[Seri Gunung Bandung] Napak Tilas Jejak Proyek Sangkuriang : Gunung Tangkuban Perahu via Jayagiri Lembang

Dan kau adalah
Bagian dari perjalanan
Terima kasih
Keindahan
Untuk kopi pahit dan aroma pagi
Serta filosofi tentang kelamnya hidup
AuraCoustic – Filosofi Kenangan
Walaupun ilmu pengetahuan tentang waktu seperti relativitas sudah dirumuskan, sampai saat ini, ilmuwan masih belum bisa menemukan mesin waktu, untuk pergi ke masa lalu. Padahal, tak perlu jauh-jauh, raga beserta ingatan kita adalah sebuah mesin waktu yang merekam perjalanan manusia di masa lalu. Kita bisa berjalan ke masa lalu, mengubah hal2 seperti kesalahan masa lalu, supaya tidak terjadi lagi di mas depan.
Tentang masa lalu, hingga akhir SMP saya masih tinggal di Jayagiri, Lembang, di kaki gunung Tangkuban Perahu, yang namanya diabadikan menjadi salah satu judul lagu Bimbo. Dulu, bersama anak2 mesjid sempat mencapai Tangkuban perahu dengan treking via jalur Jayagiri & Pasir Ipis. Bahkan dulu setiap habis kuliah subuh di bulan Ramadan, kami ‘ngabeubeurang’ ke Pamunduran, yg menjadi gerbang masuk Tangkuban Perahu via Jayagiri. Tanpa GPS, internet dan pengetahuan navigasi seperti saat ini, agak ngeri juga sih gimana bisa dulu kami sampai ke puncak Tangkuban perahu.
Nah Sabtu Februari lalu, adalah perjalanan waktu saya ke puncak Tangkuban Perahu via Jayagiri bersama @kpgbandung . Berawal dari scrolling timeline IG, ada ajakan tektok sabtu pagi, kebetulan juga ga ada rencana kemana-mana. Akhirnya, sesuai poster titik kumpul langsung di pos jaga Tangkuban Perahu via Jayagiri. Saya sampai di Jayagiri sekitar setengah 8 pagi, karena waktu kumpul masih 1 jam lagi, saya singgah dulu mengisi perut di warung dekat rumah bibi, sekalian bungkus untuk makan siang, menunya sederhana, nasi kuning dan gorengan hangat.😋
Setengah 9 saya sudah berada di pos jaga, di sana sudah berkumpul sekitar 20 orang kengkawan KPGB yang belum pernah saya temui. Sambil kenal-kenalan, ngobrol bisa juga mengisi perut di warung yang menjual gorengan panas di sekitar pos.

Pos Tiket Jayagiri – Warung Ma Idah

Jam 9 pagi, sesuai jadwal, kami memulai pendakian. Leader perjalanan kali ini adalah kang Gan-gan, sebelum memulai perjalanan, kami di-briefing dulu jalur yang akan kami lalui, lalu doa bersama, selepas itu pergi ke pos tiket untuk membayar tiket masuk. Untuk treking dikenakan biaya RP. 7500, untuk camping Rp. 15.000. Tadi waktu parkir per motor dikenakan Rp. 5.000, kalau camping kalo ga salah Rp. 10.000. Soal logistik bisa mengisi di warung, atau di warung-warung warga di sepanjang jalan Jayagiri. Ketinggian di pos tiket ini sekitar 1372 mdpl, dengan target puncak Tangkuban Perahu di ketinggian 2093 mdpl, cuma naik 700m-an kan ya, ah cetek pikir saya, ternyata …
Jalur pendakian awal mulai dari Pamunduran, ditandai dengan pohon-pohon pinus dan semak-semak rendah. Di masa kecil dulu, di daerah ini kami sering berburu Kumbang Tanduk/Badak dengan suaranya yang khas, bahkan bisa kami temui dekat pos tiket. Konon saat ini harganya cukup tinggi. Namun entah karena perburuan, atau perubahan ekosistem, serangga ini belum pernah saya temui lagi di alam.
Treknya sendiri masih landai. Yang saya ingat dulunya trek ini pernah dipakai mobil offroad juga, tapi sepertinya sekarang sudah dipisah (jalur kendaraan offroad lewat Cikole/Sukawana) sehingga jalannya tidak berlubang. Trek ini kalau basah licin banget, di perjalanan pulang tidak terhitung berapa kali kami terpeleset. Oya, ada di sebelah kanan jalur utama ada jalur lebih kecil yang lebih enak dilalui. Di jalur juga kami sempat beristirahat, Abah Wahyu salah satu senior di KPGB sempat menawari kami kentang rebus. Kocak banget si abah ini, umurnya mungkin lebih dari 70an, tapi masih aktif mendaki dan paling cerewet di grup pendakian.
Di akhir jalur pendakian ini mulai datar, kemudian akan ditemui warung-warung yang ternyata berada di persimpangan jalur offroad dari Cikole-Sukawana-Jayagiri. Ada beberapa petunjuk arah jalur untuk memudahkan pendaki. Di dekat warung ini juga terdapat mushola cukup besar. Di warung ini kami melepas lelah sambil menikmati gorengan panas (lagi), kapan sehatnya ini yha 😂 Sempat saya kira ini warung Ma Idah yang kami tuju, eh ternyata bukan, warung Ma Idah ini lokasinya masih 10 menit lagi dari warung pertama yang kami temui. Di persimpangan ini kami sempat menemui mobil-mobil offroad dari luar kota bahkan truk TNI, buset.
Untuk menghemat waktu, kami lanjutkan perjalanan ke warung Ma Idah mengikuti tanda petunjuk ke Puncak Jayagiri. Jalurnya masih landai, tidak lama di sebelah kiri ada warung dengan sebuah menara antenna radio, ada WC umum juga, nah tapi warung Ma Idah letaknya setelah itu, tepat di depan bangunan penyaringan air. Tidak ada yang khas sebenarnya di warung ini, makanan ringan, logistik sederhana dan gorengan pastinya. Di warung ini kami beristirahat kembali, sebagian jajan, saya sendiri hanya mengobrol dengan yang lain. Dari awal perjalanan langit memang sudah kelabu, sebenarnya perjalanan jadi lebih nyaman karena terik matahari tidak terasa, tapi artinya kami juga harus siap-siap kapan saja hujan turun.

