[Seri Gunung Bandung] Explore Hutan Pangalengan Yang Tersisa : Gunung Gambung Sedaningsih 2221 mdpl

“Ketika pohon terakhir ditebang,
Ketika sungai terakhir dikosongkan,
Ketika ikan terakhir ditangkap,
Barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang.”

~Eric Weiner, The Geography of Bliss: One Grump’s Search for the Happiest Places in the World

Fiuh, genap 5 bulan sudah blog ini belum diupdate, 4 bulan belum naik gunung, dan 2 bulan sudah kami menikah. Yak, kami dua penulis blog ini sudah menikah akhir Desember tahun lalu, alhamdulillah. Bahagia rasanya bisa menunaikan ibadah yang menjadi penggenap agama ini. Mohon doanya supaya kami bisa menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah dan bisa menjadi suri tauladan yak, aamiin.

Setelah lama tidak menulis, rasanya gagap mau nulis apa untuk tulisan pertama di kehidupan baru dan 2018 ini. Beruntung banyak foto-foto mengendap yang bisa jadi referensi saya untuk menulis. Tulisan kali ini adalah cerita perjalanan saya bulan oktober 2017 lalu ke gunung Gambung Sedaningsih di perbatasan Kertasari-Pangalengan. Oya, yang mengikuti blog ini pasti pernah mendengar gunung Gambung saat saya mengulas perjalanan ke gunung Artapela. Letaknya memang bersebelahan dengan gunung Artapela. Cukup sedikit informasi terkait toponim atau sejarah terkait gunung ini, yang jelas, belakangan berdasarkan GPS di hp, ketinggian gunung ini adalah +2221 mdpl, lebih tinggi dibandingkan puncak Sulibra Artapela dengan ketinggian + 2066 mdpl. Untuk menuju gunung Gambung ini bisa melalui Pacet , melewati trek Artapela, atau jalur lebih cepat melalui Pangalengan seperti yang saya gunakan bersama pak Firman 14 Oktober 2017 lalu. FYI, gunung Gambung ini lokasinya berbeda jauh dengan perkebunan teh Gambung yang ada di Ciwidey sana.

Seperti biasa, rencana pendakian dengan pak Firman diadakan secara dadakan :v Kebetulan sore itu juga ada rencana foto di daerah Pangalengan, jadi saya membawa motor sendiri dan pak Firman dengan mobilnya sendiri. Jalur yang kami lalui lewat perkebunan Kertamanah, terus melalui perkebunan teh di kiri kanan jalan yang mulus. Kami sempat sholat dulu di mesjid sekitar sini sebelum melanjutkan perjalanan. Sebelum SD kertamanah, terdapat pertigaan, karena kami berdua belum pernah ke gambung sebelumnya, kami malah mengambil jalan ke kiri karena rekomendasi google, alhasil kami harus menghadapi jalanan yang biadab. Padahal jalan paling bagus dan cepat lurus saja melewati penangkaran rusa, sampai segitiga pertigaan Wayang Windu, ambil kiri. Tapi ya namanya perjalanan, nikmati saja, alhamdulillah ban motor juga ga bocor.

gerbang kertamanah
persimpangan pangalengan-perkebunan kertamanah
pertigaan-pangalengan-gambung
pertigaan SD Kertamanah-Gambung, jangan belok kiri, jalannya ancur :v

Kurang lebih 1 jam kami melalui jalanan berbatu dengan kecepatan seadanya, akhirnya kami menemukan jalan aspal yang lebih manusiawi yang langsung mengarah ke parkiran menuju Artapela/Gambung yang ternyata terdapat salah satu sumur PLTG Wayang Windu. Tidak ada pos pendaftaran di sini, terdapat pos satpam di sana, tapi tidak ada petugas yang berjaga. Kami hanya menitipkan kendaraan ke petani sekitar. Pulangnya kami disambangi oleh warga yang mengaku menjaga parkir, kami hanya membayar sekitar 15ribu total untuk mobil & motor. Kalau weekend ada warga yang menjaga parkir karena memang ramai, kalau hari biasa tidak direkomendasikan karena tidak ada yang menjaga.

Saat kami kesana tidak ada tanda-tanda tempat pendakian Artapela/Gambung, jalan masuk jalur pendakian, arahan dari warga kami ditunjuki jalur yang terlihat dari parkiran, kami harus melewati kolong pipa uap untuk PLTG wayang Windu yang terasa panas. Di awal pendakian adalah jalur penuh pepohonan tinggi yang berbatasan dengan perkebunan di sebelah kanan, jika kita teruskan ke sebelah kanan kita akan temui danau/situ Aul. Btw, Aul sendiri adalah sebutan makhluk mitos yang orang barat namai dengan Wirewolf a.k.a manusia anjing yang konon menghuni daerah sekitar Gambung/Artapela.

Lepas dari jalur perbatasan hutan, sekitar 10 menit kami keluar dari hutan dan langsung menemui trek kebun warga. Jalurnya tanah gembur, umumnya didominasi sayur-sayuran seperti kol, kentang, wortel. Tidak ada mata air yang kami temui. Kemiringan jalur tidak terlalu terjal. Karena berangkat siang hari suasana terasa cukup gerah, beruntung masih ada pepohonan tinggi dan rimbun semak-semak menaungi kami. Di perjalanan kami bertemu dengan petani yang menggunakan motor, set dah, kayaknya bisa sampe Artapela ini pake ojek. Selepas jalur perkebunan yang masih dihiasi pepohonan selanjutnya ditemui jalur perkebunan yang lebih terbuka. Di sana kami sempat berbincang dengan warga yang menjelaskan nama-nama daerah di sekitar gunung Gambung, sebelum akhirnya kami berpamitan.

40 menit berjalan kami sampai di dataran luas semacam sabana. Di kiri kanan jalur tidak ada tumbuhan tinggi selain ilalang. Ah rupanya ini yang dinamakan dengan Datar Anjing. Daerah ini dinamai Datar Anjing karena berbentuk dataran luas dan biasanya banyak ditemui anjing, mind blowing bukan? Mungkin suara lolongan dan salakan anjing yang saya temui waktu mendaki Artapela sumbernya dari daerah Datar Anjing ini.

