Tips-Tips Foto Milkyway

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Qs. Al Imron : 190-191)

Martin Luther King, Jr pernah berkata “Only when it is dark enough can we see the stars“. Bagi manusia modern yang hidup di kota berselimut cahaya lampu seperti saya, berada di alam sambil memandangi langit malam bertabur bintang adalah kenikmatan tersendiri, kalau bukan bisa dibilang pengalaman transendental, bagaimana tidak, membayangkan ukuran manusia dibanding bintang-bintang dan galaksi diluar sana. Bahkan saya pernah mewek waktu pemutaran visual proyeksi bintang di Planetarium Jakarta 😂 Oya, sepertinya sudah pada mafhum bahwa bumi kita berada, mengitari matahari yang mana juga adalah sebagian kecil dari galaksi yang dinamakan Galaksi Bimasakti. Karena bentuk galaksi Bimasakti seperti piringan, maka kita di bumi akan melihat bagian galaksi Bimasakti seperti cincin, di bagian inti galaksi terlihat lebih terang dibanding piringan luarnya. Garis/jalur seperti cincin ini yang kerap dinamakan Milkyway atau Jalur Susu, tapi jarang sih yang bilang Jalur Susu.

Nah, berhubung ada beberapa lomba foto di IG terkait pemandangan foto malam & astrophotography, akhir-akhir ini saya sering foto pemandangan yang ada Milkywaynya. Lalu ada beberapa komentar dari teman saya : “Kak, itu foto milkywaynya editan apa asli sih? kaya tempelan, wkwkwkwk”, “Kak, itu bintang-bintangnya klo dilihat benerannya sebagus itu ga sih?”. Ya sudah, sekalian menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi saya akan coba share tips-tips memoto milkyway menggunakan kamera digital. Saya jauh jika dikatakan ahlinya, tapi semoga dengan berbagi ilmu saya bisa belajar lebih banyak lagi.

Sedikit teori, menurut penelitian retina mata manusia berfungsi seperti sensor pada kamera. Pada retina terdiri dari dari sel-sel yang berfungsi sebagai penangkap cahaya (fotoreseptor). Di SD yang belajar IPA kita tahu ada sel batang dan sel kerucut. Jumlah sel batang dan sel kerucut ini diperkirakan mencapai sekitar 130 juta sel, menurut artikel ini setara dengan sensor berukuran 576 Megapixel, bandingkan dengan sensor kamera saya Sony Nex-6 yang hanya berukuran 16 MP. Maka tidak salah jika ada yang bilang lensa terbaik adalah mata, dan kamera terbaik adalah otak kita. Yang menariknya, dari 130 juta sel, 124 juta adalah sel batang (rod cell) yang lebih aktif pada kondisi pencahayaan kurang, dan 6 juta lainnya adalah sel kerucut (cone cell) yang bisa menangkap semua warna. Dampaknya, pada malam hari saat memandangi Milkyway, mata kita hanya bisa menangkap sebagian warna dan cahayanya, mirip-mirip awan putih di atas background hitam. Sementara pada kamera tidak, sensor warnanya bisa digunakan sepanjang waktu. Jadi wajar, jika apa yang kita lihat langsung tidak secemerlang di foto-foto. Tapi asli lho ya, bukan editan ✌

PS, selain itu konon jumlah sel kerucut pada wanita lebih banyak dibanding pria, makanya tidak heran wanita bisa memiliki penamaan warna lebih banyak 😁 Sementara pada pria, sel batang justru lebih banyak, sehingga lebih sensitif pada kondisi pencahayaan kurang, tidak salah jika pria disuruh membimbing wanita bukan? #eaa

Baik, sudah terlalu panjang bishi-bashinya, berikut persiapan yang biasa saya lakukan :