Warung Ma Idah – Puncak Jayagiri

Di warung Ma Idah, kami istirahat sebentar saja, karena perjalanan sesungguhnya (ashiapp) baru saja dimulai. Tujuan selanjutnya puncak Jayagiri, jalurnya lewat belakang bangunan penyaringan air, jalan sebentar, lha sudah sampe lagi.
DSC01985
Puncak Jayagiri
Entah sejak kapan daerah ini dinamai Puncak Jayagiri, oya waktu treking masa kecil dulu juga ga inget ada warung Ma Idah sih, sepertinya lewat jalur berbeda. Puncak Jayagiri ini sebenarnya seperti bumi perkemahan. Terdapat lahan berkemah untuk puluhan tenda, bisa hammockan juga. View yang terbuka ke arah timur di awal jalan masuk, di tempat lainnya tertutup pepohonan pinus. Tapi enak sih kalau hujan atau angin tempat ini bisa dijamin (lebih) hangat.
Sambil menunggu rombongan dari warung, kami duduk sebentar, karena toh baru juga istirahat tadi. Di Puncak Jayagiri ini kita akan menemui daerah yang berpagar, yang nantinya diketahui bagian dari daerah pelatihan kuda (Kandang Kuda). Dari arah Puncak Jayagiri, jika ambil ke arah kanan akan ditemui jalur offroad ke puncak Tangkuban Perahu yang berhubungan dengan jalur Sukawana. Kami mengambil jalur kanan, terdapat petunjuk kecil di pohon. Sepintas, kang Gan-gan memberi instruksi untuk lanjut perjalanan sampai ke Tebing Lumut. Nah apalagi ini Tebing Lumut, saya sendiri baru dengar.

Puncak Jayagiri – Tebing Lumut (30 menit)

Dari Puncak Jayagiri vegetasi masih dominan pohon pinus, akan ditemui lembahan dan .. loh kok ada jalan besar dan truk box yang parkir ?

Di lembahan tadi juga ada pipa saluran air berwarna biru yang spontan saya ingat pernah saya lalui, cuma arahnya dari kanan. Setelah didekati, bangunan yang terlihat dari lembahan tadi adalah Kandang Kuda milik tim SAR berkuda. Di komplek tersebut hanya ditemui seorang pemelihara kuda yang membersihkan seekor kuda, tidak sempat saya tanyakan juga apakah tempat ini bagian dari BASARNAS atau organisasi terpisah. Beberapa kuda dibiarkan memamah di lahan sebelah kandang, kuda-kuda yang berada di kandang juga kondisinya nampaknya terurus dengan baik.

Dari komplek kandang kuda ini perjalanan diteruskan ke jalan setapak yang posisinya tepat berada di sebelah kiri atas jalan mobil. Visualnya mungkin sulit terlihat karena tertutup semak-semak rendah, tapi kemungkinan jika lewat jalan mobil juga ada persimpangan dengan jalan setapak yang kami lalui. Yang menarik, selepas pos kandang kuda ini vegetasinya langsung berubah ke semak-semak rimbun dan pohon kayu keras menjulang, sangat kontras dengan kondisi hutan sebelum kandang kuda. Beberapa kali kami harus melewati semacam terowongan semak. Hal ini kemungkinan karena sebagian wilayah gunung Tangkuban Perahu juga berfungsi sebagai hutan produksi.

DSC01995
Jalur Tangkuban Perahu setelah Kandang Kuda, masih sangat alami

Tujuan kami di jalur ini adalah menemukan tebing lumut, yang namanya pun baru saya dengar. Sebelum sampai di tebing yang dimaksud, saya sempat melihat semacam saluran di sebelah kiri dengan lebar kurang lebih 1 meter, yang saya kira adalah jalur air (alami). Baru setelah lanjut melangkah, kami sampai di tempat yang disebut Tebing Lumut ini. Jadi, tebing lumut ini adalah semacam lorong berukuran lebar sekitar 1 meter, dindingnya sangat datar dengan panjang kurang lebih 100meter (yang terlihat). Dindingnya ditumbuhi lapisan lumut, dasarnya dipenuhi dengan guguran daun kering dan ada sebuah pipa air yang masih aktif berfungsi. Ada teman saya yang mengatakan tebing lumut ini adalah jalur mobilisasi pasukan Jepang untuk melakukan penyerangan ke basis Belanda di Subang. Kebetulan memang di daerah Pasir Ipis dan Gunung Putri kita juga bisa melihat reruntuhan benteng peninggalan, entah Belanda atau Jepang. Tebing lumut yang bisa kita lihat sekarang juga kemungkinan adalah sisa-sisa jalur yang utuh, karena tidak seperti di Tahura, daerah ini tidak dijadikan sebagai cagar budaya/sejarah.

