[Seri Gunung Bandung] Napak Tilas Jejak Proyek Sangkuriang : Gunung Tangkuban Perahu via Jayagiri Lembang

Dan kau adalah
Bagian dari perjalanan
Terima kasih
Keindahan
Untuk kopi pahit dan aroma pagi
Serta filosofi tentang kelamnya hidup
AuraCoustic – Filosofi Kenangan
Walaupun ilmu pengetahuan tentang waktu seperti relativitas sudah dirumuskan, sampai saat ini, ilmuwan masih belum bisa menemukan mesin waktu, untuk pergi ke masa lalu. Padahal, tak perlu jauh-jauh, raga beserta ingatan kita adalah sebuah mesin waktu yang merekam perjalanan manusia di masa lalu. Kita bisa berjalan ke masa lalu, mengubah hal2 seperti kesalahan masa lalu, supaya tidak terjadi lagi di mas depan.
Tentang masa lalu, hingga akhir SMP saya masih tinggal di Jayagiri, Lembang, di kaki gunung Tangkuban Perahu, yang namanya diabadikan menjadi salah satu judul lagu Bimbo. Dulu, bersama anak2 mesjid sempat mencapai Tangkuban perahu dengan treking via jalur Jayagiri & Pasir Ipis. Bahkan dulu setiap habis kuliah subuh di bulan Ramadan, kami ‘ngabeubeurang’ ke Pamunduran, yg menjadi gerbang masuk Tangkuban Perahu via Jayagiri. Tanpa GPS, internet dan pengetahuan navigasi seperti saat ini, agak ngeri juga sih gimana bisa dulu kami sampai ke puncak Tangkuban perahu.
Nah Sabtu Februari lalu, adalah perjalanan waktu saya ke puncak Tangkuban Perahu via Jayagiri bersama @kpgbandung . Berawal dari scrolling timeline IG, ada ajakan tektok sabtu pagi, kebetulan juga ga ada rencana kemana-mana. Akhirnya, sesuai poster titik kumpul langsung di pos jaga Tangkuban Perahu via Jayagiri. Saya sampai di Jayagiri sekitar setengah 8 pagi, karena waktu kumpul masih 1 jam lagi, saya singgah dulu mengisi perut di warung dekat rumah bibi, sekalian bungkus untuk makan siang, menunya sederhana, nasi kuning dan gorengan hangat.😋
Setengah 9 saya sudah berada di pos jaga, di sana sudah berkumpul sekitar 20 orang kengkawan KPGB yang belum pernah saya temui. Sambil kenal-kenalan, ngobrol bisa juga mengisi perut di warung yang menjual gorengan panas di sekitar pos.

Pos Tiket Jayagiri – Warung Ma Idah

Jam 9 pagi, sesuai jadwal, kami memulai pendakian. Leader perjalanan kali ini adalah kang Gan-gan, sebelum memulai perjalanan, kami di-briefing dulu jalur yang akan kami lalui, lalu doa bersama, selepas itu pergi ke pos tiket untuk membayar tiket masuk. Untuk treking dikenakan biaya RP. 7500, untuk camping Rp. 15.000. Tadi waktu parkir per motor dikenakan Rp. 5.000, kalau camping kalo ga salah Rp. 10.000. Soal logistik bisa mengisi di warung, atau di warung-warung warga di sepanjang jalan Jayagiri. Ketinggian di pos tiket ini sekitar 1372 mdpl, dengan target puncak Tangkuban Perahu di ketinggian 2093 mdpl, cuma naik 700m-an kan ya, ah cetek pikir saya, ternyata …
Jalur pendakian awal mulai dari Pamunduran, ditandai dengan pohon-pohon pinus dan semak-semak rendah. Di masa kecil dulu, di daerah ini kami sering berburu Kumbang Tanduk/Badak dengan suaranya yang khas, bahkan bisa kami temui dekat pos tiket. Konon saat ini harganya cukup tinggi. Namun entah karena perburuan, atau perubahan ekosistem, serangga ini belum pernah saya temui lagi di alam.
Treknya sendiri masih landai. Yang saya ingat dulunya trek ini pernah dipakai mobil offroad juga, tapi sepertinya sekarang sudah dipisah (jalur kendaraan offroad lewat Cikole/Sukawana) sehingga jalannya tidak berlubang. Trek ini kalau basah licin banget, di perjalanan pulang tidak terhitung berapa kali kami terpeleset. Oya, ada di sebelah kanan jalur utama ada jalur lebih kecil yang lebih enak dilalui. Di jalur juga kami sempat beristirahat, Abah Wahyu salah satu senior di KPGB sempat menawari kami kentang rebus. Kocak banget si abah ini, umurnya mungkin lebih dari 70an, tapi masih aktif mendaki dan paling cerewet di grup pendakian.
Di akhir jalur pendakian ini mulai datar, kemudian akan ditemui warung-warung yang ternyata berada di persimpangan jalur offroad dari Cikole-Sukawana-Jayagiri. Ada beberapa petunjuk arah jalur untuk memudahkan pendaki. Di dekat warung ini juga terdapat mushola cukup besar. Di warung ini kami melepas lelah sambil menikmati gorengan panas (lagi), kapan sehatnya ini yha 😂 Sempat saya kira ini warung Ma Idah yang kami tuju, eh ternyata bukan, warung Ma Idah ini lokasinya masih 10 menit lagi dari warung pertama yang kami temui. Di persimpangan ini kami sempat menemui mobil-mobil offroad dari luar kota bahkan truk TNI, buset.
Untuk menghemat waktu, kami lanjutkan perjalanan ke warung Ma Idah mengikuti tanda petunjuk ke Puncak Jayagiri. Jalurnya masih landai, tidak lama di sebelah kiri ada warung dengan sebuah menara antenna radio, ada WC umum juga, nah tapi warung Ma Idah letaknya setelah itu, tepat di depan bangunan penyaringan air. Tidak ada yang khas sebenarnya di warung ini, makanan ringan, logistik sederhana dan gorengan pastinya. Di warung ini kami beristirahat kembali, sebagian jajan, saya sendiri hanya mengobrol dengan yang lain. Dari awal perjalanan langit memang sudah kelabu, sebenarnya perjalanan jadi lebih nyaman karena terik matahari tidak terasa, tapi artinya kami juga harus siap-siap kapan saja hujan turun.

Warung Ma Idah – Puncak Jayagiri

Di warung Ma Idah, kami istirahat sebentar saja, karena perjalanan sesungguhnya (ashiapp) baru saja dimulai. Tujuan selanjutnya puncak Jayagiri, jalurnya lewat belakang bangunan penyaringan air, jalan sebentar, lha sudah sampe lagi.
DSC01985
Puncak Jayagiri
Entah sejak kapan daerah ini dinamai Puncak Jayagiri, oya waktu treking masa kecil dulu juga ga inget ada warung Ma Idah sih, sepertinya lewat jalur berbeda. Puncak Jayagiri ini sebenarnya seperti bumi perkemahan. Terdapat lahan berkemah untuk puluhan tenda, bisa hammockan juga. View yang terbuka ke arah timur di awal jalan masuk, di tempat lainnya tertutup pepohonan pinus. Tapi enak sih kalau hujan atau angin tempat ini bisa dijamin (lebih) hangat.
Sambil menunggu rombongan dari warung, kami duduk sebentar, karena toh baru juga istirahat tadi. Di Puncak Jayagiri ini kita akan menemui daerah yang berpagar, yang nantinya diketahui bagian dari daerah pelatihan kuda (Kandang Kuda). Dari arah Puncak Jayagiri, jika ambil ke arah kanan akan ditemui jalur offroad ke puncak Tangkuban Perahu yang berhubungan dengan jalur Sukawana. Kami mengambil jalur kanan, terdapat petunjuk kecil di pohon. Sepintas, kang Gan-gan memberi instruksi untuk lanjut perjalanan sampai ke Tebing Lumut. Nah apalagi ini Tebing Lumut, saya sendiri baru dengar.

Puncak Jayagiri – Tebing Lumut (30 menit)

Dari Puncak Jayagiri vegetasi masih dominan pohon pinus, akan ditemui lembahan dan .. loh kok ada jalan besar dan truk box yang parkir ?

Di lembahan tadi juga ada pipa saluran air berwarna biru yang spontan saya ingat pernah saya lalui, cuma arahnya dari kanan. Setelah didekati, bangunan yang terlihat dari lembahan tadi adalah Kandang Kuda milik tim SAR berkuda. Di komplek tersebut hanya ditemui seorang pemelihara kuda yang membersihkan seekor kuda, tidak sempat saya tanyakan juga apakah tempat ini bagian dari BASARNAS atau organisasi terpisah. Beberapa kuda dibiarkan memamah di lahan sebelah kandang, kuda-kuda yang berada di kandang juga kondisinya nampaknya terurus dengan baik.

Dari komplek kandang kuda ini perjalanan diteruskan ke jalan setapak yang posisinya tepat berada di sebelah kiri atas jalan mobil. Visualnya mungkin sulit terlihat karena tertutup semak-semak rendah, tapi kemungkinan jika lewat jalan mobil juga ada persimpangan dengan jalan setapak yang kami lalui. Yang menarik, selepas pos kandang kuda ini vegetasinya langsung berubah ke semak-semak rimbun dan pohon kayu keras menjulang, sangat kontras dengan kondisi hutan sebelum kandang kuda. Beberapa kali kami harus melewati semacam terowongan semak. Hal ini kemungkinan karena sebagian wilayah gunung Tangkuban Perahu juga berfungsi sebagai hutan produksi.

DSC01995
Jalur Tangkuban Perahu setelah Kandang Kuda, masih sangat alami

Tujuan kami di jalur ini adalah menemukan tebing lumut, yang namanya pun baru saya dengar. Sebelum sampai di tebing yang dimaksud, saya sempat melihat semacam saluran di sebelah kiri dengan lebar kurang lebih 1 meter, yang saya kira adalah jalur air (alami). Baru setelah lanjut melangkah, kami sampai di tempat yang disebut Tebing Lumut ini. Jadi, tebing lumut ini adalah semacam lorong berukuran lebar sekitar 1 meter, dindingnya sangat datar dengan panjang kurang lebih 100meter (yang terlihat). Dindingnya ditumbuhi lapisan lumut, dasarnya dipenuhi dengan guguran daun kering dan ada sebuah pipa air yang masih aktif berfungsi. Ada teman saya yang mengatakan tebing lumut ini adalah jalur mobilisasi pasukan Jepang untuk melakukan penyerangan ke basis Belanda di Subang. Kebetulan memang di daerah Pasir Ipis dan Gunung Putri kita juga bisa melihat reruntuhan benteng peninggalan, entah Belanda atau Jepang. Tebing lumut yang bisa kita lihat sekarang juga kemungkinan adalah sisa-sisa jalur yang utuh, karena tidak seperti di Tahura, daerah ini tidak dijadikan sebagai cagar budaya/sejarah.

Di tempat ini kami menghabiskan waktu sekitar 15 menit berfoto ala-ala, sambil menunggu rombongan lain. Di tempat ini sempat ada konflik, apakah akan melanjutkan perjalanan atau menunggu kang Gan-gan sebagai leader datang dulu, karena instruksi sebelumnya janjian ketemu di tebing lumut. Cukup lama diam menunggu rombongan belakang, sebagian teman-teman mulai kedinginan, karena sejak berangkat, matahari tidak juga muncul. Akhirnya setelah 20 menitan rombongan lain datang, kang Gan-gan menginstruksikan lanjut hingga puncak, dipandu kang Ame (klo ga salah inget).

DSC02003
Tebing Lumut Tangkuban Perahu

View this post on Instagram

Not everything that counts can be counted, and not everything that can be counted counts – Albert Einstein. . Many of us draw conclusion based on the data and tools available to them. But how can we sure about that? While it is not bad to be data driven, it is worse to be data blind. Data blindness occurs when someone can't see anything the data available to them. And the bummer is, we often take decision based on the data available to you, believing that they provide complete insight. If you blindly rely on the data and tools available to you, you will not be able to see complete picture. Not knowing how to use data effectively is also a type of data blindness. When data is not used intelligently, it can result in taking bad decisions with high confidence. . In the end, eventually we'd rather make decision irrationally. . https://www.optimizesmart.com/data-driven-data-blind-prefer-data-smart/ btw, aneh kan di tengah hutan nemu struktur bangunan kaya gini? bagian dasarnya rata, dindingnya rapi berlapis lumut, entah terjadi alami, atau bagian saluran air yang sengaja dibangun.

A post shared by ady saputra (@adinovic) on

Tebing Lumut – Leuweung Tiis – Tower Penelitian Petir ITB (1.5-2 jam)

Trek setelah tebing lumut masih dikelilingi hutan alami dan di samping kanan mengalir sungai kecil, konturnya masih cukup landai. Sesekali kami melewati aliran sungai kecil yang mengalir sangat jernih. Jadi inget air minum kemasan di kantor katanya menggunakan mata air di Tangkuban Perahu, mungkin ini salah satu sumbernya. Lepas tebing lumut ini jalurnya mulai banyak bercabang, pertanda kita memasuki daerah Leuweung Tiis (Hutan Dingin/Sepi). Beberapa kali kami berhenti untuk memastikan jalur yang kami lalui sesuai tracklog. Di beberapa titik kami berpapasan dengan jalur offroad yang menyisakan genangan-genangan cukup dalam.

Jam 12 siang kami masih berada di Leuweung Tiis. Di satu titik, saya sempat membuka peta di HP, posisi saat itu dekat dengan area putih yang saya kira adalah kawah. Namun lalu terdengar jelas pengumuman dari loud speaker yang ditujukan bagi pengunjung gunung Tangkuban Perahu. Dari informasi teman-teman ternyata posisi kami sangat dekat dengan parkiran bus objek wisata Tangkuban Perahu, sumber suaranya memang dari arah kanan dari arah kami datang. FYI, saat ini objek wisata Tangkuban Perahu ini dikelola oleh swasta (PT GRPP, yang juga mengelola kawasan gunung Papandayan). Di tiket masuk kami masih membayar ke Perhutani, tapi jika memasuki kawasan kawah kami harus membayar lagi tiket masuk. Keberadaan pilar-pilar berwarna biru yang kami temui di Leuweung Tiis seolah mengisyaratkan bahwa daerah yang ditandai pilar ini adalah kawasan yang berada dalam pengelolaan PT. GRPP. Pilar-pilar ini juga menjadi panduan untuk menuju Puncak Tangkuban Perahu.

DSC02042

Tidak lama, di spot dekat tempat parkir bus tadi, hujan turun sangat deras, saya sudah bersiap menggunakan jas hujan plastik. Perjalanan pun kami lanjutkan di bawah guyuran hujan yang tidak berhenti. Biasanya hujan di gunung berlangsung singkat (karena kabut), tapi kali ini tidak, hingga sekitar 2 jam menyusuri trek yang sekarang menanjak, hujan tidak berhenti turun.

Di ujung tanjakan, saya akhirnya bertemu dengan dinding beton yang menandakan kami sudah sampai di bangunan Tower Penelitian Petir milik ITB. Tidak ada aktivitas manusia di sana, gerbang dikunci, namun lampu luar gedung menyala. Saya pun tidak tahu apakah masih ada penelitian yang dilakukan di sana. Yang saya kepikiran langsung adalah, PLN rugi kali ya menyediakan bentangan kabel hanya untuk mengaliri satu bangunan di puncak gunung begini 😅 Dulu sekali saya masih bertemu dengan bapa penjaga gedung yang membuka warung, tapi sekarang sudah tidak ada jejaknya. Mungkin jarang juga yang berkunjung ke sana.

Tower Penelitian Petir ITB – Puncak Tangkuban Perahu/Upas Sunrise Point (30-45 menit)

Kami sampai di Tower Petir sekitar pukul 13.30, dari tower ini ada 2 percabangan, kiri & kanan, ke kanan kita akan turun ke jalur kawah Ratu-Upas, sementara ke kiri menuju puncak Tangkuban Perahu atau dikenal juga dengan Upas Hill. Setelah istirahat dan menunggu rombongan, perjalanan dilanjutkan, dari sini treknya sangat landai dan jalurnya sangat jelas, kita tinggal mengikuti jalur kabel listrik yang menggelantung di pepohonan.

DSC02040
Karena hujan yang deras, di sebagian trek dari Tower-Puncak terdapat genangan air, beberapa berlumpur dalam
Kami sampai di puncak Tangkuban Perahu sekitar pukul 14.30, tidak ada siapa-siapa di sana. Dengan kondisi hujan masih deras mengguyur, kami membuat bivak dari plysheet untuk berteduh, agak sulit juga mengingat kontur tanahnya miring. Satu persatu rombongan sampai di puncak. Di bawah guyuran hujan, kami membongkar logistik kami dan segera melahap bungkusan nasi yang kami bawa. Ah, alhamdulillah nasi kuning dan gorengan dingin ditemani kopi hangat cukup mengobati kerinduan saya mendaki gunung. Badan sudah basah entah karena keringat atau dari air hujan. Sebagian teman pun menggigil, khawatir juga kalau mereka sampai hypotermia, kami saling berbagi minuman hangat. Dari awal pendakian, leader perjalanan sudah mengingatkan perjalanan akan berat dan mungkin tidak akan mendapatkan view. Saya pun sejak hujan tadi sudah menyimpan kamera rapat-rapat, apalagi ternyata jas hujan saya sudah sobek. Toh, kerinduan saya sudah terobat dengan bisa nanjak lagi.
Tapi ya namanya alam, tidak bisa ditebak, setelah makan, langit tetiba membiru, hujan pun reda. Sontak kamera kembali saya keluarkan dan mulai mengabadikan momen yang mungkin bisa berubah sewaktu-waktu. Kabut tersingkap, dari puncak Tangkuban perahu ini kita bisa melihat kompleks kawah Upas (Upas lama, muda, dan paling muda) tepat di bawah, kemudian terpisah sebuah punggungan adalah kawah Ratu, kawah terbesar dan menjadi daya tarik utama wisatawan. Di kejauhan kita bisa melihat pegunungan sekitar Subang seperti gunung Canggah. Kalau kita datang pagi hari bisa melihat matahari terbit karena view puncak ke arah timur.
Fyi, menurut pak T. Bachtiar di buku Bandung Purba, gunung Tangkuban Perahu ini hanya terlihat seperti perahu yang terbalik jika dilihat dari arah selatan saja (dari Bandung). Karena jika dilihat dari Situ Lembang hanya terlihat seperti kerucut, jika dilihat dari Subang/Ciater akan terlihat bukaan kawah ke arah timur laut. Keberadaan dua kawah besar (Upas & Ratu) ini yang menyebabkan morfologi puncak ini melebar dari barat ke timur, seperti perahu terbalik. Jadi besar kemungkinan, legenda Gunung Tangkuban Perahu ini dibuat oleh orang selatan Tangkuban Perahu. Masih di buku yang sama, yang menarik, legenda Sangkuriang yang melingkupi sejarah Tangkuban Perahu ini memiliki urutan cerita yang sesuai dengan proses pembentukan gunung Tangkuban Perahu dan gunung-gunung tetangganya.
Menurut legenda, Dayang Sumbi meminta Sangkuriang membuat perahu dan telaga sebagai syarat untuk memperistri Dayang Sumbi dalam waktu semalam, sebelum matahari terbit. Sangkuriang membuat perahu dari kayu yang tunggulnya (sisa) menjadi gunung Bukittunggul, sisa dahan, ranting dan daunnya membentuk Gunung Burangrang. Karena siasat Dayang Sumbi, Sangkuriang gagal memenuhi janjinya, lalu menendang perahu yang dibuatnya, sehingga membentuk gunung Tangkuban Perahu. Dayang sumbi melarikan diri ke arah timur dan menghilang di tempat yang kini bernama Gunung Putri.
Masih menurut pak T. Bachtiar, sebelum ada gunung Tangkuban Perahu, sekitar 500rb tahun yang lalu ada gunung pra-Sunda yang dinamai gunung Jayagiri. Gunung Jayagiri meletus, dari kalderanya terbentuk gunung Sunda yang diperkirakan ketinggiannya mencapai 4000 mdpl yang meletus sekitar 210 ribu tahun yang lalu. Terakhir, dari kaldera gunung Sunda, lahirlah gunung muda berumur 90rb tahun yang lalu yang dinamakan gunung Tangkuban Perahu yang letusan terakhirnya tercatat pada tahun 1829.
Pukul 16.00 kami memutuskan untuk pulang, alhamdulillah cuaca mendukung, walaupun kondisi jalur lebih basah dan licin. Beberapa kali saya terpeleset. Sekitar pukul 17.30 sore kami sudah sampai di warung Ma Idah. Setelah istirahat sejenak, sebagian dari kami masih beristirahat, sedangkan saya dan beberapa teman termasuk Abah Wahyu memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Kami sampai di pos tiket sekitar pukul 19.00. Setelah bersalaman, kami pulang ke rumah masing-masing. Tidak terasa, saya mengecek
Ah memang lah ya, perjalanan pendakian ke Tangkuban Perahu kali ini bukan sekedar perjalanan pemuas rindu, tapi juga seperti perjalanan waktu. Kenangan-kenangan masa kecil, kondisi hutan, mantan (lha) seperti berputar kembali. Seperti kata teman saya, setiap pendakian akan melahirkan pengalaman yang berbeda, walaupun gunungnya sama.
Untuk teman-teman yang akan melakukan pendakian ke Tangkuban Perahu via Jayagiri, jangan bayangkan treknya cihuy kaya jalur Cikole yang telah beraspal hingga kawah. Jalur Jayagiri ini menurut saya adalah jalur yang tidak bisa dianggap enteng, karena percabangannya cukup banyak, apalagi dilakukan di musim hujan. Perlu waktu sekitar 4 jam (banyak istirahat sih di warung 😂) sampai puncak, dengan trek licin dan jebakan lumpur yg lebih parah dibanding waktu ke Salak. Untuk ke puncak ini sebenarnya bisa naik kendaraan offroad via Sukawana, tapi ya sobat misqueen macam saya cukuplah treking saja. Puncaknya yg selalu sepi cocoklah untuk yg perlu berkontemplasi, asal jangan lupa bangun, karena aroma belerangnya cukup kuat 😉 Untuk ngcamp, sepertinya tidak disarankan, khawatirnya saat malam belerang dan gas CO dari kawah kuat berada di daerah puncak. Moga-moga juga, tidak ada orang bodoh yang memasang properti konyol untuk spot selfie di tempat ini.

