Catatan Pendakian Gunung Ceremai : Perjalanan Dadakan Yang Gurih-Gurih Nyoyyy

You don’t climb mountains without a team, you don’t climb mountains without being fit, you don’t climb mountains without being prepared and you don’t climb mountains without balancing the risks and rewards. And you never climb a mountain on accident – it has to be intentional.

Mark Udall

Halo halo, sudah cukup lama tidak update blog ini, mungkin karena bertepatan dengan bulan Ramadhan, jadi tidak banyak aktivitas yang bisa diceritakan. Alhasil, saya coba update tulisan yang sudah lumayan lama jadi draft, untung ga jamuran juga 😀

Jadi, perjalanan yang saya ceritakan sekarang, terjadi sekitar 2 bulan lalu. Bermula dari pesan Pak Firman di salah satu grup whatsapp di hari rabu pagi 20 April 2016:

PF = Pak Firman

AS = saya

PF : Ada yang mau ikut ke Ceremai via kuningan? sekalian nganter barang, transport gratis!

AS : (kata-kata gratis adalah clickbait yang sering sukses memancing otak saya menentukan keputusan) Bentar pak, ijin bos dulu. (lanjut nelpon bos)

5 menit kemudian

AS : Hayu pak, udah diijinin >.<

Jadi sederhana saja, perjalanan ke Atap tertinggi Jawa Barat itu terjadi begitu saja, setelah saya mendengar kata-kata gratis -_- FYI, sebenarnya nama gunungnya adalah Ceremai, cuma sering salah kaprah jadi Ciremai, tapi klo di tulisan ini disebut Ceremai/Ciremai mohon dimaafkan ya 😉

Bulan April itu memang tidak ada agenda naik gunung kemanapun, mengingat bulan depannya ada agenda ke gunung lain. Jadi hampir tanpa persiapan/pemanasan. Tapi siang itu, setelah pamitan ke ortu, packing secukupnya (kali ini bawaannya ga rempong, karena tenda sudah dibawa yang lain), berangkatlah saya ke Cibiru untuk berkumpul dengan 2 teman lain yang sudah menunggu : Pak Firman, Mang Mbok. Belakangan ditambah sama Mang Derul yang menyusul di Padalarang, kebetulan memang kita akan ke Kuningan lewat Tol Cipali yang tersohor. Setelah sholat Dzuhur dan di-Jama’, kami pun berangkat ke Kuningan menggunakan mobil Gran Max pak Firman. Rencananya kami akan mengantarkan barang pesanan dulu ke daerah Cirebon, lanjut ke Ciremai lewat jalur Linggasana.

Karena kami berangkat di hari kerja, jalanan sangat lengang, bahkan di segmen jalan tol Cipali sepanjang + 115km hanya ditemui beberapa mobil saja. Jalan tol Cipali mulai dari gerbang tol Cikampek hingga Palimanan sukses dilalui sekitar 50 menit saja :)) Kami sampai di Kuningan sekitar pukul 4 sore. Setelah mengantarkan barang, kami lanjut makan siang sore sekalian cari logistik di kota.

FYI, jalur Linggasana ini memang jalur yang relatif baru. Letaknya tidak terlalu jauh dari jalur Linggarjati yang sudah ada sejak lama. Di pos tertentu bahkan jalurnya akan saling berpapasan. Beberapa perbedaannya, jika dari jalur Linggarjati dimulai dari ketinggian 600 mdpl, nah pendakian lewat Linggasana dimulai dari ketinggian 700 mdpl, ya lumayan lah. Selain itu pos pendakian Linggasana buka 24 jam jadi kita bebas naik jam berapapun. Sejauh ini juga tidak ada batasan berapa banyak pendaki yang boleh naik bersamaan. Pun kalau berangkat cuma 2 orang masih diperbolehkan. Beda dengan pos pendakian Linggarjati. Kami sampai di Linggasana sekitar pukul 7 malam, saat itu hujan mengguyur sangat deras, kami bahkan ragu untuk melanjutkan. Tidak lama kami sampai di basecamp (BC) Linggasana. BC Linggasana termasuk salah satu basecamp yang cukup bagus fasilitasnya, terdapat tempat mandi, toilet, mushola, warung dan parkiran yang luas, kondisinya pun masih sangat bagus, ya mungkin karena baru beberapa bulan dibangun.

Selain menggunakan kendaraan pribadi, dari Bandung kita bisa naik kereta ke stasion Cirebon dengan ongkos 80rb, lanjut angkot ke terminal Cirebon 5rb, terakhir naik angkutan umum (elf/bus) arah Kuningan dari Terminal Cirebon dengan ongkos 15rb sampai pertigaan Indomaret-Linggasana, bilang saja ke supir/kernetnya mau ke basecamp Linggarjati/Linggasana. Dari pertigaan Linggasana bisa menggunakan ojek dengan tarif 10-15rb. Kadang-kadang supir/kernet elfnya juga mau mengantarkan kita dengan tambahan ongkos 15rb sampai basecamp Linggasana yang berjarak sekitar 10 menit. Tapi sebelum beneran diantarkan, minta kernet untuk meminta restu dari penumpang yang ada supaya dibolehkan nganter ke basecamp, kalau engga, bisa ada perang sipil di elf, trust me it happened :v Alternatif lain sih bisa langsung naik travel/DAMRI Bandung-Kuningan.

Oya, sampai di basecamp, kami langsung disambut oleh Kang Pen sebagai koordinator jalur pendakian Ciremai via Linggasana dengan seteko teh manis panas. Lepas men-jama’ sholat Magrib dan Isya, kami sempat mengobrol sekaligus registrasi. Di semua jalur pendakian Ciremai dikenakan biaya SIMAKSI sebesar 50rb/orang. Khusus di jalur Linggasana, tarif 50rb ini sudah termasuk SIMAKSI, teh manis panas, sertifikat (yang nama di sertifikatnya ditulis sendiri) dan paket makan saat turun gunung nanti. Saat registrasi kita hanya perlu menitipkan 1 KTP perwakilan kelompok dan menuliskan nama anggota dan nomor telepon yang bisa dikontak. Urusan registrasi selesai, selanjutnya bismillah, la hawla wa la quwwata illa billah.

jalur pendakian ciremai linggasan.jpg
Peta Jalur Pendakian Gunung Ciremai via Linggasana

Catatan : Jalur Linggasana ini memiliki 2 pilihan jalur, jalur lama dan jalur baru. Lihat di peta jalur di atas, jalur baru adalah dari (sebelum) Kondang amis, alih-alih melalui Kuburan Kuda, kita akan melewati Ciwalengas – Buana Sari. Sementara jalur lama tetap melalui Kuburan Kuda-Tanjakan Bapa Tere. Jalur lama dan baru akan kembali di Batu Lingga, tepatnya di Tanjakan Tarawangsa. Saat pendakian pertama ke Ciremai via Linggasana ini, jalur baru belum resmi digunakan, tapi waktu kedua kalinya (bulan Juli 2016) saya coba menggunakan jalur baru, bedanya? tunggu akhir tulisan ini :p

Rabu, 20 April 2016

Tepat pukul 20.00 WIB, kami berangkat dari basecamp Linggasana, setelah berdoa bersama, ditemani bulan purnama dan lembabnya tanah selepas hujan, kami berangkat melalui jalur lama Linggasana. FYI, jalur pendakian Ciremai via Linggasana/Linggarjati ini termasuk susah mendapatkan mata air, kalaupun ada musiman. Di grup saya, setiap orang membawa air minum sebanyak 4 x 1.5 liter. Jalur pendakian dimulai dari gerbang Linggasana di bawah tower sutet yang menjadi penanda yang cukup mencolok. Jalur awal ini kami melalui hutan pinus, jalanan makadam, kami juga sempat melewati makam Keramat. Setelah kurang lebih 1 jam, kita akan keluar dari hutan pinus dan sampai di Pos Pangbadakan. Penanda pos ini adalah beberapa tempat lesehan dari bambu yang menghadap kota Cirebon/Kuningan. Di sekitar Pangbadakan ini terdapat area untuk mendirikan tenda sekitar 2-3 tenda.

Kami melanjutkan perjalanan ke pos Kondang/Condang Amis yang berjarak sekitar 45 menit dari Pangbadakan. Sekitar 10 menit sebelum pos Kondang Amis terdapat percabangan jalur lama dan baru. Di pos Kondang Amis ini terdapat sebuah bangunan shelter yang bisa digunakan untuk istirahat, bahkan mendirikan 1 tenda. Saat itu kami istirahat sekitar 10 menit, Pak Firman yang memang kurang fit, saat itu nampak sudah kepayahan. Oya, perlu dicatat dari basecamp Linggasana ini treknya relatif datar, dengan gradien dari ketinggian 700 m sampai 1350 m menandakan jalur ini lumaaayan panjang. Belakangan saat turun ke basecamp, bwt saya trek awal ini justru paling melelahkan (rasanya basecamp udah deket, ternyata masih lama).

photo247343692404337223
Shelter di Pos Kondang Amis

Target awal kami tadinya bisa mencapai pos Pangalap malam itu juga, namun kondisi anggota kelompok harus selalu dipertimbangkan. Sekitar 30 menit berikutnya sebelum sampai di pos Kuburan Kuda, Pak Firman sudah tidak kuat melanjutkan, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di samping jalur yang agak miring tapi cukup luas.

Menu sederhana seperti mie instan, telur dan secangkir coklat panas menemani kami melewati malam yang cukup hangat saat itu. Setelah makan, saya pun terlelap dalam keheningan malam #tsah.

Kamis, 21 April 2016

Pagi itu saya bangun hampir kesiangan solat subuh, sebagian teman yang lain sudah terjaga, Kang Mbok malah sudah siap-siap memasak untuk sarapan. Rencana hari ini kami berangkat pukul 8 pagi dengan target pos Batu Lingga atau Sanggabuana 1 supaya tidak terlalu jauh dari Puncak. Saat pagi baru terlihat kondisi hutan di sekitar tenda yang masih rimbun. Sambil menunggu nasi siap, Kang Mbok dan Kang Derul malah sempat membuat hammock. Setelah repacking, maka jam 8 kami melanjutkan perjalanan.

DSC04214

Enaknya treking pagi-pagi adalah kondisi badan masih sangat fit, udara juga sangat segar. Hanya sekali kami menjumpai rombongan pendaki yang naik, karena hari itu memang hari kerja. Tidak jauh dari tempat kami ngecamp semalam, sekitar 15 menit kami sudah sampai di Pos Kandang Kuda. Di pos ini terdapat beberapa lahan datar yang cukup luas untuk berkemah. Konon (jangan dibalik), nama pos ini diambil dari lokasi penguburan kuda-kuda pada masa penjajahan Jepang yang digunakan untuk mengontrol perkebunan kopi yang saat ini memang ada di lereng gunung Ciremai. Secara kasat mata sih tidak terlihat jejak kuburannya, tapi katanya lokasinya ada di sebelah barat jalur pendakian. Kabarnya lagi, para pendaki yang ‘beruntung’ bisa mendengar ringkihan kuda-kuda ini :S

DSC04223
Salah satu sudut di pos Kuburan Kuda, klo beneran sebelah barat jalur sih daerah sini, hati-hati waktu ‘ngegali’ disini, hiii …

Lanjut ke pos berikutnya, treknya masih sama, tanjakan tanpa bonus. Setelah berjalan kurang lebih 45 menit, kami sampai di lapangan yang cukup luas dengan sebuah pohon besar di tengah-tengah lapangan. Dahulu tempat ini dinamakan Pos Pangalap, namun di plang nama lain di tempat sama, pos ini juga dinamakan pos Pamerangan. Menurut saya pos ini adalah pos berkemah paling luas. Saat datang ke sini saya menemui 1 rombongan pendaki yang baru turun. Dari balik rimbun pepohonan ini, saya juga sempat melihat pucuk puncak Gunung Slamet di Jawa tengah dari kejauhan.

 

Kami beristirahat sekitar 10 menit lalu melanjutkan perjalanan ke titik pendakian berikutnya : Tanjakan Sareuni/Seruni. Sebelum Tanjakan Seruni sebenarnya ada tanjakan lain yang tidak nampak di peta yakni Tanjakan Bingbin. Tanjakan Bingbin adalah tanjakan pemanasan sebelum Tanjakan Seruni, ditandai dengan plang nama Tanjakan Bingbin,  treknya berupa jalan tanah agak gembur yang menurut saya ga terjal-terjal amat, tapi kalau sudah diguyur hujan bakal sangat licin. Di beberapa tempat terdapat batang tetumbuhan yang bisa digunakan sebagai pegangan. Hanya tetap berhati-hati karena juga terdapat tetumbuhan berduri di jalur pendakian.

