Berburu Kabut di Bukit Penjemuran a.k.a Pamoyanan Subang

Kadang, yang terindah tak diciptakan untuk dimiliki. Cukup dipandangi dari jauh, lalu syukuri bahwa ia ada di sana untuk dikagumi dalam diam.

Fiersa Besari

Biasanya paragraf pertama untuk tulisan di blog yang sudah lama tidak ditengok ini adalah permintaan maaf karena banyak kesibukan dan segudang alasan lainnya 😀 Padahal kadang males aja, hehe. Tapi bener deh, beberapa bulan terakhir saya dan istri lumayan sibuk dengan pekerjaan kami, termasuk saya yang baru pindah kantor, hampir tidak ada waktu untuk menulis bebas, pulang sudah cape pengennya langsung tidur. Weekend, seringnya males pergi kemana-mana, sudah terkenal kalau Bandung macet di akhir pekan. Makanya tidak heran ada peribahasa “Doing nothing di akhir pekan mungkin adalah kemewahan terakhir yang dimiliki para pekerja”…

Di tulisan pertama setelah lebaran ini (mohon maaf lahir batin ya netizen), saya ingin bercerita tentang perjalanan ke salah satu tempat wisata yang populer beberapa bulan belakang. Hari sabtu itu, sedianya saya dan orang tua saya ingin pergi ke pemandian air panas Ciater, Subang, biar badan enakan katanya. Ya sudah, udah lama ga Ciater, pun lama juga ga jalan-jalan bareng keluarga, quality time kata orang. Sebelum berangkat, saya juga memantau kondisi cuaca, kangen juga pengen treking atau sekedar camping, ah ya sudah sekalian bawa hammock, matras, flysheet dan kamera. Kalaupun nanti mendung, tinggal balik ke rumah saja. Kami berangkat dari rumah kurang lebih sekitar jam 6 pagi, sampe Ciater jam 7, sarapan, berendam sampai jam 10.

Selesai berendam, cuaca sepertinya bagus, akhirnya saya pamit orang tua, untuk meneruskan perjalanan ke Bukit Pamoyanan, Tanjungsiang, Subang. Bukit Pamoyanan ini konon terkenal dengan pemandangan kabut pagi harinya. Bukit Pamoyanan ini juga menjadi target saya dan kawan-kawan untuk berburu fogwave, terinspirasi dari foto-foto fogwave pakde Nick Steinberg .  FYI, foto fogwave adalah foto kategori long exposure dimana kabut yang bergerak bisa diabadikan sehingga terlihat seperti aliran air. Berbekal informasi dari internet dan babang Dedot, saya melanjutkan perjalanan ke Bukit Pamoyanan yang berjarak sekitar 30-45 menit dari pemandian air panas Ciater. Dari bunderan Jalan Cagak/Tugu Nanas, ambil jalan ke arah Tanjungsiang/Sumedang.

Ada kurang lebih 3 SPBU sebelum mencapai gerbang masuk, jadi tidak perlu khawatir kehabisan bensin. Sebelum gerbang Desa Kawungluwuk tempat Bukit Pamoyanan berlokasi, akan ditemui beberapa baligo sponsor Bukit Pamoyanan, gerbangnya sendiri terdapat di sebelah kanan dari arah Subang.

pamoyanan-gerbang.png

Gerbang desa Kawungluwuk, seiring popularitas naik, gerbangnya sudah diganti dengan yang lebih besar

Dari gerbang ini jalan akan menyempit dari 2 lajur jadi 1 lajur dengan trek menanjak, mungkin kalau bawa mobil agak sulit kalau berpapasan dengan kendaraan lain. Kurang lebih 5 menit dari gerbang akan ditemui pos tiket Bukit Pamoyanan di sebelah kanan.

gerbang pos tiket pamoyanan

Di pos tiket ini akan dipungut retribusi oleh warga setempat Rp. 10000/orang, nantinya di tempat parkir motor akan dikenakan Rp. 10000 untuk parkir camping & Rp. 5000 untuk parkir non-camping. Saya sampai di parkiran sekitar pukul 13.00, berhubung matahari berada tepat di ubun-ubun saya memilih solat Dzuhur dulu di musholla dekat parkiran, selain itu ada beberapa warung dan WC umum.

 

 

Lepas solat, sambil menunggu matahari agak bersahabat, saya beristirahat di musholla. Karena masih siang, hanya terlihat beberapa pengunjung. Pukul 14.30 saya memutuskan berangkat ke tempat camp. Dari parkiran terdapat tangga cukup terjal, sepertinya baru dibangun, lumayan juga panas-panas gini bikin keringat bercucuran. Tangga beton tadi tidak terlalu panjang, selanjutnya trek tanah & batu saja, sepertinya dulu jalan ini pernah bisa dilewati mobil. Nanti akan ditemui beberapa saung dan warung, sebelum percabangan, lurus (kiri) ke arah warung-warung, kanan langsung ke tempat camp.

 

 

Saya memilih langsung ke tempat camp karena khawatir tidak kebagian tempat. Sampai di tempat camp agak kaget karena sudah banyak tenda yang didirikan. Ternyata, tenda-tenda tadi adalah tenda yang disewakan pengelola dengan tarif 50rb per malam. Camping ground sepertinya hanya diperbolehkan di undakan-undakan yang dibuat pengelola, karena ketika ada pengunjung membuka tenda di puncak Bukit langsung ditegur. Sebelah utara camping ground ini adalah pemandangan ke arah kota Subang dengan view 180° sehingga kita bisa melihat sunrise & sunset. Di sebelah selatan camping ground ada Gunung Canggah yang treknya kelihatannya mirip-mirip gunung Puntang. Di kejauhan sebelah barat bisa samar-samar bisa terlihat gunung Tangkuban Perahu & Burangrang.

 

 

Saya sendiri memilih mencari pasangan pohon untuk mendirikan hammock. Setelah mendirikan hammock dan flysheet saya lanjut explore daerah puncak Pamoyanan. di puncak terdapat sebuah shelter untuk bernaung jika pengunjung tidak membawa tenda. di sekitarnya camping ground bisa menampung ratusan tenda. Soal logistik juga tidak perlu khawatir karena ada beberapa tenda yang buka 24 jam. Musholla dan WC umum juga tersedia di sebelah selatan camping ground. Udah enak banget sih tempatnya, tidak aneh kalau banyak pengunjung dari luar kota termasuk Tangerang & Bekasi yang sampai kesini. Oya, di puncak Pamoyanan ini terdapat beberapa platform untuk dijadikan tempat berfoto, termasuk menara 2 tingkat setinggi kurang lebih 5 meter yang terbuat dari bambu. Saya sendiri mencoba naik, walaupun terlihat ringkih tapi setelah dicoba ternyata lumayan kokoh, jangan lupa gantian dengan pengunjung lain ya.

Sore itu, alhamdulillah cuaca sangat mendukung, senja menyongsong di ufuk barat menemani camping ground yang makin ramai.

Malam di Bukit Pamoyanan

Magrib menjelang di bukit pamoyanan, saya dan sebagian pengunjung solat di musholla. Lepas sholat, waktunya mengisi perut di warung, beberapa ulén (snack dari ketan) dan mie instan + telur sukses mengenyangkan, harganya masih normal sih. Target saya di bukit pamoyanan ini sebenarnya hanya berburu kabut nanti pagi sih, tapi karena malam masih panjang, akhirnya mengambil beberapa foto malam yang ternyata tidak kalah menarik. Walaupun kelihatannya tidak mendung, tapi sepertinya kabut tipis dan polusi cahaya dari permukiman membuat bintang-bintang di langit tidak terlalu jelas, selain itu saat itu juga bulan purnama.

 

 

Beruntung, sebelum purnama muncul kabut dan awan sedikit menghilang, dapet lah milkyway tipis-tipis. Sekitar pukul 9 malam bulan terbit di ufuk timur. Karena purnama, area camping ground bisa terlihat cukup jelas walaupun tidak menggunakan headlamp.

 

 

Setelah puas berfoto, saya kembali ke hammock berniat untuk tidur. Saya kira di Pamoyanan ini bakal gerah karena daerah Subang, ternyata angin yang berhembus cukup kencang membuat saya perlu menggunakan sleeping bag. Karena dingin, akhirnya banyak pengunjung membuat api unggun, nah asap api unggunnya ini somehow mengarah ke tempat camp saya, kan bgz*d 😂 Awalnya cukup dengan buff, tapi lama-lama ga kuat juga, akhirnya saya cari tempat nongkrong lain. Jam 11 malam saya balik lagi ke hammock karena angin tidak terlalu kuat dan asap sudah bersahabat. Mungkin karena sudah berendam dan kecapean, saya tertidur pulas walaupun asap kembali datang …

Bukit Pamoyanan, Subuh

Jam 4 pagi, kumandang tadarus & sholawat bersahutan dari mesjid di sekitar kaki gunung, saya pun terbangun. Beberapa pengunjung berdatangan, sepertinya khusus untuk mengejar momen sunrise. Karena belum adzan, saya coba foto-foto sebentar. Konon momen kabut di Bukit Pamoyanan ini tidak selalu ada, tapi peluangnya lebih besar muncul di musim kemarau. Dari menara pandang sudah dapat terlihat kumpulan kabut menutupi permukiman. Tidak lama adzan subuh berkumandang, saya pun bergegas ke mushola.

Pukul 5.30 pagi saya sudah mencari spot untuk berburu fogwave, di ufuk timur sudah mulai muncul warna jingga, ternyata bisa terlihat gunung Tampomas dan Ciremai. Waktu sore kemarin sepertinya kurang jelas terlihat karena haze.

DSC07496

Pukul 6 pagi matahari muncul di ufuk timur diiringi riuh para pengunjung yang sibuk mengabadikan momen. Saya sendiri hampir tidak bisa bergerak dari spot foto awal karena ramainya pengunjung. Makin siang, kabut semakin tebal, angin yang bertiup lembut ke arah barat mengisyaratkan sepertinya ideal untuk foto fogwave. Saya sendiri belum tahu settingannya, tapi menurut pakde Nick Steinberg ambil ekposure sekitar 200 detik. Kalau eksposure terlalu lambat, kelihatannya jadi flat, terlalu cepat jadi ngefreeze, tidak terlihat tekstur gelombangnya. Karena sudah siang, untuk foto long eksposure harus menggunakan filter untuk mengurangi intensitas cahayanya. Beruntung karena saya menggunakan Sony Nex-6 terdapat aplikasi Smooth Reflection yang bisa digunakan untuk alternatif foto menggunakan filter. Sepertinya saya sukses mengambil fogwave dengan setingan ISO 100, shutter 1/5″ diambil dengan kurang lebih 32 frame yang digabungkan sendiri di kamera, dengan output RAW 🤣 So here comes the fogwave …

DSC07547
Fogwave di Bukit Pamoyanan

Hingga pukul 7,  kabut masih bisa terlihat dari Bukit Pamoyanan, tapi viewnya sudah flat dan angin relatif tidak berhembus seperti sebelumnya. Saya merasa ngantuk, akhirnya tidur lagi di hammock sampai dibangunkan teriknya matahari pukul 9. Enaknya camping ga pake tenda adalah packing ga terlalu ribet. Sebelum pulang sarapan dulu di warung, mie instan lagi (maafkan kakanda, istriku ✌). Saat pulang, kondisi camping ground sudah lumayan sepi.

Dengan view kabut pagi hari yang unik, Bukit Pamoyanan ini termasuk salah satu spot favorit sunrise saya, fasilitas pendukung seperti warung, musholla, wc umum juga menjadi nilai tambah, cocok untuk kemping keluarga. View malam walaupun indah, tapi tidak terlalu istimewa, jadi kalau hanya berburu sunrise cukup berangkat dini hari dari Bandung, tapi tidak disarankan jalan sendiri mengingat lalu lintas ke arah Pamoyanan ini sangat sepi bahkan di siang hari. Next time, insyaallah menarik juga sepertinya treking ke gunung Canggah, moga2 kesampean.

Untuk informasi terkait bukit pamoyanan ini bisa pantau di ig @yuulinkasubang / @explore.pamoyanan / @bumper_pamoyanan, jangan lupa follow ig saya @adinovic yak ✌

Iklan

[Seri Gunung Bandung] Pendakian yang bikin gemes ke Gunung gemes Artapela

 

Tak dikejar, gunung tak lari kemana

Konon, peribahasa di atas sering dijadikan pereda kerinduan para pendaki, terutama yang sudah lama tidak naik gunung. Banyak hal yang bisa menjadi faktor kegagalan para pendaki berangkat naik gunung, entah ga dapet tiket, kondisi cuaca yang tidak kondusif, ada kerjaan mendadak, ga dapet izin dari pihak terkait, salah satu anggota tim batal berangkat, terus yang lainnya ikutan batal *malah curhat. Masalahnya, klo ga dikejar, klo ga direncanain, klo ga diusahain, klo ga dipaksain, jadinya ya kita ga kemana-mana, yekan?! Nah, baru-baru ini saya mengalami tersebut. Rencananya, untuk penutup pendakian sebelum bulan Ramadhan, saya dan beberapa teman di grup WA berencana mendaki gunung Ceremai via Apuy (pendakian Ceremai via Linggasana bisa dibaca di sini 😉 ). Saya sendiri sebenarnya agak ragu-ragu, karena tepat hari sebelumnya 2 hari berturut-turut kekurangan tidur dan stamina agak letoy gara-gara lembur, walaupun saya coba mengatasinya dengan coba lari di Sabuga.

Packing bisa dianggap beres, habis ngantor nanti tinggal saya bawa perlengkapan di rumah, toh berangkatnya malam. Tahu-tahunya, salah satu rekan batal karena ada acara, rekan yang lain katanya ga enak badan. Ya sudah, rencana pendakian pun ditunda batal. Tapi dasar pada ga kerasan, kami coba rencanakan pendakian lain tapi ke gunung yang lokasinya sekitar Bandung besok harinya, dengan syarat : tektok (lagi males bawa perlengkapan banyak) tapi juga bisa dapet viewnya. Makanya kami rencanakan berangkat malam. Oya, dari sekian banyak gunung Bandung, kami jatuhkan pilihan kami ke Gunung Artapela yang berada di daerah Ciparay, salah satu alasannya karena diantara kami juga belum ada yang pernah pergi kesana. Esok harinya, hari Sabtu 20 Mei 2017, sambil nunggu konfirmasi titik kumpul dan waktu kumpul, saya coba cari informasi Gunung Artapela ini. Gunung Artapela yang berketinggian + 2194 mdpl ini terletak di Kecamatan Kertasari, dapat ditempuh melalui 2 titik basecamp pendakian : Pacet (Argasari) dan Pangalengan. Jika melalui Pangalengan, katanya sih basecampnya di Warung Dano yang lokasinya dekat Situ Aul dengan terlebih dahulu melewati perkebunan teh Kertamanah. Sementara di jalur pendakian lewat Pacet terdapat basecamp pendakian yang dikelola oleh warga.

Hingga siang, setelah ditunggu konfirmasi titik kumpul dan waktu kumpul, ternyata kejadian lagi, satu anggota tim batal berangkat, yang lainnya juga batal. Hadeuh. Setengah kesal dan gemes, saya nekat aja berangkat sendiri, berbekal informasi yang saya dapat dari internet. Toh, nanti di basecamp bisa ikut barengan tim lain …

Artapela, here we I come.

Konsekuensi dari berangkat naik gunung sendiri adalah kita harus siap membawa semua perlengkapan dan logistik sendiri. Informasi yang saya dapatkan trek pendakian tidak terlalu berat, jadi logistik secukupnya untuk 1 malam dan sarapan saja, ditambah 2 x 1.5 L air, karena tidak ada sumber air di jalur pendakian. Repotnya sih karena bawa tenda, matras, dan perlengkapan lenong. Sleeping bag bahkan saya ga bawa karena hari sebelumnya dipinjam kakak, walhasil bawa sarung saja sekalian buat solat, sekali lagi karena menurut perkiraan saya ga bakal terlalu dingin (keputusan yang disesali kemudian). Jam setengah 2 siang, setelah minta izin ortu, saya berangkat ke basecamp Artapela di Sukapura. Untuk mencapai basecamp Artapela di Sukapura, kita melalui jalur Bandung-Ciparay, di pasar Ciparay belok ke arah Pacet hingga pertigaan di daerah sebelum Pasar Pacet ke jalan Barukaso. Dari pertigaan Barukaso-Pacet, basecamp tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 300m. Perjalanan dari pusat Kota Bandung menempuh waktu sekitar 2 jam. Jika menggunakan kendaraan umum, kita bisa menggunakan angkutan umum Tegallega-Ciparay (5000-7000) atau Elf Kalapa-Ciparay (5000), dari pasar/terminal Ciparay lanjut angkot kuning Ciparay-Pacet (8000), dari pertigaan tinggal jalan kaki atau naik ojek ke basecamp.

pertigaan sukapura.jpg
pertigaan Pacet-BC Artapela dari arah Bandung
bcartapela
Basecamp Artapela via Sukapura/Argasari

Sekitar pukul 4 sore saya sampai di basecamp Artapela Sukapura, di basecamp ada tempat parkir motor yang cukup menampung sekitar 30 motor, mobil juga bisa sih di sekitar halaman rumah warga. Secara umum kondisi jalannya cukup mulus. Di basecamp saya mengisi formulir registrasi ketua kelompok dan anggota, serta membayar total 15rb rupiah untuk tiket masuk dan parkir motor.

tarifartapelaKarena saya berangkat sendiri, saya disarankan pergi dengan rombongan lain. Kebetulan saat itu ada Rofi dan Andi, pasangan pendaki dari Bandung. Sapi suci … saya tahu nasib saya nanti gimana sepanjang perjalanan jadi nyamuk buat pasangan ini, tapi bodo amat deh, yang penting ada temen buat naik. Andi menjadi leader karena sudah pernah ke Artapela sebelumnya. Di jalur pendakian Argasari ini terdapat 2 jalur yang biasa digunakan : jalur 7 (seven) field dan jalur Datar Jamuju. Jika lewat jalur 7 field hingga ke puncak perjalanan sekitar 3 jam, sementara lewat Datar Jamuju bisa memakan waktu hingga 5 jam. Umumnya pendaki menggunakan jalur 7 field. Dari basecamp ke jalur pendakian utama masih berjarak sekitar 500 meter, hingga menemui mesjid Nurul Falah di pertigaan pertama, ambil kanan. Dari mesjid, ambil jalur hingga gudang gemuk/pupuk. Di perjalanan menuju gudang pupuk kami sempat berpapasan dengan truk petani.

slide8
Perbandingan jalur 7 field dan Datar Jamuju (http://artapela.blogspot.co.id/2016/04/menuju-artapela.html)

Di jalur awal sepertinya agak tricky karena terdapat beberapa percabangan kebun (lihat foto tarif di atas), tapi secara umum hindari jalur yang mengarah ke bawah, hingga sampai di percabangan kebun wortel yang ada sebuah gubug & kolam. Dari sini, jalur menuju puncak relatif jelas yang ditandai dengan tanjakan, dan tanjakan … Tidak ada papan petunjuk arah menuju puncak pun petunjuk pos, tapi umumnya para pendaki istirahat di gubug-gubug yang dibuat petani.

