Catatan Perjalanan Susur Pantai Selatan Jawa Barat : Part 4 Pantai Sayangheulang

Jarak adalah sebuah garis batas, tetapi jalinan perasaan adalah penembusnya – Agustinus Wibowo, Garis Batas

6 April 2016

Saya meninggalkan Pantai Jayanti sekitar pukul 6 sore, sore itu walaupun angin berhembus kencang tapi tidak mengalahkan gerahnya udara pantai, alhasil sampai di mobil, AC langsung digeber (sebentar). Malam mulai menyelimuti jalan Raya Cidaun, jalanan juga makin sepi, hanya ada beberapa truk pengangkut kayu dan warga yang pulang dari mesjid. Sekitar 30 menit, kami sampai di perempatan pantai Rancabuaya. FYI, dari perempatan Rancabuaya ini kita bisa menuju Bandung melalui Pangalengan sekitar 4-5 jam melalui jalan yang turun naik (perjalanan ke Rancabuaya lewat Pangalengan ini insyaallah akan dibahas di tulisan lain 😉 ). Di perempatan ini dapat ditemui dynamic duo minimart, jadi bisa belanja barang-barang kebutuhan perjalanan. Di Rancabuaya ini kami hanya numpang lewat karena tujuan kami hari ini adalah pantai Sayangheulang, yey!

Pantai Sayang Heulang terletak di Desa Mancagahar, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut Selatan. Dari pantai Jayanti, Pantai Sayangheulang berjarak sekitar 60 km. Dari Rancabuaya, kondisi jalannya sekitar 80% adalah aspal mulus, dengan pemandangan sebelah selatan adalah samudera Hindia. Tapi karena jalan malam, tentunya pemandangan lautnya ga bisa kelihatan, tapi kita bisa melihat beberapa sinar lampu yang berasal dari perahu nelayan dan tambak yang berada di sekitar pantai. Sesekali kita akan melalui beberapa jembatan besi, diantaranya cukup populer menjadi obyek foto. Kondisi penerangan sangat minim, ditambah permukiman juga cukup jarang, maka ada baiknya untuk selalu waspada. Entah kenapa pantainya dinamai Sayang Heulang (yang klo diterjemahkan artinya Sarang Elang), mungkin dulunya di sana memang habitat elang.

Oya, dari Rancabuaya ke Sayangheulang sebenarnya juga dapat ditemui beberapa obyek wisata seperti Puncak Guha, Pantai Cicalobak, Pantai Kareng Tepas, Pantai Cimari, dll. Sekitar pukul setengah 8 malam, kami sampai di pertigaan Pantai Santolo, dari sana perjalanan hanya sekitar 5 menit ke pertigaan Pantai Sayang Heulang.

Screen Shot 2016-05-05 at 8.02.04 PM.png
Gerbang menuju pantai Sayang Heulang

Tapi karena perut kosong, kami tidak langsung menuju pantai, kami singgah dulu di rumah makan Cilauteureun yang berada sekitar 10 meter dari pertigaan Sayang Heulang. Tempat makan ini sangat recommended karena rasanya enak, harganya juga terhitung murah, 2 porsi cumi masak (1 porsi 25rb), 1 ayam kampung goreng (harganya lupa berapa, kaget juga sama ukurannya karena biasanya ayam kampung kecil-kecil ini gede banget, mungkin 1.5x ayam goreng KF*C), 5 es gelas es teh manis, dan nasi untuk 5 orang cuma 90rb!

DSC03896

Setelah makan, kami langsung menuju penginapan yang berjarak sekitar 3 km dari jalan raya, dari hasil browsing selama perjalanan, pilihan jatuh ke penginapan Karang Laut, 1 kamar dengan ukuran sekitar 4x5m dengan fasilitas 2 kasur, kamar mandi dalam dan AC dibandrol Rp. 450rb, untungnya tersisa 1 kamar yang langsung kami sewa.

