6 Gunung Gemes Untuk Alternatif Wisata Liburan di Bandung (#RedSummerHoliday BLOG CONTEST)

Kalau sudah bicara liburan di kota Bandung, apalagi yang kepikiran selain wisata kuliner, shopping dan taman-taman kekinian, ya kan? Tapi, jangan salah, di sekitaran Kota Bandung, kita dapat menemui banyak objek wisata alam yang sayang dilewatkan terutama kamu yang mencintai olahraga outdoor, salah satunya wisata pendakian gunung. Nah, kalau bicara gunung di Bandung, gunung apa yang kebayang? Tangkuban Perahu jelas. Yup, Gunung Tangkuban Perahu dengan legenda Sangkuriangnya sudah sangat mahsyur di telinga wisatawan lokal maupun mancanegara. Tapi, ternyata ga cuma Tangkuban Perahu loh gunung yang ada di Bandung, menurut catatan salah satu komunitas pegiat pendakian gunung-gunung Bandung, terdapat sekitar 500 tempat yang bisa dikategorikan sebagai gunung. Tidak semua gunung tersebut sudah atau bisa didaki, namun berikut 6 gunung Bandung yang sudah familiar di kalangan pendaki, dan hampir semuanya bisa didaki dalam 1 hari/tektok saja.

Gunung Manglayang

DSC01097
Camp area di Puncak Manglayang

Di list pertama gunung Bandung adalah Gunung Manglayang. Gunung dengan ketinggian sekitar 1818 Mdpl ini berada di daerah Cileunyi, perbatasan antara Kota Bandung dan Kabupaten Sumedang. Berjarak sekitar 25 km dari stasiun Bandung, gunung ini mungkin salah satu gunung yang paling sering dikunjungi para pendaki lokal maupun luar kota. Terdapat 2 basecamp utama yang dapat dijadikan titik awal untuk mencapai puncak : Batu Kuda (paling populer) dan Kiara Payung. Untuk mencapai puncak dari basecamp Batu Kuda memerlukan waktu sekitar 3 jam dengan trek yang cukup bersahabat. Sumber air, Mushola, WC dan warung-warung tersedia di basecamp, kalau tidak berminat mendaki ke puncak, kita juga bisa camping ceria di hutan pinus sekitar basecamp. Puncak Manglayang tersedia lapangan untuk berkemah yang cukup luas, namun karena puncakannya tertutup pepohonan yang cukup rapat, kita hanya bisa melihat view Kota Bandung dan Sumedang di jalur sebelum puncak dan daerah Puncak Bayangan.

Gunung Burangrang

DSC09855
Puncak Gunung Burangrang dan Situ Lembang

Merujuk ke legenda Sangkuriang, Perahu yang ditendang Sangkuriang konon menjadi gunung Tangkuban Perahu, tunggul (bekas pohon) yang ditebang menjadi gunung Bukit Tunggul sedangkan ranting, batang dan daunnya menjadi Gunung Burangrang, mungkin karena dari kejauhan Burangrang sendiri terlihat seperti gerigi (Baranco). Gunung Burangrang dengan tinggi puncaknya 2065 mdpl secara administratif berada di antara 2 kabupaten : Bandung Barat & Purwakarta. Di sisi utaranya adalah Gunung Tangkuban Perahu.  Gunung Burangrang adalah gunung parasit sisa letusan gunung Sunda purba yang meletus kira-kira 105000 tahun yang lalu. Untuk mencapai puncak gunung ini dari arah kota Bandung, kita bisa melalui basecamp Legok Haji yang berada di daerah Cimahi yang dapat ditempuh sekitar 1 jam dari pusat kota. Dari basecamp Legok Haji memerlukan waktu sekitar 2-3 jam untuk mencapai puncaknya. Yang menarik dari gunung Burangrang adalah kita bisa melihat hampir 360º pemandangan ke arah kota Bandung, kabupaten Bandung, Cimahi dan Purwakarta. Dari puncak kita juga bisa melihat Situ Lembang yang merupakan bagian dari kaldera sisa letusan gunung Bandung Purba yang meletus ribuan tahun yang lalu.