Lepas dari rangkaian tanjakan pertama, kami disambut pemandangan luas perkebunan sayuran (wortel & kentang sepertinya). Namun karena kabut yang cukup tebal jadi kami tidak bisa menikmati sunset maupun pemandangan perbukitan sekitar artapela yang kalau siang lebih ciamik. Tapi untungnya karena kabut jadi perjalanan tidak terasa panas. Kebayang sih kalau lewat jalur ini panasnya bakal gimana kalau siang hari, belum lagi debunya karena tanah disini tanah gembur, hampir tidak ada tempat berteduh, sigh. Oya, pemandangan perkebunan ini akan kita temui bahkan hampir sampai ke puncak, tidak ayal jalur ini dinamai jalur 7 field.

Kami sudah berjalan kurang lebih 2 jam, adzan magrib berkumandang di kejauhan, karena statusnya sedang syafar, kami niatkan solat magrib di-jama’ ketika sudah sampai puncak. Karena cahaya sudah minim, Rofi dan Andi mulai menyalakan headlamp masing-masing. Hingga sekitar 45 menit sebelum puncak, treknya cukup landai, namun di punggungan terakhir ada tanjakan lumayan panjang hingga ke puncak yang karena kami membawa beban, jadi harus kami lalui dengan tersengal-sengal. Di tanjakan ini pula kita akan menemui pohon-pohon pinus yang menandakan puncak sudah dekat *bukan PHP. Di kejauhan terdengar lolongan anjing-anjing yang memang berkeliaran di perbukitan sekitar Artapela.

Di akhir tanjakan tadi kita akan menemui sabana yang sebenarnya adalah perkebunan yang ditinggalkan warga, di kejauhan sudah terdengar riuh para pendaki lain dan cahaya dari senter dan tenda. Alhamdulillah sekitar pukul 7 malam kami sampai di puncak gunung Artapela yang dinamai Puncak Sulibra. Di puncaknya sendiri terdapat lapangan yang bisa menampung puluhan tenda, pun ada pepohonan besar yang bisa digunakan untuk bivak maupun hammocking. Saat saya datang sudah ada mungkin lebih dari 20 tenda, mungkin karena minggu itu terakhir musim pendakian sebelum puasa. Setelah memilih tempat mendirikan tenda, mulailah drama lain. Kami mulai membongkar keril masing-masing, dan memutuskan mendirikan tenda terlebih dahulu. Pas bagian saya, lepas membongkar seisi keril, eh ternyata frame tendanya ketinggalan, eh kan suwe’. Karena saat itu di Artapela beberapa hari sudah tidak hujan, akibatnya suhunya dingin, anginnya semriwing. Akhirnya saya putuskan membantu Andi dan Rofi mendirikan tenda dulu, setelah itu harus improvisasi buat bikin bivak dari tenda yang saya bawa. Dengan menggunakan treking pole, akhirnya jadilah tenda seadanya, ya lumayan lah buat sekedar menghalau angin pas tidur nanti. Nyaman? Jelas tidak, wkwkwk, tapi gimana lagi, masa numpang di tenda sebelah, kan jadi ga enak :’) Samar-samar terdengar ocehan dari tetangga sebelah yang bilang tendanya tenda Harry Porter, entah maksudnya apa -_-

Sambil memanaskan air untuk membuat cokelat dan spageti, saya solat jama’ magrib dan Isya. Setelah makan spageti, Andi dan Rofi bergabung untuk ngobrol, Andi menceritakan beberapa pengalaman mendakinya. Oya sebenarnya saya ditawari makan bareng (logistik yang dibawa mereka), cuman ga enak sih, biasanya logistik yang dibawa pendaki bakal pas-pasan. Bahkan ada yang bilang klo ada pendaki yang nawarin minum itu tulus, tapi kalau nawarin makan itu mah basa basi :p Toh, spageti, coklat dan roti yang saya bawa juga sudah cukup. Ga enak juga sih ngeganggu lovebird, barangkali mau suap-suapan, kan jadi momen awkward #eaaak.

Tidak terasa sudah pukul 9 malam di Puncak Sulibra, masih banyak pendaki yang datang. Kebanyakan sepertinya dari warga sekitar Bandung didengar dari bahasanya. Pasangan lovebird sudah kembali ke tendanya, saya karena belum ngantuk jadi coba foto-foto sekitaran. Karena cuaca dingin dan sumber kayu bakar yang melimpah di sekitar puncak, banyak pendaki yang membuat api unggun, akibatnya saya sulit membedakan mana asap dan kabut gunung. Saya coba lihat jejak milkyway di aplikasi Stellarium rupanya baru muncul sekitar pukul 11/12 malam di arah tenggara, jadi waktu saya coba foto yang kelihatan baru ekornya. Kabut juga datang dan pergi begitu cepat, ah akhirnya saya putuskan untuk tidur dulu saja. Nah ini juga drama lainnya, karena saya ga bawa sleeping bag, kondisi tenda juga seadanya, udah ga jelas lah gimana posisi tidurnya, keril sampai dijadikan penghalang angin. Lagi-lagi saya bersyukur teman-teman saya ga jadi berangkat, kasian juga klo kondisi tendanya kaya gini 😀 Di luar tenda, bukannya makin sepi, eh makin banyak pendaki-pendaki alay yang teriak-teriak, bahkan kata-kata kasar dan jorok terlempar, dalam hati nyerocos bagusnya sih orang-orang ini diculik genderuwo saja. Seiring ocehan pendaki-pendaki tadi, saya terlelap tidur …

DSC01664Tidur saya rasanya tidak nyenyak karena kerap harus menata posisi tidur karena kedingingan, tapi lihat jam ternyata sudah jam setengah 12 malam, tenda sudah basah oleh kabut. Di luar, ternyata suhunya tidak sedingin yang saya kira. Selain itu, kirain endaki-pendaki yang ngoceh tadi udah pada tidur, ternyata masih juga berisik, maunya apa ini, ckckck. Masih banyak juga pendaki yang ngobrol atau sekedar menghangatkan diri di api unggun. Saya sendiri memilih menikmati langit malam yang bersih bertabur bintang di atas sana. Ah dengan ini berarti pecah telor juga foto milkyway-nya tahun ini. Setelah hampir setengah tahun tidak bisa foto milkyway karena cuaca yang tidak menentu, akhirnya bisa ketemu dan diabadikan, ditambah drama-drama yang saya alami tadi siang, jelas malam ini saya bahagia, Alhamdulillah :’)

DSC01687DSC01729

Hampir seisi lapangan di puncak Sulibra ini saya langkahi untuk mencari spot, bolak balik sampe bosen, tahu-tahu sudah jam 2 pagi. Kabut bercampur asap api unggun menutupi langit malam, dan akhirnya saya kembali harus menyerah ke ‘gubug derita’, saya pun terlelap dan masih ditemani ocehan-ocehan pendaki lain yang tidak menyerah walau hari berganti, sigh.

DSC01698Waktu menunjukkan pukul 4.20 ketika saya lagi-lagi terbangun karena dingin, daripada maksain tidur lagi akhirnya saya bangun sekalian aja, toh waktu subuh sebentar lagi menjelang. Tenda sebelah yang sebelumnya ngoceh sudah tidak ada (maksudnya penghuninya pada tidur –red) alhamdulillah. Lepas solat subuh, saya memanaskan air untuk kopi dan sarapan kari ayam *beneran loh, bukan bentuk mie :p. Sekitar jam 5, Rofi dan Andi keluar dari tendanya. Pendaki lainnya juga sudah terbangun untuk menyambut mentari pagi. Dari puncak Sulibra jika tidak berkabut dapat terlihat pemandangan kota Bandung. Sayangnya waktu itu kabutnya nanggung, view kotanya ga dapet, lautan awan juga ga ada. Matahari juga nampaknya malu-malu menampakkan dirinya. Sekitar pukul 6.15 akhirnya menampakkan dirinya dari balik gunung Rakutak. Oya,  dari puncak Sulibra ini jika cuacanya memungkinkan, kita bisa melihat jajaran gunung Bandung seperti Rakutak, Kendang, Gambung (yang ini sebelahnya banget) bahkan Cikuray dan Papandayan di kejauhan.

DSC01798DSC01793

Dengan datangnya matahari, sirna pulalah penderitaan saya karena dingin tadi malam. Pukul setengah 8 pagi setelah berkemas, kami mengakhiri perjalanan pendakian gunung Artapela lewat Argasari ini. Karena tidak ada kabut, kali ini pemandangan perkebunan menjadi sangat jelas. Beberapa petani sudah menggarap lahannya. Yang ngeselin di satu kebun sekitar 30 menit dari puncak ada motor dong :)) Ya konon sih motor bahkan bisa sampe puncak Sulibra. Dengan trek kemarin sih rasanya mungkin-mungkin aja motor trail sampe puncak. Tau gitu adek ngojek bang :’) Kali ini pemandangan sekitar jalur 7 field lebih jelas terlihat, termasuk gunung Kendang. Di perjalanan kami bertemu dengan rombongan remaja mesjid sepertinya yang sedang melakukan hiking ke puncak Sulibra.

Perjalanan dari puncak ke basecamp memakan waktu sekitar 2 jam diselingi istirahat dan foto-foto. Iseng saya juga merekam trek pendakian menggunakan aplikasi GPS (Geotracker, donlot di sini), tracklognya silahkan unduh di sini. Katanya sih waktu registrasi harusnya dapet tracklognya juga, tapi kemarin ga dikasih tuh. Kami sampai di basecamp sekitar pukul 9.30, langsung dikasih tikar buat istirahat. Saya sempat jajan bakso goreng yang terlalu keras untuk dimakan di sekitar basecamp. Sekitar pukul 10 kami meninggalkan basecamp dan berpisah setelah bertukar nomor HP jika perlu jalan lagi bareng nantinya. Kesan saya untuk pendakian Artapela ini karena banyak hal-hal gemas yang harus saya lalui dan temui makanya saya namai pendakian gemes, ditambah banyak dedek-dedek gemes yang mendaki, sepertinya tidak terlalu istimewa. Treknya tidak ada yang ekstrim, pun mungkin pemandangannya tidak sebagus Guntur, namun lumayan lah untuk kemping ceria atau tektokan buat ngabuburit. Lain kali mungkin pengen coba mendaki gunung Gambung yang ada di sebelahnya atau nyobain ke Artapela lewat Pangalengan.

DSC01831

Cost Damage :

  • Bensin : 15rb
  • Logistik : ~30rb
  • Tiket masuk + Parkir : 15rb

Contact Person :

Mang Nurdin 0857 2043 0201 atau kunjungi instagram BC Artapela via Argasari di @artapela_official

[Seri Gunung Bandung] Gunung Wayang 2241 Mdpl : Jalur Pendakian Semi Panjat Tebing Yang Sukses Bikin Lutut Lemas

“Bandung dilingkung ku gunung” adalah ungkapan yang sering dilontarkan budayawan sunda untuk menggambarkan kondisi kota/kabupaten Bandung yang memang dikelilingi gunung-gunung, seolah-olah berada dalam mangkok. Rupanya, menurut penelusuran yang dilakukan teman-teman di Jelajah Gunung Bandung menyatakan bahwa ada sekitar 500 gunung yang berada di tanah yang katanya diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum ini. Konon, kalau dikunjungi 1 per 1 per bulannya, akan membutuhkan kurang lebih 58 tahun untuk mengecup setiap puncak pergunungannya.

Salah satu gunung Bandung yang mungkin sudah cukup dikenal pendaki Bandung, namun rasanya jarang ada ajakan pendakian adalah gunung Wayang. Saya sendiri tahu keberadaan gunung Wayang, karena keberadaan pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) Wayang Windu yang dioperasikan perusahaan Star Energy waktu kuliah Teknik panas bumi sekian semester yang lalu. Bagi teman-teman fotografer yang sering main di daerah Pangalengan pasti pernah mengabadikan gunung ini karena letaknya berada tepat di arah timur Situ Cileunca, matahari pagi merayap dari balik gunung ini.

Hari sabtu pagi itu saya diajak oleh kang Mbok Hasby untuk berkunjung ke gunung berketinggian + 2183 mdpl yang secara administratif berada di Pangalengan, kabupaten Bandung. Kami ber-6 sepakat kumpul dulu di Carefour Kircon yang terkenal dengan durasi lampu merahnya yang bisa sambil namatin 1 season Cinta Fitri. Kang Mbok bertindak sebagai team leader dan penunjuk arah pendakian gunung Wayang ini karena sebelumnya sudah pernah kesana. Saya sendiri belum tahu gambaran treknya bakal seperti apa, mengingat sedikit dokumentasi tentang gunung ini, tapi dapet info dari pak Firman sih, miniatur gunung Raung yang terkenal itu. Saat itu sih belum dapet firasat apa-apa. Akhirnya setelah berkumpul semua anggota sekitar jam 8 lebih, kami ber-4 motor berangkat menuju titik awal pendakian. Dari kota Bandung kami arahkan kendaraan ke arah Pangalengan via Dayeuh kolot-Banjaran, menyusuri jalanan berliuk-liuk, sampai sebelum mencapai pusat kota akan ditemui persimpangan ke perkebunan teh PTPN VIII Kertamanah, ambil ke kiri, lalu mengikuti jalan ke arah power house pembangkit listrik geotermal Wayang Windu, atau ke arah Wayang Windu bike park. Patokannya sih sebrang toko oleh-oleh Pia Kawitan, di sekitar persimpangan ini juga terdapat warung nasi untuk mengisi perut atau membeli bekal.

gerbang kertamanah
persimpangan jalan raya Pangalengan – PLTP Wayang Windu/PTPN Kertamanah

Menurut informasi dari dokumentasi kawan-kawan JGB rupanya jalur pendakian gunung wayang ini terdapat 4 jalur : Kertamanah via PLTP wayang windu, Cisanti, Kertamanah via Cibeureum, dan satunya lagi apa ya. Jalur yang sering dilalui adalah lewat Kertamanah. Tidak ada basecamp khusus untuk pendakian gunung Wayang, pun tidak ada angkutan khusus ke titik pendakian awal. Tapi kalau dari Bandung kita bisa naik angkutan elf dari Tegal Lega-Pangalengan, turun di persimpangan perkebunan Kertasari, lanjut naik ojek ke PLTP Wayang Windu.

Setelah sekitar 2 jam mengendarai motor dari titik kumpul kami, akhirnya sampailah di pintu portal PLTP Wayang Windu. Saat itu kami masih boleh menitipkan motor di dekat pos satpam yang dikelilingi hutan pinus. Namun terakhir saya kesana sih sudah tidak boleh parkir disana, alih-alih parkirnya harus di suatu lapangan yang dikelilingi pipa uap panas bumi. Tidak ada tempat penitipan khusus kendaraan maupun basecamp di sini, jadi lumayan was-was sih ninggalin kendaraan. Oya, jalan menuju ke tempat parkir kendaraan yang melalui perkebunan teh ini juga memberikan pemandangan yang menyejukkan mata, walaupun kondisi jalan dari pertigaan antara portal PLTG-Wayang Windu Bike Park ini berupa bebatuan lepas, yang mengharuskan kita tetap fokus berkendara.

 

Kalau menitipkan kendaraan di pos satpam, masih butuh waktu sekitar 15 menit berjalan kaki ke lapangan tempat parkir yang saya sebut tadi, melewati kompleks PLTG dimana terdapat sebuah helipad.

