Kemping Ceria di Puncak Bintang

‘Cause you’re a sky, ’cause you’re a sky full of stars
I wanna die in your arms
‘Cause you get lighter the more it gets dark
I’m gonna give you my heart

Coldplay – Sky Full of Stars

Siapa disini yang tidak suka menatap langit malam yang bertabur bintang? Sebenarnya bintang-bintang tetap bersinar saat siang hari, hanya saja cahayanya dikalahkan sama benderang matahari kita. Entah apa yang menarik kita untuk menatap titik-titik yang menurut beberapa orang kaya ketombe, apakah memikirkan kehidupan lain di luar sana, apakah sekedar mengagumi kerlap-kerlipnya, atau apakah ada semacam keterkaitan batin seperti yang dibilang sama Neil Degrasse Tyson : We are the son of stars, karena unsur-unsur yang menunjang kehidupan kita berasal dari bintang-bintang yang masih hidup (matahari) dan yang sudah mati.

Di perjalanan sekarang, saya tidak akan mendiskusikan topik astronomi atau tempat yang ada hubungannya sama astronomi, tapi tempat wisata (relatif) baru di Bandung yang mencatut nama Bintang! : Puncak Bintang.

Sebelum teman-teman kecewa, di Puncak Bintang ini tidak ada observatorium, teleskop atau fasilitas penelitian astronomi milik LAPAN atau ITB. Jika ingin ke observatorium beneran di Bandung, berkunjunglah ke Observatorium Bosscha. Nah, obyek wisata yang terdapat di daerah Cimenyan Kabupaten Bandung ini berjarak sekitar 30 menit dari Terminal Bus Cicaheum, atau sekitar 1.5 jam dari pusat kota Bandung. Nama puncak bintang diambil dari pemandangan kemilau cahaya lampu di perkotaan malam hari yang seperti bintang-bintang di langit.

Hari rabu saat itu adalah salah satu hari di periode long weekend tahun 2016. Awalnya saya berencana ga kemana-mana (bedakan dengan ga berencana kemana-mana :p), mengingat long weekend di Bandung adalah semacam ‘neraka’, karena di jalannya bakal macet, dan di tempat-tempat wisatanya bakal terlalu rame. Waktu itu di Bandung juga masih musim hujan. Nah hujan-hujan sih enaknya camping (loh), tapi males juga naik gunung, pasti rame dan jalanan juga macet, akhirnya kemcer di Puncak Bintang jadi pilihan. Letaknya ga jauh dari kota, persiapan juga ga perlu banyak-banyak.

Puncak Bintang ini sebenarnya ga baru-baru amat, lokasinya berdekatan sama obyek wisata Bukit Moko dan Caringin Tilu yang udah popular sedari lama. Dulunya hanya area perkebunan pohon pinus yang dikelola Perhutani. Nah, untuk menuju ke lokasi Puncak Bintang, jalur utamanya adalah lewat jalan Padasuka ke arah utara, melewati Saung Udjo, Caringin Tilu, sampai … jalanan aspal habis (literally). Tidak ada angkutan umum yang trayeknya khusus ke tempat ini. Mungkin kalau pergi sendiri baiknya sewa motor atau naik ojek (ga tau nih Goje*k atau U*ber bisa nganter kesini ga).  Lepas jalan padat permukiman, jalanan akan terus menanjak terjal, paling parah di tanjakan terakhir tepat sebelum mencapai parkiran. Pastikan kondisi kendaraan harus fit, apalagi saat perjalanan pulang, konon banyak kecelakaan di sini terjadi karena rem blong!

Saat di tanjakan, kita akan dipungut retribusi parkir Rp. 5000/motor, tapi kalau kita kemping kita akan dipungut Rp. 15rb, uang 10rb terakhir dibayarkan di tempat parkir khusus ke Puncak Bintang. Jalan sekitar 5 menit ke gerbang utama, untuk masuk dikenakan Rp. 10rb, dan untuk kemping Rp. 8rb per orang. Area kemping disediakan di sebelah timur, ke arah dermaga bintang, dan di sebelah utara di dekat puncaknya Puncak Bintang. Lokasinya tidak terlalu jauh, cuma sekitar 5 menit melalui paving block yang sudah disediakan. Fasilitas pendukung seperti toilet, musholla tersedia disini (dan gratis), penerangan jalan dan listrik ada sampai sekitar pukul 9 malam, tapi air di toilet mengalir terus, jadi tidak perlu bingung soal sumber air. Selain itu papan petunjuk dan papan informasi tersedia di beberapa tempat.