1. Timing

Milkyway sebenarnya bisa dilihat kapan saja. Tapi ada waktu yang paling bagus untuk pengamatan. Tentukan kapan milkyway akan muncul, dimana posisinya, kapan terbit & tenggelam, apakah ada bulan dan peristiwa astronomi lainnya. Timing berguna juga untuk menentukan kondisi cuaca saat foto yang jelas membutuhkan cuaca cerah. Ada yang bilang waktu terbaik melihat Milkyway adalah bulan April-September karena saat itu musim kemarau. Tapi kondisi iklim pancaroba menyulitkan jika menjadikan bulan sebagai patokan, karena itu biasanya saya memantau kondisi cuaca beberapa hari ke depan dari aplikasi BMKG & Accuweather. Saya pribadi senang pada bulan mei-juni karena pada bulan-bulan tersebut jam terbit & tenggelam Milkyway bagian intinya akan terlihat lebih lama dari bulan lain.

stellarium
tampilan aplikasi stellarium di Android

Posisi milkyway ini biasanya saya lihat dari aplikasi di android seperti Stellarium, Google Sky, dll. Yang biasa saya gunakan adalah Stellarium (beli yak, murah kok cuma Rp. 31rb), salah satu fiturnya adalah kita bisa melihat posisi Milkyway secara realtime menggunakan giroskop di HP kita, ada pengaturan polusi cahayanya, bisa menentukan lokasi secara manual, dll. Cara manualnya dengan memperhatikan posisi rasi Skorpius & sagitarius, posisi Core Milkyway diapit oleh 2 rasi ini, tapi cara ini saya sendiri masih belum mahir di lapangan 😁

How to find the Milky Way
Menentukan posisi Milkyway dari posisi rasi Skorpius & Sagitarius. https://goldpaintphotography.com/2015/07/24/how-to-find-the-milky-way/

Oya, bulan (Moon) tidak selamanya menjadi lawan dalam mengabadikan Milkyway, pada posisi dan intensitas yang tepat akan membantu untuk memberikan ambience pada foreground/landscape.

2. Lokasi

Setelah menentukan waktu yang cocok untuk mengabadikan Milkyway, selanjutnya seperti marketing property : lokasi, lokasi, lokasi!. Selama masih di Indonesia mungkin tidak jauh berbeda posisinya, namun akan menentukan kapan terbit & tenggelamnya Milkyway. Selain itu, pilih lokasi yang minim polusi cahaya, tidak selalu di pegunungan, tapi umumnya adalah tempat-tempat yang jauh dari perkotaan. Hampir sulit sih mencari tempat yang polusi cahayanya minim di Pulau Jawa, kecuali di daerah selatan, coba lihat sebaran cahaya lampu di pulau Jawa berikut :

polusi cahaya jawa
Polusi cahaya di pulau Jawa ( http://www.nightearth.com/?@-7.193072,109.782644,7.605103306700306z&data=$bWVsMg== )

Foto Milkyway di dekat kota? mungkin saja sih, kebetulan sempat hunting di daerah Caringin Tilu, bisa dapet juga walaupun agak sulit melakukan tuning di fotonya dan tentunya bintang-bintangnya tidak terlalu cemerlang.

DSC05766
Milkyway Caringin Tilu

Ya, idealnya mungkin paling bagus keluar Jawa, Indonesia timur mungkin ya #kode. Oya, berikut adalah foto Millkyway yang saya dapatkan waktu perjalanan ke puncak Rinjani tahun 2015 silam, foto ini adalah salah satu foto favorit saya karena memuat banyak elemen menarik : Milkyway, Segara Anak, bagian gunung Rinjani & Moonset.

DSC04356
Milkyway Rinjani

Beberapa tempat di sekitar Bandung yang bisa saya rekomendasikan untuk hunting Milkyway saya posting di artikel terpisah ya.

3. Perlengkapan

Perlengkapan foto yang saya bawa biasanya :

  • kamera Sony Nex-6
  • lensa Samyang 12mm f2.0
  • lensa kit Sony 16-50
  • tripod
  • beberapa batre cadangan
  • tisu kering & blower.
  • remote kamera.
  • properti, lampu LED misalnya.