Penginapannya cukup bersih, namun waktu di kamar sinyal seluler nyaris nihil, akibatnya hampir semuanya mati kutu. Tidak banyak yang kami lakukan saat itu, Pories langsung tidur, Saya, Wahyu dan Arief sempat bermain kartu beberapa game. Sampai sekitar jam setengah 10 malam saat kami tiduran, tiba-tiba saya merasakan kasur bergoyang, spontan yang lain juga saling tatap, saya lihat botol air eh kok goyang juga. Saya coba keluar kamar, pohon-pohon juga bergoyang, keadaan ini berlangsung kurang lebih 15 detik. Saya dan Pories bergegas ke pantai untuk melihat apakah ada tanda-tanda tsunami, sekalian cari sinyal dan informasi dari BMKG. Rupanya memang gempa berkekuatan 6.1 SR dengan episentrum 101km barat daya Garut. Beberapa pengunjung terlihat bergegas memakai kendaraan untuk evakuasi, sementara warga sendiri tidak terlihat beraktivitas. Setelah memastikan tidak ada potensi tsunami, kami kembali ke kamar, lalu langsung terlelap. Saya sendiri niatnya klo beneran tsunami sih mau lari ke menara pengawas yang ada di dekat tugu elang. Untungnya ga beneran tsunami, karena saat besoknya saya cek, tangga di menara pengawas sekarang sudah raib …

DSC03891

7 April 2016

Sekitar jam 3 pagi saya terbangun, niatnya mau hunting milkyway, tapi mata masih ngantuk, merem bentar tau-taunya udah jam 4 -_- Kebetulan Wahyu sudah bangun juga, jadi saya ajak temenin aja, takut kenapa-kenapa :p Niatnya sih mau motret jembatan Santolo ini, cuma dari penginapan ternyata jauh dan ga akan sempet -_-

882559_727583550591303_1283746556_o
(arsip) Jembatan pulau Santolo, terakhir sih rusak parah jadi ga bisa dilalui (sabotase? :p)

Nah, akhirnya cuma motret di reruntuhan warung yang ada di sepanjang jalan pantai. Untuk menentukan posisi milkyway selain dengan pengamatan langsung (di tempat yang polusi cahayanya rendah seperti di pedesaan, pantai yang sepi atau gunung, milkyway bisa terlihat jelas), saya menggunakan aplikasi di smartphone seperti stellarium atau google sky. Untuk pemotretan, saya menggunakan Sony Nex-6 dengan lensa Samyang 12mm (ekivalen 16mm di APS-C) di bukaan 2.0, ISO 1600, shutter speed 20-25 (mengikuti aturan 500/focal length lensa). Saat itu posisi milkyway melintang dari arah selatan ke utara. Hasilnya … Subhanallah …

DSC03804
Aku disini, dan kau di sana, kita memandang langit yang sama, jauh di mata, jauh dari mana-mana juga …
DSC03819
Milkyway over stall ruin
DSC03818-2
Paling enak klo ronda, pemandangannya kaya gini, bukannya jaga, malah foto-foto, ckckck

Ah, subuh berlalu sangat cepat, adzan subuh bergaung bersahutan, warga juga sudah mulai beraktivitas. Langit mulai berubah kebiruan, jadi saya bergegas kembali ke penginapan untuk sholat subuh. Usai solat, saya sempet main kartu 1 game, lepas itu ngajak yang lain untuk mengejar sunrise di pantai. Oya pantai Sayang Heulang ini terdiri dari pasir kecoklatan yang cukup halus, dilanjutkan dengan hamparan dataran karang yang menjorok kurang lebih 500m ke arah laut, airnya tenang dan dangkal, sementara ombak pecak di penghujung karang, jadi cukup aman untuk tempat bermain anak-anak. Di dalam karang juga terdapat ikan-ikan kecil yang terperangkap (hati-hati juga ada ular laut) yang biasanya dimanfaatkan nelayan.

Sekitar pukul 6 pagi, matahari terbit di ufuk timur, saya ga punya lensa tele jadi pakai lensa kit untuk memotret. Saat itu matahari terbit berbentuk bulat sempurna dan memancarkan warna jingga yang cantik.

DSC03859
Man of Still
DSC03863
pose andalan, pardon my calf 😉

Setelah foto-foto rasanya kok kepala agak berat, rebahan dikit di pasir, tau-tau ketiduran setengah jam. Matahari rasanya naik cukup cepat, tidak terasa panasnya mulai menusuk. Saya langsung pulang ke penginapan, mandi, repack, rencananya kami sarapan di rumah makan Cilauteureun lagi. Sekitar pukul 9 pagi, kami check out dari penginapan menuju rumah makan. Siang hari akan terlihat pemandangan perkebunan dan persawahan sepanjang gerbang pantai ke jalan raya Cilauteureun. Kalau memakai kendaraan umum sepertinya sih perlu naik ojek dari jalan raya.

