[Seri Gunung Bandung] Explore Hutan Pangalengan Yang Tersisa : Gunung Gambung Sedaningsih 2221 mdpl

“Ketika pohon terakhir ditebang,
Ketika sungai terakhir dikosongkan,
Ketika ikan terakhir ditangkap,
Barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang.”

~Eric Weiner, The Geography of Bliss: One Grump’s Search for the Happiest Places in the World

Fiuh, genap 5 bulan sudah blog ini belum diupdate, 4 bulan belum naik gunung, dan 2 bulan sudah kami menikah. Yak, kami dua penulis blog ini sudah menikah akhir Desember tahun lalu, alhamdulillah. Bahagia rasanya bisa menunaikan ibadah yang menjadi penggenap agama ini. Mohon doanya supaya kami bisa menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah dan bisa menjadi suri tauladan yak, aamiin.

Setelah lama tidak menulis, rasanya gagap mau nulis apa untuk tulisan pertama di kehidupan baru dan 2018 ini. Beruntung banyak foto-foto mengendap yang bisa jadi referensi saya untuk menulis. Tulisan kali ini adalah cerita perjalanan saya bulan oktober 2017 lalu ke gunung Gambung Sedaningsih di perbatasan Kertasari-Pangalengan. Oya, yang mengikuti blog ini pasti pernah mendengar gunung Gambung saat saya mengulas perjalanan ke gunung Artapela. Letaknya memang bersebelahan dengan gunung Artapela. Cukup sedikit informasi terkait toponim atau sejarah terkait gunung ini, yang jelas, belakangan berdasarkan GPS di hp, ketinggian gunung ini adalah +2221 mdpl, lebih tinggi dibandingkan puncak Sulibra Artapela dengan ketinggian + 2066 mdpl. Untuk menuju gunung Gambung ini bisa melalui Pacet , melewati trek Artapela, atau jalur lebih cepat melalui Pangalengan seperti yang saya gunakan bersama pak Firman 14 Oktober 2017 lalu. FYI, gunung Gambung ini lokasinya berbeda jauh dengan perkebunan teh Gambung yang ada di Ciwidey sana.

Seperti biasa, rencana pendakian dengan pak Firman diadakan secara dadakan :v Kebetulan sore itu juga ada rencana foto di daerah Pangalengan, jadi saya membawa motor sendiri dan pak Firman dengan mobilnya sendiri. Jalur yang kami lalui lewat perkebunan Kertamanah, terus melalui perkebunan teh di kiri kanan jalan yang mulus. Kami sempat sholat dulu di mesjid sekitar sini sebelum melanjutkan perjalanan. Sebelum SD kertamanah, terdapat pertigaan, karena kami berdua belum pernah ke gambung sebelumnya, kami malah mengambil jalan ke kiri karena rekomendasi google, alhasil kami harus menghadapi jalanan yang biadab. Padahal jalan paling bagus dan cepat lurus saja melewati penangkaran rusa, sampai segitiga pertigaan Wayang Windu, ambil kiri. Tapi ya namanya perjalanan, nikmati saja, alhamdulillah ban motor juga ga bocor.

gerbang kertamanah
persimpangan pangalengan-perkebunan kertamanah
pertigaan-pangalengan-gambung
pertigaan SD Kertamanah-Gambung, jangan belok kiri, jalannya ancur :v

Kurang lebih 1 jam kami melalui jalanan berbatu dengan kecepatan seadanya, akhirnya kami menemukan jalan aspal yang lebih manusiawi yang langsung mengarah ke parkiran menuju Artapela/Gambung yang ternyata terdapat salah satu sumur PLTG Wayang Windu. Tidak ada pos pendaftaran di sini, terdapat pos satpam di sana, tapi tidak ada petugas yang berjaga. Kami hanya menitipkan kendaraan ke petani sekitar. Pulangnya kami disambangi oleh warga yang mengaku menjaga parkir, kami hanya membayar sekitar 15ribu total untuk mobil & motor. Kalau weekend ada warga yang menjaga parkir karena memang ramai, kalau hari biasa tidak direkomendasikan karena tidak ada yang menjaga.

Saat kami kesana tidak ada tanda-tanda tempat pendakian Artapela/Gambung, jalan masuk jalur pendakian, arahan dari warga kami ditunjuki jalur yang terlihat dari parkiran, kami harus melewati kolong pipa uap untuk PLTG wayang Windu yang terasa panas. Di awal pendakian adalah jalur penuh pepohonan tinggi yang berbatasan dengan perkebunan di sebelah kanan, jika kita teruskan ke sebelah kanan kita akan temui danau/situ Aul. Btw, Aul sendiri adalah sebutan makhluk mitos yang orang barat namai dengan Wirewolf a.k.a manusia anjing yang konon menghuni daerah sekitar Gambung/Artapela.

Lepas dari jalur perbatasan hutan, sekitar 10 menit kami keluar dari hutan dan langsung menemui trek kebun warga. Jalurnya tanah gembur, umumnya didominasi sayur-sayuran seperti kol, kentang, wortel. Tidak ada mata air yang kami temui. Kemiringan jalur tidak terlalu terjal. Karena berangkat siang hari suasana terasa cukup gerah, beruntung masih ada pepohonan tinggi dan rimbun semak-semak menaungi kami. Di perjalanan kami bertemu dengan petani yang menggunakan motor, set dah, kayaknya bisa sampe Artapela ini pake ojek. Selepas jalur perkebunan yang masih dihiasi pepohonan selanjutnya ditemui jalur perkebunan yang lebih terbuka. Di sana kami sempat berbincang dengan warga yang menjelaskan nama-nama daerah di sekitar gunung Gambung, sebelum akhirnya kami berpamitan.

40 menit berjalan kami sampai di dataran luas semacam sabana. Di kiri kanan jalur tidak ada tumbuhan tinggi selain ilalang. Ah rupanya ini yang dinamakan dengan Datar Anjing. Daerah ini dinamai Datar Anjing karena berbentuk dataran luas dan biasanya banyak ditemui anjing, mind blowing bukan? Mungkin suara lolongan dan salakan anjing yang saya temui waktu mendaki Artapela sumbernya dari daerah Datar Anjing ini.