DSC01733
Dermaga Bintang, cukup mencolok dengan background pepohonan pinus

Saya memilih ngecamp di dekat area puncak, di antara pepohonan pinus. Di sini tersedia dataran yang cukup luas dan datar untuk mendirikan kemah, mungkin sekitar 10-15 tenda. Kebetulan ada sekitar 3 tenda lain yang ada di sana. Untuk yang pengen hammock-an, di sini termasuk surganya, karena tersedia banyak pohon pinus untuk jadi pancang.

DSC01713
Pal Triangulasi puncaknya Puncak Bintang : 1442mdpl
DSC01711
Nyaman bwt para hammockers, jangan lupa pake layer tambahan ya, udaranya cukup semriwing

Setelah memilih tanah untuk berkemah, saya langsung mendirikan tenda. Malam itu entah kenapa cuaca juga tidak terlalu dingin. Menu makan malam yang dipilih saat itu ada nasi bungkus yang kami beli di warung nasi sebelum ke sini, coklat panas dan makaroni rebus La F*onte (yang sekarang jadi makanan instan favorit saya bwt pengganti indo*mi). Setelah makan, sholat, dan mumpung belum hujan, saya langsung gelar perlengkapan lenong. Panorama Kota Bandung malam hari memang selalu dirindukan. Jauh dari riuh ramai perkotaan, lokasi Puncak Bintang ini memang pas untuk pelarian saat long weekend.

DSC04795
mengasingkan diri dari riuhnya perkotaan, ga perlu jauh-jauh

Sambil berkeliling di sekitaran tenda, ga sengaja mencuri dengar pembicaraan orang-orang di tenda sebelah, kayaknya sih mereka dari kelompok MAPALA. Kebetulan tetangga sebelah menyalakan api unggun yang memberikan ambience yang apik untuk foto-foto.DSC04793DSC04803

Tidak terasa malam semakin larut, dan perburuan ini harus dihentikan (lah kaya ekspedisi alam gaib). Setelah masuk tenda, sempet main kartu beberapa set, akhirnya saya tertidur lelap sampai keesokan subuhnya.

Merenung Sesaat di Patahan Lembang

Tidak terasa subuh menjelang, sekitar pukul 4.30 saya terbangun, saat itu listrik sudah menyala kembali, lampu penerangan paving block yang mengarah ke toilet dan mushola juga sudah menyala. Setelah sholat subuh, saya menatap langit dan melihat sedikit jejak-jejak galaksi bima sakti. Penampakannya cukup singkat, karena setelah itu awan kembali menyelimuti langit.

DSC04811

DSC04821

Sambil menunggu matahari terbit, saya putuskan untuk foto-foto lagi di sekitaran tenda. Oya, untuk menikmati pemandangan di Puncak Bintang yang terbaik dan ga mau treking, kita bisa datang saat sore hari saat matahari terbenam, lanjut sampai agak malam. Kalau ingin makan berat atau sekedar ngopi, bisa mampir ke warung Bukit Moko, atau di warung-warung yang ada di sekitar parkiran. Nah, untuk pemandangan matahari terbit, kita ga bisa langsung dapatkan di Puncak Bintang, kita bisa turun sedikit ke bukit depan Puncak Bintang, atau treking ke Patahan Lembang dengan background gunung Bukit Tunggul.

Nah lho, apa lagi Patahan Lembang? Patahan Lembang adalah zona patahan yang terjadi karena pergerakan lempeng, yang memanjang sekitar 25 km dari Maribaya, sampai ke Cisarua. Patahan ini terlihat seperti perbukitan yang memanjang dan bisa terlihat jelas jika kita berada di Gunung Putri Lembang. Saat ini Patahan Lembang masih dinyatakan aktif dan berpotensi menimbulkan gempa 6-7 skala richter [1]. Dengan jarak hanya 15km dari Kota Bandung, tentunya potensi ini harus disikapi dengan seksama.

