[Seri Gunung Bandung] Pendakian yang bikin gemes ke Gunung gemes Artapela

 

Tak dikejar, gunung tak lari kemana

Konon, peribahasa di atas sering dijadikan pereda kerinduan para pendaki, terutama yang sudah lama tidak naik gunung. Banyak hal yang bisa menjadi faktor kegagalan para pendaki berangkat naik gunung, entah ga dapet tiket, kondisi cuaca yang tidak kondusif, ada kerjaan mendadak, ga dapet izin dari pihak terkait, salah satu anggota tim batal berangkat, terus yang lainnya ikutan batal *malah curhat. Masalahnya, klo ga dikejar, klo ga direncanain, klo ga diusahain, klo ga dipaksain, jadinya ya kita ga kemana-mana, yekan?! Nah, baru-baru ini saya mengalami tersebut. Rencananya, untuk penutup pendakian sebelum bulan Ramadhan, saya dan beberapa teman di grup WA berencana mendaki gunung Ceremai via Apuy (pendakian Ceremai via Linggasana bisa dibaca di sini 😉 ). Saya sendiri sebenarnya agak ragu-ragu, karena tepat hari sebelumnya 2 hari berturut-turut kekurangan tidur dan stamina agak letoy gara-gara lembur, walaupun saya coba mengatasinya dengan coba lari di Sabuga.

Packing bisa dianggap beres, habis ngantor nanti tinggal saya bawa perlengkapan di rumah, toh berangkatnya malam. Tahu-tahunya, salah satu rekan batal karena ada acara, rekan yang lain katanya ga enak badan. Ya sudah, rencana pendakian pun ditunda batal. Tapi dasar pada ga kerasan, kami coba rencanakan pendakian lain tapi ke gunung yang lokasinya sekitar Bandung besok harinya, dengan syarat : tektok (lagi males bawa perlengkapan banyak) tapi juga bisa dapet viewnya. Makanya kami rencanakan berangkat malam. Oya, dari sekian banyak gunung Bandung, kami jatuhkan pilihan kami ke Gunung Artapela yang berada di daerah Ciparay, salah satu alasannya karena diantara kami juga belum ada yang pernah pergi kesana. Esok harinya, hari Sabtu 20 Mei 2017, sambil nunggu konfirmasi titik kumpul dan waktu kumpul, saya coba cari informasi Gunung Artapela ini. Gunung Artapela yang berketinggian + 2194 mdpl ini terletak di Kecamatan Kertasari, dapat ditempuh melalui 2 titik basecamp pendakian : Pacet (Argasari) dan Pangalengan. Jika melalui Pangalengan, katanya sih basecampnya di Warung Dano yang lokasinya dekat Situ Aul dengan terlebih dahulu melewati perkebunan teh Kertamanah. Sementara di jalur pendakian lewat Pacet terdapat basecamp pendakian yang dikelola oleh warga.

Hingga siang, setelah ditunggu konfirmasi titik kumpul dan waktu kumpul, ternyata kejadian lagi, satu anggota tim batal berangkat, yang lainnya juga batal. Hadeuh. Setengah kesal dan gemes, saya nekat aja berangkat sendiri, berbekal informasi yang saya dapat dari internet. Toh, nanti di basecamp bisa ikut barengan tim lain …

Artapela, here we I come.

Konsekuensi dari berangkat naik gunung sendiri adalah kita harus siap membawa semua perlengkapan dan logistik sendiri. Informasi yang saya dapatkan trek pendakian tidak terlalu berat, jadi logistik secukupnya untuk 1 malam dan sarapan saja, ditambah 2 x 1.5 L air, karena tidak ada sumber air di jalur pendakian. Repotnya sih karena bawa tenda, matras, dan perlengkapan lenong. Sleeping bag bahkan saya ga bawa karena hari sebelumnya dipinjam kakak, walhasil bawa sarung saja sekalian buat solat, sekali lagi karena menurut perkiraan saya ga bakal terlalu dingin (keputusan yang disesali kemudian). Jam setengah 2 siang, setelah minta izin ortu, saya berangkat ke basecamp Artapela di Sukapura. Untuk mencapai basecamp Artapela di Sukapura, kita melalui jalur Bandung-Ciparay, di pasar Ciparay belok ke arah Pacet hingga pertigaan di daerah sebelum Pasar Pacet ke jalan Barukaso. Dari pertigaan Barukaso-Pacet, basecamp tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 300m. Perjalanan dari pusat Kota Bandung menempuh waktu sekitar 2 jam. Jika menggunakan kendaraan umum, kita bisa menggunakan angkutan umum Tegallega-Ciparay (5000-7000) atau Elf Kalapa-Ciparay (5000), dari pasar/terminal Ciparay lanjut angkot kuning Ciparay-Pacet (8000), dari pertigaan tinggal jalan kaki atau naik ojek ke basecamp.

