Berburu Kabut di Bukit Penjemuran a.k.a Pamoyanan Subang

Kadang, yang terindah tak diciptakan untuk dimiliki. Cukup dipandangi dari jauh, lalu syukuri bahwa ia ada di sana untuk dikagumi dalam diam.

Fiersa Besari

Biasanya paragraf pertama untuk tulisan di blog yang sudah lama tidak ditengok ini adalah permintaan maaf karena banyak kesibukan dan segudang alasan lainnya 😀 Padahal kadang males aja, hehe. Tapi bener deh, beberapa bulan terakhir saya dan istri lumayan sibuk dengan pekerjaan kami, termasuk saya yang baru pindah kantor, hampir tidak ada waktu untuk menulis bebas, pulang sudah cape pengennya langsung tidur. Weekend, seringnya males pergi kemana-mana, sudah terkenal kalau Bandung macet di akhir pekan. Makanya tidak heran ada peribahasa “Doing nothing di akhir pekan mungkin adalah kemewahan terakhir yang dimiliki para pekerja”…

Di tulisan pertama setelah lebaran ini (mohon maaf lahir batin ya netizen), saya ingin bercerita tentang perjalanan ke salah satu tempat wisata yang populer beberapa bulan belakang. Hari sabtu itu, sedianya saya dan orang tua saya ingin pergi ke pemandian air panas Ciater, Subang, biar badan enakan katanya. Ya sudah, udah lama ga Ciater, pun lama juga ga jalan-jalan bareng keluarga, quality time kata orang. Sebelum berangkat, saya juga memantau kondisi cuaca, kangen juga pengen treking atau sekedar camping, ah ya sudah sekalian bawa hammock, matras, flysheet dan kamera. Kalaupun nanti mendung, tinggal balik ke rumah saja. Kami berangkat dari rumah kurang lebih sekitar jam 6 pagi, sampe Ciater jam 7, sarapan, berendam sampai jam 10.

Selesai berendam, cuaca sepertinya bagus, akhirnya saya pamit orang tua, untuk meneruskan perjalanan ke Bukit Pamoyanan, Tanjungsiang, Subang. Bukit Pamoyanan ini konon terkenal dengan pemandangan kabut pagi harinya. Bukit Pamoyanan ini juga menjadi target saya dan kawan-kawan untuk berburu fogwave, terinspirasi dari foto-foto fogwave pakde Nick Steinberg .  FYI, foto fogwave adalah foto kategori long exposure dimana kabut yang bergerak bisa diabadikan sehingga terlihat seperti aliran air. Berbekal informasi dari internet dan babang Dedot, saya melanjutkan perjalanan ke Bukit Pamoyanan yang berjarak sekitar 30-45 menit dari pemandian air panas Ciater. Dari bunderan Jalan Cagak/Tugu Nanas, ambil jalan ke arah Tanjungsiang/Sumedang.

Ada kurang lebih 3 SPBU sebelum mencapai gerbang masuk, jadi tidak perlu khawatir kehabisan bensin. Sebelum gerbang Desa Kawungluwuk tempat Bukit Pamoyanan berlokasi, akan ditemui beberapa baligo sponsor Bukit Pamoyanan, gerbangnya sendiri terdapat di sebelah kanan dari arah Subang.

pamoyanan-gerbang.png

Gerbang desa Kawungluwuk, seiring popularitas naik, gerbangnya sudah diganti dengan yang lebih besar

Dari gerbang ini jalan akan menyempit dari 2 lajur jadi 1 lajur dengan trek menanjak, mungkin kalau bawa mobil agak sulit kalau berpapasan dengan kendaraan lain. Kurang lebih 5 menit dari gerbang akan ditemui pos tiket Bukit Pamoyanan di sebelah kanan.

gerbang pos tiket pamoyanan

Di pos tiket ini akan dipungut retribusi oleh warga setempat Rp. 10000/orang, nantinya di tempat parkir motor akan dikenakan Rp. 10000 untuk parkir camping & Rp. 5000 untuk parkir non-camping. Saya sampai di parkiran sekitar pukul 13.00, berhubung matahari berada tepat di ubun-ubun saya memilih solat Dzuhur dulu di musholla dekat parkiran, selain itu ada beberapa warung dan WC umum.

