[Seri Gunung Bandung] Napak Tilas Jejak Proyek Sangkuriang : Gunung Tangkuban Perahu via Jayagiri Lembang

Dan kau adalah
Bagian dari perjalanan
Terima kasih
Keindahan
Untuk kopi pahit dan aroma pagi
Serta filosofi tentang kelamnya hidup
AuraCoustic – Filosofi Kenangan
Walaupun ilmu pengetahuan tentang waktu seperti relativitas sudah dirumuskan, sampai saat ini, ilmuwan masih belum bisa menemukan mesin waktu, untuk pergi ke masa lalu. Padahal, tak perlu jauh-jauh, raga beserta ingatan kita adalah sebuah mesin waktu yang merekam perjalanan manusia di masa lalu. Kita bisa berjalan ke masa lalu, mengubah hal2 seperti kesalahan masa lalu, supaya tidak terjadi lagi di mas depan.
Tentang masa lalu, hingga akhir SMP saya masih tinggal di Jayagiri, Lembang, di kaki gunung Tangkuban Perahu, yang namanya diabadikan menjadi salah satu judul lagu Bimbo. Dulu, bersama anak2 mesjid sempat mencapai Tangkuban perahu dengan treking via jalur Jayagiri & Pasir Ipis. Bahkan dulu setiap habis kuliah subuh di bulan Ramadan, kami ‘ngabeubeurang’ ke Pamunduran, yg menjadi gerbang masuk Tangkuban Perahu via Jayagiri. Tanpa GPS, internet dan pengetahuan navigasi seperti saat ini, agak ngeri juga sih gimana bisa dulu kami sampai ke puncak Tangkuban perahu.
Nah Sabtu Februari lalu, adalah perjalanan waktu saya ke puncak Tangkuban Perahu via Jayagiri bersama @kpgbandung . Berawal dari scrolling timeline IG, ada ajakan tektok sabtu pagi, kebetulan juga ga ada rencana kemana-mana. Akhirnya, sesuai poster titik kumpul langsung di pos jaga Tangkuban Perahu via Jayagiri. Saya sampai di Jayagiri sekitar setengah 8 pagi, karena waktu kumpul masih 1 jam lagi, saya singgah dulu mengisi perut di warung dekat rumah bibi, sekalian bungkus untuk makan siang, menunya sederhana, nasi kuning dan gorengan hangat.😋
Setengah 9 saya sudah berada di pos jaga, di sana sudah berkumpul sekitar 20 orang kengkawan KPGB yang belum pernah saya temui. Sambil kenal-kenalan, ngobrol bisa juga mengisi perut di warung yang menjual gorengan panas di sekitar pos.

