6 Gunung Gemes Untuk Alternatif Wisata Liburan di Bandung (#RedSummerHoliday BLOG CONTEST)

Kalau sudah bicara liburan di kota Bandung, apalagi yang kepikiran selain wisata kuliner, shopping dan taman-taman kekinian, ya kan? Tapi, jangan salah, di sekitaran Kota Bandung, kita dapat menemui banyak objek wisata alam yang sayang dilewatkan terutama kamu yang mencintai olahraga outdoor, salah satunya wisata pendakian gunung. Nah, kalau bicara gunung di Bandung, gunung apa yang kebayang? Tangkuban Perahu jelas. Yup, Gunung Tangkuban Perahu dengan legenda Sangkuriangnya sudah sangat mahsyur di telinga wisatawan lokal maupun mancanegara. Tapi, ternyata ga cuma Tangkuban Perahu loh gunung yang ada di Bandung, menurut catatan salah satu komunitas pegiat pendakian gunung-gunung Bandung, terdapat sekitar 500 tempat yang bisa dikategorikan sebagai gunung. Tidak semua gunung tersebut sudah atau bisa didaki, namun berikut 6 gunung Bandung yang sudah familiar di kalangan pendaki, dan hampir semuanya bisa didaki dalam 1 hari/tektok saja.

Gunung Manglayang

DSC01097
Camp area di Puncak Manglayang

Di list pertama gunung Bandung adalah Gunung Manglayang. Gunung dengan ketinggian sekitar 1818 Mdpl ini berada di daerah Cileunyi, perbatasan antara Kota Bandung dan Kabupaten Sumedang. Berjarak sekitar 25 km dari stasiun Bandung, gunung ini mungkin salah satu gunung yang paling sering dikunjungi para pendaki lokal maupun luar kota. Terdapat 2 basecamp utama yang dapat dijadikan titik awal untuk mencapai puncak : Batu Kuda (paling populer) dan Kiara Payung. Untuk mencapai puncak dari basecamp Batu Kuda memerlukan waktu sekitar 3 jam dengan trek yang cukup bersahabat. Sumber air, Mushola, WC dan warung-warung tersedia di basecamp, kalau tidak berminat mendaki ke puncak, kita juga bisa camping ceria di hutan pinus sekitar basecamp. Puncak Manglayang tersedia lapangan untuk berkemah yang cukup luas, namun karena puncakannya tertutup pepohonan yang cukup rapat, kita hanya bisa melihat view Kota Bandung dan Sumedang di jalur sebelum puncak dan daerah Puncak Bayangan.

Gunung Burangrang

DSC09855
Puncak Gunung Burangrang dan Situ Lembang

Merujuk ke legenda Sangkuriang, Perahu yang ditendang Sangkuriang konon menjadi gunung Tangkuban Perahu, tunggul (bekas pohon) yang ditebang menjadi gunung Bukit Tunggul sedangkan ranting, batang dan daunnya menjadi Gunung Burangrang, mungkin karena dari kejauhan Burangrang sendiri terlihat seperti gerigi (Baranco). Gunung Burangrang dengan tinggi puncaknya 2065 mdpl secara administratif berada di antara 2 kabupaten : Bandung Barat & Purwakarta. Di sisi utaranya adalah Gunung Tangkuban Perahu.  Gunung Burangrang adalah gunung parasit sisa letusan gunung Sunda purba yang meletus kira-kira 105000 tahun yang lalu. Untuk mencapai puncak gunung ini dari arah kota Bandung, kita bisa melalui basecamp Legok Haji yang berada di daerah Cimahi yang dapat ditempuh sekitar 1 jam dari pusat kota. Dari basecamp Legok Haji memerlukan waktu sekitar 2-3 jam untuk mencapai puncaknya. Yang menarik dari gunung Burangrang adalah kita bisa melihat hampir 360º pemandangan ke arah kota Bandung, kabupaten Bandung, Cimahi dan Purwakarta. Dari puncak kita juga bisa melihat Situ Lembang yang merupakan bagian dari kaldera sisa letusan gunung Bandung Purba yang meletus ribuan tahun yang lalu.

Gunung Putri

wp-1502709067224.
Gunung Putri Lembang saat pagi hari

Berikutnya adalah objek wisata alam gunung yang akhir-akhir ini nge-hits yakni Gunung Putri di daerah Lembang. Saat ini dikenal juga dengan dengan Geger Bintang Matahari. Berada di kawasan daerah wisata Lembang berjarak sekitar 2 jam dari kota Bandung, gunung dengan ketinggian 1587 mdpl ini menawarkan panorama kota Lembang dan sekitarnya. Pemandangan paling indah tentunya saat sunrise dan sunset. Ketika pagi hari kabut menyelimuti kota di kaki gunung makin menampilkan pemandangan yang selalu dirindukan para pendaki. Tidak memerlukan waktu lama mendaki puncak gunung putri ini, hanya sekitar 30-45 menit kita sudah sampai di puncak yang ditandai dengan tugu Sespim. Fasilitas umum seperti toilet, tempat parkir, warung,  pun penyewaan alat-alat outdoor tersedia di basecamp. Di area camp kita bisa memilih mendirikan tenda juga mendirikan hammock karena terdapat hutan pinus. Selain panorama puncak, kita juga bisa berwisata sejarah karena di sekitar puncak juga terdapat benteng/gedung peninggalan Jepang yang kondisinya cukup terawat. Di beberapa tempat juga tersedia spot foto yang nge-hits seperti pohon pinus bengkok.

Gunung Wayang

DSC01931
View Gunung Wayang ke PLTP Wayang Windu

Gunung ini mungkin tidak terlalu terkenal, namun gunung dengan ketinggian 2241 mdpl ini memiliki trek yang unik karena memiliki trek semi panjat tebing yang membutuhkan peralatan pengaman. Gunung Wayang terletak di desa Kertasari, Pangalengan, kabupaten Bandung, sekitar 2 jam perjalanan dari pusat kota Bandung. Belum ada basecamp resmi sebagai titik awal pendakian, tapi umumnya para pendaki menggunakan jalur perkebunan Kertamanah, dekat dengan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Wayang Windu. Perjalanan menuju titik awal pendakian sangat indah karena kita akan melewati perkebunan teh yang sangat luas. Dari titik awal pendakian kita akan melewati perkebunan warga, kawah Wayang, Batu Wayang, lalu setelah berjalan kurang lebih 3-4 jam kita sampai di puncak Wayang yang cukup menampung 3-4 tenda. Dari puncak dapat terlihat kepulan uap dari PLTP Wayang-Windu, perkebunan teh, kota Pangalengan dan komplek pegunungan sekitar gunung Wayang. Nah, lepas dari gunung Wayang jika masih ada waktu dan tenaga kita bisa mencicipi susu murni Pangalengan dan menikmati kesejukan Situ Cileunca.

Gunung Puntang

32561740405_bb2519c508_o
Panorama puncak Mega Puntang

Masih di selatan kota Bandung, terdapat Gunung Puntang yang berada dalam kompleks pegunungan Malabar. Selama ini gunung Puntang dikenal dengan cerita mistisnya seperti hantu tentara Jepang dan Noni Belanda, belum lagi Curug Siliwangi yang erat kaitannya dengan tempat moksa-nya Prabu Siliwangi. Namun gunung dengan ketinggian puncak 2223 mdpl ini sebenarnya memiliki pemandangan yang tidak kalah cantik. Dari puncak kita bisa melihat panorama kota Bandung dan komplek pergunungan di sebelah utara dan tetangganya gunung Malabar. Apalagi saat kabut menyelimuti kota membentuk lautan awan. Untuk mencapai puncak Puntang yang dinamakan puncak Mega, titik awal pendakian ada di pos bumi perkemahan gunung Puntang atau lewat sekretariat PGPI. Perjalanan ke puncak total membutuhkan waktu sekitar 6-7 jam, namun biasanya ada juga yang camp di pos 2 sebelum dini harinya menuju puncak. Setelah lelah menggapai puncak, sempatkanlah mandi di sungai berair jernih dan segar yang berada di sekitar area perkemahan Puntang.

Gunung Artapela

DSC01834
Trek Artapela

Satu lagi gunung Bandung yang jadi primadona para pendaki akhir-akhir ini adalah gunung Artapela. Berlokasi di daerah Pacet Argasari, sekitar 2 jam dari kota Bandung, gunung ini menawarkan pemandangan dari ketinggian yang tidak kalah cantik. Dengan ketinggian + 2194 mdpl, trek yang harus dilalui pendaki terhitung sangat bersahabat. Dibutuhkan waktu sekitar 3 jam dari basecamp yang dikelola warga hingga puncaknya. Selama menuju puncak yang dinamakan puncak Sulibra, kita akan dijamu dengan pemandangan perkebunan sayur-sayuran dari kaki gunung sampai ke puncak, tak heran jalur pendakian. Para pendaki biasanya memilih berkemah di puncak Sulibra yang bisa menampung puluhan tenda. Jika cuaca cerah, kita bisa melihat kompleks pegunungan sekitar Bandung dan pemandangan kota Bandung. Yang perlu diperhatikan dari gunung ini adalah sepanjang jalur hampir tidak ada tempat untuk berteduh, jadi paling baik berangkat pagi sekali, atau sekalian sore atau malam.