DSC04243

Kami sampai di Tanjakan Seruni/Sareuni sekitar 1 jam dari Pangalap. Pos tanjakan Seruni ini ditandai dengan 1 pohon yang terkapar dan bekas tebangan pohon dengan plang nama Tanjakan Seruni dan tanah lapang yang bisa digunakan 2-3 tenda. Kami sempat istirahat beberapa saat sebelum melanjutkan pendakian.

DSC04252

Nah dari pos Tanjakan Seruni ini, sepertinya baru ada pemindahan jalur karena menurut pak Firman, ditandai dengan semak-semak yang sengaja digunakan untuk menutup jalur lama, mungkin karena longsor atau jalurnya terlalu berbahaya dilalui. Jadilah kami melalui jalur yang agak memutar. Jalurnya terlihat masih gembur, bekas hujan di malam hari kemarin membuat tanah di beberapa tempat sangat licin. Setelah berjalan kurang lebih 1 jam, akhirnya kami bertemu dengan tanjakan yang legendaris : Tanjakan Bapa Tere.

 

1-10
Tanjakan Bapa Tere, somehow saya ga punya foto di tanjakan ini, padahal di tanjakan lain ada O_o (sumber foto : http://dailyvoyagers.com/blog/2016/04/09/himbauan-dan-larangan-pendakian-gunung-ceremai-via-linggarjati/)

Tanjakan Bapa Tere ini adalah tebing dengan kemiringan sekitar 80 derajat, dimana kita harus melalui akar-akar pohon untuk sampai ke atasnya. Sebenarnya terdapat jalur menyamping sehingga tidak harus meniti akar-akar pohon ini. Pun terdapat webbing yang bisa digunakan pendaki. Tapi menurut saya tanjakan Bapa Tere ini tidak terlalu menyeramkan, walaupun tinggi tetapi jaraknya pendek, tapi bukan berarti menyepelekan ya, waspada tetap harus, apalagi kalau bawa kulkas full loaded. Oya, konon tanjakan Bapa Tere ini diambil dari kejadian seorang bapa yang mengajak anak tirinya naik Ciremai, lalu dibunuh di tempat ini, well Wallahu a’lam.

Lepas dari tanjakan Bapa Tere ini, bisa istirahat sebentar di dataran sekitar yang bisa digunakan berkemah untuk 1 tenda, karena tanjakan berikutnya masih menunggu. Tidak lama dari tanjakan Bapa Tere ini, mungkin sekitar 10 menit, kita akan sampai di persimpangan antara jalur lama dan jalur baru via Linggasana/Linggarjati. Sampai sini, pak Firman kembali mengeluhkan kondisi badannya, saya dan kang Mbok diminta untuk mencari daerah lapang terdekat sebelum pos Batu Lingga untuk tempat berkemah, kebetulan jaraknya sekitar 5 menit dari titik istirahat terakhir. Tempat ini mungkin bisa digunakan untuk 2 tenda. Kami sampai di tempat kemah ini sekitar pukul setengah 2 siang. Setelah memasak sebungkus mie goreng, saya terlelap di pelukan hammock yang dibuat kang Mbok di depan tenda. Sore itu tidak ada rencana apa-apa selain istirahat menunggu summit nanti pagi, hingga malam menjelang. Setelah briefing singkat soal kapan kami summit, saya pun terlelap dalam belaian angin malam, sampai lupa kalau hari itu malam jum’at :s

Jum’at, 22 April 2016

Wwwugg… Suara melengking yang singkat, padat dan sumber suaranya rasanya cukup dekat itu sukses membangunkan saya dan teman-teman lain di dalam tenda. Itu terjadi sekitar pukul setengah 1 malam. Kami pun berspekulasi suara apakah itu, saya dan pak Firman juga sempet deg-degan, takutnya suara binatang buas. Belakangan suaranya mirip suara babi hutan jantan yang jejaknya sempat kami lihat siang kemarin. Hujan juga sempat turun hingga waktu rencana kami summit pukul setengah 2 pagi.

Kami memutuskan summit sambil menembus hujan yang masih turun berbekal jas hujan dan perlengkapan secukupnya. Setelah berdoa, setengah 2 pagi itu kami berangkat summit. Nikmat rasanya mendaki tanpa membawa keril yang berat, seperti melayang #bukansombong. Ternyata setelah 15 menit berjalan kami sudah sampai di pos Batu Lingga, yang kebetulan ditempat 2 tenda. Karena masih hujan, saya tidak sempat foto-foto, sebenarnya bawa action cam, cuma filenya entah kemana 😦 Tidak beristirahat di Batu Lingga, kami teruskan perjalanan ke pos berikutnya yakni pos Sanggabuana 1 yang berjarak sekitar 30 menit. Di pos ini kami istirahat cukup lama, terutama karena kondisi pak Firman. Di pos Sanggabuana 1 ini tempatnya cukup luas untuk 3-4 tenda. Masih diguyur gerimis, saya coba menggerak-gerakkan badan supaya badan selalu hangat. Dari pos Sanggabuana 1 ke Sanggabuana 2 sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi karena istirahat cukup lama, kami membutuhkan waktu 1 jam.

Di pos Sanggabuana 2 juga terdapat tempat cukup luas untuk 4-5 tenda dan terlindung oleh pepohonan. Berikutnya mulai dari pos Sanggabuana 2 ke pos Pangasinan, trek mulai berbeda karena kita melalui jalanan bebatuan. Butuh konsentrasi cukup untuk melalui trek dengan kemiringan hingga 70° ini, salah-salah bebatuan bisa menggelinding ke rekan kita di bawah. Di beberapa tempat kita juga harus melalui tanah yang licin setelah diguyur hujan. Butuh 1 jam perjalanan dari pos Sanggabuana 2 ke pos Pangasinan, waktu di tanjakan bebatuan kita juga sempat istirahat lumayan lama. Alhamdulillah ketika sampai di pos Pangasinan ini hujan sudah berhenti. Di kejauhan juga mulai terlihat awan yang mengarak :3

DSC04265
Yup, yang di belakang itu puncak Ceremai, bentar lagi (katanya)

Di pos Pangasinan ini terdapat tempat yang cukup untuk sekitar 5 tenda, namun kebanyakan daerah terbuka yang langsung kena paparan angin gunung. Tapi menurut saya sih ini tempat camp dengan view terbaik dan lokasinya paling dekat dengan puncak. Kami sampai di Pangasinan pukul 4.15, karena adzan subuh belum berkumandang, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan, karena konon dari Pangasinan ke puncak hanya 30 menit. Tapi ternyata, sampai pukul 5 juga belum sampe-sampe, akhirnya kami solat subuh sebisa-bisanya di tempat yang memungkinkan. Oya, di sekitar perjalanan akan ditemui banyak pohon Edelweis, diantaranya masih kecil-kecil. Selain itu juga ditemukan bekas pepohonan yang terbakar pada periode kebakaran hutan sebelumnya. Perjalanan ke puncak sendiri kita harus melalui celah-celah tanah dan batuan.

Alhamdulillah sekitar pukul 5.30 kami sampai di puncai Ceremai. Saya menjadi orang pertama yang mencapai puncak, dan sepertinya tim kami yang pertama hari itu yang summit, jadi puncaknya masih kosong :O Tidak beberapa lama kawan-kawan lain menyusul sampai di puncak.

Rembulan sempat terlihat terbenam di puncak Ceremai, di arah kota Cirebon dan Kuningan saya melihat kawanan awan yang mengarak. Rasanya sudah lama saya tidak mendapatkan view lautan awan seperti ini.

Syukur alhamdulillah kami panjatkan saat itu, karena dengan persiapan yang minim kami diizinkan Allah menggapai puncak atap Jawa Barat ini. Waktu itu view sunrisenya mungkin kurang sempurna karena matahari masih saja bersembunyi di balik awan. Tapi semakin siang, pemandangan lautan awan malah semakin menakjubkan. Kami pun beruntung bisa melihat puncak Gunung Slamet dari kejauhan. Konon Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing juga bisa terlihat dari puncak Ceremai ini.

Sementara pemandangan ke tengah puncak Ceremai ini juga tidak kalah menakjubkan yakni kaldera kawah ceremai dengan diameter hingga 1 km. Kawah Ceremai terdiri dari 2 kawah, kawah barat dan kawah timur. Di kawah timur ini kita bisa melihat danau genangan hujan yang tertampung di kawah serta vegetasi khas puncak.

Lama-lama berada di puncak ini saya pun kedinginan, apalagi matahari juga tak kunjung muncul, kami pun sempat memasak mie instan dan minuman hangat untuk mengisi perut dan mengusir dingin. Semakin siang, lautan awan tidak kunjung berhenti, kalau sudah ada lautan awan ini rasanya malas sekali turun, kalo ngga inget yang di rumah mungkin pengen extend :3

Setelah 1.5 jam berada di puncak, pukul 7 pagi kami beranjak turun ke tenda kami. Kami pun bertemu dengan pendaki-pendaki lain yang akan summit. Perjalanan ke tempat camp kedua kami ternyata tidak begitu lama, sekitar 2 jam, itu pun sudah termasuk waktu ‘setoran’ di semak-semak tadi. Jam 9 kami sampai di tenda, niatnya kami akan pulang cepat, namun hujan kembali turun, akhirnya setelah masak kami pun ketiduran sampai pukul 11. Setelah agak reda, kami langsung packing dan meluncur ke basecamp Linggasana. Kondisi trek yang licin karena diguyur hujan membuat perjalanan turun tidak mudah karena harus selalu berhati-hati, tak jarang saya tergelincir. Akhirnya setelah perjalanan turun sekitar 5.5 jam, kami sampai di basecamp pukul 16.30. Rasanya kaki ini sudah mau copot, apalagi trek dari Condang Amis ke basecamp itu yang sedianya estimasinya cuma setengah jam, menjadi 1.5 jam entah kenapa rasanya kok trek itu panjang bener. Apalagi dari kejauhan sudah terlihat tower sutet tapi kok ga sampe-sampe.

Tapi bodo amat, yang penting kami sampai di basecamp dengan selamat. Sampai di basecamp kami disambut seteko teh manis hangat dan dimasakkan mie goreng telor plus nasi (ekspektasinya sih nasi ayam goreng -_-) dan sertifikat. Setelah solat magrib dan isya, kami lanjutkan perjalanan pulang. Well, hikmah dari perjalanan ke Ceremai kali ini adalah walaupun perjalanannya terkesan dadakan, mungkin memang sudah rencana Allah kami summit waktu itu dan diberikan pemandangan yang sangat indah. Benar juga pepatah pendaki yang bilang “Tak akan lari gunung dikejar” karena “Gunung yang tepat akan mendatangi pendaki yang telah siap”. Itu …

photo247343692404337294
Salam dari Puncak Ceremai 🙂

DSC04319

DSC04389
Puncak Ceremai, 3078, asli, bukan pake fake GPS :v
DSC04453
View laut selatan
DSC04392
Pose men-strim

Info Basecamp Linggasana :

  • Pak Pen : 0823-1603-6615
  • Pak Yatna : 0857-2447-9446

Cost Damage :

  • Logistik : 50rb/orang
  • SIMAKSI : 50rb/orang
  • transportasi : gratis (dibayarin)

Resume waktu perjalanan :

  • Rabu 19 April 2016
    • 20.00 berangkat basecamp linggasana
    • 21:45 sampe condang amis
    • 22.15 sampe tempat camp malam pertama, antara condang amis-kandang kuda
  • Kamis 20 april 2016
    • 8.30 berangkat tempat camp malam pertama
    • 8.45 sampe kandang kuda
    • 9.30 sampe pangalap
    • 10.30 sampe tanjakan sareuni
    • 13.00 sampe tanjakan bapa tere
    • 13.30 sampe tempat camp malam kedua, antara tanjakan bapa tere-batu lingga
  • Jum’at 21 april 2016
    • 01.30 summit, dari tempat camp malam kedua
    • 01.45 sampe pos batu lingga
    • 02.15 sampe pos sanggabuana 1, istirahat
    • 03.15 sampe pos sanggabuana 2
    • 04.15 sampe pos pangasinan
    • 05.30 sampe puncak
    • 07.00 mulai turun dari puncak
    • 09.00 sampe tempat camp malam kedua
    • 09-11.00 nunggu hujan reda
    • 11.00 mulai turun ke basecamp
    • 14.30 sampe pos condong amis
    • 16.30 sampe basecamp linggasana

Catatan Perjalanan Susur Pantai Selatan Jawa Barat : Part 4 Pantai Sayangheulang

Jarak adalah sebuah garis batas, tetapi jalinan perasaan adalah penembusnya – Agustinus Wibowo, Garis Batas

6 April 2016

Saya meninggalkan Pantai Jayanti sekitar pukul 6 sore, sore itu walaupun angin berhembus kencang tapi tidak mengalahkan gerahnya udara pantai, alhasil sampai di mobil, AC langsung digeber (sebentar). Malam mulai menyelimuti jalan Raya Cidaun, jalanan juga makin sepi, hanya ada beberapa truk pengangkut kayu dan warga yang pulang dari mesjid. Sekitar 30 menit, kami sampai di perempatan pantai Rancabuaya. FYI, dari perempatan Rancabuaya ini kita bisa menuju Bandung melalui Pangalengan sekitar 4-5 jam melalui jalan yang turun naik (perjalanan ke Rancabuaya lewat Pangalengan ini insyaallah akan dibahas di tulisan lain 😉 ). Di perempatan ini dapat ditemui dynamic duo minimart, jadi bisa belanja barang-barang kebutuhan perjalanan. Di Rancabuaya ini kami hanya numpang lewat karena tujuan kami hari ini adalah pantai Sayangheulang, yey!