Pos Tiket Jayagiri – Warung Ma Idah

Jam 9 pagi, sesuai jadwal, kami memulai pendakian. Leader perjalanan kali ini adalah kang Gan-gan, sebelum memulai perjalanan, kami di-briefing dulu jalur yang akan kami lalui, lalu doa bersama, selepas itu pergi ke pos tiket untuk membayar tiket masuk. Untuk treking dikenakan biaya RP. 7500, untuk camping Rp. 15.000. Tadi waktu parkir per motor dikenakan Rp. 5.000, kalau camping kalo ga salah Rp. 10.000. Soal logistik bisa mengisi di warung, atau di warung-warung warga di sepanjang jalan Jayagiri. Ketinggian di pos tiket ini sekitar 1372 mdpl, dengan target puncak Tangkuban Perahu di ketinggian 2093 mdpl, cuma naik 700m-an kan ya, ah cetek pikir saya, ternyata …
Jalur pendakian awal mulai dari Pamunduran, ditandai dengan pohon-pohon pinus dan semak-semak rendah. Di masa kecil dulu, di daerah ini kami sering berburu Kumbang Tanduk/Badak dengan suaranya yang khas, bahkan bisa kami temui dekat pos tiket. Konon saat ini harganya cukup tinggi. Namun entah karena perburuan, atau perubahan ekosistem, serangga ini belum pernah saya temui lagi di alam.
Treknya sendiri masih landai. Yang saya ingat dulunya trek ini pernah dipakai mobil offroad juga, tapi sepertinya sekarang sudah dipisah (jalur kendaraan offroad lewat Cikole/Sukawana) sehingga jalannya tidak berlubang. Trek ini kalau basah licin banget, di perjalanan pulang tidak terhitung berapa kali kami terpeleset. Oya, ada di sebelah kanan jalur utama ada jalur lebih kecil yang lebih enak dilalui. Di jalur juga kami sempat beristirahat, Abah Wahyu salah satu senior di KPGB sempat menawari kami kentang rebus. Kocak banget si abah ini, umurnya mungkin lebih dari 70an, tapi masih aktif mendaki dan paling cerewet di grup pendakian.
Di akhir jalur pendakian ini mulai datar, kemudian akan ditemui warung-warung yang ternyata berada di persimpangan jalur offroad dari Cikole-Sukawana-Jayagiri. Ada beberapa petunjuk arah jalur untuk memudahkan pendaki. Di dekat warung ini juga terdapat mushola cukup besar. Di warung ini kami melepas lelah sambil menikmati gorengan panas (lagi), kapan sehatnya ini yha 😂 Sempat saya kira ini warung Ma Idah yang kami tuju, eh ternyata bukan, warung Ma Idah ini lokasinya masih 10 menit lagi dari warung pertama yang kami temui. Di persimpangan ini kami sempat menemui mobil-mobil offroad dari luar kota bahkan truk TNI, buset.
Untuk menghemat waktu, kami lanjutkan perjalanan ke warung Ma Idah mengikuti tanda petunjuk ke Puncak Jayagiri. Jalurnya masih landai, tidak lama di sebelah kiri ada warung dengan sebuah menara antenna radio, ada WC umum juga, nah tapi warung Ma Idah letaknya setelah itu, tepat di depan bangunan penyaringan air. Tidak ada yang khas sebenarnya di warung ini, makanan ringan, logistik sederhana dan gorengan pastinya. Di warung ini kami beristirahat kembali, sebagian jajan, saya sendiri hanya mengobrol dengan yang lain. Dari awal perjalanan langit memang sudah kelabu, sebenarnya perjalanan jadi lebih nyaman karena terik matahari tidak terasa, tapi artinya kami juga harus siap-siap kapan saja hujan turun.

Warung Ma Idah – Puncak Jayagiri

Di warung Ma Idah, kami istirahat sebentar saja, karena perjalanan sesungguhnya (ashiapp) baru saja dimulai. Tujuan selanjutnya puncak Jayagiri, jalurnya lewat belakang bangunan penyaringan air, jalan sebentar, lha sudah sampe lagi.
DSC01985
Puncak Jayagiri
Entah sejak kapan daerah ini dinamai Puncak Jayagiri, oya waktu treking masa kecil dulu juga ga inget ada warung Ma Idah sih, sepertinya lewat jalur berbeda. Puncak Jayagiri ini sebenarnya seperti bumi perkemahan. Terdapat lahan berkemah untuk puluhan tenda, bisa hammockan juga. View yang terbuka ke arah timur di awal jalan masuk, di tempat lainnya tertutup pepohonan pinus. Tapi enak sih kalau hujan atau angin tempat ini bisa dijamin (lebih) hangat.
Sambil menunggu rombongan dari warung, kami duduk sebentar, karena toh baru juga istirahat tadi. Di Puncak Jayagiri ini kita akan menemui daerah yang berpagar, yang nantinya diketahui bagian dari daerah pelatihan kuda (Kandang Kuda). Dari arah Puncak Jayagiri, jika ambil ke arah kanan akan ditemui jalur offroad ke puncak Tangkuban Perahu yang berhubungan dengan jalur Sukawana. Kami mengambil jalur kanan, terdapat petunjuk kecil di pohon. Sepintas, kang Gan-gan memberi instruksi untuk lanjut perjalanan sampai ke Tebing Lumut. Nah apalagi ini Tebing Lumut, saya sendiri baru dengar.