DSC04757

DSC04775
Datar Anjing dan gunung Gambung di sebelah kanan

Kami sempat berfoto-foto di Datar Anjing sebentar sebelum lanjut ke puncak Gambung. Lain kali kayaknya enak camping di sini, cuma ga tahu deh karena daerahnya terbuka mungkin angin dan suhu agak galak di sini. Oya, dari Datar Anjing ini view terbaik adalah ke arah timur, tempatnya cucok untuk view sunrise. Sampai Datar Anjing ini sih bisa dilalui dengan motor trail, terlihat juga jejak dari motor petani. Saat kami berkunjung ke sini, masih terdapat bekas ilalang yang terbakar, entah disengaja atau tidak. Yang jelas, di beberapa tempat sudah dijadikan perkebunan warga. Oya, dari Datar Anjing ini kita bisa melanjutkan perjalanan ke Puncak Sulibra yang berjarak sekitar 45 menit.

Dari Datar Anjing trek menuju puncak Gambung cukup terlihat jelas, sebenarnya bisa saja mengambil jalan lurus lewat melewati jalan samping gubuk, entah kenapa waktu itu mesti melipir dulu :v Dari Datar Anjing sampai ke daerah puncakan memakan waktu sekitar 30 menit, treknya agak susah karena lewat jalan kebun yang lunak.

DSC04832
jalur naik/turun ke puncak Gambung dari Datar Anjing

Sampai puncakan, langsunglah kami mencari plang puncak yang klo ga salah dulu pernah dibuat kelompok Jelajah Gunung Bandung. tapi setelah berjalan berputar-putar di daerah yang diduga sebagai puncak, ga ketemu-temu juga. Oya puncak Gambung ini masih tertutup rapat oleh semak belukar, tidak bisa digunakan untuk berkemah. Setelah 30 menit berputar-putar, kami putuskan beristirahat di kebun sebelum puncak dengan view ke arah Ciparay. Dari tempat kami beristirahat tampak daerah Datar Anjing, Artapela dan siluet gunung sekitar Bandung seperti Kendang dan Rakutak.

DSC04803
Puncak gunung Gambung

Namun dibalik pemandangan yang indah ini, tidak bisa disangkal ada hal yang miris juga melihat daerah yang mungkin dulunya hutan rapat ini sudah berganti menjadi perkebunan warga. Dari Artapela sampai Datar Anjing mungkin hanya tersisa sedikit daerah yang masih ditumbuhi pepohonan tinggi. Entah sampai kondisi ini akan bertahan, kalau melihat trendnya sangat mungkin daerah perkebunan ini meluas memakan daerah yang masih rimbun. Kalau sudah demikian, jangan salahkan alam jika suatu saat dia akan mengambil alih haknya 😦

Sejuta pertanyaan tadi masih berputar-putar seiring tidak terasa beberapa bungkus roti dan sekotak Hydro-Coc*o  sukses melepas lapar dan dahaga. Sebelum turun gunung, kabut mulai memasuki daerah Datar Anjing. Pak Firman sempat berseloroh, petani-petani tadi ga akan di kebun lebih dari jam 4/5 sore, soalnya klo udah malam ada kemungkinan ‘penghuni’ hutan lainnya turun mencari makan. Ah, amannya berarti kami juga harus segera turun. Melalui jalur yang sama untuk turun, hanya memakan waktu sekitar 40 menit sampai di parkiran. Kami sempat bertemu rombongan yang akan berangkat ke Artapela. Untuk memuaskan rasa penasaran kami juga sempat mencari danau Aul yang saat itu sepertinya sedang surut.

Kami sampai di parkiran sekitar pukul 4 sore, parkiran lebih ramai, sepertinya milik rombongan yang kami temui tadi. Saya pun berpisah dengan pak Firman karena akan meneruskan perjalanan langsung ke Pangalengan. Dengan demikian berakhir pula catatan perjalanan gunung Gambung ini, pendakian yang tidak memerlukan waktu dan tenaga yang banyak, tapi menyisakan beban pikiran cukup berat, sampai kapan alam ini bisa memuaskan kebutuhan manusia yang sepertinya tak berbatas #tsah. Mudah-mudahan saja nanti ada pihak yang peduli dengan kondisi alam Gambung. Menurut saya rating untuk gunung Gambung ini view 3/5, trek 2/5, akses sarana/prasarana 3.5/5.

Summary

Sebagai penutup, berikut rekap waktu tempuh dan biaya yang diperlukan :

waktu tempuh :

  •  Bandung-Pertigaan Kertamanah : 2.5-3jam
  • Pertigaan Kertamanah-parkiran 45menit
  • Parkiran-Datar Anjing : 45 menit
  • Datar Anjing-Puncak Gambung : ~30menit
  • total waktu treking ~1jam, turun 30-35 menit

Cost Damage :

  • logistik ~20rb
  • parkir motor ~5rb, mobil ~10rb

Track log : cek kulkas

trek gambung

[Seri Gunung Bandung] Gunung Wayang 2241 Mdpl : Jalur Pendakian Semi Panjat Tebing Yang Sukses Bikin Lutut Lemas

“Bandung dilingkung ku gunung” adalah ungkapan yang sering dilontarkan budayawan sunda untuk menggambarkan kondisi kota/kabupaten Bandung yang memang dikelilingi gunung-gunung, seolah-olah berada dalam mangkok. Rupanya, menurut penelusuran yang dilakukan teman-teman di Jelajah Gunung Bandung menyatakan bahwa ada sekitar 500 gunung yang berada di tanah yang katanya diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum ini. Konon, kalau dikunjungi 1 per 1 per bulannya, akan membutuhkan kurang lebih 58 tahun untuk mengecup setiap puncak pergunungannya.

Salah satu gunung Bandung yang mungkin sudah cukup dikenal pendaki Bandung, namun rasanya jarang ada ajakan pendakian adalah gunung Wayang. Saya sendiri tahu keberadaan gunung Wayang, karena keberadaan pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) Wayang Windu yang dioperasikan perusahaan Star Energy waktu kuliah Teknik panas bumi sekian semester yang lalu. Bagi teman-teman fotografer yang sering main di daerah Pangalengan pasti pernah mengabadikan gunung ini karena letaknya berada tepat di arah timur Situ Cileunca, matahari pagi merayap dari balik gunung ini.