Dari lapangan tempat parkir, perjalanan dilanjutkan treking ke kawah Wayang dimana kita akan melewati perkebunan warga. Di perkebunan warga ini bisa ditemui sayuran seperti wortel, kol, hingga tembakau. Tidak ada persimpangan yang berarti sih, kalau bingung bisa menanyakan warga kemana arah kawah Wayang. Di jalan setapak ini ternyata masih bisa dilalui motor trail, tau gitu kan … 😀

Selama kurang lebih 30 menit berjalan pemandangan kebun mulai berganti semak belukar dan samar-samar tercium bau telur busuk, yang dimasak. Ah, inilah tandanya kawah Wayang sudah dekat, dan betul saja kami sampai di kawah Wayang dengan pemandangan yang not-like-earthy. Keberadaan kawah Wayang yang menyemburkan uap dan gas solfatara ini menjadi tanda bahwa gunung Wayang ini adalah gunung berapi yang aktif. Bau belerangnya sendiri tidak terlalu menyengat seperti di papandayan. Treknya terasa begitu hangat (klo tidak panas). Dari kawah Wayang ini, perjalanan menuju puncak Wayang agak sedikit tricky karena tidak ada patokan untuk menemukan jalan setapak, pokoknya yang mengarah ke atas dan masih bisa dilalui dengan mudah, nanti ketemu jalan setapak yang berundak. Rasanya hanya ada satu jalur menuju puncak dari sini. Dari sana perjalanan terus menanjak, ada kali 60”

Tanjakan berundak tadi tidak begitu lama dilalui, hanya sekitar 15 menit. Nah, dari sini, perjalanan mulai terasa menantang. Dari ujung tanjakan tadi, kita sudah bisa melihat batu yang jadi iconnya gunung Wayang : Batu Wayang (Oh, thank you, captain). Trek yang tadinya berupa tanah, kini kami harus melalui jalur bebatuan. Tak jarang kami harus mendaki, mencoba mencari celah-celah batuan untuk berpijak dan berpegangan. Perjalanan mulai deg-deg-ser karena jalan di samping trek bebatuan tadi ya jurang. Di beberapa tempat, kami harus merayap, bukan lagi dengkul ketemu lutut, apa aja bagian badan yang bisa ditempel, ya ditempel. Lutut rasanya sudah lemas, bukan karena cape, tapi ya keder. Tidak salah kalau jalur Wayang ini dikatakan jalur semi panjat tebing.

Sampai di lokasi batu Wayang, sekitar 15 menit dari ujung tanjakan yang saya bilang tadi. Di sini kami sempat beristirahat dulu. Di batu wayang terdapat sebuah plang “Batu Wayang”. Dinamai batu Wayang karena bentuk batu tersebut mirip seperti Gunungan dalam pertunjukan Wayang. Kurang tahu sih klo di tempat lain dinamai apa, kenapa ga dinamai gunung Gunungan, mungkin nanti malah dibilang gunung boongan, kan gunung-gunungan #krik.

collectie_tropenmuseum_wajangfiguur_van_karbouwenhuid_voorstellende_een_pauzeteken_tmnr_4551-27
Gambar Gunungan (https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/2/26/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Wajangfiguur_van_karbouwenhuid_voorstellende_een_pauzeteken_TMnr_4551-27.jpg)

Nah, berita baiknya, batu Wayang sudah ditemui. Berita kurang baiknya : puncaknya masih setengah perjalanan. Kami masih harus melalui dan memanjat jalur bebatuan kembali untuk mencapai puncaknya. Tidak ada pilihan jalur, hanya jalur sempit yang dibawahnya menganga jurang. Di beberapa tempat dibutuhkan webbing untuk berpegangan. Well harusnya sih kita bawa perlengkapan pengaman yang lebih lengkap. Tapi saya sendiri juga ga tw klo jalurnya kaya gini, tau gitu kan … T.T

Tidak begitu lama sih jalur batunya, lepas jalur batu berikutnya kami menemui lagi jalur tanah, tepatnya tanah kemerah-merahan yang klo ujan ga tahu mau melorot kemana. Jangan senang dulu, karena jalur tanah yang saya maksud adalah jalur dengan kemiringan mendekati 75”, dengan tanah lepas, yang minim pegangan. Karena saya paling depan, dan cuma dibilang terus aja ke atas, mau gimana lagi, saya berpegangan sebisa mungkin ke tetumbuhan, sambil terus berdzikir moga2 ini tanah ga tiba-tiba longsor. Ga kepikiran motret jalurnya, dalam batin yang penting cepet beres aja lewat ini jalur. Alhamdulillah, jalur tadi mungkin hanya sekitar 5-10 menit, nah ujung dari tanjakan tadi : Puncak Wayang

Rasa syukur langsung saya ucapkan setelah melewati jalur ‘nista’ tadi, bersyukur juga karena kami masih diberikan keselamatan. Di puncak Wayang ada plang Puncak Wayang yang sudah lebih mirip plang tanda perlintasan kereta api. Di puncaknya terdapat sebidang tanah yang mungkin bisa ditempati sekitar 4 tenda. Dari puncaknya kita bisa melihat di sebrang ada pasangan Wayang : Windu, kemudian gunung Tilu, Datar Anjing dan Artapela. Kabut masih menyelimuti hari yang sudah melewati tengah siang saat kami sampai di puncak. Dari kejauhan kita bisa melihat pembangkit Wayang Windu.

Gerimis mungkin dari kabut mulai turun, untungnya kami sudah bersiap dengan mendirikan bivak sederhana dari plysheet. Setelah shalat, kami mengeluarkan bekal masing-masing, kompor juga dinyalakan untuk membuat air panas. Tidak terasa, setelah kenyang ngantuk melanda, ditambah suasana puncak yang sepi (tidak ada pengunjung lain saat itu, tau kan alasannya?). Kami sempat tertidur di bivak juga hammock yang dibuat di sekitar pepohonan.

DSC02007
jalan di belakang itu jalur lewat Cisanti, belakangan juga kami pakai untuk turun ke jalur kawah

Sekitar jam 3 sore, kami memutuskan untuk pulang, tapi selain kang Mbok, tidak ada yang mau melewati jalur naik tadi, naiknya aja susah, turun lebih susah-serem lagi 😆 Hanya ada pilihan lewat Cisanti yang treknya lebih jauh dari tempat parkir, atau tetap ke arah tempat parkir dan ‘buka jalur’.

Kang Mbok sebenarnya sudah kesini sebelumnya, tapi karena kondisi jalur yang masih rapat dan jarang dikunjungi, sempat membuat kami kehilangan arah. Sempat kami coba buka google maps (oya, sinyal smartfren 4g lumayan kuat di puncak loh) untuk melihat peta kontur untuk mencari arah kawah. Kami harus melewati semak belukar, main perosotan di tebing dengan pegangan di semak-belukar yang ada, hingga akhirnya kami sampai kembali di kawah sekitar pukul 4 sore. Lagi, tidak ada panduan atau papan petunjuk jalur turun (saat itu), maka ada baiknya selain membawa peralatan safety, juga harus sama orang yang pernah/biasa ke tempat ini. Kabut sekarang menyelimuti kawah, bercampur asap belerang, membuat pemandangannya seolah-olah other-world. Sambil istirahat, ya kami foto-foto terakhir sebelum pulang.

Saat perjalanan pulang melewati jalur perkebunan tadi pagi, hujan turun dengan deras, untungnya kami semua membawa jas hujan. Sampai di tempat parkir, kami berpamitan ke Satpam dan membayar ‘seikhlasnya’ 5000 rupiah per orang, dan diiringi bunyi dari cerobong uap pembangkit dan hujan saat itu kami berpisah.

Sebagai penutup, gunung Wayang ini adalah salah satu trek gunung yang cukup unik dan menantang, ketidak-tinggiannya sebagaimana gunung-gunung Bandung lainnya, tidak membuat gunung ini mudah untuk dilalui, alih-alih saya sendiri malah boleh dibilang kapok naik kesini, tangan basah keringetan, lutut selain lemas juga sakit, nah yang terakhir ini ga tw sih, karena naik gunung atau emang kurang olahraga :p Berhubung pendakiannya bisa ditempuh dalam satu hari (tektok), klo punya waktu 2 hari untuk treking gunung Bandung, bisa dilanjut/digabung dengan Burangrang, atau Manglayang.

Cost Damage

  • Parkir : 5rb
  • konsumsi : ~20rb

Info Kontak Basecamp :

Nihil, atau pantau grup Jelajah Gunung Bandung di Facebook groupnya.

[Seri Gunung Bandung] Gunung Burangrang & Ranu Kumbolonya Bandung

Lahir di kota yang dikelilingi gunung sepertinya sedikit banyak mempengaruhi gaya hidup saya. Saya mungkin lebih memilih pergi ke dataran tinggi dimana ada air terjun dan pergunungan, dibanding ke pantai (yang kurang saya sukai karena banyak nyamuk dan saya selalu tidak akur dengan nyamuk). Ada semacam ikatan batin. Tapi bukan begitu juga masa lalu kebanyakan kita, saat disuruh menggambar gambar pemandangan, ga jauh-jauh dari matahari terbit yang diapit 2 gunung, dengan jalan yang diapit sawah-sawah, tidak lupa sekumpulan burung yang terbang. Konon anak-anak pantai juga gambarnya begitu 😆

Ngomong-ngomong soal dikelilingi gunung, kebetulan rumah saya berada dekat dengan 2 gunung utama di Bandung : Tangkuban Perahu dan Burangrang. Tangkuban perahu yang sudah lama jadi objek wisata dengan legenda Sangkuriangnya, sering saya kunjungi waktu masih tinggal di Lembang baik lewat jalur mobil via Cikole, maupun Jayagiri, Sukawana dan Manoko. Gunung kedua, Burangrang malah hampir tidak pernah saya kunjungi walaupun rumah saya hanya berjarak sekitar 10km dari kaki gunungnya.

Gunung Burangrang dengan tinggi puncaknya 2065 mdpl secara administratif berada di antara 2 kabupaten : Bandung Barat & Purwakarta. Di sisi utaranya adalah Gunung Tangkuban Perahu.  Gunung Burangrang adalah gunung parasit sisa letusan gunung Sunda purba yang meletus kira-kira 105000 tahun yang lalu [1]. Merujuk ke legenda Sangkuriang, Perahu yang ditendang Sangkuriang konon menjadi gunung Tangkuban Perahu, tunggul (bekas pohon) yang ditebang menjadi gunung Bukit Tunggul sedangkan ranting, batang dan daunnya menjadi Gunung Burangrang, mungkin karena dari kejauhan Burangrang sendiri terlihat seperti gerigi (Baranco).

Bulan oktober 2016 tahun lalu menjadi pendakian pertama saya ke gunung ‘belakang rumah’ ini. Seperti biasa dengan ajakan dadakan dari pak Firman, saya dengan senang hati melakukan pendakian. Karena berencana untuk melakukan perjalanan tektok/PP, perbekalan tidak terlalu banyak, hanya air 1.5 liter, senter (tetep bwt jaga2), coklat dan nasi bungkus di warung nasi dekat Parongpong. FYI, jalur pendakian Burangrang sendiri yang saya tau ada 3 jalur : via Legok Haji, Lawang Angin/Kopassus, dan Purwakarta. Belakangan ternyata ada juga jalur lewat Cimahi. Jalur Lawang Angin/Kopassus biasanya jarang dijadikan jalur utama karena membutuhkan perizinan khusus dari Kopassus. Umumnya pendaki melalui jalur Legok Haji dengan patokan Curug Cipalasari.

Saat itu dengan menggunakan mobil pak Firman, kami menuju basecamp pendakian Burangrang via Legok Haji, melalui jalan Sersan Bajuri – Kolonel Masturi – SPN Cisarua – Tugu – Pasir Langu. Patokannya biasanya di SPN (Sekolah Polisi Negara) Cisarua, belok kanan dari arah Bandung/Ledeng. Tidak ada kendaraan umum yang khusus lewat sini, tapi di terminal Ledeng-Parongpong terdapat angkot dengan tujuan akhir Terminal Parongpong, kemudian lanjut angkot kuning ke SPN. Kalau tidak mau repot bisa carter angkot dengan estimasi ongkos 20-30ribu/orang, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam menuju desa Pasir Langu. Di belokan jalan Tugu-Cimeta/Nyalindung terdapat plang kecil penunjuk jalur pendakian Burangrang.

Screen Shot 2017-04-18 at 4.47.02 PM
Belokan Jalan Tugu-Nyalindung/Cimeta ke Desa Pasir Langu

Sepanjang perjalanan kita juga akan melalui objek wisata populer di Bandung seperti Curug Cimahi, Kampung Gajah, Dusun Bambu dan Kampung Daun. Jadi jangan kaget kalau saat weekend bisa macet di jalan ini. Kondisi jalan umumnya beraspal mulus hingga Cisarua, namun saat mencapai jalan Tugu kondisi jalan menyempit jadi sekitar 1.5 mobil. Apalagi di jalan Pasir Langu menuju basecamp, jalanan hanya bisa dilalui 1 mobil dengan kondisi jalan cukup baik. Mobil pak Firman juga sempat mengalami kesulitan karena jalannya yang sempit dan di suatu tempat harus berpapasan dengan mobil lainnya. Untungnya mobil lainnya mengalah ke halaman warga. Oya, di Pasir Langu patokannya setelah Sekolah Dasar, ada rumah pak RW di sebelah kiri (ada plang namanya 😀 ), di sana terdapat halaman rumah cukup luas untuk parkir mobil. Lebih disarankan menggunakan sepeda motor sih buat kesini. Setelah meminta izin untuk memarkir, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dengan medan menanjak ke basecamp Burangrang yang dikelola warga.

Saat mendaki bersama pak Firman sih basecampnya kosong, jadi kami tidak membayar apa-apa, pun mengisi buku registrasi. Namun 2 bulan berikutnya saya kembali ke sini, ada pos yang dikelola warga yang menarik retribusi 5rb/orang dan parkir 10rb/motor. Nah untuk motor bisa diparkir di dekat basecamp. Dari basecamp yang ada di pinggir jalan, lanjut sekitar 3 menit ke arah atas, terdapat warung juga belokan ke jalur utama pendakian.

FYI, di jalur pendakian Burangrang ini terdapat 5 pos sebelum puncak. Di jalur-jalur awal, kita akan melalui perkebunan warga, kompleks permakaman umum, hingga sekitar 30 menit kita sampai di pos 1 yang berupa lapangan rumput luas dan kebun pinus yang biasa dijadikan camp ground. Ga ada penunjuk pos 1 sih di sini. Oya, di awal pendakian terdapat percabangan jalur menuju curug/air terjun Cipalasari.

Dari pos 1 perjalanan terus menanjak dengan elevasi 30-40 derajat dengan vegetasi semak belukar, hingga akhirnya menemui batas hutan. Tak kadang di kiri kanan jalur yang sempit kita harus ekstra hati-hati karena terdapat tanaman perdu yang siap menyayat hati #tsah. Hampir tidak ditemui bonus sepanjang jalur ini. 40 menit berjalan dengan sesekali istirahat, penasaran juga karena belum ditemui penunjuk pos 2, tau-tau sudah sampe di pos 3, baru ada penunjuk pos. Di pos 3 ini terdapat tempat datar cukup untuk 2 tenda kapasitas 3-4. Di pos ini juga dapat ditemui beberapa spesies jamur dan laba-laba.

Setelah istirahat sekitar 15 menit, kami melanjutkan perjalanan ke puncak. Lagi-lagi tidak ada bonus sepanjang jalur, malah ada trek dengkul ketemu dada dan akar-akar pohon cukup tinggi dan licin. Cuaca sedikit berkabut, tapi suhunya cukup gerah jadi perlu lebih banyak minum. Oya sepanjang jalur pendakian Burangrang ini tidak terdapat sumber mata air. Sekitar 1.5 jam berjalan (tentunya sesekali istirahat), tau-tau kami sampai di pos 5 dengan ketinggian 1850 mdpl. Alhamdulillah berarti dikit lagi dong sampe puncak.

DSC08843

Namun nyatanya jalur dari pos 5 menuju puncak tetap ga ada bonusnya, untungnya tidak begitu lama. Sekitar 15 menit kami sampai di puncak Burangrang yang ditandai dengan tugu SPN Polda Jabar berwarna oranye. Puncak Burangrang sendiri terdiri dari 2 pundukan yang dihubungkan sebuah jalur sempit dengan kiri kanan jurang. Di masing-masing pundukan terdapat tempat luas yang bisa digunakan untuk sekitar 5-6 tenda. Sayangnya saat saya dan pak Firman ke Burangrang, cuaca sedang tidak baik, alhasil di sekeliling hanya bisa melihat kabut 😦

Tapi jreng-jreng, jangan khawatir, karena 2 bulan berikutnya di bulan Desember, saya kembali ke Burangrang dengan melakukan pendakian tektok solo, kurang lebih sekitar 1 jam 45 menit dari basecamp sampai puncak. Alhamdulillah, cuaca sangat mendukung sehingga saat di puncak sekitar jam 8 pagi, disambut dengan matahari, langit biru dan pemandangan puncak Burangrang yang tak tertutup kabut, dengan hadiah utamanya : Situ Lembang 😀

DSC09852

Situ Lembang yang menjadi bagian dari kaldera Gunung Sunda Purba menjadi sisa-sisa dahsyatnya letusan gunung tersebut di masa lampau. Dengan posisinya tersebut, tak jarang Situ Lembang dijuluki Ranu Kumbolonya Bandung. Sayangnya (atau untungnya) Situ Lembang tidak dapat sembarang dikunjungi karena dikelola oleh Kopassus. Dari kejauhan dapat terlihat kompleks bangunan tempat pendidikan dan latihan Kopassus yang juga sering digunakan untuk pendidikan dasar Wanadri. Di bagian utara terlihat dengan jelas saudara termuda dari rangkaian gunung Sunda purba : Tangkuban Perahu.