Puncak Jayagiri – Tebing Lumut (30 menit)

Dari Puncak Jayagiri vegetasi masih dominan pohon pinus, akan ditemui lembahan dan .. loh kok ada jalan besar dan truk box yang parkir ?

Di lembahan tadi juga ada pipa saluran air berwarna biru yang spontan saya ingat pernah saya lalui, cuma arahnya dari kanan. Setelah didekati, bangunan yang terlihat dari lembahan tadi adalah Kandang Kuda milik tim SAR berkuda. Di komplek tersebut hanya ditemui seorang pemelihara kuda yang membersihkan seekor kuda, tidak sempat saya tanyakan juga apakah tempat ini bagian dari BASARNAS atau organisasi terpisah. Beberapa kuda dibiarkan memamah di lahan sebelah kandang, kuda-kuda yang berada di kandang juga kondisinya nampaknya terurus dengan baik.

Dari komplek kandang kuda ini perjalanan diteruskan ke jalan setapak yang posisinya tepat berada di sebelah kiri atas jalan mobil. Visualnya mungkin sulit terlihat karena tertutup semak-semak rendah, tapi kemungkinan jika lewat jalan mobil juga ada persimpangan dengan jalan setapak yang kami lalui. Yang menarik, selepas pos kandang kuda ini vegetasinya langsung berubah ke semak-semak rimbun dan pohon kayu keras menjulang, sangat kontras dengan kondisi hutan sebelum kandang kuda. Beberapa kali kami harus melewati semacam terowongan semak. Hal ini kemungkinan karena sebagian wilayah gunung Tangkuban Perahu juga berfungsi sebagai hutan produksi.

DSC01995
Jalur Tangkuban Perahu setelah Kandang Kuda, masih sangat alami

Tujuan kami di jalur ini adalah menemukan tebing lumut, yang namanya pun baru saya dengar. Sebelum sampai di tebing yang dimaksud, saya sempat melihat semacam saluran di sebelah kiri dengan lebar kurang lebih 1 meter, yang saya kira adalah jalur air (alami). Baru setelah lanjut melangkah, kami sampai di tempat yang disebut Tebing Lumut ini. Jadi, tebing lumut ini adalah semacam lorong berukuran lebar sekitar 1 meter, dindingnya sangat datar dengan panjang kurang lebih 100meter (yang terlihat). Dindingnya ditumbuhi lapisan lumut, dasarnya dipenuhi dengan guguran daun kering dan ada sebuah pipa air yang masih aktif berfungsi. Ada teman saya yang mengatakan tebing lumut ini adalah jalur mobilisasi pasukan Jepang untuk melakukan penyerangan ke basis Belanda di Subang. Kebetulan memang di daerah Pasir Ipis dan Gunung Putri kita juga bisa melihat reruntuhan benteng peninggalan, entah Belanda atau Jepang. Tebing lumut yang bisa kita lihat sekarang juga kemungkinan adalah sisa-sisa jalur yang utuh, karena tidak seperti di Tahura, daerah ini tidak dijadikan sebagai cagar budaya/sejarah.

Di tempat ini kami menghabiskan waktu sekitar 15 menit berfoto ala-ala, sambil menunggu rombongan lain. Di tempat ini sempat ada konflik, apakah akan melanjutkan perjalanan atau menunggu kang Gan-gan sebagai leader datang dulu, karena instruksi sebelumnya janjian ketemu di tebing lumut. Cukup lama diam menunggu rombongan belakang, sebagian teman-teman mulai kedinginan, karena sejak berangkat, matahari tidak juga muncul. Akhirnya setelah 20 menitan rombongan lain datang, kang Gan-gan menginstruksikan lanjut hingga puncak, dipandu kang Ame (klo ga salah inget).