pertigaan sukapura.jpg
pertigaan Pacet-BC Artapela dari arah Bandung
bcartapela
Basecamp Artapela via Sukapura/Argasari

Sekitar pukul 4 sore saya sampai di basecamp Artapela Sukapura, di basecamp ada tempat parkir motor yang cukup menampung sekitar 30 motor, mobil juga bisa sih di sekitar halaman rumah warga. Secara umum kondisi jalannya cukup mulus. Di basecamp saya mengisi formulir registrasi ketua kelompok dan anggota, serta membayar total 15rb rupiah untuk tiket masuk dan parkir motor.

tarifartapelaKarena saya berangkat sendiri, saya disarankan pergi dengan rombongan lain. Kebetulan saat itu ada Rofi dan Andi, pasangan pendaki dari Bandung. Sapi suci … saya tahu nasib saya nanti gimana sepanjang perjalanan jadi nyamuk buat pasangan ini, tapi bodo amat deh, yang penting ada temen buat naik. Andi menjadi leader karena sudah pernah ke Artapela sebelumnya. Di jalur pendakian Argasari ini terdapat 2 jalur yang biasa digunakan : jalur 7 (seven) field dan jalur Datar Jamuju. Jika lewat jalur 7 field hingga ke puncak perjalanan sekitar 3 jam, sementara lewat Datar Jamuju bisa memakan waktu hingga 5 jam. Umumnya pendaki menggunakan jalur 7 field. Dari basecamp ke jalur pendakian utama masih berjarak sekitar 500 meter, hingga menemui mesjid Nurul Falah di pertigaan pertama, ambil kanan. Dari mesjid, ambil jalur hingga gudang gemuk/pupuk. Di perjalanan menuju gudang pupuk kami sempat berpapasan dengan truk petani.

slide8
Perbandingan jalur 7 field dan Datar Jamuju (http://artapela.blogspot.co.id/2016/04/menuju-artapela.html)

Di jalur awal sepertinya agak tricky karena terdapat beberapa percabangan kebun (lihat foto tarif di atas), tapi secara umum hindari jalur yang mengarah ke bawah, hingga sampai di percabangan kebun wortel yang ada sebuah gubug & kolam. Dari sini, jalur menuju puncak relatif jelas yang ditandai dengan tanjakan, dan tanjakan … Tidak ada papan petunjuk arah menuju puncak pun petunjuk pos, tapi umumnya para pendaki istirahat di gubug-gubug yang dibuat petani.

Lepas dari rangkaian tanjakan pertama, kami disambut pemandangan luas perkebunan sayuran (wortel & kentang sepertinya). Namun karena kabut yang cukup tebal jadi kami tidak bisa menikmati sunset maupun pemandangan perbukitan sekitar artapela yang kalau siang lebih ciamik. Tapi untungnya karena kabut jadi perjalanan tidak terasa panas. Kebayang sih kalau lewat jalur ini panasnya bakal gimana kalau siang hari, belum lagi debunya karena tanah disini tanah gembur, hampir tidak ada tempat berteduh, sigh. Oya, pemandangan perkebunan ini akan kita temui bahkan hampir sampai ke puncak, tidak ayal jalur ini dinamai jalur 7 field.

Kami sudah berjalan kurang lebih 2 jam, adzan magrib berkumandang di kejauhan, karena statusnya sedang syafar, kami niatkan solat magrib di-jama’ ketika sudah sampai puncak. Karena cahaya sudah minim, Rofi dan Andi mulai menyalakan headlamp masing-masing. Hingga sekitar 45 menit sebelum puncak, treknya cukup landai, namun di punggungan terakhir ada tanjakan lumayan panjang hingga ke puncak yang karena kami membawa beban, jadi harus kami lalui dengan tersengal-sengal. Di tanjakan ini pula kita akan menemui pohon-pohon pinus yang menandakan puncak sudah dekat *bukan PHP. Di kejauhan terdengar lolongan anjing-anjing yang memang berkeliaran di perbukitan sekitar Artapela.

