Catatan Perjalanan Susur Pantai Selatan Jawa Barat : Part 3, Pantai Jayanti

Search not for a friend in time of need, for a true friend shall find thee – Aristoteles

6 April 2016

Siang itu menunjukkan sekitar pukul 14.00 saat kami meninggalkan Curug Cikaso. Perjalanan dari Curug Cikaso kami lanjutkan ke obyek wisata berikutnya, yaitu Pantai Jayanti. Hujan mengguyur cukup deras saat kami memasuki daerah Tegalbuleud yang dikelilingi hutan karet dan hutan jati. Kondisi jalan masih mulus dan berkelok-kelok melalui perbukitan.

Sesekali kami berpapasan dengan pengendara lain, termasuk teteh-teteh yang masih berpakaian seragam lengkap, membawa motor tanpa jas hujan di tengah hujan yang lebat, pengen rasanya diajak bareng aja, kan kasian motornya #eh. Oya kondisi jalanan seperti ini mengingatkan saya lagi dengan jalan antara Belitung barat dan Belitung timur. Jarang sekali ditemui permukiman penduduk, apalagi pom bensin, sepi.

DSC03725

Kondisi jalanan yang mulus ini dilalui sekitar 1.5 jam sampai tiba-tiba kami melalui jalan yang nampaknya semalam dihujani meteor. Cek di peta, rupanya kami sudah sampai di sekitar perkebunan Agrabinta yang termasuk ke dalam wilayah kabupaten Cianjur. Perkebunan ini menjadi batas wilayah antara kabupaten Cianjur dan Sukabumi.

Dengan kondisi jalan seperti ini, praktis mobil kami tidak bisa melaju dengan cepat, ada mungkin 20-30 km/jam, sesekali kolong mobil harus beradu dengan batu karena tidak ada pilihan jalan lain. Di beberapa lokasi juga ada perbaikan jalan seadanya yang dilakukan oleh warga. Di sekitar perkebunan ini dapat ditemui warung-warung (dan klo ga salah juga ada yang jual bensin), mobil setum yang teronggok dan truk-truk pengangkut kayu. Sekitar 15 menit kami melalui jalan ini, sampai akhirnya bertemu dengan jalan mulus lagi dan mobil pun dipacu lebih kencang, #fiuh.

DSC03748
tarik maang …

Oya, sepanjang perjalanan kita juga akan menemui beberapa sungai dan jembatan (di antaranya cukup panjang).

DSC03750

Nah, jika sudah mulai banyak ditemui jembatan dan permukiman warga, artinya kita sudah memasuki daerah Sindangbarang. Di Sindangbarang ini terdapat SPBU, minimart mesjid raya dan Alun-alun Sindangbarang. Kami sampai di Sindangbarang sekitar pukul 4 sore, sayangnya kami tidak banyak menghabiskan waktu di sini, cuma lewat.

DSC03753

Dari Sindangbarang, mungkin sekitar 1 jam kita melalui jalan raya Cidaun, kita akan menjumpai persimpangan antara jalan utama dan Pantai Jayanti. Untuk menuju pantai Jayanti, belokkan kendaraan ke sebelah kanan, yang ditunjukkan plang penunjuk arah.

Memasuki gerbang pelabuhan Jayanti, akan dijumpai pos tiket, namun karena kami datang saat sore (jam 5), sepertinya petugasnya sudah pulang, jadi kami tidak membayar apa-apa. Tidak lama sekitar 10 menit, kami sampai di area pelabuhan Jayanti.

DSC03759

Kondisi langit yang mendung mengurungkan niat saya untuk berburu sunset. Struktur pantai Jayanti ini terdiri dari pepasir hitam dan bebatuan (sepertinya bukan karang). Di sekitar pantai ini terdapat banyak perahu nelayan yang bersandar (ya iya lah namanya juga pelabuhan), pasar ikan, dan beberapa mercusuar. Ombak yang cukup kencang menjadi alasan yang cukup kuat untuk larangan berenang.

DSC03763
Sore mendung di Jayanti

Dari mercusuar (entah masih beroperasi atau tidak), kita dapat melihat pantai Jayanti secara luas dari ketinggian. Kondisi mercusuarnya sendiri rasanya cukup ringkih, terdapat tangga (tambang) yang bisa digunakan pengunjung untuk naik ke mercusuar. Saya sendiri cuma berani ke lantai dasar mercusuar.

Hal yang saya sukai dari pantai ini adalah kombinasi dari pasir, obyek foto yang mencolok (mercusuar), bebatuan dan ombak yang cukup besar menjadi komposisi yang menarik untuk foto slow speed, kurang milkyway aja sih ini 😀

DSC03776
mendung galau di Jayanti …

Ombak semakin berdebur kencang dan air laut juga mulai pasang, akhirnya kami berjalan-jalan di sekitar pelabuhan ini, rupanya terdapat beberapa penginapan, sayangnya saya tidak sempat bertanya rate-nya berapa. Sebelum meninggalkan pantai Jayanti, saya sempatkan naik ke mercusuar berwarna biru yang ditemui saat memasuki pelabuhan, tingginya mungkin sekitar 10m, yah lumayan lah dapet bird view tanpa drone :3

Sepertinya mercusuar ini memang tidak dirancang untuk dinaiki banyak orang, soalnya ketika sampai di puncak, waktu itu ada 5 orang di atas, saya pribadi merasakan mercusuarnya goyang :)) Entah faktor angin atau memang struktur mercusuarnya seperti itu, saya memutuskan untuk segera turun. Secara umum, saya menyukai pantai ini karena terdapat komposisi obyek foto yang jarang ditemui di tempat lain di pantai selatan Jawa Barat seperti yang saya sebutkan sebelumnya, jadi cocok lah buat para fotografer landscape. Kalau dari segi fasilitas, sepertinya sih sudah cukup, karena pantai ini memang tidak ditujukan untuk berenang jadi saya tidak menemui kamar ganti umum, selain itu tempat parkir luas, tempat makan dan penginapan juga tersedia. Saya sih ga terlalu berharap pantainya seramai pantai Santolo atau Pangandaran.

Tidak berapa lama, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Sayangheulang, tunggu catatannya di tulisan berikutnya 😉

DSC03777
Ciao, Jayanti

 

Iklan

Catatan Perjalanan Susur Pantai Selatan Jawa Barat : Part 2, Curug Cikaso

I turn the music up, I got my records on
I shut the world outside until the lights come on
Maybe the streets alight, maybe the trees are gone
I feel my heart start beating to my favourite song

And all the kids they dance, all the kids all night
Until Monday morning feels another life
I turn the music up
I’m on a roll this time
And heaven is in sight

As we soar walls, every siren is a symphony
And every tear’s a waterfall

Every Teardrop Is A Waterfall – Coldplay

Setelah (belum) puas explore pantai Ujunggenteng hari sebelumnya, perjalanan susur pantai selatan Jawa Barat ini saya lanjutkan. Susur pantai tidak selamanya mengunjungi objek wisata pantai, khususnya di daerah sekitar Ujunggenteng ini terdapat obyek wisata air terjun yang sudah sudah cukup terkenal : Curug Cikaso.

Curug yang terletak di kampung Ciniti, Kecamatan Surade ini terletak di segmen jalan Ujunggenteng-Tegalbuleud yang hari sebelumnya kami lewati. Dari Ujunggenteng, kendaraan kami arahkan ke Surade, sampai pertigaan depan Indomaret Surade. Curug Cikaso ini juga sebelumnya pernah saya kunjungi tahun 2010an. Kebetulan waktu itu kemarau, jadi aliran curug ini juga seiprit, tapi membuat kolam yang terbentuk dari curahan air terjun ini berwarna biru jernih, nyesel waktu itu ga sempet renang.

1916431_105451019471229_3000628_n
saya kira-kira beberapa tahun yang lalu, ga terlalu beda dengan yang sekarang :p

Karena kami datang saat musim penghujan, ekspektasi saya aliran air curugnya akan cukup deras dan airnya cukup keruh. Setelah kurang lebih menghabiskan waktu sekitar 1 jam perjalanan, akan ditemui percabangan yang menunjukkan gerbang masuk Curug Cikaso.

Screen Shot 2016-04-27 at 7.13.10 PM

Melewati gerbang masuk curug Cikaso, kita akan langsung bertemu petugas yang menarik retribusi Rp. 3000/orang, ditambah Rp. 15.000/mobil. Saat itu karcis masuknya hanya diberikan 3 buah saja dari uang Rp. 15.000 yang kami bayarkan, sisanya wallahu’alam.