Estimasi Perjalanan

  • Pos Tiket Jayagiri – Warung Ma Idah (1.5 Jam)
  • Warung Ma Idah – Puncak Jayagiri (5 menit)
  • Puncak Jayagiri – Tebing Lumut (30 menit)
  • Tebing Lumut – Leuweung Tiis – Tower Penelitian Petir ITB (1.5-2 jam)
  • Tower Penelitian Petir ITB – Puncak Tangkuban Perahu/Upas Sunrise Point (30-45 menit)
  • Total waktu naik kurang lebih 4 jam, turun 1.5-2jam.

Tracklog <= klik di sini ya

Iklan

[Seri Gunung Bandung] Explore Hutan Pangalengan Yang Tersisa : Gunung Gambung Sedaningsih 2221 mdpl

“Ketika pohon terakhir ditebang,
Ketika sungai terakhir dikosongkan,
Ketika ikan terakhir ditangkap,
Barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang.”

~Eric Weiner, The Geography of Bliss: One Grump’s Search for the Happiest Places in the World

Fiuh, genap 5 bulan sudah blog ini belum diupdate, 4 bulan belum naik gunung, dan 2 bulan sudah kami menikah. Yak, kami dua penulis blog ini sudah menikah akhir Desember tahun lalu, alhamdulillah. Bahagia rasanya bisa menunaikan ibadah yang menjadi penggenap agama ini. Mohon doanya supaya kami bisa menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah dan bisa menjadi suri tauladan yak, aamiin.

Setelah lama tidak menulis, rasanya gagap mau nulis apa untuk tulisan pertama di kehidupan baru dan 2018 ini. Beruntung banyak foto-foto mengendap yang bisa jadi referensi saya untuk menulis. Tulisan kali ini adalah cerita perjalanan saya bulan oktober 2017 lalu ke gunung Gambung Sedaningsih di perbatasan Kertasari-Pangalengan. Oya, yang mengikuti blog ini pasti pernah mendengar gunung Gambung saat saya mengulas perjalanan ke gunung Artapela. Letaknya memang bersebelahan dengan gunung Artapela. Cukup sedikit informasi terkait toponim atau sejarah terkait gunung ini, yang jelas, belakangan berdasarkan GPS di hp, ketinggian gunung ini adalah +2221 mdpl, lebih tinggi dibandingkan puncak Sulibra Artapela dengan ketinggian + 2066 mdpl. Untuk menuju gunung Gambung ini bisa melalui Pacet , melewati trek Artapela, atau jalur lebih cepat melalui Pangalengan seperti yang saya gunakan bersama pak Firman 14 Oktober 2017 lalu. FYI, gunung Gambung ini lokasinya berbeda jauh dengan perkebunan teh Gambung yang ada di Ciwidey sana.

Seperti biasa, rencana pendakian dengan pak Firman diadakan secara dadakan :v Kebetulan sore itu juga ada rencana foto di daerah Pangalengan, jadi saya membawa motor sendiri dan pak Firman dengan mobilnya sendiri. Jalur yang kami lalui lewat perkebunan Kertamanah, terus melalui perkebunan teh di kiri kanan jalan yang mulus. Kami sempat sholat dulu di mesjid sekitar sini sebelum melanjutkan perjalanan. Sebelum SD kertamanah, terdapat pertigaan, karena kami berdua belum pernah ke gambung sebelumnya, kami malah mengambil jalan ke kiri karena rekomendasi google, alhasil kami harus menghadapi jalanan yang biadab. Padahal jalan paling bagus dan cepat lurus saja melewati penangkaran rusa, sampai segitiga pertigaan Wayang Windu, ambil kiri. Tapi ya namanya perjalanan, nikmati saja, alhamdulillah ban motor juga ga bocor.

gerbang kertamanah
persimpangan pangalengan-perkebunan kertamanah
pertigaan-pangalengan-gambung
pertigaan SD Kertamanah-Gambung, jangan belok kiri, jalannya ancur :v

Kurang lebih 1 jam kami melalui jalanan berbatu dengan kecepatan seadanya, akhirnya kami menemukan jalan aspal yang lebih manusiawi yang langsung mengarah ke parkiran menuju Artapela/Gambung yang ternyata terdapat salah satu sumur PLTG Wayang Windu. Tidak ada pos pendaftaran di sini, terdapat pos satpam di sana, tapi tidak ada petugas yang berjaga. Kami hanya menitipkan kendaraan ke petani sekitar. Pulangnya kami disambangi oleh warga yang mengaku menjaga parkir, kami hanya membayar sekitar 15ribu total untuk mobil & motor. Kalau weekend ada warga yang menjaga parkir karena memang ramai, kalau hari biasa tidak direkomendasikan karena tidak ada yang menjaga.

Saat kami kesana tidak ada tanda-tanda tempat pendakian Artapela/Gambung, jalan masuk jalur pendakian, arahan dari warga kami ditunjuki jalur yang terlihat dari parkiran, kami harus melewati kolong pipa uap untuk PLTG wayang Windu yang terasa panas. Di awal pendakian adalah jalur penuh pepohonan tinggi yang berbatasan dengan perkebunan di sebelah kanan, jika kita teruskan ke sebelah kanan kita akan temui danau/situ Aul. Btw, Aul sendiri adalah sebutan makhluk mitos yang orang barat namai dengan Wirewolf a.k.a manusia anjing yang konon menghuni daerah sekitar Gambung/Artapela.

Lepas dari jalur perbatasan hutan, sekitar 10 menit kami keluar dari hutan dan langsung menemui trek kebun warga. Jalurnya tanah gembur, umumnya didominasi sayur-sayuran seperti kol, kentang, wortel. Tidak ada mata air yang kami temui. Kemiringan jalur tidak terlalu terjal. Karena berangkat siang hari suasana terasa cukup gerah, beruntung masih ada pepohonan tinggi dan rimbun semak-semak menaungi kami. Di perjalanan kami bertemu dengan petani yang menggunakan motor, set dah, kayaknya bisa sampe Artapela ini pake ojek. Selepas jalur perkebunan yang masih dihiasi pepohonan selanjutnya ditemui jalur perkebunan yang lebih terbuka. Di sana kami sempat berbincang dengan warga yang menjelaskan nama-nama daerah di sekitar gunung Gambung, sebelum akhirnya kami berpamitan.

40 menit berjalan kami sampai di dataran luas semacam sabana. Di kiri kanan jalur tidak ada tumbuhan tinggi selain ilalang. Ah rupanya ini yang dinamakan dengan Datar Anjing. Daerah ini dinamai Datar Anjing karena berbentuk dataran luas dan biasanya banyak ditemui anjing, mind blowing bukan? Mungkin suara lolongan dan salakan anjing yang saya temui waktu mendaki Artapela sumbernya dari daerah Datar Anjing ini.

DSC04757

DSC04775
Datar Anjing dan gunung Gambung di sebelah kanan

Kami sempat berfoto-foto di Datar Anjing sebentar sebelum lanjut ke puncak Gambung. Lain kali kayaknya enak camping di sini, cuma ga tahu deh karena daerahnya terbuka mungkin angin dan suhu agak galak di sini. Oya, dari Datar Anjing ini view terbaik adalah ke arah timur, tempatnya cucok untuk view sunrise. Sampai Datar Anjing ini sih bisa dilalui dengan motor trail, terlihat juga jejak dari motor petani. Saat kami berkunjung ke sini, masih terdapat bekas ilalang yang terbakar, entah disengaja atau tidak. Yang jelas, di beberapa tempat sudah dijadikan perkebunan warga. Oya, dari Datar Anjing ini kita bisa melanjutkan perjalanan ke Puncak Sulibra yang berjarak sekitar 45 menit.

Dari Datar Anjing trek menuju puncak Gambung cukup terlihat jelas, sebenarnya bisa saja mengambil jalan lurus lewat melewati jalan samping gubuk, entah kenapa waktu itu mesti melipir dulu :v Dari Datar Anjing sampai ke daerah puncakan memakan waktu sekitar 30 menit, treknya agak susah karena lewat jalan kebun yang lunak.

DSC04832
jalur naik/turun ke puncak Gambung dari Datar Anjing

Sampai puncakan, langsunglah kami mencari plang puncak yang klo ga salah dulu pernah dibuat kelompok Jelajah Gunung Bandung. tapi setelah berjalan berputar-putar di daerah yang diduga sebagai puncak, ga ketemu-temu juga. Oya puncak Gambung ini masih tertutup rapat oleh semak belukar, tidak bisa digunakan untuk berkemah. Setelah 30 menit berputar-putar, kami putuskan beristirahat di kebun sebelum puncak dengan view ke arah Ciparay. Dari tempat kami beristirahat tampak daerah Datar Anjing, Artapela dan siluet gunung sekitar Bandung seperti Kendang dan Rakutak.

DSC04803
Puncak gunung Gambung

Namun dibalik pemandangan yang indah ini, tidak bisa disangkal ada hal yang miris juga melihat daerah yang mungkin dulunya hutan rapat ini sudah berganti menjadi perkebunan warga. Dari Artapela sampai Datar Anjing mungkin hanya tersisa sedikit daerah yang masih ditumbuhi pepohonan tinggi. Entah sampai kondisi ini akan bertahan, kalau melihat trendnya sangat mungkin daerah perkebunan ini meluas memakan daerah yang masih rimbun. Kalau sudah demikian, jangan salahkan alam jika suatu saat dia akan mengambil alih haknya 😦

Sejuta pertanyaan tadi masih berputar-putar seiring tidak terasa beberapa bungkus roti dan sekotak Hydro-Coc*o  sukses melepas lapar dan dahaga. Sebelum turun gunung, kabut mulai memasuki daerah Datar Anjing. Pak Firman sempat berseloroh, petani-petani tadi ga akan di kebun lebih dari jam 4/5 sore, soalnya klo udah malam ada kemungkinan ‘penghuni’ hutan lainnya turun mencari makan. Ah, amannya berarti kami juga harus segera turun. Melalui jalur yang sama untuk turun, hanya memakan waktu sekitar 40 menit sampai di parkiran. Kami sempat bertemu rombongan yang akan berangkat ke Artapela. Untuk memuaskan rasa penasaran kami juga sempat mencari danau Aul yang saat itu sepertinya sedang surut.

Kami sampai di parkiran sekitar pukul 4 sore, parkiran lebih ramai, sepertinya milik rombongan yang kami temui tadi. Saya pun berpisah dengan pak Firman karena akan meneruskan perjalanan langsung ke Pangalengan. Dengan demikian berakhir pula catatan perjalanan gunung Gambung ini, pendakian yang tidak memerlukan waktu dan tenaga yang banyak, tapi menyisakan beban pikiran cukup berat, sampai kapan alam ini bisa memuaskan kebutuhan manusia yang sepertinya tak berbatas #tsah. Mudah-mudahan saja nanti ada pihak yang peduli dengan kondisi alam Gambung. Menurut saya rating untuk gunung Gambung ini view 3/5, trek 2/5, akses sarana/prasarana 3.5/5.

Summary

Sebagai penutup, berikut rekap waktu tempuh dan biaya yang diperlukan :

waktu tempuh :

  •  Bandung-Pertigaan Kertamanah : 2.5-3jam
  • Pertigaan Kertamanah-parkiran 45menit
  • Parkiran-Datar Anjing : 45 menit
  • Datar Anjing-Puncak Gambung : ~30menit
  • total waktu treking ~1jam, turun 30-35 menit

Cost Damage :

  • logistik ~20rb
  • parkir motor ~5rb, mobil ~10rb

Track log : cek kulkas

trek gambung

Catatan Pendakian Gunung Lembu Purwakarta : Sunset, Sunrise, Nightscape, Danau, kurang view apalagi?

Dibalik ketinggian gunung, ada kerendahan hati – T. Bachtiar

Akhir-akhir ini dunia pendakian di Indonesia diributkan dengan masalah sampah yang ada di gunung-gunung, terutama gunung wisata. Netizen ramai-ramai mengutuk ulah oknum pendaki yang entah sengaja atau tidak meninggalkan sampah di puncak ataupun area camp, langsung dicapnya mereka pendaki alay atau pendaki modal duit. Hal ini sebenarnya bukan masalah baru sih, bahkan di atap bumi Everest, sampah menjadi masalah besar , terakhir masalah sampah pendakian juga bisa ditemui di puncak tertinggi Indonesia. Masa sih pendaki gunung tertinggi dan tingkat kesulitan tinggi itu ga punya tanggung jawab atau kecintaan terhadap alam? Terlepas mungkin ada kesulitan teknis dan non-teknis yang kebanyakan orang tidak ketahui, kalau menurut saya pribadi sih ketinggian gunung tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kesulitan pendakian, coba tengok gunung salak dengan ketinggian 2211 mdpl, atau gunung-gunung Bandung, pasti bikin wakwaw 😁

Oya, akhir-akhir ini saya memilih untuk lebih banyak mengeksplor gunung-gunung sekitar Bandung/Jawa Barat, alasannya sederhana, tidak perlu waktu banyak (untuk perjalanan), juga budgetnya tidak terlalu besar. Gunung Bandung konon memang ada ratusan, tapi untuk menjelajahinya perlu pengetahuan lebih dan disertai pendaki yang lebih berpengalaman. Alhasil, penjelajahan saya di gunung-gunung Bandung juga terbatas. Alhamdulillah, tidak jauh dari Bandung sekitar 60km ke arah barat, terdapat kompleks pergunungan yang sudah ramai dikunjungi. Salah satunya sudah pernah saya kunjungi tahun lalu. Nah, dulu gunung Parang dengan trek via Ferratanya sukses membuat jantung dan lutut saya lemas, ternyata di sekitar gunung Parang ini juga terdapat gunung lainnya dengan pesona masing-masing, gunung Bongkok dan gunung Lembu. Karena jaraknya hanya sekitar 2 jam dari rumah, akhirnya September 2017 lalu berangkat saya dengan rombongan dari Jakarta berjumlah 8 orang. Saya berangkat dengan motor dari Bandung, sementara teman-teman dari Jakarta berangkat menggunakan kereta lokal Walahar Ekspress dari Tanjung Priok ke Stasiun Purwakarta. Tujuan kami : Gunung Lembu, 792 mdpl.

9 September 2017

Teman-teman berangkat dari Tanjung Priok dengan kereta jam 10an. Dengan estimasi perjalanan kereta sekitar 2 jam, saya berangkat dari Bandung jam 9. Melewati Padalarang-Cikalong-Purwakarta saya berangkat menuju Stasiun Purwakarta. Ternyata jalanan cukup lengang saat itu, pukul 11 siang saya sudah sampai di Stasiun Purwakarta, yang ternyata dekat dengan taman air mancur Sri Baduga yang konon merupakan air mancur menari terbesar di dunia. Jelas karena masih siang, saya tidak bisa menikmati keindahannya. Sepertinya matahari berjarak lebih dekat di Purwakarta, di accuweather tercatata suhunya sekitar 37°C, makjang. Rasanya makan eskrim sekali ga cukup menghilangkan gerahnya kota ini. Hingga jam 12 siang, ternyata teman-teman dari Jakarta baru sampai di Cikampek. Mungkin karena kereta dengan tarif 6500 ini prioritasnya lebih kecil, jadi harus rela dilalui kereta-kereta lain. Karena lapar, saya pun makan di warung nasi sekitar Stasiun. Oya, sambil menunggu teman-teman, saya membantu mencarikan angkutan untuk ke basecamp. Di sekitar stasiun terdapat angkot, kebetulan kami dapat tarif 400rb PP stasiun-basecamp, mungkin bisa dapet lebih murah lagi sih, tapi menurut saya ongkos segitu sudah lumayan mengingat jalan ke basecamp lumayan jauh dan sulit.

Sekitar pukul 13.30 saat tubuh saya hampir meleleh karena matahari Purwakarta, akhirnya teman-teman sampai di Stasiun Purwakarta, menurut cerita mereka parah juga keretanya, udah lama, 1 kursi (yang hadap2an biasa diisi 2-3 orang) bisa diisi 4-5 orang, udah kaya oven aja katanya, lol. Sempat mengisi perut dan logistik di minimart dekat stasiun, sekitar pukul 14.30 kami berangkat ke basecamp gunung Lembu lewat daerah Sukatani, belok tepat di plang PT. Gunung Kecapi.

plang gunung kecapi
Plang PT. Gunung Kecapi

Dari plang ini, perjalanan menempuh sekitar 1 jam melewati jalan yang jelek di awal, melintasi rel kereta, baru lewat jalur aspal perkampungan yang cukup mulus nan sempit dan turun naik, asap knalpot angkot semakin pekat ketika melalui tanjakan. Di perjalanan, kita bisa melihat gunung Parang, gunung Bongkok dan bukit-bukit tetangganya.

Pukul 15.30 kami sampai di basecamp gunung Lembu, kondisi sarana prasarana sudah terbilang bagus, terdapat lapang yang dikelola warga yang bisa digunakan untuk tempat parkir motor/mobil menginap. Sambil repacking, kami langsung registrasi dengan membayar simaksi 12500 per orang. Di basecamp tersedia warung-warung, tempat mandi, toilet dan mushola, ada juga kantor kelurahan, barangkali ngurus surat pengantar nikah dulu #eh.

Di basecamp terdapat banner berisi informasi seputar gunung Lembu, misalnya proses terjadinya gunung Lembu yang ternyata dulunya terdapat gunung yang lebih besar yang kemudian meletus, kemudian erosi menyisakan sumbat lava yang jumlahnya tersebar di sekitar gunung Lembu. Diketahui juga penamaan gunung Lembu karena jika dilihat dari sisi timur (dari gunung Parang?) bentuknya seperti seekor lembu yang sedang duduk #masasih. Pukul 16.30 kami mulai treking melalui jalur di samping basecamp, estimasi awal sampai puncak sekitar pukul 6/7 malam, momen sunset sepertinya akan terlewat apa boleh buat. Yang lebih membuat cemas sih karena kami berangkat hari sabtu, takutnya ga kebagian tempat untuk berkemah. Akhirnya tim dibagi dua supaya tim paling depan bisa ‘booking’ tempat dulu.

