Catatan Perjalanan Susur Pantai Selatan Jawa Barat : Part 3, Pantai Jayanti

Search not for a friend in time of need, for a true friend shall find thee – Aristoteles

6 April 2016

Siang itu menunjukkan sekitar pukul 14.00 saat kami meninggalkan Curug Cikaso. Perjalanan dari Curug Cikaso kami lanjutkan ke obyek wisata berikutnya, yaitu Pantai Jayanti. Hujan mengguyur cukup deras saat kami memasuki daerah Tegalbuleud yang dikelilingi hutan karet dan hutan jati. Kondisi jalan masih mulus dan berkelok-kelok melalui perbukitan.

Sesekali kami berpapasan dengan pengendara lain, termasuk teteh-teteh yang masih berpakaian seragam lengkap, membawa motor tanpa jas hujan di tengah hujan yang lebat, pengen rasanya diajak bareng aja, kan kasian motornya #eh. Oya kondisi jalanan seperti ini mengingatkan saya lagi dengan jalan antara Belitung barat dan Belitung timur. Jarang sekali ditemui permukiman penduduk, apalagi pom bensin, sepi.

DSC03725

Kondisi jalanan yang mulus ini dilalui sekitar 1.5 jam sampai tiba-tiba kami melalui jalan yang nampaknya semalam dihujani meteor. Cek di peta, rupanya kami sudah sampai di sekitar perkebunan Agrabinta yang termasuk ke dalam wilayah kabupaten Cianjur. Perkebunan ini menjadi batas wilayah antara kabupaten Cianjur dan Sukabumi.

Dengan kondisi jalan seperti ini, praktis mobil kami tidak bisa melaju dengan cepat, ada mungkin 20-30 km/jam, sesekali kolong mobil harus beradu dengan batu karena tidak ada pilihan jalan lain. Di beberapa lokasi juga ada perbaikan jalan seadanya yang dilakukan oleh warga. Di sekitar perkebunan ini dapat ditemui warung-warung (dan klo ga salah juga ada yang jual bensin), mobil setum yang teronggok dan truk-truk pengangkut kayu. Sekitar 15 menit kami melalui jalan ini, sampai akhirnya bertemu dengan jalan mulus lagi dan mobil pun dipacu lebih kencang, #fiuh.

DSC03748
tarik maang …

Oya, sepanjang perjalanan kita juga akan menemui beberapa sungai dan jembatan (di antaranya cukup panjang).

DSC03750

Nah, jika sudah mulai banyak ditemui jembatan dan permukiman warga, artinya kita sudah memasuki daerah Sindangbarang. Di Sindangbarang ini terdapat SPBU, minimart mesjid raya dan Alun-alun Sindangbarang. Kami sampai di Sindangbarang sekitar pukul 4 sore, sayangnya kami tidak banyak menghabiskan waktu di sini, cuma lewat.

DSC03753

Dari Sindangbarang, mungkin sekitar 1 jam kita melalui jalan raya Cidaun, kita akan menjumpai persimpangan antara jalan utama dan Pantai Jayanti. Untuk menuju pantai Jayanti, belokkan kendaraan ke sebelah kanan, yang ditunjukkan plang penunjuk arah.

Memasuki gerbang pelabuhan Jayanti, akan dijumpai pos tiket, namun karena kami datang saat sore (jam 5), sepertinya petugasnya sudah pulang, jadi kami tidak membayar apa-apa. Tidak lama sekitar 10 menit, kami sampai di area pelabuhan Jayanti.

DSC03759

Kondisi langit yang mendung mengurungkan niat saya untuk berburu sunset. Struktur pantai Jayanti ini terdiri dari pepasir hitam dan bebatuan (sepertinya bukan karang). Di sekitar pantai ini terdapat banyak perahu nelayan yang bersandar (ya iya lah namanya juga pelabuhan), pasar ikan, dan beberapa mercusuar. Ombak yang cukup kencang menjadi alasan yang cukup kuat untuk larangan berenang.

DSC03763
Sore mendung di Jayanti

Dari mercusuar (entah masih beroperasi atau tidak), kita dapat melihat pantai Jayanti secara luas dari ketinggian. Kondisi mercusuarnya sendiri rasanya cukup ringkih, terdapat tangga (tambang) yang bisa digunakan pengunjung untuk naik ke mercusuar. Saya sendiri cuma berani ke lantai dasar mercusuar.

Hal yang saya sukai dari pantai ini adalah kombinasi dari pasir, obyek foto yang mencolok (mercusuar), bebatuan dan ombak yang cukup besar menjadi komposisi yang menarik untuk foto slow speed, kurang milkyway aja sih ini 😀

DSC03776
mendung galau di Jayanti …

Ombak semakin berdebur kencang dan air laut juga mulai pasang, akhirnya kami berjalan-jalan di sekitar pelabuhan ini, rupanya terdapat beberapa penginapan, sayangnya saya tidak sempat bertanya rate-nya berapa. Sebelum meninggalkan pantai Jayanti, saya sempatkan naik ke mercusuar berwarna biru yang ditemui saat memasuki pelabuhan, tingginya mungkin sekitar 10m, yah lumayan lah dapet bird view tanpa drone :3

Sepertinya mercusuar ini memang tidak dirancang untuk dinaiki banyak orang, soalnya ketika sampai di puncak, waktu itu ada 5 orang di atas, saya pribadi merasakan mercusuarnya goyang :)) Entah faktor angin atau memang struktur mercusuarnya seperti itu, saya memutuskan untuk segera turun. Secara umum, saya menyukai pantai ini karena terdapat komposisi obyek foto yang jarang ditemui di tempat lain di pantai selatan Jawa Barat seperti yang saya sebutkan sebelumnya, jadi cocok lah buat para fotografer landscape. Kalau dari segi fasilitas, sepertinya sih sudah cukup, karena pantai ini memang tidak ditujukan untuk berenang jadi saya tidak menemui kamar ganti umum, selain itu tempat parkir luas, tempat makan dan penginapan juga tersedia. Saya sih ga terlalu berharap pantainya seramai pantai Santolo atau Pangandaran.

Tidak berapa lama, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Sayangheulang, tunggu catatannya di tulisan berikutnya 😉

DSC03777
Ciao, Jayanti

 

Iklan