DSC03892
Suasana jalan dari/menuju pantai Sayang Heulang
DSC03908
ada sawah juga

Di rumah makan Cilauteureun, kami memesan nasi rames dengan sayur, ati ampela dan pepes ikan, total sekitar 70rb untuk 5 orang. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke obyek wisata berikutnya : Pantai Cipatujah & Body Rafting di Citumang. Tunggu catatan perjalanan berikutnya ya, semoga belum bosan 😉

Cost Damage :

  • isi bensin : Rp. 200rb
  • tiket : Rp. 3rb/orang (waktu jalan-jalan sebelumnya)
  • penginapan : Rp. 450rb
  • makan : Rp. 90rb (malam), Rp. 70rb (pagi)

DSC03899

Iklan

Catatan Perjalanan Susur Pantai Selatan Jawa Barat : Part 3, Pantai Jayanti

Search not for a friend in time of need, for a true friend shall find thee – Aristoteles

6 April 2016

Siang itu menunjukkan sekitar pukul 14.00 saat kami meninggalkan Curug Cikaso. Perjalanan dari Curug Cikaso kami lanjutkan ke obyek wisata berikutnya, yaitu Pantai Jayanti. Hujan mengguyur cukup deras saat kami memasuki daerah Tegalbuleud yang dikelilingi hutan karet dan hutan jati. Kondisi jalan masih mulus dan berkelok-kelok melalui perbukitan.

Sesekali kami berpapasan dengan pengendara lain, termasuk teteh-teteh yang masih berpakaian seragam lengkap, membawa motor tanpa jas hujan di tengah hujan yang lebat, pengen rasanya diajak bareng aja, kan kasian motornya #eh. Oya kondisi jalanan seperti ini mengingatkan saya lagi dengan jalan antara Belitung barat dan Belitung timur. Jarang sekali ditemui permukiman penduduk, apalagi pom bensin, sepi.

DSC03725

Kondisi jalanan yang mulus ini dilalui sekitar 1.5 jam sampai tiba-tiba kami melalui jalan yang nampaknya semalam dihujani meteor. Cek di peta, rupanya kami sudah sampai di sekitar perkebunan Agrabinta yang termasuk ke dalam wilayah kabupaten Cianjur. Perkebunan ini menjadi batas wilayah antara kabupaten Cianjur dan Sukabumi.

Dengan kondisi jalan seperti ini, praktis mobil kami tidak bisa melaju dengan cepat, ada mungkin 20-30 km/jam, sesekali kolong mobil harus beradu dengan batu karena tidak ada pilihan jalan lain. Di beberapa lokasi juga ada perbaikan jalan seadanya yang dilakukan oleh warga. Di sekitar perkebunan ini dapat ditemui warung-warung (dan klo ga salah juga ada yang jual bensin), mobil setum yang teronggok dan truk-truk pengangkut kayu. Sekitar 15 menit kami melalui jalan ini, sampai akhirnya bertemu dengan jalan mulus lagi dan mobil pun dipacu lebih kencang, #fiuh.

DSC03748
tarik maang …

Oya, sepanjang perjalanan kita juga akan menemui beberapa sungai dan jembatan (di antaranya cukup panjang).

DSC03750

Nah, jika sudah mulai banyak ditemui jembatan dan permukiman warga, artinya kita sudah memasuki daerah Sindangbarang. Di Sindangbarang ini terdapat SPBU, minimart mesjid raya dan Alun-alun Sindangbarang. Kami sampai di Sindangbarang sekitar pukul 4 sore, sayangnya kami tidak banyak menghabiskan waktu di sini, cuma lewat.

DSC03753

Dari Sindangbarang, mungkin sekitar 1 jam kita melalui jalan raya Cidaun, kita akan menjumpai persimpangan antara jalan utama dan Pantai Jayanti. Untuk menuju pantai Jayanti, belokkan kendaraan ke sebelah kanan, yang ditunjukkan plang penunjuk arah.

