Berburu Kabut di Bukit Penjemuran a.k.a Pamoyanan Subang

Kadang, yang terindah tak diciptakan untuk dimiliki. Cukup dipandangi dari jauh, lalu syukuri bahwa ia ada di sana untuk dikagumi dalam diam.

Fiersa Besari

Biasanya paragraf pertama untuk tulisan di blog yang sudah lama tidak ditengok ini adalah permintaan maaf karena banyak kesibukan dan segudang alasan lainnya 😀 Padahal kadang males aja, hehe. Tapi bener deh, beberapa bulan terakhir saya dan istri lumayan sibuk dengan pekerjaan kami, termasuk saya yang baru pindah kantor, hampir tidak ada waktu untuk menulis bebas, pulang sudah cape pengennya langsung tidur. Weekend, seringnya males pergi kemana-mana, sudah terkenal kalau Bandung macet di akhir pekan. Makanya tidak heran ada peribahasa “Doing nothing di akhir pekan mungkin adalah kemewahan terakhir yang dimiliki para pekerja”…

Di tulisan pertama setelah lebaran ini (mohon maaf lahir batin ya netizen), saya ingin bercerita tentang perjalanan ke salah satu tempat wisata yang populer beberapa bulan belakang. Hari sabtu itu, sedianya saya dan orang tua saya ingin pergi ke pemandian air panas Ciater, Subang, biar badan enakan katanya. Ya sudah, udah lama ga Ciater, pun lama juga ga jalan-jalan bareng keluarga, quality time kata orang. Sebelum berangkat, saya juga memantau kondisi cuaca, kangen juga pengen treking atau sekedar camping, ah ya sudah sekalian bawa hammock, matras, flysheet dan kamera. Kalaupun nanti mendung, tinggal balik ke rumah saja. Kami berangkat dari rumah kurang lebih sekitar jam 6 pagi, sampe Ciater jam 7, sarapan, berendam sampai jam 10.

Selesai berendam, cuaca sepertinya bagus, akhirnya saya pamit orang tua, untuk meneruskan perjalanan ke Bukit Pamoyanan, Tanjungsiang, Subang. Bukit Pamoyanan ini konon terkenal dengan pemandangan kabut pagi harinya. Bukit Pamoyanan ini juga menjadi target saya dan kawan-kawan untuk berburu fogwave, terinspirasi dari foto-foto fogwave pakde Nick Steinberg .  FYI, foto fogwave adalah foto kategori long exposure dimana kabut yang bergerak bisa diabadikan sehingga terlihat seperti aliran air. Berbekal informasi dari internet dan babang Dedot, saya melanjutkan perjalanan ke Bukit Pamoyanan yang berjarak sekitar 30-45 menit dari pemandian air panas Ciater. Dari bunderan Jalan Cagak/Tugu Nanas, ambil jalan ke arah Tanjungsiang/Sumedang.

Ada kurang lebih 3 SPBU sebelum mencapai gerbang masuk, jadi tidak perlu khawatir kehabisan bensin. Sebelum gerbang Desa Kawungluwuk tempat Bukit Pamoyanan berlokasi, akan ditemui beberapa baligo sponsor Bukit Pamoyanan, gerbangnya sendiri terdapat di sebelah kanan dari arah Subang.

pamoyanan-gerbang.png

Gerbang desa Kawungluwuk, seiring popularitas naik, gerbangnya sudah diganti dengan yang lebih besar

Dari gerbang ini jalan akan menyempit dari 2 lajur jadi 1 lajur dengan trek menanjak, mungkin kalau bawa mobil agak sulit kalau berpapasan dengan kendaraan lain. Kurang lebih 5 menit dari gerbang akan ditemui pos tiket Bukit Pamoyanan di sebelah kanan.

gerbang pos tiket pamoyanan

Di pos tiket ini akan dipungut retribusi oleh warga setempat Rp. 10000/orang, nantinya di tempat parkir motor akan dikenakan Rp. 10000 untuk parkir camping & Rp. 5000 untuk parkir non-camping. Saya sampai di parkiran sekitar pukul 13.00, berhubung matahari berada tepat di ubun-ubun saya memilih solat Dzuhur dulu di musholla dekat parkiran, selain itu ada beberapa warung dan WC umum.

 

 

Lepas solat, sambil menunggu matahari agak bersahabat, saya beristirahat di musholla. Karena masih siang, hanya terlihat beberapa pengunjung. Pukul 14.30 saya memutuskan berangkat ke tempat camp. Dari parkiran terdapat tangga cukup terjal, sepertinya baru dibangun, lumayan juga panas-panas gini bikin keringat bercucuran. Tangga beton tadi tidak terlalu panjang, selanjutnya trek tanah & batu saja, sepertinya dulu jalan ini pernah bisa dilewati mobil. Nanti akan ditemui beberapa saung dan warung, sebelum percabangan, lurus (kiri) ke arah warung-warung, kanan langsung ke tempat camp.

 

 

Saya memilih langsung ke tempat camp karena khawatir tidak kebagian tempat. Sampai di tempat camp agak kaget karena sudah banyak tenda yang didirikan. Ternyata, tenda-tenda tadi adalah tenda yang disewakan pengelola dengan tarif 50rb per malam. Camping ground sepertinya hanya diperbolehkan di undakan-undakan yang dibuat pengelola, karena ketika ada pengunjung membuka tenda di puncak Bukit langsung ditegur. Sebelah utara camping ground ini adalah pemandangan ke arah kota Subang dengan view 180° sehingga kita bisa melihat sunrise & sunset. Di sebelah selatan camping ground ada Gunung Canggah yang treknya kelihatannya mirip-mirip gunung Puntang. Di kejauhan sebelah barat bisa samar-samar bisa terlihat gunung Tangkuban Perahu & Burangrang.