Untuk kamera pastikan memiliki sensor yang memiliki sensitivitas (ISO) tinggi dan noise yang yang bisa diterima. Untuk lensa gunakan lensa dengan aperture (bukaan) paling besar (Samyang 12mm saya maksimal f2.0, dan lensa kit 16-50 f3.5 pada fl 16mm). Tujuannya supaya kita mendapatkan cahaya bintang sebanyak-banyaknya. Siapkan beberapa batre cadangan karena pada kondisi dingin, biasanya batre bisa cepat habis. Tisu kering bisa digunakan jika terjadi fogging dan membersihkan lensa. Selain itu bagus juga kalau kita membawa silika gel di tas kamera/lensa karena saat malam hari di lingkungan terbuka biasanya lembab. Oya, pilihan kamera bisa apa saja, mirrorless, DSLR, bahkan beberapa smartphone sudah support foto bintang/milkyway. Bedanya tentu di kualitas foto nantinya.

Perlengkapan lain selain peralatan kamera adalah perlengkapan pribadi, baju hangat, sarung tangan, makanan & minuman, apalagi di tempat-tempat tertentu malam hari suhu bisa mencapai satuan derajat 🤒

4. Eksekusi

Langit sudah cerah, lokasi sudah PW, perlengkapan komplit, apalagi? tinggal eksekusi bosque. Sebelumnya, ada beberapa teknik foto Milkyway atau astrofotografi yang saya ketahui : single exposure, composite & panorama/Stitching. Single exposure berarti foto diambil dalam satu kali jepret. Composite adalah gabungan beberapa foto yang masih dalam 1 frame komposisi, biasanya digunakan untuk menggabungkan elemen foreground (foto landscape) & background (bintang/milkyway-nya sendiri). Sedangkan teknik Panorama/Stitching adalah menggabungkan/menjahit beberapa foto single exposure menjadi 1 gambar dengan view lebih luas atau mengurangi noise & menambah kecerahan bintang. Oya, pada single exposure selain mengandalkan tripod, ada juga yang menggunakan star tracker sehingga bisa mendapatkan image milkyway yang lebih dalam, terang dan noise lebih kecil karena bisa menggunakan ISO rendah.

Balik lagi ke kamera kita, siap, setup tripod, pasang lensa (jangan lupa buka tutup lensa), nyalakan lensa dan gunakan primbon berikut :

  • Setingan Kamera
    • Set mode kamera di Manual untuk full control di setingan eksposure nantinya.
    • Matikan fitur body image stabilization di kamera & lensa, karena kita sudah menggunakan tripod, kalau tidak foto akan shake.
    • Matikan fitur noise reduction atau low light compensation di kamera karena akan memperlambat saat menyimpan foto.
    • set output foto berupa RAW. Tujuannya untuk mempermudah di post-processing.
    • White balance set Auto saja, karena sudah menggunakan RAW, WBnya bisa disesuaikan di post-pro.
  • Setingan Lensa
    • Focusing gunakan manual focus (MF), matikan setingan auto focus di body & lensa.
    • Pastikan titik focus berada di infinity, nah ini agak tricky karena memutar penuh ring focus di lensa kadang tidak otomatis mensetup focus lensa di infinity. Maka lakukan focusing manual dengan memilih objek cukup terang dengan jarak cukup jauh, misal lampu BTS, lampu kota atau suruh teman berdiri di jarak cukup jauh 1km misal (kejauhan :p), 10 meter cukup biasanya. Jika di kamera ada zoom untuk focus & focus assist akan lebih memudahkan untuk mendapat fokus yang kita inginkan.
    • Untuk panjang lensa, jika kita ingin mendapatkan komposisi foto milkyway dan landscape sekitar gunakan lensa wide, untuk foto milkywaynya saja bisa menggunakan lensa normal (>50mm). Tidak direkomendasikan menggunakan lensa tele karena aperturenya terlalu kecil & rentan shaking.
  • Sebelum memencet tombol shutter, sama seperti foto biasa, perhatikan segitiga eksposure berikut
    • aperture, pada lensa gunakan bukaan terbesar. Pengaruhnya ke apa? semakin besar bukaan, semakin banyak cahaya yang dikumpulkan, semakin besar kontras & warnanya pula.
    • shutter speed. Karena rotasi & revolusi, posisi bintang terhadap pengamat juga berubah. Shutter speed terlalu lama mengakibatkan gambar bintang akan berubah menjadi trail, namun kalau terlalu sebentar berarti eksposurenya lebih kecil. Untuk menghitung shutter speed sebelum bintang berubah dari seperti titik menjadi garis, biasanya digunakan rule 500, yakni 500/(focal length lensa, ekuivalen di full frame). Misal, lensa Samyang saya focal lengthnya 12mm di APSC, maka di full frame setara dengan 12*1.5~18mm (crop factor APSC 1.5x), maka shutter speed maksimal yang bisa saya gunakan adalah 500/18~27,7 detik. Terkadang hitungan ini terlalu optimis (sudah mulai keliatan trailnya), amannya saya gunakan shutter speed antara 20-25 detik.
    • ISO. Gunakan ISO tinggi, minimal 1600 (di Nex-6). Gunakan iso lebih tinggi lagi 6400/12800 hanya untuk test shoot untuk mengecek komposisi & focus.
  • Sudah pencet tombol shutternya? jangan duluu. Terakhir, untuk mengurangi resiko shaking karena memencet tombol shutter, gunakan shutter release/wireless untuk mengambil foto, alternatif lain menggunakan timer, set di 2s
  • Setelah semua item diatas sudah dicek, tunggu apalagi, langsung jepret bosque.