Di akhir tanjakan tadi kita akan menemui sabana yang sebenarnya adalah perkebunan yang ditinggalkan warga, di kejauhan sudah terdengar riuh para pendaki lain dan cahaya dari senter dan tenda. Alhamdulillah sekitar pukul 7 malam kami sampai di puncak gunung Artapela yang dinamai Puncak Sulibra. Di puncaknya sendiri terdapat lapangan yang bisa menampung puluhan tenda, pun ada pepohonan besar yang bisa digunakan untuk bivak maupun hammocking. Saat saya datang sudah ada mungkin lebih dari 20 tenda, mungkin karena minggu itu terakhir musim pendakian sebelum puasa. Setelah memilih tempat mendirikan tenda, mulailah drama lain. Kami mulai membongkar keril masing-masing, dan memutuskan mendirikan tenda terlebih dahulu. Pas bagian saya, lepas membongkar seisi keril, eh ternyata frame tendanya ketinggalan, eh kan suwe’. Karena saat itu di Artapela beberapa hari sudah tidak hujan, akibatnya suhunya dingin, anginnya semriwing. Akhirnya saya putuskan membantu Andi dan Rofi mendirikan tenda dulu, setelah itu harus improvisasi buat bikin bivak dari tenda yang saya bawa. Dengan menggunakan treking pole, akhirnya jadilah tenda seadanya, ya lumayan lah buat sekedar menghalau angin pas tidur nanti. Nyaman? Jelas tidak, wkwkwk, tapi gimana lagi, masa numpang di tenda sebelah, kan jadi ga enak :’) Samar-samar terdengar ocehan dari tetangga sebelah yang bilang tendanya tenda Harry Porter, entah maksudnya apa -_-

Sambil memanaskan air untuk membuat cokelat dan spageti, saya solat jama’ magrib dan Isya. Setelah makan spageti, Andi dan Rofi bergabung untuk ngobrol, Andi menceritakan beberapa pengalaman mendakinya. Oya sebenarnya saya ditawari makan bareng (logistik yang dibawa mereka), cuman ga enak sih, biasanya logistik yang dibawa pendaki bakal pas-pasan. Bahkan ada yang bilang klo ada pendaki yang nawarin minum itu tulus, tapi kalau nawarin makan itu mah basa basi :p Toh, spageti, coklat dan roti yang saya bawa juga sudah cukup. Ga enak juga sih ngeganggu lovebird, barangkali mau suap-suapan, kan jadi momen awkward #eaaak.

Tidak terasa sudah pukul 9 malam di Puncak Sulibra, masih banyak pendaki yang datang. Kebanyakan sepertinya dari warga sekitar Bandung didengar dari bahasanya. Pasangan lovebird sudah kembali ke tendanya, saya karena belum ngantuk jadi coba foto-foto sekitaran. Karena cuaca dingin dan sumber kayu bakar yang melimpah di sekitar puncak, banyak pendaki yang membuat api unggun, akibatnya saya sulit membedakan mana asap dan kabut gunung. Saya coba lihat jejak milkyway di aplikasi Stellarium rupanya baru muncul sekitar pukul 11/12 malam di arah tenggara, jadi waktu saya coba foto yang kelihatan baru ekornya. Kabut juga datang dan pergi begitu cepat, ah akhirnya saya putuskan untuk tidur dulu saja. Nah ini juga drama lainnya, karena saya ga bawa sleeping bag, kondisi tenda juga seadanya, udah ga jelas lah gimana posisi tidurnya, keril sampai dijadikan penghalang angin. Lagi-lagi saya bersyukur teman-teman saya ga jadi berangkat, kasian juga klo kondisi tendanya kaya gini 😀 Di luar tenda, bukannya makin sepi, eh makin banyak pendaki-pendaki alay yang teriak-teriak, bahkan kata-kata kasar dan jorok terlempar, dalam hati nyerocos bagusnya sih orang-orang ini diculik genderuwo saja. Seiring ocehan pendaki-pendaki tadi, saya terlelap tidur …

DSC01664Tidur saya rasanya tidak nyenyak karena kerap harus menata posisi tidur karena kedingingan, tapi lihat jam ternyata sudah jam setengah 12 malam, tenda sudah basah oleh kabut. Di luar, ternyata suhunya tidak sedingin yang saya kira. Selain itu, kirain endaki-pendaki yang ngoceh tadi udah pada tidur, ternyata masih juga berisik, maunya apa ini, ckckck. Masih banyak juga pendaki yang ngobrol atau sekedar menghangatkan diri di api unggun. Saya sendiri memilih menikmati langit malam yang bersih bertabur bintang di atas sana. Ah dengan ini berarti pecah telor juga foto milkyway-nya tahun ini. Setelah hampir setengah tahun tidak bisa foto milkyway karena cuaca yang tidak menentu, akhirnya bisa ketemu dan diabadikan, ditambah drama-drama yang saya alami tadi siang, jelas malam ini saya bahagia, Alhamdulillah :’)