Hari sabtu pagi itu saya diajak oleh kang Mbok Hasby untuk berkunjung ke gunung berketinggian + 2183 mdpl yang secara administratif berada di Pangalengan, kabupaten Bandung. Kami ber-6 sepakat kumpul dulu di Carefour Kircon yang terkenal dengan durasi lampu merahnya yang bisa sambil namatin 1 season Cinta Fitri. Kang Mbok bertindak sebagai team leader dan penunjuk arah pendakian gunung Wayang ini karena sebelumnya sudah pernah kesana. Saya sendiri belum tahu gambaran treknya bakal seperti apa, mengingat sedikit dokumentasi tentang gunung ini, tapi dapet info dari pak Firman sih, miniatur gunung Raung yang terkenal itu. Saat itu sih belum dapet firasat apa-apa. Akhirnya setelah berkumpul semua anggota sekitar jam 8 lebih, kami ber-4 motor berangkat menuju titik awal pendakian. Dari kota Bandung kami arahkan kendaraan ke arah Pangalengan via Dayeuh kolot-Banjaran, menyusuri jalanan berliuk-liuk, sampai sebelum mencapai pusat kota akan ditemui persimpangan ke perkebunan teh PTPN VIII Kertamanah, ambil ke kiri, lalu mengikuti jalan ke arah power house pembangkit listrik geotermal Wayang Windu, atau ke arah Wayang Windu bike park. Patokannya sih sebrang toko oleh-oleh Pia Kawitan, di sekitar persimpangan ini juga terdapat warung nasi untuk mengisi perut atau membeli bekal.

gerbang kertamanah
persimpangan jalan raya Pangalengan – PLTP Wayang Windu/PTPN Kertamanah

Menurut informasi dari dokumentasi kawan-kawan JGB rupanya jalur pendakian gunung wayang ini terdapat 4 jalur : Kertamanah via PLTP wayang windu, Cisanti, Kertamanah via Cibeureum, dan satunya lagi apa ya. Jalur yang sering dilalui adalah lewat Kertamanah. Tidak ada basecamp khusus untuk pendakian gunung Wayang, pun tidak ada angkutan khusus ke titik pendakian awal. Tapi kalau dari Bandung kita bisa naik angkutan elf dari Tegal Lega-Pangalengan, turun di persimpangan perkebunan Kertasari, lanjut naik ojek ke PLTP Wayang Windu.

Setelah sekitar 2 jam mengendarai motor dari titik kumpul kami, akhirnya sampailah di pintu portal PLTP Wayang Windu. Saat itu kami masih boleh menitipkan motor di dekat pos satpam yang dikelilingi hutan pinus. Namun terakhir saya kesana sih sudah tidak boleh parkir disana, alih-alih parkirnya harus di suatu lapangan yang dikelilingi pipa uap panas bumi. Tidak ada tempat penitipan khusus kendaraan maupun basecamp di sini, jadi lumayan was-was sih ninggalin kendaraan. Oya, jalan menuju ke tempat parkir kendaraan yang melalui perkebunan teh ini juga memberikan pemandangan yang menyejukkan mata, walaupun kondisi jalan dari pertigaan antara portal PLTG-Wayang Windu Bike Park ini berupa bebatuan lepas, yang mengharuskan kita tetap fokus berkendara.

 

Kalau menitipkan kendaraan di pos satpam, masih butuh waktu sekitar 15 menit berjalan kaki ke lapangan tempat parkir yang saya sebut tadi, melewati kompleks PLTG dimana terdapat sebuah helipad.

Dari lapangan tempat parkir, perjalanan dilanjutkan treking ke kawah Wayang dimana kita akan melewati perkebunan warga. Di perkebunan warga ini bisa ditemui sayuran seperti wortel, kol, hingga tembakau. Tidak ada persimpangan yang berarti sih, kalau bingung bisa menanyakan warga kemana arah kawah Wayang. Di jalan setapak ini ternyata masih bisa dilalui motor trail, tau gitu kan … 😀

Selama kurang lebih 30 menit berjalan pemandangan kebun mulai berganti semak belukar dan samar-samar tercium bau telur busuk, yang dimasak. Ah, inilah tandanya kawah Wayang sudah dekat, dan betul saja kami sampai di kawah Wayang dengan pemandangan yang not-like-earthy. Keberadaan kawah Wayang yang menyemburkan uap dan gas solfatara ini menjadi tanda bahwa gunung Wayang ini adalah gunung berapi yang aktif. Bau belerangnya sendiri tidak terlalu menyengat seperti di papandayan. Treknya terasa begitu hangat (klo tidak panas). Dari kawah Wayang ini, perjalanan menuju puncak Wayang agak sedikit tricky karena tidak ada patokan untuk menemukan jalan setapak, pokoknya yang mengarah ke atas dan masih bisa dilalui dengan mudah, nanti ketemu jalan setapak yang berundak. Rasanya hanya ada satu jalur menuju puncak dari sini. Dari sana perjalanan terus menanjak, ada kali 60”

Tanjakan berundak tadi tidak begitu lama dilalui, hanya sekitar 15 menit. Nah, dari sini, perjalanan mulai terasa menantang. Dari ujung tanjakan tadi, kita sudah bisa melihat batu yang jadi iconnya gunung Wayang : Batu Wayang (Oh, thank you, captain). Trek yang tadinya berupa tanah, kini kami harus melalui jalur bebatuan. Tak jarang kami harus mendaki, mencoba mencari celah-celah batuan untuk berpijak dan berpegangan. Perjalanan mulai deg-deg-ser karena jalan di samping trek bebatuan tadi ya jurang. Di beberapa tempat, kami harus merayap, bukan lagi dengkul ketemu lutut, apa aja bagian badan yang bisa ditempel, ya ditempel. Lutut rasanya sudah lemas, bukan karena cape, tapi ya keder. Tidak salah kalau jalur Wayang ini dikatakan jalur semi panjat tebing.

