Meniti Tanjakan Tiada Akhir di Gunung Cikuray 2821 Mdpl

It’s always further than it looks.

It’s always taller than it looks.

And it’s always harder than it looks.

3 Rule of Mountaineering

Quote di atas memang sangat berlaku untuk semua perjalanan pendakian, apalagi gunung yang akan saya jelajahi kali ini. Nah, berawal dari kegagalan untuk menapaki puncak tertinggi Pulau Jawa, akhirnya saya dan teman-teman di grup Anjasss memilih menapaki puncak tertinggi Priangan Timur : Gunung Cikuray. Gunung Cikuray sendiri terletak di kabupaten Garut. Gunung dengan ketinggian +- 2818 mdpl ini dapat kita lihat jika melalui jalan antara Garut-Tasik. Gunung Cikuray di kalangan pendaki lazim dimasukkan ke dalam rangkaian gunung Paguci (Papandayan, Guntur, Cikuray) karena letaknya cukup berdekatan. Bahkan beberapa pendaki tak jarang melakukan double summit (mendaki 2 gunung sekaligus dalam 1 rangkaian pendakian, ga harus 1 hari ya).

DSC02969
Rangkaian Gunung Paguci : Cikuray (kerucut di tengah), Papandayan (paling kanan), dilihat dari gunung Guntur.

Berbekal informasi dari google dan teman-teman pendaki lain, akhir Mei 2016 itu kami berangkat menuju Garut. Nah, yang membuat saya tertarik dengan gunung ini adalah bentuk kerucutnya yang akan terlihat sangat mencolok jika kita lihat dari jalan Garut-Tasik. It made me wonder, bagaimana pesona alam dan trek pendakian gunung yang dikenal dengan trek “dengkul ketemu lutut” ini.

Untuk mencapai puncak Gunung Cikuray sendiri terdapat beberapa jalur pendakian yang lazim digunakan : Cikajang, Bayongbong, Cilawu/Pemancar. Menurut beberapa informan, jalur Cikajang adalah jalur yang paling landai dan relatif mudah dilalui, tetapi lintasannya paling panjang. Sementara jalur Bayongbong terhitung sebagai jalur yang pendek namun jalurnya paling sulit. Terakhir, yang paling sering dilalui adalah lewat jalur Cilawu via Pemancar. Di jalur Cilawu sendiri ternyata ada beberapa titik pendakian diantaranya dekat gerbang utama Perkebunan Dayeuhmanggung, Patrol, dan (yang terbaru) Kiarajenggot. Untuk jalur Dayeuhmanggung & Patrol akan bertemu di basecamp Pemancar. Jika melalui jalur Kiarajenggot tidak akan lewat Stasiun pemancar, tapi nantinya akan bertemu di jalur Pemancar di sekitar pos 6-7.

Kami memilih lewat jalur Cilawu dekat dengan gerbang utama perkebunan Dayeuhmanggung. Ini juga karena saya kurang informasi, biasanya pendaki memilih jalan lewat Patrol, karena jalannya relatif lebih bagus. Nah, jika kita menggunakan kendaraan umum dari Bandung, bisa menggunakan elf Bandung-Garut turun di terminal Guntur, sekitar Rp. 35rb, lanjut dengan angkot Guntur-Cilawu warna putih biru/abu-abu sekitar Rp. 7-10rb. Saya sendiri memakai sepeda motor (yang saya sesali belakangan).

Screen Shot 2016-06-10 at 1.48.35 AM
Persimpangan jalan utama dengan jalan perkebunan Dayeuhmanggung menuju basecamp Pemancar

Setelah menunggu teman-teman yang menggunakan angkot, selanjutnya kami memilih menggunakan ojek sampai ke Pemancar. Biayanya Rp. 35-40rb, biasanya sih sudah segitu, ga bisa ditawar lagi. Pilihan lainnya adalah menggunakan mobil bak terbuka (pick up), harganya juga segitu, dan biasanya baru berangkat jika sudah ada 10 orang. Kalau tidak menggunakan kendaraan, kita juga bisa berjalan kaki hingga basecamp, menurut informasi sih sekitar 3 jam perjalanan. Lumayan juga, apalagi masih bawa beban lengkap. Saran saya sih setelah melalui treknya yang bikin banyak berdoa, jangan bawa motor matic! mending pakai ojek/pick up saja, harga segitu sudah sip, coba saja :)).