DSC01687DSC01729

Hampir seisi lapangan di puncak Sulibra ini saya langkahi untuk mencari spot, bolak balik sampe bosen, tahu-tahu sudah jam 2 pagi. Kabut bercampur asap api unggun menutupi langit malam, dan akhirnya saya kembali harus menyerah ke ‘gubug derita’, saya pun terlelap dan masih ditemani ocehan-ocehan pendaki lain yang tidak menyerah walau hari berganti, sigh.

DSC01698Waktu menunjukkan pukul 4.20 ketika saya lagi-lagi terbangun karena dingin, daripada maksain tidur lagi akhirnya saya bangun sekalian aja, toh waktu subuh sebentar lagi menjelang. Tenda sebelah yang sebelumnya ngoceh sudah tidak ada (maksudnya penghuninya pada tidur –red) alhamdulillah. Lepas solat subuh, saya memanaskan air untuk kopi dan sarapan kari ayam *beneran loh, bukan bentuk mie :p. Sekitar jam 5, Rofi dan Andi keluar dari tendanya. Pendaki lainnya juga sudah terbangun untuk menyambut mentari pagi. Dari puncak Sulibra jika tidak berkabut dapat terlihat pemandangan kota Bandung. Sayangnya waktu itu kabutnya nanggung, view kotanya ga dapet, lautan awan juga ga ada. Matahari juga nampaknya malu-malu menampakkan dirinya. Sekitar pukul 6.15 akhirnya menampakkan dirinya dari balik gunung Rakutak. Oya,  dari puncak Sulibra ini jika cuacanya memungkinkan, kita bisa melihat jajaran gunung Bandung seperti Rakutak, Kendang, Gambung (yang ini sebelahnya banget) bahkan Cikuray dan Papandayan di kejauhan.

DSC01798DSC01793

Dengan datangnya matahari, sirna pulalah penderitaan saya karena dingin tadi malam. Pukul setengah 8 pagi setelah berkemas, kami mengakhiri perjalanan pendakian gunung Artapela lewat Argasari ini. Karena tidak ada kabut, kali ini pemandangan perkebunan menjadi sangat jelas. Beberapa petani sudah menggarap lahannya. Yang ngeselin di satu kebun sekitar 30 menit dari puncak ada motor dong :)) Ya konon sih motor bahkan bisa sampe puncak Sulibra. Dengan trek kemarin sih rasanya mungkin-mungkin aja motor trail sampe puncak. Tau gitu adek ngojek bang :’) Kali ini pemandangan sekitar jalur 7 field lebih jelas terlihat, termasuk gunung Kendang. Di perjalanan kami bertemu dengan rombongan remaja mesjid sepertinya yang sedang melakukan hiking ke puncak Sulibra.

Perjalanan dari puncak ke basecamp memakan waktu sekitar 2 jam diselingi istirahat dan foto-foto. Iseng saya juga merekam trek pendakian menggunakan aplikasi GPS (Geotracker, donlot di sini), tracklognya silahkan unduh di sini. Katanya sih waktu registrasi harusnya dapet tracklognya juga, tapi kemarin ga dikasih tuh. Kami sampai di basecamp sekitar pukul 9.30, langsung dikasih tikar buat istirahat. Saya sempat jajan bakso goreng yang terlalu keras untuk dimakan di sekitar basecamp. Sekitar pukul 10 kami meninggalkan basecamp dan berpisah setelah bertukar nomor HP jika perlu jalan lagi bareng nantinya. Kesan saya untuk pendakian Artapela ini karena banyak hal-hal gemas yang harus saya lalui dan temui makanya saya namai pendakian gemes, ditambah banyak dedek-dedek gemes yang mendaki, sepertinya tidak terlalu istimewa. Treknya tidak ada yang ekstrim, pun mungkin pemandangannya tidak sebagus Guntur, namun lumayan lah untuk kemping ceria atau tektokan buat ngabuburit. Lain kali mungkin pengen coba mendaki gunung Gambung yang ada di sebelahnya atau nyobain ke Artapela lewat Pangalengan.

