Catatan Perjalanan Susur Pantai Selatan Jawa Barat : Part 2, Curug Cikaso

I turn the music up, I got my records on
I shut the world outside until the lights come on
Maybe the streets alight, maybe the trees are gone
I feel my heart start beating to my favourite song

And all the kids they dance, all the kids all night
Until Monday morning feels another life
I turn the music up
I’m on a roll this time
And heaven is in sight

As we soar walls, every siren is a symphony
And every tear’s a waterfall

Every Teardrop Is A Waterfall – Coldplay

Setelah (belum) puas explore pantai Ujunggenteng hari sebelumnya, perjalanan susur pantai selatan Jawa Barat ini saya lanjutkan. Susur pantai tidak selamanya mengunjungi objek wisata pantai, khususnya di daerah sekitar Ujunggenteng ini terdapat obyek wisata air terjun yang sudah sudah cukup terkenal : Curug Cikaso.

Curug yang terletak di kampung Ciniti, Kecamatan Surade ini terletak di segmen jalan Ujunggenteng-Tegalbuleud yang hari sebelumnya kami lewati. Dari Ujunggenteng, kendaraan kami arahkan ke Surade, sampai pertigaan depan Indomaret Surade. Curug Cikaso ini juga sebelumnya pernah saya kunjungi tahun 2010an. Kebetulan waktu itu kemarau, jadi aliran curug ini juga seiprit, tapi membuat kolam yang terbentuk dari curahan air terjun ini berwarna biru jernih, nyesel waktu itu ga sempet renang.

1916431_105451019471229_3000628_n
saya kira-kira beberapa tahun yang lalu, ga terlalu beda dengan yang sekarang :p

Karena kami datang saat musim penghujan, ekspektasi saya aliran air curugnya akan cukup deras dan airnya cukup keruh. Setelah kurang lebih menghabiskan waktu sekitar 1 jam perjalanan, akan ditemui percabangan yang menunjukkan gerbang masuk Curug Cikaso.

Screen Shot 2016-04-27 at 7.13.10 PM

Melewati gerbang masuk curug Cikaso, kita akan langsung bertemu petugas yang menarik retribusi Rp. 3000/orang, ditambah Rp. 15.000/mobil. Saat itu karcis masuknya hanya diberikan 3 buah saja dari uang Rp. 15.000 yang kami bayarkan, sisanya wallahu’alam.

DSC03722DSC03720

Melewati gerbang, akan ditemui percabangan : kiri dan kanan, jalan ke kiri menuju ke tempat parkir, sementara jalan ke kanan adalah jalan masuk langsung ke Curug Cikaso (padahal mah sama-sama aja, di jalan ke kanan juga terdapat lahan parkir -_-). Kami melalui jalan ke arah kiri. Tiba di tempat parkir, terdapat warung yang menyediakan nasi dan minuman. Karena kami tiba di sana sekitar 10 menit sebelum adzan Dzuhur, kami disarankan untuk menunggu Dzuhur (takut ada apa2, ceunah). Sambil nunggu adzan kami sempat ngopi. Saat ngopi itulah, kami ditemui (sebut saja) Abah Anom. Dengan logat khas orang Jampang, Abah Anom bercerita tentang latar belakang beliau termasuk kedekatan beliau dengan dalang ternama (alm.) Asep Sunandar Sunarya.

Selanjutnya beliau bercerita bahwa dulu Curug Cikaso ini termasuk tempat keramat yang tidak bisa didatangi sembarang orang. Diceritakan beliau sempat bertapa beberapa minggu untuk meminta ‘penunggu’ curug agar curug ini bisa didatangi orang banyak. Abah Anom selanjutnya menceritakan, di Curug Cikaso ini terdapat 3 buah air terjun utama dimana masing-masing curug bersemayam Nyai Blorong (penunggu Curug Aseupan), Eyang Santang (penunggu Curug Meong), dan Prabu Siliwangi (penunggu Curug Aki). Berkat komunikasi Abah Anom (lewat pertapaannya), singkat kata penunggunya membolehkan Curug dikunjungi dari jam 7 pagi hingga 17.30. Walaupun begitu, Abah Anom tetap mengingatkan supaya tetap berhati-hati dan menjaga kesantunan di curug nanti.