 

 

Saya sendiri memilih mencari pasangan pohon untuk mendirikan hammock. Setelah mendirikan hammock dan flysheet saya lanjut explore daerah puncak Pamoyanan. di puncak terdapat sebuah shelter untuk bernaung jika pengunjung tidak membawa tenda. di sekitarnya camping ground bisa menampung ratusan tenda. Soal logistik juga tidak perlu khawatir karena ada beberapa tenda yang buka 24 jam. Musholla dan WC umum juga tersedia di sebelah selatan camping ground. Udah enak banget sih tempatnya, tidak aneh kalau banyak pengunjung dari luar kota termasuk Tangerang & Bekasi yang sampai kesini. Oya, di puncak Pamoyanan ini terdapat beberapa platform untuk dijadikan tempat berfoto, termasuk menara 2 tingkat setinggi kurang lebih 5 meter yang terbuat dari bambu. Saya sendiri mencoba naik, walaupun terlihat ringkih tapi setelah dicoba ternyata lumayan kokoh, jangan lupa gantian dengan pengunjung lain ya.

Sore itu, alhamdulillah cuaca sangat mendukung, senja menyongsong di ufuk barat menemani camping ground yang makin ramai.

Malam di Bukit Pamoyanan

Magrib menjelang di bukit pamoyanan, saya dan sebagian pengunjung solat di musholla. Lepas sholat, waktunya mengisi perut di warung, beberapa ulén (snack dari ketan) dan mie instan + telur sukses mengenyangkan, harganya masih normal sih. Target saya di bukit pamoyanan ini sebenarnya hanya berburu kabut nanti pagi sih, tapi karena malam masih panjang, akhirnya mengambil beberapa foto malam yang ternyata tidak kalah menarik. Walaupun kelihatannya tidak mendung, tapi sepertinya kabut tipis dan polusi cahaya dari permukiman membuat bintang-bintang di langit tidak terlalu jelas, selain itu saat itu juga bulan purnama.

 

 

Beruntung, sebelum purnama muncul kabut dan awan sedikit menghilang, dapet lah milkyway tipis-tipis. Sekitar pukul 9 malam bulan terbit di ufuk timur. Karena purnama, area camping ground bisa terlihat cukup jelas walaupun tidak menggunakan headlamp.

 

 

Setelah puas berfoto, saya kembali ke hammock berniat untuk tidur. Saya kira di Pamoyanan ini bakal gerah karena daerah Subang, ternyata angin yang berhembus cukup kencang membuat saya perlu menggunakan sleeping bag. Karena dingin, akhirnya banyak pengunjung membuat api unggun, nah asap api unggunnya ini somehow mengarah ke tempat camp saya, kan bgz*d 😂 Awalnya cukup dengan buff, tapi lama-lama ga kuat juga, akhirnya saya cari tempat nongkrong lain. Jam 11 malam saya balik lagi ke hammock karena angin tidak terlalu kuat dan asap sudah bersahabat. Mungkin karena sudah berendam dan kecapean, saya tertidur pulas walaupun asap kembali datang …

Bukit Pamoyanan, Subuh

Jam 4 pagi, kumandang tadarus & sholawat bersahutan dari mesjid di sekitar kaki gunung, saya pun terbangun. Beberapa pengunjung berdatangan, sepertinya khusus untuk mengejar momen sunrise. Karena belum adzan, saya coba foto-foto sebentar. Konon momen kabut di Bukit Pamoyanan ini tidak selalu ada, tapi peluangnya lebih besar muncul di musim kemarau. Dari menara pandang sudah dapat terlihat kumpulan kabut menutupi permukiman. Tidak lama adzan subuh berkumandang, saya pun bergegas ke mushola.

Pukul 5.30 pagi saya sudah mencari spot untuk berburu fogwave, di ufuk timur sudah mulai muncul warna jingga, ternyata bisa terlihat gunung Tampomas dan Ciremai. Waktu sore kemarin sepertinya kurang jelas terlihat karena haze.

DSC07496

Pukul 6 pagi matahari muncul di ufuk timur diiringi riuh para pengunjung yang sibuk mengabadikan momen. Saya sendiri hampir tidak bisa bergerak dari spot foto awal karena ramainya pengunjung. Makin siang, kabut semakin tebal, angin yang bertiup lembut ke arah barat mengisyaratkan sepertinya ideal untuk foto fogwave. Saya sendiri belum tahu settingannya, tapi menurut pakde Nick Steinberg ambil ekposure sekitar 200 detik. Kalau eksposure terlalu lambat, kelihatannya jadi flat, terlalu cepat jadi ngefreeze, tidak terlihat tekstur gelombangnya. Karena sudah siang, untuk foto long eksposure harus menggunakan filter untuk mengurangi intensitas cahayanya. Beruntung karena saya menggunakan Sony Nex-6 terdapat aplikasi Smooth Reflection yang bisa digunakan untuk alternatif foto menggunakan filter. Sepertinya saya sukses mengambil fogwave dengan setingan ISO 100, shutter 1/5″ diambil dengan kurang lebih 32 frame yang digabungkan sendiri di kamera, dengan output RAW 🤣 So here comes the fogwave …

DSC07547
Fogwave di Bukit Pamoyanan

Hingga pukul 7,  kabut masih bisa terlihat dari Bukit Pamoyanan, tapi viewnya sudah flat dan angin relatif tidak berhembus seperti sebelumnya. Saya merasa ngantuk, akhirnya tidur lagi di hammock sampai dibangunkan teriknya matahari pukul 9. Enaknya camping ga pake tenda adalah packing ga terlalu ribet. Sebelum pulang sarapan dulu di warung, mie instan lagi (maafkan kakanda, istriku ✌). Saat pulang, kondisi camping ground sudah lumayan sepi.