DSC01831

Cost Damage :

  • Bensin : 15rb
  • Logistik : ~30rb
  • Tiket masuk + Parkir : 15rb

Contact Person :

Mang Nurdin 0857 2043 0201 atau kunjungi instagram BC Artapela via Argasari di @artapela_official

[Seri Gunung Bandung] Gunung Burangrang & Ranu Kumbolonya Bandung

Lahir di kota yang dikelilingi gunung sepertinya sedikit banyak mempengaruhi gaya hidup saya. Saya mungkin lebih memilih pergi ke dataran tinggi dimana ada air terjun dan pergunungan, dibanding ke pantai (yang kurang saya sukai karena banyak nyamuk dan saya selalu tidak akur dengan nyamuk). Ada semacam ikatan batin. Tapi bukan begitu juga masa lalu kebanyakan kita, saat disuruh menggambar gambar pemandangan, ga jauh-jauh dari matahari terbit yang diapit 2 gunung, dengan jalan yang diapit sawah-sawah, tidak lupa sekumpulan burung yang terbang. Konon anak-anak pantai juga gambarnya begitu 😆

Ngomong-ngomong soal dikelilingi gunung, kebetulan rumah saya berada dekat dengan 2 gunung utama di Bandung : Tangkuban Perahu dan Burangrang. Tangkuban perahu yang sudah lama jadi objek wisata dengan legenda Sangkuriangnya, sering saya kunjungi waktu masih tinggal di Lembang baik lewat jalur mobil via Cikole, maupun Jayagiri, Sukawana dan Manoko. Gunung kedua, Burangrang malah hampir tidak pernah saya kunjungi walaupun rumah saya hanya berjarak sekitar 10km dari kaki gunungnya.

Gunung Burangrang dengan tinggi puncaknya 2065 mdpl secara administratif berada di antara 2 kabupaten : Bandung Barat & Purwakarta. Di sisi utaranya adalah Gunung Tangkuban Perahu.  Gunung Burangrang adalah gunung parasit sisa letusan gunung Sunda purba yang meletus kira-kira 105000 tahun yang lalu [1]. Merujuk ke legenda Sangkuriang, Perahu yang ditendang Sangkuriang konon menjadi gunung Tangkuban Perahu, tunggul (bekas pohon) yang ditebang menjadi gunung Bukit Tunggul sedangkan ranting, batang dan daunnya menjadi Gunung Burangrang, mungkin karena dari kejauhan Burangrang sendiri terlihat seperti gerigi (Baranco).

Bulan oktober 2016 tahun lalu menjadi pendakian pertama saya ke gunung ‘belakang rumah’ ini. Seperti biasa dengan ajakan dadakan dari pak Firman, saya dengan senang hati melakukan pendakian. Karena berencana untuk melakukan perjalanan tektok/PP, perbekalan tidak terlalu banyak, hanya air 1.5 liter, senter (tetep bwt jaga2), coklat dan nasi bungkus di warung nasi dekat Parongpong. FYI, jalur pendakian Burangrang sendiri yang saya tau ada 3 jalur : via Legok Haji, Lawang Angin/Kopassus, dan Purwakarta. Belakangan ternyata ada juga jalur lewat Cimahi. Jalur Lawang Angin/Kopassus biasanya jarang dijadikan jalur utama karena membutuhkan perizinan khusus dari Kopassus. Umumnya pendaki melalui jalur Legok Haji dengan patokan Curug Cipalasari.

Saat itu dengan menggunakan mobil pak Firman, kami menuju basecamp pendakian Burangrang via Legok Haji, melalui jalan Sersan Bajuri – Kolonel Masturi – SPN Cisarua – Tugu – Pasir Langu. Patokannya biasanya di SPN (Sekolah Polisi Negara) Cisarua, belok kanan dari arah Bandung/Ledeng. Tidak ada kendaraan umum yang khusus lewat sini, tapi di terminal Ledeng-Parongpong terdapat angkot dengan tujuan akhir Terminal Parongpong, kemudian lanjut angkot kuning ke SPN. Kalau tidak mau repot bisa carter angkot dengan estimasi ongkos 20-30ribu/orang, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam menuju desa Pasir Langu. Di belokan jalan Tugu-Cimeta/Nyalindung terdapat plang kecil penunjuk jalur pendakian Burangrang.