DSC09865

Pandangan ke arah timur agak tertutup pepohonan tinggi dan belukar. Namun ke arah barat, pemandangan sangat luas tidak ada penghalang sehingga sangat cocok untuk melihat matahari tenggelam. Di barat daya, kita bisa melihat komplek Gunung Parang, Lembu dan Waduk Jatiluhur di Purwakarta. Sementara di sisi tenggara, kita dapat menyaksikan gunung Cikuray di Garut mengintip dari balik pepohonan.

Fiuh, setelah beristirahat, foto-foto dan menikmati santapan berat ditemani pemandangan indah di puncak Burangrang, saatnya kami turun. Alternatifnya bisa melalui jalur Kopassus (klo jalur turun biasanya diizinin, karena masa disuruh naik puncak lagi, atau melipir jalur), tentunya kalau nitip kendaraan di Legok Haji/Pasir Langu jaraknya jadi terlalu jauh. Kebetulan waktu itu ketemu rombongan yang turun via jalur Kopassus.

DSC09889

Jalur turun membutuhkan waktu lebih singkat, sekitar 1.5 jam sampai basecamp tetap dengan fokus penuh karena jalur cukup licin dan berduri. Sampai di basecamp, sebelum langsung pulang ke rumah, saya sempat ngobrol dengan warga pengelola basecamp. (setelah diterjemahin) “A, kok berani amat ngedaki sendirian, di Burangrang teh ada 3 pasir (bukit/punggungan), di tiap pasir teh ada penunggunya, kadang siang-siang juga nampakin diri”. Kebetulan pasir-pasir itu tempat dekat-dekat pos (mungkin 2-5). Asyem, habis diceritain gitu mah jadi males naik sendirian -_-

Secara ringkas, pendakian Burangrang (dengan santai)  menempuh waktu dan jalur sebagai berikut :

Terminal Ledeng – Basecamp Pasir Langu (45menit) -> BC – Pos 1 (30 menit) -> pos 1 – pos 3 (45 menit) -> pos 3 – pos 5 (1.5 jam) -> pos 5 – puncak (15 menit)

Logistik bisa beli di minimart, atau pasar sekitar Tugu/SPN, atau di warung dekat basecamp. Nomor kontak pengelola rasanya sih ga ada, lupa minta nomer si bapa pengelolanya, tapi jika tidak ada kejadian kebakaran hutan, Burangrang biasanya dibuka. Kondisi cuacanya kadang berbeda jauh dengan Bandung, bolehlah kontak saya buat tau cuaca hariannya mah, di belakang rumah ini :p Pendakian Burangrang idealnya sih dilakukan 2 hari 1 malam, tapi klo cuma punya 2 hari untuk mengunjungi gunung Bandung, bisalah tektok ke Burangrang dulu, habis itu ke Manglayang misalnya (pendakian manglayang via tebing doa bisa dibaca disini 😉 ), sekalian balik ke Cileunyi bwt balik ke Jakarta misalnya. See you di perjalanan berikutnya, maaf kepanjangan :p

 

Referensi

[1] Wisata Bumi Cekungan Bandung, Budi Brahmantyo & T. Bachtiar

[Seri Gunung Bandung] Catatan Pendakian Manglayang : Via Tebing Doa

Ah.. Akhirnya bisa apdet blog lagi, alasannya klise : banyak kesibukan. Selain itu juga akhir-akhir ini cuaca kurang baik, jadi tidak banyak melakukan perjalanan 😉 Yap, langsung saja basa-basinya.

Pagi itu, hari minggu tanggal 26 Maret 2017, saya mendaki gunung yang berada di sebelah timur kota Bandung : Manglayang. Seperti biasa ajakan naik gunung ini berawal dari grup WA. Agak males dan khawatir sih soalnya bulan-bulan ini cuaca masih kurang mendukung untuk melakukan pendakian. Apalagi beberapa kejadian buruk menimpa teman-teman pendaki di beberapa gunung akhir-akhir ini karena cuaca. Tapi Alhamdulillah pagi itu cuaca terbilang cerah walaupun mendung-mendung gemes. Saya berangkat dari rumah sekitar jam 7 pagi untuk kumpul di bumi perkemahan Batu Kuda di daerah Cileunyi/Cinunuk atas yang juga menjadi titik awal pendakian. Pekan itu ada long weekend karena hari nyepi, tapi jalanan cukup lengang, sehingga mungkin hanya butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke daerah Cinunuk.

Untuk menuju ke bumi perkemahan Batu Kuda ini kita bisa melalui jalan gang di samping SPBU 34-40310 Al Masoem Cinunuk, tapi jalannya banyak berliku dan kondisinya kurang mulus. Jalan yang lebih enak sebenarnya lewat jalan Tanjakan Muncang – Villa Bandung Indah yang posisinya tepat di persimpangan Cinunuk lepas jalanan satu arah.

Dari persimpangan Cinunuk itu tinggal mengikuti jalan lurus, hingga menemui percabangan, ambil ke kiri, hampir tidak ada percabangan yang membingungkan. Kondisi jalan aspal mulus sampai sekitar 200 meter dari gerbang buper (bumi perkemahan) Batu Kuda, setelah itu jalan makadam melalui pos tiket sampai tempat parkir. Oya, untuk mencapai buper ini tidak ada angkutan umum, jalanan mungkin cukup untuk 2 mobil berpapasan. Biasanya teman-teman pendaki menyewa angkot di daerah Cibiru/Cinunuk yang menarik tarif borongan sekitar 20rb/orang.

Sampai di pos tiket, per orang dipungut Rp. 7500,- (sudah termasuk 1 botol air minum 600ml) dan parkir motor Rp. 5000,-. Langsung saya bertemu dengan kang Dadan dan Ayunda di saung dan warung-warung yang sudah berdiri lama. Karena masih banyak yang belum datang, jadi saya sempatkan sarapan dulu di salah satu warung. Setelah sarapan, ternyata masih pada belum datang, jadi saya putuskan jalan-jalan di sekitaran, toh sudah lama juga ga kesini. Kondisinya tidak jauh berubah. Di dekat warung-warung terdapat mushola, toilet juga sumber air bagi para pekemah, yang baru mungkin sekarang tidak ada gerbang kayu pembatas tempat parkir. Pagi itu rupanya lumayan ramai karena ada gathering dari suatu kelompok.

Sekitar pukul 10.00 semua anggota rombongan sudah berkumpul, total ada 8 orang yang ikut dalam perjalanan kali ini. Setelah mengecek perlengkapan, briefing singkat tentang medan, diakhiri dengan doa dan sorakan, kami mengawali perjalanan kami menuju puncak manglayang via tebing doa.

Trek puncak manglayang lewat tebing doa ini tidak termasuk ke rute resmi pendakian ke puncak manglayang karena tingkat kesulitan trek yang mengharuskan pendaki menggunakan perlengkapan panjat tebing. Oleh karena itu tidak ada petunjuk menuju kesana. Panduannya dari plang petunjuk pilih jalan lurus/kanan (bukan ke kiri ke arah puncak), hingga melalui bukit sebelah. Jalur ini masih sering dilalui karena juga jalur menuju salah satu spot perkemahan di Manglayang, yaitu Papanggungan.

Dulu banget pernah ke papanggungan sih, viewnya lumayan bagus dengan view sunrise ke arah Jatinangor. Dari jalur ini, akan ditemui beberapa percabangan, patokannya hampir semuanya ke arah kiri. Jika ke papanggungan ambil arah kanan.

Dari percabangan kita akan melalui kebun warga, salah satunya kebun tembakau. Dari perkebunan tembakau ini trek hampir tidak ada percabangan, hanya ada satu jalur menanjak. Lumayan sih klo kesini klo cuaca cerah, panass. Dari sini pula dari kejauhan sudah terlihat tebing doa yang dimaksud.

DSC00901

Dari perkebunan tembakau, kita akan menemui hutan bambu yang konon menurut rangernya klo malam-malam bisa ditemui ular derik, karena itu kewaspadaan harus ditingkatkan jika melalui daerah ini. Melewati hutan bambu, setelah itu kita akan melalui trek dengan semak belukar cukup rapat, di beberapa tempat juga ada tanaman berduri. Setelah melalui beberapa tanjakan cukup terjal, sekitar 1 jam dari awalk pendakian, akhirnya sampai juga di tempat yang sudah dinantikan : Tebing Doa Manglayang.

Konon dinamakan tebing doa karena untuk melewati jalur ini kita harus banyak-banyak berdoa. Bagaimana tidak, tebing yang menjulang sekitar 10m ini kemiringannya hampir 90°, dimana samping kiri kanannya adalah jurang. Tidak ada pegangan yang bisa digunakan untuk mendaki, makanya agak heran juga pas pak Firman bilang pernah sukses lewat tebing ini tanpa pengaman 😆

DSC00943

Btw, ternyata tebing doa ini terdapat 2 bagian, tebing pertama dengan ketinggian sekitar 6m dan tebing kedua dengan tinggi sekitar 10m. Tebing pertama masih bisa dilalui dengan melewati jalur melipir ke arah kiri yang berbatasan langsung dengan jurang. Tidak perlu menggunakan peralatan khusus, tapi jalurnya cukup sempit jadi tetap harus fokus. Sementara saya melalui jalur jalan kaki, kang Tatan, kang Dadan dan teh Celine penasaran naik tebing pertama dengan peralatan. Satu persatu teman-teman saya pun naik ke tebing pertama.

Pemandangan dari tebing pertama ini juga bagus dengan view ke kota Bandung. Sayangnya kabut menyelimuti bandung saat itu, jadi hampir ga bisa lihat apa-apa. Di arah utara dapat terlihat puncak utama Manglayang.

Setelah semua tim sampai di tebing pertama, kami melanjutkan ke tebing kedua. Rasa was-was mulai timbul gimana cara naik ke atas. Beruntungnya kang Tatan bisa menuju puncak tebing dengan meniti celah-celah batuan untuk memasang anchor dan menarik karmantel. Setelah aman, akhirnya satu per satu tim naik bergantian, sebagian menggunakan harness, ada juga yang hanya menggunakan karmantel untuk pegangan. Sepertinya tidak ada teknis khusus untuk mendaki tebing doa ini, hanya saja kita harus jeli melihat celah-celah batuan untuk pegangan dan pijakan. Tali pengamannya sendiri mungkin sebagai jaga-jaga. Saya kebagian urutan 3 terakhir, katanya tukang foto harus terakhir biar semuanya kefoto  -_-

Alhamdulillah, hanya memerlukan waktu kurang dari 5 menit untuk melewati tebing ini, rasa was-was usai sudah (tadinya). Saya pikir setelah melewati tebing doa ini jalur akan lebih bersahabat, ternyata eh ternyata tepat di depan adalah jalur sempit menanjak yang minim pegangan dengan kiri kanannya jurang menganga. Lebih parah dari pemandangan saat tebing pertama tadi. Saya yang takut ketinggian ini juga jadi agak cemas. Walhasil, setelah membantu teh Una dan Ayunda melewati 1 tanjakan setelah tebing doa, saya percepat langkah ke arah puncak tanpa coba melihat kiri kanan :))

Tapi ternyata nasib berkata lain, setelah hampir melewati tanjakan dengan jalur tipis ini teh Una minta dibantu untuk melalui tanjakan, walhasil harus balik lagi ke bawah -_-“ turunnya lebih ngeri ternyata boi.

DSC01031

Setelah melalui jalur tipis tadi, akhirnya kami sampai di jalur yang cukup rimbun dan banyak akar sebagai pegangan. Bayangan jurang-jurang tadi lewat sudah. Dari sini, trek berupa tanah dan akar-akar dengan kemiringan 60-70°. Trek agak licin mungkin karena hari sebelumnya turun hujan. Dari kejauhan saya mendengar riuh-riuh yang menandakan ada pendaki lain, artinya : puncak sudah dekat! Setidaknya puncak Prisma/puncak timur. Alhamdulillah, setelah 2.5 jam mulai dari kaki tebing doa, kami sampai di puncak Prisma.

Kondisi puncak saat itu tidak ada orang, kabut juga menyelimuti sekitar. Konon di puncak inilah tempat terbaik untuk melihat matahari terbit karena viewnya tidak terhalang pepohonan seperti di puncak utama. Terdapat lahan cukup luas di beberapa tempat untuk mendirikan 10 lebih tenda. Sepertinya sebelum kami sampai di puncak ini ada beberapa pendaki lain terlihat dari bekas-bekas makanan, sampah dan kertas. Bocah pasti ini, kampret betul ninggalin sampah.

Kami memutuskan untuk beristirahat, solat dan makan di puncak timur ini. Dengan menggelar plysheet, kami makan berjamaah dengan bekal yang dibawa dari bawah. Sebiji tomat merah pemberian teh Una pun rasanya segar kali dimakan di puncak ini.

Kami beristirahat kurang lebih 1 jam di sini, kemudian kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang lewat Puncak Utama, karena turun lewat tebing doa tadi rasanya bukan pilihan :)) Dari puncak prisma ini, rupanya juga terdapat jalur Manglayang via Barubeureum ke arah kiarapayung. Dulu saya pernah tidak sengaja ke Barubeureum karena salah jalur. Puncak utama ditempuh sekitar 40 menit pendakian yang terus menanjak, bukan turun gunung sih ini namanya.

DSC01087

Kami sampai di puncak utama sekitar pukul 16.00, lagi-lagi di puncak utama ini tidak ada orang, sepertinya sudah pada pulang karena besok Senin. Bagi yang belum pernah ke Puncak Utama Manglayang, puncaknya berupa lapangan yang tertutup pepohonan dan terdapat sebuah petilasan. Alhamdulillah di sini kondisinya lebih bersih dibanding di puncak prisma tadi. Seperti biasa di puncaknya juga terdapat plang penanda ketinggian. Saya tak melewatkan berfoto bersama plang puncak Manglayang yang berketinggian 1818 mdpl ini (ciee nomor cantik).

DSC01104

Kami tidak menghabiskan waktu lama di puncak karena sudah sangat sore. Hujan pun mulai turun di perjalanan turun. Yang paling bikin males di Manglayang ini memang jalurnya bakal sangat licin klo hujan, makanya saya percepat jalan mumpung hujan belum terlalu deras. Tapi memang kita tidak bisa mengontrol hujan, di sekitar setengah jam sebelum mencapai Batukuda, hujan sangat deras akhirnya saya sempat terpeleset. Di perjalanan juga bertemu 3 orang pendaki yang baru menuju puncak. Sekitar pukul 17.30 saya sampai di Batu Kuda, langsung menuju warung dan memesan segelas kopi panas dan gorengan, ahh nikmat rasanya. Beberapa waktu kemudian semua tim sudah sampai di Batu Kuda. Tidak lama kami pun berpisah menuju rumah masing-masing.

Untuk saya pribadi, perjalanan pendakian lewat tebing doa ini memang menawarkan pengalaman paling berbeda dibanding gunung-gunung lain, salah satunya ya karena harus panjat tebingnya itu, mau balik lagi? Mikir 2 kali sih kayaknya, kecuali perginya sama kamu, iya kamu :”)

Damage Cost

  • Bensin PP : Rp. 18000,-
  • Tiket & Parir : Rp. 7500,- + Rp. 5000,-
  • Indomi rebus telor : Rp. 7000
  • Kopi susu : Rp. 3000,-
  • Roti & madu : Rp. ~20.000,-

Catatan Pendakian Gunung Ceremai : Perjalanan Dadakan Yang Gurih-Gurih Nyoyyy

You don’t climb mountains without a team, you don’t climb mountains without being fit, you don’t climb mountains without being prepared and you don’t climb mountains without balancing the risks and rewards. And you never climb a mountain on accident – it has to be intentional.

Mark Udall

Halo halo, sudah cukup lama tidak update blog ini, mungkin karena bertepatan dengan bulan Ramadhan, jadi tidak banyak aktivitas yang bisa diceritakan. Alhasil, saya coba update tulisan yang sudah lumayan lama jadi draft, untung ga jamuran juga 😀

Jadi, perjalanan yang saya ceritakan sekarang, terjadi sekitar 2 bulan lalu. Bermula dari pesan Pak Firman di salah satu grup whatsapp di hari rabu pagi 20 April 2016:

PF = Pak Firman

AS = saya

PF : Ada yang mau ikut ke Ceremai via kuningan? sekalian nganter barang, transport gratis!