DSC04757

DSC04775
Datar Anjing dan gunung Gambung di sebelah kanan

Kami sempat berfoto-foto di Datar Anjing sebentar sebelum lanjut ke puncak Gambung. Lain kali kayaknya enak camping di sini, cuma ga tahu deh karena daerahnya terbuka mungkin angin dan suhu agak galak di sini. Oya, dari Datar Anjing ini view terbaik adalah ke arah timur, tempatnya cucok untuk view sunrise. Sampai Datar Anjing ini sih bisa dilalui dengan motor trail, terlihat juga jejak dari motor petani. Saat kami berkunjung ke sini, masih terdapat bekas ilalang yang terbakar, entah disengaja atau tidak. Yang jelas, di beberapa tempat sudah dijadikan perkebunan warga. Oya, dari Datar Anjing ini kita bisa melanjutkan perjalanan ke Puncak Sulibra yang berjarak sekitar 45 menit.

Dari Datar Anjing trek menuju puncak Gambung cukup terlihat jelas, sebenarnya bisa saja mengambil jalan lurus lewat melewati jalan samping gubuk, entah kenapa waktu itu mesti melipir dulu :v Dari Datar Anjing sampai ke daerah puncakan memakan waktu sekitar 30 menit, treknya agak susah karena lewat jalan kebun yang lunak.

DSC04832
jalur naik/turun ke puncak Gambung dari Datar Anjing

Sampai puncakan, langsunglah kami mencari plang puncak yang klo ga salah dulu pernah dibuat kelompok Jelajah Gunung Bandung. tapi setelah berjalan berputar-putar di daerah yang diduga sebagai puncak, ga ketemu-temu juga. Oya puncak Gambung ini masih tertutup rapat oleh semak belukar, tidak bisa digunakan untuk berkemah. Setelah 30 menit berputar-putar, kami putuskan beristirahat di kebun sebelum puncak dengan view ke arah Ciparay. Dari tempat kami beristirahat tampak daerah Datar Anjing, Artapela dan siluet gunung sekitar Bandung seperti Kendang dan Rakutak.

DSC04803
Puncak gunung Gambung

Namun dibalik pemandangan yang indah ini, tidak bisa disangkal ada hal yang miris juga melihat daerah yang mungkin dulunya hutan rapat ini sudah berganti menjadi perkebunan warga. Dari Artapela sampai Datar Anjing mungkin hanya tersisa sedikit daerah yang masih ditumbuhi pepohonan tinggi. Entah sampai kondisi ini akan bertahan, kalau melihat trendnya sangat mungkin daerah perkebunan ini meluas memakan daerah yang masih rimbun. Kalau sudah demikian, jangan salahkan alam jika suatu saat dia akan mengambil alih haknya 😦

Sejuta pertanyaan tadi masih berputar-putar seiring tidak terasa beberapa bungkus roti dan sekotak Hydro-Coc*o  sukses melepas lapar dan dahaga. Sebelum turun gunung, kabut mulai memasuki daerah Datar Anjing. Pak Firman sempat berseloroh, petani-petani tadi ga akan di kebun lebih dari jam 4/5 sore, soalnya klo udah malam ada kemungkinan ‘penghuni’ hutan lainnya turun mencari makan. Ah, amannya berarti kami juga harus segera turun. Melalui jalur yang sama untuk turun, hanya memakan waktu sekitar 40 menit sampai di parkiran. Kami sempat bertemu rombongan yang akan berangkat ke Artapela. Untuk memuaskan rasa penasaran kami juga sempat mencari danau Aul yang saat itu sepertinya sedang surut.

Kami sampai di parkiran sekitar pukul 4 sore, parkiran lebih ramai, sepertinya milik rombongan yang kami temui tadi. Saya pun berpisah dengan pak Firman karena akan meneruskan perjalanan langsung ke Pangalengan. Dengan demikian berakhir pula catatan perjalanan gunung Gambung ini, pendakian yang tidak memerlukan waktu dan tenaga yang banyak, tapi menyisakan beban pikiran cukup berat, sampai kapan alam ini bisa memuaskan kebutuhan manusia yang sepertinya tak berbatas #tsah. Mudah-mudahan saja nanti ada pihak yang peduli dengan kondisi alam Gambung. Menurut saya rating untuk gunung Gambung ini view 3/5, trek 2/5, akses sarana/prasarana 3.5/5.

Summary

Sebagai penutup, berikut rekap waktu tempuh dan biaya yang diperlukan :

waktu tempuh :

  •  Bandung-Pertigaan Kertamanah : 2.5-3jam
  • Pertigaan Kertamanah-parkiran 45menit
  • Parkiran-Datar Anjing : 45 menit
  • Datar Anjing-Puncak Gambung : ~30menit
  • total waktu treking ~1jam, turun 30-35 menit

Cost Damage :

  • logistik ~20rb
  • parkir motor ~5rb, mobil ~10rb

Track log : cek kulkas

trek gambung

Iklan

[Seri Gunung Bandung] Gunung Wayang 2241 Mdpl : Jalur Pendakian Semi Panjat Tebing Yang Sukses Bikin Lutut Lemas

“Bandung dilingkung ku gunung” adalah ungkapan yang sering dilontarkan budayawan sunda untuk menggambarkan kondisi kota/kabupaten Bandung yang memang dikelilingi gunung-gunung, seolah-olah berada dalam mangkok. Rupanya, menurut penelusuran yang dilakukan teman-teman di Jelajah Gunung Bandung menyatakan bahwa ada sekitar 500 gunung yang berada di tanah yang katanya diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum ini. Konon, kalau dikunjungi 1 per 1 per bulannya, akan membutuhkan kurang lebih 58 tahun untuk mengecup setiap puncak pergunungannya.

Salah satu gunung Bandung yang mungkin sudah cukup dikenal pendaki Bandung, namun rasanya jarang ada ajakan pendakian adalah gunung Wayang. Saya sendiri tahu keberadaan gunung Wayang, karena keberadaan pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) Wayang Windu yang dioperasikan perusahaan Star Energy waktu kuliah Teknik panas bumi sekian semester yang lalu. Bagi teman-teman fotografer yang sering main di daerah Pangalengan pasti pernah mengabadikan gunung ini karena letaknya berada tepat di arah timur Situ Cileunca, matahari pagi merayap dari balik gunung ini.