Sekian 6 gunung Bandung yang bisa jadi alternatif tujuan wisata di sekitar kota Bandung, terutama untuk para pecandu ketinggian. Selesai menitipkan rindu di puncak-puncak gunung Bandung, kita masih bisa meluangkan waktu untuk melanjutkan wisata kuliner atau beli oleh-oleh di pusat kota. Nah, untuk mencari referensi tempat wisata, ragam makanan, tempat menginap dan tips-tips travelling yang menarik, baik di Bandung, maupun kota-kota lainnya, teman-teman bisa cek blog.reddoorz.com loh. Terakhir, kabar-kabarin aja klo mau main di Bandung, terutama ke gunung-gunungnya, siapa tahu waktu dan tempatnya cocok 😉

Iklan

Catatan Pendakian Gunung Ceremai : Perjalanan Dadakan Yang Gurih-Gurih Nyoyyy

You don’t climb mountains without a team, you don’t climb mountains without being fit, you don’t climb mountains without being prepared and you don’t climb mountains without balancing the risks and rewards. And you never climb a mountain on accident – it has to be intentional.

Mark Udall

Halo halo, sudah cukup lama tidak update blog ini, mungkin karena bertepatan dengan bulan Ramadhan, jadi tidak banyak aktivitas yang bisa diceritakan. Alhasil, saya coba update tulisan yang sudah lumayan lama jadi draft, untung ga jamuran juga 😀

Jadi, perjalanan yang saya ceritakan sekarang, terjadi sekitar 2 bulan lalu. Bermula dari pesan Pak Firman di salah satu grup whatsapp di hari rabu pagi 20 April 2016:

PF = Pak Firman

AS = saya

PF : Ada yang mau ikut ke Ceremai via kuningan? sekalian nganter barang, transport gratis!

AS : (kata-kata gratis adalah clickbait yang sering sukses memancing otak saya menentukan keputusan) Bentar pak, ijin bos dulu. (lanjut nelpon bos)

5 menit kemudian

AS : Hayu pak, udah diijinin >.<

Jadi sederhana saja, perjalanan ke Atap tertinggi Jawa Barat itu terjadi begitu saja, setelah saya mendengar kata-kata gratis -_- FYI, sebenarnya nama gunungnya adalah Ceremai, cuma sering salah kaprah jadi Ciremai, tapi klo di tulisan ini disebut Ceremai/Ciremai mohon dimaafkan ya 😉

Bulan April itu memang tidak ada agenda naik gunung kemanapun, mengingat bulan depannya ada agenda ke gunung lain. Jadi hampir tanpa persiapan/pemanasan. Tapi siang itu, setelah pamitan ke ortu, packing secukupnya (kali ini bawaannya ga rempong, karena tenda sudah dibawa yang lain), berangkatlah saya ke Cibiru untuk berkumpul dengan 2 teman lain yang sudah menunggu : Pak Firman, Mang Mbok. Belakangan ditambah sama Mang Derul yang menyusul di Padalarang, kebetulan memang kita akan ke Kuningan lewat Tol Cipali yang tersohor. Setelah sholat Dzuhur dan di-Jama’, kami pun berangkat ke Kuningan menggunakan mobil Gran Max pak Firman. Rencananya kami akan mengantarkan barang pesanan dulu ke daerah Cirebon, lanjut ke Ciremai lewat jalur Linggasana.

Karena kami berangkat di hari kerja, jalanan sangat lengang, bahkan di segmen jalan tol Cipali sepanjang + 115km hanya ditemui beberapa mobil saja. Jalan tol Cipali mulai dari gerbang tol Cikampek hingga Palimanan sukses dilalui sekitar 50 menit saja :)) Kami sampai di Kuningan sekitar pukul 4 sore. Setelah mengantarkan barang, kami lanjut makan siang sore sekalian cari logistik di kota.

FYI, jalur Linggasana ini memang jalur yang relatif baru. Letaknya tidak terlalu jauh dari jalur Linggarjati yang sudah ada sejak lama. Di pos tertentu bahkan jalurnya akan saling berpapasan. Beberapa perbedaannya, jika dari jalur Linggarjati dimulai dari ketinggian 600 mdpl, nah pendakian lewat Linggasana dimulai dari ketinggian 700 mdpl, ya lumayan lah. Selain itu pos pendakian Linggasana buka 24 jam jadi kita bebas naik jam berapapun. Sejauh ini juga tidak ada batasan berapa banyak pendaki yang boleh naik bersamaan. Pun kalau berangkat cuma 2 orang masih diperbolehkan. Beda dengan pos pendakian Linggarjati. Kami sampai di Linggasana sekitar pukul 7 malam, saat itu hujan mengguyur sangat deras, kami bahkan ragu untuk melanjutkan. Tidak lama kami sampai di basecamp (BC) Linggasana. BC Linggasana termasuk salah satu basecamp yang cukup bagus fasilitasnya, terdapat tempat mandi, toilet, mushola, warung dan parkiran yang luas, kondisinya pun masih sangat bagus, ya mungkin karena baru beberapa bulan dibangun.

Selain menggunakan kendaraan pribadi, dari Bandung kita bisa naik kereta ke stasion Cirebon dengan ongkos 80rb, lanjut angkot ke terminal Cirebon 5rb, terakhir naik angkutan umum (elf/bus) arah Kuningan dari Terminal Cirebon dengan ongkos 15rb sampai pertigaan Indomaret-Linggasana, bilang saja ke supir/kernetnya mau ke basecamp Linggarjati/Linggasana. Dari pertigaan Linggasana bisa menggunakan ojek dengan tarif 10-15rb. Kadang-kadang supir/kernet elfnya juga mau mengantarkan kita dengan tambahan ongkos 15rb sampai basecamp Linggasana yang berjarak sekitar 10 menit. Tapi sebelum beneran diantarkan, minta kernet untuk meminta restu dari penumpang yang ada supaya dibolehkan nganter ke basecamp, kalau engga, bisa ada perang sipil di elf, trust me it happened :v Alternatif lain sih bisa langsung naik travel/DAMRI Bandung-Kuningan.

Oya, sampai di basecamp, kami langsung disambut oleh Kang Pen sebagai koordinator jalur pendakian Ciremai via Linggasana dengan seteko teh manis panas. Lepas men-jama’ sholat Magrib dan Isya, kami sempat mengobrol sekaligus registrasi. Di semua jalur pendakian Ciremai dikenakan biaya SIMAKSI sebesar 50rb/orang. Khusus di jalur Linggasana, tarif 50rb ini sudah termasuk SIMAKSI, teh manis panas, sertifikat (yang nama di sertifikatnya ditulis sendiri) dan paket makan saat turun gunung nanti. Saat registrasi kita hanya perlu menitipkan 1 KTP perwakilan kelompok dan menuliskan nama anggota dan nomor telepon yang bisa dikontak. Urusan registrasi selesai, selanjutnya bismillah, la hawla wa la quwwata illa billah.

jalur pendakian ciremai linggasan.jpg
Peta Jalur Pendakian Gunung Ciremai via Linggasana

Catatan : Jalur Linggasana ini memiliki 2 pilihan jalur, jalur lama dan jalur baru. Lihat di peta jalur di atas, jalur baru adalah dari (sebelum) Kondang amis, alih-alih melalui Kuburan Kuda, kita akan melewati Ciwalengas – Buana Sari. Sementara jalur lama tetap melalui Kuburan Kuda-Tanjakan Bapa Tere. Jalur lama dan baru akan kembali di Batu Lingga, tepatnya di Tanjakan Tarawangsa. Saat pendakian pertama ke Ciremai via Linggasana ini, jalur baru belum resmi digunakan, tapi waktu kedua kalinya (bulan Juli 2016) saya coba menggunakan jalur baru, bedanya? tunggu akhir tulisan ini :p

Rabu, 20 April 2016

Tepat pukul 20.00 WIB, kami berangkat dari basecamp Linggasana, setelah berdoa bersama, ditemani bulan purnama dan lembabnya tanah selepas hujan, kami berangkat melalui jalur lama Linggasana. FYI, jalur pendakian Ciremai via Linggasana/Linggarjati ini termasuk susah mendapatkan mata air, kalaupun ada musiman. Di grup saya, setiap orang membawa air minum sebanyak 4 x 1.5 liter. Jalur pendakian dimulai dari gerbang Linggasana di bawah tower sutet yang menjadi penanda yang cukup mencolok. Jalur awal ini kami melalui hutan pinus, jalanan makadam, kami juga sempat melewati makam Keramat. Setelah kurang lebih 1 jam, kita akan keluar dari hutan pinus dan sampai di Pos Pangbadakan. Penanda pos ini adalah beberapa tempat lesehan dari bambu yang menghadap kota Cirebon/Kuningan. Di sekitar Pangbadakan ini terdapat area untuk mendirikan tenda sekitar 2-3 tenda.

Kami melanjutkan perjalanan ke pos Kondang/Condang Amis yang berjarak sekitar 45 menit dari Pangbadakan. Sekitar 10 menit sebelum pos Kondang Amis terdapat percabangan jalur lama dan baru. Di pos Kondang Amis ini terdapat sebuah bangunan shelter yang bisa digunakan untuk istirahat, bahkan mendirikan 1 tenda. Saat itu kami istirahat sekitar 10 menit, Pak Firman yang memang kurang fit, saat itu nampak sudah kepayahan. Oya, perlu dicatat dari basecamp Linggasana ini treknya relatif datar, dengan gradien dari ketinggian 700 m sampai 1350 m menandakan jalur ini lumaaayan panjang. Belakangan saat turun ke basecamp, bwt saya trek awal ini justru paling melelahkan (rasanya basecamp udah deket, ternyata masih lama).

photo247343692404337223
Shelter di Pos Kondang Amis

Target awal kami tadinya bisa mencapai pos Pangalap malam itu juga, namun kondisi anggota kelompok harus selalu dipertimbangkan. Sekitar 30 menit berikutnya sebelum sampai di pos Kuburan Kuda, Pak Firman sudah tidak kuat melanjutkan, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di samping jalur yang agak miring tapi cukup luas.

Menu sederhana seperti mie instan, telur dan secangkir coklat panas menemani kami melewati malam yang cukup hangat saat itu. Setelah makan, saya pun terlelap dalam keheningan malam #tsah.