Dengan view kabut pagi hari yang unik, Bukit Pamoyanan ini termasuk salah satu spot favorit sunrise saya, fasilitas pendukung seperti warung, musholla, wc umum juga menjadi nilai tambah, cocok untuk kemping keluarga. View malam walaupun indah, tapi tidak terlalu istimewa, jadi kalau hanya berburu sunrise cukup berangkat dini hari dari Bandung, tapi tidak disarankan jalan sendiri mengingat lalu lintas ke arah Pamoyanan ini sangat sepi bahkan di siang hari. Next time, insyaallah menarik juga sepertinya treking ke gunung Canggah, moga2 kesampean.

Untuk informasi terkait bukit pamoyanan ini bisa pantau di ig @yuulinkasubang / @explore.pamoyanan / @bumper_pamoyanan, jangan lupa follow ig saya @adinovic yak ✌

Iklan

[Seri Gunung Bandung] Pendakian yang bikin gemes ke Gunung gemes Artapela

 

Tak dikejar, gunung tak lari kemana

Konon, peribahasa di atas sering dijadikan pereda kerinduan para pendaki, terutama yang sudah lama tidak naik gunung. Banyak hal yang bisa menjadi faktor kegagalan para pendaki berangkat naik gunung, entah ga dapet tiket, kondisi cuaca yang tidak kondusif, ada kerjaan mendadak, ga dapet izin dari pihak terkait, salah satu anggota tim batal berangkat, terus yang lainnya ikutan batal *malah curhat. Masalahnya, klo ga dikejar, klo ga direncanain, klo ga diusahain, klo ga dipaksain, jadinya ya kita ga kemana-mana, yekan?! Nah, baru-baru ini saya mengalami tersebut. Rencananya, untuk penutup pendakian sebelum bulan Ramadhan, saya dan beberapa teman di grup WA berencana mendaki gunung Ceremai via Apuy (pendakian Ceremai via Linggasana bisa dibaca di sini 😉 ). Saya sendiri sebenarnya agak ragu-ragu, karena tepat hari sebelumnya 2 hari berturut-turut kekurangan tidur dan stamina agak letoy gara-gara lembur, walaupun saya coba mengatasinya dengan coba lari di Sabuga.

Packing bisa dianggap beres, habis ngantor nanti tinggal saya bawa perlengkapan di rumah, toh berangkatnya malam. Tahu-tahunya, salah satu rekan batal karena ada acara, rekan yang lain katanya ga enak badan. Ya sudah, rencana pendakian pun ditunda batal. Tapi dasar pada ga kerasan, kami coba rencanakan pendakian lain tapi ke gunung yang lokasinya sekitar Bandung besok harinya, dengan syarat : tektok (lagi males bawa perlengkapan banyak) tapi juga bisa dapet viewnya. Makanya kami rencanakan berangkat malam. Oya, dari sekian banyak gunung Bandung, kami jatuhkan pilihan kami ke Gunung Artapela yang berada di daerah Ciparay, salah satu alasannya karena diantara kami juga belum ada yang pernah pergi kesana. Esok harinya, hari Sabtu 20 Mei 2017, sambil nunggu konfirmasi titik kumpul dan waktu kumpul, saya coba cari informasi Gunung Artapela ini. Gunung Artapela yang berketinggian + 2194 mdpl ini terletak di Kecamatan Kertasari, dapat ditempuh melalui 2 titik basecamp pendakian : Pacet (Argasari) dan Pangalengan. Jika melalui Pangalengan, katanya sih basecampnya di Warung Dano yang lokasinya dekat Situ Aul dengan terlebih dahulu melewati perkebunan teh Kertamanah. Sementara di jalur pendakian lewat Pacet terdapat basecamp pendakian yang dikelola oleh warga.

Hingga siang, setelah ditunggu konfirmasi titik kumpul dan waktu kumpul, ternyata kejadian lagi, satu anggota tim batal berangkat, yang lainnya juga batal. Hadeuh. Setengah kesal dan gemes, saya nekat aja berangkat sendiri, berbekal informasi yang saya dapat dari internet. Toh, nanti di basecamp bisa ikut barengan tim lain …

Artapela, here we I come.