Hari sabtu pagi itu saya diajak oleh kang Mbok Hasby untuk berkunjung ke gunung berketinggian + 2183 mdpl yang secara administratif berada di Pangalengan, kabupaten Bandung. Kami ber-6 sepakat kumpul dulu di Carefour Kircon yang terkenal dengan durasi lampu merahnya yang bisa sambil namatin 1 season Cinta Fitri. Kang Mbok bertindak sebagai team leader dan penunjuk arah pendakian gunung Wayang ini karena sebelumnya sudah pernah kesana. Saya sendiri belum tahu gambaran treknya bakal seperti apa, mengingat sedikit dokumentasi tentang gunung ini, tapi dapet info dari pak Firman sih, miniatur gunung Raung yang terkenal itu. Saat itu sih belum dapet firasat apa-apa. Akhirnya setelah berkumpul semua anggota sekitar jam 8 lebih, kami ber-4 motor berangkat menuju titik awal pendakian. Dari kota Bandung kami arahkan kendaraan ke arah Pangalengan via Dayeuh kolot-Banjaran, menyusuri jalanan berliuk-liuk, sampai sebelum mencapai pusat kota akan ditemui persimpangan ke perkebunan teh PTPN VIII Kertamanah, ambil ke kiri, lalu mengikuti jalan ke arah power house pembangkit listrik geotermal Wayang Windu, atau ke arah Wayang Windu bike park. Patokannya sih sebrang toko oleh-oleh Pia Kawitan, di sekitar persimpangan ini juga terdapat warung nasi untuk mengisi perut atau membeli bekal.

gerbang kertamanah
persimpangan jalan raya Pangalengan – PLTP Wayang Windu/PTPN Kertamanah

Menurut informasi dari dokumentasi kawan-kawan JGB rupanya jalur pendakian gunung wayang ini terdapat 4 jalur : Kertamanah via PLTP wayang windu, Cisanti, Kertamanah via Cibeureum, dan satunya lagi apa ya. Jalur yang sering dilalui adalah lewat Kertamanah. Tidak ada basecamp khusus untuk pendakian gunung Wayang, pun tidak ada angkutan khusus ke titik pendakian awal. Tapi kalau dari Bandung kita bisa naik angkutan elf dari Tegal Lega-Pangalengan, turun di persimpangan perkebunan Kertasari, lanjut naik ojek ke PLTP Wayang Windu.

Setelah sekitar 2 jam mengendarai motor dari titik kumpul kami, akhirnya sampailah di pintu portal PLTP Wayang Windu. Saat itu kami masih boleh menitipkan motor di dekat pos satpam yang dikelilingi hutan pinus. Namun terakhir saya kesana sih sudah tidak boleh parkir disana, alih-alih parkirnya harus di suatu lapangan yang dikelilingi pipa uap panas bumi. Tidak ada tempat penitipan khusus kendaraan maupun basecamp di sini, jadi lumayan was-was sih ninggalin kendaraan. Oya, jalan menuju ke tempat parkir kendaraan yang melalui perkebunan teh ini juga memberikan pemandangan yang menyejukkan mata, walaupun kondisi jalan dari pertigaan antara portal PLTG-Wayang Windu Bike Park ini berupa bebatuan lepas, yang mengharuskan kita tetap fokus berkendara.

 

Kalau menitipkan kendaraan di pos satpam, masih butuh waktu sekitar 15 menit berjalan kaki ke lapangan tempat parkir yang saya sebut tadi, melewati kompleks PLTG dimana terdapat sebuah helipad.

Dari lapangan tempat parkir, perjalanan dilanjutkan treking ke kawah Wayang dimana kita akan melewati perkebunan warga. Di perkebunan warga ini bisa ditemui sayuran seperti wortel, kol, hingga tembakau. Tidak ada persimpangan yang berarti sih, kalau bingung bisa menanyakan warga kemana arah kawah Wayang. Di jalan setapak ini ternyata masih bisa dilalui motor trail, tau gitu kan … 😀

Selama kurang lebih 30 menit berjalan pemandangan kebun mulai berganti semak belukar dan samar-samar tercium bau telur busuk, yang dimasak. Ah, inilah tandanya kawah Wayang sudah dekat, dan betul saja kami sampai di kawah Wayang dengan pemandangan yang not-like-earthy. Keberadaan kawah Wayang yang menyemburkan uap dan gas solfatara ini menjadi tanda bahwa gunung Wayang ini adalah gunung berapi yang aktif. Bau belerangnya sendiri tidak terlalu menyengat seperti di papandayan. Treknya terasa begitu hangat (klo tidak panas). Dari kawah Wayang ini, perjalanan menuju puncak Wayang agak sedikit tricky karena tidak ada patokan untuk menemukan jalan setapak, pokoknya yang mengarah ke atas dan masih bisa dilalui dengan mudah, nanti ketemu jalan setapak yang berundak. Rasanya hanya ada satu jalur menuju puncak dari sini. Dari sana perjalanan terus menanjak, ada kali 60”

Tanjakan berundak tadi tidak begitu lama dilalui, hanya sekitar 15 menit. Nah, dari sini, perjalanan mulai terasa menantang. Dari ujung tanjakan tadi, kita sudah bisa melihat batu yang jadi iconnya gunung Wayang : Batu Wayang (Oh, thank you, captain). Trek yang tadinya berupa tanah, kini kami harus melalui jalur bebatuan. Tak jarang kami harus mendaki, mencoba mencari celah-celah batuan untuk berpijak dan berpegangan. Perjalanan mulai deg-deg-ser karena jalan di samping trek bebatuan tadi ya jurang. Di beberapa tempat, kami harus merayap, bukan lagi dengkul ketemu lutut, apa aja bagian badan yang bisa ditempel, ya ditempel. Lutut rasanya sudah lemas, bukan karena cape, tapi ya keder. Tidak salah kalau jalur Wayang ini dikatakan jalur semi panjat tebing.