Gunung Putri

wp-1502709067224.
Gunung Putri Lembang saat pagi hari

Berikutnya adalah objek wisata alam gunung yang akhir-akhir ini nge-hits yakni Gunung Putri di daerah Lembang. Saat ini dikenal juga dengan dengan Geger Bintang Matahari. Berada di kawasan daerah wisata Lembang berjarak sekitar 2 jam dari kota Bandung, gunung dengan ketinggian 1587 mdpl ini menawarkan panorama kota Lembang dan sekitarnya. Pemandangan paling indah tentunya saat sunrise dan sunset. Ketika pagi hari kabut menyelimuti kota di kaki gunung makin menampilkan pemandangan yang selalu dirindukan para pendaki. Tidak memerlukan waktu lama mendaki puncak gunung putri ini, hanya sekitar 30-45 menit kita sudah sampai di puncak yang ditandai dengan tugu Sespim. Fasilitas umum seperti toilet, tempat parkir, warung,  pun penyewaan alat-alat outdoor tersedia di basecamp. Di area camp kita bisa memilih mendirikan tenda juga mendirikan hammock karena terdapat hutan pinus. Selain panorama puncak, kita juga bisa berwisata sejarah karena di sekitar puncak juga terdapat benteng/gedung peninggalan Jepang yang kondisinya cukup terawat. Di beberapa tempat juga tersedia spot foto yang nge-hits seperti pohon pinus bengkok.

Gunung Wayang

DSC01931
View Gunung Wayang ke PLTP Wayang Windu

Gunung ini mungkin tidak terlalu terkenal, namun gunung dengan ketinggian 2241 mdpl ini memiliki trek yang unik karena memiliki trek semi panjat tebing yang membutuhkan peralatan pengaman. Gunung Wayang terletak di desa Kertasari, Pangalengan, kabupaten Bandung, sekitar 2 jam perjalanan dari pusat kota Bandung. Belum ada basecamp resmi sebagai titik awal pendakian, tapi umumnya para pendaki menggunakan jalur perkebunan Kertamanah, dekat dengan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Wayang Windu. Perjalanan menuju titik awal pendakian sangat indah karena kita akan melewati perkebunan teh yang sangat luas. Dari titik awal pendakian kita akan melewati perkebunan warga, kawah Wayang, Batu Wayang, lalu setelah berjalan kurang lebih 3-4 jam kita sampai di puncak Wayang yang cukup menampung 3-4 tenda. Dari puncak dapat terlihat kepulan uap dari PLTP Wayang-Windu, perkebunan teh, kota Pangalengan dan komplek pegunungan sekitar gunung Wayang. Nah, lepas dari gunung Wayang jika masih ada waktu dan tenaga kita bisa mencicipi susu murni Pangalengan dan menikmati kesejukan Situ Cileunca.

Gunung Puntang

32561740405_bb2519c508_o
Panorama puncak Mega Puntang

Masih di selatan kota Bandung, terdapat Gunung Puntang yang berada dalam kompleks pegunungan Malabar. Selama ini gunung Puntang dikenal dengan cerita mistisnya seperti hantu tentara Jepang dan Noni Belanda, belum lagi Curug Siliwangi yang erat kaitannya dengan tempat moksa-nya Prabu Siliwangi. Namun gunung dengan ketinggian puncak 2223 mdpl ini sebenarnya memiliki pemandangan yang tidak kalah cantik. Dari puncak kita bisa melihat panorama kota Bandung dan komplek pergunungan di sebelah utara dan tetangganya gunung Malabar. Apalagi saat kabut menyelimuti kota membentuk lautan awan. Untuk mencapai puncak Puntang yang dinamakan puncak Mega, titik awal pendakian ada di pos bumi perkemahan gunung Puntang atau lewat sekretariat PGPI. Perjalanan ke puncak total membutuhkan waktu sekitar 6-7 jam, namun biasanya ada juga yang camp di pos 2 sebelum dini harinya menuju puncak. Setelah lelah menggapai puncak, sempatkanlah mandi di sungai berair jernih dan segar yang berada di sekitar area perkemahan Puntang.

Gunung Artapela

DSC01834
Trek Artapela

Satu lagi gunung Bandung yang jadi primadona para pendaki akhir-akhir ini adalah gunung Artapela. Berlokasi di daerah Pacet Argasari, sekitar 2 jam dari kota Bandung, gunung ini menawarkan pemandangan dari ketinggian yang tidak kalah cantik. Dengan ketinggian + 2194 mdpl, trek yang harus dilalui pendaki terhitung sangat bersahabat. Dibutuhkan waktu sekitar 3 jam dari basecamp yang dikelola warga hingga puncaknya. Selama menuju puncak yang dinamakan puncak Sulibra, kita akan dijamu dengan pemandangan perkebunan sayur-sayuran dari kaki gunung sampai ke puncak, tak heran jalur pendakian. Para pendaki biasanya memilih berkemah di puncak Sulibra yang bisa menampung puluhan tenda. Jika cuaca cerah, kita bisa melihat kompleks pegunungan sekitar Bandung dan pemandangan kota Bandung. Yang perlu diperhatikan dari gunung ini adalah sepanjang jalur hampir tidak ada tempat untuk berteduh, jadi paling baik berangkat pagi sekali, atau sekalian sore atau malam.