Treknya? Dari mulai awal trek, langsung disuguhi tanjakan 30-40° melewati kebun bambu, trek ini awet sampai sekitar 20 menit, kami sampai di Pos 1 Lapang Kapal. Di sini terdapat lapangan untuk 50an tenda, juga terdapat warung serta semacam menara pandang dari bambu. Tidak jauh dari lapang Kapal ini juga terdapat semacam jembatan/dermaga dari bambu untuk foto-foto. Kami istirahat beberapa saat di pos ini.

Lepas pos 1, kami menemui kembali kebun bambu lalu, beberapa saat kemudian vegetasi bambu berganti pepohonan rindang. Saat pergantian vegetasi ini kami disambut dengan tanjakan terjal sekira 50°, pendek sih. Btw, sebelum tanjakan tadi ada alternatif trek yang lebih landai di percabangan ke sebelah kanan, lumayan hemat tenaga 😁 Di ujung tanjakan tadi sudah ada bonus dan disambut petilasan Mbah Jonggrang, tidak jauh dari situ sudah sampai di Pos 2 sekitar pukul 17.10. Di pos 2 ini terdapat beberapa warung yang buka, kelapanya sangat menggoda apalagi diminum siang-siang. Dari pos 2 ini trek lalu menurun, di sebrang sana ada sebuah bukit lagi yang sepertinya puncak Lembu, mirip-mirip trek Puntang, untungnya bukitnya tidak menjulang tinggi. Nah, saat trek turun berbentuk seperti sadel ini kita bisa melihat view Jatiluhur dan rumpon-rumpon nelayan, fiuhh, what a view.

Tanjakan terakhir sebelum mencapai puncak Lembu ditempuh sekitar 15 menit, menurut peta sih harusnya ada pos 3 sebelum puncak, di tanjakan juga sempat ada petilasan lagi, tahu-tahu sudah sampai puncak aja. Kami sampai di puncak Lembu 792 mdpl sekitar pukul 17.30. Puncak Lembu ini mungkin bisa menampung 15 tenda lebih + hammock, di sekitarnya rimbun jadi tidak bisa lihat view apa-apa. Kebetulan belum ada tenda lain di puncak, kami memutuskan mendirikan tenda dulu sebelum turun (ya, turun!) ke Batu Lembu tempat utama di gunung Lembu.

DSC04176
Puncak Lembu

Tidak lama setelah mendirikan tenda, kelompok yang lain sampai satu per satu ke puncak. Saya pun langsung berlari membawa perlengkapan lenong untuk turun ke Batu Lembu, masih berharap mendapat sunset, walaupun dari tadi awan mendung. Sekitar 5 menit, saya sampai di daerah terbuka dimana pijakan tanah berganti menjadi batuan padat dengan view 180° ke arah waduk Jatiluhur! Masyaallah. Duh, tapi sayangnya memang belum rejekinya dapet sunset yang cetar di gunung Lembu ini. Oya, terdapat beberapa undakan di Batu Lembu ini, daerah paling luas adalah yang berbatasan langsung dengan jurang, tapi terdapat pagar pengaman berupa kabel sling yang mengelilingi lapangan. DSC03849

Lepas magrib, kabut masih menyelimuti gunung Lembu dan sekitarnya, akhirnya kami putuskan untuk makan malam dulu, berharap nanti malam pemandangannya akan lebih cetar. Setelah mengisi perut, sekitar jam 10 malam kami turun kembali ke batu Lembu, karena penasaran dengan view malam yang katanya lebih indah. Ada sekitar 30 orang di area batu Lembu saat itu. Oya tidak disarankan mendirikan tenda di daerah batu Lembu, selain karena berbatasan langsung dengan jurang, anginnya besar, area tanah juga cukup sedikit, namun demikian di jalan turun ke batu Lembu ada area yang bisa digunakan berkemah. Di batu Lembu ini juga ada warung & toilet kering yang selalu buka. Benar saja, pemandangan di Batu Lembu ke arah waduk Jatiluhur ini memang lebih indah dari pemandangan tadi sore. Lampu-lampu dari rumpon nelayan di waduk Jatiluhur seperti permukiman penduduk di darat. Terbayang, permukiman penduduk jaman sebelum waduk Jatiluhur ini digunakan.

Tidak terasa kami menghabiskan waktu 2 jam di Batu Lembu ini, sepertinya yang tersisa hanya kelompok kami. Terhitung 4 kali saya bolak balik puncak-Batu Lembu -_- Sampai di tenda, kok hawa-hawanya mirip di pantai, gerah-gerah gimana gitu. Apalagi kalau masuk ke tenda hampir seperti oven. Ah, akhirnya saya menggelar matras di luar tenda. Tidak beberapa lama saya pun tertidur. Dilema pun hadir, tidur di tenda gerah, pake sleeping bag gerah, tidur diluar ga pake sleeping bag dikeroyok nyamuk -_- Untungnya waktu subuh tiba, penderitaan pun berakhir.

10 September 2017

Subuh menyingsing di Puncak Lembu, walau tidak terasa dingin, tapi badan saya agak gemetaran. Setelah solat Subuh, membangunkan teman-teman lain, kami bergegas turun untuk menyambut mentari pagi. Jam 5 pagi di batu Lembu ternyata sudah dipenuhi para pendaki. Kebanyakan berangkat tektok pagi buta tadi. Jam 6 lebih, mentari terbit di ufuk timur, bentuknya bulat sempurna, dingin yang sedari tadi bersahabat dengan angin yang sama tadi malam perlahan menghilang. Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami, kepada-Nya lah kita kembali 🙂 Oya, dari batu Lembu ini selain waduk Jatiluhur di selatan, gunung Parang di sebelah tenggara, di arah barat daya kita juga bisa melihat pemandangan serupa pulau Padar dengan perbukitannya. Yah, lihat miniaturnya dulu lah ya.

 

 

DSC04085
sunrise di batu (gunung) Lembu, perlu dilempar ga nih 2 orang?😆 Jam 

Jam setengah 8 kami kembali ke tempat camp untuk sarapan sekalian packing untuk pulang. Setelah sarapan, bukannya langsung packing, ternyata masih ngantuk, jadilah sekitar sejam saya pun tertidur. Baru sekitar jam 10 kami bergegas turun. Jam segini suhunya sudah lumayan terik, jadilah saya pun berjalan agak cepat, sehingga perjalanan turun tidak terasa, mungkin sekitar 30 menit sebagian dari kami sudah sampai di basecamp. Sebagian lagi istirahat di Pos 2 membeli kelapa muda. Bapak angkot juga sudah standby di basecamp. Sebagian mandi di WC umum di sekitar warung dan kantor kelurahan, selepas Zuhur saya pun berpisah dengan rombongan untuk pulang ke tempat masing-masing. Lewat rute yang sama, 2 jam saya sudah sampai di rumah. Dengan demikian, selesai sudah perjalanan untuk melengkapi 2/3 gunung gemes di Purwakarta, lain waktu mungkin saya lengkapi perjalanan ke gunung Bongkok, insya Allah. Rating untuk gunung lembu ini : view 4/5, trek 2/5, akses/sarana-prasarana 4/5.

Summary

Sebagai penutup, berikut rekap waktu tempuh dan biaya yang diperlukan :

Waktu Tempuh :

  • stasiun purwakarta – basecamp : 1.5-2 jam.
  • basecamp-pos 1 : 15 menit
  • pos 1-pos 2 : 30 menit
  • pos 2-puncak : 15 menit
  • puncak – batu lembu : 5 menit
  • total waktu treking naik 60-90 menit, turun ~30-45 menit

Cost Damage :

  • Simaksi : 12500/orang
  • Parkir Motor/malam : 5000

Peta Trek :

trek lembu
Peta Gunung Lembu

 

Catatan Perjalanan Gunung Salak, Puncak Manik Salak 1, via Cidahu

With great power, comes with greater responsibility – Ben Parker

Salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan orang ke saya soal mendaki gunung adalah “Kak, pernah liat yang aneh-aneh ga sih di gunung?”. Tentunya pertanyaan tersebut mengarah bukan soal ketemu orang-orang dengan kelakuan yang aneh, karena hampir di setiap grup, ada aja minimal 1 orang yang begitu, klo ga ada, ya saya sendiri yang aneh :)) Maksudnya mungkin pengalaman berinteraksi dengan “you know what”. Well, alhamdulillah sih selama sudah menjalani belasan pendakian, belum menemui hal-hal tersebut, walaupun pernah salah satu anggota tim mengalaminya. Mungkin ‘mereka’ tahu sih saya penakut, jadi ga ditakut-takutin juga udah takut sendiri -_-. Bicara soal hal mistis, gunung apa yang katanya paling mistis? Menurut saya sih Merapi, karena dulu ada filmnya 😀 Tapi berdasarkan survei salah satu akun pendaki gunung, salah satu gunung paling mistis adalah Gunung Salak di Sukabumi. Mungkin bukan tanpa alasan, beberapa kejadian tragis terjadi di gunung dengan salah satu puncaknya bernama Puncak Manik dengan ketinggian 2211 mdpl. Sebutlah, kejadian terakhir Sukhoi Superjet 100 yang menabrak tebing di sekitar komplek Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Beberapa acara tv bahkan sempat mengangkat kejadian mistis di gunung Salak. Makanya tidak aneh, dari 5 orang yang saya ajak , 3 diantaranya menolak :))

Tanggal 4-6 Agustus 2017, akhirnya saya rencanakan untuk melakukan pendakian ke gunung Salak, via Cidahu. Motivasi saya bukan untuk membuktikan kemistisannya, tapi sama saja dengan gunung-gunung lain, untuk merasakan kondisi trek serta kondisi flora dan faunanya. Di tanggal yang sudah direncanakan, bersama pak Firman, teh Ayunda, mang Darus dan Mukti, kami berangkat dengan titik awal di rumah pak Firman sekitar pukul 8 malam. Oya, kami menggunakan kendaraan pribadi. Terlebih dahulu kami jemput teh Ayunda dan mang Darus di Cileunyi, sekalian lewat tol keluar Padalarang, karena kami memilih lewat jalur Cianjur-Sukabumi. Jalur ini terhitung lebih dekat ketimbang harus lewat Jagorawi. Perjalanan terasa begitu cepat (yaiyalah karena hampir setelah di mobil saya tertidur pulas) sampai Sukabumi, sekitar 1 jam sebelum sampai di basecamp Cidahu tepatnya campground Cidahu. Di kota Sukabumi kami membeli logistik di gerai minimart yang kebetulan buka 24 jam. Lanjut ke jalan Cidahu, ternyata sedang dilakukan pengecoran jalan, akhirnya harus melipir melalui jalan alternatif lewat perkampungan yang kondisinya jauh lebih buruk, mana sepi banget. Akhirnya kembali ke jalan utama Cidahu, jalannya mulus cuma idealnya dilalui 1 lajur, kalau papasan truk apalagi, bakal susah dilalui. Alhamdulillah kami sampai di basecamp Cidahu sekitar pukul 2 pagi. Rencananya kami mulai treking jam 5 pagi, mengingat kata pa Firman perjalanan bisa mencapai 12 jam.

DSC02994
Peta jalur di pos basecamp Cidahu

Btw, nama gunung Salak diambil dari kata Sansekerta Salaka yang berarti Perak. Berbeda dengan yang dianggap banyak orang yang katanya diambil dari buah Salak. Pertama kali datang, kami langsung melakukan registrasi di pos, semua nama tim harus dituliskan berikut nomor kontak dan backupnya, titip KTP, sama bayar 22.000/orang untuk 2 hari 1 malam. Oya, jalur resmi untuk menuju puncak Salak 1 ini terdapat 2, via Cidahu Cimuncang dan via Pasir Reungit. Adapun via Cimelati jalurnya (saat artikel ini ditulis) masih ilegal walaupun konon jarak tempuhnya lebih singkat. Menunggu waktu subuh, sebagian tim ada yang melanjutkan tidur, sebagian lagi termasuk saya ga bisa tidur, beli teh manis panas dan indomie rebus di warung sekitar basecamp, sekalian ngobrol dengan pengunjung termasuk sekelompok mahasiswa dari Tangerang yang sedang melakukan survey untuk kegiatan kampus. Suasana menghangat dengan diskusi dan api unggun.

DSC02630

Pagi Menjelang di Cidahu

Lepas subuh kami melakukan recheck peralatan, oya sekedar tips, jarak dari basecamp ke pintu rimba tempat awal pendakian Salak 1 ada kayaknya 2 km melalui jalanan aspal tapi itu pun tanjakannya lumayan. Kami memilih memarkirkan kendaraan di Javana Spa/Hotel sekitar 500m dari pintu Rimba, di jalan menuju Javana Spa juga ternyata ada jalur menuju Salak 1 tanpa melalui pintu Rimba, dan katanya lebih ‘bersahabat’. Kami membayar parkir 100rb/malam diiming-imingi janji petugasnya katanya nanti klo sudah turun bisa ikut mandi di Javana, saya pikir wah lumayan. Keputusan untuk parkir di Javana ini tidak disesali karena dengan tanjakan seperti tadi, bisa menghemat waktu sekitar 1 jam juga tenaga, fiuhh. Oya, di dekat pintu rimba ada sebuah warung dan toilet, tapi karena datangnya kepagian jadi belum buka. Selain berjalan kaki dari basecamp, sampai pintu rimba juga ada jasa semacam angkot/pickup katanya bayar 20rb/orang.

Efektifnya kami mulai treking pukul 6.30 dari pintu rimba ini melalui jalur alternatif yang nantinya juga bertemu di percabangan jalur utama. Lewat jalur alternatif ini kami melalui jalanan aspal, di sekitarnya terdapat area rekreasi milik Javana Spa, tapi tidak nampak satu orang pun disana, mungkin daerah wisata utamanya di area lain.

DSC02664
percabangan jalur utama & javana spa

Oya, jalur treking Salak 1 ini terhitung yang paling rapi karena terdapat patok penunjuk jarak di setiap 100m. Penamaan patok dimulai dari HM0 (hektometer 0), setiap 10HM berganti jadi KM, sampai puncak Salak 1 di KM5 (HM50), belakangan diketahui ukuran jarak ini berdusta! :)) Jalur dari pintu rimba sampai Simpang Bajuri berjarak sekitar 25HM, treknya mirip jalur Gede Pangrango via Cibodas, terdapat trek yang jelas berupa jalur batu kali. Treknya masih standar, tanjakannya masih manusiawi. Kami sampai di Simpang Bajuri setelah berjalan sekitar 1 jam. Karena berjalan di pagi hari, suhunya masih sangat sejuk, sesekali matahari mengintip dari balik dedaunan.

Simpang Bajuri adalah jalur persimpangan bagi pendaki yang ingin ke puncak dan ke Kawah Ratu, selain itu juga jalur pertemuan pendaki yang memulai dari basecamp Pasir Reungit. Lahannya cukup untuk sekitar 10 tenda lebih, juga terdapat sebuah sungai kecil dengan air sangat jernih, rasanya mirip Aq*ua, toh Aq*ua juga salah satu sumber airnya dari gunung Salak ini 😀 Btw, plis klo buang sisa makanan jangan langsung ke sungai ya, jijik dan sayang juga kejernihan sungai ini dikotori sama sisa-sisa makanan. Di simpang Bajuri ini kami istirahat sekitar 15 menit. Dari simpang Bajuri ke Kawah Ratu berjarak sekitar Di plang yang terdapat di Simpang Bajuri dapat diketahui jarak ke puncak Manik adalah 5km. Dengan ketinggian 2211 mdpl, mulai timbul rasa ‘meremehkan’ gunung ini, paling 3 jam kan ya. ‘Perasaan’ yang saya sesali kemudian :)) Setelah berjalan 5 menit, baru nyadar plang jarak menuju Puncak direset lagi jadi 0KM. Jadi perjalanan kami 2.5KM sebelumnya tidak berarti??!! (efek zoom in zoom out ala sinetron).

Tidak jauh dari simpang Bajuri (sekitar HM5-7), kami diingatkan pa Firman soal keberadaan rawa-rawa di trek Salak yang siap menelan hidup-hidup sepatu para pendaki. Kurang lebih ada 3 rawa yang harus kita lalui untuk menuju puncak Manik. Saat melalui rawa-rawa ini terdapat batang pohon untuk membantu melewati trek, klo ga ada batang pohon terpaksa nyemplung, kadang harus merangkak melewati pohon, oya hati-hati juga karena di sekitar rawa terdapat sarang tawon/lebah, beberapa kali pa Firman tersengat tawon di sini. Beruntung saat kami datang, hari sebelumnya tidak turun hujan, jadi kondisinya tidak separah yang diceritakan banyak orang.

Selepas trek rawa ini, trek berikutnya akan terus menanjak hingga puncak bayangan. Target kami saat Dzuhur sudah berada di puncak bayangan untuk ishoma. Setelah berjalan kurang lebih 3 jam, kami sampai di sekitar HM 20, ada tanah cukup lapang untuk beristirahat. Disanalah kami baru bertemu rombongan pendaki lain, kebanyakan yang tektok, ngiri banget lah, mereka cuma bawa tas kecil & botol minum, lha kita bawa kulkas :v Btw, tempat istirahat pertama kami setelah simpang bajuri ini mirip pos Batu Kuda di Ciremai deh.

DSC02773.jpg

Kami istirahat kurang lebih 15 menit, kemudian lanjut perjalanan. Lepas rest area ini, trek kok rasanya familiar, trek dengkul ketemu dada ini mengingatkan saya dengan trek Gunung Cikuray :)) Trek tanah dan terjal silih berganti, rasanya kok ga ada bonusnya ini trek. Setelah 30 menit berjalan, sampailah di tebing ber-webbing pertama kami. Tingginya ada mungkin 7-8 meter. Dari tebing ini juga bisa terlihat pemandangan Kawah Ratu.

Dari tebing tadi, sekitar 15 menit kami sampai di pos bayangan, dan tebak berapa pal jaraknya ? baru HM 25!!! Itu artinya perjalanan kami baru setengah perjalanan, ya Allah, kapan sampenya ini :(( Meningat perjalanan masih jauh, kami pacu kecepatan jalan kami semampunya, beberapa kali kami istirahat, sekitar pukul 12 kami istirahat agak lama di trek, kami sempat ngemil dan bikin minuman panas, saya sendiri sempat tertidur. Lepas itu kami lanjutkan perjalanan, semakin atas rasanya vegetasi sudah berganti dari pepohonan rimbun menjadi lebih terbuka. Kami sempat melewati bagian trek yang sebagiannya sudah longsor, di bawahnya? jurang dalam … Di tempat ini belakangan waktu jalan pulangnya, tas saya sempat tersandung pohon di sebelah kiri, hampir saja saya terhempas ke jurang, Alhamdulillah masih dikasih selamat -_-

DSC02813.jpg

Pukul 13.00 kami sampai di puncak bayangan, suatu area cukup luas sebelum puncak Manik. Walaupun luas, bisa menampung 3-4 tenda, tapi permukaannya tidak terlalu rata, ada banyak batu dan akar pohon. Pendaki bisa menginap di sini untuk melakukan summit attack nantinya. Di puncak bayangan ini kami melakukan ishoma. Walaupun trek Cidahu ini jalur utama selain jalur Cimelati, tapi hanya beberapa kali kami menemui pendaki lain, kebanyakan yang tektok, alasannya mungkin sudah cukup jelas :))

DSC02820

Kami istirahat cukup lama di pos ini, ada kali 1.5 jam. Pukul 14.30 kami melanjutkan perjalanan ke puncak. Dari puncak bayangan ini bisa terlihat trek ke puncak Manik ini menjulang tinggi, apalagi dari puncak bayangan treknya menurun dulu, udah kebayang gimana trek naiknya nanti. Betul saja, selepas sadel pemisah antara puncak bayangan ke trek Puncak, langsung ketemu tebing hampir 80°. Di tebing tersebut terdapat webbing untuk membantu pendaki naik. Mukti bahkan harus dibantu dibawakan dulu kerilnya karena kondisi treknya cukup menyulitkan ruang gerak. Di sini mesti ekstra hati-hati apalagi kalau treknya dilalui saat hujan. Oya, tebing ini ditemui di HM 39, atau sekitar 1 KM sebelum puncak.