Sampai di lokasi batu Wayang, sekitar 15 menit dari ujung tanjakan yang saya bilang tadi. Di sini kami sempat beristirahat dulu. Di batu wayang terdapat sebuah plang “Batu Wayang”. Dinamai batu Wayang karena bentuk batu tersebut mirip seperti Gunungan dalam pertunjukan Wayang. Kurang tahu sih klo di tempat lain dinamai apa, kenapa ga dinamai gunung Gunungan, mungkin nanti malah dibilang gunung boongan, kan gunung-gunungan #krik.

collectie_tropenmuseum_wajangfiguur_van_karbouwenhuid_voorstellende_een_pauzeteken_tmnr_4551-27
Gambar Gunungan (https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/2/26/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Wajangfiguur_van_karbouwenhuid_voorstellende_een_pauzeteken_TMnr_4551-27.jpg)

Nah, berita baiknya, batu Wayang sudah ditemui. Berita kurang baiknya : puncaknya masih setengah perjalanan. Kami masih harus melalui dan memanjat jalur bebatuan kembali untuk mencapai puncaknya. Tidak ada pilihan jalur, hanya jalur sempit yang dibawahnya menganga jurang. Di beberapa tempat dibutuhkan webbing untuk berpegangan. Well harusnya sih kita bawa perlengkapan pengaman yang lebih lengkap. Tapi saya sendiri juga ga tw klo jalurnya kaya gini, tau gitu kan … T.T

Tidak begitu lama sih jalur batunya, lepas jalur batu berikutnya kami menemui lagi jalur tanah, tepatnya tanah kemerah-merahan yang klo ujan ga tahu mau melorot kemana. Jangan senang dulu, karena jalur tanah yang saya maksud adalah jalur dengan kemiringan mendekati 75”, dengan tanah lepas, yang minim pegangan. Karena saya paling depan, dan cuma dibilang terus aja ke atas, mau gimana lagi, saya berpegangan sebisa mungkin ke tetumbuhan, sambil terus berdzikir moga2 ini tanah ga tiba-tiba longsor. Ga kepikiran motret jalurnya, dalam batin yang penting cepet beres aja lewat ini jalur. Alhamdulillah, jalur tadi mungkin hanya sekitar 5-10 menit, nah ujung dari tanjakan tadi : Puncak Wayang

Rasa syukur langsung saya ucapkan setelah melewati jalur ‘nista’ tadi, bersyukur juga karena kami masih diberikan keselamatan. Di puncak Wayang ada plang Puncak Wayang yang sudah lebih mirip plang tanda perlintasan kereta api. Di puncaknya terdapat sebidang tanah yang mungkin bisa ditempati sekitar 4 tenda. Dari puncaknya kita bisa melihat di sebrang ada pasangan Wayang : Windu, kemudian gunung Tilu, Datar Anjing dan Artapela. Kabut masih menyelimuti hari yang sudah melewati tengah siang saat kami sampai di puncak. Dari kejauhan kita bisa melihat pembangkit Wayang Windu.

Gerimis mungkin dari kabut mulai turun, untungnya kami sudah bersiap dengan mendirikan bivak sederhana dari plysheet. Setelah shalat, kami mengeluarkan bekal masing-masing, kompor juga dinyalakan untuk membuat air panas. Tidak terasa, setelah kenyang ngantuk melanda, ditambah suasana puncak yang sepi (tidak ada pengunjung lain saat itu, tau kan alasannya?). Kami sempat tertidur di bivak juga hammock yang dibuat di sekitar pepohonan.

DSC02007
jalan di belakang itu jalur lewat Cisanti, belakangan juga kami pakai untuk turun ke jalur kawah

Sekitar jam 3 sore, kami memutuskan untuk pulang, tapi selain kang Mbok, tidak ada yang mau melewati jalur naik tadi, naiknya aja susah, turun lebih susah-serem lagi 😆 Hanya ada pilihan lewat Cisanti yang treknya lebih jauh dari tempat parkir, atau tetap ke arah tempat parkir dan ‘buka jalur’.

Kang Mbok sebenarnya sudah kesini sebelumnya, tapi karena kondisi jalur yang masih rapat dan jarang dikunjungi, sempat membuat kami kehilangan arah. Sempat kami coba buka google maps (oya, sinyal smartfren 4g lumayan kuat di puncak loh) untuk melihat peta kontur untuk mencari arah kawah. Kami harus melewati semak belukar, main perosotan di tebing dengan pegangan di semak-belukar yang ada, hingga akhirnya kami sampai kembali di kawah sekitar pukul 4 sore. Lagi, tidak ada panduan atau papan petunjuk jalur turun (saat itu), maka ada baiknya selain membawa peralatan safety, juga harus sama orang yang pernah/biasa ke tempat ini. Kabut sekarang menyelimuti kawah, bercampur asap belerang, membuat pemandangannya seolah-olah other-world. Sambil istirahat, ya kami foto-foto terakhir sebelum pulang.

Saat perjalanan pulang melewati jalur perkebunan tadi pagi, hujan turun dengan deras, untungnya kami semua membawa jas hujan. Sampai di tempat parkir, kami berpamitan ke Satpam dan membayar ‘seikhlasnya’ 5000 rupiah per orang, dan diiringi bunyi dari cerobong uap pembangkit dan hujan saat itu kami berpisah.

Sebagai penutup, gunung Wayang ini adalah salah satu trek gunung yang cukup unik dan menantang, ketidak-tinggiannya sebagaimana gunung-gunung Bandung lainnya, tidak membuat gunung ini mudah untuk dilalui, alih-alih saya sendiri malah boleh dibilang kapok naik kesini, tangan basah keringetan, lutut selain lemas juga sakit, nah yang terakhir ini ga tw sih, karena naik gunung atau emang kurang olahraga :p Berhubung pendakiannya bisa ditempuh dalam satu hari (tektok), klo punya waktu 2 hari untuk treking gunung Bandung, bisa dilanjut/digabung dengan Burangrang, atau Manglayang.

Cost Damage

  • Parkir : 5rb
  • konsumsi : ~20rb

Info Kontak Basecamp :

Nihil, atau pantau grup Jelajah Gunung Bandung di Facebook groupnya.

Catatan Pendakian Gunung Ceremai : Perjalanan Dadakan Yang Gurih-Gurih Nyoyyy

You don’t climb mountains without a team, you don’t climb mountains without being fit, you don’t climb mountains without being prepared and you don’t climb mountains without balancing the risks and rewards. And you never climb a mountain on accident – it has to be intentional.