Di tempat ini kami menghabiskan waktu sekitar 15 menit berfoto ala-ala, sambil menunggu rombongan lain. Di tempat ini sempat ada konflik, apakah akan melanjutkan perjalanan atau menunggu kang Gan-gan sebagai leader datang dulu, karena instruksi sebelumnya janjian ketemu di tebing lumut. Cukup lama diam menunggu rombongan belakang, sebagian teman-teman mulai kedinginan, karena sejak berangkat, matahari tidak juga muncul. Akhirnya setelah 20 menitan rombongan lain datang, kang Gan-gan menginstruksikan lanjut hingga puncak, dipandu kang Ame (klo ga salah inget).

DSC02003
Tebing Lumut Tangkuban Perahu

View this post on Instagram

Not everything that counts can be counted, and not everything that can be counted counts – Albert Einstein. . Many of us draw conclusion based on the data and tools available to them. But how can we sure about that? While it is not bad to be data driven, it is worse to be data blind. Data blindness occurs when someone can't see anything the data available to them. And the bummer is, we often take decision based on the data available to you, believing that they provide complete insight. If you blindly rely on the data and tools available to you, you will not be able to see complete picture. Not knowing how to use data effectively is also a type of data blindness. When data is not used intelligently, it can result in taking bad decisions with high confidence. . In the end, eventually we'd rather make decision irrationally. . https://www.optimizesmart.com/data-driven-data-blind-prefer-data-smart/ btw, aneh kan di tengah hutan nemu struktur bangunan kaya gini? bagian dasarnya rata, dindingnya rapi berlapis lumut, entah terjadi alami, atau bagian saluran air yang sengaja dibangun.

A post shared by ady saputra (@adinovic) on

Tebing Lumut – Leuweung Tiis – Tower Penelitian Petir ITB (1.5-2 jam)

Trek setelah tebing lumut masih dikelilingi hutan alami dan di samping kanan mengalir sungai kecil, konturnya masih cukup landai. Sesekali kami melewati aliran sungai kecil yang mengalir sangat jernih. Jadi inget air minum kemasan di kantor katanya menggunakan mata air di Tangkuban Perahu, mungkin ini salah satu sumbernya. Lepas tebing lumut ini jalurnya mulai banyak bercabang, pertanda kita memasuki daerah Leuweung Tiis (Hutan Dingin/Sepi). Beberapa kali kami berhenti untuk memastikan jalur yang kami lalui sesuai tracklog. Di beberapa titik kami berpapasan dengan jalur offroad yang menyisakan genangan-genangan cukup dalam.

Jam 12 siang kami masih berada di Leuweung Tiis. Di satu titik, saya sempat membuka peta di HP, posisi saat itu dekat dengan area putih yang saya kira adalah kawah. Namun lalu terdengar jelas pengumuman dari loud speaker yang ditujukan bagi pengunjung gunung Tangkuban Perahu. Dari informasi teman-teman ternyata posisi kami sangat dekat dengan parkiran bus objek wisata Tangkuban Perahu, sumber suaranya memang dari arah kanan dari arah kami datang. FYI, saat ini objek wisata Tangkuban Perahu ini dikelola oleh swasta (PT GRPP, yang juga mengelola kawasan gunung Papandayan). Di tiket masuk kami masih membayar ke Perhutani, tapi jika memasuki kawasan kawah kami harus membayar lagi tiket masuk. Keberadaan pilar-pilar berwarna biru yang kami temui di Leuweung Tiis seolah mengisyaratkan bahwa daerah yang ditandai pilar ini adalah kawasan yang berada dalam pengelolaan PT. GRPP. Pilar-pilar ini juga menjadi panduan untuk menuju Puncak Tangkuban Perahu.

DSC02042

Tidak lama, di spot dekat tempat parkir bus tadi, hujan turun sangat deras, saya sudah bersiap menggunakan jas hujan plastik. Perjalanan pun kami lanjutkan di bawah guyuran hujan yang tidak berhenti. Biasanya hujan di gunung berlangsung singkat (karena kabut), tapi kali ini tidak, hingga sekitar 2 jam menyusuri trek yang sekarang menanjak, hujan tidak berhenti turun.

Di ujung tanjakan, saya akhirnya bertemu dengan dinding beton yang menandakan kami sudah sampai di bangunan Tower Penelitian Petir milik ITB. Tidak ada aktivitas manusia di sana, gerbang dikunci, namun lampu luar gedung menyala. Saya pun tidak tahu apakah masih ada penelitian yang dilakukan di sana. Yang saya kepikiran langsung adalah, PLN rugi kali ya menyediakan bentangan kabel hanya untuk mengaliri satu bangunan di puncak gunung begini 😅 Dulu sekali saya masih bertemu dengan bapa penjaga gedung yang membuka warung, tapi sekarang sudah tidak ada jejaknya. Mungkin jarang juga yang berkunjung ke sana.

Tower Penelitian Petir ITB – Puncak Tangkuban Perahu/Upas Sunrise Point (30-45 menit)

Kami sampai di Tower Petir sekitar pukul 13.30, dari tower ini ada 2 percabangan, kiri & kanan, ke kanan kita akan turun ke jalur kawah Ratu-Upas, sementara ke kiri menuju puncak Tangkuban Perahu atau dikenal juga dengan Upas Hill. Setelah istirahat dan menunggu rombongan, perjalanan dilanjutkan, dari sini treknya sangat landai dan jalurnya sangat jelas, kita tinggal mengikuti jalur kabel listrik yang menggelantung di pepohonan.