Mengingat Pal HM yang masih berjarak 1KM saya sudah menduga kalau trek tebing ini akan banyak ditemui di depan, lha biasanya 300 meter vertikal dari puncak Ciremai/Guntur aja bisa sejam lebih. Tidak salah dugaan saya, tebing demi tebing harus kami lalui sebelum mencapai puncak. Ada mungkin sekitar 7-8 webbing yang membantu kami melewati tebing-tebing yang ada. Tutupan vegetasi semakin terbuka. Tidak terasa pal HM sudah menunjukkan HM 49, itu artinya sebentar lagi puncak! Alhamdulillah, kami pun sampai di puncak sekitar pukul 16.00, kami disambut oleh pohon-pohon Akasia yang sepertinya hanya kami temui di puncakan ini. Rupanya puncakan Salak 2 ini mirip-mirip puncakan Tampomas. Terdapat 2 bagian puncak, ada daerah puncak yang terbuka dan daerah yang kami gunakan untuk berkemah yang dinaungi pohon-pohon akasia. Sebelum mendirikan tenda, kami foto-foto dulu di plang puncak. Tidak ada pemandangan yang berarti di puncak ini karena sekitar kami hanya ditutupi kabut. Tapi nyampe puncak pun sudah sangat bersyukur karena perjalanan panjang kami bisa berakhir.

Kami mendirikan tenda di daerah yang ditutupi akasia karena mempertimbangkan angin dan kabut yang datang silih berganti. Pilihan kami tidak salah karena sampai malam, angin terus bertiup kencang, tapi tenda kami aman tentram. Suara angin yang melalui lembah dan membuat pohon bergesekan sepertinya menimbulkan suara cukup seram, mungkin suara-suara ini yang dianggap sebagian pendaki suara dari alam lain. Apalagi saat malam pohon-pohon akasia yang konstan ditiup angin Salak berbentuk seperti makhluk tinggi besar dengan tangannya menjuntai kesana kemari.

DSC02877

Oya, di daerah terbuka Puncak Manik cukup luas untuk menampung hingga puluhan tenda. Di puncak ini terdapat petilasan Mbah Salak, terdapat juga sebuah shelter yang mungkin digunakan peziarah/pendaki beristirahat. Hari itu sepertinya ada beberapa peziarah yang datang, kalau dilihat dari pakaiannya. Keberadaan petilasan ini juga konon menambah kemistisan gunung Salak.

DSC02885

Pukul 21.00 kami sudah membereskan perlengkapan makan kami dan siap-siap istirahat. Karena kami istirahat di puncak, jadi enaknya ga perlu summit attack. Saya sempat terbangun beberapa kali bukan karena mimpi atau dingin, tapi karena pengen foto bintang, Tiap bangun, buka tenda, liat keluar tenda, sambil berharap ga ada yang ngelirik balik :)) Di luar tidak terdengar apa-apa selain suara angin yang tak berhenti berujar. Diluar masih saja berkabut, bahkan hujan sempat turun. Bangun-bangun sekitar jam 4 lebih, beberapa pendaki sudah bangun, apalagi klo bukan buat curhat. Adzan subuh belum berkumandang, karena cuaca sudah membaik saya coba mengabadikan suasana syahdu dini hari di puncak Salak. Milkyway jelas sudah lewat, namun langit cukup jelas berbintang. Di ufuk barat masih nampak sisa-sisa bulan yang terbenam menimbulkan cahaya jingga serupa matahari terbenam. Ah, nikmat mana yang engkau dustakan.

DSC02904-Pano
Puncak Manik Salak 2 di bawah naungan akasia

Subuh menjelang di puncak Manik, dingin tidak terasa menusuk badan, saya tidak menyadarinya sampai setelah ingusan tiada henti. Sambil menunggu sunrise, saya sempat membuat minuman hangat. Satu persatu pendaki mulai bangun dan meriuhkan suasana puncak. Tempat terbaik melihat sunrise di puncak Manik adalah di area terbuka puncak. Dari tempat itu pula di arah tenggara dapat terlihat si kembar Gede Pangrango yang mengintip dari sela-sela pepohonan. Saat melihat Gede Pangrango dengan ambience jingga ini rasanya tak henti bersyukur, mungkin ini salah satu hadiah dari Sang Pencipta Salak bagi para pendakinya 🙂

DSC02937
Gede Pangrango dari Puncak Manik Salak 1

Tiba saat momen sunrise, para pendaki ramai berkumpul di sisi timur semua siap mengabadikan kehadiran sang surya. Saat muncul dari balik awan yang menyelimuti daerah Cianjur/Sukabumi kami sontak berteriak. Lagi, katanya pemandangan ini juga jarang ditemui di gunung yang sejak semalam diselimuti kabut. Alhamdulillah.

DSC02956.jpg

Setelah melihat matahari terbit, kami langsung menyiapkan sarapan dan packing karena pukul 8 nanti kami harus bergegas turun. Karena kabut dan hujan semalam saat turun trek lebih licin tapi masih aman dilalui. Saat turun kami hampir tidak beristirahat, nah tiba saat sampai di daerah rawa-rawa. Tahu-tahu pa Firman berteriak, kaget kan ya kita, ternyata saat menginjak kayu-kayu yang jadi pijakan di rawa itu ada sarang lebah/tawonnya, jadilah dia disengat beberapa kali di tangan. Ada bahkan pendaki yang disengat di jidat, wew. Langsunglah dioles dengan fresh*are, sengatnya juga sempet keluar. Kami sampai di Simpang Bajuri lewat zuhur, disana kami memutuskan istirahat agak lama. Makan-makan lagi kan ya kami, toh basecamp sudah dekat. Kami istirahat disana sampai sekitar 14.30 lalu turun lewat Javana Spa. Waktu melewati jalur turun ini tepat di bawah pohon besar ada 2 lebah yang terus berputar, karena saya paling depan jadilah saya yang pertama dikejarnya. Awalnya saya lari ke depan sambil melindungi muka, terus lari ke belakang, lebahnya malah ngejar teh Ayunda & pa Firman. Jadilah pa Firman disengat lagi, aduh punten pa -_-”

Sampai di Javana Spa niatnya mau numpang mandi, udah kebayang pake air anget kan ya, eh ternyata si bapa yang kemarin ngejanjiin belum shiftnya masuk, zzz. Akhirnya hanya mengambil mobil, lalu mandi dan makan baso tahu di warung sekitar area camp arah basecamp. Fiuh, berakhir pula pendakian yang dibayang-bayangin cerita kemistisan yang ternyata lebih dikalahkan oleh kondisi treknya yang ajip. Seperti yang dibilang, treknya ‘pendek’, ketinggiannya ‘tidak seberapa’, ternyata waktu tempuhnya luar biasa. Jadi pelajaran untuk tidak meremehkan pendakian gunung dilihat dari ‘mdpl’nya. Klo rating saya untuk gunung Salak ini, view 3/5, trek 4/5 dan akses ke basecamp 4/5. Selamat mencoba, keep safe dan berdoa!

trek chart salak agustus 2017
Trek Salak 1

Summary

Waktu tempuh :

  • Basecamp – pintu rimba/Javana Spa : 10-15 menit (klo naik mobil), klo jalan bisa 1 jam
  • Pintu Rimba – Simpang Bajuri : 2 jam
  • Simpang Bajuri – puncak bayangan : 5.5 jam
  • Puncak Bayangan – Puncak Manik : 1.5 jam
  • Turun : X 1/2 ~ 4-5 jam.

Cost Damage

  • Simaksi : 22rb
  • Logistik : ~100rb
  • Mandi : 2rb

Catatan :

Cuaca di Salak umumnya berkabut, selalu siap dengan jas hujan, sumber air terakhir di Simpang Bajuri, konon ada sumber air di dekat puncak sekitar trek dari Cimelati, tapi saya sendiri belum lihat. Untuk camp di puncak usahakan di daerah yang ditutupi akasia/belukar supaya lebih nyaman. Oya, kalau ada budget lebih mending naik ojek/mobil angkutan dari basecamp ke Pintu Rimba, lumayan menghemat waktu & tenaga :))

Kontak BC Salak Cidahu :

  • Gunung Salak Jalur Kawah Ratu / Javana Spa : 085724995370 (P.Dadang)
  • Jalur Cidahu : 08176689004

6 Gunung Gemes Untuk Alternatif Wisata Liburan di Bandung (#RedSummerHoliday BLOG CONTEST)

Kalau sudah bicara liburan di kota Bandung, apalagi yang kepikiran selain wisata kuliner, shopping dan taman-taman kekinian, ya kan? Tapi, jangan salah, di sekitaran Kota Bandung, kita dapat menemui banyak objek wisata alam yang sayang dilewatkan terutama kamu yang mencintai olahraga outdoor, salah satunya wisata pendakian gunung. Nah, kalau bicara gunung di Bandung, gunung apa yang kebayang? Tangkuban Perahu jelas. Yup, Gunung Tangkuban Perahu dengan legenda Sangkuriangnya sudah sangat mahsyur di telinga wisatawan lokal maupun mancanegara. Tapi, ternyata ga cuma Tangkuban Perahu loh gunung yang ada di Bandung, menurut catatan salah satu komunitas pegiat pendakian gunung-gunung Bandung, terdapat sekitar 500 tempat yang bisa dikategorikan sebagai gunung. Tidak semua gunung tersebut sudah atau bisa didaki, namun berikut 6 gunung Bandung yang sudah familiar di kalangan pendaki, dan hampir semuanya bisa didaki dalam 1 hari/tektok saja.

Gunung Manglayang

DSC01097
Camp area di Puncak Manglayang

Di list pertama gunung Bandung adalah Gunung Manglayang. Gunung dengan ketinggian sekitar 1818 Mdpl ini berada di daerah Cileunyi, perbatasan antara Kota Bandung dan Kabupaten Sumedang. Berjarak sekitar 25 km dari stasiun Bandung, gunung ini mungkin salah satu gunung yang paling sering dikunjungi para pendaki lokal maupun luar kota. Terdapat 2 basecamp utama yang dapat dijadikan titik awal untuk mencapai puncak : Batu Kuda (paling populer) dan Kiara Payung. Untuk mencapai puncak dari basecamp Batu Kuda memerlukan waktu sekitar 3 jam dengan trek yang cukup bersahabat. Sumber air, Mushola, WC dan warung-warung tersedia di basecamp, kalau tidak berminat mendaki ke puncak, kita juga bisa camping ceria di hutan pinus sekitar basecamp. Puncak Manglayang tersedia lapangan untuk berkemah yang cukup luas, namun karena puncakannya tertutup pepohonan yang cukup rapat, kita hanya bisa melihat view Kota Bandung dan Sumedang di jalur sebelum puncak dan daerah Puncak Bayangan.

Gunung Burangrang

DSC09855
Puncak Gunung Burangrang dan Situ Lembang

Merujuk ke legenda Sangkuriang, Perahu yang ditendang Sangkuriang konon menjadi gunung Tangkuban Perahu, tunggul (bekas pohon) yang ditebang menjadi gunung Bukit Tunggul sedangkan ranting, batang dan daunnya menjadi Gunung Burangrang, mungkin karena dari kejauhan Burangrang sendiri terlihat seperti gerigi (Baranco). Gunung Burangrang dengan tinggi puncaknya 2065 mdpl secara administratif berada di antara 2 kabupaten : Bandung Barat & Purwakarta. Di sisi utaranya adalah Gunung Tangkuban Perahu.  Gunung Burangrang adalah gunung parasit sisa letusan gunung Sunda purba yang meletus kira-kira 105000 tahun yang lalu. Untuk mencapai puncak gunung ini dari arah kota Bandung, kita bisa melalui basecamp Legok Haji yang berada di daerah Cimahi yang dapat ditempuh sekitar 1 jam dari pusat kota. Dari basecamp Legok Haji memerlukan waktu sekitar 2-3 jam untuk mencapai puncaknya. Yang menarik dari gunung Burangrang adalah kita bisa melihat hampir 360º pemandangan ke arah kota Bandung, kabupaten Bandung, Cimahi dan Purwakarta. Dari puncak kita juga bisa melihat Situ Lembang yang merupakan bagian dari kaldera sisa letusan gunung Bandung Purba yang meletus ribuan tahun yang lalu.

Gunung Putri

wp-1502709067224.
Gunung Putri Lembang saat pagi hari

Berikutnya adalah objek wisata alam gunung yang akhir-akhir ini nge-hits yakni Gunung Putri di daerah Lembang. Saat ini dikenal juga dengan dengan Geger Bintang Matahari. Berada di kawasan daerah wisata Lembang berjarak sekitar 2 jam dari kota Bandung, gunung dengan ketinggian 1587 mdpl ini menawarkan panorama kota Lembang dan sekitarnya. Pemandangan paling indah tentunya saat sunrise dan sunset. Ketika pagi hari kabut menyelimuti kota di kaki gunung makin menampilkan pemandangan yang selalu dirindukan para pendaki. Tidak memerlukan waktu lama mendaki puncak gunung putri ini, hanya sekitar 30-45 menit kita sudah sampai di puncak yang ditandai dengan tugu Sespim. Fasilitas umum seperti toilet, tempat parkir, warung,  pun penyewaan alat-alat outdoor tersedia di basecamp. Di area camp kita bisa memilih mendirikan tenda juga mendirikan hammock karena terdapat hutan pinus. Selain panorama puncak, kita juga bisa berwisata sejarah karena di sekitar puncak juga terdapat benteng/gedung peninggalan Jepang yang kondisinya cukup terawat. Di beberapa tempat juga tersedia spot foto yang nge-hits seperti pohon pinus bengkok.

Gunung Wayang

DSC01931
View Gunung Wayang ke PLTP Wayang Windu

Gunung ini mungkin tidak terlalu terkenal, namun gunung dengan ketinggian 2241 mdpl ini memiliki trek yang unik karena memiliki trek semi panjat tebing yang membutuhkan peralatan pengaman. Gunung Wayang terletak di desa Kertasari, Pangalengan, kabupaten Bandung, sekitar 2 jam perjalanan dari pusat kota Bandung. Belum ada basecamp resmi sebagai titik awal pendakian, tapi umumnya para pendaki menggunakan jalur perkebunan Kertamanah, dekat dengan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Wayang Windu. Perjalanan menuju titik awal pendakian sangat indah karena kita akan melewati perkebunan teh yang sangat luas. Dari titik awal pendakian kita akan melewati perkebunan warga, kawah Wayang, Batu Wayang, lalu setelah berjalan kurang lebih 3-4 jam kita sampai di puncak Wayang yang cukup menampung 3-4 tenda. Dari puncak dapat terlihat kepulan uap dari PLTP Wayang-Windu, perkebunan teh, kota Pangalengan dan komplek pegunungan sekitar gunung Wayang. Nah, lepas dari gunung Wayang jika masih ada waktu dan tenaga kita bisa mencicipi susu murni Pangalengan dan menikmati kesejukan Situ Cileunca.

Gunung Puntang

32561740405_bb2519c508_o
Panorama puncak Mega Puntang

Masih di selatan kota Bandung, terdapat Gunung Puntang yang berada dalam kompleks pegunungan Malabar. Selama ini gunung Puntang dikenal dengan cerita mistisnya seperti hantu tentara Jepang dan Noni Belanda, belum lagi Curug Siliwangi yang erat kaitannya dengan tempat moksa-nya Prabu Siliwangi. Namun gunung dengan ketinggian puncak 2223 mdpl ini sebenarnya memiliki pemandangan yang tidak kalah cantik. Dari puncak kita bisa melihat panorama kota Bandung dan komplek pergunungan di sebelah utara dan tetangganya gunung Malabar. Apalagi saat kabut menyelimuti kota membentuk lautan awan. Untuk mencapai puncak Puntang yang dinamakan puncak Mega, titik awal pendakian ada di pos bumi perkemahan gunung Puntang atau lewat sekretariat PGPI. Perjalanan ke puncak total membutuhkan waktu sekitar 6-7 jam, namun biasanya ada juga yang camp di pos 2 sebelum dini harinya menuju puncak. Setelah lelah menggapai puncak, sempatkanlah mandi di sungai berair jernih dan segar yang berada di sekitar area perkemahan Puntang.

Gunung Artapela

DSC01834
Trek Artapela

Satu lagi gunung Bandung yang jadi primadona para pendaki akhir-akhir ini adalah gunung Artapela. Berlokasi di daerah Pacet Argasari, sekitar 2 jam dari kota Bandung, gunung ini menawarkan pemandangan dari ketinggian yang tidak kalah cantik. Dengan ketinggian + 2194 mdpl, trek yang harus dilalui pendaki terhitung sangat bersahabat. Dibutuhkan waktu sekitar 3 jam dari basecamp yang dikelola warga hingga puncaknya. Selama menuju puncak yang dinamakan puncak Sulibra, kita akan dijamu dengan pemandangan perkebunan sayur-sayuran dari kaki gunung sampai ke puncak, tak heran jalur pendakian. Para pendaki biasanya memilih berkemah di puncak Sulibra yang bisa menampung puluhan tenda. Jika cuaca cerah, kita bisa melihat kompleks pegunungan sekitar Bandung dan pemandangan kota Bandung. Yang perlu diperhatikan dari gunung ini adalah sepanjang jalur hampir tidak ada tempat untuk berteduh, jadi paling baik berangkat pagi sekali, atau sekalian sore atau malam.

Sekian 6 gunung Bandung yang bisa jadi alternatif tujuan wisata di sekitar kota Bandung, terutama untuk para pecandu ketinggian. Selesai menitipkan rindu di puncak-puncak gunung Bandung, kita masih bisa meluangkan waktu untuk melanjutkan wisata kuliner atau beli oleh-oleh di pusat kota. Nah, untuk mencari referensi tempat wisata, ragam makanan, tempat menginap dan tips-tips travelling yang menarik, baik di Bandung, maupun kota-kota lainnya, teman-teman bisa cek blog.reddoorz.com loh. Terakhir, kabar-kabarin aja klo mau main di Bandung, terutama ke gunung-gunungnya, siapa tahu waktu dan tempatnya cocok 😉

[Seri Gunung Bandung] Gunung Wayang 2241 Mdpl : Jalur Pendakian Semi Panjat Tebing Yang Sukses Bikin Lutut Lemas

“Bandung dilingkung ku gunung” adalah ungkapan yang sering dilontarkan budayawan sunda untuk menggambarkan kondisi kota/kabupaten Bandung yang memang dikelilingi gunung-gunung, seolah-olah berada dalam mangkok. Rupanya, menurut penelusuran yang dilakukan teman-teman di Jelajah Gunung Bandung menyatakan bahwa ada sekitar 500 gunung yang berada di tanah yang katanya diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum ini. Konon, kalau dikunjungi 1 per 1 per bulannya, akan membutuhkan kurang lebih 58 tahun untuk mengecup setiap puncak pergunungannya.

Salah satu gunung Bandung yang mungkin sudah cukup dikenal pendaki Bandung, namun rasanya jarang ada ajakan pendakian adalah gunung Wayang. Saya sendiri tahu keberadaan gunung Wayang, karena keberadaan pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) Wayang Windu yang dioperasikan perusahaan Star Energy waktu kuliah Teknik panas bumi sekian semester yang lalu. Bagi teman-teman fotografer yang sering main di daerah Pangalengan pasti pernah mengabadikan gunung ini karena letaknya berada tepat di arah timur Situ Cileunca, matahari pagi merayap dari balik gunung ini.