Kamis, 21 April 2016

Pagi itu saya bangun hampir kesiangan solat subuh, sebagian teman yang lain sudah terjaga, Kang Mbok malah sudah siap-siap memasak untuk sarapan. Rencana hari ini kami berangkat pukul 8 pagi dengan target pos Batu Lingga atau Sanggabuana 1 supaya tidak terlalu jauh dari Puncak. Saat pagi baru terlihat kondisi hutan di sekitar tenda yang masih rimbun. Sambil menunggu nasi siap, Kang Mbok dan Kang Derul malah sempat membuat hammock. Setelah repacking, maka jam 8 kami melanjutkan perjalanan.

DSC04214

Enaknya treking pagi-pagi adalah kondisi badan masih sangat fit, udara juga sangat segar. Hanya sekali kami menjumpai rombongan pendaki yang naik, karena hari itu memang hari kerja. Tidak jauh dari tempat kami ngecamp semalam, sekitar 15 menit kami sudah sampai di Pos Kandang Kuda. Di pos ini terdapat beberapa lahan datar yang cukup luas untuk berkemah. Konon (jangan dibalik), nama pos ini diambil dari lokasi penguburan kuda-kuda pada masa penjajahan Jepang yang digunakan untuk mengontrol perkebunan kopi yang saat ini memang ada di lereng gunung Ciremai. Secara kasat mata sih tidak terlihat jejak kuburannya, tapi katanya lokasinya ada di sebelah barat jalur pendakian. Kabarnya lagi, para pendaki yang ‘beruntung’ bisa mendengar ringkihan kuda-kuda ini :S

DSC04223
Salah satu sudut di pos Kuburan Kuda, klo beneran sebelah barat jalur sih daerah sini, hati-hati waktu ‘ngegali’ disini, hiii …

Lanjut ke pos berikutnya, treknya masih sama, tanjakan tanpa bonus. Setelah berjalan kurang lebih 45 menit, kami sampai di lapangan yang cukup luas dengan sebuah pohon besar di tengah-tengah lapangan. Dahulu tempat ini dinamakan Pos Pangalap, namun di plang nama lain di tempat sama, pos ini juga dinamakan pos Pamerangan. Menurut saya pos ini adalah pos berkemah paling luas. Saat datang ke sini saya menemui 1 rombongan pendaki yang baru turun. Dari balik rimbun pepohonan ini, saya juga sempat melihat pucuk puncak Gunung Slamet di Jawa tengah dari kejauhan.

 

Kami beristirahat sekitar 10 menit lalu melanjutkan perjalanan ke titik pendakian berikutnya : Tanjakan Sareuni/Seruni. Sebelum Tanjakan Seruni sebenarnya ada tanjakan lain yang tidak nampak di peta yakni Tanjakan Bingbin. Tanjakan Bingbin adalah tanjakan pemanasan sebelum Tanjakan Seruni, ditandai dengan plang nama Tanjakan Bingbin,  treknya berupa jalan tanah agak gembur yang menurut saya ga terjal-terjal amat, tapi kalau sudah diguyur hujan bakal sangat licin. Di beberapa tempat terdapat batang tetumbuhan yang bisa digunakan sebagai pegangan. Hanya tetap berhati-hati karena juga terdapat tetumbuhan berduri di jalur pendakian.

DSC04243

Kami sampai di Tanjakan Seruni/Sareuni sekitar 1 jam dari Pangalap. Pos tanjakan Seruni ini ditandai dengan 1 pohon yang terkapar dan bekas tebangan pohon dengan plang nama Tanjakan Seruni dan tanah lapang yang bisa digunakan 2-3 tenda. Kami sempat istirahat beberapa saat sebelum melanjutkan pendakian.

DSC04252

Nah dari pos Tanjakan Seruni ini, sepertinya baru ada pemindahan jalur karena menurut pak Firman, ditandai dengan semak-semak yang sengaja digunakan untuk menutup jalur lama, mungkin karena longsor atau jalurnya terlalu berbahaya dilalui. Jadilah kami melalui jalur yang agak memutar. Jalurnya terlihat masih gembur, bekas hujan di malam hari kemarin membuat tanah di beberapa tempat sangat licin. Setelah berjalan kurang lebih 1 jam, akhirnya kami bertemu dengan tanjakan yang legendaris : Tanjakan Bapa Tere.

 

1-10
Tanjakan Bapa Tere, somehow saya ga punya foto di tanjakan ini, padahal di tanjakan lain ada O_o (sumber foto : http://dailyvoyagers.com/blog/2016/04/09/himbauan-dan-larangan-pendakian-gunung-ceremai-via-linggarjati/)

Tanjakan Bapa Tere ini adalah tebing dengan kemiringan sekitar 80 derajat, dimana kita harus melalui akar-akar pohon untuk sampai ke atasnya. Sebenarnya terdapat jalur menyamping sehingga tidak harus meniti akar-akar pohon ini. Pun terdapat webbing yang bisa digunakan pendaki. Tapi menurut saya tanjakan Bapa Tere ini tidak terlalu menyeramkan, walaupun tinggi tetapi jaraknya pendek, tapi bukan berarti menyepelekan ya, waspada tetap harus, apalagi kalau bawa kulkas full loaded. Oya, konon tanjakan Bapa Tere ini diambil dari kejadian seorang bapa yang mengajak anak tirinya naik Ciremai, lalu dibunuh di tempat ini, well Wallahu a’lam.

Lepas dari tanjakan Bapa Tere ini, bisa istirahat sebentar di dataran sekitar yang bisa digunakan berkemah untuk 1 tenda, karena tanjakan berikutnya masih menunggu. Tidak lama dari tanjakan Bapa Tere ini, mungkin sekitar 10 menit, kita akan sampai di persimpangan antara jalur lama dan jalur baru via Linggasana/Linggarjati. Sampai sini, pak Firman kembali mengeluhkan kondisi badannya, saya dan kang Mbok diminta untuk mencari daerah lapang terdekat sebelum pos Batu Lingga untuk tempat berkemah, kebetulan jaraknya sekitar 5 menit dari titik istirahat terakhir. Tempat ini mungkin bisa digunakan untuk 2 tenda. Kami sampai di tempat kemah ini sekitar pukul setengah 2 siang. Setelah memasak sebungkus mie goreng, saya terlelap di pelukan hammock yang dibuat kang Mbok di depan tenda. Sore itu tidak ada rencana apa-apa selain istirahat menunggu summit nanti pagi, hingga malam menjelang. Setelah briefing singkat soal kapan kami summit, saya pun terlelap dalam belaian angin malam, sampai lupa kalau hari itu malam jum’at :s

Jum’at, 22 April 2016

Wwwugg… Suara melengking yang singkat, padat dan sumber suaranya rasanya cukup dekat itu sukses membangunkan saya dan teman-teman lain di dalam tenda. Itu terjadi sekitar pukul setengah 1 malam. Kami pun berspekulasi suara apakah itu, saya dan pak Firman juga sempet deg-degan, takutnya suara binatang buas. Belakangan suaranya mirip suara babi hutan jantan yang jejaknya sempat kami lihat siang kemarin. Hujan juga sempat turun hingga waktu rencana kami summit pukul setengah 2 pagi.

Kami memutuskan summit sambil menembus hujan yang masih turun berbekal jas hujan dan perlengkapan secukupnya. Setelah berdoa, setengah 2 pagi itu kami berangkat summit. Nikmat rasanya mendaki tanpa membawa keril yang berat, seperti melayang #bukansombong. Ternyata setelah 15 menit berjalan kami sudah sampai di pos Batu Lingga, yang kebetulan ditempat 2 tenda. Karena masih hujan, saya tidak sempat foto-foto, sebenarnya bawa action cam, cuma filenya entah kemana 😦 Tidak beristirahat di Batu Lingga, kami teruskan perjalanan ke pos berikutnya yakni pos Sanggabuana 1 yang berjarak sekitar 30 menit. Di pos ini kami istirahat cukup lama, terutama karena kondisi pak Firman. Di pos Sanggabuana 1 ini tempatnya cukup luas untuk 3-4 tenda. Masih diguyur gerimis, saya coba menggerak-gerakkan badan supaya badan selalu hangat. Dari pos Sanggabuana 1 ke Sanggabuana 2 sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi karena istirahat cukup lama, kami membutuhkan waktu 1 jam.

Di pos Sanggabuana 2 juga terdapat tempat cukup luas untuk 4-5 tenda dan terlindung oleh pepohonan. Berikutnya mulai dari pos Sanggabuana 2 ke pos Pangasinan, trek mulai berbeda karena kita melalui jalanan bebatuan. Butuh konsentrasi cukup untuk melalui trek dengan kemiringan hingga 70° ini, salah-salah bebatuan bisa menggelinding ke rekan kita di bawah. Di beberapa tempat kita juga harus melalui tanah yang licin setelah diguyur hujan. Butuh 1 jam perjalanan dari pos Sanggabuana 2 ke pos Pangasinan, waktu di tanjakan bebatuan kita juga sempat istirahat lumayan lama. Alhamdulillah ketika sampai di pos Pangasinan ini hujan sudah berhenti. Di kejauhan juga mulai terlihat awan yang mengarak :3

DSC04265
Yup, yang di belakang itu puncak Ceremai, bentar lagi (katanya)

Di pos Pangasinan ini terdapat tempat yang cukup untuk sekitar 5 tenda, namun kebanyakan daerah terbuka yang langsung kena paparan angin gunung. Tapi menurut saya sih ini tempat camp dengan view terbaik dan lokasinya paling dekat dengan puncak. Kami sampai di Pangasinan pukul 4.15, karena adzan subuh belum berkumandang, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan, karena konon dari Pangasinan ke puncak hanya 30 menit. Tapi ternyata, sampai pukul 5 juga belum sampe-sampe, akhirnya kami solat subuh sebisa-bisanya di tempat yang memungkinkan. Oya, di sekitar perjalanan akan ditemui banyak pohon Edelweis, diantaranya masih kecil-kecil. Selain itu juga ditemukan bekas pepohonan yang terbakar pada periode kebakaran hutan sebelumnya. Perjalanan ke puncak sendiri kita harus melalui celah-celah tanah dan batuan.