Mark Udall

Halo halo, sudah cukup lama tidak update blog ini, mungkin karena bertepatan dengan bulan Ramadhan, jadi tidak banyak aktivitas yang bisa diceritakan. Alhasil, saya coba update tulisan yang sudah lumayan lama jadi draft, untung ga jamuran juga 😀

Jadi, perjalanan yang saya ceritakan sekarang, terjadi sekitar 2 bulan lalu. Bermula dari pesan Pak Firman di salah satu grup whatsapp di hari rabu pagi 20 April 2016:

PF = Pak Firman

AS = saya

PF : Ada yang mau ikut ke Ceremai via kuningan? sekalian nganter barang, transport gratis!

AS : (kata-kata gratis adalah clickbait yang sering sukses memancing otak saya menentukan keputusan) Bentar pak, ijin bos dulu. (lanjut nelpon bos)

5 menit kemudian

AS : Hayu pak, udah diijinin >.<

Jadi sederhana saja, perjalanan ke Atap tertinggi Jawa Barat itu terjadi begitu saja, setelah saya mendengar kata-kata gratis -_- FYI, sebenarnya nama gunungnya adalah Ceremai, cuma sering salah kaprah jadi Ciremai, tapi klo di tulisan ini disebut Ceremai/Ciremai mohon dimaafkan ya 😉

Bulan April itu memang tidak ada agenda naik gunung kemanapun, mengingat bulan depannya ada agenda ke gunung lain. Jadi hampir tanpa persiapan/pemanasan. Tapi siang itu, setelah pamitan ke ortu, packing secukupnya (kali ini bawaannya ga rempong, karena tenda sudah dibawa yang lain), berangkatlah saya ke Cibiru untuk berkumpul dengan 2 teman lain yang sudah menunggu : Pak Firman, Mang Mbok. Belakangan ditambah sama Mang Derul yang menyusul di Padalarang, kebetulan memang kita akan ke Kuningan lewat Tol Cipali yang tersohor. Setelah sholat Dzuhur dan di-Jama’, kami pun berangkat ke Kuningan menggunakan mobil Gran Max pak Firman. Rencananya kami akan mengantarkan barang pesanan dulu ke daerah Cirebon, lanjut ke Ciremai lewat jalur Linggasana.

Karena kami berangkat di hari kerja, jalanan sangat lengang, bahkan di segmen jalan tol Cipali sepanjang + 115km hanya ditemui beberapa mobil saja. Jalan tol Cipali mulai dari gerbang tol Cikampek hingga Palimanan sukses dilalui sekitar 50 menit saja :)) Kami sampai di Kuningan sekitar pukul 4 sore. Setelah mengantarkan barang, kami lanjut makan siang sore sekalian cari logistik di kota.

FYI, jalur Linggasana ini memang jalur yang relatif baru. Letaknya tidak terlalu jauh dari jalur Linggarjati yang sudah ada sejak lama. Di pos tertentu bahkan jalurnya akan saling berpapasan. Beberapa perbedaannya, jika dari jalur Linggarjati dimulai dari ketinggian 600 mdpl, nah pendakian lewat Linggasana dimulai dari ketinggian 700 mdpl, ya lumayan lah. Selain itu pos pendakian Linggasana buka 24 jam jadi kita bebas naik jam berapapun. Sejauh ini juga tidak ada batasan berapa banyak pendaki yang boleh naik bersamaan. Pun kalau berangkat cuma 2 orang masih diperbolehkan. Beda dengan pos pendakian Linggarjati. Kami sampai di Linggasana sekitar pukul 7 malam, saat itu hujan mengguyur sangat deras, kami bahkan ragu untuk melanjutkan. Tidak lama kami sampai di basecamp (BC) Linggasana. BC Linggasana termasuk salah satu basecamp yang cukup bagus fasilitasnya, terdapat tempat mandi, toilet, mushola, warung dan parkiran yang luas, kondisinya pun masih sangat bagus, ya mungkin karena baru beberapa bulan dibangun.

Selain menggunakan kendaraan pribadi, dari Bandung kita bisa naik kereta ke stasion Cirebon dengan ongkos 80rb, lanjut angkot ke terminal Cirebon 5rb, terakhir naik angkutan umum (elf/bus) arah Kuningan dari Terminal Cirebon dengan ongkos 15rb sampai pertigaan Indomaret-Linggasana, bilang saja ke supir/kernetnya mau ke basecamp Linggarjati/Linggasana. Dari pertigaan Linggasana bisa menggunakan ojek dengan tarif 10-15rb. Kadang-kadang supir/kernet elfnya juga mau mengantarkan kita dengan tambahan ongkos 15rb sampai basecamp Linggasana yang berjarak sekitar 10 menit. Tapi sebelum beneran diantarkan, minta kernet untuk meminta restu dari penumpang yang ada supaya dibolehkan nganter ke basecamp, kalau engga, bisa ada perang sipil di elf, trust me it happened :v Alternatif lain sih bisa langsung naik travel/DAMRI Bandung-Kuningan.

Oya, sampai di basecamp, kami langsung disambut oleh Kang Pen sebagai koordinator jalur pendakian Ciremai via Linggasana dengan seteko teh manis panas. Lepas men-jama’ sholat Magrib dan Isya, kami sempat mengobrol sekaligus registrasi. Di semua jalur pendakian Ciremai dikenakan biaya SIMAKSI sebesar 50rb/orang. Khusus di jalur Linggasana, tarif 50rb ini sudah termasuk SIMAKSI, teh manis panas, sertifikat (yang nama di sertifikatnya ditulis sendiri) dan paket makan saat turun gunung nanti. Saat registrasi kita hanya perlu menitipkan 1 KTP perwakilan kelompok dan menuliskan nama anggota dan nomor telepon yang bisa dikontak. Urusan registrasi selesai, selanjutnya bismillah, la hawla wa la quwwata illa billah.

jalur pendakian ciremai linggasan.jpg
Peta Jalur Pendakian Gunung Ciremai via Linggasana

Catatan : Jalur Linggasana ini memiliki 2 pilihan jalur, jalur lama dan jalur baru. Lihat di peta jalur di atas, jalur baru adalah dari (sebelum) Kondang amis, alih-alih melalui Kuburan Kuda, kita akan melewati Ciwalengas – Buana Sari. Sementara jalur lama tetap melalui Kuburan Kuda-Tanjakan Bapa Tere. Jalur lama dan baru akan kembali di Batu Lingga, tepatnya di Tanjakan Tarawangsa. Saat pendakian pertama ke Ciremai via Linggasana ini, jalur baru belum resmi digunakan, tapi waktu kedua kalinya (bulan Juli 2016) saya coba menggunakan jalur baru, bedanya? tunggu akhir tulisan ini :p