Lanjut, kami melalui perkebunan teh Dayeuhmanggung yang sangat asri. Jalanan yang dilalui adalah jalan makadam, disertai banyak percabangan. Ini juga pertimbangan lain untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi. Perjalanan ditempuh sekitar 45 menit. Akhirnya sekitar pukul 14.00 kami sampai di Stasiun Pemancar. Stasiun Pemancar ini adalah stasiun televisi yang aktif dan digunakan oleh MNCTV dan Global TV. Di sekitar stasiun pemancar sendiri terdapat warung, mushola dan toilet umum yang cukup bersih, jadi bisa mandi atau nitip ngecharge HP dulu. Selain itu terdapat tempat penitipan motor & helm yang dibandrol Rp. 10rb, yang tempatnya cukup aman.

DSC05596
Basecamp Stasiun Pemancar Cikuray

Di basecamp pemancar ini tidak ada pungutan apapun, karena registrasi dan retribusi dilakukan di Pos 1 yang berjarak sekitar 30 menit. Sekitar pukul 15.00 kami melanjutkan perjalanan ke pos 1. Nah, perjalanan awal ini pun kita sudah disuguhi tanjakan cukup terjal dan licin melalui perkebunan teh.

DSC05593

Setelah 15 menit dari basecamp pemancar, kami sampai di Pos 1 yang ditandai dengan plang Gunung Cikuray dan pos registrasi. Di pos registrasi ini kita diwajibkan mengisi log book yang menginformasikan nama, anggota kelompok, nomor HP yang bisa dikontak, dan membayar retribusi Rp. 15rb/orang. Kita tidak perlu melampirkan kartu identitas di sini. Oya, di sekitar pos 1 ini juga terdapat beberapa warung dan toilet.

Dari pos 1, kami lanjutkan perjalanan ke pos 2 yang berjarak sekitar 1,5 jam. Di awal perjalanan kami langsung disuguhi tanjakan yang cukup cihuy, yet dinamai Tanjakan Cihuy! Tanjakan ini sih cukup parah kalau dilalui pas hujan-hujan, licin banget, sebaiknya gunakan sandal/sepatu yang gripnya masih bagus, kalau perlu gunakan treking pole.

DSC05574
Salah satu tanjakan ‘alay’ yang ada di Cikuray, Tanjakan Cihuy!

Menuju pos 2, kami melalui perkebunan warga hingga batas hutan. Treknya masih relatif landai, tapi yang menyulitkan jalan tanahnya cukup licin dan jarang ada akar atau tumbuhan untuk pegangan. Pemandangan yang cukup ajaib kami saksikan saat melalui jalur ini. Kabut dan gerimis mengiringi perjalanan kami, membuat trek yang kami lalui lebih licin, saat itulah kami menjumpai sekelompok pendaki remaja (cewek cowok) yang tengah turun, tanpa jas hujan, dan … sendal jepit! Bikin gemes aja #eh, bahkan hal ini tidak sekali kami jumpai di sini. Setelah melalui perjalanan sekitar 1,5 jam, sampailah kami di Pos 2, ditandai dengan tanda penunjuk. Di pos 2 ini area cukup sempit didominasi akar pohon dan rasanya sulit mendirikan tenda di sini.

DSC05558

Setelah istirahat, kami lanjutkan ke pos berikutnya : Pos 3. Dari sini tanjakan lebih terjal lagi dan jalanan didominasi akar pepohonan. Tidak jarang, kami melalui trek yang menjadi julukan trek Cikuray : “dengkul ketemu dagu”. Di perjalanan ini, kami melalui salah satu tanjakan yang cukup populer : Tanjakan Sanghyang Taraje. Namanya memang sama dengan salah satu air terjun di Garut, tapi di jalur ini kami tidak menemui mata air, apalagi air terjun.