Pantai Sayang Heulang terletak di Desa Mancagahar, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut Selatan. Dari pantai Jayanti, Pantai Sayangheulang berjarak sekitar 60 km. Dari Rancabuaya, kondisi jalannya sekitar 80% adalah aspal mulus, dengan pemandangan sebelah selatan adalah samudera Hindia. Tapi karena jalan malam, tentunya pemandangan lautnya ga bisa kelihatan, tapi kita bisa melihat beberapa sinar lampu yang berasal dari perahu nelayan dan tambak yang berada di sekitar pantai. Sesekali kita akan melalui beberapa jembatan besi, diantaranya cukup populer menjadi obyek foto. Kondisi penerangan sangat minim, ditambah permukiman juga cukup jarang, maka ada baiknya untuk selalu waspada. Entah kenapa pantainya dinamai Sayang Heulang (yang klo diterjemahkan artinya Sarang Elang), mungkin dulunya di sana memang habitat elang.

Oya, dari Rancabuaya ke Sayangheulang sebenarnya juga dapat ditemui beberapa obyek wisata seperti Puncak Guha, Pantai Cicalobak, Pantai Kareng Tepas, Pantai Cimari, dll. Sekitar pukul setengah 8 malam, kami sampai di pertigaan Pantai Santolo, dari sana perjalanan hanya sekitar 5 menit ke pertigaan Pantai Sayang Heulang.

Screen Shot 2016-05-05 at 8.02.04 PM.png
Gerbang menuju pantai Sayang Heulang

Tapi karena perut kosong, kami tidak langsung menuju pantai, kami singgah dulu di rumah makan Cilauteureun yang berada sekitar 10 meter dari pertigaan Sayang Heulang. Tempat makan ini sangat recommended karena rasanya enak, harganya juga terhitung murah, 2 porsi cumi masak (1 porsi 25rb), 1 ayam kampung goreng (harganya lupa berapa, kaget juga sama ukurannya karena biasanya ayam kampung kecil-kecil ini gede banget, mungkin 1.5x ayam goreng KF*C), 5 es gelas es teh manis, dan nasi untuk 5 orang cuma 90rb!

DSC03896

Setelah makan, kami langsung menuju penginapan yang berjarak sekitar 3 km dari jalan raya, dari hasil browsing selama perjalanan, pilihan jatuh ke penginapan Karang Laut, 1 kamar dengan ukuran sekitar 4x5m dengan fasilitas 2 kasur, kamar mandi dalam dan AC dibandrol Rp. 450rb, untungnya tersisa 1 kamar yang langsung kami sewa.

Penginapannya cukup bersih, namun waktu di kamar sinyal seluler nyaris nihil, akibatnya hampir semuanya mati kutu. Tidak banyak yang kami lakukan saat itu, Pories langsung tidur, Saya, Wahyu dan Arief sempat bermain kartu beberapa game. Sampai sekitar jam setengah 10 malam saat kami tiduran, tiba-tiba saya merasakan kasur bergoyang, spontan yang lain juga saling tatap, saya lihat botol air eh kok goyang juga. Saya coba keluar kamar, pohon-pohon juga bergoyang, keadaan ini berlangsung kurang lebih 15 detik. Saya dan Pories bergegas ke pantai untuk melihat apakah ada tanda-tanda tsunami, sekalian cari sinyal dan informasi dari BMKG. Rupanya memang gempa berkekuatan 6.1 SR dengan episentrum 101km barat daya Garut. Beberapa pengunjung terlihat bergegas memakai kendaraan untuk evakuasi, sementara warga sendiri tidak terlihat beraktivitas. Setelah memastikan tidak ada potensi tsunami, kami kembali ke kamar, lalu langsung terlelap. Saya sendiri niatnya klo beneran tsunami sih mau lari ke menara pengawas yang ada di dekat tugu elang. Untungnya ga beneran tsunami, karena saat besoknya saya cek, tangga di menara pengawas sekarang sudah raib …

DSC03891

7 April 2016

Sekitar jam 3 pagi saya terbangun, niatnya mau hunting milkyway, tapi mata masih ngantuk, merem bentar tau-taunya udah jam 4 -_- Kebetulan Wahyu sudah bangun juga, jadi saya ajak temenin aja, takut kenapa-kenapa :p Niatnya sih mau motret jembatan Santolo ini, cuma dari penginapan ternyata jauh dan ga akan sempet -_-

882559_727583550591303_1283746556_o
(arsip) Jembatan pulau Santolo, terakhir sih rusak parah jadi ga bisa dilalui (sabotase? :p)

Nah, akhirnya cuma motret di reruntuhan warung yang ada di sepanjang jalan pantai. Untuk menentukan posisi milkyway selain dengan pengamatan langsung (di tempat yang polusi cahayanya rendah seperti di pedesaan, pantai yang sepi atau gunung, milkyway bisa terlihat jelas), saya menggunakan aplikasi di smartphone seperti stellarium atau google sky. Untuk pemotretan, saya menggunakan Sony Nex-6 dengan lensa Samyang 12mm (ekivalen 16mm di APS-C) di bukaan 2.0, ISO 1600, shutter speed 20-25 (mengikuti aturan 500/focal length lensa). Saat itu posisi milkyway melintang dari arah selatan ke utara. Hasilnya … Subhanallah …

DSC03804
Aku disini, dan kau di sana, kita memandang langit yang sama, jauh di mata, jauh dari mana-mana juga …
DSC03819
Milkyway over stall ruin
DSC03818-2
Paling enak klo ronda, pemandangannya kaya gini, bukannya jaga, malah foto-foto, ckckck

Ah, subuh berlalu sangat cepat, adzan subuh bergaung bersahutan, warga juga sudah mulai beraktivitas. Langit mulai berubah kebiruan, jadi saya bergegas kembali ke penginapan untuk sholat subuh. Usai solat, saya sempet main kartu 1 game, lepas itu ngajak yang lain untuk mengejar sunrise di pantai. Oya pantai Sayang Heulang ini terdiri dari pasir kecoklatan yang cukup halus, dilanjutkan dengan hamparan dataran karang yang menjorok kurang lebih 500m ke arah laut, airnya tenang dan dangkal, sementara ombak pecak di penghujung karang, jadi cukup aman untuk tempat bermain anak-anak. Di dalam karang juga terdapat ikan-ikan kecil yang terperangkap (hati-hati juga ada ular laut) yang biasanya dimanfaatkan nelayan.

Sekitar pukul 6 pagi, matahari terbit di ufuk timur, saya ga punya lensa tele jadi pakai lensa kit untuk memotret. Saat itu matahari terbit berbentuk bulat sempurna dan memancarkan warna jingga yang cantik.

DSC03859
Man of Still
DSC03863
pose andalan, pardon my calf 😉

Setelah foto-foto rasanya kok kepala agak berat, rebahan dikit di pasir, tau-tau ketiduran setengah jam. Matahari rasanya naik cukup cepat, tidak terasa panasnya mulai menusuk. Saya langsung pulang ke penginapan, mandi, repack, rencananya kami sarapan di rumah makan Cilauteureun lagi. Sekitar pukul 9 pagi, kami check out dari penginapan menuju rumah makan. Siang hari akan terlihat pemandangan perkebunan dan persawahan sepanjang gerbang pantai ke jalan raya Cilauteureun. Kalau memakai kendaraan umum sepertinya sih perlu naik ojek dari jalan raya.

DSC03892
Suasana jalan dari/menuju pantai Sayang Heulang
DSC03908
ada sawah juga

Di rumah makan Cilauteureun, kami memesan nasi rames dengan sayur, ati ampela dan pepes ikan, total sekitar 70rb untuk 5 orang. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke obyek wisata berikutnya : Pantai Cipatujah & Body Rafting di Citumang. Tunggu catatan perjalanan berikutnya ya, semoga belum bosan 😉

Cost Damage :

  • isi bensin : Rp. 200rb
  • tiket : Rp. 3rb/orang (waktu jalan-jalan sebelumnya)
  • penginapan : Rp. 450rb
  • makan : Rp. 90rb (malam), Rp. 70rb (pagi)

DSC03899

Catatan Perjalanan Susur Pantai Selatan Jawa Barat : Part 3, Pantai Jayanti

Search not for a friend in time of need, for a true friend shall find thee – Aristoteles

6 April 2016

Siang itu menunjukkan sekitar pukul 14.00 saat kami meninggalkan Curug Cikaso. Perjalanan dari Curug Cikaso kami lanjutkan ke obyek wisata berikutnya, yaitu Pantai Jayanti. Hujan mengguyur cukup deras saat kami memasuki daerah Tegalbuleud yang dikelilingi hutan karet dan hutan jati. Kondisi jalan masih mulus dan berkelok-kelok melalui perbukitan.

Sesekali kami berpapasan dengan pengendara lain, termasuk teteh-teteh yang masih berpakaian seragam lengkap, membawa motor tanpa jas hujan di tengah hujan yang lebat, pengen rasanya diajak bareng aja, kan kasian motornya #eh. Oya kondisi jalanan seperti ini mengingatkan saya lagi dengan jalan antara Belitung barat dan Belitung timur. Jarang sekali ditemui permukiman penduduk, apalagi pom bensin, sepi.

DSC03725

Kondisi jalanan yang mulus ini dilalui sekitar 1.5 jam sampai tiba-tiba kami melalui jalan yang nampaknya semalam dihujani meteor. Cek di peta, rupanya kami sudah sampai di sekitar perkebunan Agrabinta yang termasuk ke dalam wilayah kabupaten Cianjur. Perkebunan ini menjadi batas wilayah antara kabupaten Cianjur dan Sukabumi.

Dengan kondisi jalan seperti ini, praktis mobil kami tidak bisa melaju dengan cepat, ada mungkin 20-30 km/jam, sesekali kolong mobil harus beradu dengan batu karena tidak ada pilihan jalan lain. Di beberapa lokasi juga ada perbaikan jalan seadanya yang dilakukan oleh warga. Di sekitar perkebunan ini dapat ditemui warung-warung (dan klo ga salah juga ada yang jual bensin), mobil setum yang teronggok dan truk-truk pengangkut kayu. Sekitar 15 menit kami melalui jalan ini, sampai akhirnya bertemu dengan jalan mulus lagi dan mobil pun dipacu lebih kencang, #fiuh.

DSC03748
tarik maang …

Oya, sepanjang perjalanan kita juga akan menemui beberapa sungai dan jembatan (di antaranya cukup panjang).

DSC03750

Nah, jika sudah mulai banyak ditemui jembatan dan permukiman warga, artinya kita sudah memasuki daerah Sindangbarang. Di Sindangbarang ini terdapat SPBU, minimart mesjid raya dan Alun-alun Sindangbarang. Kami sampai di Sindangbarang sekitar pukul 4 sore, sayangnya kami tidak banyak menghabiskan waktu di sini, cuma lewat.