DSC02003
Tebing Lumut Tangkuban Perahu

View this post on Instagram

Not everything that counts can be counted, and not everything that can be counted counts – Albert Einstein. . Many of us draw conclusion based on the data and tools available to them. But how can we sure about that? While it is not bad to be data driven, it is worse to be data blind. Data blindness occurs when someone can't see anything the data available to them. And the bummer is, we often take decision based on the data available to you, believing that they provide complete insight. If you blindly rely on the data and tools available to you, you will not be able to see complete picture. Not knowing how to use data effectively is also a type of data blindness. When data is not used intelligently, it can result in taking bad decisions with high confidence. . In the end, eventually we'd rather make decision irrationally. . https://www.optimizesmart.com/data-driven-data-blind-prefer-data-smart/ btw, aneh kan di tengah hutan nemu struktur bangunan kaya gini? bagian dasarnya rata, dindingnya rapi berlapis lumut, entah terjadi alami, atau bagian saluran air yang sengaja dibangun.

A post shared by ady saputra (@adinovic) on

Tebing Lumut – Leuweung Tiis – Tower Penelitian Petir ITB (1.5-2 jam)

Trek setelah tebing lumut masih dikelilingi hutan alami dan di samping kanan mengalir sungai kecil, konturnya masih cukup landai. Sesekali kami melewati aliran sungai kecil yang mengalir sangat jernih. Jadi inget air minum kemasan di kantor katanya menggunakan mata air di Tangkuban Perahu, mungkin ini salah satu sumbernya. Lepas tebing lumut ini jalurnya mulai banyak bercabang, pertanda kita memasuki daerah Leuweung Tiis (Hutan Dingin/Sepi). Beberapa kali kami berhenti untuk memastikan jalur yang kami lalui sesuai tracklog. Di beberapa titik kami berpapasan dengan jalur offroad yang menyisakan genangan-genangan cukup dalam.

Jam 12 siang kami masih berada di Leuweung Tiis. Di satu titik, saya sempat membuka peta di HP, posisi saat itu dekat dengan area putih yang saya kira adalah kawah. Namun lalu terdengar jelas pengumuman dari loud speaker yang ditujukan bagi pengunjung gunung Tangkuban Perahu. Dari informasi teman-teman ternyata posisi kami sangat dekat dengan parkiran bus objek wisata Tangkuban Perahu, sumber suaranya memang dari arah kanan dari arah kami datang. FYI, saat ini objek wisata Tangkuban Perahu ini dikelola oleh swasta (PT GRPP, yang juga mengelola kawasan gunung Papandayan). Di tiket masuk kami masih membayar ke Perhutani, tapi jika memasuki kawasan kawah kami harus membayar lagi tiket masuk. Keberadaan pilar-pilar berwarna biru yang kami temui di Leuweung Tiis seolah mengisyaratkan bahwa daerah yang ditandai pilar ini adalah kawasan yang berada dalam pengelolaan PT. GRPP. Pilar-pilar ini juga menjadi panduan untuk menuju Puncak Tangkuban Perahu.

DSC02042

Tidak lama, di spot dekat tempat parkir bus tadi, hujan turun sangat deras, saya sudah bersiap menggunakan jas hujan plastik. Perjalanan pun kami lanjutkan di bawah guyuran hujan yang tidak berhenti. Biasanya hujan di gunung berlangsung singkat (karena kabut), tapi kali ini tidak, hingga sekitar 2 jam menyusuri trek yang sekarang menanjak, hujan tidak berhenti turun.

Di ujung tanjakan, saya akhirnya bertemu dengan dinding beton yang menandakan kami sudah sampai di bangunan Tower Penelitian Petir milik ITB. Tidak ada aktivitas manusia di sana, gerbang dikunci, namun lampu luar gedung menyala. Saya pun tidak tahu apakah masih ada penelitian yang dilakukan di sana. Yang saya kepikiran langsung adalah, PLN rugi kali ya menyediakan bentangan kabel hanya untuk mengaliri satu bangunan di puncak gunung begini 😅 Dulu sekali saya masih bertemu dengan bapa penjaga gedung yang membuka warung, tapi sekarang sudah tidak ada jejaknya. Mungkin jarang juga yang berkunjung ke sana.