AS : (kata-kata gratis adalah clickbait yang sering sukses memancing otak saya menentukan keputusan) Bentar pak, ijin bos dulu. (lanjut nelpon bos)

5 menit kemudian

AS : Hayu pak, udah diijinin >.<

Jadi sederhana saja, perjalanan ke Atap tertinggi Jawa Barat itu terjadi begitu saja, setelah saya mendengar kata-kata gratis -_- FYI, sebenarnya nama gunungnya adalah Ceremai, cuma sering salah kaprah jadi Ciremai, tapi klo di tulisan ini disebut Ceremai/Ciremai mohon dimaafkan ya 😉

Bulan April itu memang tidak ada agenda naik gunung kemanapun, mengingat bulan depannya ada agenda ke gunung lain. Jadi hampir tanpa persiapan/pemanasan. Tapi siang itu, setelah pamitan ke ortu, packing secukupnya (kali ini bawaannya ga rempong, karena tenda sudah dibawa yang lain), berangkatlah saya ke Cibiru untuk berkumpul dengan 2 teman lain yang sudah menunggu : Pak Firman, Mang Mbok. Belakangan ditambah sama Mang Derul yang menyusul di Padalarang, kebetulan memang kita akan ke Kuningan lewat Tol Cipali yang tersohor. Setelah sholat Dzuhur dan di-Jama’, kami pun berangkat ke Kuningan menggunakan mobil Gran Max pak Firman. Rencananya kami akan mengantarkan barang pesanan dulu ke daerah Cirebon, lanjut ke Ciremai lewat jalur Linggasana.

Karena kami berangkat di hari kerja, jalanan sangat lengang, bahkan di segmen jalan tol Cipali sepanjang + 115km hanya ditemui beberapa mobil saja. Jalan tol Cipali mulai dari gerbang tol Cikampek hingga Palimanan sukses dilalui sekitar 50 menit saja :)) Kami sampai di Kuningan sekitar pukul 4 sore. Setelah mengantarkan barang, kami lanjut makan siang sore sekalian cari logistik di kota.

FYI, jalur Linggasana ini memang jalur yang relatif baru. Letaknya tidak terlalu jauh dari jalur Linggarjati yang sudah ada sejak lama. Di pos tertentu bahkan jalurnya akan saling berpapasan. Beberapa perbedaannya, jika dari jalur Linggarjati dimulai dari ketinggian 600 mdpl, nah pendakian lewat Linggasana dimulai dari ketinggian 700 mdpl, ya lumayan lah. Selain itu pos pendakian Linggasana buka 24 jam jadi kita bebas naik jam berapapun. Sejauh ini juga tidak ada batasan berapa banyak pendaki yang boleh naik bersamaan. Pun kalau berangkat cuma 2 orang masih diperbolehkan. Beda dengan pos pendakian Linggarjati. Kami sampai di Linggasana sekitar pukul 7 malam, saat itu hujan mengguyur sangat deras, kami bahkan ragu untuk melanjutkan. Tidak lama kami sampai di basecamp (BC) Linggasana. BC Linggasana termasuk salah satu basecamp yang cukup bagus fasilitasnya, terdapat tempat mandi, toilet, mushola, warung dan parkiran yang luas, kondisinya pun masih sangat bagus, ya mungkin karena baru beberapa bulan dibangun.

Selain menggunakan kendaraan pribadi, dari Bandung kita bisa naik kereta ke stasion Cirebon dengan ongkos 80rb, lanjut angkot ke terminal Cirebon 5rb, terakhir naik angkutan umum (elf/bus) arah Kuningan dari Terminal Cirebon dengan ongkos 15rb sampai pertigaan Indomaret-Linggasana, bilang saja ke supir/kernetnya mau ke basecamp Linggarjati/Linggasana. Dari pertigaan Linggasana bisa menggunakan ojek dengan tarif 10-15rb. Kadang-kadang supir/kernet elfnya juga mau mengantarkan kita dengan tambahan ongkos 15rb sampai basecamp Linggasana yang berjarak sekitar 10 menit. Tapi sebelum beneran diantarkan, minta kernet untuk meminta restu dari penumpang yang ada supaya dibolehkan nganter ke basecamp, kalau engga, bisa ada perang sipil di elf, trust me it happened :v Alternatif lain sih bisa langsung naik travel/DAMRI Bandung-Kuningan.

Oya, sampai di basecamp, kami langsung disambut oleh Kang Pen sebagai koordinator jalur pendakian Ciremai via Linggasana dengan seteko teh manis panas. Lepas men-jama’ sholat Magrib dan Isya, kami sempat mengobrol sekaligus registrasi. Di semua jalur pendakian Ciremai dikenakan biaya SIMAKSI sebesar 50rb/orang. Khusus di jalur Linggasana, tarif 50rb ini sudah termasuk SIMAKSI, teh manis panas, sertifikat (yang nama di sertifikatnya ditulis sendiri) dan paket makan saat turun gunung nanti. Saat registrasi kita hanya perlu menitipkan 1 KTP perwakilan kelompok dan menuliskan nama anggota dan nomor telepon yang bisa dikontak. Urusan registrasi selesai, selanjutnya bismillah, la hawla wa la quwwata illa billah.

jalur pendakian ciremai linggasan.jpg
Peta Jalur Pendakian Gunung Ciremai via Linggasana

Catatan : Jalur Linggasana ini memiliki 2 pilihan jalur, jalur lama dan jalur baru. Lihat di peta jalur di atas, jalur baru adalah dari (sebelum) Kondang amis, alih-alih melalui Kuburan Kuda, kita akan melewati Ciwalengas – Buana Sari. Sementara jalur lama tetap melalui Kuburan Kuda-Tanjakan Bapa Tere. Jalur lama dan baru akan kembali di Batu Lingga, tepatnya di Tanjakan Tarawangsa. Saat pendakian pertama ke Ciremai via Linggasana ini, jalur baru belum resmi digunakan, tapi waktu kedua kalinya (bulan Juli 2016) saya coba menggunakan jalur baru, bedanya? tunggu akhir tulisan ini :p

Rabu, 20 April 2016

Tepat pukul 20.00 WIB, kami berangkat dari basecamp Linggasana, setelah berdoa bersama, ditemani bulan purnama dan lembabnya tanah selepas hujan, kami berangkat melalui jalur lama Linggasana. FYI, jalur pendakian Ciremai via Linggasana/Linggarjati ini termasuk susah mendapatkan mata air, kalaupun ada musiman. Di grup saya, setiap orang membawa air minum sebanyak 4 x 1.5 liter. Jalur pendakian dimulai dari gerbang Linggasana di bawah tower sutet yang menjadi penanda yang cukup mencolok. Jalur awal ini kami melalui hutan pinus, jalanan makadam, kami juga sempat melewati makam Keramat. Setelah kurang lebih 1 jam, kita akan keluar dari hutan pinus dan sampai di Pos Pangbadakan. Penanda pos ini adalah beberapa tempat lesehan dari bambu yang menghadap kota Cirebon/Kuningan. Di sekitar Pangbadakan ini terdapat area untuk mendirikan tenda sekitar 2-3 tenda.

Kami melanjutkan perjalanan ke pos Kondang/Condang Amis yang berjarak sekitar 45 menit dari Pangbadakan. Sekitar 10 menit sebelum pos Kondang Amis terdapat percabangan jalur lama dan baru. Di pos Kondang Amis ini terdapat sebuah bangunan shelter yang bisa digunakan untuk istirahat, bahkan mendirikan 1 tenda. Saat itu kami istirahat sekitar 10 menit, Pak Firman yang memang kurang fit, saat itu nampak sudah kepayahan. Oya, perlu dicatat dari basecamp Linggasana ini treknya relatif datar, dengan gradien dari ketinggian 700 m sampai 1350 m menandakan jalur ini lumaaayan panjang. Belakangan saat turun ke basecamp, bwt saya trek awal ini justru paling melelahkan (rasanya basecamp udah deket, ternyata masih lama).

photo247343692404337223
Shelter di Pos Kondang Amis

Target awal kami tadinya bisa mencapai pos Pangalap malam itu juga, namun kondisi anggota kelompok harus selalu dipertimbangkan. Sekitar 30 menit berikutnya sebelum sampai di pos Kuburan Kuda, Pak Firman sudah tidak kuat melanjutkan, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di samping jalur yang agak miring tapi cukup luas.

Menu sederhana seperti mie instan, telur dan secangkir coklat panas menemani kami melewati malam yang cukup hangat saat itu. Setelah makan, saya pun terlelap dalam keheningan malam #tsah.

Kamis, 21 April 2016

Pagi itu saya bangun hampir kesiangan solat subuh, sebagian teman yang lain sudah terjaga, Kang Mbok malah sudah siap-siap memasak untuk sarapan. Rencana hari ini kami berangkat pukul 8 pagi dengan target pos Batu Lingga atau Sanggabuana 1 supaya tidak terlalu jauh dari Puncak. Saat pagi baru terlihat kondisi hutan di sekitar tenda yang masih rimbun. Sambil menunggu nasi siap, Kang Mbok dan Kang Derul malah sempat membuat hammock. Setelah repacking, maka jam 8 kami melanjutkan perjalanan.

DSC04214

Enaknya treking pagi-pagi adalah kondisi badan masih sangat fit, udara juga sangat segar. Hanya sekali kami menjumpai rombongan pendaki yang naik, karena hari itu memang hari kerja. Tidak jauh dari tempat kami ngecamp semalam, sekitar 15 menit kami sudah sampai di Pos Kandang Kuda. Di pos ini terdapat beberapa lahan datar yang cukup luas untuk berkemah. Konon (jangan dibalik), nama pos ini diambil dari lokasi penguburan kuda-kuda pada masa penjajahan Jepang yang digunakan untuk mengontrol perkebunan kopi yang saat ini memang ada di lereng gunung Ciremai. Secara kasat mata sih tidak terlihat jejak kuburannya, tapi katanya lokasinya ada di sebelah barat jalur pendakian. Kabarnya lagi, para pendaki yang ‘beruntung’ bisa mendengar ringkihan kuda-kuda ini :S

DSC04223
Salah satu sudut di pos Kuburan Kuda, klo beneran sebelah barat jalur sih daerah sini, hati-hati waktu ‘ngegali’ disini, hiii …

Lanjut ke pos berikutnya, treknya masih sama, tanjakan tanpa bonus. Setelah berjalan kurang lebih 45 menit, kami sampai di lapangan yang cukup luas dengan sebuah pohon besar di tengah-tengah lapangan. Dahulu tempat ini dinamakan Pos Pangalap, namun di plang nama lain di tempat sama, pos ini juga dinamakan pos Pamerangan. Menurut saya pos ini adalah pos berkemah paling luas. Saat datang ke sini saya menemui 1 rombongan pendaki yang baru turun. Dari balik rimbun pepohonan ini, saya juga sempat melihat pucuk puncak Gunung Slamet di Jawa tengah dari kejauhan.

 

Kami beristirahat sekitar 10 menit lalu melanjutkan perjalanan ke titik pendakian berikutnya : Tanjakan Sareuni/Seruni. Sebelum Tanjakan Seruni sebenarnya ada tanjakan lain yang tidak nampak di peta yakni Tanjakan Bingbin. Tanjakan Bingbin adalah tanjakan pemanasan sebelum Tanjakan Seruni, ditandai dengan plang nama Tanjakan Bingbin,  treknya berupa jalan tanah agak gembur yang menurut saya ga terjal-terjal amat, tapi kalau sudah diguyur hujan bakal sangat licin. Di beberapa tempat terdapat batang tetumbuhan yang bisa digunakan sebagai pegangan. Hanya tetap berhati-hati karena juga terdapat tetumbuhan berduri di jalur pendakian.

DSC04243

Kami sampai di Tanjakan Seruni/Sareuni sekitar 1 jam dari Pangalap. Pos tanjakan Seruni ini ditandai dengan 1 pohon yang terkapar dan bekas tebangan pohon dengan plang nama Tanjakan Seruni dan tanah lapang yang bisa digunakan 2-3 tenda. Kami sempat istirahat beberapa saat sebelum melanjutkan pendakian.

DSC04252

Nah dari pos Tanjakan Seruni ini, sepertinya baru ada pemindahan jalur karena menurut pak Firman, ditandai dengan semak-semak yang sengaja digunakan untuk menutup jalur lama, mungkin karena longsor atau jalurnya terlalu berbahaya dilalui. Jadilah kami melalui jalur yang agak memutar. Jalurnya terlihat masih gembur, bekas hujan di malam hari kemarin membuat tanah di beberapa tempat sangat licin. Setelah berjalan kurang lebih 1 jam, akhirnya kami bertemu dengan tanjakan yang legendaris : Tanjakan Bapa Tere.

 

1-10
Tanjakan Bapa Tere, somehow saya ga punya foto di tanjakan ini, padahal di tanjakan lain ada O_o (sumber foto : http://dailyvoyagers.com/blog/2016/04/09/himbauan-dan-larangan-pendakian-gunung-ceremai-via-linggarjati/)

Tanjakan Bapa Tere ini adalah tebing dengan kemiringan sekitar 80 derajat, dimana kita harus melalui akar-akar pohon untuk sampai ke atasnya. Sebenarnya terdapat jalur menyamping sehingga tidak harus meniti akar-akar pohon ini. Pun terdapat webbing yang bisa digunakan pendaki. Tapi menurut saya tanjakan Bapa Tere ini tidak terlalu menyeramkan, walaupun tinggi tetapi jaraknya pendek, tapi bukan berarti menyepelekan ya, waspada tetap harus, apalagi kalau bawa kulkas full loaded. Oya, konon tanjakan Bapa Tere ini diambil dari kejadian seorang bapa yang mengajak anak tirinya naik Ciremai, lalu dibunuh di tempat ini, well Wallahu a’lam.

Lepas dari tanjakan Bapa Tere ini, bisa istirahat sebentar di dataran sekitar yang bisa digunakan berkemah untuk 1 tenda, karena tanjakan berikutnya masih menunggu. Tidak lama dari tanjakan Bapa Tere ini, mungkin sekitar 10 menit, kita akan sampai di persimpangan antara jalur lama dan jalur baru via Linggasana/Linggarjati. Sampai sini, pak Firman kembali mengeluhkan kondisi badannya, saya dan kang Mbok diminta untuk mencari daerah lapang terdekat sebelum pos Batu Lingga untuk tempat berkemah, kebetulan jaraknya sekitar 5 menit dari titik istirahat terakhir. Tempat ini mungkin bisa digunakan untuk 2 tenda. Kami sampai di tempat kemah ini sekitar pukul setengah 2 siang. Setelah memasak sebungkus mie goreng, saya terlelap di pelukan hammock yang dibuat kang Mbok di depan tenda. Sore itu tidak ada rencana apa-apa selain istirahat menunggu summit nanti pagi, hingga malam menjelang. Setelah briefing singkat soal kapan kami summit, saya pun terlelap dalam belaian angin malam, sampai lupa kalau hari itu malam jum’at :s

Jum’at, 22 April 2016

Wwwugg… Suara melengking yang singkat, padat dan sumber suaranya rasanya cukup dekat itu sukses membangunkan saya dan teman-teman lain di dalam tenda. Itu terjadi sekitar pukul setengah 1 malam. Kami pun berspekulasi suara apakah itu, saya dan pak Firman juga sempet deg-degan, takutnya suara binatang buas. Belakangan suaranya mirip suara babi hutan jantan yang jejaknya sempat kami lihat siang kemarin. Hujan juga sempat turun hingga waktu rencana kami summit pukul setengah 2 pagi.

Kami memutuskan summit sambil menembus hujan yang masih turun berbekal jas hujan dan perlengkapan secukupnya. Setelah berdoa, setengah 2 pagi itu kami berangkat summit. Nikmat rasanya mendaki tanpa membawa keril yang berat, seperti melayang #bukansombong. Ternyata setelah 15 menit berjalan kami sudah sampai di pos Batu Lingga, yang kebetulan ditempat 2 tenda. Karena masih hujan, saya tidak sempat foto-foto, sebenarnya bawa action cam, cuma filenya entah kemana 😦 Tidak beristirahat di Batu Lingga, kami teruskan perjalanan ke pos berikutnya yakni pos Sanggabuana 1 yang berjarak sekitar 30 menit. Di pos ini kami istirahat cukup lama, terutama karena kondisi pak Firman. Di pos Sanggabuana 1 ini tempatnya cukup luas untuk 3-4 tenda. Masih diguyur gerimis, saya coba menggerak-gerakkan badan supaya badan selalu hangat. Dari pos Sanggabuana 1 ke Sanggabuana 2 sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi karena istirahat cukup lama, kami membutuhkan waktu 1 jam.

Di pos Sanggabuana 2 juga terdapat tempat cukup luas untuk 4-5 tenda dan terlindung oleh pepohonan. Berikutnya mulai dari pos Sanggabuana 2 ke pos Pangasinan, trek mulai berbeda karena kita melalui jalanan bebatuan. Butuh konsentrasi cukup untuk melalui trek dengan kemiringan hingga 70° ini, salah-salah bebatuan bisa menggelinding ke rekan kita di bawah. Di beberapa tempat kita juga harus melalui tanah yang licin setelah diguyur hujan. Butuh 1 jam perjalanan dari pos Sanggabuana 2 ke pos Pangasinan, waktu di tanjakan bebatuan kita juga sempat istirahat lumayan lama. Alhamdulillah ketika sampai di pos Pangasinan ini hujan sudah berhenti. Di kejauhan juga mulai terlihat awan yang mengarak :3

DSC04265
Yup, yang di belakang itu puncak Ceremai, bentar lagi (katanya)

Di pos Pangasinan ini terdapat tempat yang cukup untuk sekitar 5 tenda, namun kebanyakan daerah terbuka yang langsung kena paparan angin gunung. Tapi menurut saya sih ini tempat camp dengan view terbaik dan lokasinya paling dekat dengan puncak. Kami sampai di Pangasinan pukul 4.15, karena adzan subuh belum berkumandang, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan, karena konon dari Pangasinan ke puncak hanya 30 menit. Tapi ternyata, sampai pukul 5 juga belum sampe-sampe, akhirnya kami solat subuh sebisa-bisanya di tempat yang memungkinkan. Oya, di sekitar perjalanan akan ditemui banyak pohon Edelweis, diantaranya masih kecil-kecil. Selain itu juga ditemukan bekas pepohonan yang terbakar pada periode kebakaran hutan sebelumnya. Perjalanan ke puncak sendiri kita harus melalui celah-celah tanah dan batuan.