Konsekuensi dari berangkat naik gunung sendiri adalah kita harus siap membawa semua perlengkapan dan logistik sendiri. Informasi yang saya dapatkan trek pendakian tidak terlalu berat, jadi logistik secukupnya untuk 1 malam dan sarapan saja, ditambah 2 x 1.5 L air, karena tidak ada sumber air di jalur pendakian. Repotnya sih karena bawa tenda, matras, dan perlengkapan lenong. Sleeping bag bahkan saya ga bawa karena hari sebelumnya dipinjam kakak, walhasil bawa sarung saja sekalian buat solat, sekali lagi karena menurut perkiraan saya ga bakal terlalu dingin (keputusan yang disesali kemudian). Jam setengah 2 siang, setelah minta izin ortu, saya berangkat ke basecamp Artapela di Sukapura. Untuk mencapai basecamp Artapela di Sukapura, kita melalui jalur Bandung-Ciparay, di pasar Ciparay belok ke arah Pacet hingga pertigaan di daerah sebelum Pasar Pacet ke jalan Barukaso. Dari pertigaan Barukaso-Pacet, basecamp tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 300m. Perjalanan dari pusat Kota Bandung menempuh waktu sekitar 2 jam. Jika menggunakan kendaraan umum, kita bisa menggunakan angkutan umum Tegallega-Ciparay (5000-7000) atau Elf Kalapa-Ciparay (5000), dari pasar/terminal Ciparay lanjut angkot kuning Ciparay-Pacet (8000), dari pertigaan tinggal jalan kaki atau naik ojek ke basecamp.

pertigaan sukapura.jpg
pertigaan Pacet-BC Artapela dari arah Bandung
bcartapela
Basecamp Artapela via Sukapura/Argasari

Sekitar pukul 4 sore saya sampai di basecamp Artapela Sukapura, di basecamp ada tempat parkir motor yang cukup menampung sekitar 30 motor, mobil juga bisa sih di sekitar halaman rumah warga. Secara umum kondisi jalannya cukup mulus. Di basecamp saya mengisi formulir registrasi ketua kelompok dan anggota, serta membayar total 15rb rupiah untuk tiket masuk dan parkir motor.

tarifartapelaKarena saya berangkat sendiri, saya disarankan pergi dengan rombongan lain. Kebetulan saat itu ada Rofi dan Andi, pasangan pendaki dari Bandung. Sapi suci … saya tahu nasib saya nanti gimana sepanjang perjalanan jadi nyamuk buat pasangan ini, tapi bodo amat deh, yang penting ada temen buat naik. Andi menjadi leader karena sudah pernah ke Artapela sebelumnya. Di jalur pendakian Argasari ini terdapat 2 jalur yang biasa digunakan : jalur 7 (seven) field dan jalur Datar Jamuju. Jika lewat jalur 7 field hingga ke puncak perjalanan sekitar 3 jam, sementara lewat Datar Jamuju bisa memakan waktu hingga 5 jam. Umumnya pendaki menggunakan jalur 7 field. Dari basecamp ke jalur pendakian utama masih berjarak sekitar 500 meter, hingga menemui mesjid Nurul Falah di pertigaan pertama, ambil kanan. Dari mesjid, ambil jalur hingga gudang gemuk/pupuk. Di perjalanan menuju gudang pupuk kami sempat berpapasan dengan truk petani.

slide8
Perbandingan jalur 7 field dan Datar Jamuju (http://artapela.blogspot.co.id/2016/04/menuju-artapela.html)

Di jalur awal sepertinya agak tricky karena terdapat beberapa percabangan kebun (lihat foto tarif di atas), tapi secara umum hindari jalur yang mengarah ke bawah, hingga sampai di percabangan kebun wortel yang ada sebuah gubug & kolam. Dari sini, jalur menuju puncak relatif jelas yang ditandai dengan tanjakan, dan tanjakan … Tidak ada papan petunjuk arah menuju puncak pun petunjuk pos, tapi umumnya para pendaki istirahat di gubug-gubug yang dibuat petani.

Lepas dari rangkaian tanjakan pertama, kami disambut pemandangan luas perkebunan sayuran (wortel & kentang sepertinya). Namun karena kabut yang cukup tebal jadi kami tidak bisa menikmati sunset maupun pemandangan perbukitan sekitar artapela yang kalau siang lebih ciamik. Tapi untungnya karena kabut jadi perjalanan tidak terasa panas. Kebayang sih kalau lewat jalur ini panasnya bakal gimana kalau siang hari, belum lagi debunya karena tanah disini tanah gembur, hampir tidak ada tempat berteduh, sigh. Oya, pemandangan perkebunan ini akan kita temui bahkan hampir sampai ke puncak, tidak ayal jalur ini dinamai jalur 7 field.

Kami sudah berjalan kurang lebih 2 jam, adzan magrib berkumandang di kejauhan, karena statusnya sedang syafar, kami niatkan solat magrib di-jama’ ketika sudah sampai puncak. Karena cahaya sudah minim, Rofi dan Andi mulai menyalakan headlamp masing-masing. Hingga sekitar 45 menit sebelum puncak, treknya cukup landai, namun di punggungan terakhir ada tanjakan lumayan panjang hingga ke puncak yang karena kami membawa beban, jadi harus kami lalui dengan tersengal-sengal. Di tanjakan ini pula kita akan menemui pohon-pohon pinus yang menandakan puncak sudah dekat *bukan PHP. Di kejauhan terdengar lolongan anjing-anjing yang memang berkeliaran di perbukitan sekitar Artapela.

