure terlalu lambat, kelihatannya jadi flat, terlalu cepat jadi ngefreeze, tidak terlihat tekstur gelombangnya. Karena sudah siang, untuk foto long eksposure harus menggunakan filter untuk mengurangi intensitas cahayanya. Beruntung karena saya menggunakan Sony Nex-6 terdapat aplikasi Smooth Reflection yang bisa digunakan untuk alternatif foto menggunakan filter. Sepertinya saya sukses mengambil fogwave dengan setingan ISO 100, shutter 1/5″ diambil dengan kurang lebih 32 frame yang digabungkan sendiri di kamera, dengan output RAW 🤣 So here comes the fogwave …

DSC07547
Fogwave di Bukit Pamoyanan

Hingga pukul 7,  kabut masih bisa terlihat dari Bukit Pamoyanan, tapi viewnya sudah flat dan angin relatif tidak berhembus seperti sebelumnya. Saya merasa ngantuk, akhirnya tidur lagi di hammock sampai dibangunkan teriknya matahari pukul 9. Enaknya camping ga pake tenda adalah packing ga terlalu ribet. Sebelum pulang sarapan dulu di warung, mie instan lagi (maafkan kakanda, istriku ✌). Saat pulang, kondisi camping ground sudah lumayan sepi.

Dengan view kabut pagi hari yang unik, Bukit Pamoyanan ini termasuk salah satu spot favorit sunrise saya, fasilitas pendukung seperti warung, musholla, wc umum juga menjadi nilai tambah, cocok untuk kemping keluarga. View malam walaupun indah, tapi tidak terlalu istimewa, jadi kalau hanya berburu sunrise cukup berangkat dini hari dari Bandung, tapi tidak disarankan jalan sendiri mengingat lalu lintas ke arah Pamoyanan ini sangat sepi bahkan di siang hari. Next time, insyaallah menarik juga sepertinya treking ke gunung Canggah, moga2 kesampean.

Untuk informasi terkait bukit pamoyanan ini bisa pantau di ig @yuulinkasubang / @explore.pamoyanan / @bumper_pamoyanan, jangan lupa follow ig saya @adinovic yak ✌