DSC03722DSC03720

Melewati gerbang, akan ditemui percabangan : kiri dan kanan, jalan ke kiri menuju ke tempat parkir, sementara jalan ke kanan adalah jalan masuk langsung ke Curug Cikaso (padahal mah sama-sama aja, di jalan ke kanan juga terdapat lahan parkir -_-). Kami melalui jalan ke arah kiri. Tiba di tempat parkir, terdapat warung yang menyediakan nasi dan minuman. Karena kami tiba di sana sekitar 10 menit sebelum adzan Dzuhur, kami disarankan untuk menunggu Dzuhur (takut ada apa2, ceunah). Sambil nunggu adzan kami sempat ngopi. Saat ngopi itulah, kami ditemui (sebut saja) Abah Anom. Dengan logat khas orang Jampang, Abah Anom bercerita tentang latar belakang beliau termasuk kedekatan beliau dengan dalang ternama (alm.) Asep Sunandar Sunarya.

Selanjutnya beliau bercerita bahwa dulu Curug Cikaso ini termasuk tempat keramat yang tidak bisa didatangi sembarang orang. Diceritakan beliau sempat bertapa beberapa minggu untuk meminta ‘penunggu’ curug agar curug ini bisa didatangi orang banyak. Abah Anom selanjutnya menceritakan, di Curug Cikaso ini terdapat 3 buah air terjun utama dimana masing-masing curug bersemayam Nyai Blorong (penunggu Curug Aseupan), Eyang Santang (penunggu Curug Meong), dan Prabu Siliwangi (penunggu Curug Aki). Berkat komunikasi Abah Anom (lewat pertapaannya), singkat kata penunggunya membolehkan Curug dikunjungi dari jam 7 pagi hingga 17.30. Walaupun begitu, Abah Anom tetap mengingatkan supaya tetap berhati-hati dan menjaga kesantunan di curug nanti.

Setelah solat Dzuhur di mesjid yang terdapat di dekat lahan parkir, kami melanjutkan perjalanan ke curug. Untuk menuju curugnya sendiri, sebenarnya terdapat 2 jalan : menggunakan perahu yang disediakan pengelola, dan menggunakan jalan darat melalui persawahan. Karena sebelumnya saya pernah ke curug menggunakan perahu, tadinya kami memutuskan pergi berjalan kaki. Dari mesjid kita tinggal melangkahkan kaki menuju persawahan. Karena tidak terdapat petunjuk menuju curug melalui jalan darat, eh ujung-ujungnya kami bertemu tempat parkir lain (dan ternyata lebih dekat ke dermaga :)) ).

DSC03718
Pos retribusi perahu menuju Curug Cikaso

Yasudahlah, akhirnya kami menggunakan jasa perahu yang ditarif Rp. 60.000/perahu yang bisa digunakan untuk 10 orang. Perjalanan menuju curug menempuh waktu sekitar 10 menit melalui sungai Cikaso yang saat itu alirannya sedang cukup deras.

Perahu diarahkan ke sungai yang lebih kecil dan tenang, menuju Curug Cikaso. Di percabangan sungai besar dan kecil ini akan jelas terlihat perbedaan warna aliran sungai. Sungai kecil berwarna hijau toska, berbaur dengan aliran sungai besar berwarna coklat.

Di pinggir sungai kami menemui warga yang tengah memancing, menemani kami  yang tidak terasa sudah sampai di dermaga Curug Cikaso. Dari dermaga, kami berjalan sekitar 5 menit sampai ke Curug. Di curug ini dapat ditemui sebuah warung dan fasilitas seperti toilet dan kamar ganti dengan kondisi seadanya.

Di tengah siang hari yang terik, kami bagaikan musafir yang menemukan oase di tengah gurun ketika akhirnya menemui kompleks curug Cikaso yang terdiri dari 3 curug besar. Sayangnya memang aliran air di curug ini masih cukup deras, sehingga kolam di bawah air terjun ini tidak terlihat bening seperti yang saya lihat dahulu kala. Kami diizinkan untuk berenang di Curug Aki (curug paling kanan) karena curah air tidak terlalu besar dan dasar kolam cukup dangkal.

DSC03671
(dari kiri ke kanan) Curug Aseupan, Curug Meong, Curug Aki

Seperti biasa, saya segera menyiapkan perlengkapan lenong untuk mengabadikan pemandangan di tempat ini. ND filter (GreenL ND2000 filter) menjadi sahabat saya mengabadikan curahan air curug ini supaya dapat dinikmati dengan slow shutter, sehingga alirannya terlihat seperti kapas/susu.

DSC03682
maafken jika ada color cast, maklum ND filter murah 😉
DSC03698
Foto all crew

Tidak ada dari kami yang berenang di curug ini karena, niatnya memang cuma mampir, sambil foto-foto. Oya, kesulitan saya pribadi terutama untuk mengambil foto di tempat ini adalah karena derasnya curahan air, banyak cipratan air yang mengenai lensa dan kamera. Akibatnya seringkali saya harus mengelap kamera dan lensa supaya tidak kabur (gambarnya :p). Karena harus mengejar target ke obyek wisata lainnya, jadi kami hanya punya sedikit waktu untuk explore di curug ini. Teman-teman sudah beranjak ke dermaga untuk menaiki perahu pulang, sementara saya masih sibuk foto-foto, daripada ditinggal, yasudah lah, insyaallah lain kali saya akan kembali ke tempat ini, mungkin bersama ‘rekan’ yang lain :3 Tunggu seri catatan perjalanan susur pantai selatan jawa barat berikutnya ya : Pantai Jayanti, dan sekitarnya 😉

Cost Damage :

  • tiket masuk curug/orang : Rp. 3000
  • tiket masuk/parkir kendaraan (mobil : Rp. 15.000
  • ngopi : Rp. 3000
  • tarif perahu : Rp. 60.000/perahu (muat 10 orang)

Hal-hal yang perlu diperhatikan :

  • Jalan masuk ke curug terdapat 2 cara, silahkan pilih sesuai kantong dan motivasi, jika mau jalan kaki, Abah Anom biasanya menjadi guide, tidak ada tarif pasti, biasanya ‘seikhlasnya’. Menurut pengunjung lain yang jalan kaki, jarak tempuhnya sekitar 15 menit, hampir sama dengan naik perahu
  • Pengunjung dapat berenang di Curug Aki (yang paling kanan dari arah masuk)
  • Seperti biasa, jaga perilaku dan sopan santun di tempat ini, karena yang berkunjung ke sini mungkin bukan hanya yang kasat mata 😉

DSC03700

Stone Garden Padalarang

Huba, hubaaa..

Ada yang tahu tentang Stone Garden di desa Gunung Masigit, Padalarang? Tunjuk tangannnn… Udah pernah kesana belumm?

Q             :               Stone Garden tu apa sih Yan?

A             :               Taman Batu.

Q             :               Masa sih Yannnnn… (Sambil lemparin pake batu karang)

Hehehe.. Stone Garden ini merupakan suatu komplek tanah (bukit) yang di dalamnya terdapat bebatuan yang tidak tersusun dengan teratur atau kalau kata orang Paris, paburatak. Batu-batunya sendiri mirip dengan batu karang yang ada di laut atau pantai. Stone Garden ini terletak pada dataran yang lebih tinggi dari sekitarnya sehingga memungkinkan kita untuk melihat pemandangan daerah sekitarnya. Ketinggian puncak Stone Garden sendiri adalah 907 mdpl.

Yan bisa dibilang lumayan sering kesini. Pertama kali kesini itu tahun 2012 sekalian ke Goa Pawon. Jadi ke Goa Pawon dulu, baru hiking ke atas ngelewatin semak, dan kebun orang. Waktu itu belum rame, belum keurus, jadi jalurnya suka-suka kita, cari sendiri, dan ilalang di Stone Gardennya masih tinggi-tinggi, ga ada yg jualan dan toilet. Walaupun ga keurus Yan suka aja di situ, dan pemandangannya masih alami.

P_20160218_133056

Lanjut-lanjut, mari kembali ke masa sekarang. Stone Garden sekarang diurus oleh masyarakat desa sekitar Stone Garden. Udah ada tempat parkir, warung-warung beserta es kelapa mudanya yang menggoda, toilet yang lumayan bersih, dengan retribusi tiket masuk yang hanya sebesar Rp. 5000,00.

Kalau mau ke Stone Garden gampang kok, mau pakai kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum juga bisa. Pakai kendaraan pribadi dari Bandung ke arah Padalarang, lanjut ke arah Citatah nah, nanti ketemu Masjid Al Ikhlas di belokan jalan sebelah kanan dan pohon gede di tepi jalan. Dari tepi jalan itu terus ngikutin jalan berbatu, setelah pabrik nanti ada simpang tiga, belok ke kanan. Kalau takut nyasar, jangan malu-malu bertanya sama warga sekitar ya, nyaris semua udah pada tahu kok daerah Stone Garden.