Hari sabtu pagi itu saya diajak oleh kang Mbok Hasby untuk berkunjung ke gunung berketinggian + 2183 mdpl yang secara administratif berada di Pangalengan, kabupaten Bandung. Kami ber-6 sepakat kumpul dulu di Carefour Kircon yang terkenal dengan durasi lampu merahnya yang bisa sambil namatin 1 season Cinta Fitri. Kang Mbok bertindak sebagai team leader dan penunjuk arah pendakian gunung Wayang ini karena sebelumnya sudah pernah kesana. Saya sendiri belum tahu gambaran treknya bakal seperti apa, mengingat sedikit dokumentasi tentang gunung ini, tapi dapet info dari pak Firman sih, miniatur gunung Raung yang terkenal itu. Saat itu sih belum dapet firasat apa-apa. Akhirnya setelah berkumpul semua anggota sekitar jam 8 lebih, kami ber-4 motor berangkat menuju titik awal pendakian. Dari kota Bandung kami arahkan kendaraan ke arah Pangalengan via Dayeuh kolot-Banjaran, menyusuri jalanan berliuk-liuk, sampai sebelum mencapai pusat kota akan ditemui persimpangan ke perkebunan teh PTPN VIII Kertamanah, ambil ke kiri, lalu mengikuti jalan ke arah power house pembangkit listrik geotermal Wayang Windu, atau ke arah Wayang Windu bike park. Patokannya sih sebrang toko oleh-oleh Pia Kawitan, di sekitar persimpangan ini juga terdapat warung nasi untuk mengisi perut atau membeli bekal.

gerbang kertamanah
persimpangan jalan raya Pangalengan – PLTP Wayang Windu/PTPN Kertamanah

Menurut informasi dari dokumentasi kawan-kawan JGB rupanya jalur pendakian gunung wayang ini terdapat 4 jalur : Kertamanah via PLTP wayang windu, Cisanti, Kertamanah via Cibeureum, dan satunya lagi apa ya. Jalur yang sering dilalui adalah lewat Kertamanah. Tidak ada basecamp khusus untuk pendakian gunung Wayang, pun tidak ada angkutan khusus ke titik pendakian awal. Tapi kalau dari Bandung kita bisa naik angkutan elf dari Tegal Lega-Pangalengan, turun di persimpangan perkebunan Kertasari, lanjut naik ojek ke PLTP Wayang Windu.

Setelah sekitar 2 jam mengendarai motor dari titik kumpul kami, akhirnya sampailah di pintu portal PLTP Wayang Windu. Saat itu kami masih boleh menitipkan motor di dekat pos satpam yang dikelilingi hutan pinus. Namun terakhir saya kesana sih sudah tidak boleh parkir disana, alih-alih parkirnya harus di suatu lapangan yang dikelilingi pipa uap panas bumi. Tidak ada tempat penitipan khusus kendaraan maupun basecamp di sini, jadi lumayan was-was sih ninggalin kendaraan. Oya, jalan menuju ke tempat parkir kendaraan yang melalui perkebunan teh ini juga memberikan pemandangan yang menyejukkan mata, walaupun kondisi jalan dari pertigaan antara portal PLTG-Wayang Windu Bike Park ini berupa bebatuan lepas, yang mengharuskan kita tetap fokus berkendara.

 

Kalau menitipkan kendaraan di pos satpam, masih butuh waktu sekitar 15 menit berjalan kaki ke lapangan tempat parkir yang saya sebut tadi, melewati kompleks PLTG dimana terdapat sebuah helipad.

Dari lapangan tempat parkir, perjalanan dilanjutkan treking ke kawah Wayang dimana kita akan melewati perkebunan warga. Di perkebunan warga ini bisa ditemui sayuran seperti wortel, kol, hingga tembakau. Tidak ada persimpangan yang berarti sih, kalau bingung bisa menanyakan warga kemana arah kawah Wayang. Di jalan setapak ini ternyata masih bisa dilalui motor trail, tau gitu kan … 😀

Selama kurang lebih 30 menit berjalan pemandangan kebun mulai berganti semak belukar dan samar-samar tercium bau telur busuk, yang dimasak. Ah, inilah tandanya kawah Wayang sudah dekat, dan betul saja kami sampai di kawah Wayang dengan pemandangan yang not-like-earthy. Keberadaan kawah Wayang yang menyemburkan uap dan gas solfatara ini menjadi tanda bahwa gunung Wayang ini adalah gunung berapi yang aktif. Bau belerangnya sendiri tidak terlalu menyengat seperti di papandayan. Treknya terasa begitu hangat (klo tidak panas). Dari kawah Wayang ini, perjalanan menuju puncak Wayang agak sedikit tricky karena tidak ada patokan untuk menemukan jalan setapak, pokoknya yang mengarah ke atas dan masih bisa dilalui dengan mudah, nanti ketemu jalan setapak yang berundak. Rasanya hanya ada satu jalur menuju puncak dari sini. Dari sana perjalanan terus menanjak, ada kali 60”

Tanjakan berundak tadi tidak begitu lama dilalui, hanya sekitar 15 menit. Nah, dari sini, perjalanan mulai terasa menantang. Dari ujung tanjakan tadi, kita sudah bisa melihat batu yang jadi iconnya gunung Wayang : Batu Wayang (Oh, thank you, captain). Trek yang tadinya berupa tanah, kini kami harus melalui jalur bebatuan. Tak jarang kami harus mendaki, mencoba mencari celah-celah batuan untuk berpijak dan berpegangan. Perjalanan mulai deg-deg-ser karena jalan di samping trek bebatuan tadi ya jurang. Di beberapa tempat, kami harus merayap, bukan lagi dengkul ketemu lutut, apa aja bagian badan yang bisa ditempel, ya ditempel. Lutut rasanya sudah lemas, bukan karena cape, tapi ya keder. Tidak salah kalau jalur Wayang ini dikatakan jalur semi panjat tebing.

Sampai di lokasi batu Wayang, sekitar 15 menit dari ujung tanjakan yang saya bilang tadi. Di sini kami sempat beristirahat dulu. Di batu wayang terdapat sebuah plang “Batu Wayang”. Dinamai batu Wayang karena bentuk batu tersebut mirip seperti Gunungan dalam pertunjukan Wayang. Kurang tahu sih klo di tempat lain dinamai apa, kenapa ga dinamai gunung Gunungan, mungkin nanti malah dibilang gunung boongan, kan gunung-gunungan #krik.

collectie_tropenmuseum_wajangfiguur_van_karbouwenhuid_voorstellende_een_pauzeteken_tmnr_4551-27
Gambar Gunungan (https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/2/26/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Wajangfiguur_van_karbouwenhuid_voorstellende_een_pauzeteken_TMnr_4551-27.jpg)

Nah, berita baiknya, batu Wayang sudah ditemui. Berita kurang baiknya : puncaknya masih setengah perjalanan. Kami masih harus melalui dan memanjat jalur bebatuan kembali untuk mencapai puncaknya. Tidak ada pilihan jalur, hanya jalur sempit yang dibawahnya menganga jurang. Di beberapa tempat dibutuhkan webbing untuk berpegangan. Well harusnya sih kita bawa perlengkapan pengaman yang lebih lengkap. Tapi saya sendiri juga ga tw klo jalurnya kaya gini, tau gitu kan … T.T

Tidak begitu lama sih jalur batunya, lepas jalur batu berikutnya kami menemui lagi jalur tanah, tepatnya tanah kemerah-merahan yang klo ujan ga tahu mau melorot kemana. Jangan senang dulu, karena jalur tanah yang saya maksud adalah jalur dengan kemiringan mendekati 75”, dengan tanah lepas, yang minim pegangan. Karena saya paling depan, dan cuma dibilang terus aja ke atas, mau gimana lagi, saya berpegangan sebisa mungkin ke tetumbuhan, sambil terus berdzikir moga2 ini tanah ga tiba-tiba longsor. Ga kepikiran motret jalurnya, dalam batin yang penting cepet beres aja lewat ini jalur. Alhamdulillah, jalur tadi mungkin hanya sekitar 5-10 menit, nah ujung dari tanjakan tadi : Puncak Wayang

Rasa syukur langsung saya ucapkan setelah melewati jalur ‘nista’ tadi, bersyukur juga karena kami masih diberikan keselamatan. Di puncak Wayang ada plang Puncak Wayang yang sudah lebih mirip plang tanda perlintasan kereta api. Di puncaknya terdapat sebidang tanah yang mungkin bisa ditempati sekitar 4 tenda. Dari puncaknya kita bisa melihat di sebrang ada pasangan Wayang : Windu, kemudian gunung Tilu, Datar Anjing dan Artapela. Kabut masih menyelimuti hari yang sudah melewati tengah siang saat kami sampai di puncak. Dari kejauhan kita bisa melihat pembangkit Wayang Windu.

Gerimis mungkin dari kabut mulai turun, untungnya kami sudah bersiap dengan mendirikan bivak sederhana dari plysheet. Setelah shalat, kami mengeluarkan bekal masing-masing, kompor juga dinyalakan untuk membuat air panas. Tidak terasa, setelah kenyang ngantuk melanda, ditambah suasana puncak yang sepi (tidak ada pengunjung lain saat itu, tau kan alasannya?). Kami sempat tertidur di bivak juga hammock yang dibuat di sekitar pepohonan.

DSC02007
jalan di belakang itu jalur lewat Cisanti, belakangan juga kami pakai untuk turun ke jalur kawah

Sekitar jam 3 sore, kami memutuskan untuk pulang, tapi selain kang Mbok, tidak ada yang mau melewati jalur naik tadi, naiknya aja susah, turun lebih susah-serem lagi 😆 Hanya ada pilihan lewat Cisanti yang treknya lebih jauh dari tempat parkir, atau tetap ke arah tempat parkir dan ‘buka jalur’.

Kang Mbok sebenarnya sudah kesini sebelumnya, tapi karena kondisi jalur yang masih rapat dan jarang dikunjungi, sempat membuat kami kehilangan arah. Sempat kami coba buka google maps (oya, sinyal smartfren 4g lumayan kuat di puncak loh) untuk melihat peta kontur untuk mencari arah kawah. Kami harus melewati semak belukar, main perosotan di tebing dengan pegangan di semak-belukar yang ada, hingga akhirnya kami sampai kembali di kawah sekitar pukul 4 sore. Lagi, tidak ada panduan atau papan petunjuk jalur turun (saat itu), maka ada baiknya selain membawa peralatan safety, juga harus sama orang yang pernah/biasa ke tempat ini. Kabut sekarang menyelimuti kawah, bercampur asap belerang, membuat pemandangannya seolah-olah other-world. Sambil istirahat, ya kami foto-foto terakhir sebelum pulang.

Saat perjalanan pulang melewati jalur perkebunan tadi pagi, hujan turun dengan deras, untungnya kami semua membawa jas hujan. Sampai di tempat parkir, kami berpamitan ke Satpam dan membayar ‘seikhlasnya’ 5000 rupiah per orang, dan diiringi bunyi dari cerobong uap pembangkit dan hujan saat itu kami berpisah.

Sebagai penutup, gunung Wayang ini adalah salah satu trek gunung yang cukup unik dan menantang, ketidak-tinggiannya sebagaimana gunung-gunung Bandung lainnya, tidak membuat gunung ini mudah untuk dilalui, alih-alih saya sendiri malah boleh dibilang kapok naik kesini, tangan basah keringetan, lutut selain lemas juga sakit, nah yang terakhir ini ga tw sih, karena naik gunung atau emang kurang olahraga :p Berhubung pendakiannya bisa ditempuh dalam satu hari (tektok), klo punya waktu 2 hari untuk treking gunung Bandung, bisa dilanjut/digabung dengan Burangrang, atau Manglayang.

Cost Damage

  • Parkir : 5rb
  • konsumsi : ~20rb

Info Kontak Basecamp :

Nihil, atau pantau grup Jelajah Gunung Bandung di Facebook groupnya.

[Seri Gunung Bandung] Gunung Burangrang & Ranu Kumbolonya Bandung

Lahir di kota yang dikelilingi gunung sepertinya sedikit banyak mempengaruhi gaya hidup saya. Saya mungkin lebih memilih pergi ke dataran tinggi dimana ada air terjun dan pergunungan, dibanding ke pantai (yang kurang saya sukai karena banyak nyamuk dan saya selalu tidak akur dengan nyamuk). Ada semacam ikatan batin. Tapi bukan begitu juga masa lalu kebanyakan kita, saat disuruh menggambar gambar pemandangan, ga jauh-jauh dari matahari terbit yang diapit 2 gunung, dengan jalan yang diapit sawah-sawah, tidak lupa sekumpulan burung yang terbang. Konon anak-anak pantai juga gambarnya begitu 😆

Ngomong-ngomong soal dikelilingi gunung, kebetulan rumah saya berada dekat dengan 2 gunung utama di Bandung : Tangkuban Perahu dan Burangrang. Tangkuban perahu yang sudah lama jadi objek wisata dengan legenda Sangkuriangnya, sering saya kunjungi waktu masih tinggal di Lembang baik lewat jalur mobil via Cikole, maupun Jayagiri, Sukawana dan Manoko. Gunung kedua, Burangrang malah hampir tidak pernah saya kunjungi walaupun rumah saya hanya berjarak sekitar 10km dari kaki gunungnya.

Gunung Burangrang dengan tinggi puncaknya 2065 mdpl secara administratif berada di antara 2 kabupaten : Bandung Barat & Purwakarta. Di sisi utaranya adalah Gunung Tangkuban Perahu.  Gunung Burangrang adalah gunung parasit sisa letusan gunung Sunda purba yang meletus kira-kira 105000 tahun yang lalu [1]. Merujuk ke legenda Sangkuriang, Perahu yang ditendang Sangkuriang konon menjadi gunung Tangkuban Perahu, tunggul (bekas pohon) yang ditebang menjadi gunung Bukit Tunggul sedangkan ranting, batang dan daunnya menjadi Gunung Burangrang, mungkin karena dari kejauhan Burangrang sendiri terlihat seperti gerigi (Baranco).

Bulan oktober 2016 tahun lalu menjadi pendakian pertama saya ke gunung ‘belakang rumah’ ini. Seperti biasa dengan ajakan dadakan dari pak Firman, saya dengan senang hati melakukan pendakian. Karena berencana untuk melakukan perjalanan tektok/PP, perbekalan tidak terlalu banyak, hanya air 1.5 liter, senter (tetep bwt jaga2), coklat dan nasi bungkus di warung nasi dekat Parongpong. FYI, jalur pendakian Burangrang sendiri yang saya tau ada 3 jalur : via Legok Haji, Lawang Angin/Kopassus, dan Purwakarta. Belakangan ternyata ada juga jalur lewat Cimahi. Jalur Lawang Angin/Kopassus biasanya jarang dijadikan jalur utama karena membutuhkan perizinan khusus dari Kopassus. Umumnya pendaki melalui jalur Legok Haji dengan patokan Curug Cipalasari.

Saat itu dengan menggunakan mobil pak Firman, kami menuju basecamp pendakian Burangrang via Legok Haji, melalui jalan Sersan Bajuri – Kolonel Masturi – SPN Cisarua – Tugu – Pasir Langu. Patokannya biasanya di SPN (Sekolah Polisi Negara) Cisarua, belok kanan dari arah Bandung/Ledeng. Tidak ada kendaraan umum yang khusus lewat sini, tapi di terminal Ledeng-Parongpong terdapat angkot dengan tujuan akhir Terminal Parongpong, kemudian lanjut angkot kuning ke SPN. Kalau tidak mau repot bisa carter angkot dengan estimasi ongkos 20-30ribu/orang, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam menuju desa Pasir Langu. Di belokan jalan Tugu-Cimeta/Nyalindung terdapat plang kecil penunjuk jalur pendakian Burangrang.

Screen Shot 2017-04-18 at 4.47.02 PM
Belokan Jalan Tugu-Nyalindung/Cimeta ke Desa Pasir Langu

Sepanjang perjalanan kita juga akan melalui objek wisata populer di Bandung seperti Curug Cimahi, Kampung Gajah, Dusun Bambu dan Kampung Daun. Jadi jangan kaget kalau saat weekend bisa macet di jalan ini. Kondisi jalan umumnya beraspal mulus hingga Cisarua, namun saat mencapai jalan Tugu kondisi jalan menyempit jadi sekitar 1.5 mobil. Apalagi di jalan Pasir Langu menuju basecamp, jalanan hanya bisa dilalui 1 mobil dengan kondisi jalan cukup baik. Mobil pak Firman juga sempat mengalami kesulitan karena jalannya yang sempit dan di suatu tempat harus berpapasan dengan mobil lainnya. Untungnya mobil lainnya mengalah ke halaman warga. Oya, di Pasir Langu patokannya setelah Sekolah Dasar, ada rumah pak RW di sebelah kiri (ada plang namanya 😀 ), di sana terdapat halaman rumah cukup luas untuk parkir mobil. Lebih disarankan menggunakan sepeda motor sih buat kesini. Setelah meminta izin untuk memarkir, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dengan medan menanjak ke basecamp Burangrang yang dikelola warga.

Saat mendaki bersama pak Firman sih basecampnya kosong, jadi kami tidak membayar apa-apa, pun mengisi buku registrasi. Namun 2 bulan berikutnya saya kembali ke sini, ada pos yang dikelola warga yang menarik retribusi 5rb/orang dan parkir 10rb/motor. Nah untuk motor bisa diparkir di dekat basecamp. Dari basecamp yang ada di pinggir jalan, lanjut sekitar 3 menit ke arah atas, terdapat warung juga belokan ke jalur utama pendakian.

FYI, di jalur pendakian Burangrang ini terdapat 5 pos sebelum puncak. Di jalur-jalur awal, kita akan melalui perkebunan warga, kompleks permakaman umum, hingga sekitar 30 menit kita sampai di pos 1 yang berupa lapangan rumput luas dan kebun pinus yang biasa dijadikan camp ground. Ga ada penunjuk pos 1 sih di sini. Oya, di awal pendakian terdapat percabangan jalur menuju curug/air terjun Cipalasari.

Dari pos 1 perjalanan terus menanjak dengan elevasi 30-40 derajat dengan vegetasi semak belukar, hingga akhirnya menemui batas hutan. Tak kadang di kiri kanan jalur yang sempit kita harus ekstra hati-hati karena terdapat tanaman perdu yang siap menyayat hati #tsah. Hampir tidak ditemui bonus sepanjang jalur ini. 40 menit berjalan dengan sesekali istirahat, penasaran juga karena belum ditemui penunjuk pos 2, tau-tau sudah sampe di pos 3, baru ada penunjuk pos. Di pos 3 ini terdapat tempat datar cukup untuk 2 tenda kapasitas 3-4. Di pos ini juga dapat ditemui beberapa spesies jamur dan laba-laba.

Setelah istirahat sekitar 15 menit, kami melanjutkan perjalanan ke puncak. Lagi-lagi tidak ada bonus sepanjang jalur, malah ada trek dengkul ketemu dada dan akar-akar pohon cukup tinggi dan licin. Cuaca sedikit berkabut, tapi suhunya cukup gerah jadi perlu lebih banyak minum. Oya sepanjang jalur pendakian Burangrang ini tidak terdapat sumber mata air. Sekitar 1.5 jam berjalan (tentunya sesekali istirahat), tau-tau kami sampai di pos 5 dengan ketinggian 1850 mdpl. Alhamdulillah berarti dikit lagi dong sampe puncak.

DSC08843

Namun nyatanya jalur dari pos 5 menuju puncak tetap ga ada bonusnya, untungnya tidak begitu lama. Sekitar 15 menit kami sampai di puncak Burangrang yang ditandai dengan tugu SPN Polda Jabar berwarna oranye. Puncak Burangrang sendiri terdiri dari 2 pundukan yang dihubungkan sebuah jalur sempit dengan kiri kanan jurang. Di masing-masing pundukan terdapat tempat luas yang bisa digunakan untuk sekitar 5-6 tenda. Sayangnya saat saya dan pak Firman ke Burangrang, cuaca sedang tidak baik, alhasil di sekeliling hanya bisa melihat kabut 😦

Tapi jreng-jreng, jangan khawatir, karena 2 bulan berikutnya di bulan Desember, saya kembali ke Burangrang dengan melakukan pendakian tektok solo, kurang lebih sekitar 1 jam 45 menit dari basecamp sampai puncak. Alhamdulillah, cuaca sangat mendukung sehingga saat di puncak sekitar jam 8 pagi, disambut dengan matahari, langit biru dan pemandangan puncak Burangrang yang tak tertutup kabut, dengan hadiah utamanya : Situ Lembang 😀

DSC09852

Situ Lembang yang menjadi bagian dari kaldera Gunung Sunda Purba menjadi sisa-sisa dahsyatnya letusan gunung tersebut di masa lampau. Dengan posisinya tersebut, tak jarang Situ Lembang dijuluki Ranu Kumbolonya Bandung. Sayangnya (atau untungnya) Situ Lembang tidak dapat sembarang dikunjungi karena dikelola oleh Kopassus. Dari kejauhan dapat terlihat kompleks bangunan tempat pendidikan dan latihan Kopassus yang juga sering digunakan untuk pendidikan dasar Wanadri. Di bagian utara terlihat dengan jelas saudara termuda dari rangkaian gunung Sunda purba : Tangkuban Perahu.