Alhamdulillah sekitar pukul 5.30 kami sampai di puncai Ceremai. Saya menjadi orang pertama yang mencapai puncak, dan sepertinya tim kami yang pertama hari itu yang summit, jadi puncaknya masih kosong :O Tidak beberapa lama kawan-kawan lain menyusul sampai di puncak.

Rembulan sempat terlihat terbenam di puncak Ceremai, di arah kota Cirebon dan Kuningan saya melihat kawanan awan yang mengarak. Rasanya sudah lama saya tidak mendapatkan view lautan awan seperti ini.

Syukur alhamdulillah kami panjatkan saat itu, karena dengan persiapan yang minim kami diizinkan Allah menggapai puncak atap Jawa Barat ini. Waktu itu view sunrisenya mungkin kurang sempurna karena matahari masih saja bersembunyi di balik awan. Tapi semakin siang, pemandangan lautan awan malah semakin menakjubkan. Kami pun beruntung bisa melihat puncak Gunung Slamet dari kejauhan. Konon Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing juga bisa terlihat dari puncak Ceremai ini.

Sementara pemandangan ke tengah puncak Ceremai ini juga tidak kalah menakjubkan yakni kaldera kawah ceremai dengan diameter hingga 1 km. Kawah Ceremai terdiri dari 2 kawah, kawah barat dan kawah timur. Di kawah timur ini kita bisa melihat danau genangan hujan yang tertampung di kawah serta vegetasi khas puncak.

Lama-lama berada di puncak ini saya pun kedinginan, apalagi matahari juga tak kunjung muncul, kami pun sempat memasak mie instan dan minuman hangat untuk mengisi perut dan mengusir dingin. Semakin siang, lautan awan tidak kunjung berhenti, kalau sudah ada lautan awan ini rasanya malas sekali turun, kalo ngga inget yang di rumah mungkin pengen extend :3

Setelah 1.5 jam berada di puncak, pukul 7 pagi kami beranjak turun ke tenda kami. Kami pun bertemu dengan pendaki-pendaki lain yang akan summit. Perjalanan ke tempat camp kedua kami ternyata tidak begitu lama, sekitar 2 jam, itu pun sudah termasuk waktu ‘setoran’ di semak-semak tadi. Jam 9 kami sampai di tenda, niatnya kami akan pulang cepat, namun hujan kembali turun, akhirnya setelah masak kami pun ketiduran sampai pukul 11. Setelah agak reda, kami langsung packing dan meluncur ke basecamp Linggasana. Kondisi trek yang licin karena diguyur hujan membuat perjalanan turun tidak mudah karena harus selalu berhati-hati, tak jarang saya tergelincir. Akhirnya setelah perjalanan turun sekitar 5.5 jam, kami sampai di basecamp pukul 16.30. Rasanya kaki ini sudah mau copot, apalagi trek dari Condang Amis ke basecamp itu yang sedianya estimasinya cuma setengah jam, menjadi 1.5 jam entah kenapa rasanya kok trek itu panjang bener. Apalagi dari kejauhan sudah terlihat tower sutet tapi kok ga sampe-sampe.

Tapi bodo amat, yang penting kami sampai di basecamp dengan selamat. Sampai di basecamp kami disambut seteko teh manis hangat dan dimasakkan mie goreng telor plus nasi (ekspektasinya sih nasi ayam goreng -_-) dan sertifikat. Setelah solat magrib dan isya, kami lanjutkan perjalanan pulang. Well, hikmah dari perjalanan ke Ceremai kali ini adalah walaupun perjalanannya terkesan dadakan, mungkin memang sudah rencana Allah kami summit waktu itu dan diberikan pemandangan yang sangat indah. Benar juga pepatah pendaki yang bilang “Tak akan lari gunung dikejar” karena “Gunung yang tepat akan mendatangi pendaki yang telah siap”. Itu …

photo247343692404337294
Salam dari Puncak Ceremai 🙂

DSC04319

DSC04389
Puncak Ceremai, 3078, asli, bukan pake fake GPS :v
DSC04453
View laut selatan
DSC04392
Pose men-strim

Info Basecamp Linggasana :

  • Pak Pen : 0823-1603-6615
  • Pak Yatna : 0857-2447-9446

Cost Damage :

  • Logistik : 50rb/orang
  • SIMAKSI : 50rb/orang
  • transportasi : gratis (dibayarin)

Resume waktu perjalanan :

  • Rabu 19 April 2016
    • 20.00 berangkat basecamp linggasana
    • 21:45 sampe condang amis
    • 22.15 sampe tempat camp malam pertama, antara condang amis-kandang kuda
  • Kamis 20 april 2016
    • 8.30 berangkat tempat camp malam pertama
    • 8.45 sampe kandang kuda
    • 9.30 sampe pangalap
    • 10.30 sampe tanjakan sareuni
    • 13.00 sampe tanjakan bapa tere
    • 13.30 sampe tempat camp malam kedua, antara tanjakan bapa tere-batu lingga
  • Jum’at 21 april 2016
    • 01.30 summit, dari tempat camp malam kedua
    • 01.45 sampe pos batu lingga
    • 02.15 sampe pos sanggabuana 1, istirahat
    • 03.15 sampe pos sanggabuana 2
    • 04.15 sampe pos pangasinan
    • 05.30 sampe puncak
    • 07.00 mulai turun dari puncak
    • 09.00 sampe tempat camp malam kedua
    • 09-11.00 nunggu hujan reda
    • 11.00 mulai turun ke basecamp
    • 14.30 sampe pos condong amis
    • 16.30 sampe basecamp linggasana

Meniti Tanjakan Tiada Akhir di Gunung Cikuray 2821 Mdpl

It’s always further than it looks.

It’s always taller than it looks.

And it’s always harder than it looks.

3 Rule of Mountaineering

Quote di atas memang sangat berlaku untuk semua perjalanan pendakian, apalagi gunung yang akan saya jelajahi kali ini. Nah, berawal dari kegagalan untuk menapaki puncak tertinggi Pulau Jawa, akhirnya saya dan teman-teman di grup Anjasss memilih menapaki puncak tertinggi Priangan Timur : Gunung Cikuray. Gunung Cikuray sendiri terletak di kabupaten Garut. Gunung dengan ketinggian +- 2818 mdpl ini dapat kita lihat jika melalui jalan antara Garut-Tasik. Gunung Cikuray di kalangan pendaki lazim dimasukkan ke dalam rangkaian gunung Paguci (Papandayan, Guntur, Cikuray) karena letaknya cukup berdekatan. Bahkan beberapa pendaki tak jarang melakukan double summit (mendaki 2 gunung sekaligus dalam 1 rangkaian pendakian, ga harus 1 hari ya).

DSC02969
Rangkaian Gunung Paguci : Cikuray (kerucut di tengah), Papandayan (paling kanan), dilihat dari gunung Guntur.

Berbekal informasi dari google dan teman-teman pendaki lain, akhir Mei 2016 itu kami berangkat menuju Garut. Nah, yang membuat saya tertarik dengan gunung ini adalah bentuk kerucutnya yang akan terlihat sangat mencolok jika kita lihat dari jalan Garut-Tasik. It made me wonder, bagaimana pesona alam dan trek pendakian gunung yang dikenal dengan trek “dengkul ketemu lutut” ini.

Untuk mencapai puncak Gunung Cikuray sendiri terdapat beberapa jalur pendakian yang lazim digunakan : Cikajang, Bayongbong, Cilawu/Pemancar. Menurut beberapa informan, jalur Cikajang adalah jalur yang paling landai dan relatif mudah dilalui, tetapi lintasannya paling panjang. Sementara jalur Bayongbong terhitung sebagai jalur yang pendek namun jalurnya paling sulit. Terakhir, yang paling sering dilalui adalah lewat jalur Cilawu via Pemancar. Di jalur Cilawu sendiri ternyata ada beberapa titik pendakian diantaranya dekat gerbang utama Perkebunan Dayeuhmanggung, Patrol, dan (yang terbaru) Kiarajenggot. Untuk jalur Dayeuhmanggung & Patrol akan bertemu di basecamp Pemancar. Jika melalui jalur Kiarajenggot tidak akan lewat Stasiun pemancar, tapi nantinya akan bertemu di jalur Pemancar di sekitar pos 6-7.

Kami memilih lewat jalur Cilawu dekat dengan gerbang utama perkebunan Dayeuhmanggung. Ini juga karena saya kurang informasi, biasanya pendaki memilih jalan lewat Patrol, karena jalannya relatif lebih bagus. Nah, jika kita menggunakan kendaraan umum dari Bandung, bisa menggunakan elf Bandung-Garut turun di terminal Guntur, sekitar Rp. 35rb, lanjut dengan angkot Guntur-Cilawu warna putih biru/abu-abu sekitar Rp. 7-10rb. Saya sendiri memakai sepeda motor (yang saya sesali belakangan).