Nah, bagi kamu yang menggunakan kendaraan umum dari Bandung, yuk jalan-jalan pakai kereta api aja, bebas macet. Jadi, kamu ke stasiun (ya iyalah stasiun, Yan, masa bandaraaaa), hehehe. Serius ini, ke stasiun, nah ada tiga pilihan, mau Stasiun Bandung atau Stasiun Kiara Condong ataupun Stasiun Cikudapateuh, terserah pilih yang mana pokoknya yang terdekat aja. Oh iya, khusus Stasiun Bandung, kamu datangnya ke Stasiun Bandung yang di Jalan Stasiun Barat alias yang dekat Pasar Baru. Beli tiket kereta, lalu tunggu keretanya datang. Nah kan, jadi inget lagu kereta apiku ciptaannya Opa Abdullah Totong Mahmud, pada tahu kan lagunyaaaa?

Naik kereta api, tut, tut, tut…” (Fokus, Iannn, fokusss)

Ok, setelah naik kereta api, nanti turun di stasiun pemberhentian terakhir yaitu St. Padalarang, eh, jangan salah beli tiket ya, pastiin kamu beli tiket kereta api Cicalengka-Padalarang, bukan Padalarang-Cicalengka. Jauh itu, mass.. Nah perjalanan dari Stasiun Bandung ini cuma memakan waktu 15-20 menit saja, cepat kan? Terus kereta api ekonomi juga sekarang udah pakai AC, jadi ga usah takut kevanasan, ada colokan juga, lumayan dipakai ngecas handphone kamu buat bekal foto-foto nanti di Stone Garden. Hohoho.. Oh iya, pas naik jangan berebutan ya, dahulukan yang turun dan orang tua, kalau emang ga dapat tempat duduk ya yang sabar aja, masa ga kuat berdiri bentar? Hehehe..

Setelah berhenti di St. Padalarang, keluar stasiun ke arah kanan, dan jalan dikit buat naik angkot Rajamandala, angkotnya warna kuning dan identik dengan pintu belakang, jadi jangan salah naik ya. Soalnya ada angkot lain juga disana yang warna kuning juga. Nanti bilang aja ke mamang angkotnya ke Stone Garden, angkotnya bayar Rp. 4000,- saja (Harga dapat berubah sewaktu-waktu), setelah diturunin nanti nyebrang dan jalan ke arah jalan berbatu deket masjid Al Ikhlas. Dari simpang itu juga ada ojek kok, kalau kamu mau naik ojek silahkan, tapi kalau mau jalan juga ga masalah, ga jauh kok. Setelah sampai pintu masuk nanti diarahin kok ke arah tempat bayar tiket, dan selamat menikmati Stone Garden.

Hal-hal yang harus diperhatikan:

  1. Bawa duit.
  2. Pakai pakaian yang nyaman, berhubung disana gerah apalagi di siang hari, sebisa mungkin pakai yang menyerap keringat.
  3. Pakai alas kaki yang nyaman, seperti sepatu atau sendal gunung/jepit, karena bakalan licin dan setelah hujan jalannya bakalan lebih licin plus becek. Nah, kalau mau foto-foto pakai heels gitu mending pakainya nanti di atas di spot foto, ga lucu kalau kamu keseleo disana. Lucu sih, hahahaha.
  4. Bawa air minum yang cukup, karena di puncaknya ga ada yang jualan, cuma ada di bawah yang jualan.
  5. Tuntaskan hajat alamiah di toilet sebelum mulai naik, soalnya toilet di bawah aja yang bersih dan keurus.
  6. Hati-hati saat berfoto-foto ria, jangan sampai karena pengen dapat foto yang anti mainstream kamu malah jadi celaka, ingat, safety first.
  7. Bawa makanan seperti camilan atau makanan berat juga boleh, biar ga kelaparan di atas.
  8. Sampah bawa turun, jangan nyampah dan jadi MANUSIA SAMPAH!
  9. Hati-hati dengan barang bawaan karena kadang ada kawanan monyet yang berkeliaran nyari makan dan ngambil barang-barang kamu, entah itu monyet pakai baju atau ga. WASPADALAH, WASPADALAH! (gaya bang Napi)

P_20160120_085928

Stone Garden memang semakin mendapat perhatian dari masyarakat luas, ga cuma masyarakat Bandung dan sekitarnya aja yang main kesini, banyak yang dari luar daerah juga, tapi sayangnya kawasan karst di sekitarnya juga mendapat perhatian yang makin besar dari penambang batu. Kamu bakal ngeliat kalau langit disana susah banget birunya karena asap pabrik atau pembakaran batu kapur di sekitar Stone Garden. Sayang banget ya?

Sekian curhatan jalan-jalan ke Stone Gardennya, kalau ada yang mau ditanyain jangan sungkan buat ngomen yaaa.. 

Catatan Perjalanan Gunung Guntur 12-13 Maret 2016

Update Maret 2018

Sebagian besar gunung Guntur, termasuk puncak Guntur (via Citiis/Cikahuripan) dan pos camp 3 termasuk ke dalam bagian Cagar Alam Kawah Kamojang [3] yang berarti kawasan tersebut tidak boleh dimasuki dengan tujuan aktivitas apapun kecuali untuk penelitian dan kegiatan konservasi. Namun demikian untuk kegiatan wisata di daerah gunung Guntur ini masih bisa dilakukan sampai curug Citiis yang masuk ke dalam bagian Taman Wisata Alam Gunung Guntur. Kalau memang melanggar, kenapa tulisan di blog ini masih ada? Karena melihat dari stats artikel ini cukup banyak mendapatkan perhatian dari netizen, dan sebagai bagian tanggung jawab dan permintaan maaf saya bagi supremasi Cagar Alam saya update tulisan ini dengan informasi terkait Cagar Alam, saya berharap dengan ini informasi keberadaan Cagar Alam di gunung Guntur ini akan tersebar lebih baik/banyak (pantau timeline Mang Pepep https://www.facebook.com/pepdw untuk informasi yang lebih komprehensif).

Mungkin memang cara terbaik untuk menikmati dan mencintai alam adalah dengan membiarkannya tumbuh, tanpa campur tangan manusia.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Akhirnya setelah mengumpulkan niat dan motivasi saya bisa menuliskan sedikit pengalaman dari perjalanan mendaki beberapa gunung. (rencana) Tulisan-tulisan sebelumnya selalu berakhir dengan wacana karena selalu mentok untuk memikirkan kata pengantar (padahal kata pengantar biasanya ditulis di akhir tulisan). Ditambah tekanan yang konsisten untuk menulis dari si neng ini, baiklah saya mulai catatan perjalanan ini.

Gunung Guntur (GG) adalah salah satu gunung yang terdapat di kabupaten Garut, Jawa Barat. Gunung ini memiliki ketinggian 2249 mdpl [1], perlu dicatat menurut penuturan volunteer GG, ketinggian 2249 ini merupakan ketinggian yang diukur di puncak 1. Sementara masih menurut penuturan volunteer yang sama, GG memiliki 7 puncak, dimana puncak 1-4 merupakan puncak yang diperbolehkan untuk dikunjungi pendaki, sedangkan puncak 5-7 merupakan daerah konservasi yang tidak diperkenankan untuk dikunjungi pendaki. Menurut sumber [1] GG merupakan gunung paling aktif pada dekade 1800-an. Gunung ini termasuk ke dalam tipe gunung Strato [2]. Masih menurut situs yang sama, kemiringan GG bervariasi antara 2-75°, ya kira-kira miringnya seperti foto di bawah ini.

Ketertarikan saya terhadap gunung ini berawal dari kunjungan saya ke daerah Cipanas, Garut. Saat berendam di pemandian air panas, saya tertarik darimana sumber air panas yang mengalir ke tempat pemandian di daerah Cipanas ini. Selidik punya selidik (selidik aja boleh punya selidik, kenapa jeruk ga boleh punya jeruk? #ngawur) ternyata di kawasan utara pemandian air panas ini berdiri sebuah gunung yang bentuknya cukup unik, orang sekitar menyebutnya Gunung Guntur. Faktor lainnya adalah beberapa kawan pendaki kerap membandingkannya dengan gunung Semeru di Jawa Timur. Konon GG bisa dijadikan medan latihan sebelum mendaki gunung Semeru.

Lanjut, sudah cukup lama saya ingin mendaki gunung ini, namun selalu terbatas waktu. Hingga sekitar hari Jum’at tanggal 11 Maret 2016, kang Tatan Tasori (yang saya kenal dari komunitas Satu Bumi Kita/Sabuki) mengajak saya bersama 3 orang pendaki lainnya untuk melakukan pendakian ke gunung Guntur. Setelah koordinasi singkat, saya hanya diminta untuk membawa perlengkapan pendakian pribadi saja.