DSC05552.jpg
Tanjakan Sanghyang Taraje, cihuy juga

Setelah  1,5 jam melalui trek yang tanjakannya berasa tiada akhir dan meniti akar-akar sampailah kami di pos 3. Di pos 3 ini terdapat dataran yang cukup untuk mendirikan sekitar 4-5 tenda. Saat kami kesana sudah ada 2 tenda milik teman-teman dari Cimahi. Mereka sempat mengajak kami camp di pos 3 saja, mungkin biar ga kesepian, tapi karena kami merasa masih kejauhan dari puncak, kami putuskan lanjut ke pos 6. Oya, sepanjang perjalanan tadi kami berpapasan dengan pendaki lain yang turun. Kabarnya, akhir-akhir ini kawanan babi hutan sedang agresif, jadi kami disarankan untuk camp di pos 6.

DSC05551
Pos 3

Kami sampai di pos 3 sekitar pukul 18.00, di kejauhan adzan magrib berkumandang, malam pun menjelang, headlamp pun dinyalakan. Walaupun sudah malam, tapi trek di Cikuray ini relatif jelas, panduannya sih : klo ga nanjak, berarti salah jalan 😀 Trek yang tanpa bonus kami lalui sampai tibalah di pos 4 sekitar 15 menit kemudian. Rupanya memang tidak salah yang dibilang teman-teman pendaki yang kami temui, trek dari pos 3-6 sebenarnya relatif dekat. Di pos 4 sendiri tanahnya cukup miring dan sepertinya jarang digunakan untuk camp. Dingin memaksa kami agar terus berjalan supaya badan tetap terasa hangat. Perut saya mulai berontak, akhirnya diinfus dulu dengan Choki-choki. Sekitar 30 menit berikutnya kami sampai di pos 5. Kondisinya relatif sama dengan pos 4, tempatnya cukup rimbun.

Sekitar 30 menit berjalan menuju pos 6, saya mulai melihat temaram lampu dari tenda. Benar saja, akhirnya kami sampai di pos 6 pada pukul 19.30. Di pos 6 yang kadang dibilang Puncak Bayangan (beberapa bilang puncak bayangannya di pos 7) ini sudah berdiri sekitar 8 tenda. Kami memilih mendirikan tenda di dekat bangunan yang sepertinya sih warung, harapannya warungnya buka, jadi bisa beli gorengan (belakangan kabarnya warungnya cuma buka setiap weekend).

Menemani malam, kami memasak mie instan dan menggoreng Cireng yang saya bawa, rasanya nikmat banget. Oya, yang lucu, teman saya Rifky (Kimong) membawa mie Shin Ramyun (dari Indom*aret), waktu itu belum ada label halalnya. Jelaslah kami berempat berdebat, tapi si Kimong bilang “Udah gua tanya mas-mas Indomaretnya ini halal kok, di tempat itu juga ga jualan produk non-halal”. Tapi si Indra (Badaq) bilang mienya paling enak, kayaknya emang beneran haram :)) Habis makan, dibahas lagi, gitu terus sampe Kangen Band duet sama Siti Nurhaliza -_- Sekitar pukul 10 malam, setelah briefing untuk summit jam setengah 4 subuh nanti, kami lanjut tidur.

Saya tidur paling dekat dengan pintu tenda, agak was-was sih dengan isu babi hutan yang beredar, jadi tidur juga kurang nyenyak. Apalagi 3 orang komplotan setenda ini ngoroknya kenceng banget, tiap kebangun bingung antara ini suara ngorok apa suara babi hutan. Bukan kenapa-kenapa, takutnya suara ngoroknya dikira teman-temannya si babi hutan :))

Akhirnya jam setengah 4 subuh menjelang, di samping tenda, teman-teman pendaki lain mulai menampakkan aktivitas. Beberapa tengah membuat api unggun dan membuat air panas, yang lain subuh-subuh gini udah sesi curhat aja, busyet dah. Perkiraan sampai puncak dari pos 6 sih sekitar 1.5-2 jam, jadi kami bisa sampai di sana sebelum sunrise.