Sampai di lokasi batu Wayang, sekitar 15 menit dari ujung tanjakan yang saya bilang tadi. Di sini kami sempat beristirahat dulu. Di batu wayang terdapat sebuah plang “Batu Wayang”. Dinamai batu Wayang karena bentuk batu tersebut mirip seperti Gunungan dalam pertunjukan Wayang. Kurang tahu sih klo di tempat lain dinamai apa, kenapa ga dinamai gunung Gunungan, mungkin nanti malah dibilang gunung boongan, kan gunung-gunungan #krik.

collectie_tropenmuseum_wajangfiguur_van_karbouwenhuid_voorstellende_een_pauzeteken_tmnr_4551-27
Gambar Gunungan (https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/2/26/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Wajangfiguur_van_karbouwenhuid_voorstellende_een_pauzeteken_TMnr_4551-27.jpg)

Nah, berita baiknya, batu Wayang sudah ditemui. Berita kurang baiknya : puncaknya masih setengah perjalanan. Kami masih harus melalui dan memanjat jalur bebatuan kembali untuk mencapai puncaknya. Tidak ada pilihan jalur, hanya jalur sempit yang dibawahnya menganga jurang. Di beberapa tempat dibutuhkan webbing untuk berpegangan. Well harusnya sih kita bawa perlengkapan pengaman yang lebih lengkap. Tapi saya sendiri juga ga tw klo jalurnya kaya gini, tau gitu kan … T.T

Tidak begitu lama sih jalur batunya, lepas jalur batu berikutnya kami menemui lagi jalur tanah, tepatnya tanah kemerah-merahan yang klo ujan ga tahu mau melorot kemana. Jangan senang dulu, karena jalur tanah yang saya maksud adalah jalur dengan kemiringan mendekati 75”, dengan tanah lepas, yang minim pegangan. Karena saya paling depan, dan cuma dibilang terus aja ke atas, mau gimana lagi, saya berpegangan sebisa mungkin ke tetumbuhan, sambil terus berdzikir moga2 ini tanah ga tiba-tiba longsor. Ga kepikiran motret jalurnya, dalam batin yang penting cepet beres aja lewat ini jalur. Alhamdulillah, jalur tadi mungkin hanya sekitar 5-10 menit, nah ujung dari tanjakan tadi : Puncak Wayang

Rasa syukur langsung saya ucapkan setelah melewati jalur ‘nista’ tadi, bersyukur juga karena kami masih diberikan keselamatan. Di puncak Wayang ada plang Puncak Wayang yang sudah lebih mirip plang tanda perlintasan kereta api. Di puncaknya terdapat sebidang tanah yang mungkin bisa ditempati sekitar 4 tenda. Dari puncaknya kita bisa melihat di sebrang ada pasangan Wayang : Windu, kemudian gunung Tilu, Datar Anjing dan Artapela. Kabut masih menyelimuti hari yang sudah melewati tengah siang saat kami sampai di puncak. Dari kejauhan kita bisa melihat pembangkit Wayang Windu.

Gerimis mungkin dari kabut mulai turun, untungnya kami sudah bersiap dengan mendirikan bivak sederhana dari plysheet. Setelah shalat, kami mengeluarkan bekal masing-masing, kompor juga dinyalakan untuk membuat air panas. Tidak terasa, setelah kenyang ngantuk melanda, ditambah suasana puncak yang sepi (tidak ada pengunjung lain saat itu, tau kan alasannya?). Kami sempat tertidur di bivak juga hammock yang dibuat di sekitar pepohonan.

DSC02007
jalan di belakang itu jalur lewat Cisanti, belakangan juga kami pakai untuk turun ke jalur kawah

Sekitar jam 3 sore, kami memutuskan untuk pulang, tapi selain kang Mbok, tidak ada yang mau melewati jalur naik tadi, naiknya aja susah, turun lebih susah-serem lagi 😆 Hanya ada pilihan lewat Cisanti yang treknya lebih jauh dari tempat parkir, atau tetap ke arah tempat parkir dan ‘buka jalur’.

Kang Mbok sebenarnya sudah kesini sebelumnya, tapi karena kondisi jalur yang masih rapat dan jarang dikunjungi, sempat membuat kami kehilangan arah. Sempat kami coba buka google maps (oya, sinyal smartfren 4g lumayan kuat di puncak loh) untuk melihat peta kontur untuk mencari arah kawah. Kami harus melewati semak belukar, main perosotan di tebing dengan pegangan di semak-belukar yang ada, hingga akhirnya kami sampai kembali di kawah sekitar pukul 4 sore. Lagi, tidak ada panduan atau papan petunjuk jalur turun (saat itu), maka ada baiknya selain membawa peralatan safety, juga harus sama orang yang pernah/biasa ke tempat ini. Kabut sekarang menyelimuti kawah, bercampur asap belerang, membuat pemandangannya seolah-olah other-world. Sambil istirahat, ya kami foto-foto terakhir sebelum pulang.

Saat perjalanan pulang melewati jalur perkebunan tadi pagi, hujan turun dengan deras, untungnya kami semua membawa jas hujan. Sampai di tempat parkir, kami berpamitan ke Satpam dan membayar ‘seikhlasnya’ 5000 rupiah per orang, dan diiringi bunyi dari cerobong uap pembangkit dan hujan saat itu kami berpisah.

Sebagai penutup, gunung Wayang ini adalah salah satu trek gunung yang cukup unik dan menantang, ketidak-tinggiannya sebagaimana gunung-gunung Bandung lainnya, tidak membuat gunung ini mudah untuk dilalui, alih-alih saya sendiri malah boleh dibilang kapok naik kesini, tangan basah keringetan, lutut selain lemas juga sakit, nah yang terakhir ini ga tw sih, karena naik gunung atau emang kurang olahraga :p Berhubung pendakiannya bisa ditempuh dalam satu hari (tektok), klo punya waktu 2 hari untuk treking gunung Bandung, bisa dilanjut/digabung dengan Burangrang, atau Manglayang.

Cost Damage

  • Parkir : 5rb
  • konsumsi : ~20rb

Info Kontak Basecamp :

Nihil, atau pantau grup Jelajah Gunung Bandung di Facebook groupnya.