Selanjutnya kami janjian untuk kumpul di bunderan Cibiru pada Ba’da Dzuhur (selanjutnya saya agak kesel karena teman-teman yang lain baru datang sekitar pukul 14.30 -_-” ).

Sabtu, 12 Maret 2016

Hari yang dinantikan tiba, setelah cukup beristirahat, membeli logistik dan mengecek kembali perlengkapan pribadi, sekitar pukul 11.15 saya berangkat dari rumah di jalan Setiabudhi, dengan asumsi perjalanan akan memakan waktu sekitar 1.5 jam dengan asumsi Bandung yang bakal macet. sekedar saran, jika akan menuju daerah Cibiru dari arah Bandung barat, sebaiknya lewat jalan Soekarno Hatta saja, karena jika lewat Cicaheum-Gedebage-Ujungberung terdapat banyak titik simpul macet. Akhirnya sekitar pukul 12.30 saya sampai di bunderan Cibiru, tapi sekalian numpang solat saya minta titik kumpulnya di SPBU Cinunuk. selepas makan siang, ngopi, baca-baca, baru sekitar jam 14.30 kang Tatan datang bersama Lisna yang sengaja datang dari Serang. 2 teman pendaki lainnya (Emey & Icha) belum sampai karena masih menyiapkan perlengkapan, akhirnya diputuskan untuk ketemuan langsung di basecamp gunung Guntur.

Dengan mengendarai sepeda motor, kami berangkat menuju basecamp gunung Guntur. Patokan perjalanan dari kota Bandung menuju basecamp gunung guntur ini adalah lewat Rancaekek-Nagrek-Garut Kota, tepat sebelum SPBU Tanjung akan ditemui gerbang menuju objek wisata Gunung Guntur. Perjalanan dari Cibiru sampai ke basecamp memakan waktu sekitar 1.5 jam jika jalanan lancar, melalui aspal yang mulus. Dari gerbang gunung guntur ke basecamp GG memakan waktu sekitar 20 menit dengan kondisi jalan umumnya tanah.

 

Screen Shot 2016-04-17 at 10.39.04 PM

Jika tidak menggunakan kendaraan pribadi, untuk menuju basecamp dari gerbang GG terdapat angkutan umum/truk yang biasanya mematok ongkos per orang 5000-10000. akhirnya saya sampai di basecamp GG Pak RT. Basecampnya sendiri terdapat beberapa tempat, di pak RT, pak RW, dan Ummi apa, ya. para pendaki bisa menitipkan kendaraan di halaman rumah beliau, juga terdapat warung nasi, es campur dan saung-saung tempat beristirahat. Di basecamp ini tidak perlu membayar tiket (hanya biaya parkir per motor 5000 rupiah), pendaki hanya diminta registrasi anggota kelompok dan nomor telepon yang dapat dihubungi.

DSC03107
Basecamp Pak RW Gunung Guntur

Di basecamp akhirnya semua teman-teman pendaki sudah lengkap, kondisi saat itu hujan turun cukup lebat dan belum menunjukkan tanda-tanda reda, hingga sekitar pukul 19.00 kami memutuskan untuk memulai pendakian. Tidak lupa berdoa, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3 GG.

Rute perjalanan yang ditempuh : basecamp GG – pos tiket – Pos 1 (ada sumber air)-  pos 2- pos 3 (camp, ada sumber air) – puncak 1 – puncak 2

Dari basecamp ke pos tiket perjalanan sekitar 10 menit, di pos ini formulir registrasi kami dicek lalu kami membayar Rp. 12500 (Rp. 7500 tiket masuk, Rp. 5000 untuk kemping). Lanjut perjalanan menuju pos 1, jalanan berupa tanah bercampur batu. jalanan ini jika siang dilalui oleh truk-truk pengangkut batu & pasir dari tambang galian yang berada di sekitar gunung guntur ini. di tengah jalan kami bertemu dengan pendaki-pendaki yang turun, termasuk 23 orang anak SMP (belakangan diketahui mereka ijin ke orangtua untuk reunian, akhirnya didatangi oleh pihak sekolah untuk segera kembali), nakal ya :p Kondisi hujan masih gerimis, kebetulan yang pernah ke Guntur adalah Emey & Icha, karena kondisi gelap, jalanan agak sulit dikenali, maka kami sempat ragu jalur mana yang harus dilalui, namun ternyata di beberapa tempat dapat ditemui petunjuk berupa panah di batu dan papan penunjuk arah.

Sekitar pukul 20.15 kami sampai di warung yang ada di sekitar pos 1, di sini kami memutuskan untuk berteduh, masak-masak, ngobrol, chatting ditemani rintik hujan dan aliran sungai. malam hari warung di sekitar pos 1 ini umumnya tutup, tapi ada 1 warung yang masih buka. di pos ini kami juga bertemu salah seorang volunteer yang mengaku sudah mendaki gunung guntur hingga puncak 5 dari usia belia. sekitar pukul 21.30 hujan pun reda, kami melanjutkan pendakian ke pos 2,  melalui aliran sungai kecil. Dari pos 1 ke pos 2 ini perjalanan mulai menanjak dengan kemiringan sekitar 30-45°. jalanan umumnya tanah berbatu yang tidak terlalu licin. kami sampai di pos 2 sekitar pukul 22.15.

 

DSC03092
Penanda pos 2 adalah si pohon yang instagramable ini, nampak pula pemandangan daerah Cipanas, Garut

Lanjut perjalanan ke pos 3, jalanan masih menanjak, sekitar 30 menit sebelum mencapai pos 3 kami sempat berfoto2 dulu.

DSC02704Sekitar pukul 23.15 kami sampai di pos 3, di pos ini kami melakukan pengecekan tiket & formulir registrasi. di dekat pos 3 ini juga terdapat sumber air yang cukup deras.

dsc062421
Penanda persimpangan pos 3, puncak & sumber mata air (http://www.bluetripper.com/2014/10/pendakian-gunung-guntur-2249-mdpl.html

Kondisi pos 3 saat kami camp cukup ramai, mungkin ada sekitar 50 tenda, saya pun sempat ngobrol dengan teman-teman pendaki lain yang berasal dari UI, sumedang, garut dan bandung. Selanjutnya kami mendirikan tenda (ternyata tendanya kang Tatan Consina superlight untuk 1P, walaupun cukup untuk 2 orang+perlengkapan, saya pun agak males untuk tidur di tenda). Mungkin karena kondisi selepas hujan, jadi suhu di pos 3 tidak terlalu dingin. Oya, FYI juga, mungkin karena setelah terjadi beberapa insiden di Gunung Guntur ini (pendaki yang bocor terkena bongkahan batu, tersambar petir), saat ini tempat berkemah dibatasi hanya sampai Pos 3.

 

DSC03083
Check in di pos 3
DSC02728
Pemandangan di Pos 3 GG

Setelah mendirikan tenda, kami sempatkan ngobrol, ngemil-ngemil ganteng dan cantik, akhirnya Emey dan kang Tatan memutuskan untuk tidur duluan.  Hujan yang turun sejak tadi sore untungnya membuat langit malam cukup cerah dan bintang-bintang cukup terlihat jelas. Panorama city light garut malam hari yang mempesona tidak urung saya abadikan dalam beberapa jepretan. Lepas foto-foto saya kembali ke tenda, ternyata Lisna dan Icha belum tidur, akhirnya mereka minta difoto juga, huahaha.  Sepanjang malam juga ditemani pendaki-pendaki kurang kerjaan yang teriak-teriak ga jelas. Satu hal yang saya suka saat mendaki gunung adalah mungkin ketika lelah, selera humor saya lebih rendah dari biasanya, jadi teriakan-teriakan usil seperti itu pun bisa buat saya ketawa-tawa.

 

DSC02713
Tenda kami di Pos 3
DSC02737
Citylight view daerah Cipanas malam hari dari Gunung Guntur

Minggu 13 Maret 2016

Kami foto-foto sampai sekitar pukul 01.30, Lisna dan Icha memutuskan untuk tidur, sedangkan saya sendiri tidak terlalu ngantuk, lagipula pukul 4.00 nanti juga mau mulai mendaki ke puncak, jadi saya putuskan untuk baca-baca saja. saya gelar matras aluminium foil di depan tenda cewe2 ini ditemani lampu LED xiaomi yang saya dapat dari jaknot #iklan, ditemani langit malam bertabur bintang. tidak terasa sekitar pukul 02.30 angin malam mulai terasa dingin, saya kelilingi badan saya dengan aluminium foil yang cukup efektif menghangatkan badan. akhirnya awan tipis mulai menutupi binta-bintang, padahal saya menunggu momen penampakan milkyway sekitar pukul 3 pagi, saya lanjutkan baca-baca sampai pukul 03.30, sambil sesekali melihat kondisi langit.