DSC09865

Pandangan ke arah timur agak tertutup pepohonan tinggi dan belukar. Namun ke arah barat, pemandangan sangat luas tidak ada penghalang sehingga sangat cocok untuk melihat matahari tenggelam. Di barat daya, kita bisa melihat komplek Gunung Parang, Lembu dan Waduk Jatiluhur di Purwakarta. Sementara di sisi tenggara, kita dapat menyaksikan gunung Cikuray di Garut mengintip dari balik pepohonan.

Fiuh, setelah beristirahat, foto-foto dan menikmati santapan berat ditemani pemandangan indah di puncak Burangrang, saatnya kami turun. Alternatifnya bisa melalui jalur Kopassus (klo jalur turun biasanya diizinin, karena masa disuruh naik puncak lagi, atau melipir jalur), tentunya kalau nitip kendaraan di Legok Haji/Pasir Langu jaraknya jadi terlalu jauh. Kebetulan waktu itu ketemu rombongan yang turun via jalur Kopassus.

DSC09889

Jalur turun membutuhkan waktu lebih singkat, sekitar 1.5 jam sampai basecamp tetap dengan fokus penuh karena jalur cukup licin dan berduri. Sampai di basecamp, sebelum langsung pulang ke rumah, saya sempat ngobrol dengan warga pengelola basecamp. (setelah diterjemahin) “A, kok berani amat ngedaki sendirian, di Burangrang teh ada 3 pasir (bukit/punggungan), di tiap pasir teh ada penunggunya, kadang siang-siang juga nampakin diri”. Kebetulan pasir-pasir itu tempat dekat-dekat pos (mungkin 2-5). Asyem, habis diceritain gitu mah jadi males naik sendirian -_-

Secara ringkas, pendakian Burangrang (dengan santai)  menempuh waktu dan jalur sebagai berikut :

Terminal Ledeng – Basecamp Pasir Langu (45menit) -> BC – Pos 1 (30 menit) -> pos 1 – pos 3 (45 menit) -> pos 3 – pos 5 (1.5 jam) -> pos 5 – puncak (15 menit)

Logistik bisa beli di minimart, atau pasar sekitar Tugu/SPN, atau di warung dekat basecamp. Nomor kontak pengelola rasanya sih ga ada, lupa minta nomer si bapa pengelolanya, tapi jika tidak ada kejadian kebakaran hutan, Burangrang biasanya dibuka. Kondisi cuacanya kadang berbeda jauh dengan Bandung, bolehlah kontak saya buat tau cuaca hariannya mah, di belakang rumah ini :p Pendakian Burangrang idealnya sih dilakukan 2 hari 1 malam, tapi klo cuma punya 2 hari untuk mengunjungi gunung Bandung, bisalah tektok ke Burangrang dulu, habis itu ke Manglayang misalnya (pendakian manglayang via tebing doa bisa dibaca disini 😉 ), sekalian balik ke Cileunyi bwt balik ke Jakarta misalnya. See you di perjalanan berikutnya, maaf kepanjangan :p

 

Referensi

[1] Wisata Bumi Cekungan Bandung, Budi Brahmantyo & T. Bachtiar

[Seri Gunung Bandung] Catatan Pendakian Manglayang : Via Tebing Doa

Ah.. Akhirnya bisa apdet blog lagi, alasannya klise : banyak kesibukan. Selain itu juga akhir-akhir ini cuaca kurang baik, jadi tidak banyak melakukan perjalanan 😉 Yap, langsung saja basa-basinya.

Pagi itu, hari minggu tanggal 26 Maret 2017, saya mendaki gunung yang berada di sebelah timur kota Bandung : Manglayang. Seperti biasa ajakan naik gunung ini berawal dari grup WA. Agak males dan khawatir sih soalnya bulan-bulan ini cuaca masih kurang mendukung untuk melakukan pendakian. Apalagi beberapa kejadian buruk menimpa teman-teman pendaki di beberapa gunung akhir-akhir ini karena cuaca. Tapi Alhamdulillah pagi itu cuaca terbilang cerah walaupun mendung-mendung gemes. Saya berangkat dari rumah sekitar jam 7 pagi untuk kumpul di bumi perkemahan Batu Kuda di daerah Cileunyi/Cinunuk atas yang juga menjadi titik awal pendakian. Pekan itu ada long weekend karena hari nyepi, tapi jalanan cukup lengang, sehingga mungkin hanya butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke daerah Cinunuk.

Untuk menuju ke bumi perkemahan Batu Kuda ini kita bisa melalui jalan gang di samping SPBU 34-40310 Al Masoem Cinunuk, tapi jalannya banyak berliku dan kondisinya kurang mulus. Jalan yang lebih enak sebenarnya lewat jalan Tanjakan Muncang – Villa Bandung Indah yang posisinya tepat di persimpangan Cinunuk lepas jalanan satu arah.

Dari persimpangan Cinunuk itu tinggal mengikuti jalan lurus, hingga menemui percabangan, ambil ke kiri, hampir tidak ada percabangan yang membingungkan. Kondisi jalan aspal mulus sampai sekitar 200 meter dari gerbang buper (bumi perkemahan) Batu Kuda, setelah itu jalan makadam melalui pos tiket sampai tempat parkir. Oya, untuk mencapai buper ini tidak ada angkutan umum, jalanan mungkin cukup untuk 2 mobil berpapasan. Biasanya teman-teman pendaki menyewa angkot di daerah Cibiru/Cinunuk yang menarik tarif borongan sekitar 20rb/orang.

Sampai di pos tiket, per orang dipungut Rp. 7500,- (sudah termasuk 1 botol air minum 600ml) dan parkir motor Rp. 5000,-. Langsung saya bertemu dengan kang Dadan dan Ayunda di saung dan warung-warung yang sudah berdiri lama. Karena masih banyak yang belum datang, jadi saya sempatkan sarapan dulu di salah satu warung. Setelah sarapan, ternyata masih pada belum datang, jadi saya putuskan jalan-jalan di sekitaran, toh sudah lama juga ga kesini. Kondisinya tidak jauh berubah. Di dekat warung-warung terdapat mushola, toilet juga sumber air bagi para pekemah, yang baru mungkin sekarang tidak ada gerbang kayu pembatas tempat parkir. Pagi itu rupanya lumayan ramai karena ada gathering dari suatu kelompok.

Sekitar pukul 10.00 semua anggota rombongan sudah berkumpul, total ada 8 orang yang ikut dalam perjalanan kali ini. Setelah mengecek perlengkapan, briefing singkat tentang medan, diakhiri dengan doa dan sorakan, kami mengawali perjalanan kami menuju puncak manglayang via tebing doa.

Trek puncak manglayang lewat tebing doa ini tidak termasuk ke rute resmi pendakian ke puncak manglayang karena tingkat kesulitan trek yang mengharuskan pendaki menggunakan perlengkapan panjat tebing. Oleh karena itu tidak ada petunjuk menuju kesana. Panduannya dari plang petunjuk pilih jalan lurus/kanan (bukan ke kiri ke arah puncak), hingga melalui bukit sebelah. Jalur ini masih sering dilalui karena juga jalur menuju salah satu spot perkemahan di Manglayang, yaitu Papanggungan.

Dulu banget pernah ke papanggungan sih, viewnya lumayan bagus dengan view sunrise ke arah Jatinangor. Dari jalur ini, akan ditemui beberapa percabangan, patokannya hampir semuanya ke arah kiri. Jika ke papanggungan ambil arah kanan.

Dari percabangan kita akan melalui kebun warga, salah satunya kebun tembakau. Dari perkebunan tembakau ini trek hampir tidak ada percabangan, hanya ada satu jalur menanjak. Lumayan sih klo kesini klo cuaca cerah, panass. Dari sini pula dari kejauhan sudah terlihat tebing doa yang dimaksud.

DSC00901

Dari perkebunan tembakau, kita akan menemui hutan bambu yang konon menurut rangernya klo malam-malam bisa ditemui ular derik, karena itu kewaspadaan harus ditingkatkan jika melalui daerah ini. Melewati hutan bambu, setelah itu kita akan melalui trek dengan semak belukar cukup rapat, di beberapa tempat juga ada tanaman berduri. Setelah melalui beberapa tanjakan cukup terjal, sekitar 1 jam dari awalk pendakian, akhirnya sampai juga di tempat yang sudah dinantikan : Tebing Doa Manglayang.

Konon dinamakan tebing doa karena untuk melewati jalur ini kita harus banyak-banyak berdoa. Bagaimana tidak, tebing yang menjulang sekitar 10m ini kemiringannya hampir 90°, dimana samping kiri kanannya adalah jurang. Tidak ada pegangan yang bisa digunakan untuk mendaki, makanya agak heran juga pas pak Firman bilang pernah sukses lewat tebing ini tanpa pengaman 😆

DSC00943

Btw, ternyata tebing doa ini terdapat 2 bagian, tebing pertama dengan ketinggian sekitar 6m dan tebing kedua dengan tinggi sekitar 10m. Tebing pertama masih bisa dilalui dengan melewati jalur melipir ke arah kiri yang berbatasan langsung dengan jurang. Tidak perlu menggunakan peralatan khusus, tapi jalurnya cukup sempit jadi tetap harus fokus. Sementara saya melalui jalur jalan kaki, kang Tatan, kang Dadan dan teh Celine penasaran naik tebing pertama dengan peralatan. Satu persatu teman-teman saya pun naik ke tebing pertama.

Pemandangan dari tebing pertama ini juga bagus dengan view ke kota Bandung. Sayangnya kabut menyelimuti bandung saat itu, jadi hampir ga bisa lihat apa-apa. Di arah utara dapat terlihat puncak utama Manglayang.

Setelah semua tim sampai di tebing pertama, kami melanjutkan ke tebing kedua. Rasa was-was mulai timbul gimana cara naik ke atas. Beruntungnya kang Tatan bisa menuju puncak tebing dengan meniti celah-celah batuan untuk memasang anchor dan menarik karmantel. Setelah aman, akhirnya satu per satu tim naik bergantian, sebagian menggunakan harness, ada juga yang hanya menggunakan karmantel untuk pegangan. Sepertinya tidak ada teknis khusus untuk mendaki tebing doa ini, hanya saja kita harus jeli melihat celah-celah batuan untuk pegangan dan pijakan. Tali pengamannya sendiri mungkin sebagai jaga-jaga. Saya kebagian urutan 3 terakhir, katanya tukang foto harus terakhir biar semuanya kefoto  -_-

Alhamdulillah, hanya memerlukan waktu kurang dari 5 menit untuk melewati tebing ini, rasa was-was usai sudah (tadinya). Saya pikir setelah melewati tebing doa ini jalur akan lebih bersahabat, ternyata eh ternyata tepat di depan adalah jalur sempit menanjak yang minim pegangan dengan kiri kanannya jurang menganga. Lebih parah dari pemandangan saat tebing pertama tadi. Saya yang takut ketinggian ini juga jadi agak cemas. Walhasil, setelah membantu teh Una dan Ayunda melewati 1 tanjakan setelah tebing doa, saya percepat langkah ke arah puncak tanpa coba melihat kiri kanan :))

Tapi ternyata nasib berkata lain, setelah hampir melewati tanjakan dengan jalur tipis ini teh Una minta dibantu untuk melalui tanjakan, walhasil harus balik lagi ke bawah -_-“ turunnya lebih ngeri ternyata boi.

DSC01031

Setelah melalui jalur tipis tadi, akhirnya kami sampai di jalur yang cukup rimbun dan banyak akar sebagai pegangan. Bayangan jurang-jurang tadi lewat sudah. Dari sini, trek berupa tanah dan akar-akar dengan kemiringan 60-70°. Trek agak licin mungkin karena hari sebelumnya turun hujan. Dari kejauhan saya mendengar riuh-riuh yang menandakan ada pendaki lain, artinya : puncak sudah dekat! Setidaknya puncak Prisma/puncak timur. Alhamdulillah, setelah 2.5 jam mulai dari kaki tebing doa, kami sampai di puncak Prisma.

Kondisi puncak saat itu tidak ada orang, kabut juga menyelimuti sekitar. Konon di puncak inilah tempat terbaik untuk melihat matahari terbit karena viewnya tidak terhalang pepohonan seperti di puncak utama. Terdapat lahan cukup luas di beberapa tempat untuk mendirikan 10 lebih tenda. Sepertinya sebelum kami sampai di puncak ini ada beberapa pendaki lain terlihat dari bekas-bekas makanan, sampah dan kertas. Bocah pasti ini, kampret betul ninggalin sampah.

Kami memutuskan untuk beristirahat, solat dan makan di puncak timur ini. Dengan menggelar plysheet, kami makan berjamaah dengan bekal yang dibawa dari bawah. Sebiji tomat merah pemberian teh Una pun rasanya segar kali dimakan di puncak ini.

Kami beristirahat kurang lebih 1 jam di sini, kemudian kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang lewat Puncak Utama, karena turun lewat tebing doa tadi rasanya bukan pilihan :)) Dari puncak prisma ini, rupanya juga terdapat jalur Manglayang via Barubeureum ke arah kiarapayung. Dulu saya pernah tidak sengaja ke Barubeureum karena salah jalur. Puncak utama ditempuh sekitar 40 menit pendakian yang terus menanjak, bukan turun gunung sih ini namanya.

DSC01087

Kami sampai di puncak utama sekitar pukul 16.00, lagi-lagi di puncak utama ini tidak ada orang, sepertinya sudah pada pulang karena besok Senin. Bagi yang belum pernah ke Puncak Utama Manglayang, puncaknya berupa lapangan yang tertutup pepohonan dan terdapat sebuah petilasan. Alhamdulillah di sini kondisinya lebih bersih dibanding di puncak prisma tadi. Seperti biasa di puncaknya juga terdapat plang penanda ketinggian. Saya tak melewatkan berfoto bersama plang puncak Manglayang yang berketinggian 1818 mdpl ini (ciee nomor cantik).

DSC01104

Kami tidak menghabiskan waktu lama di puncak karena sudah sangat sore. Hujan pun mulai turun di perjalanan turun. Yang paling bikin males di Manglayang ini memang jalurnya bakal sangat licin klo hujan, makanya saya percepat jalan mumpung hujan belum terlalu deras. Tapi memang kita tidak bisa mengontrol hujan, di sekitar setengah jam sebelum mencapai Batukuda, hujan sangat deras akhirnya saya sempat terpeleset. Di perjalanan juga bertemu 3 orang pendaki yang baru menuju puncak. Sekitar pukul 17.30 saya sampai di Batu Kuda, langsung menuju warung dan memesan segelas kopi panas dan gorengan, ahh nikmat rasanya. Beberapa waktu kemudian semua tim sudah sampai di Batu Kuda. Tidak lama kami pun berpisah menuju rumah masing-masing.

Untuk saya pribadi, perjalanan pendakian lewat tebing doa ini memang menawarkan pengalaman paling berbeda dibanding gunung-gunung lain, salah satunya ya karena harus panjat tebingnya itu, mau balik lagi? Mikir 2 kali sih kayaknya, kecuali perginya sama kamu, iya kamu :”)

Damage Cost

  • Bensin PP : Rp. 18000,-
  • Tiket & Parir : Rp. 7500,- + Rp. 5000,-
  • Indomi rebus telor : Rp. 7000
  • Kopi susu : Rp. 3000,-
  • Roti & madu : Rp. ~20.000,-

Catatan Pendakian Gunung Ceremai : Perjalanan Dadakan Yang Gurih-Gurih Nyoyyy

You don’t climb mountains without a team, you don’t climb mountains without being fit, you don’t climb mountains without being prepared and you don’t climb mountains without balancing the risks and rewards. And you never climb a mountain on accident – it has to be intentional.

Mark Udall

Halo halo, sudah cukup lama tidak update blog ini, mungkin karena bertepatan dengan bulan Ramadhan, jadi tidak banyak aktivitas yang bisa diceritakan. Alhasil, saya coba update tulisan yang sudah lumayan lama jadi draft, untung ga jamuran juga 😀

Jadi, perjalanan yang saya ceritakan sekarang, terjadi sekitar 2 bulan lalu. Bermula dari pesan Pak Firman di salah satu grup whatsapp di hari rabu pagi 20 April 2016:

PF = Pak Firman

AS = saya

PF : Ada yang mau ikut ke Ceremai via kuningan? sekalian nganter barang, transport gratis!

AS : (kata-kata gratis adalah clickbait yang sering sukses memancing otak saya menentukan keputusan) Bentar pak, ijin bos dulu. (lanjut nelpon bos)

5 menit kemudian

AS : Hayu pak, udah diijinin >.<

Jadi sederhana saja, perjalanan ke Atap tertinggi Jawa Barat itu terjadi begitu saja, setelah saya mendengar kata-kata gratis -_- FYI, sebenarnya nama gunungnya adalah Ceremai, cuma sering salah kaprah jadi Ciremai, tapi klo di tulisan ini disebut Ceremai/Ciremai mohon dimaafkan ya 😉

Bulan April itu memang tidak ada agenda naik gunung kemanapun, mengingat bulan depannya ada agenda ke gunung lain. Jadi hampir tanpa persiapan/pemanasan. Tapi siang itu, setelah pamitan ke ortu, packing secukupnya (kali ini bawaannya ga rempong, karena tenda sudah dibawa yang lain), berangkatlah saya ke Cibiru untuk berkumpul dengan 2 teman lain yang sudah menunggu : Pak Firman, Mang Mbok. Belakangan ditambah sama Mang Derul yang menyusul di Padalarang, kebetulan memang kita akan ke Kuningan lewat Tol Cipali yang tersohor. Setelah sholat Dzuhur dan di-Jama’, kami pun berangkat ke Kuningan menggunakan mobil Gran Max pak Firman. Rencananya kami akan mengantarkan barang pesanan dulu ke daerah Cirebon, lanjut ke Ciremai lewat jalur Linggasana.

Karena kami berangkat di hari kerja, jalanan sangat lengang, bahkan di segmen jalan tol Cipali sepanjang + 115km hanya ditemui beberapa mobil saja. Jalan tol Cipali mulai dari gerbang tol Cikampek hingga Palimanan sukses dilalui sekitar 50 menit saja :)) Kami sampai di Kuningan sekitar pukul 4 sore. Setelah mengantarkan barang, kami lanjut makan siang sore sekalian cari logistik di kota.

FYI, jalur Linggasana ini memang jalur yang relatif baru. Letaknya tidak terlalu jauh dari jalur Linggarjati yang sudah ada sejak lama. Di pos tertentu bahkan jalurnya akan saling berpapasan. Beberapa perbedaannya, jika dari jalur Linggarjati dimulai dari ketinggian 600 mdpl, nah pendakian lewat Linggasana dimulai dari ketinggian 700 mdpl, ya lumayan lah. Selain itu pos pendakian Linggasana buka 24 jam jadi kita bebas naik jam berapapun. Sejauh ini juga tidak ada batasan berapa banyak pendaki yang boleh naik bersamaan. Pun kalau berangkat cuma 2 orang masih diperbolehkan. Beda dengan pos pendakian Linggarjati. Kami sampai di Linggasana sekitar pukul 7 malam, saat itu hujan mengguyur sangat deras, kami bahkan ragu untuk melanjutkan. Tidak lama kami sampai di basecamp (BC) Linggasana. BC Linggasana termasuk salah satu basecamp yang cukup bagus fasilitasnya, terdapat tempat mandi, toilet, mushola, warung dan parkiran yang luas, kondisinya pun masih sangat bagus, ya mungkin karena baru beberapa bulan dibangun.