Setelah berdoa, saya bawa perlengkapan lenong, air dan snack secukupnya, kami lanjutkan perjalanan ke puncak, tentunya treknya masih menanjak, tapi kali ini treknya didominasi semak belukar, sesekali melewati akar-akar pohon. Di perjalanan ke puncak ini kami melihat persimpangan dengan trek lain (Kiara Jenggot). Petunjuknya cukup jelas jika kita akan kembali ke pemancar, jadi insyaallah tidak akan tersesat. Sepanjang perjalanan kami juga tetap waspada kalau-kalau si babi menyapa, walaupun katanya babi hutan jarang menyerang kalau orangnya banyakan.

DSC05520

Sampai di pos 7, setelah berjalan sekitar 45 menit. Di pos ini dataran cukup luas, mungkin bisa digunakan lebih dari 6 tenda, saat itu ada 3 tenda. Sebuah tanda peringatan serangan babi hutan/bagong ditemukan di pos ini.

DSC05509
Peringatan serangan babi hutan di Pos 7

Mendekati puncak, kondisi trek mulai berubah, pepohonan mulai tidak terlalu rapat, sesekali ditemui jalanan berbatu, di kejauhan samar-samar terdengar pendaki-pendaki yang berteriak. 30 menit berikutnya sampailah kami di Puncak Cikuray yang ditandai dengan sebuah shelter. Alhamdulillah segera saya panjatkan saat itu. Karena kami naik bukan saat weekend, di puncak pun hanya ada sedikit pendaki. Menurut cerita pendaki lain, waktu long weekend sebelumnya, Cikuray ini padat banget, tempat camp pun sampai di puncak.

DSC05362

Dari puncak Cikuray ini kita bisa melihat panorama kota Garut dan sekitarnya. Di kejauhan kita bisa melihat beberapa gunung baik yang ada di Garut seperti Papandayan dan Guntur, maupun tetangganya seperti Ciremai dan Tampomas. Selain itu juga terlihat kepulan uap yang diluminasi lampu yang berasal dari PLTG Darajat.

DSC05365
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Darajat
DSC05351
Saling deketan bukan karena modus, tapi karena dingin :s
DSC05359
Calling for nearest autobot

Pagi itu terasa sangat syahdu, tidak terasa dinginnya mulai menusuk kalbu #setdah. Matahari baru akan terbit sekitar 30 menit lagi, sialnya kami ga bawa kompor untuk bikin air panas, lapisan jaket juga tidak terlalu membantu. Akhirnya kami ikut menghangatkan diri di dalam shelter yang di dalamnya ternyata ada yang mendirikan tenda, 2 biji pula :))

Kali ini sepertinya kami kurang beruntung, saat momen matahari terbit kabut muncul bahkan disertai angin cukup kencang, sepertinya kami berada dalam badai karena angin dan kabutnya berputar di sekitar puncak saja. Kami memutuskan menunggu sampai sekitar pukul 8 pagi. Pendaki-pendaki lain mulai berdatangan ke puncak, mulai dari orang Garut sendiri, Jakarta, Bandung dan Cimahi.

Hingga pukul 8, kabut masih datang, namun sesekali pemandangan cukup jelas, kami bisa melihat kembali panorama kota yang dijuluki Swiss van Java ini. Selain panorama kota dan pegunungan, ternyata kita bisa melihat pantai selatan Garut.

DSC05502
Dilihat dari posisinya sih sepertinya pantai Karang Paranje

Oya, selain terkenal dengan tanjakannya yang tiada akhir, Cikuray sendiri terkenal dengan lautan awannya, sayangnya sampai jam 8 pagi itu sepertinya kami belum berkesempatan melihat fenomena tersebut. Mempertimbangkan teman-teman yang harus pulang ke Jakarta, pukul 8 tersebut kami langsung turun ke tenda kami di pos 6. Saat perjalanan turun itulah, baru kelihatan jalurnya ternyata memang lumayan 😀

DSC05528

Perjalanan dari puncak ke pos 6 hanya memakan waktu 45 menit. Setelah sarapan brunch sekitar jam 11 kami memutuskan turun ke basecamp. Beruntung cuaca saat itu lumayan baik, jadi treknya jadi tidak terlalu licin. Kami sampai di pos 1 sekitar pukul 12.30, beruntung lagi karena pas datang, pas hujan turun cukup deras. Setelah agak reda, kemudian checkout di pos penjagaan, kami lanjutkan perjalanan.