Mendekati pukul 4 pagi, di sekitar pos 3 mulai riuh dengan pendaki yang sudah bangun dan akan melanjutkan pendakian ke puncak. beberapa menargetkan hingga puncak 4. Saya bergegas membangunkan teman-teman lain, akhirnya dari 5 orang, hanya 3 orang yang akan memutuskan ke puncak (saya, Emey & Lisna). saat siap-siap ini saya justru melihat penampakan milkyway, kesempatan ini jelas tidak akan saya lewatkan, entah sudah beberapa purnama saya merindukan sabuk pusat peredaran tata surya kita. Emey dan Icha akhirnya juga ingin difoto.

DSC02765
nemu bendera, dan milkyway :3

Sekitar pukul 04.15 kami bertiga mulai melakukan pendakian ke puncak, sambil sesekali saya curi-curi foto milkyway. FYI, kondisi pendakian dari pos 3 ke puncak 1 ini lumayan kece, dengan kemiringan sekitar 50-75° trek ini cukup menantang. Pendaki sebaiknya menggunakan jalur kiri/kanan, dan menjauhi jalan sebelah tengah yang biasanya digunakan untuk pendaki yang turun. Jalanan berupa tanah keras, kerikil dan rerumputan dan ilalang. Di beberapa tempat juga ditemui pohon-pohon edelweis yang belum berbunga. Untuk menghemat tenaga dan keselamatan, sebaiknya cari pijakan berupa rerumputan yang biasanya cukup kokoh.

Sekitar pukul 05.30 pendar matahari di ufuk timur mulai menampakkan sinarnya, kami memutuskan untuk menikmati sinar mentari sebelum puncak. Di beberapa tempat juga dapat ditemui dataran yang cukup luas dan datar jika akan melakukan solat subuh. Sekitar pukul 6 pagi kurang, kombinasi dari sinar mentari dan awan menghasilkan ROL yang sangat menarik. Dari tempat saya beristirahat dapat dilihat pemandangan kota garut yang diselimuti kabut. Dari gunung Guntur ini juga kita dapat melihat beberapa gunung seperti Tampomas, Cikuray, bahkan gunung Slamet di Jawa Tengah.

DSC02862
ROL dari bukit sebelum Puncak 1 Gunung Guntur
DSC02891
Selimut kabut di Kota Garut

Setelah puas menikmati matahari terbit kami melanjutkan perjalanan ke puncak yang hanya memakan waktu sekitar 10 menit lagi dari tempat istirahat tadi. akhirnya kami sampai di puncak 1 sekitar pukul 06.30. Di puncak 1 kami mengabadikan beberapa momen, lalu membuat minuman hangat dan sarapan. Di puncak 1 ini kita dapat melihat puncak 2 yang sangat mirip dengan puncak gunung merbabu jika dilihat dari sabana 2 merbabu. di puncak 1 ini kita dapat melihat cerukan yang dulunya mungkin kawah. di cerukan ini terdapat sumber air dari air hujan, saya tidak bisa memastikan apakah airnya bisa dipakai minum.

Setelah minum coklat panas, sekitar pukul 07.00 saya memutuskan untuk ke puncak 2. Emey dan Lisna tidak ikut karena lumayan kecapean (saya juga jelas cape). Perjalanan dari puncak 1 ke puncak 2 memakan waktu sekitar 15 menit. di perjalanan menuju puncak 2 ini di sebelah barat kita dapat melihat panorama gunung Cikuray dengan kerucutnya, gunung papandayan dengan kawahnya yang terbuka dan kawah Drajat dengan uap dari pembangkit listrik tenaga panas buminya. di perjalanan juga dapat ditemui tanah yang beruap, sebuah bukti bahwa gunung Guntur masih aktif dengan aktivitas vulkanisnya. untuk menuju puncak 2 biasanya pendaki menggunakan jalan sebelah kiri, lalu turun dari punggungan gunung sebelah kanan.

DSC02969
Dari paling kiri, Tampomas, …, Cikuray, Papandayan, Darajat

Dari paling kiri, Puncak 3, 4, 5, 6, 7 Gunung Guntur

DSC02957
Dari paling kiri, Puncak 3, 4, 6, 7 (puncak 5 terhalang puncak 3, dari puncak 3 dapat terlihat medan menurun & menanjak dari puncak 3 ke puncak 4)

Jumlah pendaki di puncak 2 ini lebih sedikit dari pendaki di puncak 1. Dari puncak 2 dapat terlihat jajaran puncak 3-7 gunung guntur. dari sini pula dapat terlihat perbedaan puncak gunung guntur, misalnya puncak 1-4 berupa dataran sabana dengan tetumbuhan rendah seperti rerumputan dan centigi, sementara puncak 5-7 berupa hutan rimbun. Konon di puncak 5-7 masih banyak terdapat hewan-hewan liar seperti babi hutan, ular dan macan kumbang.

Sebenarnya masih ingin ke puncak 3, tapi kondisi lutut yang kurang latihan dan teman-teman di bawah, setelah puas foto-foto saya kembali ke puncak 1 untuk lanjut ngemil dan nunggu ibu-ibu yang giliran foto-foto. tidak terasa menunggu mereka foto-foto akhirnya saya ketiduran di puncak 1 sekitar 30 menit, lanjut beres-beres dan bersiap-siap turun ke pos 3. 2 minggu berikutnya saya kembali ke GG bersama tim Anjasss dari Jakarta & Jogja, kali ini berhasil mencapai puncak 3 😀 Perjalanan dari puncak 2-3 memakan waktu sekitar 15 menit.

DSC03349
Di belakang nampak puncak 4 (paling kanan) dan puncak 5 paling belakang

Selanjutnya adalah perjalanan turun dari puncak kembali ke pos 3. Perjalanan turun ini juga sangat menarik, karena cerita teman-teman pendaki sebelumnya umumnya mereka main perosotan. Seperti yang sudah dibilang di awal, untuk turun sebaiknya gunakan jalur tengah yang berupa kerikil-kerikil lepas. Tetap berhati-hati karena sewaktu-waktu banyak batu yang meluncur di lintasan yang dapat mengancam nyawa (usahakan jangan memegang pinggiran parit, yang notabene terdapat banyak batu yang strukturnya labil).

DSC03073
Main Perosotan di Gunung Guntur

Akhirnya sampailah di tempat perosotan ini, kami dengan riangnya ngesot di jalur tengah yang sudah berbentuk parit, sambil beberapa kali terpeleset. nah disini yang perlu diperhatikan adalah penggunaan alas kaki, sebaiknya sih gunakan sepatu & gaiter supaya kerikil tidak mengganggu saat jalan (saya sendiri pake sendal gunung dan kaos kaki putih yang berakhir jadi warna hitam :p). perjalanan turun dari puncak 1 ke pos memakan waktu sekitar 1 jam.

Tiba di pos 3 sudah menunggu kang Tatan dan Icha yang sudah memasakkan puding. Setelah beristirahat sejenak, pukul 10.00 kami memutuskan untuk turun. Siang hari di Guntur cukup terik, alhasil sukses membuat saya meleleh. Untungnya di pos 1 terdapat warung yang menjual Nutris*ari dingin dan Bala-bala/bakwan. Kita sampai di Basecamp sekitar pukul 11.30, lanjut jajan es campur dan Bala-bala (lagi), hahaha. Setelah istirahat, (sebagian) mandi, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung, dan alhamdulillah sampai di Bandung sekitar pukul 16.30, fiuh.

Kesan saya untuk gunung ini adalah memang betul apa yang banyak dikatakan para pendaki, ketinggiannya memang tidak terlalu tinggi, tapi nyiksa! Nyiksa dengan kenangan dan pemandangannya yang bikin rindu untuk kembali lagi. Insyaallah saya akan kembali lagi, Guntur.

Foto lain :

DSC02996

DSC02955
Main Perosotan di Gunung Guntur

DSC02979

DSC02980
Boleh khan majang pose andalan? :p

 

DSC03032
Jalan menuju puncak 2 Gunung Guntur
DSC02947
Pohon Jodoh (katanya) di Gunung Guntur
DSC03106
kalo kamu motivasi naik gunungnya apa? 🙂
DSC02994
Pemandangan lembah GG yang mirip bukit penyesalan di Rinjani
DSC02711
Suasana malam di Pos 3 GG

 

DSC03076
Spongsor (tidak) resmi, sangat praktis untuk membuat segelas coklas/kopi panas
DSC02772
Yuhuu milkyway, i see youuu
DSC02986
Minjem properti orang dulu di Puncak 2 :p

Tips :

  • Sebelum melakukan pendakian, cek terlebih dahulu status izin pendakian dan cuaca daerah sekitar. Untuk mengetahui status izin pendakian kita bisa tanyakan ke teman-teman @volunteerguntur di twitter yang rajin mengupdate info pendakian gunung Guntur.
  • Lebih baik gunakan Sepatu+Gaiter supaya saat perjalanan turun dari puncak lebih nyaman, tidak terganggu kerikil-kerikil yang masuk ke dalam sepatu
  • Disarankan tidak memakai celana pendek, karena kebanyakan jalan di Gunung Guntur terutama menuju puncak berupa kerikil dan batu-batu lahar yang cukup tajam, sebaiknya gunakan celana panjang. Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati bukan?
  • Gunakan tabir surya/payung kalau ga mau terlalu terbakar sama matahari Gunung Guntur, atau berangkat saat sore/malam hari.