Fiuh, untuk sementara segitu dulu tips yang bisa saya tuliskan, masih banyak yang belum dicover seperti teknik pengeditan, stacking, dll, tapi sejauh ini semoga bermanfaat dan bisa diupdate lain waktu, seperti biasa saya selalu terbuka dengan saran dan komentarnya teman-teman sekalian. Oya, terakhir lagi, setelah semua persiapan selesai, jangan lupa berdoa dan meminta restu dari pihak-pihak yang berwenang, selamat hunting ✌😁

[Seri Gunung Bandung] Pendakian yang bikin gemes ke Gunung gemes Artapela

 

Tak dikejar, gunung tak lari kemana

Konon, peribahasa di atas sering dijadikan pereda kerinduan para pendaki, terutama yang sudah lama tidak naik gunung. Banyak hal yang bisa menjadi faktor kegagalan para pendaki berangkat naik gunung, entah ga dapet tiket, kondisi cuaca yang tidak kondusif, ada kerjaan mendadak, ga dapet izin dari pihak terkait, salah satu anggota tim batal berangkat, terus yang lainnya ikutan batal *malah curhat. Masalahnya, klo ga dikejar, klo ga direncanain, klo ga diusahain, klo ga dipaksain, jadinya ya kita ga kemana-mana, yekan?! Nah, baru-baru ini saya mengalami tersebut. Rencananya, untuk penutup pendakian sebelum bulan Ramadhan, saya dan beberapa teman di grup WA berencana mendaki gunung Ceremai via Apuy (pendakian Ceremai via Linggasana bisa dibaca di sini 😉 ). Saya sendiri sebenarnya agak ragu-ragu, karena tepat hari sebelumnya 2 hari berturut-turut kekurangan tidur dan stamina agak letoy gara-gara lembur, walaupun saya coba mengatasinya dengan coba lari di Sabuga.