Alhamdulillah sekitar pukul 5.30 kami sampai di puncai Ceremai. Saya menjadi orang pertama yang mencapai puncak, dan sepertinya tim kami yang pertama hari itu yang summit, jadi puncaknya masih kosong :O Tidak beberapa lama kawan-kawan lain menyusul sampai di puncak.

Rembulan sempat terlihat terbenam di puncak Ceremai, di arah kota Cirebon dan Kuningan saya melihat kawanan awan yang mengarak. Rasanya sudah lama saya tidak mendapatkan view lautan awan seperti ini.

Syukur alhamdulillah kami panjatkan saat itu, karena dengan persiapan yang minim kami diizinkan Allah menggapai puncak atap Jawa Barat ini. Waktu itu view sunrisenya mungkin kurang sempurna karena matahari masih saja bersembunyi di balik awan. Tapi semakin siang, pemandangan lautan awan malah semakin menakjubkan. Kami pun beruntung bisa melihat puncak Gunung Slamet dari kejauhan. Konon Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing juga bisa terlihat dari puncak Ceremai ini.

Sementara pemandangan ke tengah puncak Ceremai ini juga tidak kalah menakjubkan yakni kaldera kawah ceremai dengan diameter hingga 1 km. Kawah Ceremai terdiri dari 2 kawah, kawah barat dan kawah timur. Di kawah timur ini kita bisa melihat danau genangan hujan yang tertampung di kawah serta vegetasi khas puncak.

Lama-lama berada di puncak ini saya pun kedinginan, apalagi matahari juga tak kunjung muncul, kami pun sempat memasak mie instan dan minuman hangat untuk mengisi perut dan mengusir dingin. Semakin siang, lautan awan tidak kunjung berhenti, kalau sudah ada lautan awan ini rasanya malas sekali turun, kalo ngga inget yang di rumah mungkin pengen extend :3

Setelah 1.5 jam berada di puncak, pukul 7 pagi kami beranjak turun ke tenda kami. Kami pun bertemu dengan pendaki-pendaki lain yang akan summit. Perjalanan ke tempat camp kedua kami ternyata tidak begitu lama, sekitar 2 jam, itu pun sudah termasuk waktu ‘setoran’ di semak-semak tadi. Jam 9 kami sampai di tenda, niatnya kami akan pulang cepat, namun hujan kembali turun, akhirnya setelah masak kami pun ketiduran sampai pukul 11. Setelah agak reda, kami langsung packing dan meluncur ke basecamp Linggasana. Kondisi trek yang licin karena diguyur hujan membuat perjalanan turun tidak mudah karena harus selalu berhati-hati, tak jarang saya tergelincir. Akhirnya setelah perjalanan turun sekitar 5.5 jam, kami sampai di basecamp pukul 16.30. Rasanya kaki ini sudah mau copot, apalagi trek dari Condang Amis ke basecamp itu yang sedianya estimasinya cuma setengah jam, menjadi 1.5 jam entah kenapa rasanya kok trek itu panjang bener. Apalagi dari kejauhan sudah terlihat tower sutet tapi kok ga sampe-sampe.

Tapi bodo amat, yang penting kami sampai di basecamp dengan selamat. Sampai di basecamp kami disambut seteko teh manis hangat dan dimasakkan mie goreng telor plus nasi (ekspektasinya sih nasi ayam goreng -_-) dan sertifikat. Setelah solat magrib dan isya, kami lanjutkan perjalanan pulang. Well, hikmah dari perjalanan ke Ceremai kali ini adalah walaupun perjalanannya terkesan dadakan, mungkin memang sudah rencana Allah kami summit waktu itu dan diberikan pemandangan yang sangat indah. Benar juga pepatah pendaki yang bilang “Tak akan lari gunung dikejar” karena “Gunung yang tepat akan mendatangi pendaki yang telah siap”. Itu …

photo247343692404337294
Salam dari Puncak Ceremai 🙂

DSC04319

DSC04389
Puncak Ceremai, 3078, asli, bukan pake fake GPS :v
DSC04453
View laut selatan
DSC04392
Pose men-strim

Info Basecamp Linggasana :

  • Pak Pen : 0823-1603-6615
  • Pak Yatna : 0857-2447-9446

Cost Damage :

  • Logistik : 50rb/orang
  • SIMAKSI : 50rb/orang
  • transportasi : gratis (dibayarin)

Resume waktu perjalanan :

  • Rabu 19 April 2016
    • 20.00 berangkat basecamp linggasana
    • 21:45 sampe condang amis
    • 22.15 sampe tempat camp malam pertama, antara condang amis-kandang kuda
  • Kamis 20 april 2016
    • 8.30 berangkat tempat camp malam pertama
    • 8.45 sampe kandang kuda
    • 9.30 sampe pangalap
    • 10.30 sampe tanjakan sareuni
    • 13.00 sampe tanjakan bapa tere
    • 13.30 sampe tempat camp malam kedua, antara tanjakan bapa tere-batu lingga
  • Jum’at 21 april 2016
    • 01.30 summit, dari tempat camp malam kedua
    • 01.45 sampe pos batu lingga
    • 02.15 sampe pos sanggabuana 1, istirahat
    • 03.15 sampe pos sanggabuana 2
    • 04.15 sampe pos pangasinan
    • 05.30 sampe puncak
    • 07.00 mulai turun dari puncak
    • 09.00 sampe tempat camp malam kedua
    • 09-11.00 nunggu hujan reda
    • 11.00 mulai turun ke basecamp
    • 14.30 sampe pos condong amis
    • 16.30 sampe basecamp linggasana

Kemping Ceria di Puncak Bintang

‘Cause you’re a sky, ’cause you’re a sky full of stars
I wanna die in your arms
‘Cause you get lighter the more it gets dark
I’m gonna give you my heart

Coldplay – Sky Full of Stars

Siapa disini yang tidak suka menatap langit malam yang bertabur bintang? Sebenarnya bintang-bintang tetap bersinar saat siang hari, hanya saja cahayanya dikalahkan sama benderang matahari kita. Entah apa yang menarik kita untuk menatap titik-titik yang menurut beberapa orang kaya ketombe, apakah memikirkan kehidupan lain di luar sana, apakah sekedar mengagumi kerlap-kerlipnya, atau apakah ada semacam keterkaitan batin seperti yang dibilang sama Neil Degrasse Tyson : We are the son of stars, karena unsur-unsur yang menunjang kehidupan kita berasal dari bintang-bintang yang masih hidup (matahari) dan yang sudah mati.

Di perjalanan sekarang, saya tidak akan mendiskusikan topik astronomi atau tempat yang ada hubungannya sama astronomi, tapi tempat wisata (relatif) baru di Bandung yang mencatut nama Bintang! : Puncak Bintang.

Sebelum teman-teman kecewa, di Puncak Bintang ini tidak ada observatorium, teleskop atau fasilitas penelitian astronomi milik LAPAN atau ITB. Jika ingin ke observatorium beneran di Bandung, berkunjunglah ke Observatorium Bosscha. Nah, obyek wisata yang terdapat di daerah Cimenyan Kabupaten Bandung ini berjarak sekitar 30 menit dari Terminal Bus Cicaheum, atau sekitar 1.5 jam dari pusat kota Bandung. Nama puncak bintang diambil dari pemandangan kemilau cahaya lampu di perkotaan malam hari yang seperti bintang-bintang di langit.

Hari rabu saat itu adalah salah satu hari di periode long weekend tahun 2016. Awalnya saya berencana ga kemana-mana (bedakan dengan ga berencana kemana-mana :p), mengingat long weekend di Bandung adalah semacam ‘neraka’, karena di jalannya bakal macet, dan di tempat-tempat wisatanya bakal terlalu rame. Waktu itu di Bandung juga masih musim hujan. Nah hujan-hujan sih enaknya camping (loh), tapi males juga naik gunung, pasti rame dan jalanan juga macet, akhirnya kemcer di Puncak Bintang jadi pilihan. Letaknya ga jauh dari kota, persiapan juga ga perlu banyak-banyak.

Puncak Bintang ini sebenarnya ga baru-baru amat, lokasinya berdekatan sama obyek wisata Bukit Moko dan Caringin Tilu yang udah popular sedari lama. Dulunya hanya area perkebunan pohon pinus yang dikelola Perhutani. Nah, untuk menuju ke lokasi Puncak Bintang, jalur utamanya adalah lewat jalan Padasuka ke arah utara, melewati Saung Udjo, Caringin Tilu, sampai … jalanan aspal habis (literally). Tidak ada angkutan umum yang trayeknya khusus ke tempat ini. Mungkin kalau pergi sendiri baiknya sewa motor atau naik ojek (ga tau nih Goje*k atau U*ber bisa nganter kesini ga).  Lepas jalan padat permukiman, jalanan akan terus menanjak terjal, paling parah di tanjakan terakhir tepat sebelum mencapai parkiran. Pastikan kondisi kendaraan harus fit, apalagi saat perjalanan pulang, konon banyak kecelakaan di sini terjadi karena rem blong!

Saat di tanjakan, kita akan dipungut retribusi parkir Rp. 5000/motor, tapi kalau kita kemping kita akan dipungut Rp. 15rb, uang 10rb terakhir dibayarkan di tempat parkir khusus ke Puncak Bintang. Jalan sekitar 5 menit ke gerbang utama, untuk masuk dikenakan Rp. 10rb, dan untuk kemping Rp. 8rb per orang. Area kemping disediakan di sebelah timur, ke arah dermaga bintang, dan di sebelah utara di dekat puncaknya Puncak Bintang. Lokasinya tidak terlalu jauh, cuma sekitar 5 menit melalui paving block yang sudah disediakan. Fasilitas pendukung seperti toilet, musholla tersedia disini (dan gratis), penerangan jalan dan listrik ada sampai sekitar pukul 9 malam, tapi air di toilet mengalir terus, jadi tidak perlu bingung soal sumber air. Selain itu papan petunjuk dan papan informasi tersedia di beberapa tempat.

DSC01733
Dermaga Bintang, cukup mencolok dengan background pepohonan pinus

Saya memilih ngecamp di dekat area puncak, di antara pepohonan pinus. Di sini tersedia dataran yang cukup luas dan datar untuk mendirikan kemah, mungkin sekitar 10-15 tenda. Kebetulan ada sekitar 3 tenda lain yang ada di sana. Untuk yang pengen hammock-an, di sini termasuk surganya, karena tersedia banyak pohon pinus untuk jadi pancang.

DSC01713
Pal Triangulasi puncaknya Puncak Bintang : 1442mdpl
DSC01711
Nyaman bwt para hammockers, jangan lupa pake layer tambahan ya, udaranya cukup semriwing

Setelah memilih tanah untuk berkemah, saya langsung mendirikan tenda. Malam itu entah kenapa cuaca juga tidak terlalu dingin. Menu makan malam yang dipilih saat itu ada nasi bungkus yang kami beli di warung nasi sebelum ke sini, coklat panas dan makaroni rebus La F*onte (yang sekarang jadi makanan instan favorit saya bwt pengganti indo*mi). Setelah makan, sholat, dan mumpung belum hujan, saya langsung gelar perlengkapan lenong. Panorama Kota Bandung malam hari memang selalu dirindukan. Jauh dari riuh ramai perkotaan, lokasi Puncak Bintang ini memang pas untuk pelarian saat long weekend.

DSC04795
mengasingkan diri dari riuhnya perkotaan, ga perlu jauh-jauh

Sambil berkeliling di sekitaran tenda, ga sengaja mencuri dengar pembicaraan orang-orang di tenda sebelah, kayaknya sih mereka dari kelompok MAPALA. Kebetulan tetangga sebelah menyalakan api unggun yang memberikan ambience yang apik untuk foto-foto.DSC04793DSC04803

Tidak terasa malam semakin larut, dan perburuan ini harus dihentikan (lah kaya ekspedisi alam gaib). Setelah masuk tenda, sempet main kartu beberapa set, akhirnya saya tertidur lelap sampai keesokan subuhnya.

Merenung Sesaat di Patahan Lembang

Tidak terasa subuh menjelang, sekitar pukul 4.30 saya terbangun, saat itu listrik sudah menyala kembali, lampu penerangan paving block yang mengarah ke toilet dan mushola juga sudah menyala. Setelah sholat subuh, saya menatap langit dan melihat sedikit jejak-jejak galaksi bima sakti. Penampakannya cukup singkat, karena setelah itu awan kembali menyelimuti langit.

DSC04811

DSC04821

Sambil menunggu matahari terbit, saya putuskan untuk foto-foto lagi di sekitaran tenda. Oya, untuk menikmati pemandangan di Puncak Bintang yang terbaik dan ga mau treking, kita bisa datang saat sore hari saat matahari terbenam, lanjut sampai agak malam. Kalau ingin makan berat atau sekedar ngopi, bisa mampir ke warung Bukit Moko, atau di warung-warung yang ada di sekitar parkiran. Nah, untuk pemandangan matahari terbit, kita ga bisa langsung dapatkan di Puncak Bintang, kita bisa turun sedikit ke bukit depan Puncak Bintang, atau treking ke Patahan Lembang dengan background gunung Bukit Tunggul.

Nah lho, apa lagi Patahan Lembang? Patahan Lembang adalah zona patahan yang terjadi karena pergerakan lempeng, yang memanjang sekitar 25 km dari Maribaya, sampai ke Cisarua. Patahan ini terlihat seperti perbukitan yang memanjang dan bisa terlihat jelas jika kita berada di Gunung Putri Lembang. Saat ini Patahan Lembang masih dinyatakan aktif dan berpotensi menimbulkan gempa 6-7 skala richter [1]. Dengan jarak hanya 15km dari Kota Bandung, tentunya potensi ini harus disikapi dengan seksama.

Nah di Puncak Bintang, Patahan Lembang yang dimaksud adalah salah satu titik dataran di pinggir/jurang patahan Lembang, ya mirip-mirip Tebing Keraton lah. Untuk menuju Patahan Lembang ini, kita harus treking sekitar 20 menit. Treknya agak menanjak, tapi tidak terlalu panjang. Sebelum treking, sarapan dulu ya gaes, #biarsetrong.

DSC04832

Habis sarapan, cus langsung ke Patahan Lembang. Dari tempat camp, tinggal turun ikuti petunjuk arah ke Patahan Lembang, nanti akan ditemui papan informasi dan toilet yang belum bisa dipakai. Pemandangannya juga ga ngebosenin, sepanjang jalan pepohonan pinus, di beberapa tempat masih ada wadah-wadah pengambilan getah pinus

DSC04854

Bersama saya waktu itu, ada serombongan keluarga yang juga sedang menuju Patahan Lembang. Oya, pastikan kita membawa persediaan air minum yang cukup dan cemilan. Sebenarnya ada saung-saung saat perjalanan sekitar 10 menit, cuma sepertinya waktu kesana lagi pada tutup.

Treknya sendiri sudah cukup jelas, karena cuma satu jalur. Nah saat ketemu semacam portal akan ada percabangan, cukup ikuti jalur lurus (jangan belok kiri). Jalur ini adalah pertemuan antara jalur pejalan kaki dari Puncak Bintang dengan pemotor trail/warga, jadi jangan kaget kalau nanti ketemu sama motor trail.

Jangan terlalu percaya sama petunjuk waktu di plang penunjuk arah, yang pasti tergantung pace jalannya, kalau capek tinggal istirahat 😉 Nah setelah 20 menit, sampailah kita di tempat yang dituju. Tempatnya sendiri terdapat agak di bawah, jadi kita perlu turun sedikit dari jalan utama. Nanti akan ditemukan plang Patahan Lembang.

DSC04876

Viewnya 11-12 sama view di tebing Keraton lah ya, di sebelah utara kita bisa melihat daerah Cikole, Ciburial, agak ke barat kita bisa melihat gunung Tangkuban Perahu 🙂

DSC01702
Gunung sebelah kiri Burangrang, sebelah kanannya Tangkuban Perahu, agak ke depan Gunung Putri. Foto ini diambil beberapa waktu sebelumnya, cabang pohonnya masih tinggi.
DSC04872
Yang ini diambil waktu terakhir kesana, awan agak tebal dan cabang pohonya sudah patah 😦
DSC01693
Waktu nganter turis Jogja

Puas foto-foto di Patahan Lembang, saatnya kembali ke kemah. Selain Puncak Bintangnya sendiri dan Patahan Lembang, masih ada obyek lain di Puncak Bintang ini : Dermaga Bintang. Letaknya paling kanan dari pintu masuk, ditandai dengan semacam bangunan rangka besi dengan icon bintang (namanya juga Dermaga Bintang). Tingginya sekitar 6-7m dengan konstruksi yang cukup kokoh.

DSC01715

Dari dermaga ini kita bisa melihat pemandangan perkebunan di dekat Puncak Bintang, Bukit Moko dan Kota Bandung dari titik yang lebih tinggi.