 

 

Lepas solat, sambil menunggu matahari agak bersahabat, saya beristirahat di musholla. Karena masih siang, hanya terlihat beberapa pengunjung. Pukul 14.30 saya memutuskan berangkat ke tempat camp. Dari parkiran terdapat tangga cukup terjal, sepertinya baru dibangun, lumayan juga panas-panas gini bikin keringat bercucuran. Tangga beton tadi tidak terlalu panjang, selanjutnya trek tanah & batu saja, sepertinya dulu jalan ini pernah bisa dilewati mobil. Nanti akan ditemui beberapa saung dan warung, sebelum percabangan, lurus (kiri) ke arah warung-warung, kanan langsung ke tempat camp.

 

 

Saya memilih langsung ke tempat camp karena khawatir tidak kebagian tempat. Sampai di tempat camp agak kaget karena sudah banyak tenda yang didirikan. Ternyata, tenda-tenda tadi adalah tenda yang disewakan pengelola dengan tarif 50rb per malam. Camping ground sepertinya hanya diperbolehkan di undakan-undakan yang dibuat pengelola, karena ketika ada pengunjung membuka tenda di puncak Bukit langsung ditegur. Sebelah utara camping ground ini adalah pemandangan ke arah kota Subang dengan view 180° sehingga kita bisa melihat sunrise & sunset. Di sebelah selatan camping ground ada Gunung Canggah yang treknya kelihatannya mirip-mirip gunung Puntang. Di kejauhan sebelah barat bisa samar-samar bisa terlihat gunung Tangkuban Perahu & Burangrang.

 

 

Saya sendiri memilih mencari pasangan pohon untuk mendirikan hammock. Setelah mendirikan hammock dan flysheet saya lanjut explore daerah puncak Pamoyanan. di puncak terdapat sebuah shelter untuk bernaung jika pengunjung tidak membawa tenda. di sekitarnya camping ground bisa menampung ratusan tenda. Soal logistik juga tidak perlu khawatir karena ada beberapa tenda yang buka 24 jam. Musholla dan WC umum juga tersedia di sebelah selatan camping ground. Udah enak banget sih tempatnya, tidak aneh kalau banyak pengunjung dari luar kota termasuk Tangerang & Bekasi yang sampai kesini. Oya, di puncak Pamoyanan ini terdapat beberapa platform untuk dijadikan tempat berfoto, termasuk menara 2 tingkat setinggi kurang lebih 5 meter yang terbuat dari bambu. Saya sendiri mencoba naik, walaupun terlihat ringkih tapi setelah dicoba ternyata lumayan kokoh, jangan lupa gantian dengan pengunjung lain ya.

Sore itu, alhamdulillah cuaca sangat mendukung, senja menyongsong di ufuk barat menemani camping ground yang makin ramai.

Malam di Bukit Pamoyanan

Magrib menjelang di bukit pamoyanan, saya dan sebagian pengunjung solat di musholla. Lepas sholat, waktunya mengisi perut di warung, beberapa ulén (snack dari ketan) dan mie instan + telur sukses mengenyangkan, harganya masih normal sih. Target saya di bukit pamoyanan ini sebenarnya hanya berburu kabut nanti pagi sih, tapi karena malam masih panjang, akhirnya mengambil beberapa foto malam yang ternyata tidak kalah menarik. Walaupun kelihatannya tidak mendung, tapi sepertinya kabut tipis dan polusi cahaya dari permukiman membuat bintang-bintang di langit tidak terlalu jelas, selain itu saat itu juga bulan purnama.

 

 

Beruntung, sebelum purnama muncul kabut dan awan sedikit menghilang, dapet lah milkyway tipis-tipis. Sekitar pukul 9 malam bulan terbit di ufuk timur. Karena purnama, area camping ground bisa terlihat cukup jelas walaupun tidak menggunakan headlamp.

