Naik Sepur Atas Benteng Van der Wijk di Kebumen dan Mencicipi Sate Kambing Muda Brebes

nostalgia/nos·tal·gia/ n 1 kerinduan (kadang-kadang berlebihan) pada sesuatu yang sangat jauh letaknya atau yang sudah tidak ada sekarang; 2kenangan manis pada masa yang telah lama silam; (KBBI daring)

Berhubung saya belum dapet foto buat melengkapi catatan susur pantai selatan Jawa Barat bagian 4, akhirnya saya memutuskan bwt bikin tulisan lain. Kebetulan hari Sabtu minggu kemarin, saya dapet undangan pernikahan temen di Banjarnegara. Saya berangkat hari jum’at sekitar jam 8 malam dari Bandung menggunakan mobil sewaan bersama teman-teman satu kantor. Perjalanan dari Bandung ke Banjarnegara biasanya menempuh waktu sekitar 8-9 jam. Kami memilih jalur selatan (lewat Tasik),  namun rupanya Mas Firman yang bawa mobil udah kadung kecapean, jadi sekitar jam 1 pagi kami istirahat di daerah Banjar.

Sabtu paginya, pukul 6 kami melanjutkan perjalanan dan singgah di rumah makan di daerah Cilacap. Singkat kata, kami sampai di kondangan lebih awal. Ternyata Banjarnegara ini panas juga, akhirnya nunggu acara dimulai, saya numpang ngadem di mesjid yang ber-AC. Beres acara jam 1, rencananya kami langsung akan pulang ke Bandung, tapi kan sayang juga klo jauh-jauh ga sempet mengunjungi obyek wisata yang ada di daerah yang termasuk ke dalam wilayah “Republik Ngapak” (Kebumen, Banyumas, Cilacap, Purwokerto, Tegal, Brebes, Pemalang, Pekalongan, Purbalingga, dan Banjarnegara) ini. Saya sempat lewat ke daerah ini beberapa kali tapi belum tahu obyek wisata apa yang ada. Taunya dataran Dieng deket Banjarnegara, telur asin di Brebes, sama warung Tegal 😀 Nah, iseng lihat google maps, ternyata ada Benteng Van der Wijk di Kabupaten Kebumen.

Lihat dari foto-fotonya, sepertinya bangunannya menarik. Akhirnya saya bujuk-bujuk mas Firman supaya bisa nganter kesana, toh ‘satu arah’ dengan jalan pulang, hehe. Dari kota Banjarnegara, berbekal rute dari Waze, perjalanan menempuh sekitar 1 jam, melewati beberapa bukit, persawahan, sungai dan Waduk Sempor. FYI, jangan terlalu percaya sama Waze/Google Maps, buktinya kami sempat disarankan lewat jalur perkampungan yang harus melewati jembatan khusus pejalan kaki/motor, untung masih bisa putar balik -_-

DSC05192
Waduk Sempor

Singkat kata, sekitar jam 2.30 akhirnya sampailah saya di Benteng Van der Wijk. Untuk memasuki obyek wisata ini, setiap orang dikenakan tiket masuk Rp. 25000 sudah termasuk tiket masuk benteng, kolam renang (kolam renang?), kereta tour untuk mengelilingi benteng dan kereta atas benteng. Loh, apa itu kereta atas benteng? Ayo jalan bareng dulu.

DSC05207
Gapura Benteng Van der Wijck

Oya, sebelum masuk ke dalam, saya sempat mencari informasi tentang Benteng Van der Wijck. Benteng ini konon satu-satunya benteng di Indonesia yang berbentuk segi delapan (yak coba lihat di google maps). Luas benteng ini sekitar 3600 m² dan terdiri dari 2 lantai + atap.

Screen Shot 2016-05-16 at 11.29.39 PM
Kompleks Benteng Van der Wijk, pintu masuknya di sebelah kiri bawah, deket kotak-kotak ijo yang sebenarnya adalah kolam renang/waterpark

Nah, saya kira Benteng Van der Wijck ini cuma ada sebuah bangunan benteng. Ternyata sudah jadi obyek wisata yang memiliki fasilitas seperti tempat permainan anak, waterpark, hingga penginapan. Oya Benteng Van der Wijck ini berada di kompleks militer. Kalau dilihat dari sejarahnya, benteng yang didirikan pada tahun 1818 ini digunakan sebagai benteng pertahanan militer oleh Belanda. Nama Van der Wijck kemungkinan diambil dari nama komandan militer Belanda saat itu. Saya kurang tahu apa hubungannya dengan novel “Tenggelamnya kapal Van der Wijck” atau tokoh Letjen Johan Cornelis Van der Wijck yang menjadi komandan di daerah Magelang tahun 1880 (https://en.wikipedia.org/wiki/Johan_Cornelis_van_der_Wijck).