DSC02040
Karena hujan yang deras, di sebagian trek dari Tower-Puncak terdapat genangan air, beberapa berlumpur dalam
Kami sampai di puncak Tangkuban Perahu sekitar pukul 14.30, tidak ada siapa-siapa di sana. Dengan kondisi hujan masih deras mengguyur, kami membuat bivak dari plysheet untuk berteduh, agak sulit juga mengingat kontur tanahnya miring. Satu persatu rombongan sampai di puncak. Di bawah guyuran hujan, kami membongkar logistik kami dan segera melahap bungkusan nasi yang kami bawa. Ah, alhamdulillah nasi kuning dan gorengan dingin ditemani kopi hangat cukup mengobati kerinduan saya mendaki gunung. Badan sudah basah entah karena keringat atau dari air hujan. Sebagian teman pun menggigil, khawatir juga kalau mereka sampai hypotermia, kami saling berbagi minuman hangat. Dari awal pendakian, leader perjalanan sudah mengingatkan perjalanan akan berat dan mungkin tidak akan mendapatkan view. Saya pun sejak hujan tadi sudah menyimpan kamera rapat-rapat, apalagi ternyata jas hujan saya sudah sobek. Toh, kerinduan saya sudah terobat dengan bisa nanjak lagi.
Tapi ya namanya alam, tidak bisa ditebak, setelah makan, langit tetiba membiru, hujan pun reda. Sontak kamera kembali saya keluarkan dan mulai mengabadikan momen yang mungkin bisa berubah sewaktu-waktu. Kabut tersingkap, dari puncak Tangkuban perahu ini kita bisa melihat kompleks kawah Upas (Upas lama, muda, dan paling muda) tepat di bawah, kemudian terpisah sebuah punggungan adalah kawah Ratu, kawah terbesar dan menjadi daya tarik utama wisatawan. Di kejauhan kita bisa melihat pegunungan sekitar Subang seperti gunung Canggah. Kalau kita datang pagi hari bisa melihat matahari terbit karena view puncak ke arah timur.
Fyi, menurut pak T. Bachtiar di buku Bandung Purba, gunung Tangkuban Perahu ini hanya terlihat seperti perahu yang terbalik jika dilihat dari arah selatan saja (dari Bandung). Karena jika dilihat dari Situ Lembang hanya terlihat seperti kerucut, jika dilihat dari Subang/Ciater akan terlihat bukaan kawah ke arah timur laut. Keberadaan dua kawah besar (Upas & Ratu) ini yang menyebabkan morfologi puncak ini melebar dari barat ke timur, seperti perahu terbalik. Jadi besar kemungkinan, legenda Gunung Tangkuban Perahu ini dibuat oleh orang selatan Tangkuban Perahu. Masih di buku yang sama, yang menarik, legenda Sangkuriang yang melingkupi sejarah Tangkuban Perahu ini memiliki urutan cerita yang sesuai dengan proses pembentukan gunung Tangkuban Perahu dan gunung-gunung tetangganya.
Menurut legenda, Dayang Sumbi meminta Sangkuriang membuat perahu dan telaga sebagai syarat untuk memperistri Dayang Sumbi dalam waktu semalam, sebelum matahari terbit. Sangkuriang membuat perahu dari kayu yang tunggulnya (sisa) menjadi gunung Bukittunggul, sisa dahan, ranting dan daunnya membentuk Gunung Burangrang. Karena siasat Dayang Sumbi, Sangkuriang gagal memenuhi janjinya, lalu menendang perahu yang dibuatnya, sehingga membentuk gunung Tangkuban Perahu. Dayang sumbi melarikan diri ke arah timur dan menghilang di tempat yang kini bernama Gunung Putri.
Masih menurut pak T. Bachtiar, sebelum ada gunung Tangkuban Perahu, sekitar 500rb tahun yang lalu ada gunung pra-Sunda yang dinamai gunung Jayagiri. Gunung Jayagiri meletus, dari kalderanya terbentuk gunung Sunda yang diperkirakan ketinggiannya mencapai 4000 mdpl yang meletus sekitar 210 ribu tahun yang lalu. Terakhir, dari kaldera gunung Sunda, lahirlah gunung muda berumur 90rb tahun yang lalu yang dinamakan gunung Tangkuban Perahu yang letusan terakhirnya tercatat pada tahun 1829.
Pukul 16.00 kami memutuskan untuk pulang, alhamdulillah cuaca mendukung, walaupun kondisi jalur lebih basah dan licin. Beberapa kali saya terpeleset. Sekitar pukul 17.30 sore kami sudah sampai di warung Ma Idah. Setelah istirahat sejenak, sebagian dari kami masih beristirahat, sedangkan saya dan beberapa teman termasuk Abah Wahyu memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Kami sampai di pos tiket sekitar pukul 19.00. Setelah bersalaman, kami pulang ke rumah masing-masing. Tidak terasa, saya mengecek
Ah memang lah ya, perjalanan pendakian ke Tangkuban Perahu kali ini bukan sekedar perjalanan pemuas rindu, tapi juga seperti perjalanan waktu. Kenangan-kenangan masa kecil, kondisi hutan, mantan (lha) seperti berputar kembali. Seperti kata teman saya, setiap pendakian akan melahirkan pengalaman yang berbeda, walaupun gunungnya sama.
Untuk teman-teman yang akan melakukan pendakian ke Tangkuban Perahu via Jayagiri, jangan bayangkan treknya cihuy kaya jalur Cikole yang telah beraspal hingga kawah. Jalur Jayagiri ini menurut saya adalah jalur yang tidak bisa dianggap enteng, karena percabangannya cukup banyak, apalagi dilakukan di musim hujan. Perlu waktu sekitar 4 jam (banyak istirahat sih di warung 😂) sampai puncak, dengan trek licin dan jebakan lumpur yg lebih parah dibanding waktu ke Salak. Untuk ke puncak ini sebenarnya bisa naik kendaraan offroad via Sukawana, tapi ya sobat misqueen macam saya cukuplah treking saja. Puncaknya yg selalu sepi cocoklah untuk yg perlu berkontemplasi, asal jangan lupa bangun, karena aroma belerangnya cukup kuat 😉 Untuk ngcamp, sepertinya tidak disarankan, khawatirnya saat malam belerang dan gas CO dari kawah kuat berada di daerah puncak. Moga-moga juga, tidak ada orang bodoh yang memasang properti konyol untuk spot selfie di tempat ini.