DSC03753

Dari Sindangbarang, mungkin sekitar 1 jam kita melalui jalan raya Cidaun, kita akan menjumpai persimpangan antara jalan utama dan Pantai Jayanti. Untuk menuju pantai Jayanti, belokkan kendaraan ke sebelah kanan, yang ditunjukkan plang penunjuk arah.

Memasuki gerbang pelabuhan Jayanti, akan dijumpai pos tiket, namun karena kami datang saat sore (jam 5), sepertinya petugasnya sudah pulang, jadi kami tidak membayar apa-apa. Tidak lama sekitar 10 menit, kami sampai di area pelabuhan Jayanti.

DSC03759

Kondisi langit yang mendung mengurungkan niat saya untuk berburu sunset. Struktur pantai Jayanti ini terdiri dari pepasir hitam dan bebatuan (sepertinya bukan karang). Di sekitar pantai ini terdapat banyak perahu nelayan yang bersandar (ya iya lah namanya juga pelabuhan), pasar ikan, dan beberapa mercusuar. Ombak yang cukup kencang menjadi alasan yang cukup kuat untuk larangan berenang.

DSC03763
Sore mendung di Jayanti

Dari mercusuar (entah masih beroperasi atau tidak), kita dapat melihat pantai Jayanti secara luas dari ketinggian. Kondisi mercusuarnya sendiri rasanya cukup ringkih, terdapat tangga (tambang) yang bisa digunakan pengunjung untuk naik ke mercusuar. Saya sendiri cuma berani ke lantai dasar mercusuar.

Hal yang saya sukai dari pantai ini adalah kombinasi dari pasir, obyek foto yang mencolok (mercusuar), bebatuan dan ombak yang cukup besar menjadi komposisi yang menarik untuk foto slow speed, kurang milkyway aja sih ini 😀

DSC03776
mendung galau di Jayanti …

Ombak semakin berdebur kencang dan air laut juga mulai pasang, akhirnya kami berjalan-jalan di sekitar pelabuhan ini, rupanya terdapat beberapa penginapan, sayangnya saya tidak sempat bertanya rate-nya berapa. Sebelum meninggalkan pantai Jayanti, saya sempatkan naik ke mercusuar berwarna biru yang ditemui saat memasuki pelabuhan, tingginya mungkin sekitar 10m, yah lumayan lah dapet bird view tanpa drone :3

Sepertinya mercusuar ini memang tidak dirancang untuk dinaiki banyak orang, soalnya ketika sampai di puncak, waktu itu ada 5 orang di atas, saya pribadi merasakan mercusuarnya goyang :)) Entah faktor angin atau memang struktur mercusuarnya seperti itu, saya memutuskan untuk segera turun. Secara umum, saya menyukai pantai ini karena terdapat komposisi obyek foto yang jarang ditemui di tempat lain di pantai selatan Jawa Barat seperti yang saya sebutkan sebelumnya, jadi cocok lah buat para fotografer landscape. Kalau dari segi fasilitas, sepertinya sih sudah cukup, karena pantai ini memang tidak ditujukan untuk berenang jadi saya tidak menemui kamar ganti umum, selain itu tempat parkir luas, tempat makan dan penginapan juga tersedia. Saya sih ga terlalu berharap pantainya seramai pantai Santolo atau Pangandaran.

Tidak berapa lama, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Sayangheulang, tunggu catatannya di tulisan berikutnya 😉

DSC03777
Ciao, Jayanti

 

Catatan Perjalanan Susur Pantai Selatan Jawa Barat : Part 2, Curug Cikaso

I turn the music up, I got my records on
I shut the world outside until the lights come on
Maybe the streets alight, maybe the trees are gone
I feel my heart start beating to my favourite song

And all the kids they dance, all the kids all night
Until Monday morning feels another life
I turn the music up
I’m on a roll this time
And heaven is in sight

As we soar walls, every siren is a symphony
And every tear’s a waterfall

Every Teardrop Is A Waterfall – Coldplay

Setelah (belum) puas explore pantai Ujunggenteng hari sebelumnya, perjalanan susur pantai selatan Jawa Barat ini saya lanjutkan. Susur pantai tidak selamanya mengunjungi objek wisata pantai, khususnya di daerah sekitar Ujunggenteng ini terdapat obyek wisata air terjun yang sudah sudah cukup terkenal : Curug Cikaso.

Curug yang terletak di kampung Ciniti, Kecamatan Surade ini terletak di segmen jalan Ujunggenteng-Tegalbuleud yang hari sebelumnya kami lewati. Dari Ujunggenteng, kendaraan kami arahkan ke Surade, sampai pertigaan depan Indomaret Surade. Curug Cikaso ini juga sebelumnya pernah saya kunjungi tahun 2010an. Kebetulan waktu itu kemarau, jadi aliran curug ini juga seiprit, tapi membuat kolam yang terbentuk dari curahan air terjun ini berwarna biru jernih, nyesel waktu itu ga sempet renang.

1916431_105451019471229_3000628_n
saya kira-kira beberapa tahun yang lalu, ga terlalu beda dengan yang sekarang :p

Karena kami datang saat musim penghujan, ekspektasi saya aliran air curugnya akan cukup deras dan airnya cukup keruh. Setelah kurang lebih menghabiskan waktu sekitar 1 jam perjalanan, akan ditemui percabangan yang menunjukkan gerbang masuk Curug Cikaso.

Screen Shot 2016-04-27 at 7.13.10 PM

Melewati gerbang masuk curug Cikaso, kita akan langsung bertemu petugas yang menarik retribusi Rp. 3000/orang, ditambah Rp. 15.000/mobil. Saat itu karcis masuknya hanya diberikan 3 buah saja dari uang Rp. 15.000 yang kami bayarkan, sisanya wallahu’alam.

DSC03722DSC03720

Melewati gerbang, akan ditemui percabangan : kiri dan kanan, jalan ke kiri menuju ke tempat parkir, sementara jalan ke kanan adalah jalan masuk langsung ke Curug Cikaso (padahal mah sama-sama aja, di jalan ke kanan juga terdapat lahan parkir -_-). Kami melalui jalan ke arah kiri. Tiba di tempat parkir, terdapat warung yang menyediakan nasi dan minuman. Karena kami tiba di sana sekitar 10 menit sebelum adzan Dzuhur, kami disarankan untuk menunggu Dzuhur (takut ada apa2, ceunah). Sambil nunggu adzan kami sempat ngopi. Saat ngopi itulah, kami ditemui (sebut saja) Abah Anom. Dengan logat khas orang Jampang, Abah Anom bercerita tentang latar belakang beliau termasuk kedekatan beliau dengan dalang ternama (alm.) Asep Sunandar Sunarya.

Selanjutnya beliau bercerita bahwa dulu Curug Cikaso ini termasuk tempat keramat yang tidak bisa didatangi sembarang orang. Diceritakan beliau sempat bertapa beberapa minggu untuk meminta ‘penunggu’ curug agar curug ini bisa didatangi orang banyak. Abah Anom selanjutnya menceritakan, di Curug Cikaso ini terdapat 3 buah air terjun utama dimana masing-masing curug bersemayam Nyai Blorong (penunggu Curug Aseupan), Eyang Santang (penunggu Curug Meong), dan Prabu Siliwangi (penunggu Curug Aki). Berkat komunikasi Abah Anom (lewat pertapaannya), singkat kata penunggunya membolehkan Curug dikunjungi dari jam 7 pagi hingga 17.30. Walaupun begitu, Abah Anom tetap mengingatkan supaya tetap berhati-hati dan menjaga kesantunan di curug nanti.

Setelah solat Dzuhur di mesjid yang terdapat di dekat lahan parkir, kami melanjutkan perjalanan ke curug. Untuk menuju curugnya sendiri, sebenarnya terdapat 2 jalan : menggunakan perahu yang disediakan pengelola, dan menggunakan jalan darat melalui persawahan. Karena sebelumnya saya pernah ke curug menggunakan perahu, tadinya kami memutuskan pergi berjalan kaki. Dari mesjid kita tinggal melangkahkan kaki menuju persawahan. Karena tidak terdapat petunjuk menuju curug melalui jalan darat, eh ujung-ujungnya kami bertemu tempat parkir lain (dan ternyata lebih dekat ke dermaga :)) ).

DSC03718
Pos retribusi perahu menuju Curug Cikaso

Yasudahlah, akhirnya kami menggunakan jasa perahu yang ditarif Rp. 60.000/perahu yang bisa digunakan untuk 10 orang. Perjalanan menuju curug menempuh waktu sekitar 10 menit melalui sungai Cikaso yang saat itu alirannya sedang cukup deras.

Perahu diarahkan ke sungai yang lebih kecil dan tenang, menuju Curug Cikaso. Di percabangan sungai besar dan kecil ini akan jelas terlihat perbedaan warna aliran sungai. Sungai kecil berwarna hijau toska, berbaur dengan aliran sungai besar berwarna coklat.

Di pinggir sungai kami menemui warga yang tengah memancing, menemani kami  yang tidak terasa sudah sampai di dermaga Curug Cikaso. Dari dermaga, kami berjalan sekitar 5 menit sampai ke Curug. Di curug ini dapat ditemui sebuah warung dan fasilitas seperti toilet dan kamar ganti dengan kondisi seadanya.

Di tengah siang hari yang terik, kami bagaikan musafir yang menemukan oase di tengah gurun ketika akhirnya menemui kompleks curug Cikaso yang terdiri dari 3 curug besar. Sayangnya memang aliran air di curug ini masih cukup deras, sehingga kolam di bawah air terjun ini tidak terlihat bening seperti yang saya lihat dahulu kala. Kami diizinkan untuk berenang di Curug Aki (curug paling kanan) karena curah air tidak terlalu besar dan dasar kolam cukup dangkal.

DSC03671
(dari kiri ke kanan) Curug Aseupan, Curug Meong, Curug Aki

Seperti biasa, saya segera menyiapkan perlengkapan lenong untuk mengabadikan pemandangan di tempat ini. ND filter (GreenL ND2000 filter) menjadi sahabat saya mengabadikan curahan air curug ini supaya dapat dinikmati dengan slow shutter, sehingga alirannya terlihat seperti kapas/susu.

DSC03682
maafken jika ada color cast, maklum ND filter murah 😉
DSC03698
Foto all crew

Tidak ada dari kami yang berenang di curug ini karena, niatnya memang cuma mampir, sambil foto-foto. Oya, kesulitan saya pribadi terutama untuk mengambil foto di tempat ini adalah karena derasnya curahan air, banyak cipratan air yang mengenai lensa dan kamera. Akibatnya seringkali saya harus mengelap kamera dan lensa supaya tidak kabur (gambarnya :p). Karena harus mengejar target ke obyek wisata lainnya, jadi kami hanya punya sedikit waktu untuk explore di curug ini. Teman-teman sudah beranjak ke dermaga untuk menaiki perahu pulang, sementara saya masih sibuk foto-foto, daripada ditinggal, yasudah lah, insyaallah lain kali saya akan kembali ke tempat ini, mungkin bersama ‘rekan’ yang lain :3 Tunggu seri catatan perjalanan susur pantai selatan jawa barat berikutnya ya : Pantai Jayanti, dan sekitarnya 😉

Cost Damage :

  • tiket masuk curug/orang : Rp. 3000
  • tiket masuk/parkir kendaraan (mobil : Rp. 15.000
  • ngopi : Rp. 3000
  • tarif perahu : Rp. 60.000/perahu (muat 10 orang)

Hal-hal yang perlu diperhatikan :

  • Jalan masuk ke curug terdapat 2 cara, silahkan pilih sesuai kantong dan motivasi, jika mau jalan kaki, Abah Anom biasanya menjadi guide, tidak ada tarif pasti, biasanya ‘seikhlasnya’. Menurut pengunjung lain yang jalan kaki, jarak tempuhnya sekitar 15 menit, hampir sama dengan naik perahu
  • Pengunjung dapat berenang di Curug Aki (yang paling kanan dari arah masuk)
  • Seperti biasa, jaga perilaku dan sopan santun di tempat ini, karena yang berkunjung ke sini mungkin bukan hanya yang kasat mata 😉

DSC03700

Catatan Perjalanan Susur Pantai Selatan Jawa Barat : Part 1, Pantai Ujunggenteng

Kalau ada yang bertanya siapa yang ingin kembali ke masa lalu, atau pergi ke masa depan, mungkin semua orang menunjuk tangan. Sayangnya hingga saat ini (saat tulisan ini dibuat) mesin waktu (untuk manusia) belum bisa dibuat. Padahal jika ada yang sadar, ada komponen alam semesta yang sudah melakukan penjelajahan waktu : Cahaya. Cahaya dapat bergerak melintasi waktu. Cahaya bintang yang kita lihat malam ini mungkin datang dari bintang yang sudah mati, cahaya matahari yang kita lihat saat ini berasal dari matahari 8 menit yang lalu. Termasuk Foto. Ya, foto pada dasarnya adalah berkas cahaya yang disimpan ke dalam medium (digital/film), dan mereka berasal dari masa lalu dan dapat kita saksikan saat ini.

