Catatan Perjalanan Susur Pantai Selatan Jawa Barat : Part 4 Pantai Sayangheulang

Jarak adalah sebuah garis batas, tetapi jalinan perasaan adalah penembusnya – Agustinus Wibowo, Garis Batas

6 April 2016

Saya meninggalkan Pantai Jayanti sekitar pukul 6 sore, sore itu walaupun angin berhembus kencang tapi tidak mengalahkan gerahnya udara pantai, alhasil sampai di mobil, AC langsung digeber (sebentar). Malam mulai menyelimuti jalan Raya Cidaun, jalanan juga makin sepi, hanya ada beberapa truk pengangkut kayu dan warga yang pulang dari mesjid. Sekitar 30 menit, kami sampai di perempatan pantai Rancabuaya. FYI, dari perempatan Rancabuaya ini kita bisa menuju Bandung melalui Pangalengan sekitar 4-5 jam melalui jalan yang turun naik (perjalanan ke Rancabuaya lewat Pangalengan ini insyaallah akan dibahas di tulisan lain 😉 ). Di perempatan ini dapat ditemui dynamic duo minimart, jadi bisa belanja barang-barang kebutuhan perjalanan. Di Rancabuaya ini kami hanya numpang lewat karena tujuan kami hari ini adalah pantai Sayangheulang, yey!

Pantai Sayang Heulang terletak di Desa Mancagahar, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut Selatan. Dari pantai Jayanti, Pantai Sayangheulang berjarak sekitar 60 km. Dari Rancabuaya, kondisi jalannya sekitar 80% adalah aspal mulus, dengan pemandangan sebelah selatan adalah samudera Hindia. Tapi karena jalan malam, tentunya pemandangan lautnya ga bisa kelihatan, tapi kita bisa melihat beberapa sinar lampu yang berasal dari perahu nelayan dan tambak yang berada di sekitar pantai. Sesekali kita akan melalui beberapa jembatan besi, diantaranya cukup populer menjadi obyek foto. Kondisi penerangan sangat minim, ditambah permukiman juga cukup jarang, maka ada baiknya untuk selalu waspada. Entah kenapa pantainya dinamai Sayang Heulang (yang klo diterjemahkan artinya Sarang Elang), mungkin dulunya di sana memang habitat elang.

Oya, dari Rancabuaya ke Sayangheulang sebenarnya juga dapat ditemui beberapa obyek wisata seperti Puncak Guha, Pantai Cicalobak, Pantai Kareng Tepas, Pantai Cimari, dll. Sekitar pukul setengah 8 malam, kami sampai di pertigaan Pantai Santolo, dari sana perjalanan hanya sekitar 5 menit ke pertigaan Pantai Sayang Heulang.

Screen Shot 2016-05-05 at 8.02.04 PM.png
Gerbang menuju pantai Sayang Heulang

Tapi karena perut kosong, kami tidak langsung menuju pantai, kami singgah dulu di rumah makan Cilauteureun yang berada sekitar 10 meter dari pertigaan Sayang Heulang. Tempat makan ini sangat recommended karena rasanya enak, harganya juga terhitung murah, 2 porsi cumi masak (1 porsi 25rb), 1 ayam kampung goreng (harganya lupa berapa, kaget juga sama ukurannya karena biasanya ayam kampung kecil-kecil ini gede banget, mungkin 1.5x ayam goreng KF*C), 5 es gelas es teh manis, dan nasi untuk 5 orang cuma 90rb!

DSC03896

Setelah makan, kami langsung menuju penginapan yang berjarak sekitar 3 km dari jalan raya, dari hasil browsing selama perjalanan, pilihan jatuh ke penginapan Karang Laut, 1 kamar dengan ukuran sekitar 4x5m dengan fasilitas 2 kasur, kamar mandi dalam dan AC dibandrol Rp. 450rb, untungnya tersisa 1 kamar yang langsung kami sewa.

Penginapannya cukup bersih, namun waktu di kamar sinyal seluler nyaris nihil, akibatnya hampir semuanya mati kutu. Tidak banyak yang kami lakukan saat itu, Pories langsung tidur, Saya, Wahyu dan Arief sempat bermain kartu beberapa game. Sampai sekitar jam setengah 10 malam saat kami tiduran, tiba-tiba saya merasakan kasur bergoyang, spontan yang lain juga saling tatap, saya lihat botol air eh kok goyang juga. Saya coba keluar kamar, pohon-pohon juga bergoyang, keadaan ini berlangsung kurang lebih 15 detik. Saya dan Pories bergegas ke pantai untuk melihat apakah ada tanda-tanda tsunami, sekalian cari sinyal dan informasi dari BMKG. Rupanya memang gempa berkekuatan 6.1 SR dengan episentrum 101km barat daya Garut. Beberapa pengunjung terlihat bergegas memakai kendaraan untuk evakuasi, sementara warga sendiri tidak terlihat beraktivitas. Setelah memastikan tidak ada potensi tsunami, kami kembali ke kamar, lalu langsung terlelap. Saya sendiri niatnya klo beneran tsunami sih mau lari ke menara pengawas yang ada di dekat tugu elang. Untungnya ga beneran tsunami, karena saat besoknya saya cek, tangga di menara pengawas sekarang sudah raib …