Estimasi Perjalanan

  • Pos Tiket Jayagiri – Warung Ma Idah (1.5 Jam)
  • Warung Ma Idah – Puncak Jayagiri (5 menit)
  • Puncak Jayagiri – Tebing Lumut (30 menit)
  • Tebing Lumut – Leuweung Tiis – Tower Penelitian Petir ITB (1.5-2 jam)
  • Tower Penelitian Petir ITB – Puncak Tangkuban Perahu/Upas Sunrise Point (30-45 menit)
  • Total waktu naik kurang lebih 4 jam, turun 1.5-2jam.

Tracklog <= klik di sini ya

Iklan

[Seri Gunung Bandung] Gunung Burangrang & Ranu Kumbolonya Bandung

Lahir di kota yang dikelilingi gunung sepertinya sedikit banyak mempengaruhi gaya hidup saya. Saya mungkin lebih memilih pergi ke dataran tinggi dimana ada air terjun dan pergunungan, dibanding ke pantai (yang kurang saya sukai karena banyak nyamuk dan saya selalu tidak akur dengan nyamuk). Ada semacam ikatan batin. Tapi bukan begitu juga masa lalu kebanyakan kita, saat disuruh menggambar gambar pemandangan, ga jauh-jauh dari matahari terbit yang diapit 2 gunung, dengan jalan yang diapit sawah-sawah, tidak lupa sekumpulan burung yang terbang. Konon anak-anak pantai juga gambarnya begitu 😆

Ngomong-ngomong soal dikelilingi gunung, kebetulan rumah saya berada dekat dengan 2 gunung utama di Bandung : Tangkuban Perahu dan Burangrang. Tangkuban perahu yang sudah lama jadi objek wisata dengan legenda Sangkuriangnya, sering saya kunjungi waktu masih tinggal di Lembang baik lewat jalur mobil via Cikole, maupun Jayagiri, Sukawana dan Manoko. Gunung kedua, Burangrang malah hampir tidak pernah saya kunjungi walaupun rumah saya hanya berjarak sekitar 10km dari kaki gunungnya.

Gunung Burangrang dengan tinggi puncaknya 2065 mdpl secara administratif berada di antara 2 kabupaten : Bandung Barat & Purwakarta. Di sisi utaranya adalah Gunung Tangkuban Perahu.  Gunung Burangrang adalah gunung parasit sisa letusan gunung Sunda purba yang meletus kira-kira 105000 tahun yang lalu [1]. Merujuk ke legenda Sangkuriang, Perahu yang ditendang Sangkuriang konon menjadi gunung Tangkuban Perahu, tunggul (bekas pohon) yang ditebang menjadi gunung Bukit Tunggul sedangkan ranting, batang dan daunnya menjadi Gunung Burangrang, mungkin karena dari kejauhan Burangrang sendiri terlihat seperti gerigi (Baranco).

Bulan oktober 2016 tahun lalu menjadi pendakian pertama saya ke gunung ‘belakang rumah’ ini. Seperti biasa dengan ajakan dadakan dari pak Firman, saya dengan senang hati melakukan pendakian. Karena berencana untuk melakukan perjalanan tektok/PP, perbekalan tidak terlalu banyak, hanya air 1.5 liter, senter (tetep bwt jaga2), coklat dan nasi bungkus di warung nasi dekat Parongpong. FYI, jalur pendakian Burangrang sendiri yang saya tau ada 3 jalur : via Legok Haji, Lawang Angin/Kopassus, dan Purwakarta. Belakangan ternyata ada juga jalur lewat Cimahi. Jalur Lawang Angin/Kopassus biasanya jarang dijadikan jalur utama karena membutuhkan perizinan khusus dari Kopassus. Umumnya pendaki melalui jalur Legok Haji dengan patokan Curug Cipalasari.

Saat itu dengan menggunakan mobil pak Firman, kami menuju basecamp pendakian Burangrang via Legok Haji, melalui jalan Sersan Bajuri – Kolonel Masturi – SPN Cisarua – Tugu – Pasir Langu. Patokannya biasanya di SPN (Sekolah Polisi Negara) Cisarua, belok kanan dari arah Bandung/Ledeng. Tidak ada kendaraan umum yang khusus lewat sini, tapi di terminal Ledeng-Parongpong terdapat angkot dengan tujuan akhir Terminal Parongpong, kemudian lanjut angkot kuning ke SPN. Kalau tidak mau repot bisa carter angkot dengan estimasi ongkos 20-30ribu/orang, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam menuju desa Pasir Langu. Di belokan jalan Tugu-Cimeta/Nyalindung terdapat plang kecil penunjuk jalur pendakian Burangrang.