Packing bisa dianggap beres, habis ngantor nanti tinggal saya bawa perlengkapan di rumah, toh berangkatnya malam. Tahu-tahunya, salah satu rekan batal karena ada acara, rekan yang lain katanya ga enak badan. Ya sudah, rencana pendakian pun ditunda batal. Tapi dasar pada ga kerasan, kami coba rencanakan pendakian lain tapi ke gunung yang lokasinya sekitar Bandung besok harinya, dengan syarat : tektok (lagi males bawa perlengkapan banyak) tapi juga bisa dapet viewnya. Makanya kami rencanakan berangkat malam. Oya, dari sekian banyak gunung Bandung, kami jatuhkan pilihan kami ke Gunung Artapela yang berada di daerah Ciparay, salah satu alasannya karena diantara kami juga belum ada yang pernah pergi kesana. Esok harinya, hari Sabtu 20 Mei 2017, sambil nunggu konfirmasi titik kumpul dan waktu kumpul, saya coba cari informasi Gunung Artapela ini. Gunung Artapela yang berketinggian + 2194 mdpl ini terletak di Kecamatan Kertasari, dapat ditempuh melalui 2 titik basecamp pendakian : Pacet (Argasari) dan Pangalengan. Jika melalui Pangalengan, katanya sih basecampnya di Warung Dano yang lokasinya dekat Situ Aul dengan terlebih dahulu melewati perkebunan teh Kertamanah. Sementara di jalur pendakian lewat Pacet terdapat basecamp pendakian yang dikelola oleh warga.

Hingga siang, setelah ditunggu konfirmasi titik kumpul dan waktu kumpul, ternyata kejadian lagi, satu anggota tim batal berangkat, yang lainnya juga batal. Hadeuh. Setengah kesal dan gemes, saya nekat aja berangkat sendiri, berbekal informasi yang saya dapat dari internet. Toh, nanti di basecamp bisa ikut barengan tim lain …

Artapela, here we I come.

Konsekuensi dari berangkat naik gunung sendiri adalah kita harus siap membawa semua perlengkapan dan logistik sendiri. Informasi yang saya dapatkan trek pendakian tidak terlalu berat, jadi logistik secukupnya untuk 1 malam dan sarapan saja, ditambah 2 x 1.5 L air, karena tidak ada sumber air di jalur pendakian. Repotnya sih karena bawa tenda, matras, dan perlengkapan lenong. Sleeping bag bahkan saya ga bawa karena hari sebelumnya dipinjam kakak, walhasil bawa sarung saja sekalian buat solat, sekali lagi karena menurut perkiraan saya ga bakal terlalu dingin (keputusan yang disesali kemudian). Jam setengah 2 siang, setelah minta izin ortu, saya berangkat ke basecamp Artapela di Sukapura. Untuk mencapai basecamp Artapela di Sukapura, kita melalui jalur Bandung-Ciparay, di pasar Ciparay belok ke arah Pacet hingga pertigaan di daerah sebelum Pasar Pacet ke jalan Barukaso. Dari pertigaan Barukaso-Pacet, basecamp tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 300m. Perjalanan dari pusat Kota Bandung menempuh waktu sekitar 2 jam. Jika menggunakan kendaraan umum, kita bisa menggunakan angkutan umum Tegallega-Ciparay (5000-7000) atau Elf Kalapa-Ciparay (5000), dari pasar/terminal Ciparay lanjut angkot kuning Ciparay-Pacet (8000), dari pertigaan tinggal jalan kaki atau naik ojek ke basecamp.

pertigaan sukapura.jpg
pertigaan Pacet-BC Artapela dari arah Bandung
bcartapela
Basecamp Artapela via Sukapura/Argasari

Sekitar pukul 4 sore saya sampai di basecamp Artapela Sukapura, di basecamp ada tempat parkir motor yang cukup menampung sekitar 30 motor, mobil juga bisa sih di sekitar halaman rumah warga. Secara umum kondisi jalannya cukup mulus. Di basecamp saya mengisi formulir registrasi ketua kelompok dan anggota, serta membayar total 15rb rupiah untuk tiket masuk dan parkir motor.

tarifartapelaKarena saya berangkat sendiri, saya disarankan pergi dengan rombongan lain. Kebetulan saat itu ada Rofi dan Andi, pasangan pendaki dari Bandung. Sapi suci … saya tahu nasib saya nanti gimana sepanjang perjalanan jadi nyamuk buat pasangan ini, tapi bodo amat deh, yang penting ada temen buat naik. Andi menjadi leader karena sudah pernah ke Artapela sebelumnya. Di jalur pendakian Argasari ini terdapat 2 jalur yang biasa digunakan : jalur 7 (seven) field dan jalur Datar Jamuju. Jika lewat jalur 7 field hingga ke puncak perjalanan sekitar 3 jam, sementara lewat Datar Jamuju bisa memakan waktu hingga 5 jam. Umumnya pendaki menggunakan jalur 7 field. Dari basecamp ke jalur pendakian utama masih berjarak sekitar 500 meter, hingga menemui mesjid Nurul Falah di pertigaan pertama, ambil kanan. Dari mesjid, ambil jalur hingga gudang gemuk/pupuk. Di perjalanan menuju gudang pupuk kami sempat berpapasan dengan truk petani.