Nah di Puncak Bintang, Patahan Lembang yang dimaksud adalah salah satu titik dataran di pinggir/jurang patahan Lembang, ya mirip-mirip Tebing Keraton lah. Untuk menuju Patahan Lembang ini, kita harus treking sekitar 20 menit. Treknya agak menanjak, tapi tidak terlalu panjang. Sebelum treking, sarapan dulu ya gaes, #biarsetrong.

DSC04832

Habis sarapan, cus langsung ke Patahan Lembang. Dari tempat camp, tinggal turun ikuti petunjuk arah ke Patahan Lembang, nanti akan ditemui papan informasi dan toilet yang belum bisa dipakai. Pemandangannya juga ga ngebosenin, sepanjang jalan pepohonan pinus, di beberapa tempat masih ada wadah-wadah pengambilan getah pinus

DSC04854

Bersama saya waktu itu, ada serombongan keluarga yang juga sedang menuju Patahan Lembang. Oya, pastikan kita membawa persediaan air minum yang cukup dan cemilan. Sebenarnya ada saung-saung saat perjalanan sekitar 10 menit, cuma sepertinya waktu kesana lagi pada tutup.

Treknya sendiri sudah cukup jelas, karena cuma satu jalur. Nah saat ketemu semacam portal akan ada percabangan, cukup ikuti jalur lurus (jangan belok kiri). Jalur ini adalah pertemuan antara jalur pejalan kaki dari Puncak Bintang dengan pemotor trail/warga, jadi jangan kaget kalau nanti ketemu sama motor trail.

Jangan terlalu percaya sama petunjuk waktu di plang penunjuk arah, yang pasti tergantung pace jalannya, kalau capek tinggal istirahat 😉 Nah setelah 20 menit, sampailah kita di tempat yang dituju. Tempatnya sendiri terdapat agak di bawah, jadi kita perlu turun sedikit dari jalan utama. Nanti akan ditemukan plang Patahan Lembang.

DSC04876

Viewnya 11-12 sama view di tebing Keraton lah ya, di sebelah utara kita bisa melihat daerah Cikole, Ciburial, agak ke barat kita bisa melihat gunung Tangkuban Perahu 🙂

DSC01702
Gunung sebelah kiri Burangrang, sebelah kanannya Tangkuban Perahu, agak ke depan Gunung Putri. Foto ini diambil beberapa waktu sebelumnya, cabang pohonnya masih tinggi.
DSC04872
Yang ini diambil waktu terakhir kesana, awan agak tebal dan cabang pohonya sudah patah 😦
DSC01693
Waktu nganter turis Jogja

Puas foto-foto di Patahan Lembang, saatnya kembali ke kemah. Selain Puncak Bintangnya sendiri dan Patahan Lembang, masih ada obyek lain di Puncak Bintang ini : Dermaga Bintang. Letaknya paling kanan dari pintu masuk, ditandai dengan semacam bangunan rangka besi dengan icon bintang (namanya juga Dermaga Bintang). Tingginya sekitar 6-7m dengan konstruksi yang cukup kokoh.

DSC01715

Dari dermaga ini kita bisa melihat pemandangan perkebunan di dekat Puncak Bintang, Bukit Moko dan Kota Bandung dari titik yang lebih tinggi.

DSC01718DSC01722

Kalau belum puas menjelajah di sekitaran Puncak Bintang ini, kurang sempurna rasanya kalau ga main di hutan pinus dan me-reka-ulang adegan-adegan di Bollywood.

DSC04894DSC04886DSC04884

Kalau udah puas atau udah kecapean habis dari Patahan Lembang, yasudah pulang saja, pastikan rem kendaraan kita masih berjalan baik karena jalanan akan terus menurun sampai Cicaheum, sampai ketemu di perjalanan berikutnya 😉

Cost Damage

  • Tiket parkir : Rp. 5rb (kunjungan biasa), tambah Rp. 10rb (klo kemping)/motor
  • Tiket masuk : Rp. 10rb (kunjungan biasa), tambah Rp. 8rb (klo kemping)

Untuk angkutan umum, kalau banyakan bisa sewa angkot dari dekat Terminal Cicaheum/pertigaan Padasuka, kalau sendiri bisa pakai ojyek, kurang lebih Rp. 50rb PP.

Referensi

[1] http://geomagz.geologi.esdm.go.id/sesar-lembang-heartquake-di-jantung-cekungan-bandung/