Screen Shot 2016-06-10 at 1.48.35 AM
Persimpangan jalan utama dengan jalan perkebunan Dayeuhmanggung menuju basecamp Pemancar

Setelah menunggu teman-teman yang menggunakan angkot, selanjutnya kami memilih menggunakan ojek sampai ke Pemancar. Biayanya Rp. 35-40rb, biasanya sih sudah segitu, ga bisa ditawar lagi. Pilihan lainnya adalah menggunakan mobil bak terbuka (pick up), harganya juga segitu, dan biasanya baru berangkat jika sudah ada 10 orang. Kalau tidak menggunakan kendaraan, kita juga bisa berjalan kaki hingga basecamp, menurut informasi sih sekitar 3 jam perjalanan. Lumayan juga, apalagi masih bawa beban lengkap. Saran saya sih setelah melalui treknya yang bikin banyak berdoa, jangan bawa motor matic! mending pakai ojek/pick up saja, harga segitu sudah sip, coba saja :)).

Lanjut, kami melalui perkebunan teh Dayeuhmanggung yang sangat asri. Jalanan yang dilalui adalah jalan makadam, disertai banyak percabangan. Ini juga pertimbangan lain untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi. Perjalanan ditempuh sekitar 45 menit. Akhirnya sekitar pukul 14.00 kami sampai di Stasiun Pemancar. Stasiun Pemancar ini adalah stasiun televisi yang aktif dan digunakan oleh MNCTV dan Global TV. Di sekitar stasiun pemancar sendiri terdapat warung, mushola dan toilet umum yang cukup bersih, jadi bisa mandi atau nitip ngecharge HP dulu. Selain itu terdapat tempat penitipan motor & helm yang dibandrol Rp. 10rb, yang tempatnya cukup aman.

DSC05596
Basecamp Stasiun Pemancar Cikuray

Di basecamp pemancar ini tidak ada pungutan apapun, karena registrasi dan retribusi dilakukan di Pos 1 yang berjarak sekitar 30 menit. Sekitar pukul 15.00 kami melanjutkan perjalanan ke pos 1. Nah, perjalanan awal ini pun kita sudah disuguhi tanjakan cukup terjal dan licin melalui perkebunan teh.

DSC05593

Setelah 15 menit dari basecamp pemancar, kami sampai di Pos 1 yang ditandai dengan plang Gunung Cikuray dan pos registrasi. Di pos registrasi ini kita diwajibkan mengisi log book yang menginformasikan nama, anggota kelompok, nomor HP yang bisa dikontak, dan membayar retribusi Rp. 15rb/orang. Kita tidak perlu melampirkan kartu identitas di sini. Oya, di sekitar pos 1 ini juga terdapat beberapa warung dan toilet.

Dari pos 1, kami lanjutkan perjalanan ke pos 2 yang berjarak sekitar 1,5 jam. Di awal perjalanan kami langsung disuguhi tanjakan yang cukup cihuy, yet dinamai Tanjakan Cihuy! Tanjakan ini sih cukup parah kalau dilalui pas hujan-hujan, licin banget, sebaiknya gunakan sandal/sepatu yang gripnya masih bagus, kalau perlu gunakan treking pole.

DSC05574
Salah satu tanjakan ‘alay’ yang ada di Cikuray, Tanjakan Cihuy!

Menuju pos 2, kami melalui perkebunan warga hingga batas hutan. Treknya masih relatif landai, tapi yang menyulitkan jalan tanahnya cukup licin dan jarang ada akar atau tumbuhan untuk pegangan. Pemandangan yang cukup ajaib kami saksikan saat melalui jalur ini. Kabut dan gerimis mengiringi perjalanan kami, membuat trek yang kami lalui lebih licin, saat itulah kami menjumpai sekelompok pendaki remaja (cewek cowok) yang tengah turun, tanpa jas hujan, dan … sendal jepit! Bikin gemes aja #eh, bahkan hal ini tidak sekali kami jumpai di sini. Setelah melalui perjalanan sekitar 1,5 jam, sampailah kami di Pos 2, ditandai dengan tanda penunjuk. Di pos 2 ini area cukup sempit didominasi akar pohon dan rasanya sulit mendirikan tenda di sini.

DSC05558

Setelah istirahat, kami lanjutkan ke pos berikutnya : Pos 3. Dari sini tanjakan lebih terjal lagi dan jalanan didominasi akar pepohonan. Tidak jarang, kami melalui trek yang menjadi julukan trek Cikuray : “dengkul ketemu dagu”. Di perjalanan ini, kami melalui salah satu tanjakan yang cukup populer : Tanjakan Sanghyang Taraje. Namanya memang sama dengan salah satu air terjun di Garut, tapi di jalur ini kami tidak menemui mata air, apalagi air terjun.

DSC05552.jpg
Tanjakan Sanghyang Taraje, cihuy juga

Setelah  1,5 jam melalui trek yang tanjakannya berasa tiada akhir dan meniti akar-akar sampailah kami di pos 3. Di pos 3 ini terdapat dataran yang cukup untuk mendirikan sekitar 4-5 tenda. Saat kami kesana sudah ada 2 tenda milik teman-teman dari Cimahi. Mereka sempat mengajak kami camp di pos 3 saja, mungkin biar ga kesepian, tapi karena kami merasa masih kejauhan dari puncak, kami putuskan lanjut ke pos 6. Oya, sepanjang perjalanan tadi kami berpapasan dengan pendaki lain yang turun. Kabarnya, akhir-akhir ini kawanan babi hutan sedang agresif, jadi kami disarankan untuk camp di pos 6.

DSC05551
Pos 3

Kami sampai di pos 3 sekitar pukul 18.00, di kejauhan adzan magrib berkumandang, malam pun menjelang, headlamp pun dinyalakan. Walaupun sudah malam, tapi trek di Cikuray ini relatif jelas, panduannya sih : klo ga nanjak, berarti salah jalan 😀 Trek yang tanpa bonus kami lalui sampai tibalah di pos 4 sekitar 15 menit kemudian. Rupanya memang tidak salah yang dibilang teman-teman pendaki yang kami temui, trek dari pos 3-6 sebenarnya relatif dekat. Di pos 4 sendiri tanahnya cukup miring dan sepertinya jarang digunakan untuk camp. Dingin memaksa kami agar terus berjalan supaya badan tetap terasa hangat. Perut saya mulai berontak, akhirnya diinfus dulu dengan Choki-choki. Sekitar 30 menit berikutnya kami sampai di pos 5. Kondisinya relatif sama dengan pos 4, tempatnya cukup rimbun.

Sekitar 30 menit berjalan menuju pos 6, saya mulai melihat temaram lampu dari tenda. Benar saja, akhirnya kami sampai di pos 6 pada pukul 19.30. Di pos 6 yang kadang dibilang Puncak Bayangan (beberapa bilang puncak bayangannya di pos 7) ini sudah berdiri sekitar 8 tenda. Kami memilih mendirikan tenda di dekat bangunan yang sepertinya sih warung, harapannya warungnya buka, jadi bisa beli gorengan (belakangan kabarnya warungnya cuma buka setiap weekend).

Menemani malam, kami memasak mie instan dan menggoreng Cireng yang saya bawa, rasanya nikmat banget. Oya, yang lucu, teman saya Rifky (Kimong) membawa mie Shin Ramyun (dari Indom*aret), waktu itu belum ada label halalnya. Jelaslah kami berempat berdebat, tapi si Kimong bilang “Udah gua tanya mas-mas Indomaretnya ini halal kok, di tempat itu juga ga jualan produk non-halal”. Tapi si Indra (Badaq) bilang mienya paling enak, kayaknya emang beneran haram :)) Habis makan, dibahas lagi, gitu terus sampe Kangen Band duet sama Siti Nurhaliza -_- Sekitar pukul 10 malam, setelah briefing untuk summit jam setengah 4 subuh nanti, kami lanjut tidur.

Saya tidur paling dekat dengan pintu tenda, agak was-was sih dengan isu babi hutan yang beredar, jadi tidur juga kurang nyenyak. Apalagi 3 orang komplotan setenda ini ngoroknya kenceng banget, tiap kebangun bingung antara ini suara ngorok apa suara babi hutan. Bukan kenapa-kenapa, takutnya suara ngoroknya dikira teman-temannya si babi hutan :))

Akhirnya jam setengah 4 subuh menjelang, di samping tenda, teman-teman pendaki lain mulai menampakkan aktivitas. Beberapa tengah membuat api unggun dan membuat air panas, yang lain subuh-subuh gini udah sesi curhat aja, busyet dah. Perkiraan sampai puncak dari pos 6 sih sekitar 1.5-2 jam, jadi kami bisa sampai di sana sebelum sunrise.

Setelah berdoa, saya bawa perlengkapan lenong, air dan snack secukupnya, kami lanjutkan perjalanan ke puncak, tentunya treknya masih menanjak, tapi kali ini treknya didominasi semak belukar, sesekali melewati akar-akar pohon. Di perjalanan ke puncak ini kami melihat persimpangan dengan trek lain (Kiara Jenggot). Petunjuknya cukup jelas jika kita akan kembali ke pemancar, jadi insyaallah tidak akan tersesat. Sepanjang perjalanan kami juga tetap waspada kalau-kalau si babi menyapa, walaupun katanya babi hutan jarang menyerang kalau orangnya banyakan.

DSC05520

Sampai di pos 7, setelah berjalan sekitar 45 menit. Di pos ini dataran cukup luas, mungkin bisa digunakan lebih dari 6 tenda, saat itu ada 3 tenda. Sebuah tanda peringatan serangan babi hutan/bagong ditemukan di pos ini.

DSC05509
Peringatan serangan babi hutan di Pos 7

Mendekati puncak, kondisi trek mulai berubah, pepohonan mulai tidak terlalu rapat, sesekali ditemui jalanan berbatu, di kejauhan samar-samar terdengar pendaki-pendaki yang berteriak. 30 menit berikutnya sampailah kami di Puncak Cikuray yang ditandai dengan sebuah shelter. Alhamdulillah segera saya panjatkan saat itu. Karena kami naik bukan saat weekend, di puncak pun hanya ada sedikit pendaki. Menurut cerita pendaki lain, waktu long weekend sebelumnya, Cikuray ini padat banget, tempat camp pun sampai di puncak.