Screen Shot 2017-04-18 at 4.47.02 PM
Belokan Jalan Tugu-Nyalindung/Cimeta ke Desa Pasir Langu

Sepanjang perjalanan kita juga akan melalui objek wisata populer di Bandung seperti Curug Cimahi, Kampung Gajah, Dusun Bambu dan Kampung Daun. Jadi jangan kaget kalau saat weekend bisa macet di jalan ini. Kondisi jalan umumnya beraspal mulus hingga Cisarua, namun saat mencapai jalan Tugu kondisi jalan menyempit jadi sekitar 1.5 mobil. Apalagi di jalan Pasir Langu menuju basecamp, jalanan hanya bisa dilalui 1 mobil dengan kondisi jalan cukup baik. Mobil pak Firman juga sempat mengalami kesulitan karena jalannya yang sempit dan di suatu tempat harus berpapasan dengan mobil lainnya. Untungnya mobil lainnya mengalah ke halaman warga. Oya, di Pasir Langu patokannya setelah Sekolah Dasar, ada rumah pak RW di sebelah kiri (ada plang namanya 😀 ), di sana terdapat halaman rumah cukup luas untuk parkir mobil. Lebih disarankan menggunakan sepeda motor sih buat kesini. Setelah meminta izin untuk memarkir, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dengan medan menanjak ke basecamp Burangrang yang dikelola warga.

Saat mendaki bersama pak Firman sih basecampnya kosong, jadi kami tidak membayar apa-apa, pun mengisi buku registrasi. Namun 2 bulan berikutnya saya kembali ke sini, ada pos yang dikelola warga yang menarik retribusi 5rb/orang dan parkir 10rb/motor. Nah untuk motor bisa diparkir di dekat basecamp. Dari basecamp yang ada di pinggir jalan, lanjut sekitar 3 menit ke arah atas, terdapat warung juga belokan ke jalur utama pendakian.

FYI, di jalur pendakian Burangrang ini terdapat 5 pos sebelum puncak. Di jalur-jalur awal, kita akan melalui perkebunan warga, kompleks permakaman umum, hingga sekitar 30 menit kita sampai di pos 1 yang berupa lapangan rumput luas dan kebun pinus yang biasa dijadikan camp ground. Ga ada penunjuk pos 1 sih di sini. Oya, di awal pendakian terdapat percabangan jalur menuju curug/air terjun Cipalasari.

Dari pos 1 perjalanan terus menanjak dengan elevasi 30-40 derajat dengan vegetasi semak belukar, hingga akhirnya menemui batas hutan. Tak kadang di kiri kanan jalur yang sempit kita harus ekstra hati-hati karena terdapat tanaman perdu yang siap menyayat hati #tsah. Hampir tidak ditemui bonus sepanjang jalur ini. 40 menit berjalan dengan sesekali istirahat, penasaran juga karena belum ditemui penunjuk pos 2, tau-tau sudah sampe di pos 3, baru ada penunjuk pos. Di pos 3 ini terdapat tempat datar cukup untuk 2 tenda kapasitas 3-4. Di pos ini juga dapat ditemui beberapa spesies jamur dan laba-laba.

Setelah istirahat sekitar 15 menit, kami melanjutkan perjalanan ke puncak. Lagi-lagi tidak ada bonus sepanjang jalur, malah ada trek dengkul ketemu dada dan akar-akar pohon cukup tinggi dan licin. Cuaca sedikit berkabut, tapi suhunya cukup gerah jadi perlu lebih banyak minum. Oya sepanjang jalur pendakian Burangrang ini tidak terdapat sumber mata air. Sekitar 1.5 jam berjalan (tentunya sesekali istirahat), tau-tau kami sampai di pos 5 dengan ketinggian 1850 mdpl. Alhamdulillah berarti dikit lagi dong sampe puncak.

DSC08843

Namun nyatanya jalur dari pos 5 menuju puncak tetap ga ada bonusnya, untungnya tidak begitu lama. Sekitar 15 menit kami sampai di puncak Burangrang yang ditandai dengan tugu SPN Polda Jabar berwarna oranye. Puncak Burangrang sendiri terdiri dari 2 pundukan yang dihubungkan sebuah jalur sempit dengan kiri kanan jurang. Di masing-masing pundukan terdapat tempat luas yang bisa digunakan untuk sekitar 5-6 tenda. Sayangnya saat saya dan pak Firman ke Burangrang, cuaca sedang tidak baik, alhasil di sekeliling hanya bisa melihat kabut 😦