Memasuki gerbang pelabuhan Jayanti, akan dijumpai pos tiket, namun karena kami datang saat sore (jam 5), sepertinya petugasnya sudah pulang, jadi kami tidak membayar apa-apa. Tidak lama sekitar 10 menit, kami sampai di area pelabuhan Jayanti.

DSC03759

Kondisi langit yang mendung mengurungkan niat saya untuk berburu sunset. Struktur pantai Jayanti ini terdiri dari pepasir hitam dan bebatuan (sepertinya bukan karang). Di sekitar pantai ini terdapat banyak perahu nelayan yang bersandar (ya iya lah namanya juga pelabuhan), pasar ikan, dan beberapa mercusuar. Ombak yang cukup kencang menjadi alasan yang cukup kuat untuk larangan berenang.

DSC03763
Sore mendung di Jayanti

Dari mercusuar (entah masih beroperasi atau tidak), kita dapat melihat pantai Jayanti secara luas dari ketinggian. Kondisi mercusuarnya sendiri rasanya cukup ringkih, terdapat tangga (tambang) yang bisa digunakan pengunjung untuk naik ke mercusuar. Saya sendiri cuma berani ke lantai dasar mercusuar.

Hal yang saya sukai dari pantai ini adalah kombinasi dari pasir, obyek foto yang mencolok (mercusuar), bebatuan dan ombak yang cukup besar menjadi komposisi yang menarik untuk foto slow speed, kurang milkyway aja sih ini 😀

DSC03776
mendung galau di Jayanti …

Ombak semakin berdebur kencang dan air laut juga mulai pasang, akhirnya kami berjalan-jalan di sekitar pelabuhan ini, rupanya terdapat beberapa penginapan, sayangnya saya tidak sempat bertanya rate-nya berapa. Sebelum meninggalkan pantai Jayanti, saya sempatkan naik ke mercusuar berwarna biru yang ditemui saat memasuki pelabuhan, tingginya mungkin sekitar 10m, yah lumayan lah dapet bird view tanpa drone :3

Sepertinya mercusuar ini memang tidak dirancang untuk dinaiki banyak orang, soalnya ketika sampai di puncak, waktu itu ada 5 orang di atas, saya pribadi merasakan mercusuarnya goyang :)) Entah faktor angin atau memang struktur mercusuarnya seperti itu, saya memutuskan untuk segera turun. Secara umum, saya menyukai pantai ini karena terdapat komposisi obyek foto yang jarang ditemui di tempat lain di pantai selatan Jawa Barat seperti yang saya sebutkan sebelumnya, jadi cocok lah buat para fotografer landscape. Kalau dari segi fasilitas, sepertinya sih sudah cukup, karena pantai ini memang tidak ditujukan untuk berenang jadi saya tidak menemui kamar ganti umum, selain itu tempat parkir luas, tempat makan dan penginapan juga tersedia. Saya sih ga terlalu berharap pantainya seramai pantai Santolo atau Pangandaran.

Tidak berapa lama, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Sayangheulang, tunggu catatannya di tulisan berikutnya 😉

DSC03777
Ciao, Jayanti

 

Catatan Perjalanan Susur Pantai Selatan Jawa Barat : Part 1, Pantai Ujunggenteng

Kalau ada yang bertanya siapa yang ingin kembali ke masa lalu, atau pergi ke masa depan, mungkin semua orang menunjuk tangan. Sayangnya hingga saat ini (saat tulisan ini dibuat) mesin waktu (untuk manusia) belum bisa dibuat. Padahal jika ada yang sadar, ada komponen alam semesta yang sudah melakukan penjelajahan waktu : Cahaya. Cahaya dapat bergerak melintasi waktu. Cahaya bintang yang kita lihat malam ini mungkin datang dari bintang yang sudah mati, cahaya matahari yang kita lihat saat ini berasal dari matahari 8 menit yang lalu. Termasuk Foto. Ya, foto pada dasarnya adalah berkas cahaya yang disimpan ke dalam medium (digital/film), dan mereka berasal dari masa lalu dan dapat kita saksikan saat ini.