DSC05362

Dari puncak Cikuray ini kita bisa melihat panorama kota Garut dan sekitarnya. Di kejauhan kita bisa melihat beberapa gunung baik yang ada di Garut seperti Papandayan dan Guntur, maupun tetangganya seperti Ciremai dan Tampomas. Selain itu juga terlihat kepulan uap yang diluminasi lampu yang berasal dari PLTG Darajat.

DSC05365
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Darajat
DSC05351
Saling deketan bukan karena modus, tapi karena dingin :s
DSC05359
Calling for nearest autobot

Pagi itu terasa sangat syahdu, tidak terasa dinginnya mulai menusuk kalbu #setdah. Matahari baru akan terbit sekitar 30 menit lagi, sialnya kami ga bawa kompor untuk bikin air panas, lapisan jaket juga tidak terlalu membantu. Akhirnya kami ikut menghangatkan diri di dalam shelter yang di dalamnya ternyata ada yang mendirikan tenda, 2 biji pula :))

Kali ini sepertinya kami kurang beruntung, saat momen matahari terbit kabut muncul bahkan disertai angin cukup kencang, sepertinya kami berada dalam badai karena angin dan kabutnya berputar di sekitar puncak saja. Kami memutuskan menunggu sampai sekitar pukul 8 pagi. Pendaki-pendaki lain mulai berdatangan ke puncak, mulai dari orang Garut sendiri, Jakarta, Bandung dan Cimahi.

Hingga pukul 8, kabut masih datang, namun sesekali pemandangan cukup jelas, kami bisa melihat kembali panorama kota yang dijuluki Swiss van Java ini. Selain panorama kota dan pegunungan, ternyata kita bisa melihat pantai selatan Garut.

DSC05502
Dilihat dari posisinya sih sepertinya pantai Karang Paranje

Oya, selain terkenal dengan tanjakannya yang tiada akhir, Cikuray sendiri terkenal dengan lautan awannya, sayangnya sampai jam 8 pagi itu sepertinya kami belum berkesempatan melihat fenomena tersebut. Mempertimbangkan teman-teman yang harus pulang ke Jakarta, pukul 8 tersebut kami langsung turun ke tenda kami di pos 6. Saat perjalanan turun itulah, baru kelihatan jalurnya ternyata memang lumayan 😀

DSC05528

Perjalanan dari puncak ke pos 6 hanya memakan waktu 45 menit. Setelah sarapan brunch sekitar jam 11 kami memutuskan turun ke basecamp. Beruntung cuaca saat itu lumayan baik, jadi treknya jadi tidak terlalu licin. Kami sampai di pos 1 sekitar pukul 12.30, beruntung lagi karena pas datang, pas hujan turun cukup deras. Setelah agak reda, kemudian checkout di pos penjagaan, kami lanjutkan perjalanan.

DSC05556
Jangan takut kehabisan tanjakan, banyak stoknya di Cikuray

Di pos 1, do you think it’s over yet? Belum kawan, trek dari pos 1 ke basecamp pemancar yang melewati kebun teh ini berupa tanah gembur yang setelah hujan turun, licinnya minta ampun, kami menghabiskan waktu hampir 20 menit karena tidak bisa berjalan cepat. Saya sendiri terjerembab beberapa kali.

DSC05592

Sampai di pos pemancar, sambil nunggu hujan yang turun lagi, saya cari gorengan, saat itu kami ditawari angkutan pickup turun seharga Rp. 35rb sudah termasuk angkot ke terminal guntur, tawaran tersebut jelas diambil. Saya sendiri sebenarnya klo motornya bisa diangkut sih, mending pakai pickup saja :)) Apa daya, akhirnya saya bawa motor tepat di belakang pickup karena takut nyasar di perkebunan walaupun terbanting-banting, sambil berdoa dalam hati moga-moga ban ga sempet bocor. Kami turun melewati jalur yang berbeda, ternyata lewat Patrol, kondisi jalannya relatif bagus dibanding jalur kemarin. FYI, kalau lewat jalur patrol, kita akan melalui portal yang mengharuskan kita membayar retribusi Rp. 10rb, kalau turun sih ga bayar apa-apa. Saat sudah sampai di jalan raya yang aspalnya mulus, saya langsung bersyukur, yah walaupun perjalanan pulang masih 3 jam lagi. Alhamdulillah, selesai sudah rangkaian gunung Paguci ini. Saya berpamitan dengan teman-teman dari Jakarta.

Yang perlu mendapat catatan besar adalah Cikuray ini adalah salah satu gunung yang paling kotor, sampah tersebar di banyak titik, walaupun papan peringatan untuk membawa turun sampah juga terpampang di sepanjang jalur pendakian. Overall trek Cikuray ini terhitung unik, mulai dari titik ‘pendakian’ dari pangkalan ojek, jalurnya cukup jelas, viewnya walaupun ‘kalah’ dari Guntur, tetapi saya sendiri masih penasaran dengan view lautan awannya, so insyaallah definitely come back someday.

DSC05512
Suasana di Pos 7

851416671_13939317727794939631

Cost Damage

  • Terminal Guntur-Pangkalan ojek Dayeuhmanggung/Patrol : Rp. 7rb-10rb.
  • Ojek naik dari pangkalan ojek ke pemancar : Rp. 40rb (pastikan uang pas, kalau ngasih 50rb, kadang dibilang ga ada kembalian -_-), kalau ojek turun Rp. 35rb sudah termasuk ongkos angkot ke terminal Guntur.
  • Retribusi lewat Patrol Rp. 10rb.
  • Simaksi : Rp. 15rb/orang.
  • Gorengan : Rp. 1rb/biji.
  • Nitip motor : Rp. 10rb/malam

Catatan

  • Waktu yang ditempuh antar pos :
    • Pos Pemancar – Pos 1 : 15 menit
    • Pos 1 – Pos 2 : 1.5 jam
    • Pos 2 – Pos 3 : 1.5 jam
    • Pos 3 – Pos 4 : 15 menit
    • Pos 4 – Pos 5 : 30 menit
    • Pos 5 – Pos 6 : 45 menit
    • Pos 6 – Pos 7 : 45 menit
    • Pos 7 – Puncak : 30 menit
    • Total : 6 jam
  • Tidak ada mata air di sepanjang trek, jadi pastikan bawa air minum yang cukup dari bawah.
  • Mushola, toilet, tersedia di pos pemancar & pos 1.

 

Catatan Perjalanan Gunung Guntur 12-13 Maret 2016

Update Maret 2018

Sebagian besar gunung Guntur, termasuk puncak Guntur (via Citiis/Cikahuripan) dan pos camp 3 termasuk ke dalam bagian Cagar Alam Kawah Kamojang [3] yang berarti kawasan tersebut tidak boleh dimasuki dengan tujuan aktivitas apapun kecuali untuk penelitian dan kegiatan konservasi. Namun demikian untuk kegiatan wisata di daerah gunung Guntur ini masih bisa dilakukan sampai curug Citiis yang masuk ke dalam bagian Taman Wisata Alam Gunung Guntur. Kalau memang melanggar, kenapa tulisan di blog ini masih ada? Karena melihat dari stats artikel ini cukup banyak mendapatkan perhatian dari netizen, dan sebagai bagian tanggung jawab dan permintaan maaf saya bagi supremasi Cagar Alam saya update tulisan ini dengan informasi terkait Cagar Alam, saya berharap dengan ini informasi keberadaan Cagar Alam di gunung Guntur ini akan tersebar lebih baik/banyak (pantau timeline Mang Pepep https://www.facebook.com/pepdw untuk informasi yang lebih komprehensif).

Mungkin memang cara terbaik untuk menikmati dan mencintai alam adalah dengan membiarkannya tumbuh, tanpa campur tangan manusia.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Akhirnya setelah mengumpulkan niat dan motivasi saya bisa menuliskan sedikit pengalaman dari perjalanan mendaki beberapa gunung. (rencana) Tulisan-tulisan sebelumnya selalu berakhir dengan wacana karena selalu mentok untuk memikirkan kata pengantar (padahal kata pengantar biasanya ditulis di akhir tulisan). Ditambah tekanan yang konsisten untuk menulis dari si neng ini, baiklah saya mulai catatan perjalanan ini.

Gunung Guntur (GG) adalah salah satu gunung yang terdapat di kabupaten Garut, Jawa Barat. Gunung ini memiliki ketinggian 2249 mdpl [1], perlu dicatat menurut penuturan volunteer GG, ketinggian 2249 ini merupakan ketinggian yang diukur di puncak 1. Sementara masih menurut penuturan volunteer yang sama, GG memiliki 7 puncak, dimana puncak 1-4 merupakan puncak yang diperbolehkan untuk dikunjungi pendaki, sedangkan puncak 5-7 merupakan daerah konservasi yang tidak diperkenankan untuk dikunjungi pendaki. Menurut sumber [1] GG merupakan gunung paling aktif pada dekade 1800-an. Gunung ini termasuk ke dalam tipe gunung Strato [2]. Masih menurut situs yang sama, kemiringan GG bervariasi antara 2-75°, ya kira-kira miringnya seperti foto di bawah ini.

Ketertarikan saya terhadap gunung ini berawal dari kunjungan saya ke daerah Cipanas, Garut. Saat berendam di pemandian air panas, saya tertarik darimana sumber air panas yang mengalir ke tempat pemandian di daerah Cipanas ini. Selidik punya selidik (selidik aja boleh punya selidik, kenapa jeruk ga boleh punya jeruk? #ngawur) ternyata di kawasan utara pemandian air panas ini berdiri sebuah gunung yang bentuknya cukup unik, orang sekitar menyebutnya Gunung Guntur. Faktor lainnya adalah beberapa kawan pendaki kerap membandingkannya dengan gunung Semeru di Jawa Timur. Konon GG bisa dijadikan medan latihan sebelum mendaki gunung Semeru.