Tapi jreng-jreng, jangan khawatir, karena 2 bulan berikutnya di bulan Desember, saya kembali ke Burangrang dengan melakukan pendakian tektok solo, kurang lebih sekitar 1 jam 45 menit dari basecamp sampai puncak. Alhamdulillah, cuaca sangat mendukung sehingga saat di puncak sekitar jam 8 pagi, disambut dengan matahari, langit biru dan pemandangan puncak Burangrang yang tak tertutup kabut, dengan hadiah utamanya : Situ Lembang 😀

DSC09852

Situ Lembang yang menjadi bagian dari kaldera Gunung Sunda Purba menjadi sisa-sisa dahsyatnya letusan gunung tersebut di masa lampau. Dengan posisinya tersebut, tak jarang Situ Lembang dijuluki Ranu Kumbolonya Bandung. Sayangnya (atau untungnya) Situ Lembang tidak dapat sembarang dikunjungi karena dikelola oleh Kopassus. Dari kejauhan dapat terlihat kompleks bangunan tempat pendidikan dan latihan Kopassus yang juga sering digunakan untuk pendidikan dasar Wanadri. Di bagian utara terlihat dengan jelas saudara termuda dari rangkaian gunung Sunda purba : Tangkuban Perahu.

DSC09865

Pandangan ke arah timur agak tertutup pepohonan tinggi dan belukar. Namun ke arah barat, pemandangan sangat luas tidak ada penghalang sehingga sangat cocok untuk melihat matahari tenggelam. Di barat daya, kita bisa melihat komplek Gunung Parang, Lembu dan Waduk Jatiluhur di Purwakarta. Sementara di sisi tenggara, kita dapat menyaksikan gunung Cikuray di Garut mengintip dari balik pepohonan.

Fiuh, setelah beristirahat, foto-foto dan menikmati santapan berat ditemani pemandangan indah di puncak Burangrang, saatnya kami turun. Alternatifnya bisa melalui jalur Kopassus (klo jalur turun biasanya diizinin, karena masa disuruh naik puncak lagi, atau melipir jalur), tentunya kalau nitip kendaraan di Legok Haji/Pasir Langu jaraknya jadi terlalu jauh. Kebetulan waktu itu ketemu rombongan yang turun via jalur Kopassus.

DSC09889

Jalur turun membutuhkan waktu lebih singkat, sekitar 1.5 jam sampai basecamp tetap dengan fokus penuh karena jalur cukup licin dan berduri. Sampai di basecamp, sebelum langsung pulang ke rumah, saya sempat ngobrol dengan warga pengelola basecamp. (setelah diterjemahin) “A, kok berani amat ngedaki sendirian, di Burangrang teh ada 3 pasir (bukit/punggungan), di tiap pasir teh ada penunggunya, kadang siang-siang juga nampakin diri”. Kebetulan pasir-pasir itu tempat dekat-dekat pos (mungkin 2-5). Asyem, habis diceritain gitu mah jadi males naik sendirian -_-

Secara ringkas, pendakian Burangrang (dengan santai)  menempuh waktu dan jalur sebagai berikut :

Terminal Ledeng – Basecamp Pasir Langu (45menit) -> BC – Pos 1 (30 menit) -> pos 1 – pos 3 (45 menit) -> pos 3 – pos 5 (1.5 jam) -> pos 5 – puncak (15 menit)

Logistik bisa beli di minimart, atau pasar sekitar Tugu/SPN, atau di warung dekat basecamp. Nomor kontak pengelola rasanya sih ga ada, lupa minta nomer si bapa pengelolanya, tapi jika tidak ada kejadian kebakaran hutan, Burangrang biasanya dibuka. Kondisi cuacanya kadang berbeda jauh dengan Bandung, bolehlah kontak saya buat tau cuaca hariannya mah, di belakang rumah ini :p Pendakian Burangrang idealnya sih dilakukan 2 hari 1 malam, tapi klo cuma punya 2 hari untuk mengunjungi gunung Bandung, bisalah tektok ke Burangrang dulu, habis itu ke Manglayang misalnya (pendakian manglayang via tebing doa bisa dibaca disini 😉 ), sekalian balik ke Cileunyi bwt balik ke Jakarta misalnya. See you di perjalanan berikutnya, maaf kepanjangan :p

 

Referensi

[1] Wisata Bumi Cekungan Bandung, Budi Brahmantyo & T. Bachtiar

Catatan Pendakian Gunung Ceremai : Perjalanan Dadakan Yang Gurih-Gurih Nyoyyy

You don’t climb mountains without a team, you don’t climb mountains without being fit, you don’t climb mountains without being prepared and you don’t climb mountains without balancing the risks and rewards. And you never climb a mountain on accident – it has to be intentional.