slide8
Perbandingan jalur 7 field dan Datar Jamuju (http://artapela.blogspot.co.id/2016/04/menuju-artapela.html)

Di jalur awal sepertinya agak tricky karena terdapat beberapa percabangan kebun (lihat foto tarif di atas), tapi secara umum hindari jalur yang mengarah ke bawah, hingga sampai di percabangan kebun wortel yang ada sebuah gubug & kolam. Dari sini, jalur menuju puncak relatif jelas yang ditandai dengan tanjakan, dan tanjakan … Tidak ada papan petunjuk arah menuju puncak pun petunjuk pos, tapi umumnya para pendaki istirahat di gubug-gubug yang dibuat petani.

Lepas dari rangkaian tanjakan pertama, kami disambut pemandangan luas perkebunan sayuran (wortel & kentang sepertinya). Namun karena kabut yang cukup tebal jadi kami tidak bisa menikmati sunset maupun pemandangan perbukitan sekitar artapela yang kalau siang lebih ciamik. Tapi untungnya karena kabut jadi perjalanan tidak terasa panas. Kebayang sih kalau lewat jalur ini panasnya bakal gimana kalau siang hari, belum lagi debunya karena tanah disini tanah gembur, hampir tidak ada tempat berteduh, sigh. Oya, pemandangan perkebunan ini akan kita temui bahkan hampir sampai ke puncak, tidak ayal jalur ini dinamai jalur 7 field.

Kami sudah berjalan kurang lebih 2 jam, adzan magrib berkumandang di kejauhan, karena statusnya sedang syafar, kami niatkan solat magrib di-jama’ ketika sudah sampai puncak. Karena cahaya sudah minim, Rofi dan Andi mulai menyalakan headlamp masing-masing. Hingga sekitar 45 menit sebelum puncak, treknya cukup landai, namun di punggungan terakhir ada tanjakan lumayan panjang hingga ke puncak yang karena kami membawa beban, jadi harus kami lalui dengan tersengal-sengal. Di tanjakan ini pula kita akan menemui pohon-pohon pinus yang menandakan puncak sudah dekat *bukan PHP. Di kejauhan terdengar lolongan anjing-anjing yang memang berkeliaran di perbukitan sekitar Artapela.

Di akhir tanjakan tadi kita akan menemui sabana yang sebenarnya adalah perkebunan yang ditinggalkan warga, di kejauhan sudah terdengar riuh para pendaki lain dan cahaya dari senter dan tenda. Alhamdulillah sekitar pukul 7 malam kami sampai di puncak gunung Artapela yang dinamai Puncak Sulibra. Di puncaknya sendiri terdapat lapangan yang bisa menampung puluhan tenda, pun ada pepohonan besar yang bisa digunakan untuk bivak maupun hammocking. Saat saya datang sudah ada mungkin lebih dari 20 tenda, mungkin karena minggu itu terakhir musim pendakian sebelum puasa. Setelah memilih tempat mendirikan tenda, mulailah drama lain. Kami mulai membongkar keril masing-masing, dan memutuskan mendirikan tenda terlebih dahulu. Pas bagian saya, lepas membongkar seisi keril, eh ternyata frame tendanya ketinggalan, eh kan suwe’. Karena saat itu di Artapela beberapa hari sudah tidak hujan, akibatnya suhunya dingin, anginnya semriwing. Akhirnya saya putuskan membantu Andi dan Rofi mendirikan tenda dulu, setelah itu harus improvisasi buat bikin bivak dari tenda yang saya bawa. Dengan menggunakan treking pole, akhirnya jadilah tenda seadanya, ya lumayan lah buat sekedar menghalau angin pas tidur nanti. Nyaman? Jelas tidak, wkwkwk, tapi gimana lagi, masa numpang di tenda sebelah, kan jadi ga enak :’) Samar-samar terdengar ocehan dari tetangga sebelah yang bilang tendanya tenda Harry Porter, entah maksudnya apa -_-