Selain foto, masih ada tulisan, yang menjadi tanda keberadaan akan suatu peradaban (karena itu, masa-masa peradaban manusia dimana tidak ditemukan sumber tulisan dinamakan masa pra-sejarah/nirleka). Jangan lupa, ingatan manusia juga terbatas, maka keberadaan tulisan

Nah, cukup prolognya, kita lanjut basabasinya :p Di tulisan ini, saya akan menuliskan catatan perjalanan hasil penelusuran pantai selatan jawa barat. Terlahir di Kota Bandung yang dikelilingi gunung-gunung, mungkin perjalanan saya ke pantai dapat dihitung jari. Namun terinspirasi dari tulisan kak Wiranurmansyah (http://wiranurmansyah.com/10-pantai-paling-dekat-dengan-bandung) akhirnya beberapa tahun yang lalu muncul niat untuk menjelajahi pantai selatan Jawa Barat. Keinginan ini hanya menjadi wacana hingga terwujudkan tanggal 5-9 April 2016 dengan bantuan sponsor (dari kantor) 😀 Perjalanan ini sebenarnya dadakan juga, mengingat sebelumnya kami berencana berwisata melakukan rapat kerja ke daerah Malang, namun karena satu dan satu hal lainnya, agenda ini urung dilakukan.

Secara umum perjalanan menelusuri pantai selatan Jawa Barat dari Bandung memakan waktu 5 hari 4 malam dan menempuh lintasan

Bandung – Pantai Ujung Genteng – Curug Cikaso – Pantai Jayanti – Pantai Sayangheulang – Bodyrafting Citumang – Pantai Pangandaran – Cipanas Garut – Bandung

sepanjang kurang lebih 800 km menggunakan kendaraan pribadi.

Di tulisan bagian pertama ini, saya akan menuliskan pengalaman di hari pertama.

5 April 2016

Kami (Saya, Pories, Arief dan Wahyu) sepakat berangkat dari Bandung jam 05.00 di ITB, dan akan menjemput mas Firman di Kota Baru Parahyangan. Sialnya, malam sebelumnya saya belum pesan ke orangtua untuk dibangunkan lebih awal, akibatnya saya baru bangun jam 5.15, dan akhirnya baru berangkat jam 06.00. Jadilah saya bulan-bulanan anak-anak sepanjang perjalanan, #pasrah. Sampai di Kota Baru, langsung jemput mas Firman, rencananya sarapan di kupat tahu Padalarang, tapi ternyata ada rumah makan yang sudah buka di Kota Baru, jadilah kita sarapan di sana. Sepiring nasi uduk dan teh tawar hangat menjadi menu pembuka saat itu. Pukul 07.00 kami lanjutkan perjalanan ke pantai Ujung Genteng melalui Cianjur-Sukabumi. Sebenarnya ada jalur lain lewat Ciwidey, namun menurut beberapa informan, jalan ke Ciwidey tidak terlalu bagus (nurut juga sama yang punya mobil) dan sebagai Network Engineer, selain itu kami usahakan jalan yang dilalui efisien sesuai prinsip Traveling Salesman Problem #gaya.

Perjalanan melalui daerah Citatah yang lalu lalang oleh truk-truk besar pengangkut kapur dari pegunungan karst dengan jalan-jalan mulus yang berbelok-belok, untungnya masih pagi jadi jalan tidak terlalu macet. Lalu tidak terasa kami melewati persawahan Cianjur hingga akhirnya sampai di Sukabumi sekitar pukul 10. Memasuki Sukabumi, kami putuskan melalui jalur alternatif via Warungpeuteuy dengan alasan menghindari kemacetan di kota Sukabumi. Jalan yang melewati komplek persawahan ini ternyata kondisinya sangat jelek dengan lubang disana-sini dan aspal bergelombang. Kami melalui jalanan seperti ini selama kurang lebih 2 jam, selebihnya jalan yang kami lalui lumayan mulus. Selama perjalanan, selain mengandalkan google maps, rupanya mas Firman dan istrinya ternyata orang Jampang. Sebelumnya kami mengisi bahan bakar di daerah Baros. Sepanjang perjalanan dapat ditemui beberapa minimart, selebihnya hanya pepohonan dan rumput yang bergoyang.