Sekian 6 gunung Bandung yang bisa jadi alternatif tujuan wisata di sekitar kota Bandung, terutama untuk para pecandu ketinggian. Selesai menitipkan rindu di puncak-puncak gunung Bandung, kita masih bisa meluangkan waktu untuk melanjutkan wisata kuliner atau beli oleh-oleh di pusat kota. Nah, untuk mencari referensi tempat wisata, ragam makanan, tempat menginap dan tips-tips travelling yang menarik, baik di Bandung, maupun kota-kota lainnya, teman-teman bisa cek blog.reddoorz.com loh. Terakhir, kabar-kabarin aja klo mau main di Bandung, terutama ke gunung-gunungnya, siapa tahu waktu dan tempatnya cocok 😉

Iklan

[Seri Gunung Bandung] Gunung Burangrang & Ranu Kumbolonya Bandung

Lahir di kota yang dikelilingi gunung sepertinya sedikit banyak mempengaruhi gaya hidup saya. Saya mungkin lebih memilih pergi ke dataran tinggi dimana ada air terjun dan pergunungan, dibanding ke pantai (yang kurang saya sukai karena banyak nyamuk dan saya selalu tidak akur dengan nyamuk). Ada semacam ikatan batin. Tapi bukan begitu juga masa lalu kebanyakan kita, saat disuruh menggambar gambar pemandangan, ga jauh-jauh dari matahari terbit yang diapit 2 gunung, dengan jalan yang diapit sawah-sawah, tidak lupa sekumpulan burung yang terbang. Konon anak-anak pantai juga gambarnya begitu 😆

Ngomong-ngomong soal dikelilingi gunung, kebetulan rumah saya berada dekat dengan 2 gunung utama di Bandung : Tangkuban Perahu dan Burangrang. Tangkuban perahu yang sudah lama jadi objek wisata dengan legenda Sangkuriangnya, sering saya kunjungi waktu masih tinggal di Lembang baik lewat jalur mobil via Cikole, maupun Jayagiri, Sukawana dan Manoko. Gunung kedua, Burangrang malah hampir tidak pernah saya kunjungi walaupun rumah saya hanya berjarak sekitar 10km dari kaki gunungnya.

Gunung Burangrang dengan tinggi puncaknya 2065 mdpl secara administratif berada di antara 2 kabupaten : Bandung Barat & Purwakarta. Di sisi utaranya adalah Gunung Tangkuban Perahu.  Gunung Burangrang adalah gunung parasit sisa letusan gunung Sunda purba yang meletus kira-kira 105000 tahun yang lalu [1]. Merujuk ke legenda Sangkuriang, Perahu yang ditendang Sangkuriang konon menjadi gunung Tangkuban Perahu, tunggul (bekas pohon) yang ditebang menjadi gunung Bukit Tunggul sedangkan ranting, batang dan daunnya menjadi Gunung Burangrang, mungkin karena dari kejauhan Burangrang sendiri terlihat seperti gerigi (Baranco).

Bulan oktober 2016 tahun lalu menjadi pendakian pertama saya ke gunung ‘belakang rumah’ ini. Seperti biasa dengan ajakan dadakan dari pak Firman, saya dengan senang hati melakukan pendakian. Karena berencana untuk melakukan perjalanan tektok/PP, perbekalan tidak terlalu banyak, hanya air 1.5 liter, senter (tetep bwt jaga2), coklat dan nasi bungkus di warung nasi dekat Parongpong. FYI, jalur pendakian Burangrang sendiri yang saya tau ada 3 jalur : via Legok Haji, Lawang Angin/Kopassus, dan Purwakarta. Belakangan ternyata ada juga jalur lewat Cimahi. Jalur Lawang Angin/Kopassus biasanya jarang dijadikan jalur utama karena membutuhkan perizinan khusus dari Kopassus. Umumnya pendaki melalui jalur Legok Haji dengan patokan Curug Cipalasari.

Saat itu dengan menggunakan mobil pak Firman, kami menuju basecamp pendakian Burangrang via Legok Haji, melalui jalan Sersan Bajuri – Kolonel Masturi – SPN Cisarua – Tugu – Pasir Langu. Patokannya biasanya di SPN (Sekolah Polisi Negara) Cisarua, belok kanan dari arah Bandung/Ledeng. Tidak ada kendaraan umum yang khusus lewat sini, tapi di terminal Ledeng-Parongpong terdapat angkot dengan tujuan akhir Terminal Parongpong, kemudian lanjut angkot kuning ke SPN. Kalau tidak mau repot bisa carter angkot dengan estimasi ongkos 20-30ribu/orang, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam menuju desa Pasir Langu. Di belokan jalan Tugu-Cimeta/Nyalindung terdapat plang kecil penunjuk jalur pendakian Burangrang.