DSC01718DSC01722

Kalau belum puas menjelajah di sekitaran Puncak Bintang ini, kurang sempurna rasanya kalau ga main di hutan pinus dan me-reka-ulang adegan-adegan di Bollywood.

DSC04894DSC04886DSC04884

Kalau udah puas atau udah kecapean habis dari Patahan Lembang, yasudah pulang saja, pastikan rem kendaraan kita masih berjalan baik karena jalanan akan terus menurun sampai Cicaheum, sampai ketemu di perjalanan berikutnya 😉

Cost Damage

  • Tiket parkir : Rp. 5rb (kunjungan biasa), tambah Rp. 10rb (klo kemping)/motor
  • Tiket masuk : Rp. 10rb (kunjungan biasa), tambah Rp. 8rb (klo kemping)

Untuk angkutan umum, kalau banyakan bisa sewa angkot dari dekat Terminal Cicaheum/pertigaan Padasuka, kalau sendiri bisa pakai ojyek, kurang lebih Rp. 50rb PP.

Referensi

[1] http://geomagz.geologi.esdm.go.id/sesar-lembang-heartquake-di-jantung-cekungan-bandung/

Catatan Perjalanan Susur Pantai Selatan Jawa Barat : Part 2, Curug Cikaso

I turn the music up, I got my records on
I shut the world outside until the lights come on
Maybe the streets alight, maybe the trees are gone
I feel my heart start beating to my favourite song

And all the kids they dance, all the kids all night
Until Monday morning feels another life
I turn the music up
I’m on a roll this time
And heaven is in sight

As we soar walls, every siren is a symphony
And every tear’s a waterfall

Every Teardrop Is A Waterfall – Coldplay

Setelah (belum) puas explore pantai Ujunggenteng hari sebelumnya, perjalanan susur pantai selatan Jawa Barat ini saya lanjutkan. Susur pantai tidak selamanya mengunjungi objek wisata pantai, khususnya di daerah sekitar Ujunggenteng ini terdapat obyek wisata air terjun yang sudah sudah cukup terkenal : Curug Cikaso.

Curug yang terletak di kampung Ciniti, Kecamatan Surade ini terletak di segmen jalan Ujunggenteng-Tegalbuleud yang hari sebelumnya kami lewati. Dari Ujunggenteng, kendaraan kami arahkan ke Surade, sampai pertigaan depan Indomaret Surade. Curug Cikaso ini juga sebelumnya pernah saya kunjungi tahun 2010an. Kebetulan waktu itu kemarau, jadi aliran curug ini juga seiprit, tapi membuat kolam yang terbentuk dari curahan air terjun ini berwarna biru jernih, nyesel waktu itu ga sempet renang.

1916431_105451019471229_3000628_n
saya kira-kira beberapa tahun yang lalu, ga terlalu beda dengan yang sekarang :p

Karena kami datang saat musim penghujan, ekspektasi saya aliran air curugnya akan cukup deras dan airnya cukup keruh. Setelah kurang lebih menghabiskan waktu sekitar 1 jam perjalanan, akan ditemui percabangan yang menunjukkan gerbang masuk Curug Cikaso.

Screen Shot 2016-04-27 at 7.13.10 PM

Melewati gerbang masuk curug Cikaso, kita akan langsung bertemu petugas yang menarik retribusi Rp. 3000/orang, ditambah Rp. 15.000/mobil. Saat itu karcis masuknya hanya diberikan 3 buah saja dari uang Rp. 15.000 yang kami bayarkan, sisanya wallahu’alam.

DSC03722DSC03720

Melewati gerbang, akan ditemui percabangan : kiri dan kanan, jalan ke kiri menuju ke tempat parkir, sementara jalan ke kanan adalah jalan masuk langsung ke Curug Cikaso (padahal mah sama-sama aja, di jalan ke kanan juga terdapat lahan parkir -_-). Kami melalui jalan ke arah kiri. Tiba di tempat parkir, terdapat warung yang menyediakan nasi dan minuman. Karena kami tiba di sana sekitar 10 menit sebelum adzan Dzuhur, kami disarankan untuk menunggu Dzuhur (takut ada apa2, ceunah). Sambil nunggu adzan kami sempat ngopi. Saat ngopi itulah, kami ditemui (sebut saja) Abah Anom. Dengan logat khas orang Jampang, Abah Anom bercerita tentang latar belakang beliau termasuk kedekatan beliau dengan dalang ternama (alm.) Asep Sunandar Sunarya.

Selanjutnya beliau bercerita bahwa dulu Curug Cikaso ini termasuk tempat keramat yang tidak bisa didatangi sembarang orang. Diceritakan beliau sempat bertapa beberapa minggu untuk meminta ‘penunggu’ curug agar curug ini bisa didatangi orang banyak. Abah Anom selanjutnya menceritakan, di Curug Cikaso ini terdapat 3 buah air terjun utama dimana masing-masing curug bersemayam Nyai Blorong (penunggu Curug Aseupan), Eyang Santang (penunggu Curug Meong), dan Prabu Siliwangi (penunggu Curug Aki). Berkat komunikasi Abah Anom (lewat pertapaannya), singkat kata penunggunya membolehkan Curug dikunjungi dari jam 7 pagi hingga 17.30. Walaupun begitu, Abah Anom tetap mengingatkan supaya tetap berhati-hati dan menjaga kesantunan di curug nanti.

Setelah solat Dzuhur di mesjid yang terdapat di dekat lahan parkir, kami melanjutkan perjalanan ke curug. Untuk menuju curugnya sendiri, sebenarnya terdapat 2 jalan : menggunakan perahu yang disediakan pengelola, dan menggunakan jalan darat melalui persawahan. Karena sebelumnya saya pernah ke curug menggunakan perahu, tadinya kami memutuskan pergi berjalan kaki. Dari mesjid kita tinggal melangkahkan kaki menuju persawahan. Karena tidak terdapat petunjuk menuju curug melalui jalan darat, eh ujung-ujungnya kami bertemu tempat parkir lain (dan ternyata lebih dekat ke dermaga :)) ).

DSC03718
Pos retribusi perahu menuju Curug Cikaso

Yasudahlah, akhirnya kami menggunakan jasa perahu yang ditarif Rp. 60.000/perahu yang bisa digunakan untuk 10 orang. Perjalanan menuju curug menempuh waktu sekitar 10 menit melalui sungai Cikaso yang saat itu alirannya sedang cukup deras.

Perahu diarahkan ke sungai yang lebih kecil dan tenang, menuju Curug Cikaso. Di percabangan sungai besar dan kecil ini akan jelas terlihat perbedaan warna aliran sungai. Sungai kecil berwarna hijau toska, berbaur dengan aliran sungai besar berwarna coklat.

Di pinggir sungai kami menemui warga yang tengah memancing, menemani kami  yang tidak terasa sudah sampai di dermaga Curug Cikaso. Dari dermaga, kami berjalan sekitar 5 menit sampai ke Curug. Di curug ini dapat ditemui sebuah warung dan fasilitas seperti toilet dan kamar ganti dengan kondisi seadanya.

Di tengah siang hari yang terik, kami bagaikan musafir yang menemukan oase di tengah gurun ketika akhirnya menemui kompleks curug Cikaso yang terdiri dari 3 curug besar. Sayangnya memang aliran air di curug ini masih cukup deras, sehingga kolam di bawah air terjun ini tidak terlihat bening seperti yang saya lihat dahulu kala. Kami diizinkan untuk berenang di Curug Aki (curug paling kanan) karena curah air tidak terlalu besar dan dasar kolam cukup dangkal.

DSC03671
(dari kiri ke kanan) Curug Aseupan, Curug Meong, Curug Aki

Seperti biasa, saya segera menyiapkan perlengkapan lenong untuk mengabadikan pemandangan di tempat ini. ND filter (GreenL ND2000 filter) menjadi sahabat saya mengabadikan curahan air curug ini supaya dapat dinikmati dengan slow shutter, sehingga alirannya terlihat seperti kapas/susu.

DSC03682
maafken jika ada color cast, maklum ND filter murah 😉
DSC03698
Foto all crew

Tidak ada dari kami yang berenang di curug ini karena, niatnya memang cuma mampir, sambil foto-foto. Oya, kesulitan saya pribadi terutama untuk mengambil foto di tempat ini adalah karena derasnya curahan air, banyak cipratan air yang mengenai lensa dan kamera. Akibatnya seringkali saya harus mengelap kamera dan lensa supaya tidak kabur (gambarnya :p). Karena harus mengejar target ke obyek wisata lainnya, jadi kami hanya punya sedikit waktu untuk explore di curug ini. Teman-teman sudah beranjak ke dermaga untuk menaiki perahu pulang, sementara saya masih sibuk foto-foto, daripada ditinggal, yasudah lah, insyaallah lain kali saya akan kembali ke tempat ini, mungkin bersama ‘rekan’ yang lain :3 Tunggu seri catatan perjalanan susur pantai selatan jawa barat berikutnya ya : Pantai Jayanti, dan sekitarnya 😉

Cost Damage :

  • tiket masuk curug/orang : Rp. 3000
  • tiket masuk/parkir kendaraan (mobil : Rp. 15.000
  • ngopi : Rp. 3000
  • tarif perahu : Rp. 60.000/perahu (muat 10 orang)

Hal-hal yang perlu diperhatikan :

  • Jalan masuk ke curug terdapat 2 cara, silahkan pilih sesuai kantong dan motivasi, jika mau jalan kaki, Abah Anom biasanya menjadi guide, tidak ada tarif pasti, biasanya ‘seikhlasnya’. Menurut pengunjung lain yang jalan kaki, jarak tempuhnya sekitar 15 menit, hampir sama dengan naik perahu
  • Pengunjung dapat berenang di Curug Aki (yang paling kanan dari arah masuk)
  • Seperti biasa, jaga perilaku dan sopan santun di tempat ini, karena yang berkunjung ke sini mungkin bukan hanya yang kasat mata 😉

DSC03700

Catatan Perjalanan Susur Pantai Selatan Jawa Barat : Part 1, Pantai Ujunggenteng

Kalau ada yang bertanya siapa yang ingin kembali ke masa lalu, atau pergi ke masa depan, mungkin semua orang menunjuk tangan. Sayangnya hingga saat ini (saat tulisan ini dibuat) mesin waktu (untuk manusia) belum bisa dibuat. Padahal jika ada yang sadar, ada komponen alam semesta yang sudah melakukan penjelajahan waktu : Cahaya. Cahaya dapat bergerak melintasi waktu. Cahaya bintang yang kita lihat malam ini mungkin datang dari bintang yang sudah mati, cahaya matahari yang kita lihat saat ini berasal dari matahari 8 menit yang lalu. Termasuk Foto. Ya, foto pada dasarnya adalah berkas cahaya yang disimpan ke dalam medium (digital/film), dan mereka berasal dari masa lalu dan dapat kita saksikan saat ini.

Selain foto, masih ada tulisan, yang menjadi tanda keberadaan akan suatu peradaban (karena itu, masa-masa peradaban manusia dimana tidak ditemukan sumber tulisan dinamakan masa pra-sejarah/nirleka). Jangan lupa, ingatan manusia juga terbatas, maka keberadaan tulisan

Nah, cukup prolognya, kita lanjut basabasinya :p Di tulisan ini, saya akan menuliskan catatan perjalanan hasil penelusuran pantai selatan jawa barat. Terlahir di Kota Bandung yang dikelilingi gunung-gunung, mungkin perjalanan saya ke pantai dapat dihitung jari. Namun terinspirasi dari tulisan kak Wiranurmansyah (http://wiranurmansyah.com/10-pantai-paling-dekat-dengan-bandung) akhirnya beberapa tahun yang lalu muncul niat untuk menjelajahi pantai selatan Jawa Barat. Keinginan ini hanya menjadi wacana hingga terwujudkan tanggal 5-9 April 2016 dengan bantuan sponsor (dari kantor) 😀 Perjalanan ini sebenarnya dadakan juga, mengingat sebelumnya kami berencana berwisata melakukan rapat kerja ke daerah Malang, namun karena satu dan satu hal lainnya, agenda ini urung dilakukan.

Secara umum perjalanan menelusuri pantai selatan Jawa Barat dari Bandung memakan waktu 5 hari 4 malam dan menempuh lintasan

Bandung – Pantai Ujung Genteng – Curug Cikaso – Pantai Jayanti – Pantai Sayangheulang – Bodyrafting Citumang – Pantai Pangandaran – Cipanas Garut – Bandung

sepanjang kurang lebih 800 km menggunakan kendaraan pribadi.

Di tulisan bagian pertama ini, saya akan menuliskan pengalaman di hari pertama.

5 April 2016

Kami (Saya, Pories, Arief dan Wahyu) sepakat berangkat dari Bandung jam 05.00 di ITB, dan akan menjemput mas Firman di Kota Baru Parahyangan. Sialnya, malam sebelumnya saya belum pesan ke orangtua untuk dibangunkan lebih awal, akibatnya saya baru bangun jam 5.15, dan akhirnya baru berangkat jam 06.00. Jadilah saya bulan-bulanan anak-anak sepanjang perjalanan, #pasrah. Sampai di Kota Baru, langsung jemput mas Firman, rencananya sarapan di kupat tahu Padalarang, tapi ternyata ada rumah makan yang sudah buka di Kota Baru, jadilah kita sarapan di sana. Sepiring nasi uduk dan teh tawar hangat menjadi menu pembuka saat itu. Pukul 07.00 kami lanjutkan perjalanan ke pantai Ujung Genteng melalui Cianjur-Sukabumi. Sebenarnya ada jalur lain lewat Ciwidey, namun menurut beberapa informan, jalan ke Ciwidey tidak terlalu bagus (nurut juga sama yang punya mobil) dan sebagai Network Engineer, selain itu kami usahakan jalan yang dilalui efisien sesuai prinsip Traveling Salesman Problem #gaya.

Perjalanan melalui daerah Citatah yang lalu lalang oleh truk-truk besar pengangkut kapur dari pegunungan karst dengan jalan-jalan mulus yang berbelok-belok, untungnya masih pagi jadi jalan tidak terlalu macet. Lalu tidak terasa kami melewati persawahan Cianjur hingga akhirnya sampai di Sukabumi sekitar pukul 10. Memasuki Sukabumi, kami putuskan melalui jalur alternatif via Warungpeuteuy dengan alasan menghindari kemacetan di kota Sukabumi. Jalan yang melewati komplek persawahan ini ternyata kondisinya sangat jelek dengan lubang disana-sini dan aspal bergelombang. Kami melalui jalanan seperti ini selama kurang lebih 2 jam, selebihnya jalan yang kami lalui lumayan mulus. Selama perjalanan, selain mengandalkan google maps, rupanya mas Firman dan istrinya ternyata orang Jampang. Sebelumnya kami mengisi bahan bakar di daerah Baros. Sepanjang perjalanan dapat ditemui beberapa minimart, selebihnya hanya pepohonan dan rumput yang bergoyang.

Trek yang dilalui sebenarnya tidak sesuai jalur awal, karena seharusnya kita tidak melalui Tegalbuleud. Kami sampai di daerah Tegalbuleud sekitar pukul 14.00, di sini agak sulit rupanya menemukan tempat makan, banyak warung bakso tapi saat kesana kebanyakan tutup. Akhirnya kami makan di warung nasi dekat Curug Cikaso, di tengah perkebunan jati dan dekat sungai Cikaso. Saya memesan nasi + 2 perkedel jagung + tumis jamur, saat membayar, Makjang, 97000 untuk ber-5, lumayan muahal :)) Tapi karena sudah kelaparan, apa daya, setelah itu kami lanjutkan perjalanan ke Pantai Ujunggenteng. Dari tempat makan tadi, sekitar 15 menit kami melewati gerbang Curug Cikaso, tapi cuma lewat.

DSC03494
Warung nasi mahal 😦 tempatnya asik sih, terbuka dan dikelilingi hutan jati dan sungai

Sekitar pukul 3 sore, kami sampai di gerbang masuk daerah objek wisata Pantai Ujunggenteng, 1 mobil (berisi 5 orang) dikenakan biaya Rp. 35000, instead of diberikan karcis, kami diberi stiker Pantai Ujunggenteng. Mungkin karena plat nomornya Bandung, sudah pasti dikenakan retribusi, coba bilang mau ketemu Haji Dadang, mungkin gratis, mungkin loh ya.

DSC03501
Gerbang retribusi objek wisata pantai Ujunggenteng

Perjalanan berikutnya adalah menuju penginapan. Sepanjang perjalanan kita akan melalui permukiman dan kebun-kebun yang jadi tempat menggembala sapi.

DSC03504

Sebelumnya saya sempat search tempat menginap yang bisa muat 5 orang, full AC dan kamar mandi di dalam. Dari booking.com kami temukan Hotel Turtle Beach yang berada di pantai barat dengan harga Rp. 767.000/malam (sudah termasuk sarapan untuk 4 orang, wifi tersedia tapi bayar 10.000/jam), untungnya sinyal 3G Tsel masih kuat disini. Fasilitasnya terhitung bagus, tempat parkir luas, view sunset, laguna, dan jarang dilewati orang-orang. Hotel belum kami booking, untungnya lagi masih ada kamar kosong, dan ternyata harganya lebih murah sekitar 100rb dari harga website. Kami pilih kamar beach view di lantai 2 dengan alasan lebih privat :p Oya, penginapan ini berada tepat di depan gerbang menuju pantai Pangumbahan, jadi letaknya cukup strategis, walaupun jalan menuju penginapan adalah jalan tanah yang bergelombang, entah gimana klo hujan.