Cost damage :

  • Bensin PP (Bandung-GG) : Rp. Rp. 20.000
  • Parkir di pak RT : Rp. 5.000
  • Tiket masuk + Camp : Rp. 7.500 & Rp. 5.000
  • Bala-bala : @Rp. 500
  • Nutrisar*i dingin : Rp. 3.000
  • Es campur : Rp. 8.000
  • Baso tahu : @Rp. 1.000
  • Total ~ Rp. 60.000

Referensi :

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Guntur

[2] http://volcanoindonesia.blogspot.co.id/2010/10/guntur.html

[3] http://bbksdajabar.ksdae.menlhk.go.id/wp-content/uploads/2017/08/Profil-Bidwil-3-Fix_skw_5_kamojang.pdf

 

Gunung Putri pas Gerhana Matahari

DSC03497

Hollaaa..

Ian jalan-jalan lagiiii (skripsi apa kabar Yannn, hahaha). Ga jauh-jauh amat kok dari Kota Bandung, yaitu di daerah Lembang, tepatnya ke Gunung Putri. Gunung Putri ini memiliki ketinggian 1587 mdpl. Gunung putri cocok untuk teman-teman yang ga punya waktu dan duit banyak tapi pengen naik gunung.

Untuk akses ke Gunung Putri sendiri itu yang Yan tahu ada 2, via Jayagiri atau Cikole (eh udah masuk Cikole belum ya? Udah kali, Yan agak ragu). Berhubung Yan cuma pernah via Cikole jadi Yan ga bisa cerita tentang via Jayagiri. Nah, buat yang mau naik kendaraan umum, dari Bandung bisa naik angkot Stasiun Hall-Lembang menuju Lembang, sesampainya di Lembang lanjut dengan angkot Cikole warna Kuning Oren, patokannya itu simpang kecil setelah hotel Augusta di sebelah kiri, bilang aja ke mamang angkotnya turun di simpang Gunung Putri, terus dari simpang itu kalau mau jalan ke atas, silahkan, kalau mau naik ojek juga rapopo. Kalau jalan kaki bisa memakan waktu 1-3 (?) jam dengan tenaga ecek-ecek macam Yan yang tiap bentar istirahat, hahaha. Untuk yang pakai kendaraan pribadi, dari Bandung terus ke Lembang, kalau ga tahu daerah Cikole, ikutin aja jalur menuju Tangkuban Perahu/ Subang, ga jauh dari Lembang nemu patokan di atas, silahkan ikutin jalan dari simpang tadi. Cuma ada satu jalan dan lumayan kecil jadi harus hati-hati yaa. Nah, nanti setelah jalan aspal itu ada jalan berbatu dan ga jauh dari sana ada warung tempat nitipin motor dan helm juga pos tempat bayar distribusi. Disini pastikan kebutuhan buat di puncak nanti ga ada yang ketinggalan kayak air minum dan makanan, kalau ada yang kurang tinggal beli di warungnya, tapi ga tahu deh mereka menyediakan pasangan buat yang jomblo apa ga, heulll..

Lanjut-lanjut, untuk ke puncak dari warung ini bisa makan waktu sekitar 45 menit sampai 2 jam, tergantung yang naiknya sih. Berhubung kita bakal ngelewatin kebun orang, jadi hati-hati, jangan sampai ngerusak apalagi nyolong tanaman orang yaaa, hehehe. Terus kalau pas atau habis hujan harus banget hati-hati karena jalanannya cukup licin atau pijakannya ga terlalu kuat dan bisa jatuh. Kalau malam hari jangan lupa bawa senter, karena belum ada bantuan penerangan menuju puncak (bahkan cinta abang ke adek aja ga cukup menerangi jalannya bang, ga cukupppp). Oh iya, jangan lupa nikmati proses pendakiannya ya, jangan terlalu tergesa-gesa untuk sampai puncak, di pagi/siang hari kalian bisa menikmati pemandangan kebun tomat, sawi ataupun pemandangan daerah di bawah Gunung Putri beserta gunung-gunung lainnya. Kalau malam, liat pemandangan city night dan kalau beruntung ketemu kunang-kunang. Kalau capek, ya istirahat dulu, puncaknya ga bakal lari kok, hehehe. Kalau sakit, jangan memaksakan diri, di atas soalnya belum ada klinik atau rumah sakit dengan dokter muda ganteng (atau cantik) dan single macam di drama-drama Korea, hohoho.

Ian baru dua kali sih ke Gunung Putri untuk camping, tapi dua-duanya memiliki pengalaman camping yang berbeda. Bedanya apa aja?

Ady11
Tenda Tetangga, hohoho
Ady4
Penampakan Area Camping dari Puncak gunung Putri.

Kalau camping kali ini lebih nyaman untuk beberapa hal sih terutama buat cemilan, karena di area campingnya udah ada warung walaupun cuma ada satu tapi disini menyediakan minuman dan gorengan seperti bala-bala (bakwan), gehu pedas (tahu isi toge pake cabe dalamnya) dan lain-lain. Terus, kalau dulu masih boleh camping di puncak gunung putrinya, sekarang udah dilarang dan harus di area camping di bawah puncak tapi tetap ada yang bandel sih, padahal puncak sama area camping-nya deket banget, kalau mau turun ngegelinding juga nyampe. Huhh..

DSC03434
Tuh, ada yang nenda di puncak, bandel ya?

Area camping-nya bisa dibilang lumayan kok, walau belum nemu tempat yang datar-datar amat kayak di puncak tapi kalau ada disini lebih nyaman terutama saat angin kencang dan hujan, karena masih ada pohon pinusnya, kalau mau nge-hammock disini juga bisa lho. Ga enaknya camping yang terbaru ini adalah adanya pungutan-pungutan, ya sebenarnya ga terlalu besar dan ga masalah sih, cuma mbok ya yang jelas gitu, ada pungutan masuk tapi jalannya makin hancur dibanding dulu, di atas buat yang camping juga ada pungutan kebersihan, hmmm, lumayan bersih dan ngasihnya pun terserah kita berapa. Kekurangan di Gunung Putri masih terkait dengan air bersih, kalau buat minum dan masak sih mending tetap bawa dari bawah dan kalau air buat cuci-cucian gitu di warung area camping ini menyediakan air dalam botol kemasan 1,5 liter dengan harga Rp. 2500,-. Oh iya, di belakang warung ini ada toilet free juga tapi jangan ditanyakan kebersihannya (mau ngarep apa sih Yannn) dan ga ada airnya, ya airnya itu dibeli di warung tadi.

DSC03476

Di puncak Gunung Putri ini ada Tugu Sespim dan rame banget biasanya pada pagi dan menjelang siang hari. Pemandangan di Gunung Putri ini mau pagi, siang, malam tetap keren lho. Siang hari, walaupun agak panas dan terik kita bisa lihat pemandangan daerah sekitar gunung putri kayak Lembang, Maribaya, Cikole, Patahan Lembang, gunung-gunung dan hutan pinus.

Ady6

Ady7
Five Billion Stars Hotel …:)

 

 

Ady2Ady1

Di malam hari Gunung Putri akan membuat kamu terpesona dengan pemandangan city night dan langit berbintangnya, kalau beruntung bisa lihat milky way juga disini, romantis banget kannnn? Hehehe..

ady8

Kalau di pagi hari jangan malas buat bangun subuh karena sunrise disini bisa bikin senyum-senyum sendiri dan ga berhenti motret, dengan daerah Cikole dan sebuah gunung sebagai latar utama munculnya mentari pagi, dijamin ga bakal nyesel buat bangun subuh.

Tapi kalau kelewat nih sunrisenya masih bisa merasakan sensasi negeri di atas awan, hehehe.