Selain menggunakan kendaraan pribadi, dari Bandung kita bisa naik kereta ke stasion Cirebon dengan ongkos 80rb, lanjut angkot ke terminal Cirebon 5rb, terakhir naik angkutan umum (elf/bus) arah Kuningan dari Terminal Cirebon dengan ongkos 15rb sampai pertigaan Indomaret-Linggasana, bilang saja ke supir/kernetnya mau ke basecamp Linggarjati/Linggasana. Dari pertigaan Linggasana bisa menggunakan ojek dengan tarif 10-15rb. Kadang-kadang supir/kernet elfnya juga mau mengantarkan kita dengan tambahan ongkos 15rb sampai basecamp Linggasana yang berjarak sekitar 10 menit. Tapi sebelum beneran diantarkan, minta kernet untuk meminta restu dari penumpang yang ada supaya dibolehkan nganter ke basecamp, kalau engga, bisa ada perang sipil di elf, trust me it happened :v Alternatif lain sih bisa langsung naik travel/DAMRI Bandung-Kuningan.

Oya, sampai di basecamp, kami langsung disambut oleh Kang Pen sebagai koordinator jalur pendakian Ciremai via Linggasana dengan seteko teh manis panas. Lepas men-jama’ sholat Magrib dan Isya, kami sempat mengobrol sekaligus registrasi. Di semua jalur pendakian Ciremai dikenakan biaya SIMAKSI sebesar 50rb/orang. Khusus di jalur Linggasana, tarif 50rb ini sudah termasuk SIMAKSI, teh manis panas, sertifikat (yang nama di sertifikatnya ditulis sendiri) dan paket makan saat turun gunung nanti. Saat registrasi kita hanya perlu menitipkan 1 KTP perwakilan kelompok dan menuliskan nama anggota dan nomor telepon yang bisa dikontak. Urusan registrasi selesai, selanjutnya bismillah, la hawla wa la quwwata illa billah.

jalur pendakian ciremai linggasan.jpg
Peta Jalur Pendakian Gunung Ciremai via Linggasana

Catatan : Jalur Linggasana ini memiliki 2 pilihan jalur, jalur lama dan jalur baru. Lihat di peta jalur di atas, jalur baru adalah dari (sebelum) Kondang amis, alih-alih melalui Kuburan Kuda, kita akan melewati Ciwalengas – Buana Sari. Sementara jalur lama tetap melalui Kuburan Kuda-Tanjakan Bapa Tere. Jalur lama dan baru akan kembali di Batu Lingga, tepatnya di Tanjakan Tarawangsa. Saat pendakian pertama ke Ciremai via Linggasana ini, jalur baru belum resmi digunakan, tapi waktu kedua kalinya (bulan Juli 2016) saya coba menggunakan jalur baru, bedanya? tunggu akhir tulisan ini :p

Rabu, 20 April 2016

Tepat pukul 20.00 WIB, kami berangkat dari basecamp Linggasana, setelah berdoa bersama, ditemani bulan purnama dan lembabnya tanah selepas hujan, kami berangkat melalui jalur lama Linggasana. FYI, jalur pendakian Ciremai via Linggasana/Linggarjati ini termasuk susah mendapatkan mata air, kalaupun ada musiman. Di grup saya, setiap orang membawa air minum sebanyak 4 x 1.5 liter. Jalur pendakian dimulai dari gerbang Linggasana di bawah tower sutet yang menjadi penanda yang cukup mencolok. Jalur awal ini kami melalui hutan pinus, jalanan makadam, kami juga sempat melewati makam Keramat. Setelah kurang lebih 1 jam, kita akan keluar dari hutan pinus dan sampai di Pos Pangbadakan. Penanda pos ini adalah beberapa tempat lesehan dari bambu yang menghadap kota Cirebon/Kuningan. Di sekitar Pangbadakan ini terdapat area untuk mendirikan tenda sekitar 2-3 tenda.

Kami melanjutkan perjalanan ke pos Kondang/Condang Amis yang berjarak sekitar 45 menit dari Pangbadakan. Sekitar 10 menit sebelum pos Kondang Amis terdapat percabangan jalur lama dan baru. Di pos Kondang Amis ini terdapat sebuah bangunan shelter yang bisa digunakan untuk istirahat, bahkan mendirikan 1 tenda. Saat itu kami istirahat sekitar 10 menit, Pak Firman yang memang kurang fit, saat itu nampak sudah kepayahan. Oya, perlu dicatat dari basecamp Linggasana ini treknya relatif datar, dengan gradien dari ketinggian 700 m sampai 1350 m menandakan jalur ini lumaaayan panjang. Belakangan saat turun ke basecamp, bwt saya trek awal ini justru paling melelahkan (rasanya basecamp udah deket, ternyata masih lama).

photo247343692404337223
Shelter di Pos Kondang Amis

Target awal kami tadinya bisa mencapai pos Pangalap malam itu juga, namun kondisi anggota kelompok harus selalu dipertimbangkan. Sekitar 30 menit berikutnya sebelum sampai di pos Kuburan Kuda, Pak Firman sudah tidak kuat melanjutkan, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di samping jalur yang agak miring tapi cukup luas.

Menu sederhana seperti mie instan, telur dan secangkir coklat panas menemani kami melewati malam yang cukup hangat saat itu. Setelah makan, saya pun terlelap dalam keheningan malam #tsah.

Kamis, 21 April 2016

Pagi itu saya bangun hampir kesiangan solat subuh, sebagian teman yang lain sudah terjaga, Kang Mbok malah sudah siap-siap memasak untuk sarapan. Rencana hari ini kami berangkat pukul 8 pagi dengan target pos Batu Lingga atau Sanggabuana 1 supaya tidak terlalu jauh dari Puncak. Saat pagi baru terlihat kondisi hutan di sekitar tenda yang masih rimbun. Sambil menunggu nasi siap, Kang Mbok dan Kang Derul malah sempat membuat hammock. Setelah repacking, maka jam 8 kami melanjutkan perjalanan.

DSC04214

Enaknya treking pagi-pagi adalah kondisi badan masih sangat fit, udara juga sangat segar. Hanya sekali kami menjumpai rombongan pendaki yang naik, karena hari itu memang hari kerja. Tidak jauh dari tempat kami ngecamp semalam, sekitar 15 menit kami sudah sampai di Pos Kandang Kuda. Di pos ini terdapat beberapa lahan datar yang cukup luas untuk berkemah. Konon (jangan dibalik), nama pos ini diambil dari lokasi penguburan kuda-kuda pada masa penjajahan Jepang yang digunakan untuk mengontrol perkebunan kopi yang saat ini memang ada di lereng gunung Ciremai. Secara kasat mata sih tidak terlihat jejak kuburannya, tapi katanya lokasinya ada di sebelah barat jalur pendakian. Kabarnya lagi, para pendaki yang ‘beruntung’ bisa mendengar ringkihan kuda-kuda ini :S

DSC04223
Salah satu sudut di pos Kuburan Kuda, klo beneran sebelah barat jalur sih daerah sini, hati-hati waktu ‘ngegali’ disini, hiii …

Lanjut ke pos berikutnya, treknya masih sama, tanjakan tanpa bonus. Setelah berjalan kurang lebih 45 menit, kami sampai di lapangan yang cukup luas dengan sebuah pohon besar di tengah-tengah lapangan. Dahulu tempat ini dinamakan Pos Pangalap, namun di plang nama lain di tempat sama, pos ini juga dinamakan pos Pamerangan. Menurut saya pos ini adalah pos berkemah paling luas. Saat datang ke sini saya menemui 1 rombongan pendaki yang baru turun. Dari balik rimbun pepohonan ini, saya juga sempat melihat pucuk puncak Gunung Slamet di Jawa tengah dari kejauhan.

 

Kami beristirahat sekitar 10 menit lalu melanjutkan perjalanan ke titik pendakian berikutnya : Tanjakan Sareuni/Seruni. Sebelum Tanjakan Seruni sebenarnya ada tanjakan lain yang tidak nampak di peta yakni Tanjakan Bingbin. Tanjakan Bingbin adalah tanjakan pemanasan sebelum Tanjakan Seruni, ditandai dengan plang nama Tanjakan Bingbin,  treknya berupa jalan tanah agak gembur yang menurut saya ga terjal-terjal amat, tapi kalau sudah diguyur hujan bakal sangat licin. Di beberapa tempat terdapat batang tetumbuhan yang bisa digunakan sebagai pegangan. Hanya tetap berhati-hati karena juga terdapat tetumbuhan berduri di jalur pendakian.

DSC04243

Kami sampai di Tanjakan Seruni/Sareuni sekitar 1 jam dari Pangalap. Pos tanjakan Seruni ini ditandai dengan 1 pohon yang terkapar dan bekas tebangan pohon dengan plang nama Tanjakan Seruni dan tanah lapang yang bisa digunakan 2-3 tenda. Kami sempat istirahat beberapa saat sebelum melanjutkan pendakian.

DSC04252

Nah dari pos Tanjakan Seruni ini, sepertinya baru ada pemindahan jalur karena menurut pak Firman, ditandai dengan semak-semak yang sengaja digunakan untuk menutup jalur lama, mungkin karena longsor atau jalurnya terlalu berbahaya dilalui. Jadilah kami melalui jalur yang agak memutar. Jalurnya terlihat masih gembur, bekas hujan di malam hari kemarin membuat tanah di beberapa tempat sangat licin. Setelah berjalan kurang lebih 1 jam, akhirnya kami bertemu dengan tanjakan yang legendaris : Tanjakan Bapa Tere.

 

1-10
Tanjakan Bapa Tere, somehow saya ga punya foto di tanjakan ini, padahal di tanjakan lain ada O_o (sumber foto : http://dailyvoyagers.com/blog/2016/04/09/himbauan-dan-larangan-pendakian-gunung-ceremai-via-linggarjati/)

Tanjakan Bapa Tere ini adalah tebing dengan kemiringan sekitar 80 derajat, dimana kita harus melalui akar-akar pohon untuk sampai ke atasnya. Sebenarnya terdapat jalur menyamping sehingga tidak harus meniti akar-akar pohon ini. Pun terdapat webbing yang bisa digunakan pendaki. Tapi menurut saya tanjakan Bapa Tere ini tidak terlalu menyeramkan, walaupun tinggi tetapi jaraknya pendek, tapi bukan berarti menyepelekan ya, waspada tetap harus, apalagi kalau bawa kulkas full loaded. Oya, konon tanjakan Bapa Tere ini diambil dari kejadian seorang bapa yang mengajak anak tirinya naik Ciremai, lalu dibunuh di tempat ini, well Wallahu a’lam.

Lepas dari tanjakan Bapa Tere ini, bisa istirahat sebentar di dataran sekitar yang bisa digunakan berkemah untuk 1 tenda, karena tanjakan berikutnya masih menunggu. Tidak lama dari tanjakan Bapa Tere ini, mungkin sekitar 10 menit, kita akan sampai di persimpangan antara jalur lama dan jalur baru via Linggasana/Linggarjati. Sampai sini, pak Firman kembali mengeluhkan kondisi badannya, saya dan kang Mbok diminta untuk mencari daerah lapang terdekat sebelum pos Batu Lingga untuk tempat berkemah, kebetulan jaraknya sekitar 5 menit dari titik istirahat terakhir. Tempat ini mungkin bisa digunakan untuk 2 tenda. Kami sampai di tempat kemah ini sekitar pukul setengah 2 siang. Setelah memasak sebungkus mie goreng, saya terlelap di pelukan hammock yang dibuat kang Mbok di depan tenda. Sore itu tidak ada rencana apa-apa selain istirahat menunggu summit nanti pagi, hingga malam menjelang. Setelah briefing singkat soal kapan kami summit, saya pun terlelap dalam belaian angin malam, sampai lupa kalau hari itu malam jum’at :s

Jum’at, 22 April 2016

Wwwugg… Suara melengking yang singkat, padat dan sumber suaranya rasanya cukup dekat itu sukses membangunkan saya dan teman-teman lain di dalam tenda. Itu terjadi sekitar pukul setengah 1 malam. Kami pun berspekulasi suara apakah itu, saya dan pak Firman juga sempet deg-degan, takutnya suara binatang buas. Belakangan suaranya mirip suara babi hutan jantan yang jejaknya sempat kami lihat siang kemarin. Hujan juga sempat turun hingga waktu rencana kami summit pukul setengah 2 pagi.

Kami memutuskan summit sambil menembus hujan yang masih turun berbekal jas hujan dan perlengkapan secukupnya. Setelah berdoa, setengah 2 pagi itu kami berangkat summit. Nikmat rasanya mendaki tanpa membawa keril yang berat, seperti melayang #bukansombong. Ternyata setelah 15 menit berjalan kami sudah sampai di pos Batu Lingga, yang kebetulan ditempat 2 tenda. Karena masih hujan, saya tidak sempat foto-foto, sebenarnya bawa action cam, cuma filenya entah kemana 😦 Tidak beristirahat di Batu Lingga, kami teruskan perjalanan ke pos berikutnya yakni pos Sanggabuana 1 yang berjarak sekitar 30 menit. Di pos ini kami istirahat cukup lama, terutama karena kondisi pak Firman. Di pos Sanggabuana 1 ini tempatnya cukup luas untuk 3-4 tenda. Masih diguyur gerimis, saya coba menggerak-gerakkan badan supaya badan selalu hangat. Dari pos Sanggabuana 1 ke Sanggabuana 2 sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi karena istirahat cukup lama, kami membutuhkan waktu 1 jam.

Di pos Sanggabuana 2 juga terdapat tempat cukup luas untuk 4-5 tenda dan terlindung oleh pepohonan. Berikutnya mulai dari pos Sanggabuana 2 ke pos Pangasinan, trek mulai berbeda karena kita melalui jalanan bebatuan. Butuh konsentrasi cukup untuk melalui trek dengan kemiringan hingga 70° ini, salah-salah bebatuan bisa menggelinding ke rekan kita di bawah. Di beberapa tempat kita juga harus melalui tanah yang licin setelah diguyur hujan. Butuh 1 jam perjalanan dari pos Sanggabuana 2 ke pos Pangasinan, waktu di tanjakan bebatuan kita juga sempat istirahat lumayan lama. Alhamdulillah ketika sampai di pos Pangasinan ini hujan sudah berhenti. Di kejauhan juga mulai terlihat awan yang mengarak :3

DSC04265
Yup, yang di belakang itu puncak Ceremai, bentar lagi (katanya)

Di pos Pangasinan ini terdapat tempat yang cukup untuk sekitar 5 tenda, namun kebanyakan daerah terbuka yang langsung kena paparan angin gunung. Tapi menurut saya sih ini tempat camp dengan view terbaik dan lokasinya paling dekat dengan puncak. Kami sampai di Pangasinan pukul 4.15, karena adzan subuh belum berkumandang, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan, karena konon dari Pangasinan ke puncak hanya 30 menit. Tapi ternyata, sampai pukul 5 juga belum sampe-sampe, akhirnya kami solat subuh sebisa-bisanya di tempat yang memungkinkan. Oya, di sekitar perjalanan akan ditemui banyak pohon Edelweis, diantaranya masih kecil-kecil. Selain itu juga ditemukan bekas pepohonan yang terbakar pada periode kebakaran hutan sebelumnya. Perjalanan ke puncak sendiri kita harus melalui celah-celah tanah dan batuan.

Alhamdulillah sekitar pukul 5.30 kami sampai di puncai Ceremai. Saya menjadi orang pertama yang mencapai puncak, dan sepertinya tim kami yang pertama hari itu yang summit, jadi puncaknya masih kosong :O Tidak beberapa lama kawan-kawan lain menyusul sampai di puncak.

Rembulan sempat terlihat terbenam di puncak Ceremai, di arah kota Cirebon dan Kuningan saya melihat kawanan awan yang mengarak. Rasanya sudah lama saya tidak mendapatkan view lautan awan seperti ini.

Syukur alhamdulillah kami panjatkan saat itu, karena dengan persiapan yang minim kami diizinkan Allah menggapai puncak atap Jawa Barat ini. Waktu itu view sunrisenya mungkin kurang sempurna karena matahari masih saja bersembunyi di balik awan. Tapi semakin siang, pemandangan lautan awan malah semakin menakjubkan. Kami pun beruntung bisa melihat puncak Gunung Slamet dari kejauhan. Konon Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing juga bisa terlihat dari puncak Ceremai ini.

Sementara pemandangan ke tengah puncak Ceremai ini juga tidak kalah menakjubkan yakni kaldera kawah ceremai dengan diameter hingga 1 km. Kawah Ceremai terdiri dari 2 kawah, kawah barat dan kawah timur. Di kawah timur ini kita bisa melihat danau genangan hujan yang tertampung di kawah serta vegetasi khas puncak.

Lama-lama berada di puncak ini saya pun kedinginan, apalagi matahari juga tak kunjung muncul, kami pun sempat memasak mie instan dan minuman hangat untuk mengisi perut dan mengusir dingin. Semakin siang, lautan awan tidak kunjung berhenti, kalau sudah ada lautan awan ini rasanya malas sekali turun, kalo ngga inget yang di rumah mungkin pengen extend :3

Setelah 1.5 jam berada di puncak, pukul 7 pagi kami beranjak turun ke tenda kami. Kami pun bertemu dengan pendaki-pendaki lain yang akan summit. Perjalanan ke tempat camp kedua kami ternyata tidak begitu lama, sekitar 2 jam, itu pun sudah termasuk waktu ‘setoran’ di semak-semak tadi. Jam 9 kami sampai di tenda, niatnya kami akan pulang cepat, namun hujan kembali turun, akhirnya setelah masak kami pun ketiduran sampai pukul 11. Setelah agak reda, kami langsung packing dan meluncur ke basecamp Linggasana. Kondisi trek yang licin karena diguyur hujan membuat perjalanan turun tidak mudah karena harus selalu berhati-hati, tak jarang saya tergelincir. Akhirnya setelah perjalanan turun sekitar 5.5 jam, kami sampai di basecamp pukul 16.30. Rasanya kaki ini sudah mau copot, apalagi trek dari Condang Amis ke basecamp itu yang sedianya estimasinya cuma setengah jam, menjadi 1.5 jam entah kenapa rasanya kok trek itu panjang bener. Apalagi dari kejauhan sudah terlihat tower sutet tapi kok ga sampe-sampe.

Tapi bodo amat, yang penting kami sampai di basecamp dengan selamat. Sampai di basecamp kami disambut seteko teh manis hangat dan dimasakkan mie goreng telor plus nasi (ekspektasinya sih nasi ayam goreng -_-) dan sertifikat. Setelah solat magrib dan isya, kami lanjutkan perjalanan pulang. Well, hikmah dari perjalanan ke Ceremai kali ini adalah walaupun perjalanannya terkesan dadakan, mungkin memang sudah rencana Allah kami summit waktu itu dan diberikan pemandangan yang sangat indah. Benar juga pepatah pendaki yang bilang “Tak akan lari gunung dikejar” karena “Gunung yang tepat akan mendatangi pendaki yang telah siap”. Itu …

photo247343692404337294
Salam dari Puncak Ceremai 🙂

DSC04319

DSC04389
Puncak Ceremai, 3078, asli, bukan pake fake GPS :v
DSC04453
View laut selatan
DSC04392
Pose men-strim

Info Basecamp Linggasana :

  • Pak Pen : 0823-1603-6615
  • Pak Yatna : 0857-2447-9446

Cost Damage :

  • Logistik : 50rb/orang
  • SIMAKSI : 50rb/orang
  • transportasi : gratis (dibayarin)

Resume waktu perjalanan :

  • Rabu 19 April 2016
    • 20.00 berangkat basecamp linggasana
    • 21:45 sampe condang amis
    • 22.15 sampe tempat camp malam pertama, antara condang amis-kandang kuda
  • Kamis 20 april 2016
    • 8.30 berangkat tempat camp malam pertama
    • 8.45 sampe kandang kuda
    • 9.30 sampe pangalap
    • 10.30 sampe tanjakan sareuni
    • 13.00 sampe tanjakan bapa tere
    • 13.30 sampe tempat camp malam kedua, antara tanjakan bapa tere-batu lingga
  • Jum’at 21 april 2016
    • 01.30 summit, dari tempat camp malam kedua
    • 01.45 sampe pos batu lingga
    • 02.15 sampe pos sanggabuana 1, istirahat
    • 03.15 sampe pos sanggabuana 2
    • 04.15 sampe pos pangasinan
    • 05.30 sampe puncak
    • 07.00 mulai turun dari puncak
    • 09.00 sampe tempat camp malam kedua
    • 09-11.00 nunggu hujan reda
    • 11.00 mulai turun ke basecamp
    • 14.30 sampe pos condong amis
    • 16.30 sampe basecamp linggasana

Meniti Tanjakan Tiada Akhir di Gunung Cikuray 2821 Mdpl

It’s always further than it looks.