58263001
Kolam renangnya berair payau, jadi kurang seger :s

Lepas sholat dan istirahat sejenak, rencananya mau explore pantai sekitar, lalu malamnya dilanjut ke Pantai Pangumbahan untuk melihat penyu bertelur. Tapi apa daya, ternyata sore itu hujan mengguyur deras 😦 Alhamdulillah pukul 5 sore hujan berhenti dan kami bergegas ke pantai untuk mengejar matahari. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, perlengkapan lenong langsung digelar.

DSC03551
Plang penunjuk arah ke kota-kota besar di Dunia yang ada di halaman pantai Hotel Turtle Beach, note that Brasil arahnya ke dalam bumi. NB : jarak mungkin tidak akurat, jadi jangan coba-coba jalan kaki :p
DSC03537
Sunset belum lengkap tanpa silverqueen model
DSC03546
pose andalan B-)
DSC03569
Bersama rombongan kami juga terdapat pelancong lain yang ikut menikmati sunset

Tidak banyak yang dapat kami lakukan saat itu selain duduk di pinggir pantai menikmati sang senja terbenam di shelter-shelter yang terdapat di halaman hotel. Karena gerah saya sempat mandi di kolam renang ditemani dede-dede gemes dan om-om ganas :O

DSC03562
menikmati senja bersama teman tercinta sekantor
DSC03566
Wish you were here …

Lepas magrib, kami makan malam di restoran, saya memesan nasi goreng dengan harga 27ribu-an dan segelas es teteh manis, lumayan mengobati rasa lapar dan dongkol karena warung nasi mahal tadi siang, hehe. Setelah makan, rencana kami adalah mengunjungi Pantai Pangumbahan, tapi teman-teman sudah pada kepayahan, jadilah kami hanya beristirahat di kamar. Pories mengajak membeli snack di indominimart di jalan arah pantai timur Ujunggenteng, tapi hanya kami bertiga (Saya, Pories, Wahyu) yang ikut.

Setelah berbelanja, spontan Pories mengajak pergi ke Pantai Pangumbahan (sekitar pukul 8 malam waktu itu), kami sepakat berangkat melalui jalan depan penginapan menggunakan mobil. Dari gerbang masuk menuju Pantai Pangumbahan, terdapat 2 jalur, pertama lewat kiri melalui pinggir pantai, dan jalur kanan melalui permukiman nelayan.

DSC03658
Jalur kiri ke pantai Pangumbahan saat siang, agak khawatir kalau malam apakah jalannya masih bisa dilalui saat pasang

Kami melalui jalur kanan melewati permukiman nelayan, terdapat petunjuk jalan menuju konservasi penyu. Kondisi jalan sangat sepi, hanya ada 1 pengemudi motor yang kami temui, dengan kiri kanan setelah permukiman dipenuhi belukar dan pepohonan, tanpa penerangan. Kondisi jalan kurang baik, jadi kecepatan kendaraan pun paling sekitar 10km/jam. Tiba di petunjuk jalan terakhir sekitar 1.5km sebelum konservasi penyu terdapat percabangan, dua-duanya jalan yang gelap, kami gunakan jalan ke kiri yang dipenuhi belukar dan jalanan berbatu rapat dan cukup tajam. Disinilah kejadian yang tidak disangka-sangka itu terjadi :))

Saat melalui jalan gelap tersebut sekitar 5 menit dengan kecepatan seadanya, supir (Pories) saat itu juga sudah cukup kesusahan mengendalikan laju kendaraan, tepat dibawah pohon cukup besar, mobil kami tiba-tiba mati (terjadilah kejadian yang sebelumnya hanya kami dengar di cerita-cerita horor radio/film :)) ). Kendaraan tidak bisa dinyalakan. Kami pun kebingungan, karena dari Bandung kok ga ada masalah ini mobil. Pertimbangan logis, mungkin aktuatornya kebetulan ga berjalan baik. Dengan kondisi saya ga bawa HP, dan cuma Pories yang bawa HP bersenter, kami coba kontak orang di penginapan, katanya sih disuruh nunggu. Akhirnya, kami coba langkah berikutnya untuk menyalakan mobil, berdua (Saya dan Wahyu) coba mendorong mobil yang pake mesin pun susah jalannya, tak beberapa lama mobil berhasil dinyalakan. Tanpa berpikir panjang, kami putuskan balik arah, kembali ke penginapan. Di mobil kami bertiga tidak berbicara apa-apa :)) Sampailah di penginapan lalu langsung menceritakan perihal yang terjadi. Rencananya, saya ingin memotret malam waktu itu, tapi karena terjadi hal tadi, rencana ini urung saya lakukan. Malam itu sepertinya memang kami tidak ditakdirkan untuk istirahat di kamar saja, main kartu, lalu tertidur pulas.

6 April 2016

Lepas solat subuh, kami rencananya ke pantai timur untuk melihat sunrise, tapi saya sendiri kebablasan, jadinya bangun setengah 6, akhirnya ga kemana-mana, sampai setelah sarapan yang disediakan penginapan (nasi goreng+telur+es teh manis), kami duduk ngopi-ngopi ganteng di shelter penginapan.

Setelah sarapan, sekitar jam 8 pagi kami berencana ke Pantai Pangumbahan, Saya dan Wahyu waktu itu memutuskan jalan duluan menyusuri pantai. Karena ada miskomunikasi, 3 rekan lain malah pergi ke Pantai timur yang berlawanan arah. Akhirnya hanya saya berdua yang ke Pantai Pangumbahan. Jangan percaya kata penduduk yang bilang dari gerbang masuk depan penginapan kami ke konservasi cuma paling lama setengah jam :)) Saya berjalan hampir sejam dan belum tampak tanda-tanda daerah konservasi penyu ini. Jam 9 saat itu di sudah cukup terik, peluh bercucuran sampai mata pun perih karena keringat.

DSC03608
Moga-moga yang punya perahunya juga barokah, aamiin
DSC03627
Panas coyy..

Jalanan cukup sepi, sesekali ada pengendara motor, penduduk sepertinya, yang lewat. Sampai di pantai yang dibatasi oleh Tembok tinggi, kami diarahkan jalan ke arah daratan sampai ketemu rumah penduduk juga penginapan (katanya ini penginapan paling dekat ke konservasi penyu). Rumah tersebut juga menjadi titik temu jalan dari gerbang masuk menuju pantai Pangumbahan (lewat permukiman dan pinggir pantai), dan rupanya memang tinggal dikit lagi dari tempat tragedi agak horor semalam. Di sana kami juga membeli minuman dingin yang langsung habis diteguk. Dari rumah tersebut, jaraknya sekitar 1km ke tempat konservasi penyu yang dituju. Tidak ada petunjuk yang memberitahu dimana tempat tersebut. Ternyata saat ini pantai tersebut dikelilingi oleh tembok untuk melindungi habitat penyu (terakhir sekitar tahun 2010an belum ada tembok ini).

DSC03654

Tembok pembatas daerah konservasi penyu/Pantai Pangumbahan

DSC03630
Pantai Pangumbahan/tempat konservasi penyu dibatasi oleh tembok tinggi dan jalan seperti ini, konon ini jalan Pemda dan akan diaspal pada waktu berikutnya.

Untuk memasuki pantai Pangumbahan/tempat konservasi penyu, cukup telusuri tembok ini hingga ditemui pintu masuk (tanpa daun pintu) yang didalamnya terdapat belukar dan bakau). Walaupun cukup rimbun, tapi terdapat jalan setapak yang mudah dilalui dan dilihat. Sekitar jam setengah 10 pagi, akhirnya sampailah kami di pantai Pangumbahan, Subhanallah pasirnya memang lembut dan bersih :3

DSC03648
Pemandangan sekitar Pantai Pangumbahan
DSC03643
Entah karena weekday, atau siang-siang hanya kami berdua pengunjung di sini, privat sekali :3
DSC03652
Santai dulu coyy..
DSC03642
merem-melek nahan panasnya matahari jam 10 pagi, kebayang jam 12 lewat gimana -_-

Datang ke pantai pangumbahan ini memang baiknya sore-sore sih, sambil menikmati sunset dan panasnya ga kebangetan. Kami agak dodol juga dateng ke sini siang-siang. Karena mengejar waktu check-out hotel jam 11, kami ga banyak menghabiskan waktu di pantai Pangumbahan ini (selain panas), padahal ke arah barat pantai ini masih ada pantai Pasir Putih, dan Ombak 7 yang cukup populer oleh turis mancanegara. Kecapean dan kepanasan, saat ditawari ojek 20rb berdua sampai penginapan kami tidak banyak tanya lagi, perjalanan lebih singkat jadi sekitar 20 menit, tahu gini kan naik mobil aja -_- Dari mamang ojek ini kami juga jadi tahu tarif guide/ojek ke beberapa spot yang saya sebutkan tadi, sekitar 200ribu/orang. Di jalan menuju Pantai Pangumbahan ini juga terdapat penginapan penduduk dengan tarif sekitar 100rb/malam.

Sampai di penginapan, mandi secepatnya, berkemas, main kartu se-game, langsung checkout. Rasanya belum puas explore di pantai ini, suatu saat insyaallah saya akan kembali ke tempat ini. Perjalanan belum usai, jadi stay tune di seri catatan perjalanan susur pantai selatan Jawa Barat berikutnya: Curug Cikaso

Cost damage (seingatnya) :

  • retribusi masuk objek wisata : 35rb/mobil
  • beli snack : 50rb
  • mendoan : 10rb/5 potong, beli 15 potong, kebanyakan :))
  • nasi goreng seafood (diluar sarapan) : 27rb
  • hotel : 650rb
  • ojek : 20rb

Hal-hal yang perlu dibawa/diperhatikan :

  • sunblock
  • cari informasi lebih baik tentang penginapan dan objek wisata yang ada, tidak ada panduan jelas tentang objek wisata yang tersedia, entah gunakan jasa guide penduduk, atau cari koordinatnya di google maps
  • pastikan kondisi kendaraan fit
  • bawa minum yang cukup
  • bawa senter dan selalu charge HP kalau mau bepergian, terutama malam :p

DSC03625

Stone Garden Padalarang

Huba, hubaaa..

Ada yang tahu tentang Stone Garden di desa Gunung Masigit, Padalarang? Tunjuk tangannnn… Udah pernah kesana belumm?

Q             :               Stone Garden tu apa sih Yan?

A             :               Taman Batu.

Q             :               Masa sih Yannnnn… (Sambil lemparin pake batu karang)

Hehehe.. Stone Garden ini merupakan suatu komplek tanah (bukit) yang di dalamnya terdapat bebatuan yang tidak tersusun dengan teratur atau kalau kata orang Paris, paburatak. Batu-batunya sendiri mirip dengan batu karang yang ada di laut atau pantai. Stone Garden ini terletak pada dataran yang lebih tinggi dari sekitarnya sehingga memungkinkan kita untuk melihat pemandangan daerah sekitarnya. Ketinggian puncak Stone Garden sendiri adalah 907 mdpl.

Yan bisa dibilang lumayan sering kesini. Pertama kali kesini itu tahun 2012 sekalian ke Goa Pawon. Jadi ke Goa Pawon dulu, baru hiking ke atas ngelewatin semak, dan kebun orang. Waktu itu belum rame, belum keurus, jadi jalurnya suka-suka kita, cari sendiri, dan ilalang di Stone Gardennya masih tinggi-tinggi, ga ada yg jualan dan toilet. Walaupun ga keurus Yan suka aja di situ, dan pemandangannya masih alami.

P_20160218_133056

Lanjut-lanjut, mari kembali ke masa sekarang. Stone Garden sekarang diurus oleh masyarakat desa sekitar Stone Garden. Udah ada tempat parkir, warung-warung beserta es kelapa mudanya yang menggoda, toilet yang lumayan bersih, dengan retribusi tiket masuk yang hanya sebesar Rp. 5000,00.

Kalau mau ke Stone Garden gampang kok, mau pakai kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum juga bisa. Pakai kendaraan pribadi dari Bandung ke arah Padalarang, lanjut ke arah Citatah nah, nanti ketemu Masjid Al Ikhlas di belokan jalan sebelah kanan dan pohon gede di tepi jalan. Dari tepi jalan itu terus ngikutin jalan berbatu, setelah pabrik nanti ada simpang tiga, belok ke kanan. Kalau takut nyasar, jangan malu-malu bertanya sama warga sekitar ya, nyaris semua udah pada tahu kok daerah Stone Garden.

Nah, bagi kamu yang menggunakan kendaraan umum dari Bandung, yuk jalan-jalan pakai kereta api aja, bebas macet. Jadi, kamu ke stasiun (ya iyalah stasiun, Yan, masa bandaraaaa), hehehe. Serius ini, ke stasiun, nah ada tiga pilihan, mau Stasiun Bandung atau Stasiun Kiara Condong ataupun Stasiun Cikudapateuh, terserah pilih yang mana pokoknya yang terdekat aja. Oh iya, khusus Stasiun Bandung, kamu datangnya ke Stasiun Bandung yang di Jalan Stasiun Barat alias yang dekat Pasar Baru. Beli tiket kereta, lalu tunggu keretanya datang. Nah kan, jadi inget lagu kereta apiku ciptaannya Opa Abdullah Totong Mahmud, pada tahu kan lagunyaaaa?

Naik kereta api, tut, tut, tut…” (Fokus, Iannn, fokusss)

Ok, setelah naik kereta api, nanti turun di stasiun pemberhentian terakhir yaitu St. Padalarang, eh, jangan salah beli tiket ya, pastiin kamu beli tiket kereta api Cicalengka-Padalarang, bukan Padalarang-Cicalengka. Jauh itu, mass.. Nah perjalanan dari Stasiun Bandung ini cuma memakan waktu 15-20 menit saja, cepat kan? Terus kereta api ekonomi juga sekarang udah pakai AC, jadi ga usah takut kevanasan, ada colokan juga, lumayan dipakai ngecas handphone kamu buat bekal foto-foto nanti di Stone Garden. Hohoho.. Oh iya, pas naik jangan berebutan ya, dahulukan yang turun dan orang tua, kalau emang ga dapat tempat duduk ya yang sabar aja, masa ga kuat berdiri bentar? Hehehe..

Setelah berhenti di St. Padalarang, keluar stasiun ke arah kanan, dan jalan dikit buat naik angkot Rajamandala, angkotnya warna kuning dan identik dengan pintu belakang, jadi jangan salah naik ya. Soalnya ada angkot lain juga disana yang warna kuning juga. Nanti bilang aja ke mamang angkotnya ke Stone Garden, angkotnya bayar Rp. 4000,- saja (Harga dapat berubah sewaktu-waktu), setelah diturunin nanti nyebrang dan jalan ke arah jalan berbatu deket masjid Al Ikhlas. Dari simpang itu juga ada ojek kok, kalau kamu mau naik ojek silahkan, tapi kalau mau jalan juga ga masalah, ga jauh kok. Setelah sampai pintu masuk nanti diarahin kok ke arah tempat bayar tiket, dan selamat menikmati Stone Garden.

Hal-hal yang harus diperhatikan:

  1. Bawa duit.
  2. Pakai pakaian yang nyaman, berhubung disana gerah apalagi di siang hari, sebisa mungkin pakai yang menyerap keringat.
  3. Pakai alas kaki yang nyaman, seperti sepatu atau sendal gunung/jepit, karena bakalan licin dan setelah hujan jalannya bakalan lebih licin plus becek. Nah, kalau mau foto-foto pakai heels gitu mending pakainya nanti di atas di spot foto, ga lucu kalau kamu keseleo disana. Lucu sih, hahahaha.
  4. Bawa air minum yang cukup, karena di puncaknya ga ada yang jualan, cuma ada di bawah yang jualan.
  5. Tuntaskan hajat alamiah di toilet sebelum mulai naik, soalnya toilet di bawah aja yang bersih dan keurus.
  6. Hati-hati saat berfoto-foto ria, jangan sampai karena pengen dapat foto yang anti mainstream kamu malah jadi celaka, ingat, safety first.
  7. Bawa makanan seperti camilan atau makanan berat juga boleh, biar ga kelaparan di atas.
  8. Sampah bawa turun, jangan nyampah dan jadi MANUSIA SAMPAH!
  9. Hati-hati dengan barang bawaan karena kadang ada kawanan monyet yang berkeliaran nyari makan dan ngambil barang-barang kamu, entah itu monyet pakai baju atau ga. WASPADALAH, WASPADALAH! (gaya bang Napi)

P_20160120_085928

Stone Garden memang semakin mendapat perhatian dari masyarakat luas, ga cuma masyarakat Bandung dan sekitarnya aja yang main kesini, banyak yang dari luar daerah juga, tapi sayangnya kawasan karst di sekitarnya juga mendapat perhatian yang makin besar dari penambang batu. Kamu bakal ngeliat kalau langit disana susah banget birunya karena asap pabrik atau pembakaran batu kapur di sekitar Stone Garden. Sayang banget ya?

Sekian curhatan jalan-jalan ke Stone Gardennya, kalau ada yang mau ditanyain jangan sungkan buat ngomen yaaa.. 