Tower Penelitian Petir ITB – Puncak Tangkuban Perahu/Upas Sunrise Point (30-45 menit)

Kami sampai di Tower Petir sekitar pukul 13.30, dari tower ini ada 2 percabangan, kiri & kanan, ke kanan kita akan turun ke jalur kawah Ratu-Upas, sementara ke kiri menuju puncak Tangkuban Perahu atau dikenal juga dengan Upas Hill. Setelah istirahat dan menunggu rombongan, perjalanan dilanjutkan, dari sini treknya sangat landai dan jalurnya sangat jelas, kita tinggal mengikuti jalur kabel listrik yang menggelantung di pepohonan.

DSC02040
Karena hujan yang deras, di sebagian trek dari Tower-Puncak terdapat genangan air, beberapa berlumpur dalam
Kami sampai di puncak Tangkuban Perahu sekitar pukul 14.30, tidak ada siapa-siapa di sana. Dengan kondisi hujan masih deras mengguyur, kami membuat bivak dari plysheet untuk berteduh, agak sulit juga mengingat kontur tanahnya miring. Satu persatu rombongan sampai di puncak. Di bawah guyuran hujan, kami membongkar logistik kami dan segera melahap bungkusan nasi yang kami bawa. Ah, alhamdulillah nasi kuning dan gorengan dingin ditemani kopi hangat cukup mengobati kerinduan saya mendaki gunung. Badan sudah basah entah karena keringat atau dari air hujan. Sebagian teman pun menggigil, khawatir juga kalau mereka sampai hypotermia, kami saling berbagi minuman hangat. Dari awal pendakian, leader perjalanan sudah mengingatkan perjalanan akan berat dan mungkin tidak akan mendapatkan view. Saya pun sejak hujan tadi sudah menyimpan kamera rapat-rapat, apalagi ternyata jas hujan saya sudah sobek. Toh, kerinduan saya sudah terobat dengan bisa nanjak lagi.
Tapi ya namanya alam, tidak bisa ditebak, setelah makan, langit tetiba membiru, hujan pun reda. Sontak kamera kembali saya keluarkan dan mulai mengabadikan momen yang mungkin bisa berubah sewaktu-waktu. Kabut tersingkap, dari puncak Tangkuban perahu ini kita bisa melihat kompleks kawah Upas (Upas lama, muda, dan paling muda) tepat di bawah, kemudian terpisah sebuah punggungan adalah kawah Ratu, kawah terbesar dan menjadi daya tarik utama wisatawan. Di kejauhan kita bisa melihat pegunungan sekitar Subang seperti gunung Canggah. Kalau kita datang pagi hari bisa melihat matahari terbit karena view puncak ke arah timur.
Fyi, menurut pak T. Bachtiar di buku Bandung Purba, gunung Tangkuban Perahu ini hanya terlihat seperti perahu yang terbalik jika dilihat dari arah selatan saja (dari Bandung). Karena jika dilihat dari Situ Lembang hanya terlihat seperti kerucut, jika dilihat dari Subang/Ciater akan terlihat bukaan kawah ke arah timur laut. Keberadaan dua kawah besar (Upas & Ratu) ini yang menyebabkan morfologi puncak ini melebar dari barat ke timur, seperti perahu terbalik. Jadi besar kemungkinan, legenda Gunung Tangkuban Perahu ini dibuat oleh orang selatan Tangkuban Perahu. Masih di buku yang sama, yang menarik, legenda Sangkuriang yang melingkupi sejarah Tangkuban Perahu ini memiliki urutan cerita yang sesuai dengan proses pembentukan gunung Tangkuban Perahu dan gunung-gunung tetangganya.