Di akhir tanjakan tadi kita akan menemui sabana yang sebenarnya adalah perkebunan yang ditinggalkan warga, di kejauhan sudah terdengar riuh para pendaki lain dan cahaya dari senter dan tenda. Alhamdulillah sekitar pukul 7 malam kami sampai di puncak gunung Artapela yang dinamai Puncak Sulibra. Di puncaknya sendiri terdapat lapangan yang bisa menampung puluhan tenda, pun ada pepohonan besar yang bisa digunakan untuk bivak maupun hammocking. Saat saya datang sudah ada mungkin lebih dari 20 tenda, mungkin karena minggu itu terakhir musim pendakian sebelum puasa. Setelah memilih tempat mendirikan tenda, mulailah drama lain. Kami mulai membongkar keril masing-masing, dan memutuskan mendirikan tenda terlebih dahulu. Pas bagian saya, lepas membongkar seisi keril, eh ternyata frame tendanya ketinggalan, eh kan suwe’. Karena saat itu di Artapela beberapa hari sudah tidak hujan, akibatnya suhunya dingin, anginnya semriwing. Akhirnya saya putuskan membantu Andi dan Rofi mendirikan tenda dulu, setelah itu harus improvisasi buat bikin bivak dari tenda yang saya bawa. Dengan menggunakan treking pole, akhirnya jadilah tenda seadanya, ya lumayan lah buat sekedar menghalau angin pas tidur nanti. Nyaman? Jelas tidak, wkwkwk, tapi gimana lagi, masa numpang di tenda sebelah, kan jadi ga enak :’) Samar-samar terdengar ocehan dari tetangga sebelah yang bilang tendanya tenda Harry Porter, entah maksudnya apa -_-

Sambil memanaskan air untuk membuat cokelat dan spageti, saya solat jama’ magrib dan Isya. Setelah makan spageti, Andi dan Rofi bergabung untuk ngobrol, Andi menceritakan beberapa pengalaman mendakinya. Oya sebenarnya saya ditawari makan bareng (logistik yang dibawa mereka), cuman ga enak sih, biasanya logistik yang dibawa pendaki bakal pas-pasan. Bahkan ada yang bilang klo ada pendaki yang nawarin minum itu tulus, tapi kalau nawarin makan itu mah basa basi :p Toh, spageti, coklat dan roti yang saya bawa juga sudah cukup. Ga enak juga sih ngeganggu lovebird, barangkali mau suap-suapan, kan jadi momen awkward #eaaak.

Tidak terasa sudah pukul 9 malam di Puncak Sulibra, masih banyak pendaki yang datang. Kebanyakan sepertinya dari warga sekitar Bandung didengar dari bahasanya. Pasangan lovebird sudah kembali ke tendanya, saya karena belum ngantuk jadi coba foto-foto sekitaran. Karena cuaca dingin dan sumber kayu bakar yang melimpah di sekitar puncak, banyak pendaki yang membuat api unggun, akibatnya saya sulit membedakan mana asap dan kabut gunung. Saya coba lihat jejak milkyway di aplikasi Stellarium rupanya baru muncul sekitar pukul 11/12 malam di arah tenggara, jadi waktu saya coba foto yang kelihatan baru ekornya. Kabut juga datang dan pergi begitu cepat, ah akhirnya saya putuskan untuk tidur dulu saja. Nah ini juga drama lainnya, karena saya ga bawa sleeping bag, kondisi tenda juga seadanya, udah ga jelas lah gimana posisi tidurnya, keril sampai dijadikan penghalang angin. Lagi-lagi saya bersyukur teman-teman saya ga jadi berangkat, kasian juga klo kondisi tendanya kaya gini 😀 Di luar tenda, bukannya makin sepi, eh makin banyak pendaki-pendaki alay yang teriak-teriak, bahkan kata-kata kasar dan jorok terlempar, dalam hati nyerocos bagusnya sih orang-orang ini diculik genderuwo saja. Seiring ocehan pendaki-pendaki tadi, saya terlelap tidur …

DSC01664Tidur saya rasanya tidak nyenyak karena kerap harus menata posisi tidur karena kedingingan, tapi lihat jam ternyata sudah jam setengah 12 malam, tenda sudah basah oleh kabut. Di luar, ternyata suhunya tidak sedingin yang saya kira. Selain itu, kirain endaki-pendaki yang ngoceh tadi udah pada tidur, ternyata masih juga berisik, maunya apa ini, ckckck. Masih banyak juga pendaki yang ngobrol atau sekedar menghangatkan diri di api unggun. Saya sendiri memilih menikmati langit malam yang bersih bertabur bintang di atas sana. Ah dengan ini berarti pecah telor juga foto milkyway-nya tahun ini. Setelah hampir setengah tahun tidak bisa foto milkyway karena cuaca yang tidak menentu, akhirnya bisa ketemu dan diabadikan, ditambah drama-drama yang saya alami tadi siang, jelas malam ini saya bahagia, Alhamdulillah :’)

DSC01687DSC01729

Hampir seisi lapangan di puncak Sulibra ini saya langkahi untuk mencari spot, bolak balik sampe bosen, tahu-tahu sudah jam 2 pagi. Kabut bercampur asap api unggun menutupi langit malam, dan akhirnya saya kembali harus menyerah ke ‘gubug derita’, saya pun terlelap dan masih ditemani ocehan-ocehan pendaki lain yang tidak menyerah walau hari berganti, sigh.