 

 

Setelah puas berfoto, saya kembali ke hammock berniat untuk tidur. Saya kira di Pamoyanan ini bakal gerah karena daerah Subang, ternyata angin yang berhembus cukup kencang membuat saya perlu menggunakan sleeping bag. Karena dingin, akhirnya banyak pengunjung membuat api unggun, nah asap api unggunnya ini somehow mengarah ke tempat camp saya, kan bgz*d 😂 Awalnya cukup dengan buff, tapi lama-lama ga kuat juga, akhirnya saya cari tempat nongkrong lain. Jam 11 malam saya balik lagi ke hammock karena angin tidak terlalu kuat dan asap sudah bersahabat. Mungkin karena sudah berendam dan kecapean, saya tertidur pulas walaupun asap kembali datang …

Bukit Pamoyanan, Subuh

Jam 4 pagi, kumandang tadarus & sholawat bersahutan dari mesjid di sekitar kaki gunung, saya pun terbangun. Beberapa pengunjung berdatangan, sepertinya khusus untuk mengejar momen sunrise. Karena belum adzan, saya coba foto-foto sebentar. Konon momen kabut di Bukit Pamoyanan ini tidak selalu ada, tapi peluangnya lebih besar muncul di musim kemarau. Dari menara pandang sudah dapat terlihat kumpulan kabut menutupi permukiman. Tidak lama adzan subuh berkumandang, saya pun bergegas ke mushola.

Pukul 5.30 pagi saya sudah mencari spot untuk berburu fogwave, di ufuk timur sudah mulai muncul warna jingga, ternyata bisa terlihat gunung Tampomas dan Ciremai. Waktu sore kemarin sepertinya kurang jelas terlihat karena haze.

DSC07496

Pukul 6 pagi matahari muncul di ufuk timur diiringi riuh para pengunjung yang sibuk mengabadikan momen. Saya sendiri hampir tidak bisa bergerak dari spot foto awal karena ramainya pengunjung. Makin siang, kabut semakin tebal, angin yang bertiup lembut ke arah barat mengisyaratkan sepertinya ideal untuk foto fogwave. Saya sendiri belum tahu settingannya, tapi menurut pakde Nick Steinberg ambil ekposure sekitar 200 detik. Kalau eksposure terlalu lambat, kelihatannya jadi flat, terlalu cepat jadi ngefreeze, tidak terlihat tekstur gelombangnya. Karena sudah siang, untuk foto long eksposure harus menggunakan filter untuk mengurangi intensitas cahayanya. Beruntung karena saya menggunakan Sony Nex-6 terdapat aplikasi Smooth Reflection yang bisa digunakan untuk alternatif foto menggunakan filter. Sepertinya saya sukses mengambil fogwave dengan setingan ISO 100, shutter 1/5″ diambil dengan kurang lebih 32 frame yang digabungkan sendiri di kamera, dengan output RAW 🤣 So here comes the fogwave …

DSC07547
Fogwave di Bukit Pamoyanan

Hingga pukul 7,  kabut masih bisa terlihat dari Bukit Pamoyanan, tapi viewnya sudah flat dan angin relatif tidak berhembus seperti sebelumnya. Saya merasa ngantuk, akhirnya tidur lagi di hammock sampai dibangunkan teriknya matahari pukul 9. Enaknya camping ga pake tenda adalah packing ga terlalu ribet. Sebelum pulang sarapan dulu di warung, mie instan lagi (maafkan kakanda, istriku ✌). Saat pulang, kondisi camping ground sudah lumayan sepi.

Dengan view kabut pagi hari yang unik, Bukit Pamoyanan ini termasuk salah satu spot favorit sunrise saya, fasilitas pendukung seperti warung, musholla, wc umum juga menjadi nilai tambah, cocok untuk kemping keluarga. View malam walaupun indah, tapi tidak terlalu istimewa, jadi kalau hanya berburu sunrise cukup berangkat dini hari dari Bandung, tapi tidak disarankan jalan sendiri mengingat lalu lintas ke arah Pamoyanan ini sangat sepi bahkan di siang hari. Next time, insyaallah menarik juga sepertinya treking ke gunung Canggah, moga2 kesampean.

Untuk informasi terkait bukit pamoyanan ini bisa pantau di ig @yuulinkasubang / @explore.pamoyanan / @bumper_pamoyanan, jangan lupa follow ig saya @adinovic yak ✌

Iklan