[Seri Gunung Bandung] Gunung Burangrang & Ranu Kumbolonya Bandung

Lahir di kota yang dikelilingi gunung sepertinya sedikit banyak mempengaruhi gaya hidup saya. Saya mungkin lebih memilih pergi ke dataran tinggi dimana ada air terjun dan pergunungan, dibanding ke pantai (yang kurang saya sukai karena banyak nyamuk dan saya selalu tidak akur dengan nyamuk). Ada semacam ikatan batin. Tapi bukan begitu juga masa lalu kebanyakan kita, saat disuruh menggambar gambar pemandangan, ga jauh-jauh dari matahari terbit yang diapit 2 gunung, dengan jalan yang diapit sawah-sawah, tidak lupa sekumpulan burung yang terbang. Konon anak-anak pantai juga gambarnya begitu 😆

Ngomong-ngomong soal dikelilingi gunung, kebetulan rumah saya berada dekat dengan 2 gunung utama di Bandung : Tangkuban Perahu dan Burangrang. Tangkuban perahu yang sudah lama jadi objek wisata dengan legenda Sangkuriangnya, sering saya kunjungi waktu masih tinggal di Lembang baik lewat jalur mobil via Cikole, maupun Jayagiri, Sukawana dan Manoko. Gunung kedua, Burangrang malah hampir tidak pernah saya kunjungi walaupun rumah saya hanya berjarak sekitar 10km dari kaki gunungnya.

Gunung Burangrang dengan tinggi puncaknya 2065 mdpl secara administratif berada di antara 2 kabupaten : Bandung Barat & Purwakarta. Di sisi utaranya adalah Gunung Tangkuban Perahu.  Gunung Burangrang adalah gunung parasit sisa letusan gunung Sunda purba yang meletus kira-kira 105000 tahun yang lalu [1]. Merujuk ke legenda Sangkuriang, Perahu yang ditendang Sangkuriang konon menjadi gunung Tangkuban Perahu, tunggul (bekas pohon) yang ditebang menjadi gunung Bukit Tunggul sedangkan ranting, batang dan daunnya menjadi Gunung Burangrang, mungkin karena dari kejauhan Burangrang sendiri terlihat seperti gerigi (Baranco).

Bulan oktober 2016 tahun lalu menjadi pendakian pertama saya ke gunung ‘belakang rumah’ ini. Seperti biasa dengan ajakan dadakan dari pak Firman, saya dengan senang hati melakukan pendakian. Karena berencana untuk melakukan perjalanan tektok/PP, perbekalan tidak terlalu banyak, hanya air 1.5 liter, senter (tetep bwt jaga2), coklat dan nasi bungkus di warung nasi dekat Parongpong. FYI, jalur pendakian Burangrang sendiri yang saya tau ada 3 jalur : via Legok Haji, Lawang Angin/Kopassus, dan Purwakarta. Belakangan ternyata ada juga jalur lewat Cimahi. Jalur Lawang Angin/Kopassus biasanya jarang dijadikan jalur utama karena membutuhkan perizinan khusus dari Kopassus. Umumnya pendaki melalui jalur Legok Haji dengan patokan Curug Cipalasari.

Saat itu dengan menggunakan mobil pak Firman, kami menuju basecamp pendakian Burangrang via Legok Haji, melalui jalan Sersan Bajuri – Kolonel Masturi – SPN Cisarua – Tugu – Pasir Langu. Patokannya biasanya di SPN (Sekolah Polisi Negara) Cisarua, belok kanan dari arah Bandung/Ledeng. Tidak ada kendaraan umum yang khusus lewat sini, tapi di terminal Ledeng-Parongpong terdapat angkot dengan tujuan akhir Terminal Parongpong, kemudian lanjut angkot kuning ke SPN. Kalau tidak mau repot bisa carter angkot dengan estimasi ongkos 20-30ribu/orang, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam menuju desa Pasir Langu. Di belokan jalan Tugu-Cimeta/Nyalindung terdapat plang kecil penunjuk jalur pendakian Burangrang.

Screen Shot 2017-04-18 at 4.47.02 PM
Belokan Jalan Tugu-Nyalindung/Cimeta ke Desa Pasir Langu

Sepanjang perjalanan kita juga akan melalui objek wisata populer di Bandung seperti Curug Cimahi, Kampung Gajah, Dusun Bambu dan Kampung Daun. Jadi jangan kaget kalau saat weekend bisa macet di jalan ini. Kondisi jalan umumnya beraspal mulus hingga Cisarua, namun saat mencapai jalan Tugu kondisi jalan menyempit jadi sekitar 1.5 mobil. Apalagi di jalan Pasir Langu menuju basecamp, jalanan hanya bisa dilalui 1 mobil dengan kondisi jalan cukup baik. Mobil pak Firman juga sempat mengalami kesulitan karena jalannya yang sempit dan di suatu tempat harus berpapasan dengan mobil lainnya. Untungnya mobil lainnya mengalah ke halaman warga. Oya, di Pasir Langu patokannya setelah Sekolah Dasar, ada rumah pak RW di sebelah kiri (ada plang namanya 😀 ), di sana terdapat halaman rumah cukup luas untuk parkir mobil. Lebih disarankan menggunakan sepeda motor sih buat kesini. Setelah meminta izin untuk memarkir, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dengan medan menanjak ke basecamp Burangrang yang dikelola warga.

Saat mendaki bersama pak Firman sih basecampnya kosong, jadi kami tidak membayar apa-apa, pun mengisi buku registrasi. Namun 2 bulan berikutnya saya kembali ke sini, ada pos yang dikelola warga yang menarik retribusi 5rb/orang dan parkir 10rb/motor. Nah untuk motor bisa diparkir di dekat basecamp. Dari basecamp yang ada di pinggir jalan, lanjut sekitar 3 menit ke arah atas, terdapat warung juga belokan ke jalur utama pendakian.

FYI, di jalur pendakian Burangrang ini terdapat 5 pos sebelum puncak. Di jalur-jalur awal, kita akan melalui perkebunan warga, kompleks permakaman umum, hingga sekitar 30 menit kita sampai di pos 1 yang berupa lapangan rumput luas dan kebun pinus yang biasa dijadikan camp ground. Ga ada penunjuk pos 1 sih di sini. Oya, di awal pendakian terdapat percabangan jalur menuju curug/air terjun Cipalasari.