Lanjut, sudah cukup lama saya ingin mendaki gunung ini, namun selalu terbatas waktu. Hingga sekitar hari Jum’at tanggal 11 Maret 2016, kang Tatan Tasori (yang saya kenal dari komunitas Satu Bumi Kita/Sabuki) mengajak saya bersama 3 orang pendaki lainnya untuk melakukan pendakian ke gunung Guntur. Setelah koordinasi singkat, saya hanya diminta untuk membawa perlengkapan pendakian pribadi saja.

Selanjutnya kami janjian untuk kumpul di bunderan Cibiru pada Ba’da Dzuhur (selanjutnya saya agak kesel karena teman-teman yang lain baru datang sekitar pukul 14.30 -_-” ).

Sabtu, 12 Maret 2016

Hari yang dinantikan tiba, setelah cukup beristirahat, membeli logistik dan mengecek kembali perlengkapan pribadi, sekitar pukul 11.15 saya berangkat dari rumah di jalan Setiabudhi, dengan asumsi perjalanan akan memakan waktu sekitar 1.5 jam dengan asumsi Bandung yang bakal macet. sekedar saran, jika akan menuju daerah Cibiru dari arah Bandung barat, sebaiknya lewat jalan Soekarno Hatta saja, karena jika lewat Cicaheum-Gedebage-Ujungberung terdapat banyak titik simpul macet. Akhirnya sekitar pukul 12.30 saya sampai di bunderan Cibiru, tapi sekalian numpang solat saya minta titik kumpulnya di SPBU Cinunuk. selepas makan siang, ngopi, baca-baca, baru sekitar jam 14.30 kang Tatan datang bersama Lisna yang sengaja datang dari Serang. 2 teman pendaki lainnya (Emey & Icha) belum sampai karena masih menyiapkan perlengkapan, akhirnya diputuskan untuk ketemuan langsung di basecamp gunung Guntur.

Dengan mengendarai sepeda motor, kami berangkat menuju basecamp gunung Guntur. Patokan perjalanan dari kota Bandung menuju basecamp gunung guntur ini adalah lewat Rancaekek-Nagrek-Garut Kota, tepat sebelum SPBU Tanjung akan ditemui gerbang menuju objek wisata Gunung Guntur. Perjalanan dari Cibiru sampai ke basecamp memakan waktu sekitar 1.5 jam jika jalanan lancar, melalui aspal yang mulus. Dari gerbang gunung guntur ke basecamp GG memakan waktu sekitar 20 menit dengan kondisi jalan umumnya tanah.

 

Screen Shot 2016-04-17 at 10.39.04 PM

Jika tidak menggunakan kendaraan pribadi, untuk menuju basecamp dari gerbang GG terdapat angkutan umum/truk yang biasanya mematok ongkos per orang 5000-10000. akhirnya saya sampai di basecamp GG Pak RT. Basecampnya sendiri terdapat beberapa tempat, di pak RT, pak RW, dan Ummi apa, ya. para pendaki bisa menitipkan kendaraan di halaman rumah beliau, juga terdapat warung nasi, es campur dan saung-saung tempat beristirahat. Di basecamp ini tidak perlu membayar tiket (hanya biaya parkir per motor 5000 rupiah), pendaki hanya diminta registrasi anggota kelompok dan nomor telepon yang dapat dihubungi.

DSC03107
Basecamp Pak RW Gunung Guntur

Di basecamp akhirnya semua teman-teman pendaki sudah lengkap, kondisi saat itu hujan turun cukup lebat dan belum menunjukkan tanda-tanda reda, hingga sekitar pukul 19.00 kami memutuskan untuk memulai pendakian. Tidak lupa berdoa, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3 GG.

Rute perjalanan yang ditempuh : basecamp GG – pos tiket – Pos 1 (ada sumber air)-  pos 2- pos 3 (camp, ada sumber air) – puncak 1 – puncak 2

Dari basecamp ke pos tiket perjalanan sekitar 10 menit, di pos ini formulir registrasi kami dicek lalu kami membayar Rp. 12500 (Rp. 7500 tiket masuk, Rp. 5000 untuk kemping). Lanjut perjalanan menuju pos 1, jalanan berupa tanah bercampur batu. jalanan ini jika siang dilalui oleh truk-truk pengangkut batu & pasir dari tambang galian yang berada di sekitar gunung guntur ini. di tengah jalan kami bertemu dengan pendaki-pendaki yang turun, termasuk 23 orang anak SMP (belakangan diketahui mereka ijin ke orangtua untuk reunian, akhirnya didatangi oleh pihak sekolah untuk segera kembali), nakal ya :p Kondisi hujan masih gerimis, kebetulan yang pernah ke Guntur adalah Emey & Icha, karena kondisi gelap, jalanan agak sulit dikenali, maka kami sempat ragu jalur mana yang harus dilalui, namun ternyata di beberapa tempat dapat ditemui petunjuk berupa panah di batu dan papan penunjuk arah.

Sekitar pukul 20.15 kami sampai di warung yang ada di sekitar pos 1, di sini kami memutuskan untuk berteduh, masak-masak, ngobrol, chatting ditemani rintik hujan dan aliran sungai. malam hari warung di sekitar pos 1 ini umumnya tutup, tapi ada 1 warung yang masih buka. di pos ini kami juga bertemu salah seorang volunteer yang mengaku sudah mendaki gunung guntur hingga puncak 5 dari usia belia. sekitar pukul 21.30 hujan pun reda, kami melanjutkan pendakian ke pos 2,  melalui aliran sungai kecil. Dari pos 1 ke pos 2 ini perjalanan mulai menanjak dengan kemiringan sekitar 30-45°. jalanan umumnya tanah berbatu yang tidak terlalu licin. kami sampai di pos 2 sekitar pukul 22.15.

 

DSC03092
Penanda pos 2 adalah si pohon yang instagramable ini, nampak pula pemandangan daerah Cipanas, Garut

Lanjut perjalanan ke pos 3, jalanan masih menanjak, sekitar 30 menit sebelum mencapai pos 3 kami sempat berfoto2 dulu.

DSC02704Sekitar pukul 23.15 kami sampai di pos 3, di pos ini kami melakukan pengecekan tiket & formulir registrasi. di dekat pos 3 ini juga terdapat sumber air yang cukup deras.

dsc062421
Penanda persimpangan pos 3, puncak & sumber mata air (http://www.bluetripper.com/2014/10/pendakian-gunung-guntur-2249-mdpl.html

Kondisi pos 3 saat kami camp cukup ramai, mungkin ada sekitar 50 tenda, saya pun sempat ngobrol dengan teman-teman pendaki lain yang berasal dari UI, sumedang, garut dan bandung. Selanjutnya kami mendirikan tenda (ternyata tendanya kang Tatan Consina superlight untuk 1P, walaupun cukup untuk 2 orang+perlengkapan, saya pun agak males untuk tidur di tenda). Mungkin karena kondisi selepas hujan, jadi suhu di pos 3 tidak terlalu dingin. Oya, FYI juga, mungkin karena setelah terjadi beberapa insiden di Gunung Guntur ini (pendaki yang bocor terkena bongkahan batu, tersambar petir), saat ini tempat berkemah dibatasi hanya sampai Pos 3.

 

DSC03083
Check in di pos 3
DSC02728
Pemandangan di Pos 3 GG

Setelah mendirikan tenda, kami sempatkan ngobrol, ngemil-ngemil ganteng dan cantik, akhirnya Emey dan kang Tatan memutuskan untuk tidur duluan.  Hujan yang turun sejak tadi sore untungnya membuat langit malam cukup cerah dan bintang-bintang cukup terlihat jelas. Panorama city light garut malam hari yang mempesona tidak urung saya abadikan dalam beberapa jepretan. Lepas foto-foto saya kembali ke tenda, ternyata Lisna dan Icha belum tidur, akhirnya mereka minta difoto juga, huahaha.  Sepanjang malam juga ditemani pendaki-pendaki kurang kerjaan yang teriak-teriak ga jelas. Satu hal yang saya suka saat mendaki gunung adalah mungkin ketika lelah, selera humor saya lebih rendah dari biasanya, jadi teriakan-teriakan usil seperti itu pun bisa buat saya ketawa-tawa.

 

DSC02713
Tenda kami di Pos 3
DSC02737
Citylight view daerah Cipanas malam hari dari Gunung Guntur

Minggu 13 Maret 2016

Kami foto-foto sampai sekitar pukul 01.30, Lisna dan Icha memutuskan untuk tidur, sedangkan saya sendiri tidak terlalu ngantuk, lagipula pukul 4.00 nanti juga mau mulai mendaki ke puncak, jadi saya putuskan untuk baca-baca saja. saya gelar matras aluminium foil di depan tenda cewe2 ini ditemani lampu LED xiaomi yang saya dapat dari jaknot #iklan, ditemani langit malam bertabur bintang. tidak terasa sekitar pukul 02.30 angin malam mulai terasa dingin, saya kelilingi badan saya dengan aluminium foil yang cukup efektif menghangatkan badan. akhirnya awan tipis mulai menutupi binta-bintang, padahal saya menunggu momen penampakan milkyway sekitar pukul 3 pagi, saya lanjutkan baca-baca sampai pukul 03.30, sambil sesekali melihat kondisi langit.

Mendekati pukul 4 pagi, di sekitar pos 3 mulai riuh dengan pendaki yang sudah bangun dan akan melanjutkan pendakian ke puncak. beberapa menargetkan hingga puncak 4. Saya bergegas membangunkan teman-teman lain, akhirnya dari 5 orang, hanya 3 orang yang akan memutuskan ke puncak (saya, Emey & Lisna). saat siap-siap ini saya justru melihat penampakan milkyway, kesempatan ini jelas tidak akan saya lewatkan, entah sudah beberapa purnama saya merindukan sabuk pusat peredaran tata surya kita. Emey dan Icha akhirnya juga ingin difoto.