Rabu, 20 April 2016

Tepat pukul 20.00 WIB, kami berangkat dari basecamp Linggasana, setelah berdoa bersama, ditemani bulan purnama dan lembabnya tanah selepas hujan, kami berangkat melalui jalur lama Linggasana. FYI, jalur pendakian Ciremai via Linggasana/Linggarjati ini termasuk susah mendapatkan mata air, kalaupun ada musiman. Di grup saya, setiap orang membawa air minum sebanyak 4 x 1.5 liter. Jalur pendakian dimulai dari gerbang Linggasana di bawah tower sutet yang menjadi penanda yang cukup mencolok. Jalur awal ini kami melalui hutan pinus, jalanan makadam, kami juga sempat melewati makam Keramat. Setelah kurang lebih 1 jam, kita akan keluar dari hutan pinus dan sampai di Pos Pangbadakan. Penanda pos ini adalah beberapa tempat lesehan dari bambu yang menghadap kota Cirebon/Kuningan. Di sekitar Pangbadakan ini terdapat area untuk mendirikan tenda sekitar 2-3 tenda.

Kami melanjutkan perjalanan ke pos Kondang/Condang Amis yang berjarak sekitar 45 menit dari Pangbadakan. Sekitar 10 menit sebelum pos Kondang Amis terdapat percabangan jalur lama dan baru. Di pos Kondang Amis ini terdapat sebuah bangunan shelter yang bisa digunakan untuk istirahat, bahkan mendirikan 1 tenda. Saat itu kami istirahat sekitar 10 menit, Pak Firman yang memang kurang fit, saat itu nampak sudah kepayahan. Oya, perlu dicatat dari basecamp Linggasana ini treknya relatif datar, dengan gradien dari ketinggian 700 m sampai 1350 m menandakan jalur ini lumaaayan panjang. Belakangan saat turun ke basecamp, bwt saya trek awal ini justru paling melelahkan (rasanya basecamp udah deket, ternyata masih lama).

photo247343692404337223
Shelter di Pos Kondang Amis

Target awal kami tadinya bisa mencapai pos Pangalap malam itu juga, namun kondisi anggota kelompok harus selalu dipertimbangkan. Sekitar 30 menit berikutnya sebelum sampai di pos Kuburan Kuda, Pak Firman sudah tidak kuat melanjutkan, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di samping jalur yang agak miring tapi cukup luas.

Menu sederhana seperti mie instan, telur dan secangkir coklat panas menemani kami melewati malam yang cukup hangat saat itu. Setelah makan, saya pun terlelap dalam keheningan malam #tsah.

Kamis, 21 April 2016

Pagi itu saya bangun hampir kesiangan solat subuh, sebagian teman yang lain sudah terjaga, Kang Mbok malah sudah siap-siap memasak untuk sarapan. Rencana hari ini kami berangkat pukul 8 pagi dengan target pos Batu Lingga atau Sanggabuana 1 supaya tidak terlalu jauh dari Puncak. Saat pagi baru terlihat kondisi hutan di sekitar tenda yang masih rimbun. Sambil menunggu nasi siap, Kang Mbok dan Kang Derul malah sempat membuat hammock. Setelah repacking, maka jam 8 kami melanjutkan perjalanan.

DSC04214

Enaknya treking pagi-pagi adalah kondisi badan masih sangat fit, udara juga sangat segar. Hanya sekali kami menjumpai rombongan pendaki yang naik, karena hari itu memang hari kerja. Tidak jauh dari tempat kami ngecamp semalam, sekitar 15 menit kami sudah sampai di Pos Kandang Kuda. Di pos ini terdapat beberapa lahan datar yang cukup luas untuk berkemah. Konon (jangan dibalik), nama pos ini diambil dari lokasi penguburan kuda-kuda pada masa penjajahan Jepang yang digunakan untuk mengontrol perkebunan kopi yang saat ini memang ada di lereng gunung Ciremai. Secara kasat mata sih tidak terlihat jejak kuburannya, tapi katanya lokasinya ada di sebelah barat jalur pendakian. Kabarnya lagi, para pendaki yang ‘beruntung’ bisa mendengar ringkihan kuda-kuda ini :S

DSC04223
Salah satu sudut di pos Kuburan Kuda, klo beneran sebelah barat jalur sih daerah sini, hati-hati waktu ‘ngegali’ disini, hiii …

Lanjut ke pos berikutnya, treknya masih sama, tanjakan tanpa bonus. Setelah berjalan kurang lebih 45 menit, kami sampai di lapangan yang cukup luas dengan sebuah pohon besar di tengah-tengah lapangan. Dahulu tempat ini dinamakan Pos Pangalap, namun di plang nama lain di tempat sama, pos ini juga dinamakan pos Pamerangan. Menurut saya pos ini adalah pos berkemah paling luas. Saat datang ke sini saya menemui 1 rombongan pendaki yang baru turun. Dari balik rimbun pepohonan ini, saya juga sempat melihat pucuk puncak Gunung Slamet di Jawa tengah dari kejauhan.

 

Kami beristirahat sekitar 10 menit lalu melanjutkan perjalanan ke titik pendakian berikutnya : Tanjakan Sareuni/Seruni. Sebelum Tanjakan Seruni sebenarnya ada tanjakan lain yang tidak nampak di peta yakni Tanjakan Bingbin. Tanjakan Bingbin adalah tanjakan pemanasan sebelum Tanjakan Seruni, ditandai dengan plang nama Tanjakan Bingbin,  treknya berupa jalan tanah agak gembur yang menurut saya ga terjal-terjal amat, tapi kalau sudah diguyur hujan bakal sangat licin. Di beberapa tempat terdapat batang tetumbuhan yang bisa digunakan sebagai pegangan. Hanya tetap berhati-hati karena juga terdapat tetumbuhan berduri di jalur pendakian.