Screen Shot 2017-04-18 at 4.47.02 PM
Belokan Jalan Tugu-Nyalindung/Cimeta ke Desa Pasir Langu

Sepanjang perjalanan kita juga akan melalui objek wisata populer di Bandung seperti Curug Cimahi, Kampung Gajah, Dusun Bambu dan Kampung Daun. Jadi jangan kaget kalau saat weekend bisa macet di jalan ini. Kondisi jalan umumnya beraspal mulus hingga Cisarua, namun saat mencapai jalan Tugu kondisi jalan menyempit jadi sekitar 1.5 mobil. Apalagi di jalan Pasir Langu menuju basecamp, jalanan hanya bisa dilalui 1 mobil dengan kondisi jalan cukup baik. Mobil pak Firman juga sempat mengalami kesulitan karena jalannya yang sempit dan di suatu tempat harus berpapasan dengan mobil lainnya. Untungnya mobil lainnya mengalah ke halaman warga. Oya, di Pasir Langu patokannya setelah Sekolah Dasar, ada rumah pak RW di sebelah kiri (ada plang namanya 😀 ), di sana terdapat halaman rumah cukup luas untuk parkir mobil. Lebih disarankan menggunakan sepeda motor sih buat kesini. Setelah meminta izin untuk memarkir, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dengan medan menanjak ke basecamp Burangrang yang dikelola warga.

Saat mendaki bersama pak Firman sih basecampnya kosong, jadi kami tidak membayar apa-apa, pun mengisi buku registrasi. Namun 2 bulan berikutnya saya kembali ke sini, ada pos yang dikelola warga yang menarik retribusi 5rb/orang dan parkir 10rb/motor. Nah untuk motor bisa diparkir di dekat basecamp. Dari basecamp yang ada di pinggir jalan, lanjut sekitar 3 menit ke arah atas, terdapat warung juga belokan ke jalur utama pendakian.

FYI, di jalur pendakian Burangrang ini terdapat 5 pos sebelum puncak. Di jalur-jalur awal, kita akan melalui perkebunan warga, kompleks permakaman umum, hingga sekitar 30 menit kita sampai di pos 1 yang berupa lapangan rumput luas dan kebun pinus yang biasa dijadikan camp ground. Ga ada penunjuk pos 1 sih di sini. Oya, di awal pendakian terdapat percabangan jalur menuju curug/air terjun Cipalasari.

Dari pos 1 perjalanan terus menanjak dengan elevasi 30-40 derajat dengan vegetasi semak belukar, hingga akhirnya menemui batas hutan. Tak kadang di kiri kanan jalur yang sempit kita harus ekstra hati-hati karena terdapat tanaman perdu yang siap menyayat hati #tsah. Hampir tidak ditemui bonus sepanjang jalur ini. 40 menit berjalan dengan sesekali istirahat, penasaran juga karena belum ditemui penunjuk pos 2, tau-tau sudah sampe di pos 3, baru ada penunjuk pos. Di pos 3 ini terdapat tempat datar cukup untuk 2 tenda kapasitas 3-4. Di pos ini juga dapat ditemui beberapa spesies jamur dan laba-laba.

Setelah istirahat sekitar 15 menit, kami melanjutkan perjalanan ke puncak. Lagi-lagi tidak ada bonus sepanjang jalur, malah ada trek dengkul ketemu dada dan akar-akar pohon cukup tinggi dan licin. Cuaca sedikit berkabut, tapi suhunya cukup gerah jadi perlu lebih banyak minum. Oya sepanjang jalur pendakian Burangrang ini tidak terdapat sumber mata air. Sekitar 1.5 jam berjalan (tentunya sesekali istirahat), tau-tau kami sampai di pos 5 dengan ketinggian 1850 mdpl. Alhamdulillah berarti dikit lagi dong sampe puncak.