Screen Shot 2017-04-18 at 4.47.02 PM
Belokan Jalan Tugu-Nyalindung/Cimeta ke Desa Pasir Langu

Sepanjang perjalanan kita juga akan melalui objek wisata populer di Bandung seperti Curug Cimahi, Kampung Gajah, Dusun Bambu dan Kampung Daun. Jadi jangan kaget kalau saat weekend bisa macet di jalan ini. Kondisi jalan umumnya beraspal mulus hingga Cisarua, namun saat mencapai jalan Tugu kondisi jalan menyempit jadi sekitar 1.5 mobil. Apalagi di jalan Pasir Langu menuju basecamp, jalanan hanya bisa dilalui 1 mobil dengan kondisi jalan cukup baik. Mobil pak Firman juga sempat mengalami kesulitan karena jalannya yang sempit dan di suatu tempat harus berpapasan dengan mobil lainnya. Untungnya mobil lainnya mengalah ke halaman warga. Oya, di Pasir Langu patokannya setelah Sekolah Dasar, ada rumah pak RW di sebelah kiri (ada plang namanya 😀 ), di sana terdapat halaman rumah cukup luas untuk parkir mobil. Lebih disarankan menggunakan sepeda motor sih buat kesini. Setelah meminta izin untuk memarkir, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dengan medan menanjak ke basecamp Burangrang yang dikelola warga.

Saat mendaki bersama pak Firman sih basecampnya kosong, jadi kami tidak membayar apa-apa, pun mengisi buku registrasi. Namun 2 bulan berikutnya saya kembali ke sini, ada pos yang dikelola warga yang menarik retribusi 5rb/orang dan parkir 10rb/motor. Nah untuk motor bisa diparkir di dekat basecamp. Dari basecamp yang ada di pinggir jalan, lanjut sekitar 3 menit ke arah atas, terdapat warung juga belokan ke jalur utama pendakian.

FYI, di jalur pendakian Burangrang ini terdapat 5 pos sebelum puncak. Di jalur-jalur awal, kita akan melalui perkebunan warga, kompleks permakaman umum, hingga sekitar 30 menit kita sampai di pos 1 yang berupa lapangan rumput luas dan kebun pinus yang biasa dijadikan camp ground. Ga ada penunjuk pos 1 sih di sini. Oya, di awal pendakian terdapat percabangan jalur menuju curug/air terjun Cipalasari.

Dari pos 1 perjalanan terus menanjak dengan elevasi 30-40 derajat dengan vegetasi semak belukar, hingga akhirnya menemui batas hutan. Tak kadang di kiri kanan jalur yang sempit kita harus ekstra hati-hati karena terdapat tanaman perdu yang siap menyayat hati #tsah. Hampir tidak ditemui bonus sepanjang jalur ini. 40 menit berjalan dengan sesekali istirahat, penasaran juga karena belum ditemui penunjuk pos 2, tau-tau sudah sampe di pos 3, baru ada penunjuk pos. Di pos 3 ini terdapat tempat datar cukup untuk 2 tenda kapasitas 3-4. Di pos ini juga dapat ditemui beberapa spesies jamur dan laba-laba.

Setelah istirahat sekitar 15 menit, kami melanjutkan perjalanan ke puncak. Lagi-lagi tidak ada bonus sepanjang jalur, malah ada trek dengkul ketemu dada dan akar-akar pohon cukup tinggi dan licin. Cuaca sedikit berkabut, tapi suhunya cukup gerah jadi perlu lebih banyak minum. Oya sepanjang jalur pendakian Burangrang ini tidak terdapat sumber mata air. Sekitar 1.5 jam berjalan (tentunya sesekali istirahat), tau-tau kami sampai di pos 5 dengan ketinggian 1850 mdpl. Alhamdulillah berarti dikit lagi dong sampe puncak.

DSC08843

Namun nyatanya jalur dari pos 5 menuju puncak tetap ga ada bonusnya, untungnya tidak begitu lama. Sekitar 15 menit kami sampai di puncak Burangrang yang ditandai dengan tugu SPN Polda Jabar berwarna oranye. Puncak Burangrang sendiri terdiri dari 2 pundukan yang dihubungkan sebuah jalur sempit dengan kiri kanan jurang. Di masing-masing pundukan terdapat tempat luas yang bisa digunakan untuk sekitar 5-6 tenda. Sayangnya saat saya dan pak Firman ke Burangrang, cuaca sedang tidak baik, alhasil di sekeliling hanya bisa melihat kabut 😦

Tapi jreng-jreng, jangan khawatir, karena 2 bulan berikutnya di bulan Desember, saya kembali ke Burangrang dengan melakukan pendakian tektok solo, kurang lebih sekitar 1 jam 45 menit dari basecamp sampai puncak. Alhamdulillah, cuaca sangat mendukung sehingga saat di puncak sekitar jam 8 pagi, disambut dengan matahari, langit biru dan pemandangan puncak Burangrang yang tak tertutup kabut, dengan hadiah utamanya : Situ Lembang 😀

DSC09852

Situ Lembang yang menjadi bagian dari kaldera Gunung Sunda Purba menjadi sisa-sisa dahsyatnya letusan gunung tersebut di masa lampau. Dengan posisinya tersebut, tak jarang Situ Lembang dijuluki Ranu Kumbolonya Bandung. Sayangnya (atau untungnya) Situ Lembang tidak dapat sembarang dikunjungi karena dikelola oleh Kopassus. Dari kejauhan dapat terlihat kompleks bangunan tempat pendidikan dan latihan Kopassus yang juga sering digunakan untuk pendidikan dasar Wanadri. Di bagian utara terlihat dengan jelas saudara termuda dari rangkaian gunung Sunda purba : Tangkuban Perahu.

DSC09865

Pandangan ke arah timur agak tertutup pepohonan tinggi dan belukar. Namun ke arah barat, pemandangan sangat luas tidak ada penghalang sehingga sangat cocok untuk melihat matahari tenggelam. Di barat daya, kita bisa melihat komplek Gunung Parang, Lembu dan Waduk Jatiluhur di Purwakarta. Sementara di sisi tenggara, kita dapat menyaksikan gunung Cikuray di Garut mengintip dari balik pepohonan.