DSC05556
Jangan takut kehabisan tanjakan, banyak stoknya di Cikuray

Di pos 1, do you think it’s over yet? Belum kawan, trek dari pos 1 ke basecamp pemancar yang melewati kebun teh ini berupa tanah gembur yang setelah hujan turun, licinnya minta ampun, kami menghabiskan waktu hampir 20 menit karena tidak bisa berjalan cepat. Saya sendiri terjerembab beberapa kali.

DSC05592

Sampai di pos pemancar, sambil nunggu hujan yang turun lagi, saya cari gorengan, saat itu kami ditawari angkutan pickup turun seharga Rp. 35rb sudah termasuk angkot ke terminal guntur, tawaran tersebut jelas diambil. Saya sendiri sebenarnya klo motornya bisa diangkut sih, mending pakai pickup saja :)) Apa daya, akhirnya saya bawa motor tepat di belakang pickup karena takut nyasar di perkebunan walaupun terbanting-banting, sambil berdoa dalam hati moga-moga ban ga sempet bocor. Kami turun melewati jalur yang berbeda, ternyata lewat Patrol, kondisi jalannya relatif bagus dibanding jalur kemarin. FYI, kalau lewat jalur patrol, kita akan melalui portal yang mengharuskan kita membayar retribusi Rp. 10rb, kalau turun sih ga bayar apa-apa. Saat sudah sampai di jalan raya yang aspalnya mulus, saya langsung bersyukur, yah walaupun perjalanan pulang masih 3 jam lagi. Alhamdulillah, selesai sudah rangkaian gunung Paguci ini. Saya berpamitan dengan teman-teman dari Jakarta.

Yang perlu mendapat catatan besar adalah Cikuray ini adalah salah satu gunung yang paling kotor, sampah tersebar di banyak titik, walaupun papan peringatan untuk membawa turun sampah juga terpampang di sepanjang jalur pendakian. Overall trek Cikuray ini terhitung unik, mulai dari titik ‘pendakian’ dari pangkalan ojek, jalurnya cukup jelas, viewnya walaupun ‘kalah’ dari Guntur, tetapi saya sendiri masih penasaran dengan view lautan awannya, so insyaallah definitely come back someday.

DSC05512
Suasana di Pos 7

851416671_13939317727794939631

Cost Damage

  • Terminal Guntur-Pangkalan ojek Dayeuhmanggung/Patrol : Rp. 7rb-10rb.
  • Ojek naik dari pangkalan ojek ke pemancar : Rp. 40rb (pastikan uang pas, kalau ngasih 50rb, kadang dibilang ga ada kembalian -_-), kalau ojek turun Rp. 35rb sudah termasuk ongkos angkot ke terminal Guntur.
  • Retribusi lewat Patrol Rp. 10rb.
  • Simaksi : Rp. 15rb/orang.
  • Gorengan : Rp. 1rb/biji.
  • Nitip motor : Rp. 10rb/malam

Catatan

  • Waktu yang ditempuh antar pos :
    • Pos Pemancar – Pos 1 : 15 menit
    • Pos 1 – Pos 2 : 1.5 jam
    • Pos 2 – Pos 3 : 1.5 jam
    • Pos 3 – Pos 4 : 15 menit
    • Pos 4 – Pos 5 : 30 menit
    • Pos 5 – Pos 6 : 45 menit
    • Pos 6 – Pos 7 : 45 menit
    • Pos 7 – Puncak : 30 menit
    • Total : 6 jam
  • Tidak ada mata air di sepanjang trek, jadi pastikan bawa air minum yang cukup dari bawah.
  • Mushola, toilet, tersedia di pos pemancar & pos 1.