DSC08843

Namun nyatanya jalur dari pos 5 menuju puncak tetap ga ada bonusnya, untungnya tidak begitu lama. Sekitar 15 menit kami sampai di puncak Burangrang yang ditandai dengan tugu SPN Polda Jabar berwarna oranye. Puncak Burangrang sendiri terdiri dari 2 pundukan yang dihubungkan sebuah jalur sempit dengan kiri kanan jurang. Di masing-masing pundukan terdapat tempat luas yang bisa digunakan untuk sekitar 5-6 tenda. Sayangnya saat saya dan pak Firman ke Burangrang, cuaca sedang tidak baik, alhasil di sekeliling hanya bisa melihat kabut 😦

Tapi jreng-jreng, jangan khawatir, karena 2 bulan berikutnya di bulan Desember, saya kembali ke Burangrang dengan melakukan pendakian tektok solo, kurang lebih sekitar 1 jam 45 menit dari basecamp sampai puncak. Alhamdulillah, cuaca sangat mendukung sehingga saat di puncak sekitar jam 8 pagi, disambut dengan matahari, langit biru dan pemandangan puncak Burangrang yang tak tertutup kabut, dengan hadiah utamanya : Situ Lembang 😀

DSC09852

Situ Lembang yang menjadi bagian dari kaldera Gunung Sunda Purba menjadi sisa-sisa dahsyatnya letusan gunung tersebut di masa lampau. Dengan posisinya tersebut, tak jarang Situ Lembang dijuluki Ranu Kumbolonya Bandung. Sayangnya (atau untungnya) Situ Lembang tidak dapat sembarang dikunjungi karena dikelola oleh Kopassus. Dari kejauhan dapat terlihat kompleks bangunan tempat pendidikan dan latihan Kopassus yang juga sering digunakan untuk pendidikan dasar Wanadri. Di bagian utara terlihat dengan jelas saudara termuda dari rangkaian gunung Sunda purba : Tangkuban Perahu.

DSC09865

Pandangan ke arah timur agak tertutup pepohonan tinggi dan belukar. Namun ke arah barat, pemandangan sangat luas tidak ada penghalang sehingga sangat cocok untuk melihat matahari tenggelam. Di barat daya, kita bisa melihat komplek Gunung Parang, Lembu dan Waduk Jatiluhur di Purwakarta. Sementara di sisi tenggara, kita dapat menyaksikan gunung Cikuray di Garut mengintip dari balik pepohonan.

Fiuh, setelah beristirahat, foto-foto dan menikmati santapan berat ditemani pemandangan indah di puncak Burangrang, saatnya kami turun. Alternatifnya bisa melalui jalur Kopassus (klo jalur turun biasanya diizinin, karena masa disuruh naik puncak lagi, atau melipir jalur), tentunya kalau nitip kendaraan di Legok Haji/Pasir Langu jaraknya jadi terlalu jauh. Kebetulan waktu itu ketemu rombongan yang turun via jalur Kopassus.

DSC09889

Jalur turun membutuhkan waktu lebih singkat, sekitar 1.5 jam sampai basecamp tetap dengan fokus penuh karena jalur cukup licin dan berduri. Sampai di basecamp, sebelum langsung pulang ke rumah, saya sempat ngobrol dengan warga pengelola basecamp. (setelah diterjemahin) “A, kok berani amat ngedaki sendirian, di Burangrang teh ada 3 pasir (bukit/punggungan), di tiap pasir teh ada penunggunya, kadang siang-siang juga nampakin diri”. Kebetulan pasir-pasir itu tempat dekat-dekat pos (mungkin 2-5). Asyem, habis diceritain gitu mah jadi males naik sendirian -_-

Secara ringkas, pendakian Burangrang (dengan santai)  menempuh waktu dan jalur sebagai berikut :

Terminal Ledeng – Basecamp Pasir Langu (45menit) -> BC – Pos 1 (30 menit) -> pos 1 – pos 3 (45 menit) -> pos 3 – pos 5 (1.5 jam) -> pos 5 – puncak (15 menit)

Logistik bisa beli di minimart, atau pasar sekitar Tugu/SPN, atau di warung dekat basecamp. Nomor kontak pengelola rasanya sih ga ada, lupa minta nomer si bapa pengelolanya, tapi jika tidak ada kejadian kebakaran hutan, Burangrang biasanya dibuka. Kondisi cuacanya kadang berbeda jauh dengan Bandung, bolehlah kontak saya buat tau cuaca hariannya mah, di belakang rumah ini :p Pendakian Burangrang idealnya sih dilakukan 2 hari 1 malam, tapi klo cuma punya 2 hari untuk mengunjungi gunung Bandung, bisalah tektok ke Burangrang dulu, habis itu ke Manglayang misalnya (pendakian manglayang via tebing doa bisa dibaca disini 😉 ), sekalian balik ke Cileunyi bwt balik ke Jakarta misalnya. See you di perjalanan berikutnya, maaf kepanjangan :p

 

Referensi

[1] Wisata Bumi Cekungan Bandung, Budi Brahmantyo & T. Bachtiar