Trek yang dilalui sebenarnya tidak sesuai jalur awal, karena seharusnya kita tidak melalui Tegalbuleud. Kami sampai di daerah Tegalbuleud sekitar pukul 14.00, di sini agak sulit rupanya menemukan tempat makan, banyak warung bakso tapi saat kesana kebanyakan tutup. Akhirnya kami makan di warung nasi dekat Curug Cikaso, di tengah perkebunan jati dan dekat sungai Cikaso. Saya memesan nasi + 2 perkedel jagung + tumis jamur, saat membayar, Makjang, 97000 untuk ber-5, lumayan muahal :)) Tapi karena sudah kelaparan, apa daya, setelah itu kami lanjutkan perjalanan ke Pantai Ujunggenteng. Dari tempat makan tadi, sekitar 15 menit kami melewati gerbang Curug Cikaso, tapi cuma lewat.

DSC03494
Warung nasi mahal 😦 tempatnya asik sih, terbuka dan dikelilingi hutan jati dan sungai

Sekitar pukul 3 sore, kami sampai di gerbang masuk daerah objek wisata Pantai Ujunggenteng, 1 mobil (berisi 5 orang) dikenakan biaya Rp. 35000, instead of diberikan karcis, kami diberi stiker Pantai Ujunggenteng. Mungkin karena plat nomornya Bandung, sudah pasti dikenakan retribusi, coba bilang mau ketemu Haji Dadang, mungkin gratis, mungkin loh ya.

DSC03501
Gerbang retribusi objek wisata pantai Ujunggenteng

Perjalanan berikutnya adalah menuju penginapan. Sepanjang perjalanan kita akan melalui permukiman dan kebun-kebun yang jadi tempat menggembala sapi.

DSC03504

Sebelumnya saya sempat search tempat menginap yang bisa muat 5 orang, full AC dan kamar mandi di dalam. Dari booking.com kami temukan Hotel Turtle Beach yang berada di pantai barat dengan harga Rp. 767.000/malam (sudah termasuk sarapan untuk 4 orang, wifi tersedia tapi bayar 10.000/jam), untungnya sinyal 3G Tsel masih kuat disini. Fasilitasnya terhitung bagus, tempat parkir luas, view sunset, laguna, dan jarang dilewati orang-orang. Hotel belum kami booking, untungnya lagi masih ada kamar kosong, dan ternyata harganya lebih murah sekitar 100rb dari harga website. Kami pilih kamar beach view di lantai 2 dengan alasan lebih privat :p Oya, penginapan ini berada tepat di depan gerbang menuju pantai Pangumbahan, jadi letaknya cukup strategis, walaupun jalan menuju penginapan adalah jalan tanah yang bergelombang, entah gimana klo hujan.

58263001
Kolam renangnya berair payau, jadi kurang seger :s

Lepas sholat dan istirahat sejenak, rencananya mau explore pantai sekitar, lalu malamnya dilanjut ke Pantai Pangumbahan untuk melihat penyu bertelur. Tapi apa daya, ternyata sore itu hujan mengguyur deras 😦 Alhamdulillah pukul 5 sore hujan berhenti dan kami bergegas ke pantai untuk mengejar matahari. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, perlengkapan lenong langsung digelar.

DSC03551
Plang penunjuk arah ke kota-kota besar di Dunia yang ada di halaman pantai Hotel Turtle Beach, note that Brasil arahnya ke dalam bumi. NB : jarak mungkin tidak akurat, jadi jangan coba-coba jalan kaki :p
DSC03537
Sunset belum lengkap tanpa silverqueen model
DSC03546
pose andalan B-)
DSC03569
Bersama rombongan kami juga terdapat pelancong lain yang ikut menikmati sunset

Tidak banyak yang dapat kami lakukan saat itu selain duduk di pinggir pantai menikmati sang senja terbenam di shelter-shelter yang terdapat di halaman hotel. Karena gerah saya sempat mandi di kolam renang ditemani dede-dede gemes dan om-om ganas :O

DSC03562
menikmati senja bersama teman tercinta sekantor
DSC03566
Wish you were here …

Lepas magrib, kami makan malam di restoran, saya memesan nasi goreng dengan harga 27ribu-an dan segelas es teteh manis, lumayan mengobati rasa lapar dan dongkol karena warung nasi mahal tadi siang, hehe. Setelah makan, rencana kami adalah mengunjungi Pantai Pangumbahan, tapi teman-teman sudah pada kepayahan, jadilah kami hanya beristirahat di kamar. Pories mengajak membeli snack di indominimart di jalan arah pantai timur Ujunggenteng, tapi hanya kami bertiga (Saya, Pories, Wahyu) yang ikut.