Fiuh, setelah beristirahat, foto-foto dan menikmati santapan berat ditemani pemandangan indah di puncak Burangrang, saatnya kami turun. Alternatifnya bisa melalui jalur Kopassus (klo jalur turun biasanya diizinin, karena masa disuruh naik puncak lagi, atau melipir jalur), tentunya kalau nitip kendaraan di Legok Haji/Pasir Langu jaraknya jadi terlalu jauh. Kebetulan waktu itu ketemu rombongan yang turun via jalur Kopassus.

DSC09889

Jalur turun membutuhkan waktu lebih singkat, sekitar 1.5 jam sampai basecamp tetap dengan fokus penuh karena jalur cukup licin dan berduri. Sampai di basecamp, sebelum langsung pulang ke rumah, saya sempat ngobrol dengan warga pengelola basecamp. (setelah diterjemahin) “A, kok berani amat ngedaki sendirian, di Burangrang teh ada 3 pasir (bukit/punggungan), di tiap pasir teh ada penunggunya, kadang siang-siang juga nampakin diri”. Kebetulan pasir-pasir itu tempat dekat-dekat pos (mungkin 2-5). Asyem, habis diceritain gitu mah jadi males naik sendirian -_-

Secara ringkas, pendakian Burangrang (dengan santai)  menempuh waktu dan jalur sebagai berikut :

Terminal Ledeng – Basecamp Pasir Langu (45menit) -> BC – Pos 1 (30 menit) -> pos 1 – pos 3 (45 menit) -> pos 3 – pos 5 (1.5 jam) -> pos 5 – puncak (15 menit)

Logistik bisa beli di minimart, atau pasar sekitar Tugu/SPN, atau di warung dekat basecamp. Nomor kontak pengelola rasanya sih ga ada, lupa minta nomer si bapa pengelolanya, tapi jika tidak ada kejadian kebakaran hutan, Burangrang biasanya dibuka. Kondisi cuacanya kadang berbeda jauh dengan Bandung, bolehlah kontak saya buat tau cuaca hariannya mah, di belakang rumah ini :p Pendakian Burangrang idealnya sih dilakukan 2 hari 1 malam, tapi klo cuma punya 2 hari untuk mengunjungi gunung Bandung, bisalah tektok ke Burangrang dulu, habis itu ke Manglayang misalnya (pendakian manglayang via tebing doa bisa dibaca disini 😉 ), sekalian balik ke Cileunyi bwt balik ke Jakarta misalnya. See you di perjalanan berikutnya, maaf kepanjangan :p

 

Referensi

[1] Wisata Bumi Cekungan Bandung, Budi Brahmantyo & T. Bachtiar

Gunung Putri pas Gerhana Matahari

DSC03497

Hollaaa..

Ian jalan-jalan lagiiii (skripsi apa kabar Yannn, hahaha). Ga jauh-jauh amat kok dari Kota Bandung, yaitu di daerah Lembang, tepatnya ke Gunung Putri. Gunung Putri ini memiliki ketinggian 1587 mdpl. Gunung putri cocok untuk teman-teman yang ga punya waktu dan duit banyak tapi pengen naik gunung.

Untuk akses ke Gunung Putri sendiri itu yang Yan tahu ada 2, via Jayagiri atau Cikole (eh udah masuk Cikole belum ya? Udah kali, Yan agak ragu). Berhubung Yan cuma pernah via Cikole jadi Yan ga bisa cerita tentang via Jayagiri. Nah, buat yang mau naik kendaraan umum, dari Bandung bisa naik angkot Stasiun Hall-Lembang menuju Lembang, sesampainya di Lembang lanjut dengan angkot Cikole warna Kuning Oren, patokannya itu simpang kecil setelah hotel Augusta di sebelah kiri, bilang aja ke mamang angkotnya turun di simpang Gunung Putri, terus dari simpang itu kalau mau jalan ke atas, silahkan, kalau mau naik ojek juga rapopo. Kalau jalan kaki bisa memakan waktu 1-3 (?) jam dengan tenaga ecek-ecek macam Yan yang tiap bentar istirahat, hahaha. Untuk yang pakai kendaraan pribadi, dari Bandung terus ke Lembang, kalau ga tahu daerah Cikole, ikutin aja jalur menuju Tangkuban Perahu/ Subang, ga jauh dari Lembang nemu patokan di atas, silahkan ikutin jalan dari simpang tadi. Cuma ada satu jalan dan lumayan kecil jadi harus hati-hati yaa. Nah, nanti setelah jalan aspal itu ada jalan berbatu dan ga jauh dari sana ada warung tempat nitipin motor dan helm juga pos tempat bayar distribusi. Disini pastikan kebutuhan buat di puncak nanti ga ada yang ketinggalan kayak air minum dan makanan, kalau ada yang kurang tinggal beli di warungnya, tapi ga tahu deh mereka menyediakan pasangan buat yang jomblo apa ga, heulll..

Lanjut-lanjut, untuk ke puncak dari warung ini bisa makan waktu sekitar 45 menit sampai 2 jam, tergantung yang naiknya sih. Berhubung kita bakal ngelewatin kebun orang, jadi hati-hati, jangan sampai ngerusak apalagi nyolong tanaman orang yaaa, hehehe. Terus kalau pas atau habis hujan harus banget hati-hati karena jalanannya cukup licin atau pijakannya ga terlalu kuat dan bisa jatuh. Kalau malam hari jangan lupa bawa senter, karena belum ada bantuan penerangan menuju puncak (bahkan cinta abang ke adek aja ga cukup menerangi jalannya bang, ga cukupppp). Oh iya, jangan lupa nikmati proses pendakiannya ya, jangan terlalu tergesa-gesa untuk sampai puncak, di pagi/siang hari kalian bisa menikmati pemandangan kebun tomat, sawi ataupun pemandangan daerah di bawah Gunung Putri beserta gunung-gunung lainnya. Kalau malam, liat pemandangan city night dan kalau beruntung ketemu kunang-kunang. Kalau capek, ya istirahat dulu, puncaknya ga bakal lari kok, hehehe. Kalau sakit, jangan memaksakan diri, di atas soalnya belum ada klinik atau rumah sakit dengan dokter muda ganteng (atau cantik) dan single macam di drama-drama Korea, hohoho.