Lanjut, jadi dari gerbang tiket hingga benteng memang perlu jalan dikit, nah salah satu fasilitas yang disediakan pengelola adalah kereta mobil gandeng yang akan mengantar dari gerbang masuk, kemudian mengelilingi benteng dan memasuki lapangan di dalam benteng. Sayangnya pulangnya harus jalan kaki sih.

DSC05327
Kereta gandeng yang akan mengantar pengunjung dari gerbang masuk ke bangunan Benteng
DSC05326
Di kompleks ini juga terdapat tempat makan “Kampoeng Kuliner” tapi waktu kesini warungnya cuma ada 1, itu pun sepi, padahal hari Sabtu.
DSC05211
Entah kenapa di kompleks bangunan sejarah ini ada dinosaurus, atau monster Lochness, apa karena monster ini yang menenggelamkan kapal Van der Wijck?
DSC05321
Fasilitas hotel wisata, bangunannya sih relatif terawat, cuma sepertinya …

Kereta masih berjalan dengan kecepatan sekitar 5 km/jam, dilengkapi dengan bunyi reyot. Benteng Van der Wijck ini pada saat kekuasaan Jepang digunakan sebagai barak militer tentara PETA, berlanjut ketika sudah dikuasai oleh tentara RI, dan hingga kini digunakan sebagai obyek wisata sejarah yang dipugar pada tahun 1999 (https://jackvanderwyk.wordpress.com/2013/11/21/the-van-der-wijck-name-in-indonesia-nothing-to-be-proud-of/).

Kereta sampai di bangunan benteng utama. Bangunan berwarna merah ini terlihat cukup terawat, di beberapa bagian bangunan malah ada AC-nya (loh). Di depan benteng ini kita akan disambut sepasang tank, meriam dan patung tentara kumpeni. Di bagian kanan pintu masuk benteng terdapat tulisan “Aku dibangun tahun 1818”. Di bagian atas gerbang terlihat plang Kereta wisata atas benteng yang menurut saya makin merusak nuansa sejarahnya.

DSC05323
Interior depan Benteng Van der Wijck

Lanjut ke dalam bangunan benteng ini, dapat terlihat klo bangunan benteng ini terdiri dari 2 lantai + roof. Tangga menuju lantai 2 & roof ada di samping pintu masuk. Di dekat pintu masuk ada tanda Studio Foto, ya Allah apa lagi ini. Ternyata yang dimaksud Studio Foto adalah salah satu barak yang diberi dekorasi seperti di keraton, zzz.

DSC05235
“Studio Foto”
DSC05241
Tangga menuju lantai 2 & roof

Penasaran dengan kereta atas benteng, saya lanjutkan jalan ke bagian atap benteng ini. Kebetulan ada 1 keluarga pengunjung yang bersama rombongan saya. Di bagian atap benteng terdapat loket tiket yang sudah tidak berfungsi, juga seorang bapak sebagai pengelola sekaligus pengemudi kereta. Berbeda dengan kereta di bawah benteng, di atap ini terdapat rel yang mengelilingi atap benteng. Dari sini, kita bisa melihat area sekeliling benteng dengan kecepatan sekitar 2km/jam, sudah termasuk bunyi reyot dan getar-getar. Yang luarbiasa dari atap benteng ini adalah, atapnya terdiri dari batu bata yang disusun seperti dinding. Fungsinya jelas untuk melindungi bahaya seperti bom atau peluru dari atas, ya kali benteng pake genteng gerabah atau seng.

DSC05247
Taraa, inilah kereta atas benteng.
DSC05259
Atap benteng yang tersusun dari batu bata dilengkapi cerobong dan pintu akses

Perjalanan menggunakan kereta atas benteng menempuh waktu sekitar 10 menit, setelah itu kita keluar melalui pintu masuk. Dari atap benteng ini kita bisa melihat lapangan dalam benteng.