DSC04243

Kami sampai di Tanjakan Seruni/Sareuni sekitar 1 jam dari Pangalap. Pos tanjakan Seruni ini ditandai dengan 1 pohon yang terkapar dan bekas tebangan pohon dengan plang nama Tanjakan Seruni dan tanah lapang yang bisa digunakan 2-3 tenda. Kami sempat istirahat beberapa saat sebelum melanjutkan pendakian.

DSC04252

Nah dari pos Tanjakan Seruni ini, sepertinya baru ada pemindahan jalur karena menurut pak Firman, ditandai dengan semak-semak yang sengaja digunakan untuk menutup jalur lama, mungkin karena longsor atau jalurnya terlalu berbahaya dilalui. Jadilah kami melalui jalur yang agak memutar. Jalurnya terlihat masih gembur, bekas hujan di malam hari kemarin membuat tanah di beberapa tempat sangat licin. Setelah berjalan kurang lebih 1 jam, akhirnya kami bertemu dengan tanjakan yang legendaris : Tanjakan Bapa Tere.

 

1-10
Tanjakan Bapa Tere, somehow saya ga punya foto di tanjakan ini, padahal di tanjakan lain ada O_o (sumber foto : http://dailyvoyagers.com/blog/2016/04/09/himbauan-dan-larangan-pendakian-gunung-ceremai-via-linggarjati/)

Tanjakan Bapa Tere ini adalah tebing dengan kemiringan sekitar 80 derajat, dimana kita harus melalui akar-akar pohon untuk sampai ke atasnya. Sebenarnya terdapat jalur menyamping sehingga tidak harus meniti akar-akar pohon ini. Pun terdapat webbing yang bisa digunakan pendaki. Tapi menurut saya tanjakan Bapa Tere ini tidak terlalu menyeramkan, walaupun tinggi tetapi jaraknya pendek, tapi bukan berarti menyepelekan ya, waspada tetap harus, apalagi kalau bawa kulkas full loaded. Oya, konon tanjakan Bapa Tere ini diambil dari kejadian seorang bapa yang mengajak anak tirinya naik Ciremai, lalu dibunuh di tempat ini, well Wallahu a’lam.

Lepas dari tanjakan Bapa Tere ini, bisa istirahat sebentar di dataran sekitar yang bisa digunakan berkemah untuk 1 tenda, karena tanjakan berikutnya masih menunggu. Tidak lama dari tanjakan Bapa Tere ini, mungkin sekitar 10 menit, kita akan sampai di persimpangan antara jalur lama dan jalur baru via Linggasana/Linggarjati. Sampai sini, pak Firman kembali mengeluhkan kondisi badannya, saya dan kang Mbok diminta untuk mencari daerah lapang terdekat sebelum pos Batu Lingga untuk tempat berkemah, kebetulan jaraknya sekitar 5 menit dari titik istirahat terakhir. Tempat ini mungkin bisa digunakan untuk 2 tenda. Kami sampai di tempat kemah ini sekitar pukul setengah 2 siang. Setelah memasak sebungkus mie goreng, saya terlelap di pelukan hammock yang dibuat kang Mbok di depan tenda. Sore itu tidak ada rencana apa-apa selain istirahat menunggu summit nanti pagi, hingga malam menjelang. Setelah briefing singkat soal kapan kami summit, saya pun terlelap dalam belaian angin malam, sampai lupa kalau hari itu malam jum’at :s

Jum’at, 22 April 2016

Wwwugg… Suara melengking yang singkat, padat dan sumber suaranya rasanya cukup dekat itu sukses membangunkan saya dan teman-teman lain di dalam tenda. Itu terjadi sekitar pukul setengah 1 malam. Kami pun berspekulasi suara apakah itu, saya dan pak Firman juga sempet deg-degan, takutnya suara binatang buas. Belakangan suaranya mirip suara babi hutan jantan yang jejaknya sempat kami lihat siang kemarin. Hujan juga sempat turun hingga waktu rencana kami summit pukul setengah 2 pagi.

Kami memutuskan summit sambil menembus hujan yang masih turun berbekal jas hujan dan perlengkapan secukupnya. Setelah berdoa, setengah 2 pagi itu kami berangkat summit. Nikmat rasanya mendaki tanpa membawa keril yang berat, seperti melayang #bukansombong. Ternyata setelah 15 menit berjalan kami sudah sampai di pos Batu Lingga, yang kebetulan ditempat 2 tenda. Karena masih hujan, saya tidak sempat foto-foto, sebenarnya bawa action cam, cuma filenya entah kemana 😦 Tidak beristirahat di Batu Lingga, kami teruskan perjalanan ke pos berikutnya yakni pos Sanggabuana 1 yang berjarak sekitar 30 menit. Di pos ini kami istirahat cukup lama, terutama karena kondisi pak Firman. Di pos Sanggabuana 1 ini tempatnya cukup luas untuk 3-4 tenda. Masih diguyur gerimis, saya coba menggerak-gerakkan badan supaya badan selalu hangat. Dari pos Sanggabuana 1 ke Sanggabuana 2 sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi karena istirahat cukup lama, kami membutuhkan waktu 1 jam.

Di pos Sanggabuana 2 juga terdapat tempat cukup luas untuk 4-5 tenda dan terlindung oleh pepohonan. Berikutnya mulai dari pos Sanggabuana 2 ke pos Pangasinan, trek mulai berbeda karena kita melalui jalanan bebatuan. Butuh konsentrasi cukup untuk melalui trek dengan kemiringan hingga 70° ini, salah-salah bebatuan bisa menggelinding ke rekan kita di bawah. Di beberapa tempat kita juga harus melalui tanah yang licin setelah diguyur hujan. Butuh 1 jam perjalanan dari pos Sanggabuana 2 ke pos Pangasinan, waktu di tanjakan bebatuan kita juga sempat istirahat lumayan lama. Alhamdulillah ketika sampai di pos Pangasinan ini hujan sudah berhenti. Di kejauhan juga mulai terlihat awan yang mengarak :3

DSC04265
Yup, yang di belakang itu puncak Ceremai, bentar lagi (katanya)

Di pos Pangasinan ini terdapat tempat yang cukup untuk sekitar 5 tenda, namun kebanyakan daerah terbuka yang langsung kena paparan angin gunung. Tapi menurut saya sih ini tempat camp dengan view terbaik dan lokasinya paling dekat dengan puncak. Kami sampai di Pangasinan pukul 4.15, karena adzan subuh belum berkumandang, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan, karena konon dari Pangasinan ke puncak hanya 30 menit. Tapi ternyata, sampai pukul 5 juga belum sampe-sampe, akhirnya kami solat subuh sebisa-bisanya di tempat yang memungkinkan. Oya, di sekitar perjalanan akan ditemui banyak pohon Edelweis, diantaranya masih kecil-kecil. Selain itu juga ditemukan bekas pepohonan yang terbakar pada periode kebakaran hutan sebelumnya. Perjalanan ke puncak sendiri kita harus melalui celah-celah tanah dan batuan.