Sambil memanaskan air untuk membuat cokelat dan spageti, saya solat jama’ magrib dan Isya. Setelah makan spageti, Andi dan Rofi bergabung untuk ngobrol, Andi menceritakan beberapa pengalaman mendakinya. Oya sebenarnya saya ditawari makan bareng (logistik yang dibawa mereka), cuman ga enak sih, biasanya logistik yang dibawa pendaki bakal pas-pasan. Bahkan ada yang bilang klo ada pendaki yang nawarin minum itu tulus, tapi kalau nawarin makan itu mah basa basi :p Toh, spageti, coklat dan roti yang saya bawa juga sudah cukup. Ga enak juga sih ngeganggu lovebird, barangkali mau suap-suapan, kan jadi momen awkward #eaaak.

Tidak terasa sudah pukul 9 malam di Puncak Sulibra, masih banyak pendaki yang datang. Kebanyakan sepertinya dari warga sekitar Bandung didengar dari bahasanya. Pasangan lovebird sudah kembali ke tendanya, saya karena belum ngantuk jadi coba foto-foto sekitaran. Karena cuaca dingin dan sumber kayu bakar yang melimpah di sekitar puncak, banyak pendaki yang membuat api unggun, akibatnya saya sulit membedakan mana asap dan kabut gunung. Saya coba lihat jejak milkyway di aplikasi Stellarium rupanya baru muncul sekitar pukul 11/12 malam di arah tenggara, jadi waktu saya coba foto yang kelihatan baru ekornya. Kabut juga datang dan pergi begitu cepat, ah akhirnya saya putuskan untuk tidur dulu saja. Nah ini juga drama lainnya, karena saya ga bawa sleeping bag, kondisi tenda juga seadanya, udah ga jelas lah gimana posisi tidurnya, keril sampai dijadikan penghalang angin. Lagi-lagi saya bersyukur teman-teman saya ga jadi berangkat, kasian juga klo kondisi tendanya kaya gini 😀 Di luar tenda, bukannya makin sepi, eh makin banyak pendaki-pendaki alay yang teriak-teriak, bahkan kata-kata kasar dan jorok terlempar, dalam hati nyerocos bagusnya sih orang-orang ini diculik genderuwo saja. Seiring ocehan pendaki-pendaki tadi, saya terlelap tidur …

DSC01664Tidur saya rasanya tidak nyenyak karena kerap harus menata posisi tidur karena kedingingan, tapi lihat jam ternyata sudah jam setengah 12 malam, tenda sudah basah oleh kabut. Di luar, ternyata suhunya tidak sedingin yang saya kira. Selain itu, kirain endaki-pendaki yang ngoceh tadi udah pada tidur, ternyata masih juga berisik, maunya apa ini, ckckck. Masih banyak juga pendaki yang ngobrol atau sekedar menghangatkan diri di api unggun. Saya sendiri memilih menikmati langit malam yang bersih bertabur bintang di atas sana. Ah dengan ini berarti pecah telor juga foto milkyway-nya tahun ini. Setelah hampir setengah tahun tidak bisa foto milkyway karena cuaca yang tidak menentu, akhirnya bisa ketemu dan diabadikan, ditambah drama-drama yang saya alami tadi siang, jelas malam ini saya bahagia, Alhamdulillah :’)

DSC01687DSC01729

Hampir seisi lapangan di puncak Sulibra ini saya langkahi untuk mencari spot, bolak balik sampe bosen, tahu-tahu sudah jam 2 pagi. Kabut bercampur asap api unggun menutupi langit malam, dan akhirnya saya kembali harus menyerah ke ‘gubug derita’, saya pun terlelap dan masih ditemani ocehan-ocehan pendaki lain yang tidak menyerah walau hari berganti, sigh.