Selain foto, masih ada tulisan, yang menjadi tanda keberadaan akan suatu peradaban (karena itu, masa-masa peradaban manusia dimana tidak ditemukan sumber tulisan dinamakan masa pra-sejarah/nirleka). Jangan lupa, ingatan manusia juga terbatas, maka keberadaan tulisan

Nah, cukup prolognya, kita lanjut basabasinya :p Di tulisan ini, saya akan menuliskan catatan perjalanan hasil penelusuran pantai selatan jawa barat. Terlahir di Kota Bandung yang dikelilingi gunung-gunung, mungkin perjalanan saya ke pantai dapat dihitung jari. Namun terinspirasi dari tulisan kak Wiranurmansyah (http://wiranurmansyah.com/10-pantai-paling-dekat-dengan-bandung) akhirnya beberapa tahun yang lalu muncul niat untuk menjelajahi pantai selatan Jawa Barat. Keinginan ini hanya menjadi wacana hingga terwujudkan tanggal 5-9 April 2016 dengan bantuan sponsor (dari kantor) 😀 Perjalanan ini sebenarnya dadakan juga, mengingat sebelumnya kami berencana berwisata melakukan rapat kerja ke daerah Malang, namun karena satu dan satu hal lainnya, agenda ini urung dilakukan.

Secara umum perjalanan menelusuri pantai selatan Jawa Barat dari Bandung memakan waktu 5 hari 4 malam dan menempuh lintasan

Bandung – Pantai Ujung Genteng – Curug Cikaso – Pantai Jayanti – Pantai Sayangheulang – Bodyrafting Citumang – Pantai Pangandaran – Cipanas Garut – Bandung

sepanjang kurang lebih 800 km menggunakan kendaraan pribadi.

Di tulisan bagian pertama ini, saya akan menuliskan pengalaman di hari pertama.

5 April 2016

Kami (Saya, Pories, Arief dan Wahyu) sepakat berangkat dari Bandung jam 05.00 di ITB, dan akan menjemput mas Firman di Kota Baru Parahyangan. Sialnya, malam sebelumnya saya belum pesan ke orangtua untuk dibangunkan lebih awal, akibatnya saya baru bangun jam 5.15, dan akhirnya baru berangkat jam 06.00. Jadilah saya bulan-bulanan anak-anak sepanjang perjalanan, #pasrah. Sampai di Kota Baru, langsung jemput mas Firman, rencananya sarapan di kupat tahu Padalarang, tapi ternyata ada rumah makan yang sudah buka di Kota Baru, jadilah kita sarapan di sana. Sepiring nasi uduk dan teh tawar hangat menjadi menu pembuka saat itu. Pukul 07.00 kami lanjutkan perjalanan ke pantai Ujung Genteng melalui Cianjur-Sukabumi. Sebenarnya ada jalur lain lewat Ciwidey, namun menurut beberapa informan, jalan ke Ciwidey tidak terlalu bagus (nurut juga sama yang punya mobil) dan sebagai Network Engineer, selain itu kami usahakan jalan yang dilalui efisien sesuai prinsip Traveling Salesman Problem #gaya.

Perjalanan melalui daerah Citatah yang lalu lalang oleh truk-truk besar pengangkut kapur dari pegunungan karst dengan jalan-jalan mulus yang berbelok-belok, untungnya masih pagi jadi jalan tidak terlalu macet. Lalu tidak terasa kami melewati persawahan Cianjur hingga akhirnya sampai di Sukabumi sekitar pukul 10. Memasuki Sukabumi, kami putuskan melalui jalur alternatif via Warungpeuteuy dengan alasan menghindari kemacetan di kota Sukabumi. Jalan yang melewati komplek persawahan ini ternyata kondisinya sangat jelek dengan lubang disana-sini dan aspal bergelombang. Kami melalui jalanan seperti ini selama kurang lebih 2 jam, selebihnya jalan yang kami lalui lumayan mulus. Selama perjalanan, selain mengandalkan google maps, rupanya mas Firman dan istrinya ternyata orang Jampang. Sebelumnya kami mengisi bahan bakar di daerah Baros. Sepanjang perjalanan dapat ditemui beberapa minimart, selebihnya hanya pepohonan dan rumput yang bergoyang.

Trek yang dilalui sebenarnya tidak sesuai jalur awal, karena seharusnya kita tidak melalui Tegalbuleud. Kami sampai di daerah Tegalbuleud sekitar pukul 14.00, di sini agak sulit rupanya menemukan tempat makan, banyak warung bakso tapi saat kesana kebanyakan tutup. Akhirnya kami makan di warung nasi dekat Curug Cikaso, di tengah perkebunan jati dan dekat sungai Cikaso. Saya memesan nasi + 2 perkedel jagung + tumis jamur, saat membayar, Makjang, 97000 untuk ber-5, lumayan muahal :)) Tapi karena sudah kelaparan, apa daya, setelah itu kami lanjutkan perjalanan ke Pantai Ujunggenteng. Dari tempat makan tadi, sekitar 15 menit kami melewati gerbang Curug Cikaso, tapi cuma lewat.

DSC03494
Warung nasi mahal 😦 tempatnya asik sih, terbuka dan dikelilingi hutan jati dan sungai

Sekitar pukul 3 sore, kami sampai di gerbang masuk daerah objek wisata Pantai Ujunggenteng, 1 mobil (berisi 5 orang) dikenakan biaya Rp. 35000, instead of diberikan karcis, kami diberi stiker Pantai Ujunggenteng. Mungkin karena plat nomornya Bandung, sudah pasti dikenakan retribusi, coba bilang mau ketemu Haji Dadang, mungkin gratis, mungkin loh ya.

DSC03501
Gerbang retribusi objek wisata pantai Ujunggenteng

Perjalanan berikutnya adalah menuju penginapan. Sepanjang perjalanan kita akan melalui permukiman dan kebun-kebun yang jadi tempat menggembala sapi.

DSC03504

Sebelumnya saya sempat search tempat menginap yang bisa muat 5 orang, full AC dan kamar mandi di dalam. Dari booking.com kami temukan Hotel Turtle Beach yang berada di pantai barat dengan harga Rp. 767.000/malam (sudah termasuk sarapan untuk 4 orang, wifi tersedia tapi bayar 10.000/jam), untungnya sinyal 3G Tsel masih kuat disini. Fasilitasnya terhitung bagus, tempat parkir luas, view sunset, laguna, dan jarang dilewati orang-orang. Hotel belum kami booking, untungnya lagi masih ada kamar kosong, dan ternyata harganya lebih murah sekitar 100rb dari harga website. Kami pilih kamar beach view di lantai 2 dengan alasan lebih privat :p Oya, penginapan ini berada tepat di depan gerbang menuju pantai Pangumbahan, jadi letaknya cukup strategis, walaupun jalan menuju penginapan adalah jalan tanah yang bergelombang, entah gimana klo hujan.

58263001
Kolam renangnya berair payau, jadi kurang seger :s

Lepas sholat dan istirahat sejenak, rencananya mau explore pantai sekitar, lalu malamnya dilanjut ke Pantai Pangumbahan untuk melihat penyu bertelur. Tapi apa daya, ternyata sore itu hujan mengguyur deras 😦 Alhamdulillah pukul 5 sore hujan berhenti dan kami bergegas ke pantai untuk mengejar matahari. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, perlengkapan lenong langsung digelar.

DSC03551
Plang penunjuk arah ke kota-kota besar di Dunia yang ada di halaman pantai Hotel Turtle Beach, note that Brasil arahnya ke dalam bumi. NB : jarak mungkin tidak akurat, jadi jangan coba-coba jalan kaki :p
DSC03537
Sunset belum lengkap tanpa silverqueen model
DSC03546
pose andalan B-)
DSC03569
Bersama rombongan kami juga terdapat pelancong lain yang ikut menikmati sunset

Tidak banyak yang dapat kami lakukan saat itu selain duduk di pinggir pantai menikmati sang senja terbenam di shelter-shelter yang terdapat di halaman hotel. Karena gerah saya sempat mandi di kolam renang ditemani dede-dede gemes dan om-om ganas :O

DSC03562
menikmati senja bersama teman tercinta sekantor
DSC03566
Wish you were here …

Lepas magrib, kami makan malam di restoran, saya memesan nasi goreng dengan harga 27ribu-an dan segelas es teteh manis, lumayan mengobati rasa lapar dan dongkol karena warung nasi mahal tadi siang, hehe. Setelah makan, rencana kami adalah mengunjungi Pantai Pangumbahan, tapi teman-teman sudah pada kepayahan, jadilah kami hanya beristirahat di kamar. Pories mengajak membeli snack di indominimart di jalan arah pantai timur Ujunggenteng, tapi hanya kami bertiga (Saya, Pories, Wahyu) yang ikut.

Setelah berbelanja, spontan Pories mengajak pergi ke Pantai Pangumbahan (sekitar pukul 8 malam waktu itu), kami sepakat berangkat melalui jalan depan penginapan menggunakan mobil. Dari gerbang masuk menuju Pantai Pangumbahan, terdapat 2 jalur, pertama lewat kiri melalui pinggir pantai, dan jalur kanan melalui permukiman nelayan.

DSC03658
Jalur kiri ke pantai Pangumbahan saat siang, agak khawatir kalau malam apakah jalannya masih bisa dilalui saat pasang

Kami melalui jalur kanan melewati permukiman nelayan, terdapat petunjuk jalan menuju konservasi penyu. Kondisi jalan sangat sepi, hanya ada 1 pengemudi motor yang kami temui, dengan kiri kanan setelah permukiman dipenuhi belukar dan pepohonan, tanpa penerangan. Kondisi jalan kurang baik, jadi kecepatan kendaraan pun paling sekitar 10km/jam. Tiba di petunjuk jalan terakhir sekitar 1.5km sebelum konservasi penyu terdapat percabangan, dua-duanya jalan yang gelap, kami gunakan jalan ke kiri yang dipenuhi belukar dan jalanan berbatu rapat dan cukup tajam. Disinilah kejadian yang tidak disangka-sangka itu terjadi :))

Saat melalui jalan gelap tersebut sekitar 5 menit dengan kecepatan seadanya, supir (Pories) saat itu juga sudah cukup kesusahan mengendalikan laju kendaraan, tepat dibawah pohon cukup besar, mobil kami tiba-tiba mati (terjadilah kejadian yang sebelumnya hanya kami dengar di cerita-cerita horor radio/film :)) ). Kendaraan tidak bisa dinyalakan. Kami pun kebingungan, karena dari Bandung kok ga ada masalah ini mobil. Pertimbangan logis, mungkin aktuatornya kebetulan ga berjalan baik. Dengan kondisi saya ga bawa HP, dan cuma Pories yang bawa HP bersenter, kami coba kontak orang di penginapan, katanya sih disuruh nunggu. Akhirnya, kami coba langkah berikutnya untuk menyalakan mobil, berdua (Saya dan Wahyu) coba mendorong mobil yang pake mesin pun susah jalannya, tak beberapa lama mobil berhasil dinyalakan. Tanpa berpikir panjang, kami putuskan balik arah, kembali ke penginapan. Di mobil kami bertiga tidak berbicara apa-apa :)) Sampailah di penginapan lalu langsung menceritakan perihal yang terjadi. Rencananya, saya ingin memotret malam waktu itu, tapi karena terjadi hal tadi, rencana ini urung saya lakukan. Malam itu sepertinya memang kami tidak ditakdirkan untuk istirahat di kamar saja, main kartu, lalu tertidur pulas.