Alhamdulillah sekitar pukul 5.30 kami sampai di puncai Ceremai. Saya menjadi orang pertama yang mencapai puncak, dan sepertinya tim kami yang pertama hari itu yang summit, jadi puncaknya masih kosong :O Tidak beberapa lama kawan-kawan lain menyusul sampai di puncak.

Rembulan sempat terlihat terbenam di puncak Ceremai, di arah kota Cirebon dan Kuningan saya melihat kawanan awan yang mengarak. Rasanya sudah lama saya tidak mendapatkan view lautan awan seperti ini.

Syukur alhamdulillah kami panjatkan saat itu, karena dengan persiapan yang minim kami diizinkan Allah menggapai puncak atap Jawa Barat ini. Waktu itu view sunrisenya mungkin kurang sempurna karena matahari masih saja bersembunyi di balik awan. Tapi semakin siang, pemandangan lautan awan malah semakin menakjubkan. Kami pun beruntung bisa melihat puncak Gunung Slamet dari kejauhan. Konon Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing juga bisa terlihat dari puncak Ceremai ini.

Sementara pemandangan ke tengah puncak Ceremai ini juga tidak kalah menakjubkan yakni kaldera kawah ceremai dengan diameter hingga 1 km. Kawah Ceremai terdiri dari 2 kawah, kawah barat dan kawah timur. Di kawah timur ini kita bisa melihat danau genangan hujan yang tertampung di kawah serta vegetasi khas puncak.

Lama-lama berada di puncak ini saya pun kedinginan, apalagi matahari juga tak kunjung muncul, kami pun sempat memasak mie instan dan minuman hangat untuk mengisi perut dan mengusir dingin. Semakin siang, lautan awan tidak kunjung berhenti, kalau sudah ada lautan awan ini rasanya malas sekali turun, kalo ngga inget yang di rumah mungkin pengen extend :3

Setelah 1.5 jam berada di puncak, pukul 7 pagi kami beranjak turun ke tenda kami. Kami pun bertemu dengan pendaki-pendaki lain yang akan summit. Perjalanan ke tempat camp kedua kami ternyata tidak begitu lama, sekitar 2 jam, itu pun sudah termasuk waktu ‘setoran’ di semak-semak tadi. Jam 9 kami sampai di tenda, niatnya kami akan pulang cepat, namun hujan kembali turun, akhirnya setelah masak kami pun ketiduran sampai pukul 11. Setelah agak reda, kami langsung packing dan meluncur ke basecamp Linggasana. Kondisi trek yang licin karena diguyur hujan membuat perjalanan turun tidak mudah karena harus selalu berhati-hati, tak jarang saya tergelincir. Akhirnya setelah perjalanan turun sekitar 5.5 jam, kami sampai di basecamp pukul 16.30. Rasanya kaki ini sudah mau copot, apalagi trek dari Condang Amis ke basecamp itu yang sedianya estimasinya cuma setengah jam, menjadi 1.5 jam entah kenapa rasanya kok trek itu panjang bener. Apalagi dari kejauhan sudah terlihat tower sutet tapi kok ga sampe-sampe.

Tapi bodo amat, yang penting kami sampai di basecamp dengan selamat. Sampai di basecamp kami disambut seteko teh manis hangat dan dimasakkan mie goreng telor plus nasi (ekspektasinya sih nasi ayam goreng -_-) dan sertifikat. Setelah solat magrib dan isya, kami lanjutkan perjalanan pulang. Well, hikmah dari perjalanan ke Ceremai kali ini adalah walaupun perjalanannya terkesan dadakan, mungkin memang sudah rencana Allah kami summit waktu itu dan diberikan pemandangan yang sangat indah. Benar juga pepatah pendaki yang bilang “Tak akan lari gunung dikejar” karena “Gunung yang tepat akan mendatangi pendaki yang telah siap”. Itu …

photo247343692404337294
Salam dari Puncak Ceremai 🙂

DSC04319

DSC04389
Puncak Ceremai, 3078, asli, bukan pake fake GPS :v
DSC04453
View laut selatan
DSC04392
Pose men-strim

Info Basecamp Linggasana :

  • Pak Pen : 0823-1603-6615
  • Pak Yatna : 0857-2447-9446

Cost Damage :

  • Logistik : 50rb/orang
  • SIMAKSI : 50rb/orang
  • transportasi : gratis (dibayarin)

Resume waktu perjalanan :

  • Rabu 19 April 2016
    • 20.00 berangkat basecamp linggasana
    • 21:45 sampe condang amis
    • 22.15 sampe tempat camp malam pertama, antara condang amis-kandang kuda
  • Kamis 20 april 2016
    • 8.30 berangkat tempat camp malam pertama
    • 8.45 sampe kandang kuda
    • 9.30 sampe pangalap
    • 10.30 sampe tanjakan sareuni
    • 13.00 sampe tanjakan bapa tere
    • 13.30 sampe tempat camp malam kedua, antara tanjakan bapa tere-batu lingga
  • Jum’at 21 april 2016
    • 01.30 summit, dari tempat camp malam kedua
    • 01.45 sampe pos batu lingga
    • 02.15 sampe pos sanggabuana 1, istirahat
    • 03.15 sampe pos sanggabuana 2
    • 04.15 sampe pos pangasinan
    • 05.30 sampe puncak
    • 07.00 mulai turun dari puncak
    • 09.00 sampe tempat camp malam kedua
    • 09-11.00 nunggu hujan reda
    • 11.00 mulai turun ke basecamp
    • 14.30 sampe pos condong amis
    • 16.30 sampe basecamp linggasana