Dari pos 1 perjalanan terus menanjak dengan elevasi 30-40 derajat dengan vegetasi semak belukar, hingga akhirnya menemui batas hutan. Tak kadang di kiri kanan jalur yang sempit kita harus ekstra hati-hati karena terdapat tanaman perdu yang siap menyayat hati #tsah. Hampir tidak ditemui bonus sepanjang jalur ini. 40 menit berjalan dengan sesekali istirahat, penasaran juga karena belum ditemui penunjuk pos 2, tau-tau sudah sampe di pos 3, baru ada penunjuk pos. Di pos 3 ini terdapat tempat datar cukup untuk 2 tenda kapasitas 3-4. Di pos ini juga dapat ditemui beberapa spesies jamur dan laba-laba.

Setelah istirahat sekitar 15 menit, kami melanjutkan perjalanan ke puncak. Lagi-lagi tidak ada bonus sepanjang jalur, malah ada trek dengkul ketemu dada dan akar-akar pohon cukup tinggi dan licin. Cuaca sedikit berkabut, tapi suhunya cukup gerah jadi perlu lebih banyak minum. Oya sepanjang jalur pendakian Burangrang ini tidak terdapat sumber mata air. Sekitar 1.5 jam berjalan (tentunya sesekali istirahat), tau-tau kami sampai di pos 5 dengan ketinggian 1850 mdpl. Alhamdulillah berarti dikit lagi dong sampe puncak.

DSC08843

Namun nyatanya jalur dari pos 5 menuju puncak tetap ga ada bonusnya, untungnya tidak begitu lama. Sekitar 15 menit kami sampai di puncak Burangrang yang ditandai dengan tugu SPN Polda Jabar berwarna oranye. Puncak Burangrang sendiri terdiri dari 2 pundukan yang dihubungkan sebuah jalur sempit dengan kiri kanan jurang. Di masing-masing pundukan terdapat tempat luas yang bisa digunakan untuk sekitar 5-6 tenda. Sayangnya saat saya dan pak Firman ke Burangrang, cuaca sedang tidak baik, alhasil di sekeliling hanya bisa melihat kabut 😦

Tapi jreng-jreng, jangan khawatir, karena 2 bulan berikutnya di bulan Desember, saya kembali ke Burangrang dengan melakukan pendakian tektok solo, kurang lebih sekitar 1 jam 45 menit dari basecamp sampai puncak. Alhamdulillah, cuaca sangat mendukung sehingga saat di puncak sekitar jam 8 pagi, disambut dengan matahari, langit biru dan pemandangan puncak Burangrang yang tak tertutup kabut, dengan hadiah utamanya : Situ Lembang 😀

DSC09852

Situ Lembang yang menjadi bagian dari kaldera Gunung Sunda Purba menjadi sisa-sisa dahsyatnya letusan gunung tersebut di masa lampau. Dengan posisinya tersebut, tak jarang Situ Lembang dijuluki Ranu Kumbolonya Bandung. Sayangnya (atau untungnya) Situ Lembang tidak dapat sembarang dikunjungi karena dikelola oleh Kopassus. Dari kejauhan dapat terlihat kompleks bangunan tempat pendidikan dan latihan Kopassus yang juga sering digunakan untuk pendidikan dasar Wanadri. Di bagian utara terlihat dengan jelas saudara termuda dari rangkaian gunung Sunda purba : Tangkuban Perahu.

DSC09865

Pandangan ke arah timur agak tertutup pepohonan tinggi dan belukar. Namun ke arah barat, pemandangan sangat luas tidak ada penghalang sehingga sangat cocok untuk melihat matahari tenggelam. Di barat daya, kita bisa melihat komplek Gunung Parang, Lembu dan Waduk Jatiluhur di Purwakarta. Sementara di sisi tenggara, kita dapat menyaksikan gunung Cikuray di Garut mengintip dari balik pepohonan.

Fiuh, setelah beristirahat, foto-foto dan menikmati santapan berat ditemani pemandangan indah di puncak Burangrang, saatnya kami turun. Alternatifnya bisa melalui jalur Kopassus (klo jalur turun biasanya diizinin, karena masa disuruh naik puncak lagi, atau melipir jalur), tentunya kalau nitip kendaraan di Legok Haji/Pasir Langu jaraknya jadi terlalu jauh. Kebetulan waktu itu ketemu rombongan yang turun via jalur Kopassus.

DSC09889

Jalur turun membutuhkan waktu lebih singkat, sekitar 1.5 jam sampai basecamp tetap dengan fokus penuh karena jalur cukup licin dan berduri. Sampai di basecamp, sebelum langsung pulang ke rumah, saya sempat ngobrol dengan warga pengelola basecamp. (setelah diterjemahin) “A, kok berani amat ngedaki sendirian, di Burangrang teh ada 3 pasir (bukit/punggungan), di tiap pasir teh ada penunggunya, kadang siang-siang juga nampakin diri”. Kebetulan pasir-pasir itu tempat dekat-dekat pos (mungkin 2-5). Asyem, habis diceritain gitu mah jadi males naik sendirian -_-

Secara ringkas, pendakian Burangrang (dengan santai)  menempuh waktu dan jalur sebagai berikut :

Terminal Ledeng – Basecamp Pasir Langu (45menit) -> BC – Pos 1 (30 menit) -> pos 1 – pos 3 (45 menit) -> pos 3 – pos 5 (1.5 jam) -> pos 5 – puncak (15 menit)

Logistik bisa beli di minimart, atau pasar sekitar Tugu/SPN, atau di warung dekat basecamp. Nomor kontak pengelola rasanya sih ga ada, lupa minta nomer si bapa pengelolanya, tapi jika tidak ada kejadian kebakaran hutan, Burangrang biasanya dibuka. Kondisi cuacanya kadang berbeda jauh dengan Bandung, bolehlah kontak saya buat tau cuaca hariannya mah, di belakang rumah ini :p Pendakian Burangrang idealnya sih dilakukan 2 hari 1 malam, tapi klo cuma punya 2 hari untuk mengunjungi gunung Bandung, bisalah tektok ke Burangrang dulu, habis itu ke Manglayang misalnya (pendakian manglayang via tebing doa bisa dibaca disini 😉 ), sekalian balik ke Cileunyi bwt balik ke Jakarta misalnya. See you di perjalanan berikutnya, maaf kepanjangan :p

 

Referensi

[1] Wisata Bumi Cekungan Bandung, Budi Brahmantyo & T. Bachtiar

[Seri Gunung Bandung] Catatan Pendakian Manglayang : Via Tebing Doa

Ah.. Akhirnya bisa apdet blog lagi, alasannya klise : banyak kesibukan. Selain itu juga akhir-akhir ini cuaca kurang baik, jadi tidak banyak melakukan perjalanan 😉 Yap, langsung saja basa-basinya.