6 April 2016

Lepas solat subuh, kami rencananya ke pantai timur untuk melihat sunrise, tapi saya sendiri kebablasan, jadinya bangun setengah 6, akhirnya ga kemana-mana, sampai setelah sarapan yang disediakan penginapan (nasi goreng+telur+es teh manis), kami duduk ngopi-ngopi ganteng di shelter penginapan.

Setelah sarapan, sekitar jam 8 pagi kami berencana ke Pantai Pangumbahan, Saya dan Wahyu waktu itu memutuskan jalan duluan menyusuri pantai. Karena ada miskomunikasi, 3 rekan lain malah pergi ke Pantai timur yang berlawanan arah. Akhirnya hanya saya berdua yang ke Pantai Pangumbahan. Jangan percaya kata penduduk yang bilang dari gerbang masuk depan penginapan kami ke konservasi cuma paling lama setengah jam :)) Saya berjalan hampir sejam dan belum tampak tanda-tanda daerah konservasi penyu ini. Jam 9 saat itu di sudah cukup terik, peluh bercucuran sampai mata pun perih karena keringat.

DSC03608
Moga-moga yang punya perahunya juga barokah, aamiin
DSC03627
Panas coyy..

Jalanan cukup sepi, sesekali ada pengendara motor, penduduk sepertinya, yang lewat. Sampai di pantai yang dibatasi oleh Tembok tinggi, kami diarahkan jalan ke arah daratan sampai ketemu rumah penduduk juga penginapan (katanya ini penginapan paling dekat ke konservasi penyu). Rumah tersebut juga menjadi titik temu jalan dari gerbang masuk menuju pantai Pangumbahan (lewat permukiman dan pinggir pantai), dan rupanya memang tinggal dikit lagi dari tempat tragedi agak horor semalam. Di sana kami juga membeli minuman dingin yang langsung habis diteguk. Dari rumah tersebut, jaraknya sekitar 1km ke tempat konservasi penyu yang dituju. Tidak ada petunjuk yang memberitahu dimana tempat tersebut. Ternyata saat ini pantai tersebut dikelilingi oleh tembok untuk melindungi habitat penyu (terakhir sekitar tahun 2010an belum ada tembok ini).

DSC03654

Tembok pembatas daerah konservasi penyu/Pantai Pangumbahan

DSC03630
Pantai Pangumbahan/tempat konservasi penyu dibatasi oleh tembok tinggi dan jalan seperti ini, konon ini jalan Pemda dan akan diaspal pada waktu berikutnya.

Untuk memasuki pantai Pangumbahan/tempat konservasi penyu, cukup telusuri tembok ini hingga ditemui pintu masuk (tanpa daun pintu) yang didalamnya terdapat belukar dan bakau). Walaupun cukup rimbun, tapi terdapat jalan setapak yang mudah dilalui dan dilihat. Sekitar jam setengah 10 pagi, akhirnya sampailah kami di pantai Pangumbahan, Subhanallah pasirnya memang lembut dan bersih :3

DSC03648
Pemandangan sekitar Pantai Pangumbahan
DSC03643
Entah karena weekday, atau siang-siang hanya kami berdua pengunjung di sini, privat sekali :3
DSC03652
Santai dulu coyy..
DSC03642
merem-melek nahan panasnya matahari jam 10 pagi, kebayang jam 12 lewat gimana -_-

Datang ke pantai pangumbahan ini memang baiknya sore-sore sih, sambil menikmati sunset dan panasnya ga kebangetan. Kami agak dodol juga dateng ke sini siang-siang. Karena mengejar waktu check-out hotel jam 11, kami ga banyak menghabiskan waktu di pantai Pangumbahan ini (selain panas), padahal ke arah barat pantai ini masih ada pantai Pasir Putih, dan Ombak 7 yang cukup populer oleh turis mancanegara. Kecapean dan kepanasan, saat ditawari ojek 20rb berdua sampai penginapan kami tidak banyak tanya lagi, perjalanan lebih singkat jadi sekitar 20 menit, tahu gini kan naik mobil aja -_- Dari mamang ojek ini kami juga jadi tahu tarif guide/ojek ke beberapa spot yang saya sebutkan tadi, sekitar 200ribu/orang. Di jalan menuju Pantai Pangumbahan ini juga terdapat penginapan penduduk dengan tarif sekitar 100rb/malam.

Sampai di penginapan, mandi secepatnya, berkemas, main kartu se-game, langsung checkout. Rasanya belum puas explore di pantai ini, suatu saat insyaallah saya akan kembali ke tempat ini. Perjalanan belum usai, jadi stay tune di seri catatan perjalanan susur pantai selatan Jawa Barat berikutnya: Curug Cikaso

Cost damage (seingatnya) :

  • retribusi masuk objek wisata : 35rb/mobil
  • beli snack : 50rb
  • mendoan : 10rb/5 potong, beli 15 potong, kebanyakan :))
  • nasi goreng seafood (diluar sarapan) : 27rb
  • hotel : 650rb
  • ojek : 20rb

Hal-hal yang perlu dibawa/diperhatikan :

  • sunblock
  • cari informasi lebih baik tentang penginapan dan objek wisata yang ada, tidak ada panduan jelas tentang objek wisata yang tersedia, entah gunakan jasa guide penduduk, atau cari koordinatnya di google maps
  • pastikan kondisi kendaraan fit
  • bawa minum yang cukup
  • bawa senter dan selalu charge HP kalau mau bepergian, terutama malam :p

DSC03625

Stone Garden Padalarang

Huba, hubaaa..

Ada yang tahu tentang Stone Garden di desa Gunung Masigit, Padalarang? Tunjuk tangannnn… Udah pernah kesana belumm?

Q             :               Stone Garden tu apa sih Yan?

A             :               Taman Batu.

Q             :               Masa sih Yannnnn… (Sambil lemparin pake batu karang)

Hehehe.. Stone Garden ini merupakan suatu komplek tanah (bukit) yang di dalamnya terdapat bebatuan yang tidak tersusun dengan teratur atau kalau kata orang Paris, paburatak. Batu-batunya sendiri mirip dengan batu karang yang ada di laut atau pantai. Stone Garden ini terletak pada dataran yang lebih tinggi dari sekitarnya sehingga memungkinkan kita untuk melihat pemandangan daerah sekitarnya. Ketinggian puncak Stone Garden sendiri adalah 907 mdpl.

Yan bisa dibilang lumayan sering kesini. Pertama kali kesini itu tahun 2012 sekalian ke Goa Pawon. Jadi ke Goa Pawon dulu, baru hiking ke atas ngelewatin semak, dan kebun orang. Waktu itu belum rame, belum keurus, jadi jalurnya suka-suka kita, cari sendiri, dan ilalang di Stone Gardennya masih tinggi-tinggi, ga ada yg jualan dan toilet. Walaupun ga keurus Yan suka aja di situ, dan pemandangannya masih alami.

P_20160218_133056

Lanjut-lanjut, mari kembali ke masa sekarang. Stone Garden sekarang diurus oleh masyarakat desa sekitar Stone Garden. Udah ada tempat parkir, warung-warung beserta es kelapa mudanya yang menggoda, toilet yang lumayan bersih, dengan retribusi tiket masuk yang hanya sebesar Rp. 5000,00.

Kalau mau ke Stone Garden gampang kok, mau pakai kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum juga bisa. Pakai kendaraan pribadi dari Bandung ke arah Padalarang, lanjut ke arah Citatah nah, nanti ketemu Masjid Al Ikhlas di belokan jalan sebelah kanan dan pohon gede di tepi jalan. Dari tepi jalan itu terus ngikutin jalan berbatu, setelah pabrik nanti ada simpang tiga, belok ke kanan. Kalau takut nyasar, jangan malu-malu bertanya sama warga sekitar ya, nyaris semua udah pada tahu kok daerah Stone Garden.

Nah, bagi kamu yang menggunakan kendaraan umum dari Bandung, yuk jalan-jalan pakai kereta api aja, bebas macet. Jadi, kamu ke stasiun (ya iyalah stasiun, Yan, masa bandaraaaa), hehehe. Serius ini, ke stasiun, nah ada tiga pilihan, mau Stasiun Bandung atau Stasiun Kiara Condong ataupun Stasiun Cikudapateuh, terserah pilih yang mana pokoknya yang terdekat aja. Oh iya, khusus Stasiun Bandung, kamu datangnya ke Stasiun Bandung yang di Jalan Stasiun Barat alias yang dekat Pasar Baru. Beli tiket kereta, lalu tunggu keretanya datang. Nah kan, jadi inget lagu kereta apiku ciptaannya Opa Abdullah Totong Mahmud, pada tahu kan lagunyaaaa?

Naik kereta api, tut, tut, tut…” (Fokus, Iannn, fokusss)

Ok, setelah naik kereta api, nanti turun di stasiun pemberhentian terakhir yaitu St. Padalarang, eh, jangan salah beli tiket ya, pastiin kamu beli tiket kereta api Cicalengka-Padalarang, bukan Padalarang-Cicalengka. Jauh itu, mass.. Nah perjalanan dari Stasiun Bandung ini cuma memakan waktu 15-20 menit saja, cepat kan? Terus kereta api ekonomi juga sekarang udah pakai AC, jadi ga usah takut kevanasan, ada colokan juga, lumayan dipakai ngecas handphone kamu buat bekal foto-foto nanti di Stone Garden. Hohoho.. Oh iya, pas naik jangan berebutan ya, dahulukan yang turun dan orang tua, kalau emang ga dapat tempat duduk ya yang sabar aja, masa ga kuat berdiri bentar? Hehehe..

Setelah berhenti di St. Padalarang, keluar stasiun ke arah kanan, dan jalan dikit buat naik angkot Rajamandala, angkotnya warna kuning dan identik dengan pintu belakang, jadi jangan salah naik ya. Soalnya ada angkot lain juga disana yang warna kuning juga. Nanti bilang aja ke mamang angkotnya ke Stone Garden, angkotnya bayar Rp. 4000,- saja (Harga dapat berubah sewaktu-waktu), setelah diturunin nanti nyebrang dan jalan ke arah jalan berbatu deket masjid Al Ikhlas. Dari simpang itu juga ada ojek kok, kalau kamu mau naik ojek silahkan, tapi kalau mau jalan juga ga masalah, ga jauh kok. Setelah sampai pintu masuk nanti diarahin kok ke arah tempat bayar tiket, dan selamat menikmati Stone Garden.

Hal-hal yang harus diperhatikan:

  1. Bawa duit.
  2. Pakai pakaian yang nyaman, berhubung disana gerah apalagi di siang hari, sebisa mungkin pakai yang menyerap keringat.
  3. Pakai alas kaki yang nyaman, seperti sepatu atau sendal gunung/jepit, karena bakalan licin dan setelah hujan jalannya bakalan lebih licin plus becek. Nah, kalau mau foto-foto pakai heels gitu mending pakainya nanti di atas di spot foto, ga lucu kalau kamu keseleo disana. Lucu sih, hahahaha.
  4. Bawa air minum yang cukup, karena di puncaknya ga ada yang jualan, cuma ada di bawah yang jualan.
  5. Tuntaskan hajat alamiah di toilet sebelum mulai naik, soalnya toilet di bawah aja yang bersih dan keurus.
  6. Hati-hati saat berfoto-foto ria, jangan sampai karena pengen dapat foto yang anti mainstream kamu malah jadi celaka, ingat, safety first.
  7. Bawa makanan seperti camilan atau makanan berat juga boleh, biar ga kelaparan di atas.
  8. Sampah bawa turun, jangan nyampah dan jadi MANUSIA SAMPAH!
  9. Hati-hati dengan barang bawaan karena kadang ada kawanan monyet yang berkeliaran nyari makan dan ngambil barang-barang kamu, entah itu monyet pakai baju atau ga. WASPADALAH, WASPADALAH! (gaya bang Napi)

P_20160120_085928

Stone Garden memang semakin mendapat perhatian dari masyarakat luas, ga cuma masyarakat Bandung dan sekitarnya aja yang main kesini, banyak yang dari luar daerah juga, tapi sayangnya kawasan karst di sekitarnya juga mendapat perhatian yang makin besar dari penambang batu. Kamu bakal ngeliat kalau langit disana susah banget birunya karena asap pabrik atau pembakaran batu kapur di sekitar Stone Garden. Sayang banget ya?