Setelah berbelanja, spontan Pories mengajak pergi ke Pantai Pangumbahan (sekitar pukul 8 malam waktu itu), kami sepakat berangkat melalui jalan depan penginapan menggunakan mobil. Dari gerbang masuk menuju Pantai Pangumbahan, terdapat 2 jalur, pertama lewat kiri melalui pinggir pantai, dan jalur kanan melalui permukiman nelayan.

DSC03658
Jalur kiri ke pantai Pangumbahan saat siang, agak khawatir kalau malam apakah jalannya masih bisa dilalui saat pasang

Kami melalui jalur kanan melewati permukiman nelayan, terdapat petunjuk jalan menuju konservasi penyu. Kondisi jalan sangat sepi, hanya ada 1 pengemudi motor yang kami temui, dengan kiri kanan setelah permukiman dipenuhi belukar dan pepohonan, tanpa penerangan. Kondisi jalan kurang baik, jadi kecepatan kendaraan pun paling sekitar 10km/jam. Tiba di petunjuk jalan terakhir sekitar 1.5km sebelum konservasi penyu terdapat percabangan, dua-duanya jalan yang gelap, kami gunakan jalan ke kiri yang dipenuhi belukar dan jalanan berbatu rapat dan cukup tajam. Disinilah kejadian yang tidak disangka-sangka itu terjadi :))

Saat melalui jalan gelap tersebut sekitar 5 menit dengan kecepatan seadanya, supir (Pories) saat itu juga sudah cukup kesusahan mengendalikan laju kendaraan, tepat dibawah pohon cukup besar, mobil kami tiba-tiba mati (terjadilah kejadian yang sebelumnya hanya kami dengar di cerita-cerita horor radio/film :)) ). Kendaraan tidak bisa dinyalakan. Kami pun kebingungan, karena dari Bandung kok ga ada masalah ini mobil. Pertimbangan logis, mungkin aktuatornya kebetulan ga berjalan baik. Dengan kondisi saya ga bawa HP, dan cuma Pories yang bawa HP bersenter, kami coba kontak orang di penginapan, katanya sih disuruh nunggu. Akhirnya, kami coba langkah berikutnya untuk menyalakan mobil, berdua (Saya dan Wahyu) coba mendorong mobil yang pake mesin pun susah jalannya, tak beberapa lama mobil berhasil dinyalakan. Tanpa berpikir panjang, kami putuskan balik arah, kembali ke penginapan. Di mobil kami bertiga tidak berbicara apa-apa :)) Sampailah di penginapan lalu langsung menceritakan perihal yang terjadi. Rencananya, saya ingin memotret malam waktu itu, tapi karena terjadi hal tadi, rencana ini urung saya lakukan. Malam itu sepertinya memang kami tidak ditakdirkan untuk istirahat di kamar saja, main kartu, lalu tertidur pulas.

6 April 2016

Lepas solat subuh, kami rencananya ke pantai timur untuk melihat sunrise, tapi saya sendiri kebablasan, jadinya bangun setengah 6, akhirnya ga kemana-mana, sampai setelah sarapan yang disediakan penginapan (nasi goreng+telur+es teh manis), kami duduk ngopi-ngopi ganteng di shelter penginapan.

Setelah sarapan, sekitar jam 8 pagi kami berencana ke Pantai Pangumbahan, Saya dan Wahyu waktu itu memutuskan jalan duluan menyusuri pantai. Karena ada miskomunikasi, 3 rekan lain malah pergi ke Pantai timur yang berlawanan arah. Akhirnya hanya saya berdua yang ke Pantai Pangumbahan. Jangan percaya kata penduduk yang bilang dari gerbang masuk depan penginapan kami ke konservasi cuma paling lama setengah jam :)) Saya berjalan hampir sejam dan belum tampak tanda-tanda daerah konservasi penyu ini. Jam 9 saat itu di sudah cukup terik, peluh bercucuran sampai mata pun perih karena keringat.

DSC03608
Moga-moga yang punya perahunya juga barokah, aamiin
DSC03627
Panas coyy..