Menurut legenda, Dayang Sumbi meminta Sangkuriang membuat perahu dan telaga sebagai syarat untuk memperistri Dayang Sumbi dalam waktu semalam, sebelum matahari terbit. Sangkuriang membuat perahu dari kayu yang tunggulnya (sisa) menjadi gunung Bukittunggul, sisa dahan, ranting dan daunnya membentuk Gunung Burangrang. Karena siasat Dayang Sumbi, Sangkuriang gagal memenuhi janjinya, lalu menendang perahu yang dibuatnya, sehingga membentuk gunung Tangkuban Perahu. Dayang sumbi melarikan diri ke arah timur dan menghilang di tempat yang kini bernama Gunung Putri.
Masih menurut pak T. Bachtiar, sebelum ada gunung Tangkuban Perahu, sekitar 500rb tahun yang lalu ada gunung pra-Sunda yang dinamai gunung Jayagiri. Gunung Jayagiri meletus, dari kalderanya terbentuk gunung Sunda yang diperkirakan ketinggiannya mencapai 4000 mdpl yang meletus sekitar 210 ribu tahun yang lalu. Terakhir, dari kaldera gunung Sunda, lahirlah gunung muda berumur 90rb tahun yang lalu yang dinamakan gunung Tangkuban Perahu yang letusan terakhirnya tercatat pada tahun 1829.
Pukul 16.00 kami memutuskan untuk pulang, alhamdulillah cuaca mendukung, walaupun kondisi jalur lebih basah dan licin. Beberapa kali saya terpeleset. Sekitar pukul 17.30 sore kami sudah sampai di warung Ma Idah. Setelah istirahat sejenak, sebagian dari kami masih beristirahat, sedangkan saya dan beberapa teman termasuk Abah Wahyu memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Kami sampai di pos tiket sekitar pukul 19.00. Setelah bersalaman, kami pulang ke rumah masing-masing. Tidak terasa, saya mengecek
Ah memang lah ya, perjalanan pendakian ke Tangkuban Perahu kali ini bukan sekedar perjalanan pemuas rindu, tapi juga seperti perjalanan waktu. Kenangan-kenangan masa kecil, kondisi hutan, mantan (lha) seperti berputar kembali. Seperti kata teman saya, setiap pendakian akan melahirkan pengalaman yang berbeda, walaupun gunungnya sama.
Untuk teman-teman yang akan melakukan pendakian ke Tangkuban Perahu via Jayagiri, jangan bayangkan treknya cihuy kaya jalur Cikole yang telah beraspal hingga kawah. Jalur Jayagiri ini menurut saya adalah jalur yang tidak bisa dianggap enteng, karena percabangannya cukup banyak, apalagi dilakukan di musim hujan. Perlu waktu sekitar 4 jam (banyak istirahat sih di warung 😂) sampai puncak, dengan trek licin dan jebakan lumpur yg lebih parah dibanding waktu ke Salak. Untuk ke puncak ini sebenarnya bisa naik kendaraan offroad via Sukawana, tapi ya sobat misqueen macam saya cukuplah treking saja. Puncaknya yg selalu sepi cocoklah untuk yg perlu berkontemplasi, asal jangan lupa bangun, karena aroma belerangnya cukup kuat 😉 Untuk ngcamp, sepertinya tidak disarankan, khawatirnya saat malam belerang dan gas CO dari kawah kuat berada di daerah puncak. Moga-moga juga, tidak ada orang bodoh yang memasang properti konyol untuk spot selfie di tempat ini.

Estimasi Perjalanan

  • Pos Tiket Jayagiri – Warung Ma Idah (1.5 Jam)
  • Warung Ma Idah – Puncak Jayagiri (5 menit)
  • Puncak Jayagiri – Tebing Lumut (30 menit)
  • Tebing Lumut – Leuweung Tiis – Tower Penelitian Petir ITB (1.5-2 jam)
  • Tower Penelitian Petir ITB – Puncak Tangkuban Perahu/Upas Sunrise Point (30-45 menit)
  • Total waktu naik kurang lebih 4 jam, turun 1.5-2jam.

Tracklog <= klik di sini ya

Iklan