Pagi itu, hari minggu tanggal 26 Maret 2017, saya mendaki gunung yang berada di sebelah timur kota Bandung : Manglayang. Seperti biasa ajakan naik gunung ini berawal dari grup WA. Agak males dan khawatir sih soalnya bulan-bulan ini cuaca masih kurang mendukung untuk melakukan pendakian. Apalagi beberapa kejadian buruk menimpa teman-teman pendaki di beberapa gunung akhir-akhir ini karena cuaca. Tapi Alhamdulillah pagi itu cuaca terbilang cerah walaupun mendung-mendung gemes. Saya berangkat dari rumah sekitar jam 7 pagi untuk kumpul di bumi perkemahan Batu Kuda di daerah Cileunyi/Cinunuk atas yang juga menjadi titik awal pendakian. Pekan itu ada long weekend karena hari nyepi, tapi jalanan cukup lengang, sehingga mungkin hanya butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke daerah Cinunuk.

Untuk menuju ke bumi perkemahan Batu Kuda ini kita bisa melalui jalan gang di samping SPBU 34-40310 Al Masoem Cinunuk, tapi jalannya banyak berliku dan kondisinya kurang mulus. Jalan yang lebih enak sebenarnya lewat jalan Tanjakan Muncang – Villa Bandung Indah yang posisinya tepat di persimpangan Cinunuk lepas jalanan satu arah.

Dari persimpangan Cinunuk itu tinggal mengikuti jalan lurus, hingga menemui percabangan, ambil ke kiri, hampir tidak ada percabangan yang membingungkan. Kondisi jalan aspal mulus sampai sekitar 200 meter dari gerbang buper (bumi perkemahan) Batu Kuda, setelah itu jalan makadam melalui pos tiket sampai tempat parkir. Oya, untuk mencapai buper ini tidak ada angkutan umum, jalanan mungkin cukup untuk 2 mobil berpapasan. Biasanya teman-teman pendaki menyewa angkot di daerah Cibiru/Cinunuk yang menarik tarif borongan sekitar 20rb/orang.

Sampai di pos tiket, per orang dipungut Rp. 7500,- (sudah termasuk 1 botol air minum 600ml) dan parkir motor Rp. 5000,-. Langsung saya bertemu dengan kang Dadan dan Ayunda di saung dan warung-warung yang sudah berdiri lama. Karena masih banyak yang belum datang, jadi saya sempatkan sarapan dulu di salah satu warung. Setelah sarapan, ternyata masih pada belum datang, jadi saya putuskan jalan-jalan di sekitaran, toh sudah lama juga ga kesini. Kondisinya tidak jauh berubah. Di dekat warung-warung terdapat mushola, toilet juga sumber air bagi para pekemah, yang baru mungkin sekarang tidak ada gerbang kayu pembatas tempat parkir. Pagi itu rupanya lumayan ramai karena ada gathering dari suatu kelompok.

Sekitar pukul 10.00 semua anggota rombongan sudah berkumpul, total ada 8 orang yang ikut dalam perjalanan kali ini. Setelah mengecek perlengkapan, briefing singkat tentang medan, diakhiri dengan doa dan sorakan, kami mengawali perjalanan kami menuju puncak manglayang via tebing doa.

Trek puncak manglayang lewat tebing doa ini tidak termasuk ke rute resmi pendakian ke puncak manglayang karena tingkat kesulitan trek yang mengharuskan pendaki menggunakan perlengkapan panjat tebing. Oleh karena itu tidak ada petunjuk menuju kesana. Panduannya dari plang petunjuk pilih jalan lurus/kanan (bukan ke kiri ke arah puncak), hingga melalui bukit sebelah. Jalur ini masih sering dilalui karena juga jalur menuju salah satu spot perkemahan di Manglayang, yaitu Papanggungan.

Dulu banget pernah ke papanggungan sih, viewnya lumayan bagus dengan view sunrise ke arah Jatinangor. Dari jalur ini, akan ditemui beberapa percabangan, patokannya hampir semuanya ke arah kiri. Jika ke papanggungan ambil arah kanan.

Dari percabangan kita akan melalui kebun warga, salah satunya kebun tembakau. Dari perkebunan tembakau ini trek hampir tidak ada percabangan, hanya ada satu jalur menanjak. Lumayan sih klo kesini klo cuaca cerah, panass. Dari sini pula dari kejauhan sudah terlihat tebing doa yang dimaksud.

DSC00901

Dari perkebunan tembakau, kita akan menemui hutan bambu yang konon menurut rangernya klo malam-malam bisa ditemui ular derik, karena itu kewaspadaan harus ditingkatkan jika melalui daerah ini. Melewati hutan bambu, setelah itu kita akan melalui trek dengan semak belukar cukup rapat, di beberapa tempat juga ada tanaman berduri. Setelah melalui beberapa tanjakan cukup terjal, sekitar 1 jam dari awalk pendakian, akhirnya sampai juga di tempat yang sudah dinantikan : Tebing Doa Manglayang.

Konon dinamakan tebing doa karena untuk melewati jalur ini kita harus banyak-banyak berdoa. Bagaimana tidak, tebing yang menjulang sekitar 10m ini kemiringannya hampir 90°, dimana samping kiri kanannya adalah jurang. Tidak ada pegangan yang bisa digunakan untuk mendaki, makanya agak heran juga pas pak Firman bilang pernah sukses lewat tebing ini tanpa pengaman 😆

DSC00943

Btw, ternyata tebing doa ini terdapat 2 bagian, tebing pertama dengan ketinggian sekitar 6m dan tebing kedua dengan tinggi sekitar 10m. Tebing pertama masih bisa dilalui dengan melewati jalur melipir ke arah kiri yang berbatasan langsung dengan jurang. Tidak perlu menggunakan peralatan khusus, tapi jalurnya cukup sempit jadi tetap harus fokus. Sementara saya melalui jalur jalan kaki, kang Tatan, kang Dadan dan teh Celine penasaran naik tebing pertama dengan peralatan. Satu persatu teman-teman saya pun naik ke tebing pertama.