DSC01698Waktu menunjukkan pukul 4.20 ketika saya lagi-lagi terbangun karena dingin, daripada maksain tidur lagi akhirnya saya bangun sekalian aja, toh waktu subuh sebentar lagi menjelang. Tenda sebelah yang sebelumnya ngoceh sudah tidak ada (maksudnya penghuninya pada tidur –red) alhamdulillah. Lepas solat subuh, saya memanaskan air untuk kopi dan sarapan kari ayam *beneran loh, bukan bentuk mie :p. Sekitar jam 5, Rofi dan Andi keluar dari tendanya. Pendaki lainnya juga sudah terbangun untuk menyambut mentari pagi. Dari puncak Sulibra jika tidak berkabut dapat terlihat pemandangan kota Bandung. Sayangnya waktu itu kabutnya nanggung, view kotanya ga dapet, lautan awan juga ga ada. Matahari juga nampaknya malu-malu menampakkan dirinya. Sekitar pukul 6.15 akhirnya menampakkan dirinya dari balik gunung Rakutak. Oya,  dari puncak Sulibra ini jika cuacanya memungkinkan, kita bisa melihat jajaran gunung Bandung seperti Rakutak, Kendang, Gambung (yang ini sebelahnya banget) bahkan Cikuray dan Papandayan di kejauhan.

DSC01798DSC01793

Dengan datangnya matahari, sirna pulalah penderitaan saya karena dingin tadi malam. Pukul setengah 8 pagi setelah berkemas, kami mengakhiri perjalanan pendakian gunung Artapela lewat Argasari ini. Karena tidak ada kabut, kali ini pemandangan perkebunan menjadi sangat jelas. Beberapa petani sudah menggarap lahannya. Yang ngeselin di satu kebun sekitar 30 menit dari puncak ada motor dong :)) Ya konon sih motor bahkan bisa sampe puncak Sulibra. Dengan trek kemarin sih rasanya mungkin-mungkin aja motor trail sampe puncak. Tau gitu adek ngojek bang :’) Kali ini pemandangan sekitar jalur 7 field lebih jelas terlihat, termasuk gunung Kendang. Di perjalanan kami bertemu dengan rombongan remaja mesjid sepertinya yang sedang melakukan hiking ke puncak Sulibra.

Perjalanan dari puncak ke basecamp memakan waktu sekitar 2 jam diselingi istirahat dan foto-foto. Iseng saya juga merekam trek pendakian menggunakan aplikasi GPS (Geotracker, donlot di sini), tracklognya silahkan unduh di sini. Katanya sih waktu registrasi harusnya dapet tracklognya juga, tapi kemarin ga dikasih tuh. Kami sampai di basecamp sekitar pukul 9.30, langsung dikasih tikar buat istirahat. Saya sempat jajan bakso goreng yang terlalu keras untuk dimakan di sekitar basecamp. Sekitar pukul 10 kami meninggalkan basecamp dan berpisah setelah bertukar nomor HP jika perlu jalan lagi bareng nantinya. Kesan saya untuk pendakian Artapela ini karena banyak hal-hal gemas yang harus saya lalui dan temui makanya saya namai pendakian gemes, ditambah banyak dedek-dedek gemes yang mendaki, sepertinya tidak terlalu istimewa. Treknya tidak ada yang ekstrim, pun mungkin pemandangannya tidak sebagus Guntur, namun lumayan lah untuk kemping ceria atau tektokan buat ngabuburit. Lain kali mungkin pengen coba mendaki gunung Gambung yang ada di sebelahnya atau nyobain ke Artapela lewat Pangalengan.

DSC01831

Cost Damage :

  • Bensin : 15rb
  • Logistik : ~30rb
  • Tiket masuk + Parkir : 15rb

Contact Person :

Mang Nurdin 0857 2043 0201 atau kunjungi instagram BC Artapela via Argasari di @artapela_official