Jalanan cukup sepi, sesekali ada pengendara motor, penduduk sepertinya, yang lewat. Sampai di pantai yang dibatasi oleh Tembok tinggi, kami diarahkan jalan ke arah daratan sampai ketemu rumah penduduk juga penginapan (katanya ini penginapan paling dekat ke konservasi penyu). Rumah tersebut juga menjadi titik temu jalan dari gerbang masuk menuju pantai Pangumbahan (lewat permukiman dan pinggir pantai), dan rupanya memang tinggal dikit lagi dari tempat tragedi agak horor semalam. Di sana kami juga membeli minuman dingin yang langsung habis diteguk. Dari rumah tersebut, jaraknya sekitar 1km ke tempat konservasi penyu yang dituju. Tidak ada petunjuk yang memberitahu dimana tempat tersebut. Ternyata saat ini pantai tersebut dikelilingi oleh tembok untuk melindungi habitat penyu (terakhir sekitar tahun 2010an belum ada tembok ini).

DSC03654

Tembok pembatas daerah konservasi penyu/Pantai Pangumbahan

DSC03630
Pantai Pangumbahan/tempat konservasi penyu dibatasi oleh tembok tinggi dan jalan seperti ini, konon ini jalan Pemda dan akan diaspal pada waktu berikutnya.

Untuk memasuki pantai Pangumbahan/tempat konservasi penyu, cukup telusuri tembok ini hingga ditemui pintu masuk (tanpa daun pintu) yang didalamnya terdapat belukar dan bakau). Walaupun cukup rimbun, tapi terdapat jalan setapak yang mudah dilalui dan dilihat. Sekitar jam setengah 10 pagi, akhirnya sampailah kami di pantai Pangumbahan, Subhanallah pasirnya memang lembut dan bersih :3

DSC03648
Pemandangan sekitar Pantai Pangumbahan
DSC03643
Entah karena weekday, atau siang-siang hanya kami berdua pengunjung di sini, privat sekali :3
DSC03652
Santai dulu coyy..
DSC03642
merem-melek nahan panasnya matahari jam 10 pagi, kebayang jam 12 lewat gimana -_-

Datang ke pantai pangumbahan ini memang baiknya sore-sore sih, sambil menikmati sunset dan panasnya ga kebangetan. Kami agak dodol juga dateng ke sini siang-siang. Karena mengejar waktu check-out hotel jam 11, kami ga banyak menghabiskan waktu di pantai Pangumbahan ini (selain panas), padahal ke arah barat pantai ini masih ada pantai Pasir Putih, dan Ombak 7 yang cukup populer oleh turis mancanegara. Kecapean dan kepanasan, saat ditawari ojek 20rb berdua sampai penginapan kami tidak banyak tanya lagi, perjalanan lebih singkat jadi sekitar 20 menit, tahu gini kan naik mobil aja -_- Dari mamang ojek ini kami juga jadi tahu tarif guide/ojek ke beberapa spot yang saya sebutkan tadi, sekitar 200ribu/orang. Di jalan menuju Pantai Pangumbahan ini juga terdapat penginapan penduduk dengan tarif sekitar 100rb/malam.

Sampai di penginapan, mandi secepatnya, berkemas, main kartu se-game, langsung checkout. Rasanya belum puas explore di pantai ini, suatu saat insyaallah saya akan kembali ke tempat ini. Perjalanan belum usai, jadi stay tune di seri catatan perjalanan susur pantai selatan Jawa Barat berikutnya: Curug Cikaso

Cost damage (seingatnya) :

  • retribusi masuk objek wisata : 35rb/mobil
  • beli snack : 50rb
  • mendoan : 10rb/5 potong, beli 15 potong, kebanyakan :))
  • nasi goreng seafood (diluar sarapan) : 27rb
  • hotel : 650rb
  • ojek : 20rb

Hal-hal yang perlu dibawa/diperhatikan :

  • sunblock
  • cari informasi lebih baik tentang penginapan dan objek wisata yang ada, tidak ada panduan jelas tentang objek wisata yang tersedia, entah gunakan jasa guide penduduk, atau cari koordinatnya di google maps
  • pastikan kondisi kendaraan fit
  • bawa minum yang cukup
  • bawa senter dan selalu charge HP kalau mau bepergian, terutama malam :p

DSC03625