Pemandangan dari tebing pertama ini juga bagus dengan view ke kota Bandung. Sayangnya kabut menyelimuti bandung saat itu, jadi hampir ga bisa lihat apa-apa. Di arah utara dapat terlihat puncak utama Manglayang.

Setelah semua tim sampai di tebing pertama, kami melanjutkan ke tebing kedua. Rasa was-was mulai timbul gimana cara naik ke atas. Beruntungnya kang Tatan bisa menuju puncak tebing dengan meniti celah-celah batuan untuk memasang anchor dan menarik karmantel. Setelah aman, akhirnya satu per satu tim naik bergantian, sebagian menggunakan harness, ada juga yang hanya menggunakan karmantel untuk pegangan. Sepertinya tidak ada teknis khusus untuk mendaki tebing doa ini, hanya saja kita harus jeli melihat celah-celah batuan untuk pegangan dan pijakan. Tali pengamannya sendiri mungkin sebagai jaga-jaga. Saya kebagian urutan 3 terakhir, katanya tukang foto harus terakhir biar semuanya kefoto  -_-

Alhamdulillah, hanya memerlukan waktu kurang dari 5 menit untuk melewati tebing ini, rasa was-was usai sudah (tadinya). Saya pikir setelah melewati tebing doa ini jalur akan lebih bersahabat, ternyata eh ternyata tepat di depan adalah jalur sempit menanjak yang minim pegangan dengan kiri kanannya jurang menganga. Lebih parah dari pemandangan saat tebing pertama tadi. Saya yang takut ketinggian ini juga jadi agak cemas. Walhasil, setelah membantu teh Una dan Ayunda melewati 1 tanjakan setelah tebing doa, saya percepat langkah ke arah puncak tanpa coba melihat kiri kanan :))

Tapi ternyata nasib berkata lain, setelah hampir melewati tanjakan dengan jalur tipis ini teh Una minta dibantu untuk melalui tanjakan, walhasil harus balik lagi ke bawah -_-“ turunnya lebih ngeri ternyata boi.

DSC01031

Setelah melalui jalur tipis tadi, akhirnya kami sampai di jalur yang cukup rimbun dan banyak akar sebagai pegangan. Bayangan jurang-jurang tadi lewat sudah. Dari sini, trek berupa tanah dan akar-akar dengan kemiringan 60-70°. Trek agak licin mungkin karena hari sebelumnya turun hujan. Dari kejauhan saya mendengar riuh-riuh yang menandakan ada pendaki lain, artinya : puncak sudah dekat! Setidaknya puncak Prisma/puncak timur. Alhamdulillah, setelah 2.5 jam mulai dari kaki tebing doa, kami sampai di puncak Prisma.

Kondisi puncak saat itu tidak ada orang, kabut juga menyelimuti sekitar. Konon di puncak inilah tempat terbaik untuk melihat matahari terbit karena viewnya tidak terhalang pepohonan seperti di puncak utama. Terdapat lahan cukup luas di beberapa tempat untuk mendirikan 10 lebih tenda. Sepertinya sebelum kami sampai di puncak ini ada beberapa pendaki lain terlihat dari bekas-bekas makanan, sampah dan kertas. Bocah pasti ini, kampret betul ninggalin sampah.

Kami memutuskan untuk beristirahat, solat dan makan di puncak timur ini. Dengan menggelar plysheet, kami makan berjamaah dengan bekal yang dibawa dari bawah. Sebiji tomat merah pemberian teh Una pun rasanya segar kali dimakan di puncak ini.

Kami beristirahat kurang lebih 1 jam di sini, kemudian kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang lewat Puncak Utama, karena turun lewat tebing doa tadi rasanya bukan pilihan :)) Dari puncak prisma ini, rupanya juga terdapat jalur Manglayang via Barubeureum ke arah kiarapayung. Dulu saya pernah tidak sengaja ke Barubeureum karena salah jalur. Puncak utama ditempuh sekitar 40 menit pendakian yang terus menanjak, bukan turun gunung sih ini namanya.

DSC01087

Kami sampai di puncak utama sekitar pukul 16.00, lagi-lagi di puncak utama ini tidak ada orang, sepertinya sudah pada pulang karena besok Senin. Bagi yang belum pernah ke Puncak Utama Manglayang, puncaknya berupa lapangan yang tertutup pepohonan dan terdapat sebuah petilasan. Alhamdulillah di sini kondisinya lebih bersih dibanding di puncak prisma tadi. Seperti biasa di puncaknya juga terdapat plang penanda ketinggian. Saya tak melewatkan berfoto bersama plang puncak Manglayang yang berketinggian 1818 mdpl ini (ciee nomor cantik).

DSC01104

Kami tidak menghabiskan waktu lama di puncak karena sudah sangat sore. Hujan pun mulai turun di perjalanan turun. Yang paling bikin males di Manglayang ini memang jalurnya bakal sangat licin klo hujan, makanya saya percepat jalan mumpung hujan belum terlalu deras. Tapi memang kita tidak bisa mengontrol hujan, di sekitar setengah jam sebelum mencapai Batukuda, hujan sangat deras akhirnya saya sempat terpeleset. Di perjalanan juga bertemu 3 orang pendaki yang baru menuju puncak. Sekitar pukul 17.30 saya sampai di Batu Kuda, langsung menuju warung dan memesan segelas kopi panas dan gorengan, ahh nikmat rasanya. Beberapa waktu kemudian semua tim sudah sampai di Batu Kuda. Tidak lama kami pun berpisah menuju rumah masing-masing.

Untuk saya pribadi, perjalanan pendakian lewat tebing doa ini memang menawarkan pengalaman paling berbeda dibanding gunung-gunung lain, salah satunya ya karena harus panjat tebingnya itu, mau balik lagi? Mikir 2 kali sih kayaknya, kecuali perginya sama kamu, iya kamu :”)

Damage Cost

  • Bensin PP : Rp. 18000,-
  • Tiket & Parir : Rp. 7500,- + Rp. 5000,-
  • Indomi rebus telor : Rp. 7000
  • Kopi susu : Rp. 3000,-
  • Roti & madu : Rp. ~20.000,-