Sekian curhatan jalan-jalan ke Stone Gardennya, kalau ada yang mau ditanyain jangan sungkan buat ngomen yaaa.. 

Gunung Putri pas Gerhana Matahari

DSC03497

Hollaaa..

Ian jalan-jalan lagiiii (skripsi apa kabar Yannn, hahaha). Ga jauh-jauh amat kok dari Kota Bandung, yaitu di daerah Lembang, tepatnya ke Gunung Putri. Gunung Putri ini memiliki ketinggian 1587 mdpl. Gunung putri cocok untuk teman-teman yang ga punya waktu dan duit banyak tapi pengen naik gunung.

Untuk akses ke Gunung Putri sendiri itu yang Yan tahu ada 2, via Jayagiri atau Cikole (eh udah masuk Cikole belum ya? Udah kali, Yan agak ragu). Berhubung Yan cuma pernah via Cikole jadi Yan ga bisa cerita tentang via Jayagiri. Nah, buat yang mau naik kendaraan umum, dari Bandung bisa naik angkot Stasiun Hall-Lembang menuju Lembang, sesampainya di Lembang lanjut dengan angkot Cikole warna Kuning Oren, patokannya itu simpang kecil setelah hotel Augusta di sebelah kiri, bilang aja ke mamang angkotnya turun di simpang Gunung Putri, terus dari simpang itu kalau mau jalan ke atas, silahkan, kalau mau naik ojek juga rapopo. Kalau jalan kaki bisa memakan waktu 1-3 (?) jam dengan tenaga ecek-ecek macam Yan yang tiap bentar istirahat, hahaha. Untuk yang pakai kendaraan pribadi, dari Bandung terus ke Lembang, kalau ga tahu daerah Cikole, ikutin aja jalur menuju Tangkuban Perahu/ Subang, ga jauh dari Lembang nemu patokan di atas, silahkan ikutin jalan dari simpang tadi. Cuma ada satu jalan dan lumayan kecil jadi harus hati-hati yaa. Nah, nanti setelah jalan aspal itu ada jalan berbatu dan ga jauh dari sana ada warung tempat nitipin motor dan helm juga pos tempat bayar distribusi. Disini pastikan kebutuhan buat di puncak nanti ga ada yang ketinggalan kayak air minum dan makanan, kalau ada yang kurang tinggal beli di warungnya, tapi ga tahu deh mereka menyediakan pasangan buat yang jomblo apa ga, heulll..

Lanjut-lanjut, untuk ke puncak dari warung ini bisa makan waktu sekitar 45 menit sampai 2 jam, tergantung yang naiknya sih. Berhubung kita bakal ngelewatin kebun orang, jadi hati-hati, jangan sampai ngerusak apalagi nyolong tanaman orang yaaa, hehehe. Terus kalau pas atau habis hujan harus banget hati-hati karena jalanannya cukup licin atau pijakannya ga terlalu kuat dan bisa jatuh. Kalau malam hari jangan lupa bawa senter, karena belum ada bantuan penerangan menuju puncak (bahkan cinta abang ke adek aja ga cukup menerangi jalannya bang, ga cukupppp). Oh iya, jangan lupa nikmati proses pendakiannya ya, jangan terlalu tergesa-gesa untuk sampai puncak, di pagi/siang hari kalian bisa menikmati pemandangan kebun tomat, sawi ataupun pemandangan daerah di bawah Gunung Putri beserta gunung-gunung lainnya. Kalau malam, liat pemandangan city night dan kalau beruntung ketemu kunang-kunang. Kalau capek, ya istirahat dulu, puncaknya ga bakal lari kok, hehehe. Kalau sakit, jangan memaksakan diri, di atas soalnya belum ada klinik atau rumah sakit dengan dokter muda ganteng (atau cantik) dan single macam di drama-drama Korea, hohoho.

Ian baru dua kali sih ke Gunung Putri untuk camping, tapi dua-duanya memiliki pengalaman camping yang berbeda. Bedanya apa aja?

Ady11
Tenda Tetangga, hohoho
Ady4
Penampakan Area Camping dari Puncak gunung Putri.

Kalau camping kali ini lebih nyaman untuk beberapa hal sih terutama buat cemilan, karena di area campingnya udah ada warung walaupun cuma ada satu tapi disini menyediakan minuman dan gorengan seperti bala-bala (bakwan), gehu pedas (tahu isi toge pake cabe dalamnya) dan lain-lain. Terus, kalau dulu masih boleh camping di puncak gunung putrinya, sekarang udah dilarang dan harus di area camping di bawah puncak tapi tetap ada yang bandel sih, padahal puncak sama area camping-nya deket banget, kalau mau turun ngegelinding juga nyampe. Huhh..

DSC03434
Tuh, ada yang nenda di puncak, bandel ya?

Area camping-nya bisa dibilang lumayan kok, walau belum nemu tempat yang datar-datar amat kayak di puncak tapi kalau ada disini lebih nyaman terutama saat angin kencang dan hujan, karena masih ada pohon pinusnya, kalau mau nge-hammock disini juga bisa lho. Ga enaknya camping yang terbaru ini adalah adanya pungutan-pungutan, ya sebenarnya ga terlalu besar dan ga masalah sih, cuma mbok ya yang jelas gitu, ada pungutan masuk tapi jalannya makin hancur dibanding dulu, di atas buat yang camping juga ada pungutan kebersihan, hmmm, lumayan bersih dan ngasihnya pun terserah kita berapa. Kekurangan di Gunung Putri masih terkait dengan air bersih, kalau buat minum dan masak sih mending tetap bawa dari bawah dan kalau air buat cuci-cucian gitu di warung area camping ini menyediakan air dalam botol kemasan 1,5 liter dengan harga Rp. 2500,-. Oh iya, di belakang warung ini ada toilet free juga tapi jangan ditanyakan kebersihannya (mau ngarep apa sih Yannn) dan ga ada airnya, ya airnya itu dibeli di warung tadi.

DSC03476

Di puncak Gunung Putri ini ada Tugu Sespim dan rame banget biasanya pada pagi dan menjelang siang hari. Pemandangan di Gunung Putri ini mau pagi, siang, malam tetap keren lho. Siang hari, walaupun agak panas dan terik kita bisa lihat pemandangan daerah sekitar gunung putri kayak Lembang, Maribaya, Cikole, Patahan Lembang, gunung-gunung dan hutan pinus.

Ady6

Ady7
Five Billion Stars Hotel …:)

 

 

Ady2Ady1

Di malam hari Gunung Putri akan membuat kamu terpesona dengan pemandangan city night dan langit berbintangnya, kalau beruntung bisa lihat milky way juga disini, romantis banget kannnn? Hehehe..

ady8

Kalau di pagi hari jangan malas buat bangun subuh karena sunrise disini bisa bikin senyum-senyum sendiri dan ga berhenti motret, dengan daerah Cikole dan sebuah gunung sebagai latar utama munculnya mentari pagi, dijamin ga bakal nyesel buat bangun subuh.

Tapi kalau kelewat nih sunrisenya masih bisa merasakan sensasi negeri di atas awan, hehehe.

DSC03502
Fokus pada pemandangan di belakang mbak-mbak berjaket abu-abu itu, jangan sama si mbaknya.. 😀

 

 

Nah, berhubung Yan kesini sekalian lihat gerhana, jadi lumayan komplit pengalamannya kali ini, camping, malam berbintang, sunrise, negeri di atas awan dan gerhana matahari total. Ga sedikit lho orang yang datang ke Gunung Putri buat lihat GMT ini, jadi rame banget di puncaknya. Ramenya itu sama yang mau lihat trus ajak sekeluarga, sama pacar juga ada, mamang-mamang fotografer, dan anak-anak muda. Jadi tuh ya, Yan kan camping malam, nah pas subuh mamang-mamang fotografer dari HFB itu nyusul jam 3 berangkat dari Ledeng dan sampai pas subuh lah kira-kira. Ga lama kannn. Banyak kok yang datang sengaja kesini pas jam menjelang subuh untuk lihat sunrise-nya, ga harus nenda juga.

 

ady10
Yang nonton tampak dari (sedikit bawah) depan.

 

 

Alhamdulillah, kelihatan GMTnya walaupun awalnya si matahari malu-malu menampakkan diri dan bersembunyi di balik awan. Hehehe.. Tapi ya, Yan kan motonya pake filter, malah kelihatan kayak bulan sabit jadinya, Hehehe..

DSC03483
Bulan sabit, eh, gerhana matahari menuju total maksudnya.
DSC03470
Penampakan penonton dari belakang.

Sekian catatan perjalanan Yan kali ini, oh iya, sekedar mengingatkan, datang kesini kalau bisa cek cuaca dulu, sama sebisa mungkin sampahnya dibawa turun aja, ga ada ruginya kan menjaga kebersihan tempat yang kita datangi.

Selamat berkunjung ke Gunung Putri..

^0^

Via Ferrata di Gunung Parang

Ini pertama kalinya Yan yang ga pernah naik gunung, staminanya cuma seupil, males banget olahraga dan penyakitan ini mencoba via ferrata. Yup, dengan modal nekad dan baca-baca informasi tentang via ferrata di gunung parang di internet, akhirnya berangkat. Awalnya cuma pengen nemenin Balim yang mau nyoba, but, setelah baca-baca di internet dan mikirnya “kalau ga sekarang, kapan lagi?” muncullah niat buat nyobain. Hehehe…

Via ferrata atau jalan besi dalam bahasa Italia adalah jalur pendakian menggunakan kabel/kawat baja yang membentang di sepanjang rute yang dilengkapi dengan tangga besi dan secara berkala yang menempel tetap pada batu. Sekarang via ferrata ini sudah ada di Indonesia tepatnya di Gunung Parang yang merupakan gunung panjat tebing tertinggi kedua di Asia, jadi kalau teman-teman tertarik untuk mencoba via ferrata ga usah jauh-jauh ke Kinabalu (Malaysia) lagi.

about-via-ferrata
Via ferrata di Kinabalu. Sumber gambar : http://mountaintorq.com/via-ferrata/

Malam sebelum berangkat itu Yan gelisah banget, ga bisa tidur, muncul pikiran-pikiran aneh kayak nanti kalau jatuh gimana? Kalau ga berani trus malu-maluin gimana, atau kalau mati gimana, kalau skripisinya langsung diACC gimana (ngelantur kamu Yan!!)? Tapi, berhubung sudah dibooking mau ga mau semua pikiran itu harus dihilangkan dan berserah diri pada Allah SWT (religius beneeer). Paginya berangkat dari Bandung sekitar pukul 5 pagi menuju Purwakarta pakai sepeda motor dan tentunya dibonceng Balim, nah sampainya di Plered Balim ragu-ragu arahnya, awak pun buta jalan. Akhirnya muncullah adegan ini:

Katakan peta

Peta

Katakan peta, katakan peta

Peta, Peta

Katakan lebih keras

Lebih keras

GILA, maksudnya buka gugel mep, dan om gugel pun memberikan jalur maha dewa bekas pertarungan Son Goku sama Friezza, hahaha, haha, ha, meh. Tapi, perasaan sakit hati sama om gugel kebayar sama penampakan Gunung Parang dari jauh, mulai deg-degan, dan tangan berkeringat, gunungnya seolah-olah bilang, “Yakin, neng, mau kesini?”, nyali yang udah dikumpulin selama perjalanan tiba-tiba menciut. Berhubung Balim yang bawa motor, awak ga bisa balik kanan pulang ke Bandung. T.T

P_20160110_074655
Gunung Parang dari Kampung Cihuni

Dan sampailah di kampung Cihuni, tempat kami akan memulai via ferrata. Untuk penyelenggara via ferrata di gunung parang sendiri yang Yan tahu ada Skywalker dan Badega Gunung Parang (BGP). Kebetulan Balim booking di BGP, nah, katanya  BGP sendiri dimiliki dan dikelola oleh orang-orang Cihuni sendiri, makanya harganya lebih murah, tapi pelayanan dari guidenya yang ramah dan safety kit yang diberikan menunjukkan kalau ga selalu harga menunjukkan kualitas. Lanjut lagi ceritanya, setelah sampai di BGP kami pun diberikan waktu untuk beristirahat dulu memulihkan tenaga di saung yang sudah disediakan pengelola, berhubung dikasih bantal, jadilah perjalanan ini berakhir di pulau kapuk, eh, salah, ga bisa tidur kok, beneran. Gimana mau tidur, hati ini ketar ketir banget ngeliat kegagahan Gunung Parang dari deket. Hufft.. Ngeriii.. Langsung ngondek melambai awak jadinya… T.T

P_20160110_091048
Gunung Parang dari Saung BGP

Kira-kira pukul setengah sebelas kami sudah bergabung dengan 4 orang lainnya yang bakalan ikut via ferrata, ada  Diana, mbak Yuli, Mas Ey, sama temennya mbak Diana (Yan lupa namanya! Maaf..) terus kang Ebi, guide kami. Kang Ebi mengajak kami beranjak ke base camp tempat pemasangan safety kit yang akan digunakan untuk via ferrata. Daaannn, Yan dikasih harness trus ga bisa masang, huhuhu, kan Yan ga pernah make begituan, kang. Akhirnya, setelah dibantu sama Balim dan kang Ebi, terpasanglah harness itu, Yeah! Perjalanan pemanasan pun dimulai menyusuri hutan di kaki Gunung Parang selama 30 menit, berhubung semalamnya abis hujan keadaan tanah hutan agak licin dan harus hati-hati banget, soalnya di kanannya jurang, walaupun ga dalem-dalem amat tapi kalau jatuh kan ga lucu juga. Oh iya, berhubung abis hujan dan ini hutan, jangan kaget kalau banyak nyamuk yang akan mengganggu kalian, sekali gigit itu rombongan, jadi sedia lotion anti nyamuk atau minyak kayu putih ya. Teruuuss, beberapa kali kami berpapasan dengan rombongan monyet ekor panjang, berhubung ga mau nyari masalah, lebih baik biarkan mereka lewat dulu baru kita lanjut jalan lagi.