DSC03502
Fokus pada pemandangan di belakang mbak-mbak berjaket abu-abu itu, jangan sama si mbaknya.. 😀

 

 

Nah, berhubung Yan kesini sekalian lihat gerhana, jadi lumayan komplit pengalamannya kali ini, camping, malam berbintang, sunrise, negeri di atas awan dan gerhana matahari total. Ga sedikit lho orang yang datang ke Gunung Putri buat lihat GMT ini, jadi rame banget di puncaknya. Ramenya itu sama yang mau lihat trus ajak sekeluarga, sama pacar juga ada, mamang-mamang fotografer, dan anak-anak muda. Jadi tuh ya, Yan kan camping malam, nah pas subuh mamang-mamang fotografer dari HFB itu nyusul jam 3 berangkat dari Ledeng dan sampai pas subuh lah kira-kira. Ga lama kannn. Banyak kok yang datang sengaja kesini pas jam menjelang subuh untuk lihat sunrise-nya, ga harus nenda juga.

 

ady10
Yang nonton tampak dari (sedikit bawah) depan.

 

 

Alhamdulillah, kelihatan GMTnya walaupun awalnya si matahari malu-malu menampakkan diri dan bersembunyi di balik awan. Hehehe.. Tapi ya, Yan kan motonya pake filter, malah kelihatan kayak bulan sabit jadinya, Hehehe..

DSC03483
Bulan sabit, eh, gerhana matahari menuju total maksudnya.
DSC03470
Penampakan penonton dari belakang.

Sekian catatan perjalanan Yan kali ini, oh iya, sekedar mengingatkan, datang kesini kalau bisa cek cuaca dulu, sama sebisa mungkin sampahnya dibawa turun aja, ga ada ruginya kan menjaga kebersihan tempat yang kita datangi.

Selamat berkunjung ke Gunung Putri..

^0^

Via Ferrata di Gunung Parang

Ini pertama kalinya Yan yang ga pernah naik gunung, staminanya cuma seupil, males banget olahraga dan penyakitan ini mencoba via ferrata. Yup, dengan modal nekad dan baca-baca informasi tentang via ferrata di gunung parang di internet, akhirnya berangkat. Awalnya cuma pengen nemenin Balim yang mau nyoba, but, setelah baca-baca di internet dan mikirnya “kalau ga sekarang, kapan lagi?” muncullah niat buat nyobain. Hehehe…

Via ferrata atau jalan besi dalam bahasa Italia adalah jalur pendakian menggunakan kabel/kawat baja yang membentang di sepanjang rute yang dilengkapi dengan tangga besi dan secara berkala yang menempel tetap pada batu. Sekarang via ferrata ini sudah ada di Indonesia tepatnya di Gunung Parang yang merupakan gunung panjat tebing tertinggi kedua di Asia, jadi kalau teman-teman tertarik untuk mencoba via ferrata ga usah jauh-jauh ke Kinabalu (Malaysia) lagi.

about-via-ferrata
Via ferrata di Kinabalu. Sumber gambar : http://mountaintorq.com/via-ferrata/

Malam sebelum berangkat itu Yan gelisah banget, ga bisa tidur, muncul pikiran-pikiran aneh kayak nanti kalau jatuh gimana? Kalau ga berani trus malu-maluin gimana, atau kalau mati gimana, kalau skripisinya langsung diACC gimana (ngelantur kamu Yan!!)? Tapi, berhubung sudah dibooking mau ga mau semua pikiran itu harus dihilangkan dan berserah diri pada Allah SWT (religius beneeer). Paginya berangkat dari Bandung sekitar pukul 5 pagi menuju Purwakarta pakai sepeda motor dan tentunya dibonceng Balim, nah sampainya di Plered Balim ragu-ragu arahnya, awak pun buta jalan. Akhirnya muncullah adegan ini:

Katakan peta

Peta

Katakan peta, katakan peta

Peta, Peta

Katakan lebih keras

Lebih keras

GILA, maksudnya buka gugel mep, dan om gugel pun memberikan jalur maha dewa bekas pertarungan Son Goku sama Friezza, hahaha, haha, ha, meh. Tapi, perasaan sakit hati sama om gugel kebayar sama penampakan Gunung Parang dari jauh, mulai deg-degan, dan tangan berkeringat, gunungnya seolah-olah bilang, “Yakin, neng, mau kesini?”, nyali yang udah dikumpulin selama perjalanan tiba-tiba menciut. Berhubung Balim yang bawa motor, awak ga bisa balik kanan pulang ke Bandung. T.T

P_20160110_074655
Gunung Parang dari Kampung Cihuni

Dan sampailah di kampung Cihuni, tempat kami akan memulai via ferrata. Untuk penyelenggara via ferrata di gunung parang sendiri yang Yan tahu ada Skywalker dan Badega Gunung Parang (BGP). Kebetulan Balim booking di BGP, nah, katanya  BGP sendiri dimiliki dan dikelola oleh orang-orang Cihuni sendiri, makanya harganya lebih murah, tapi pelayanan dari guidenya yang ramah dan safety kit yang diberikan menunjukkan kalau ga selalu harga menunjukkan kualitas. Lanjut lagi ceritanya, setelah sampai di BGP kami pun diberikan waktu untuk beristirahat dulu memulihkan tenaga di saung yang sudah disediakan pengelola, berhubung dikasih bantal, jadilah perjalanan ini berakhir di pulau kapuk, eh, salah, ga bisa tidur kok, beneran. Gimana mau tidur, hati ini ketar ketir banget ngeliat kegagahan Gunung Parang dari deket. Hufft.. Ngeriii.. Langsung ngondek melambai awak jadinya… T.T

P_20160110_091048
Gunung Parang dari Saung BGP

Kira-kira pukul setengah sebelas kami sudah bergabung dengan 4 orang lainnya yang bakalan ikut via ferrata, ada  Diana, mbak Yuli, Mas Ey, sama temennya mbak Diana (Yan lupa namanya! Maaf..) terus kang Ebi, guide kami. Kang Ebi mengajak kami beranjak ke base camp tempat pemasangan safety kit yang akan digunakan untuk via ferrata. Daaannn, Yan dikasih harness trus ga bisa masang, huhuhu, kan Yan ga pernah make begituan, kang. Akhirnya, setelah dibantu sama Balim dan kang Ebi, terpasanglah harness itu, Yeah! Perjalanan pemanasan pun dimulai menyusuri hutan di kaki Gunung Parang selama 30 menit, berhubung semalamnya abis hujan keadaan tanah hutan agak licin dan harus hati-hati banget, soalnya di kanannya jurang, walaupun ga dalem-dalem amat tapi kalau jatuh kan ga lucu juga. Oh iya, berhubung abis hujan dan ini hutan, jangan kaget kalau banyak nyamuk yang akan mengganggu kalian, sekali gigit itu rombongan, jadi sedia lotion anti nyamuk atau minyak kayu putih ya. Teruuuss, beberapa kali kami berpapasan dengan rombongan monyet ekor panjang, berhubung ga mau nyari masalah, lebih baik biarkan mereka lewat dulu baru kita lanjut jalan lagi.

Setelah melewati hutan, kita akan sampai di check point pertama, tempat pendakian sebenarnya akan dimulai, di CP ini kita bisa lihat Waduk Jatiluhur beserta keramba-kerambanya yang bikin gigitan-gigitan nyamuk tadi ga (terlalu) berasa. Kami beristirahat sejenak di CP pertama, memulihkan tenaga yang sedikit terkuras dengan minum dan tentunya foto-fotoooo.. hahaha..

IMG-20160111-WA0026[1]
Wefie dulu di check point I

Ga terlalu lama, kang Ebi kembali mengajak kami menghadapi realita di depan mata, tebing Gunung Parang yang akan didaki, aaaaaakkkk.. Ngeliatnya bikin mules perut, tinggi bener, ga ada datar-datarnya (emangnya lantai, Yan?). Mau ga mau, berhubung udah nyampe sini, ga mungkin mundur. Lanjut, ngedaki tebing sedikit, kita sampai di CP kedua, dan tiba saatnya kang Ebi memberikan briefing tentang penggunaan carabiner, apa itu carabiner? Carabiner itu pengait yang dipakai untuk mengaitkan tubuh kita ke kawat baja dan/atau ke tangga besi, supaya kalau ada kejadian (amit-amit) kayak kepeleset gitu, masih ada yang nahan badan kita.

IMG-20160110-WA0026
Briefing santai dulu di check point II

Oh iya, naik bersama BGP ini akan dilakukan setinggi 300 meter dan ga semua vertikal, ada saatnya juga kita harus merayap kayak cicak dan hanya berpegangan pada tebing karena harus berbelok. Awal-awal mungkin emang agak watir, karena mau ga mau ngeliat ke bawah dan itu tinggi bangettt, tapi bisa disiasati dengan dengerin musik atau foto-foto (difotoin guidenya) biar lebih rileks. Ga beberapa lama manjat, Yan udah ga ngerasa ngeri lagi ngeliat ke bawah, karena, masyaAllah, indahnya, ga ngerti tadi kenapa harus takut naik, dan seru banget.