DSC01698Waktu menunjukkan pukul 4.20 ketika saya lagi-lagi terbangun karena dingin, daripada maksain tidur lagi akhirnya saya bangun sekalian aja, toh waktu subuh sebentar lagi menjelang. Tenda sebelah yang sebelumnya ngoceh sudah tidak ada (maksudnya penghuninya pada tidur –red) alhamdulillah. Lepas solat subuh, saya memanaskan air untuk kopi dan sarapan kari ayam *beneran loh, bukan bentuk mie :p. Sekitar jam 5, Rofi dan Andi keluar dari tendanya. Pendaki lainnya juga sudah terbangun untuk menyambut mentari pagi. Dari puncak Sulibra jika tidak berkabut dapat terlihat pemandangan kota Bandung. Sayangnya waktu itu kabutnya nanggung, view kotanya ga dapet, lautan awan juga ga ada. Matahari juga nampaknya malu-malu menampakkan dirinya. Sekitar pukul 6.15 akhirnya menampakkan dirinya dari balik gunung Rakutak. Oya,  dari puncak Sulibra ini jika cuacanya memungkinkan, kita bisa melihat jajaran gunung Bandung seperti Rakutak, Kendang, Gambung (yang ini sebelahnya banget) bahkan Cikuray dan Papandayan di kejauhan.

DSC01798DSC01793

Dengan datangnya matahari, sirna pulalah penderitaan saya karena dingin tadi malam. Pukul setengah 8 pagi setelah berkemas, kami mengakhiri perjalanan pendakian gunung Artapela lewat Argasari ini. Karena tidak ada kabut, kali ini pemandangan perkebunan menjadi sangat jelas. Beberapa petani sudah menggarap lahannya. Yang ngeselin di satu kebun sekitar 30 menit dari puncak ada motor dong :)) Ya konon sih motor bahkan bisa sampe puncak Sulibra. Dengan trek kemarin sih rasanya mungkin-mungkin aja motor trail sampe puncak. Tau gitu adek ngojek bang :’) Kali ini pemandangan sekitar jalur 7 field lebih jelas terlihat, termasuk gunung Kendang. Di perjalanan kami bertemu dengan rombongan remaja mesjid sepertinya yang sedang melakukan hiking ke puncak Sulibra.

Perjalanan dari puncak ke basecamp memakan waktu sekitar 2 jam diselingi istirahat dan foto-foto. Iseng saya juga merekam trek pendakian menggunakan aplikasi GPS (Geotracker, donlot di sini), tracklognya silahkan unduh di sini. Katanya sih waktu registrasi harusnya dapet tracklognya juga, tapi kemarin ga dikasih tuh. Kami sampai di basecamp sekitar pukul 9.30, langsung dikasih tikar buat istirahat. Saya sempat jajan bakso goreng yang terlalu keras untuk dimakan di sekitar basecamp. Sekitar pukul 10 kami meninggalkan basecamp dan berpisah setelah bertukar nomor HP jika perlu jalan lagi bareng nantinya. Kesan saya untuk pendakian Artapela ini karena banyak hal-hal gemas yang harus saya lalui dan temui makanya saya namai pendakian gemes, ditambah banyak dedek-dedek gemes yang mendaki, sepertinya tidak terlalu istimewa. Treknya tidak ada yang ekstrim, pun mungkin pemandangannya tidak sebagus Guntur, namun lumayan lah untuk kemping ceria atau tektokan buat ngabuburit. Lain kali mungkin pengen coba mendaki gunung Gambung yang ada di sebelahnya atau nyobain ke Artapela lewat Pangalengan.

DSC01831

Cost Damage :

  • Bensin : 15rb
  • Logistik : ~30rb
  • Tiket masuk + Parkir : 15rb

Contact Person :

Mang Nurdin 0857 2043 0201 atau kunjungi instagram BC Artapela via Argasari di @artapela_official

Kemping Ceria di Puncak Bintang

‘Cause you’re a sky, ’cause you’re a sky full of stars
I wanna die in your arms
‘Cause you get lighter the more it gets dark
I’m gonna give you my heart

Coldplay – Sky Full of Stars

Siapa disini yang tidak suka menatap langit malam yang bertabur bintang? Sebenarnya bintang-bintang tetap bersinar saat siang hari, hanya saja cahayanya dikalahkan sama benderang matahari kita. Entah apa yang menarik kita untuk menatap titik-titik yang menurut beberapa orang kaya ketombe, apakah memikirkan kehidupan lain di luar sana, apakah sekedar mengagumi kerlap-kerlipnya, atau apakah ada semacam keterkaitan batin seperti yang dibilang sama Neil Degrasse Tyson : We are the son of stars, karena unsur-unsur yang menunjang kehidupan kita berasal dari bintang-bintang yang masih hidup (matahari) dan yang sudah mati.

Di perjalanan sekarang, saya tidak akan mendiskusikan topik astronomi atau tempat yang ada hubungannya sama astronomi, tapi tempat wisata (relatif) baru di Bandung yang mencatut nama Bintang! : Puncak Bintang.

Sebelum teman-teman kecewa, di Puncak Bintang ini tidak ada observatorium, teleskop atau fasilitas penelitian astronomi milik LAPAN atau ITB. Jika ingin ke observatorium beneran di Bandung, berkunjunglah ke Observatorium Bosscha. Nah, obyek wisata yang terdapat di daerah Cimenyan Kabupaten Bandung ini berjarak sekitar 30 menit dari Terminal Bus Cicaheum, atau sekitar 1.5 jam dari pusat kota Bandung. Nama puncak bintang diambil dari pemandangan kemilau cahaya lampu di perkotaan malam hari yang seperti bintang-bintang di langit.