Setelah melewati hutan, kita akan sampai di check point pertama, tempat pendakian sebenarnya akan dimulai, di CP ini kita bisa lihat Waduk Jatiluhur beserta keramba-kerambanya yang bikin gigitan-gigitan nyamuk tadi ga (terlalu) berasa. Kami beristirahat sejenak di CP pertama, memulihkan tenaga yang sedikit terkuras dengan minum dan tentunya foto-fotoooo.. hahaha..

IMG-20160111-WA0026[1]
Wefie dulu di check point I

Ga terlalu lama, kang Ebi kembali mengajak kami menghadapi realita di depan mata, tebing Gunung Parang yang akan didaki, aaaaaakkkk.. Ngeliatnya bikin mules perut, tinggi bener, ga ada datar-datarnya (emangnya lantai, Yan?). Mau ga mau, berhubung udah nyampe sini, ga mungkin mundur. Lanjut, ngedaki tebing sedikit, kita sampai di CP kedua, dan tiba saatnya kang Ebi memberikan briefing tentang penggunaan carabiner, apa itu carabiner? Carabiner itu pengait yang dipakai untuk mengaitkan tubuh kita ke kawat baja dan/atau ke tangga besi, supaya kalau ada kejadian (amit-amit) kayak kepeleset gitu, masih ada yang nahan badan kita.

IMG-20160110-WA0026
Briefing santai dulu di check point II

Oh iya, naik bersama BGP ini akan dilakukan setinggi 300 meter dan ga semua vertikal, ada saatnya juga kita harus merayap kayak cicak dan hanya berpegangan pada tebing karena harus berbelok. Awal-awal mungkin emang agak watir, karena mau ga mau ngeliat ke bawah dan itu tinggi bangettt, tapi bisa disiasati dengan dengerin musik atau foto-foto (difotoin guidenya) biar lebih rileks. Ga beberapa lama manjat, Yan udah ga ngerasa ngeri lagi ngeliat ke bawah, karena, masyaAllah, indahnya, ga ngerti tadi kenapa harus takut naik, dan seru banget.

IMG-20160110-WA0030
Baru naikkk…
IMG-20160110-WA0025
Bagian nyamping, jalan kayak kepiting, peluk tebing

Di ketinggian 250 meter terdapat cerukan gitu kayak gua yang bisa dipakai untuk istirahat, inilah CP kita yang ketiga dan di CP ini berhubung tempatnya agak gede bisa ngemping dengan kapasitas terbatas, bahkan ya, kata kang Ebi, kemaren ada yang honeymoon disini. Oh iya, disini juga ada pembatasnya berupa kawat baja, jadi kalau kita berada di dalam lingkup kawat baja, carabine-rnya boleh dilepas, terus kebetulan kita berpapasan dengan rombongan lain yang mau turun. Dari cerita mereka sih, lebih deg-deg ser pas turunnya. Berhubung ga mau merusak kesenangan dan ketentraman hati karena udah rileks dan selow, kata-kata mereka ga terlalu Yan dengerin. “Mari kita rasakan sendiri nanti, jangan dirasa-rasa sekaranglah, yang sekarang nikmatin dulu aja.” Kira-kira gitulah yang Yan bilang dalam hati.

Oh iya, berhubung belum ada lift atau eskalator ke atasnya maka belum ada yang jualan soto ayam, nasi padang ataupun mie ayam di atas, jadi jangan lupa bawa minum dan cemilan kayak cokelat buat pemulih tenaga masing-masing ya. Hehehe..

P_20160110_115555
Narsis dulu di CP III

Setelah berfoto-foto dan rehat sejenak, pendakian dimulai lagi, hurray! Jalur selanjutnya ini cenderung vertikal walaupun cuma 50 meter lagi berhubung matahari sudah di atas kepala dan angin mulai enggan berhembus (aseek) jadi berasa lebih capek dibanding naik yang 250 meter tadi. Eh, ngomong-ngomong tentang angin yang berhembus nih ya, ini pendapat pribadi Yan aja, untuk orang-orang kutilang darat (kurus, tinggi, langsing, dada rata) kayak Yan, saat angin berhembus jangan lengah dan lantas menikmatinya anginnya aja, tapi tetap berpegangan pada tangga besi atau tebing serta Al-Qur’an dan Hadist (eaaaakk) karena anginnya ga bisa diduga kekuatannya, bisa-bisa nanti bukannya Via Ferrata tapi malah jadi layangan awak yang ada, hehehehe.

 Lanjut nih ya, pendakian 50 meter terakhir ini berakhir di cerukan kayak CP yang ketiga tadi, cuma lebih kecil tempatnya, dan berhubung ini spot terakhir kita puas-puasin foto, ngemil, minum, dan tidur, yak mulai ngaco. Dari atas sini keliatan pemandangan waduk jatiluhur, gunung lembu (dan Yan bingung belah mananya gunung itu yang mirip lembu..), serta pemukiman warga di kaki gunung kumplit dengan hutan-hutan yang masih awet dan sawah-sawahnya yang baru mulai ditanami, masyaAllah. Langsung keinget Surat Ar-Rahman yang 31 dari 78 ayatnya bilang:

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

P_20160110_115928
Waduk Jatiluhur dan Gunung Lembu (?)

 

IMG-20160111-WA0010
Foto-foto dulu kakakkk…

Pemandangan indah, angin sepoi-sepoi, perasaan capek yang mulai datang dan waktu yang sudah masuk jam bobok siang bikin tebing yang keras berasa bantal, jadi mager turun. Tapi, mau tak mau setelah dicekokin coki-coki sama mbak Yuli, akhirnya Yan mau turun, padahal sebelumnya tiap kang Ebi ngajak turun pasti bilang, “Bentar lagi aja kang, selow, poto-poto dulu.” Hehehe..

9409
Ini ga datar ya, cuma salah sudut pengambilan foto aja, Diana, kamu luar biasa!

Akhirnya sesi foto terakhir sebelum turun ini dengan posisi menantang, lepas tangan dan ngehadap tebing alias ngebelakangin waduk jatiluhur, ngeliatnya sih awalnya kayak asik, gampang, cincailah, ehhh, lama-lama atut juga adek, kak… hehehe, mental tempenya keluar lagi. Nyesel sih karena ga berani kayak gitu, hahaha. Dari kami berenam cuma Diana yang berani difoto kayak gitu, daebak Dianaaa, kamu keren!

 

Berakhir sesi poto-poto, mulailah kami menghadapi kenyataan yaitu turun ke bawah tak segampang yang diperkirakan, huhuhu, mamaaaa… Sebenernya sih ya, bukan takut ngeliat ke bawah kalau Iannya, Yan ga ada masalah dengan ketinggian apalagi kalau udah lama di atas, the problem is Yan ga bisa ngeliat tangga yang di bawah buat dipijak selain ketutup sama celana juga ketutup sama jilbab yang melambai-lambai diterpa angin, next time bisa diakalin dengan pake peniti buat ngamanin lambaian jilbabnya.

Beberapa tangga pertama aman, tapiiii, mungkin karena Yan lelah, kurang tidur, dan ga sarapan pagi, jadi aja ini lutut bergetar cetar, hehehe, sebelumnya juga Yan emang pernah ada kecelakaan terkait lutut, intinya kaki kanan Yan ga bisa ditekan, ataupun dikasih beban terlalu lama. Walaupun agak gemetar tiap dipijakin tapi alhamdulillah ga menimbulkan masalah. Turun dari check point terakhir ke check point ketiga itu berat banget, ga tahu kenapa, turun 50 meter ini lebih berat daripada 250 meter selanjutnya. Perjalanan turun ini bikin deg-deg ser, karena harus hati-hati sama pijakan di bawah, jangan sampai kepleset, hehehe, selain itu ga ada lagi sih.

Seru banget! Sampai di check point pertama belum bisa bernapas lega, karena harus segera turun, Diana dan temennya harus naik kereta ke Jakarta, rehatnya cuma bentar, masih sempat poto-poto dulu. Pas di hutan, berhubung beberapa titik menurun, harus hati-hati, licin dan kaki juga gemetar, capek, tapi jangan sampai kehilangan konsentrasi.

Akhirnya, setelah berusaha dengan tenaga terakhir sampailah di base camp, lepas semua safety kit dan beralih ke saung beserta bantalnya. Alhamdulillah. Oh iya, di BGP ini ada kamar mandinya, jadi kalau berkeringat, rambut lepek, bau badan mengganggu, bisa mandi disana. Atau, kalau mau istirahat memulihkan tenaga, bisa tidur dulu di saung, atau pesan makan siang juga bisa. Perjalanan naik turun gunung para via ferrata ini memakan waktu sekitar 2-2,5 jam, ga lama kannn.. 🙂

Pengalaman yang ga direncanakan dan ga terduga ini benar-benar pengalaman berharga pembuka awal tahun buat Yan. Makasih Badim, makasih juga BGP. Buat temen-temen yang mau coba via ferrata ini, yuk ah, jangan ragu-ragu. Di Indonesia via ferrata baru cuma ada di Gunung Parang lho, insyaAllah ga akan nyesel. Oh iya, ada beberapa hal yang harus diperhatiin sebelum ikut via ferrata ini yaitu:

  1. Pastiin kamu ga punya phobia ketinggian;
  2. Pastiin bawa obat pribadi dan kalau punya penyakit asma ataupun jantung, konsultasi dulu sama dokter ataupun guide kamu;
  3. Bawa lotion anti nyamuk dan/atau minyak kayu putih;
  4. Pakai pakaian yang nyaman, untuk cewe, mending jangan pake gamis ya, rempong, neng..
  5. Pakai alas kaki yang nyaman dan tapaknya ga licin;
  6. Berdo’a! Apapun agamamu, percaya kalau kekuatan Tuhan akan selalu menjaga kamu;
  7. Makan maksimal 1-2 jam sebelum kamu naik;
  8. Bawa baju ganti dan peralatan mandi;
  9. Bawa minum dan usahakan pakai tumbler ya;
  10. Bawa cemilan buat isi tenaga di atas nanti;
  11. Buang sampah di tempatnya, jangan jadi tukang nyampah ya;
  12. Perhatikan instruksi dari guidenya;
  13. Biar rileks, silahkan coba dengerin musik, tapi jangan pakai headset, biar kalau ada instruksi dari guide bisa diperhatiin. Atau poto-poto aja, naik dikit, naik banyak, cekrek, cekrek. Pas turun juga, cekrek, cekrek, cekrek. Hehehehe..
  14. Have fun! Jangan mikir yang macam-macam.

Hampir lupa, kalau kamu mau nyoba via ferrata ini bisa cek instagramnya Badega Gunung Parang di https://www.instagram.com/badegaparang/ atau langsung hubungi hotlinenya di +62-8787-470-8230.