DSC02765
nemu bendera, dan milkyway :3

Sekitar pukul 04.15 kami bertiga mulai melakukan pendakian ke puncak, sambil sesekali saya curi-curi foto milkyway. FYI, kondisi pendakian dari pos 3 ke puncak 1 ini lumayan kece, dengan kemiringan sekitar 50-75° trek ini cukup menantang. Pendaki sebaiknya menggunakan jalur kiri/kanan, dan menjauhi jalan sebelah tengah yang biasanya digunakan untuk pendaki yang turun. Jalanan berupa tanah keras, kerikil dan rerumputan dan ilalang. Di beberapa tempat juga ditemui pohon-pohon edelweis yang belum berbunga. Untuk menghemat tenaga dan keselamatan, sebaiknya cari pijakan berupa rerumputan yang biasanya cukup kokoh.

Sekitar pukul 05.30 pendar matahari di ufuk timur mulai menampakkan sinarnya, kami memutuskan untuk menikmati sinar mentari sebelum puncak. Di beberapa tempat juga dapat ditemui dataran yang cukup luas dan datar jika akan melakukan solat subuh. Sekitar pukul 6 pagi kurang, kombinasi dari sinar mentari dan awan menghasilkan ROL yang sangat menarik. Dari tempat saya beristirahat dapat dilihat pemandangan kota garut yang diselimuti kabut. Dari gunung Guntur ini juga kita dapat melihat beberapa gunung seperti Tampomas, Cikuray, bahkan gunung Slamet di Jawa Tengah.

DSC02862
ROL dari bukit sebelum Puncak 1 Gunung Guntur
DSC02891
Selimut kabut di Kota Garut

Setelah puas menikmati matahari terbit kami melanjutkan perjalanan ke puncak yang hanya memakan waktu sekitar 10 menit lagi dari tempat istirahat tadi. akhirnya kami sampai di puncak 1 sekitar pukul 06.30. Di puncak 1 kami mengabadikan beberapa momen, lalu membuat minuman hangat dan sarapan. Di puncak 1 ini kita dapat melihat puncak 2 yang sangat mirip dengan puncak gunung merbabu jika dilihat dari sabana 2 merbabu. di puncak 1 ini kita dapat melihat cerukan yang dulunya mungkin kawah. di cerukan ini terdapat sumber air dari air hujan, saya tidak bisa memastikan apakah airnya bisa dipakai minum.

Setelah minum coklat panas, sekitar pukul 07.00 saya memutuskan untuk ke puncak 2. Emey dan Lisna tidak ikut karena lumayan kecapean (saya juga jelas cape). Perjalanan dari puncak 1 ke puncak 2 memakan waktu sekitar 15 menit. di perjalanan menuju puncak 2 ini di sebelah barat kita dapat melihat panorama gunung Cikuray dengan kerucutnya, gunung papandayan dengan kawahnya yang terbuka dan kawah Drajat dengan uap dari pembangkit listrik tenaga panas buminya. di perjalanan juga dapat ditemui tanah yang beruap, sebuah bukti bahwa gunung Guntur masih aktif dengan aktivitas vulkanisnya. untuk menuju puncak 2 biasanya pendaki menggunakan jalan sebelah kiri, lalu turun dari punggungan gunung sebelah kanan.

DSC02969
Dari paling kiri, Tampomas, …, Cikuray, Papandayan, Darajat

Dari paling kiri, Puncak 3, 4, 5, 6, 7 Gunung Guntur

DSC02957
Dari paling kiri, Puncak 3, 4, 6, 7 (puncak 5 terhalang puncak 3, dari puncak 3 dapat terlihat medan menurun & menanjak dari puncak 3 ke puncak 4)

Jumlah pendaki di puncak 2 ini lebih sedikit dari pendaki di puncak 1. Dari puncak 2 dapat terlihat jajaran puncak 3-7 gunung guntur. dari sini pula dapat terlihat perbedaan puncak gunung guntur, misalnya puncak 1-4 berupa dataran sabana dengan tetumbuhan rendah seperti rerumputan dan centigi, sementara puncak 5-7 berupa hutan rimbun. Konon di puncak 5-7 masih banyak terdapat hewan-hewan liar seperti babi hutan, ular dan macan kumbang.

Sebenarnya masih ingin ke puncak 3, tapi kondisi lutut yang kurang latihan dan teman-teman di bawah, setelah puas foto-foto saya kembali ke puncak 1 untuk lanjut ngemil dan nunggu ibu-ibu yang giliran foto-foto. tidak terasa menunggu mereka foto-foto akhirnya saya ketiduran di puncak 1 sekitar 30 menit, lanjut beres-beres dan bersiap-siap turun ke pos 3. 2 minggu berikutnya saya kembali ke GG bersama tim Anjasss dari Jakarta & Jogja, kali ini berhasil mencapai puncak 3 😀 Perjalanan dari puncak 2-3 memakan waktu sekitar 15 menit.

DSC03349
Di belakang nampak puncak 4 (paling kanan) dan puncak 5 paling belakang

Selanjutnya adalah perjalanan turun dari puncak kembali ke pos 3. Perjalanan turun ini juga sangat menarik, karena cerita teman-teman pendaki sebelumnya umumnya mereka main perosotan. Seperti yang sudah dibilang di awal, untuk turun sebaiknya gunakan jalur tengah yang berupa kerikil-kerikil lepas. Tetap berhati-hati karena sewaktu-waktu banyak batu yang meluncur di lintasan yang dapat mengancam nyawa (usahakan jangan memegang pinggiran parit, yang notabene terdapat banyak batu yang strukturnya labil).

DSC03073
Main Perosotan di Gunung Guntur

Akhirnya sampailah di tempat perosotan ini, kami dengan riangnya ngesot di jalur tengah yang sudah berbentuk parit, sambil beberapa kali terpeleset. nah disini yang perlu diperhatikan adalah penggunaan alas kaki, sebaiknya sih gunakan sepatu & gaiter supaya kerikil tidak mengganggu saat jalan (saya sendiri pake sendal gunung dan kaos kaki putih yang berakhir jadi warna hitam :p). perjalanan turun dari puncak 1 ke pos memakan waktu sekitar 1 jam.

Tiba di pos 3 sudah menunggu kang Tatan dan Icha yang sudah memasakkan puding. Setelah beristirahat sejenak, pukul 10.00 kami memutuskan untuk turun. Siang hari di Guntur cukup terik, alhasil sukses membuat saya meleleh. Untungnya di pos 1 terdapat warung yang menjual Nutris*ari dingin dan Bala-bala/bakwan. Kita sampai di Basecamp sekitar pukul 11.30, lanjut jajan es campur dan Bala-bala (lagi), hahaha. Setelah istirahat, (sebagian) mandi, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung, dan alhamdulillah sampai di Bandung sekitar pukul 16.30, fiuh.

Kesan saya untuk gunung ini adalah memang betul apa yang banyak dikatakan para pendaki, ketinggiannya memang tidak terlalu tinggi, tapi nyiksa! Nyiksa dengan kenangan dan pemandangannya yang bikin rindu untuk kembali lagi. Insyaallah saya akan kembali lagi, Guntur.

Foto lain :

DSC02996

DSC02955
Main Perosotan di Gunung Guntur

DSC02979

DSC02980
Boleh khan majang pose andalan? :p

 

DSC03032
Jalan menuju puncak 2 Gunung Guntur
DSC02947
Pohon Jodoh (katanya) di Gunung Guntur
DSC03106
kalo kamu motivasi naik gunungnya apa? 🙂
DSC02994
Pemandangan lembah GG yang mirip bukit penyesalan di Rinjani
DSC02711
Suasana malam di Pos 3 GG

 

DSC03076
Spongsor (tidak) resmi, sangat praktis untuk membuat segelas coklas/kopi panas
DSC02772
Yuhuu milkyway, i see youuu
DSC02986
Minjem properti orang dulu di Puncak 2 :p

Tips :

  • Sebelum melakukan pendakian, cek terlebih dahulu status izin pendakian dan cuaca daerah sekitar. Untuk mengetahui status izin pendakian kita bisa tanyakan ke teman-teman @volunteerguntur di twitter yang rajin mengupdate info pendakian gunung Guntur.
  • Lebih baik gunakan Sepatu+Gaiter supaya saat perjalanan turun dari puncak lebih nyaman, tidak terganggu kerikil-kerikil yang masuk ke dalam sepatu
  • Disarankan tidak memakai celana pendek, karena kebanyakan jalan di Gunung Guntur terutama menuju puncak berupa kerikil dan batu-batu lahar yang cukup tajam, sebaiknya gunakan celana panjang. Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati bukan?
  • Gunakan tabir surya/payung kalau ga mau terlalu terbakar sama matahari Gunung Guntur, atau berangkat saat sore/malam hari.

Cost damage :

  • Bensin PP (Bandung-GG) : Rp. Rp. 20.000
  • Parkir di pak RT : Rp. 5.000
  • Tiket masuk + Camp : Rp. 7.500 & Rp. 5.000
  • Bala-bala : @Rp. 500
  • Nutrisar*i dingin : Rp. 3.000
  • Es campur : Rp. 8.000
  • Baso tahu : @Rp. 1.000
  • Total ~ Rp. 60.000

Referensi :

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Guntur

[2] http://volcanoindonesia.blogspot.co.id/2010/10/guntur.html

[3] http://bbksdajabar.ksdae.menlhk.go.id/wp-content/uploads/2017/08/Profil-Bidwil-3-Fix_skw_5_kamojang.pdf