Hari rabu saat itu adalah salah satu hari di periode long weekend tahun 2016. Awalnya saya berencana ga kemana-mana (bedakan dengan ga berencana kemana-mana :p), mengingat long weekend di Bandung adalah semacam ‘neraka’, karena di jalannya bakal macet, dan di tempat-tempat wisatanya bakal terlalu rame. Waktu itu di Bandung juga masih musim hujan. Nah hujan-hujan sih enaknya camping (loh), tapi males juga naik gunung, pasti rame dan jalanan juga macet, akhirnya kemcer di Puncak Bintang jadi pilihan. Letaknya ga jauh dari kota, persiapan juga ga perlu banyak-banyak.

Puncak Bintang ini sebenarnya ga baru-baru amat, lokasinya berdekatan sama obyek wisata Bukit Moko dan Caringin Tilu yang udah popular sedari lama. Dulunya hanya area perkebunan pohon pinus yang dikelola Perhutani. Nah, untuk menuju ke lokasi Puncak Bintang, jalur utamanya adalah lewat jalan Padasuka ke arah utara, melewati Saung Udjo, Caringin Tilu, sampai … jalanan aspal habis (literally). Tidak ada angkutan umum yang trayeknya khusus ke tempat ini. Mungkin kalau pergi sendiri baiknya sewa motor atau naik ojek (ga tau nih Goje*k atau U*ber bisa nganter kesini ga).  Lepas jalan padat permukiman, jalanan akan terus menanjak terjal, paling parah di tanjakan terakhir tepat sebelum mencapai parkiran. Pastikan kondisi kendaraan harus fit, apalagi saat perjalanan pulang, konon banyak kecelakaan di sini terjadi karena rem blong!

Saat di tanjakan, kita akan dipungut retribusi parkir Rp. 5000/motor, tapi kalau kita kemping kita akan dipungut Rp. 15rb, uang 10rb terakhir dibayarkan di tempat parkir khusus ke Puncak Bintang. Jalan sekitar 5 menit ke gerbang utama, untuk masuk dikenakan Rp. 10rb, dan untuk kemping Rp. 8rb per orang. Area kemping disediakan di sebelah timur, ke arah dermaga bintang, dan di sebelah utara di dekat puncaknya Puncak Bintang. Lokasinya tidak terlalu jauh, cuma sekitar 5 menit melalui paving block yang sudah disediakan. Fasilitas pendukung seperti toilet, musholla tersedia disini (dan gratis), penerangan jalan dan listrik ada sampai sekitar pukul 9 malam, tapi air di toilet mengalir terus, jadi tidak perlu bingung soal sumber air. Selain itu papan petunjuk dan papan informasi tersedia di beberapa tempat.

DSC01733
Dermaga Bintang, cukup mencolok dengan background pepohonan pinus

Saya memilih ngecamp di dekat area puncak, di antara pepohonan pinus. Di sini tersedia dataran yang cukup luas dan datar untuk mendirikan kemah, mungkin sekitar 10-15 tenda. Kebetulan ada sekitar 3 tenda lain yang ada di sana. Untuk yang pengen hammock-an, di sini termasuk surganya, karena tersedia banyak pohon pinus untuk jadi pancang.

DSC01713
Pal Triangulasi puncaknya Puncak Bintang : 1442mdpl
DSC01711
Nyaman bwt para hammockers, jangan lupa pake layer tambahan ya, udaranya cukup semriwing

Setelah memilih tanah untuk berkemah, saya langsung mendirikan tenda. Malam itu entah kenapa cuaca juga tidak terlalu dingin. Menu makan malam yang dipilih saat itu ada nasi bungkus yang kami beli di warung nasi sebelum ke sini, coklat panas dan makaroni rebus La F*onte (yang sekarang jadi makanan instan favorit saya bwt pengganti indo*mi). Setelah makan, sholat, dan mumpung belum hujan, saya langsung gelar perlengkapan lenong. Panorama Kota Bandung malam hari memang selalu dirindukan. Jauh dari riuh ramai perkotaan, lokasi Puncak Bintang ini memang pas untuk pelarian saat long weekend.

DSC04795
mengasingkan diri dari riuhnya perkotaan, ga perlu jauh-jauh

Sambil berkeliling di sekitaran tenda, ga sengaja mencuri dengar pembicaraan orang-orang di tenda sebelah, kayaknya sih mereka dari kelompok MAPALA. Kebetulan tetangga sebelah menyalakan api unggun yang memberikan ambience yang apik untuk foto-foto.DSC04793DSC04803

Tidak terasa malam semakin larut, dan perburuan ini harus dihentikan (lah kaya ekspedisi alam gaib). Setelah masuk tenda, sempet main kartu beberapa set, akhirnya saya tertidur lelap sampai keesokan subuhnya.

Merenung Sesaat di Patahan Lembang

Tidak terasa subuh menjelang, sekitar pukul 4.30 saya terbangun, saat itu listrik sudah menyala kembali, lampu penerangan paving block yang mengarah ke toilet dan mushola juga sudah menyala. Setelah sholat subuh, saya menatap langit dan melihat sedikit jejak-jejak galaksi bima sakti. Penampakannya cukup singkat, karena setelah itu awan kembali menyelimuti langit.