Setelah solat Dzuhur di mesjid yang terdapat di dekat lahan parkir, kami melanjutkan perjalanan ke curug. Untuk menuju curugnya sendiri, sebenarnya terdapat 2 jalan : menggunakan perahu yang disediakan pengelola, dan menggunakan jalan darat melalui persawahan. Karena sebelumnya saya pernah ke curug menggunakan perahu, tadinya kami memutuskan pergi berjalan kaki. Dari mesjid kita tinggal melangkahkan kaki menuju persawahan. Karena tidak terdapat petunjuk menuju curug melalui jalan darat, eh ujung-ujungnya kami bertemu tempat parkir lain (dan ternyata lebih dekat ke dermaga :)) ).

DSC03718
Pos retribusi perahu menuju Curug Cikaso

Yasudahlah, akhirnya kami menggunakan jasa perahu yang ditarif Rp. 60.000/perahu yang bisa digunakan untuk 10 orang. Perjalanan menuju curug menempuh waktu sekitar 10 menit melalui sungai Cikaso yang saat itu alirannya sedang cukup deras.

Perahu diarahkan ke sungai yang lebih kecil dan tenang, menuju Curug Cikaso. Di percabangan sungai besar dan kecil ini akan jelas terlihat perbedaan warna aliran sungai. Sungai kecil berwarna hijau toska, berbaur dengan aliran sungai besar berwarna coklat.

Di pinggir sungai kami menemui warga yang tengah memancing, menemani kami  yang tidak terasa sudah sampai di dermaga Curug Cikaso. Dari dermaga, kami berjalan sekitar 5 menit sampai ke Curug. Di curug ini dapat ditemui sebuah warung dan fasilitas seperti toilet dan kamar ganti dengan kondisi seadanya.

Di tengah siang hari yang terik, kami bagaikan musafir yang menemukan oase di tengah gurun ketika akhirnya menemui kompleks curug Cikaso yang terdiri dari 3 curug besar. Sayangnya memang aliran air di curug ini masih cukup deras, sehingga kolam di bawah air terjun ini tidak terlihat bening seperti yang saya lihat dahulu kala. Kami diizinkan untuk berenang di Curug Aki (curug paling kanan) karena curah air tidak terlalu besar dan dasar kolam cukup dangkal.

DSC03671
(dari kiri ke kanan) Curug Aseupan, Curug Meong, Curug Aki

Seperti biasa, saya segera menyiapkan perlengkapan lenong untuk mengabadikan pemandangan di tempat ini. ND filter (GreenL ND2000 filter) menjadi sahabat saya mengabadikan curahan air curug ini supaya dapat dinikmati dengan slow shutter, sehingga alirannya terlihat seperti kapas/susu.

DSC03682
maafken jika ada color cast, maklum ND filter murah 😉
DSC03698
Foto all crew

Tidak ada dari kami yang berenang di curug ini karena, niatnya memang cuma mampir, sambil foto-foto. Oya, kesulitan saya pribadi terutama untuk mengambil foto di tempat ini adalah karena derasnya curahan air, banyak cipratan air yang mengenai lensa dan kamera. Akibatnya seringkali saya harus mengelap kamera dan lensa supaya tidak kabur (gambarnya :p). Karena harus mengejar target ke obyek wisata lainnya, jadi kami hanya punya sedikit waktu untuk explore di curug ini. Teman-teman sudah beranjak ke dermaga untuk menaiki perahu pulang, sementara saya masih sibuk foto-foto, daripada ditinggal, yasudah lah, insyaallah lain kali saya akan kembali ke tempat ini, mungkin bersama ‘rekan’ yang lain :3 Tunggu seri catatan perjalanan susur pantai selatan jawa barat berikutnya ya : Pantai Jayanti, dan sekitarnya 😉

Cost Damage :

  • tiket masuk curug/orang : Rp. 3000
  • tiket masuk/parkir kendaraan (mobil : Rp. 15.000
  • ngopi : Rp. 3000
  • tarif perahu : Rp. 60.000/perahu (muat 10 orang)

Hal-hal yang perlu diperhatikan :

  • Jalan masuk ke curug terdapat 2 cara, silahkan pilih sesuai kantong dan motivasi, jika mau jalan kaki, Abah Anom biasanya menjadi guide, tidak ada tarif pasti, biasanya ‘seikhlasnya’. Menurut pengunjung lain yang jalan kaki, jarak tempuhnya sekitar 15 menit, hampir sama dengan naik perahu
  • Pengunjung dapat berenang di Curug Aki (yang paling kanan dari arah masuk)
  • Seperti biasa, jaga perilaku dan sopan santun di tempat ini, karena yang berkunjung ke sini mungkin bukan hanya yang kasat mata 😉

DSC03700

Iklan