Ian baru dua kali sih ke Gunung Putri untuk camping, tapi dua-duanya memiliki pengalaman camping yang berbeda. Bedanya apa aja?

Ady11
Tenda Tetangga, hohoho
Ady4
Penampakan Area Camping dari Puncak gunung Putri.

Kalau camping kali ini lebih nyaman untuk beberapa hal sih terutama buat cemilan, karena di area campingnya udah ada warung walaupun cuma ada satu tapi disini menyediakan minuman dan gorengan seperti bala-bala (bakwan), gehu pedas (tahu isi toge pake cabe dalamnya) dan lain-lain. Terus, kalau dulu masih boleh camping di puncak gunung putrinya, sekarang udah dilarang dan harus di area camping di bawah puncak tapi tetap ada yang bandel sih, padahal puncak sama area camping-nya deket banget, kalau mau turun ngegelinding juga nyampe. Huhh..

DSC03434
Tuh, ada yang nenda di puncak, bandel ya?

Area camping-nya bisa dibilang lumayan kok, walau belum nemu tempat yang datar-datar amat kayak di puncak tapi kalau ada disini lebih nyaman terutama saat angin kencang dan hujan, karena masih ada pohon pinusnya, kalau mau nge-hammock disini juga bisa lho. Ga enaknya camping yang terbaru ini adalah adanya pungutan-pungutan, ya sebenarnya ga terlalu besar dan ga masalah sih, cuma mbok ya yang jelas gitu, ada pungutan masuk tapi jalannya makin hancur dibanding dulu, di atas buat yang camping juga ada pungutan kebersihan, hmmm, lumayan bersih dan ngasihnya pun terserah kita berapa. Kekurangan di Gunung Putri masih terkait dengan air bersih, kalau buat minum dan masak sih mending tetap bawa dari bawah dan kalau air buat cuci-cucian gitu di warung area camping ini menyediakan air dalam botol kemasan 1,5 liter dengan harga Rp. 2500,-. Oh iya, di belakang warung ini ada toilet free juga tapi jangan ditanyakan kebersihannya (mau ngarep apa sih Yannn) dan ga ada airnya, ya airnya itu dibeli di warung tadi.

DSC03476

Di puncak Gunung Putri ini ada Tugu Sespim dan rame banget biasanya pada pagi dan menjelang siang hari. Pemandangan di Gunung Putri ini mau pagi, siang, malam tetap keren lho. Siang hari, walaupun agak panas dan terik kita bisa lihat pemandangan daerah sekitar gunung putri kayak Lembang, Maribaya, Cikole, Patahan Lembang, gunung-gunung dan hutan pinus.

Ady6

Ady7
Five Billion Stars Hotel …:)

 

 

Ady2Ady1

Di malam hari Gunung Putri akan membuat kamu terpesona dengan pemandangan city night dan langit berbintangnya, kalau beruntung bisa lihat milky way juga disini, romantis banget kannnn? Hehehe..

ady8

Kalau di pagi hari jangan malas buat bangun subuh karena sunrise disini bisa bikin senyum-senyum sendiri dan ga berhenti motret, dengan daerah Cikole dan sebuah gunung sebagai latar utama munculnya mentari pagi, dijamin ga bakal nyesel buat bangun subuh.

Tapi kalau kelewat nih sunrisenya masih bisa merasakan sensasi negeri di atas awan, hehehe.

DSC03502
Fokus pada pemandangan di belakang mbak-mbak berjaket abu-abu itu, jangan sama si mbaknya.. 😀

 

 

Nah, berhubung Yan kesini sekalian lihat gerhana, jadi lumayan komplit pengalamannya kali ini, camping, malam berbintang, sunrise, negeri di atas awan dan gerhana matahari total. Ga sedikit lho orang yang datang ke Gunung Putri buat lihat GMT ini, jadi rame banget di puncaknya. Ramenya itu sama yang mau lihat trus ajak sekeluarga, sama pacar juga ada, mamang-mamang fotografer, dan anak-anak muda. Jadi tuh ya, Yan kan camping malam, nah pas subuh mamang-mamang fotografer dari HFB itu nyusul jam 3 berangkat dari Ledeng dan sampai pas subuh lah kira-kira. Ga lama kannn. Banyak kok yang datang sengaja kesini pas jam menjelang subuh untuk lihat sunrise-nya, ga harus nenda juga.

 

ady10
Yang nonton tampak dari (sedikit bawah) depan.

 

 

Alhamdulillah, kelihatan GMTnya walaupun awalnya si matahari malu-malu menampakkan diri dan bersembunyi di balik awan. Hehehe.. Tapi ya, Yan kan motonya pake filter, malah kelihatan kayak bulan sabit jadinya, Hehehe..

DSC03483
Bulan sabit, eh, gerhana matahari menuju total maksudnya.
DSC03470
Penampakan penonton dari belakang.

Sekian catatan perjalanan Yan kali ini, oh iya, sekedar mengingatkan, datang kesini kalau bisa cek cuaca dulu, sama sebisa mungkin sampahnya dibawa turun aja, ga ada ruginya kan menjaga kebersihan tempat yang kita datangi.

Selamat berkunjung ke Gunung Putri..

^0^