It’s always taller than it looks.

And it’s always harder than it looks.

3 Rule of Mountaineering

Quote di atas memang sangat berlaku untuk semua perjalanan pendakian, apalagi gunung yang akan saya jelajahi kali ini. Nah, berawal dari kegagalan untuk menapaki puncak tertinggi Pulau Jawa, akhirnya saya dan teman-teman di grup Anjasss memilih menapaki puncak tertinggi Priangan Timur : Gunung Cikuray. Gunung Cikuray sendiri terletak di kabupaten Garut. Gunung dengan ketinggian +- 2818 mdpl ini dapat kita lihat jika melalui jalan antara Garut-Tasik. Gunung Cikuray di kalangan pendaki lazim dimasukkan ke dalam rangkaian gunung Paguci (Papandayan, Guntur, Cikuray) karena letaknya cukup berdekatan. Bahkan beberapa pendaki tak jarang melakukan double summit (mendaki 2 gunung sekaligus dalam 1 rangkaian pendakian, ga harus 1 hari ya).

DSC02969
Rangkaian Gunung Paguci : Cikuray (kerucut di tengah), Papandayan (paling kanan), dilihat dari gunung Guntur.

Berbekal informasi dari google dan teman-teman pendaki lain, akhir Mei 2016 itu kami berangkat menuju Garut. Nah, yang membuat saya tertarik dengan gunung ini adalah bentuk kerucutnya yang akan terlihat sangat mencolok jika kita lihat dari jalan Garut-Tasik. It made me wonder, bagaimana pesona alam dan trek pendakian gunung yang dikenal dengan trek “dengkul ketemu lutut” ini.

Untuk mencapai puncak Gunung Cikuray sendiri terdapat beberapa jalur pendakian yang lazim digunakan : Cikajang, Bayongbong, Cilawu/Pemancar. Menurut beberapa informan, jalur Cikajang adalah jalur yang paling landai dan relatif mudah dilalui, tetapi lintasannya paling panjang. Sementara jalur Bayongbong terhitung sebagai jalur yang pendek namun jalurnya paling sulit. Terakhir, yang paling sering dilalui adalah lewat jalur Cilawu via Pemancar. Di jalur Cilawu sendiri ternyata ada beberapa titik pendakian diantaranya dekat gerbang utama Perkebunan Dayeuhmanggung, Patrol, dan (yang terbaru) Kiarajenggot. Untuk jalur Dayeuhmanggung & Patrol akan bertemu di basecamp Pemancar. Jika melalui jalur Kiarajenggot tidak akan lewat Stasiun pemancar, tapi nantinya akan bertemu di jalur Pemancar di sekitar pos 6-7.

Kami memilih lewat jalur Cilawu dekat dengan gerbang utama perkebunan Dayeuhmanggung. Ini juga karena saya kurang informasi, biasanya pendaki memilih jalan lewat Patrol, karena jalannya relatif lebih bagus. Nah, jika kita menggunakan kendaraan umum dari Bandung, bisa menggunakan elf Bandung-Garut turun di terminal Guntur, sekitar Rp. 35rb, lanjut dengan angkot Guntur-Cilawu warna putih biru/abu-abu sekitar Rp. 7-10rb. Saya sendiri memakai sepeda motor (yang saya sesali belakangan).

Screen Shot 2016-06-10 at 1.48.35 AM
Persimpangan jalan utama dengan jalan perkebunan Dayeuhmanggung menuju basecamp Pemancar

Setelah menunggu teman-teman yang menggunakan angkot, selanjutnya kami memilih menggunakan ojek sampai ke Pemancar. Biayanya Rp. 35-40rb, biasanya sih sudah segitu, ga bisa ditawar lagi. Pilihan lainnya adalah menggunakan mobil bak terbuka (pick up), harganya juga segitu, dan biasanya baru berangkat jika sudah ada 10 orang. Kalau tidak menggunakan kendaraan, kita juga bisa berjalan kaki hingga basecamp, menurut informasi sih sekitar 3 jam perjalanan. Lumayan juga, apalagi masih bawa beban lengkap. Saran saya sih setelah melalui treknya yang bikin banyak berdoa, jangan bawa motor matic! mending pakai ojek/pick up saja, harga segitu sudah sip, coba saja :)).

Lanjut, kami melalui perkebunan teh Dayeuhmanggung yang sangat asri. Jalanan yang dilalui adalah jalan makadam, disertai banyak percabangan. Ini juga pertimbangan lain untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi. Perjalanan ditempuh sekitar 45 menit. Akhirnya sekitar pukul 14.00 kami sampai di Stasiun Pemancar. Stasiun Pemancar ini adalah stasiun televisi yang aktif dan digunakan oleh MNCTV dan Global TV. Di sekitar stasiun pemancar sendiri terdapat warung, mushola dan toilet umum yang cukup bersih, jadi bisa mandi atau nitip ngecharge HP dulu. Selain itu terdapat tempat penitipan motor & helm yang dibandrol Rp. 10rb, yang tempatnya cukup aman.

DSC05596
Basecamp Stasiun Pemancar Cikuray

Di basecamp pemancar ini tidak ada pungutan apapun, karena registrasi dan retribusi dilakukan di Pos 1 yang berjarak sekitar 30 menit. Sekitar pukul 15.00 kami melanjutkan perjalanan ke pos 1. Nah, perjalanan awal ini pun kita sudah disuguhi tanjakan cukup terjal dan licin melalui perkebunan teh.

DSC05593

Setelah 15 menit dari basecamp pemancar, kami sampai di Pos 1 yang ditandai dengan plang Gunung Cikuray dan pos registrasi. Di pos registrasi ini kita diwajibkan mengisi log book yang menginformasikan nama, anggota kelompok, nomor HP yang bisa dikontak, dan membayar retribusi Rp. 15rb/orang. Kita tidak perlu melampirkan kartu identitas di sini. Oya, di sekitar pos 1 ini juga terdapat beberapa warung dan toilet.

Dari pos 1, kami lanjutkan perjalanan ke pos 2 yang berjarak sekitar 1,5 jam. Di awal perjalanan kami langsung disuguhi tanjakan yang cukup cihuy, yet dinamai Tanjakan Cihuy! Tanjakan ini sih cukup parah kalau dilalui pas hujan-hujan, licin banget, sebaiknya gunakan sandal/sepatu yang gripnya masih bagus, kalau perlu gunakan treking pole.

DSC05574
Salah satu tanjakan ‘alay’ yang ada di Cikuray, Tanjakan Cihuy!

Menuju pos 2, kami melalui perkebunan warga hingga batas hutan. Treknya masih relatif landai, tapi yang menyulitkan jalan tanahnya cukup licin dan jarang ada akar atau tumbuhan untuk pegangan. Pemandangan yang cukup ajaib kami saksikan saat melalui jalur ini. Kabut dan gerimis mengiringi perjalanan kami, membuat trek yang kami lalui lebih licin, saat itulah kami menjumpai sekelompok pendaki remaja (cewek cowok) yang tengah turun, tanpa jas hujan, dan … sendal jepit! Bikin gemes aja #eh, bahkan hal ini tidak sekali kami jumpai di sini. Setelah melalui perjalanan sekitar 1,5 jam, sampailah kami di Pos 2, ditandai dengan tanda penunjuk. Di pos 2 ini area cukup sempit didominasi akar pohon dan rasanya sulit mendirikan tenda di sini.

DSC05558

Setelah istirahat, kami lanjutkan ke pos berikutnya : Pos 3. Dari sini tanjakan lebih terjal lagi dan jalanan didominasi akar pepohonan. Tidak jarang, kami melalui trek yang menjadi julukan trek Cikuray : “dengkul ketemu dagu”. Di perjalanan ini, kami melalui salah satu tanjakan yang cukup populer : Tanjakan Sanghyang Taraje. Namanya memang sama dengan salah satu air terjun di Garut, tapi di jalur ini kami tidak menemui mata air, apalagi air terjun.

DSC05552.jpg
Tanjakan Sanghyang Taraje, cihuy juga

Setelah  1,5 jam melalui trek yang tanjakannya berasa tiada akhir dan meniti akar-akar sampailah kami di pos 3. Di pos 3 ini terdapat dataran yang cukup untuk mendirikan sekitar 4-5 tenda. Saat kami kesana sudah ada 2 tenda milik teman-teman dari Cimahi. Mereka sempat mengajak kami camp di pos 3 saja, mungkin biar ga kesepian, tapi karena kami merasa masih kejauhan dari puncak, kami putuskan lanjut ke pos 6. Oya, sepanjang perjalanan tadi kami berpapasan dengan pendaki lain yang turun. Kabarnya, akhir-akhir ini kawanan babi hutan sedang agresif, jadi kami disarankan untuk camp di pos 6.

DSC05551
Pos 3

Kami sampai di pos 3 sekitar pukul 18.00, di kejauhan adzan magrib berkumandang, malam pun menjelang, headlamp pun dinyalakan. Walaupun sudah malam, tapi trek di Cikuray ini relatif jelas, panduannya sih : klo ga nanjak, berarti salah jalan 😀 Trek yang tanpa bonus kami lalui sampai tibalah di pos 4 sekitar 15 menit kemudian. Rupanya memang tidak salah yang dibilang teman-teman pendaki yang kami temui, trek dari pos 3-6 sebenarnya relatif dekat. Di pos 4 sendiri tanahnya cukup miring dan sepertinya jarang digunakan untuk camp. Dingin memaksa kami agar terus berjalan supaya badan tetap terasa hangat. Perut saya mulai berontak, akhirnya diinfus dulu dengan Choki-choki. Sekitar 30 menit berikutnya kami sampai di pos 5. Kondisinya relatif sama dengan pos 4, tempatnya cukup rimbun.

Sekitar 30 menit berjalan menuju pos 6, saya mulai melihat temaram lampu dari tenda. Benar saja, akhirnya kami sampai di pos 6 pada pukul 19.30. Di pos 6 yang kadang dibilang Puncak Bayangan (beberapa bilang puncak bayangannya di pos 7) ini sudah berdiri sekitar 8 tenda. Kami memilih mendirikan tenda di dekat bangunan yang sepertinya sih warung, harapannya warungnya buka, jadi bisa beli gorengan (belakangan kabarnya warungnya cuma buka setiap weekend).

Menemani malam, kami memasak mie instan dan menggoreng Cireng yang saya bawa, rasanya nikmat banget. Oya, yang lucu, teman saya Rifky (Kimong) membawa mie Shin Ramyun (dari Indom*aret), waktu itu belum ada label halalnya. Jelaslah kami berempat berdebat, tapi si Kimong bilang “Udah gua tanya mas-mas Indomaretnya ini halal kok, di tempat itu juga ga jualan produk non-halal”. Tapi si Indra (Badaq) bilang mienya paling enak, kayaknya emang beneran haram :)) Habis makan, dibahas lagi, gitu terus sampe Kangen Band duet sama Siti Nurhaliza -_- Sekitar pukul 10 malam, setelah briefing untuk summit jam setengah 4 subuh nanti, kami lanjut tidur.

Saya tidur paling dekat dengan pintu tenda, agak was-was sih dengan isu babi hutan yang beredar, jadi tidur juga kurang nyenyak. Apalagi 3 orang komplotan setenda ini ngoroknya kenceng banget, tiap kebangun bingung antara ini suara ngorok apa suara babi hutan. Bukan kenapa-kenapa, takutnya suara ngoroknya dikira teman-temannya si babi hutan :))

Akhirnya jam setengah 4 subuh menjelang, di samping tenda, teman-teman pendaki lain mulai menampakkan aktivitas. Beberapa tengah membuat api unggun dan membuat air panas, yang lain subuh-subuh gini udah sesi curhat aja, busyet dah. Perkiraan sampai puncak dari pos 6 sih sekitar 1.5-2 jam, jadi kami bisa sampai di sana sebelum sunrise.

Setelah berdoa, saya bawa perlengkapan lenong, air dan snack secukupnya, kami lanjutkan perjalanan ke puncak, tentunya treknya masih menanjak, tapi kali ini treknya didominasi semak belukar, sesekali melewati akar-akar pohon. Di perjalanan ke puncak ini kami melihat persimpangan dengan trek lain (Kiara Jenggot). Petunjuknya cukup jelas jika kita akan kembali ke pemancar, jadi insyaallah tidak akan tersesat. Sepanjang perjalanan kami juga tetap waspada kalau-kalau si babi menyapa, walaupun katanya babi hutan jarang menyerang kalau orangnya banyakan.

DSC05520

Sampai di pos 7, setelah berjalan sekitar 45 menit. Di pos ini dataran cukup luas, mungkin bisa digunakan lebih dari 6 tenda, saat itu ada 3 tenda. Sebuah tanda peringatan serangan babi hutan/bagong ditemukan di pos ini.

DSC05509
Peringatan serangan babi hutan di Pos 7

Mendekati puncak, kondisi trek mulai berubah, pepohonan mulai tidak terlalu rapat, sesekali ditemui jalanan berbatu, di kejauhan samar-samar terdengar pendaki-pendaki yang berteriak. 30 menit berikutnya sampailah kami di Puncak Cikuray yang ditandai dengan sebuah shelter. Alhamdulillah segera saya panjatkan saat itu. Karena kami naik bukan saat weekend, di puncak pun hanya ada sedikit pendaki. Menurut cerita pendaki lain, waktu long weekend sebelumnya, Cikuray ini padat banget, tempat camp pun sampai di puncak.

DSC05362

Dari puncak Cikuray ini kita bisa melihat panorama kota Garut dan sekitarnya. Di kejauhan kita bisa melihat beberapa gunung baik yang ada di Garut seperti Papandayan dan Guntur, maupun tetangganya seperti Ciremai dan Tampomas. Selain itu juga terlihat kepulan uap yang diluminasi lampu yang berasal dari PLTG Darajat.

DSC05365
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Darajat
DSC05351
Saling deketan bukan karena modus, tapi karena dingin :s
DSC05359
Calling for nearest autobot

Pagi itu terasa sangat syahdu, tidak terasa dinginnya mulai menusuk kalbu #setdah. Matahari baru akan terbit sekitar 30 menit lagi, sialnya kami ga bawa kompor untuk bikin air panas, lapisan jaket juga tidak terlalu membantu. Akhirnya kami ikut menghangatkan diri di dalam shelter yang di dalamnya ternyata ada yang mendirikan tenda, 2 biji pula :))

Kali ini sepertinya kami kurang beruntung, saat momen matahari terbit kabut muncul bahkan disertai angin cukup kencang, sepertinya kami berada dalam badai karena angin dan kabutnya berputar di sekitar puncak saja. Kami memutuskan menunggu sampai sekitar pukul 8 pagi. Pendaki-pendaki lain mulai berdatangan ke puncak, mulai dari orang Garut sendiri, Jakarta, Bandung dan Cimahi.

Hingga pukul 8, kabut masih datang, namun sesekali pemandangan cukup jelas, kami bisa melihat kembali panorama kota yang dijuluki Swiss van Java ini. Selain panorama kota dan pegunungan, ternyata kita bisa melihat pantai selatan Garut.

DSC05502
Dilihat dari posisinya sih sepertinya pantai Karang Paranje

Oya, selain terkenal dengan tanjakannya yang tiada akhir, Cikuray sendiri terkenal dengan lautan awannya, sayangnya sampai jam 8 pagi itu sepertinya kami belum berkesempatan melihat fenomena tersebut. Mempertimbangkan teman-teman yang harus pulang ke Jakarta, pukul 8 tersebut kami langsung turun ke tenda kami di pos 6. Saat perjalanan turun itulah, baru kelihatan jalurnya ternyata memang lumayan 😀

DSC05528

Perjalanan dari puncak ke pos 6 hanya memakan waktu 45 menit. Setelah sarapan brunch sekitar jam 11 kami memutuskan turun ke basecamp. Beruntung cuaca saat itu lumayan baik, jadi treknya jadi tidak terlalu licin. Kami sampai di pos 1 sekitar pukul 12.30, beruntung lagi karena pas datang, pas hujan turun cukup deras. Setelah agak reda, kemudian checkout di pos penjagaan, kami lanjutkan perjalanan.

DSC05556
Jangan takut kehabisan tanjakan, banyak stoknya di Cikuray

Di pos 1, do you think it’s over yet? Belum kawan, trek dari pos 1 ke basecamp pemancar yang melewati kebun teh ini berupa tanah gembur yang setelah hujan turun, licinnya minta ampun, kami menghabiskan waktu hampir 20 menit karena tidak bisa berjalan cepat. Saya sendiri terjerembab beberapa kali.

DSC05592

Sampai di pos pemancar, sambil nunggu hujan yang turun lagi, saya cari gorengan, saat itu kami ditawari angkutan pickup turun seharga Rp. 35rb sudah termasuk angkot ke terminal guntur, tawaran tersebut jelas diambil. Saya sendiri sebenarnya klo motornya bisa diangkut sih, mending pakai pickup saja :)) Apa daya, akhirnya saya bawa motor tepat di belakang pickup karena takut nyasar di perkebunan walaupun terbanting-banting, sambil berdoa dalam hati moga-moga ban ga sempet bocor. Kami turun melewati jalur yang berbeda, ternyata lewat Patrol, kondisi jalannya relatif bagus dibanding jalur kemarin. FYI, kalau lewat jalur patrol, kita akan melalui portal yang mengharuskan kita membayar retribusi Rp. 10rb, kalau turun sih ga bayar apa-apa. Saat sudah sampai di jalan raya yang aspalnya mulus, saya langsung bersyukur, yah walaupun perjalanan pulang masih 3 jam lagi. Alhamdulillah, selesai sudah rangkaian gunung Paguci ini. Saya berpamitan dengan teman-teman dari Jakarta.

Yang perlu mendapat catatan besar adalah Cikuray ini adalah salah satu gunung yang paling kotor, sampah tersebar di banyak titik, walaupun papan peringatan untuk membawa turun sampah juga terpampang di sepanjang jalur pendakian. Overall trek Cikuray ini terhitung unik, mulai dari titik ‘pendakian’ dari pangkalan ojek, jalurnya cukup jelas, viewnya walaupun ‘kalah’ dari Guntur, tetapi saya sendiri masih penasaran dengan view lautan awannya, so insyaallah definitely come back someday.

DSC05512
Suasana di Pos 7

851416671_13939317727794939631

Cost Damage

  • Terminal Guntur-Pangkalan ojek Dayeuhmanggung/Patrol : Rp. 7rb-10rb.
  • Ojek naik dari pangkalan ojek ke pemancar : Rp. 40rb (pastikan uang pas, kalau ngasih 50rb, kadang dibilang ga ada kembalian -_-), kalau ojek turun Rp. 35rb sudah termasuk ongkos angkot ke terminal Guntur.
  • Retribusi lewat Patrol Rp. 10rb.
  • Simaksi : Rp. 15rb/orang.
  • Gorengan : Rp. 1rb/biji.
  • Nitip motor : Rp. 10rb/malam

Catatan

  • Waktu yang ditempuh antar pos :
    • Pos Pemancar – Pos 1 : 15 menit
    • Pos 1 – Pos 2 : 1.5 jam
    • Pos 2 – Pos 3 : 1.5 jam
    • Pos 3 – Pos 4 : 15 menit
    • Pos 4 – Pos 5 : 30 menit
    • Pos 5 – Pos 6 : 45 menit
    • Pos 6 – Pos 7 : 45 menit
    • Pos 7 – Puncak : 30 menit
    • Total : 6 jam
  • Tidak ada mata air di sepanjang trek, jadi pastikan bawa air minum yang cukup dari bawah.
  • Mushola, toilet, tersedia di pos pemancar & pos 1.