DSC05268
Menggunakan mode panorama di kamera, kita bisa melihat bentuk segi 8 dari benteng Van der Wijck, aduh itu toren air ngeganggu pemandangan

Turun dari atap, di lantai 2 kita bisa melihat barak-barak yang sudah diberi nama seperti ruang bupati, ruang pahlawan, tidak ada penjelasan kenapa tiap ruangan diberi nama seperti itu. Di beberapa tempat juga terdapat papan peringatan ada CCTV, tapi CCTVnya dimana saya ga lihat juga.

Turun ke lantai 1/dasar ternyata ada ruangan yang berisi foto-foto lama dan dokumentasi saat benteng direnovasi. Sayangnya menurut saya di ruangan ini sangat minim informasi yang mungkin bermanfaat bagi pengunjung.

Selanjutnya saya jalan ke area lapangan di benteng. Terlihat beberapa bapak petugas yang sedang bersih-bersih dan mengobrol. Suasana benteng berwarna merah maroon ini memang instagramable sih. Di tengah lapang terdapat dasar berbentuk segi 8 dan lingkaran berlubang, saya coba lihat ke dalam sepertinya sumur atau saluran pembuangan (atau jangan-jangan ruangan lain :s).

DSC05310
Area tengah lapangan benteng
DSC05303-Pano
Panorama 360 derajat dari tengah benteng
DSC05307
Langit mendung, berawan, dan berangin berarti waktunya untuk foto long exposure B-)

Langit di atas Benteng Van der Wijck saat itu memang mendung dan sekitar pukul setengah 4 sudah mulai ada rintik-rintik hujan, jadi kami memutuskan untuk meninggalkan benteng ini. Kesan saya terhadap benteng ini adalah pertama untuk kebersihan terhitung juara, saya hampir tidak menemukan sampah yang tercecer, mungkin karena pengunjungnya saat itu sedikit, atau juga usaha aktif dari pengelola. Bangunan benteng juga terlihat cukup terawat.

Kekurangannya adalah ketidaksinkronan antara unsur sejarah dan hiburan yang ada, seperti patung-patung, kereta, studio foto, waterpark, oh my … Informasi terkait bangunan sejarah ini juga terkesan sangat minim, alhasil setelah mengunjungi bangunan ini tidak ada pengetahuan lebih yang bisa dirasakan pengunjung. Kesan spooky rasanya sih ga berasa di sini (mungkin karena saya datang saat siang, coba malem-malem, atau sayanya aja yang kurang peka :p). Fasilitas umum seperti toilet, mushola juga tersedia, saya ga sempet lihat ke kafeterianya, tapi rasanya mending bawa makanan/minuman dari luar saja. Keluar dari kompleks benteng juga terdapat warung-warung warga.

Pulang dari Kebumen, kami menuju tol Pejagan, sekalian lewat Brebes untuk menikmati sajian sate kambing yang berjajar hampir di sepanjang jalan kota yang terkenal dengan oleh-oleh Telur Asin-nya ini. Kami sempatkan makan di sekitar alun-alun, sholat di mesjid agung Brebes dan berbelanja oleh-oleh telur asin (saya sih ngga, ngirit -_-). Seporsi sate kambing muda, nasi dan es teh manis ini dibandrol Rp. 40.000, puas sih, apalagi dibayarin, hehe. Selain sajian sate, kita juga bisa mencoba kuliner Brebes lain seperti Tahu Aci (semacam batagor tapi tanpa bumbu) dan Sate Blengong (spesies peranakan bebek dan itik), bisa juga ngemil telur asin (ga ada yang ngelarang kan).

Kami meninggalkan Brebes sekitar pukul 10 malam, dan sudah saya duga, setelah makan sate kambing, pasti pada ngantuk berat, akhirnya istirahat dulu di mesjid beberapa lama, lanjut lewat tol Pejagan-Cipali, saya sampai di bandung sekitar jam 2 malam, perjalanan yang cukup luarbiasa buat ke kondangan. Jadi barangkali ada teman-teman yang main ke Kebumen, selain belanja oleh-oleh seperti Lanting, mungkin mau wisata sejarah (klo kata temen, merasakan suasana penjajahan, lha enak-enak merdeka, ini pengen ngerasain gimana dijajah -_-), silahkan mengunjungi benteng yang dibuka dari pukul 08.00-16.00 ini.

DSC05325

Cost Damage :

  • Tiket masuk : Rp. 25.000/orang

 

Iklan