IMG-20160110-WA0030
Baru naikkk…
IMG-20160110-WA0025
Bagian nyamping, jalan kayak kepiting, peluk tebing

Di ketinggian 250 meter terdapat cerukan gitu kayak gua yang bisa dipakai untuk istirahat, inilah CP kita yang ketiga dan di CP ini berhubung tempatnya agak gede bisa ngemping dengan kapasitas terbatas, bahkan ya, kata kang Ebi, kemaren ada yang honeymoon disini. Oh iya, disini juga ada pembatasnya berupa kawat baja, jadi kalau kita berada di dalam lingkup kawat baja, carabine-rnya boleh dilepas, terus kebetulan kita berpapasan dengan rombongan lain yang mau turun. Dari cerita mereka sih, lebih deg-deg ser pas turunnya. Berhubung ga mau merusak kesenangan dan ketentraman hati karena udah rileks dan selow, kata-kata mereka ga terlalu Yan dengerin. “Mari kita rasakan sendiri nanti, jangan dirasa-rasa sekaranglah, yang sekarang nikmatin dulu aja.” Kira-kira gitulah yang Yan bilang dalam hati.

Oh iya, berhubung belum ada lift atau eskalator ke atasnya maka belum ada yang jualan soto ayam, nasi padang ataupun mie ayam di atas, jadi jangan lupa bawa minum dan cemilan kayak cokelat buat pemulih tenaga masing-masing ya. Hehehe..

P_20160110_115555
Narsis dulu di CP III

Setelah berfoto-foto dan rehat sejenak, pendakian dimulai lagi, hurray! Jalur selanjutnya ini cenderung vertikal walaupun cuma 50 meter lagi berhubung matahari sudah di atas kepala dan angin mulai enggan berhembus (aseek) jadi berasa lebih capek dibanding naik yang 250 meter tadi. Eh, ngomong-ngomong tentang angin yang berhembus nih ya, ini pendapat pribadi Yan aja, untuk orang-orang kutilang darat (kurus, tinggi, langsing, dada rata) kayak Yan, saat angin berhembus jangan lengah dan lantas menikmatinya anginnya aja, tapi tetap berpegangan pada tangga besi atau tebing serta Al-Qur’an dan Hadist (eaaaakk) karena anginnya ga bisa diduga kekuatannya, bisa-bisa nanti bukannya Via Ferrata tapi malah jadi layangan awak yang ada, hehehehe.

 Lanjut nih ya, pendakian 50 meter terakhir ini berakhir di cerukan kayak CP yang ketiga tadi, cuma lebih kecil tempatnya, dan berhubung ini spot terakhir kita puas-puasin foto, ngemil, minum, dan tidur, yak mulai ngaco. Dari atas sini keliatan pemandangan waduk jatiluhur, gunung lembu (dan Yan bingung belah mananya gunung itu yang mirip lembu..), serta pemukiman warga di kaki gunung kumplit dengan hutan-hutan yang masih awet dan sawah-sawahnya yang baru mulai ditanami, masyaAllah. Langsung keinget Surat Ar-Rahman yang 31 dari 78 ayatnya bilang:

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

P_20160110_115928
Waduk Jatiluhur dan Gunung Lembu (?)

 

IMG-20160111-WA0010
Foto-foto dulu kakakkk…

Pemandangan indah, angin sepoi-sepoi, perasaan capek yang mulai datang dan waktu yang sudah masuk jam bobok siang bikin tebing yang keras berasa bantal, jadi mager turun. Tapi, mau tak mau setelah dicekokin coki-coki sama mbak Yuli, akhirnya Yan mau turun, padahal sebelumnya tiap kang Ebi ngajak turun pasti bilang, “Bentar lagi aja kang, selow, poto-poto dulu.” Hehehe..

9409
Ini ga datar ya, cuma salah sudut pengambilan foto aja, Diana, kamu luar biasa!

Akhirnya sesi foto terakhir sebelum turun ini dengan posisi menantang, lepas tangan dan ngehadap tebing alias ngebelakangin waduk jatiluhur, ngeliatnya sih awalnya kayak asik, gampang, cincailah, ehhh, lama-lama atut juga adek, kak… hehehe, mental tempenya keluar lagi. Nyesel sih karena ga berani kayak gitu, hahaha. Dari kami berenam cuma Diana yang berani difoto kayak gitu, daebak Dianaaa, kamu keren!

 

Berakhir sesi poto-poto, mulailah kami menghadapi kenyataan yaitu turun ke bawah tak segampang yang diperkirakan, huhuhu, mamaaaa… Sebenernya sih ya, bukan takut ngeliat ke bawah kalau Iannya, Yan ga ada masalah dengan ketinggian apalagi kalau udah lama di atas, the problem is Yan ga bisa ngeliat tangga yang di bawah buat dipijak selain ketutup sama celana juga ketutup sama jilbab yang melambai-lambai diterpa angin, next time bisa diakalin dengan pake peniti buat ngamanin lambaian jilbabnya.

Beberapa tangga pertama aman, tapiiii, mungkin karena Yan lelah, kurang tidur, dan ga sarapan pagi, jadi aja ini lutut bergetar cetar, hehehe, sebelumnya juga Yan emang pernah ada kecelakaan terkait lutut, intinya kaki kanan Yan ga bisa ditekan, ataupun dikasih beban terlalu lama. Walaupun agak gemetar tiap dipijakin tapi alhamdulillah ga menimbulkan masalah. Turun dari check point terakhir ke check point ketiga itu berat banget, ga tahu kenapa, turun 50 meter ini lebih berat daripada 250 meter selanjutnya. Perjalanan turun ini bikin deg-deg ser, karena harus hati-hati sama pijakan di bawah, jangan sampai kepleset, hehehe, selain itu ga ada lagi sih.

Seru banget! Sampai di check point pertama belum bisa bernapas lega, karena harus segera turun, Diana dan temennya harus naik kereta ke Jakarta, rehatnya cuma bentar, masih sempat poto-poto dulu. Pas di hutan, berhubung beberapa titik menurun, harus hati-hati, licin dan kaki juga gemetar, capek, tapi jangan sampai kehilangan konsentrasi.

Akhirnya, setelah berusaha dengan tenaga terakhir sampailah di base camp, lepas semua safety kit dan beralih ke saung beserta bantalnya. Alhamdulillah. Oh iya, di BGP ini ada kamar mandinya, jadi kalau berkeringat, rambut lepek, bau badan mengganggu, bisa mandi disana. Atau, kalau mau istirahat memulihkan tenaga, bisa tidur dulu di saung, atau pesan makan siang juga bisa. Perjalanan naik turun gunung para via ferrata ini memakan waktu sekitar 2-2,5 jam, ga lama kannn.. 🙂

Pengalaman yang ga direncanakan dan ga terduga ini benar-benar pengalaman berharga pembuka awal tahun buat Yan. Makasih Badim, makasih juga BGP. Buat temen-temen yang mau coba via ferrata ini, yuk ah, jangan ragu-ragu. Di Indonesia via ferrata baru cuma ada di Gunung Parang lho, insyaAllah ga akan nyesel. Oh iya, ada beberapa hal yang harus diperhatiin sebelum ikut via ferrata ini yaitu:

  1. Pastiin kamu ga punya phobia ketinggian;
  2. Pastiin bawa obat pribadi dan kalau punya penyakit asma ataupun jantung, konsultasi dulu sama dokter ataupun guide kamu;
  3. Bawa lotion anti nyamuk dan/atau minyak kayu putih;
  4. Pakai pakaian yang nyaman, untuk cewe, mending jangan pake gamis ya, rempong, neng..
  5. Pakai alas kaki yang nyaman dan tapaknya ga licin;
  6. Berdo’a! Apapun agamamu, percaya kalau kekuatan Tuhan akan selalu menjaga kamu;
  7. Makan maksimal 1-2 jam sebelum kamu naik;
  8. Bawa baju ganti dan peralatan mandi;
  9. Bawa minum dan usahakan pakai tumbler ya;
  10. Bawa cemilan buat isi tenaga di atas nanti;
  11. Buang sampah di tempatnya, jangan jadi tukang nyampah ya;
  12. Perhatikan instruksi dari guidenya;
  13. Biar rileks, silahkan coba dengerin musik, tapi jangan pakai headset, biar kalau ada instruksi dari guide bisa diperhatiin. Atau poto-poto aja, naik dikit, naik banyak, cekrek, cekrek. Pas turun juga, cekrek, cekrek, cekrek. Hehehehe..
  14. Have fun! Jangan mikir yang macam-macam.

Hampir lupa, kalau kamu mau nyoba via ferrata ini bisa cek instagramnya Badega Gunung Parang di https://www.instagram.com/badegaparang/ atau langsung hubungi hotlinenya di +62-8787-470-8230.