DSC04811

DSC04821

Sambil menunggu matahari terbit, saya putuskan untuk foto-foto lagi di sekitaran tenda. Oya, untuk menikmati pemandangan di Puncak Bintang yang terbaik dan ga mau treking, kita bisa datang saat sore hari saat matahari terbenam, lanjut sampai agak malam. Kalau ingin makan berat atau sekedar ngopi, bisa mampir ke warung Bukit Moko, atau di warung-warung yang ada di sekitar parkiran. Nah, untuk pemandangan matahari terbit, kita ga bisa langsung dapatkan di Puncak Bintang, kita bisa turun sedikit ke bukit depan Puncak Bintang, atau treking ke Patahan Lembang dengan background gunung Bukit Tunggul.

Nah lho, apa lagi Patahan Lembang? Patahan Lembang adalah zona patahan yang terjadi karena pergerakan lempeng, yang memanjang sekitar 25 km dari Maribaya, sampai ke Cisarua. Patahan ini terlihat seperti perbukitan yang memanjang dan bisa terlihat jelas jika kita berada di Gunung Putri Lembang. Saat ini Patahan Lembang masih dinyatakan aktif dan berpotensi menimbulkan gempa 6-7 skala richter [1]. Dengan jarak hanya 15km dari Kota Bandung, tentunya potensi ini harus disikapi dengan seksama.

Nah di Puncak Bintang, Patahan Lembang yang dimaksud adalah salah satu titik dataran di pinggir/jurang patahan Lembang, ya mirip-mirip Tebing Keraton lah. Untuk menuju Patahan Lembang ini, kita harus treking sekitar 20 menit. Treknya agak menanjak, tapi tidak terlalu panjang. Sebelum treking, sarapan dulu ya gaes, #biarsetrong.

DSC04832

Habis sarapan, cus langsung ke Patahan Lembang. Dari tempat camp, tinggal turun ikuti petunjuk arah ke Patahan Lembang, nanti akan ditemui papan informasi dan toilet yang belum bisa dipakai. Pemandangannya juga ga ngebosenin, sepanjang jalan pepohonan pinus, di beberapa tempat masih ada wadah-wadah pengambilan getah pinus

DSC04854

Bersama saya waktu itu, ada serombongan keluarga yang juga sedang menuju Patahan Lembang. Oya, pastikan kita membawa persediaan air minum yang cukup dan cemilan. Sebenarnya ada saung-saung saat perjalanan sekitar 10 menit, cuma sepertinya waktu kesana lagi pada tutup.

Treknya sendiri sudah cukup jelas, karena cuma satu jalur. Nah saat ketemu semacam portal akan ada percabangan, cukup ikuti jalur lurus (jangan belok kiri). Jalur ini adalah pertemuan antara jalur pejalan kaki dari Puncak Bintang dengan pemotor trail/warga, jadi jangan kaget kalau nanti ketemu sama motor trail.

Jangan terlalu percaya sama petunjuk waktu di plang penunjuk arah, yang pasti tergantung pace jalannya, kalau capek tinggal istirahat 😉 Nah setelah 20 menit, sampailah kita di tempat yang dituju. Tempatnya sendiri terdapat agak di bawah, jadi kita perlu turun sedikit dari jalan utama. Nanti akan ditemukan plang Patahan Lembang.

DSC04876

Viewnya 11-12 sama view di tebing Keraton lah ya, di sebelah utara kita bisa melihat daerah Cikole, Ciburial, agak ke barat kita bisa melihat gunung Tangkuban Perahu 🙂

DSC01702
Gunung sebelah kiri Burangrang, sebelah kanannya Tangkuban Perahu, agak ke depan Gunung Putri. Foto ini diambil beberapa waktu sebelumnya, cabang pohonnya masih tinggi.
DSC04872
Yang ini diambil waktu terakhir kesana, awan agak tebal dan cabang pohonya sudah patah 😦
DSC01693
Waktu nganter turis Jogja

Puas foto-foto di Patahan Lembang, saatnya kembali ke kemah. Selain Puncak Bintangnya sendiri dan Patahan Lembang, masih ada obyek lain di Puncak Bintang ini : Dermaga Bintang. Letaknya paling kanan dari pintu masuk, ditandai dengan semacam bangunan rangka besi dengan icon bintang (namanya juga Dermaga Bintang). Tingginya sekitar 6-7m dengan konstruksi yang cukup kokoh.

DSC01715

Dari dermaga ini kita bisa melihat pemandangan perkebunan di dekat Puncak Bintang, Bukit Moko dan Kota Bandung dari titik yang lebih tinggi.

DSC01718DSC01722

Kalau belum puas menjelajah di sekitaran Puncak Bintang ini, kurang sempurna rasanya kalau ga main di hutan pinus dan me-reka-ulang adegan-adegan di Bollywood.

DSC04894DSC04886DSC04884

Kalau udah puas atau udah kecapean habis dari Patahan Lembang, yasudah pulang saja, pastikan rem kendaraan kita masih berjalan baik karena jalanan akan terus menurun sampai Cicaheum, sampai ketemu di perjalanan berikutnya 😉

Cost Damage

  • Tiket parkir : Rp. 5rb (kunjungan biasa), tambah Rp. 10rb (klo kemping)/motor
  • Tiket masuk : Rp. 10rb (kunjungan biasa), tambah Rp. 8rb (klo kemping)

Untuk angkutan umum, kalau banyakan bisa sewa angkot dari dekat Terminal Cicaheum/pertigaan Padasuka, kalau sendiri bisa pakai ojyek, kurang lebih Rp. 50rb PP.

Referensi

[1] http://geomagz.geologi.esdm.go.id/sesar-lembang-heartquake-di-jantung-cekungan-bandung/