DSC03891

7 April 2016

Sekitar jam 3 pagi saya terbangun, niatnya mau hunting milkyway, tapi mata masih ngantuk, merem bentar tau-taunya udah jam 4 -_- Kebetulan Wahyu sudah bangun juga, jadi saya ajak temenin aja, takut kenapa-kenapa :p Niatnya sih mau motret jembatan Santolo ini, cuma dari penginapan ternyata jauh dan ga akan sempet -_-

882559_727583550591303_1283746556_o
(arsip) Jembatan pulau Santolo, terakhir sih rusak parah jadi ga bisa dilalui (sabotase? :p)

Nah, akhirnya cuma motret di reruntuhan warung yang ada di sepanjang jalan pantai. Untuk menentukan posisi milkyway selain dengan pengamatan langsung (di tempat yang polusi cahayanya rendah seperti di pedesaan, pantai yang sepi atau gunung, milkyway bisa terlihat jelas), saya menggunakan aplikasi di smartphone seperti stellarium atau google sky. Untuk pemotretan, saya menggunakan Sony Nex-6 dengan lensa Samyang 12mm (ekivalen 16mm di APS-C) di bukaan 2.0, ISO 1600, shutter speed 20-25 (mengikuti aturan 500/focal length lensa). Saat itu posisi milkyway melintang dari arah selatan ke utara. Hasilnya … Subhanallah …

DSC03804
Aku disini, dan kau di sana, kita memandang langit yang sama, jauh di mata, jauh dari mana-mana juga …
DSC03819
Milkyway over stall ruin
DSC03818-2
Paling enak klo ronda, pemandangannya kaya gini, bukannya jaga, malah foto-foto, ckckck

Ah, subuh berlalu sangat cepat, adzan subuh bergaung bersahutan, warga juga sudah mulai beraktivitas. Langit mulai berubah kebiruan, jadi saya bergegas kembali ke penginapan untuk sholat subuh. Usai solat, saya sempet main kartu 1 game, lepas itu ngajak yang lain untuk mengejar sunrise di pantai. Oya pantai Sayang Heulang ini terdiri dari pasir kecoklatan yang cukup halus, dilanjutkan dengan hamparan dataran karang yang menjorok kurang lebih 500m ke arah laut, airnya tenang dan dangkal, sementara ombak pecak di penghujung karang, jadi cukup aman untuk tempat bermain anak-anak. Di dalam karang juga terdapat ikan-ikan kecil yang terperangkap (hati-hati juga ada ular laut) yang biasanya dimanfaatkan nelayan.

Sekitar pukul 6 pagi, matahari terbit di ufuk timur, saya ga punya lensa tele jadi pakai lensa kit untuk memotret. Saat itu matahari terbit berbentuk bulat sempurna dan memancarkan warna jingga yang cantik.

DSC03859
Man of Still
DSC03863
pose andalan, pardon my calf 😉

Setelah foto-foto rasanya kok kepala agak berat, rebahan dikit di pasir, tau-tau ketiduran setengah jam. Matahari rasanya naik cukup cepat, tidak terasa panasnya mulai menusuk. Saya langsung pulang ke penginapan, mandi, repack, rencananya kami sarapan di rumah makan Cilauteureun lagi. Sekitar pukul 9 pagi, kami check out dari penginapan menuju rumah makan. Siang hari akan terlihat pemandangan perkebunan dan persawahan sepanjang gerbang pantai ke jalan raya Cilauteureun. Kalau memakai kendaraan umum sepertinya sih perlu naik ojek dari jalan raya.

DSC03892
Suasana jalan dari/menuju pantai Sayang Heulang
DSC03908
ada sawah juga

Di rumah makan Cilauteureun, kami memesan nasi rames dengan sayur, ati ampela dan pepes ikan, total sekitar 70rb untuk 5 orang. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke obyek wisata berikutnya : Pantai Cipatujah & Body Rafting di Citumang. Tunggu catatan perjalanan berikutnya ya, semoga belum bosan 😉

Cost Damage :

  • isi bensin : Rp. 200rb
  • tiket : Rp. 3rb/orang (waktu jalan-jalan sebelumnya)
  • penginapan : Rp. 450rb
  • makan : Rp. 90rb (malam), Rp. 70rb (pagi)

DSC03899

Iklan