Mark Udall

Halo halo, sudah cukup lama tidak update blog ini, mungkin karena bertepatan dengan bulan Ramadhan, jadi tidak banyak aktivitas yang bisa diceritakan. Alhasil, saya coba update tulisan yang sudah lumayan lama jadi draft, untung ga jamuran juga 😀

Jadi, perjalanan yang saya ceritakan sekarang, terjadi sekitar 2 bulan lalu. Bermula dari pesan Pak Firman di salah satu grup whatsapp di hari rabu pagi 20 April 2016:

PF = Pak Firman

AS = saya

PF : Ada yang mau ikut ke Ceremai via kuningan? sekalian nganter barang, transport gratis!

AS : (kata-kata gratis adalah clickbait yang sering sukses memancing otak saya menentukan keputusan) Bentar pak, ijin bos dulu. (lanjut nelpon bos)

5 menit kemudian

AS : Hayu pak, udah diijinin >.<

Jadi sederhana saja, perjalanan ke Atap tertinggi Jawa Barat itu terjadi begitu saja, setelah saya mendengar kata-kata gratis -_- FYI, sebenarnya nama gunungnya adalah Ceremai, cuma sering salah kaprah jadi Ciremai, tapi klo di tulisan ini disebut Ceremai/Ciremai mohon dimaafkan ya 😉

Bulan April itu memang tidak ada agenda naik gunung kemanapun, mengingat bulan depannya ada agenda ke gunung lain. Jadi hampir tanpa persiapan/pemanasan. Tapi siang itu, setelah pamitan ke ortu, packing secukupnya (kali ini bawaannya ga rempong, karena tenda sudah dibawa yang lain), berangkatlah saya ke Cibiru untuk berkumpul dengan 2 teman lain yang sudah menunggu : Pak Firman, Mang Mbok. Belakangan ditambah sama Mang Derul yang menyusul di Padalarang, kebetulan memang kita akan ke Kuningan lewat Tol Cipali yang tersohor. Setelah sholat Dzuhur dan di-Jama’, kami pun berangkat ke Kuningan menggunakan mobil Gran Max pak Firman. Rencananya kami akan mengantarkan barang pesanan dulu ke daerah Cirebon, lanjut ke Ciremai lewat jalur Linggasana.

Karena kami berangkat di hari kerja, jalanan sangat lengang, bahkan di segmen jalan tol Cipali sepanjang + 115km hanya ditemui beberapa mobil saja. Jalan tol Cipali mulai dari gerbang tol Cikampek hingga Palimanan sukses dilalui sekitar 50 menit saja :)) Kami sampai di Kuningan sekitar pukul 4 sore. Setelah mengantarkan barang, kami lanjut makan siang sore sekalian cari logistik di kota.

FYI, jalur Linggasana ini memang jalur yang relatif baru. Letaknya tidak terlalu jauh dari jalur Linggarjati yang sudah ada sejak lama. Di pos tertentu bahkan jalurnya akan saling berpapasan. Beberapa perbedaannya, jika dari jalur Linggarjati dimulai dari ketinggian 600 mdpl, nah pendakian lewat Linggasana dimulai dari ketinggian 700 mdpl, ya lumayan lah. Selain itu pos pendakian Linggasana buka 24 jam jadi kita bebas naik jam berapapun. Sejauh ini juga tidak ada batasan berapa banyak pendaki yang boleh naik bersamaan. Pun kalau berangkat cuma 2 orang masih diperbolehkan. Beda dengan pos pendakian Linggarjati. Kami sampai di Linggasana sekitar pukul 7 malam, saat itu hujan mengguyur sangat deras, kami bahkan ragu untuk melanjutkan. Tidak lama kami sampai di basecamp (BC) Linggasana. BC Linggasana termasuk salah satu basecamp yang cukup bagus fasilitasnya, terdapat tempat mandi, toilet, mushola, warung dan parkiran yang luas, kondisinya pun masih sangat bagus, ya mungkin karena baru beberapa bulan dibangun.

Selain menggunakan kendaraan pribadi, dari Bandung kita bisa naik kereta ke stasion Cirebon dengan ongkos 80rb, lanjut angkot ke terminal Cirebon 5rb, terakhir naik angkutan umum (elf/bus) arah Kuningan dari Terminal Cirebon dengan ongkos 15rb sampai pertigaan Indomaret-Linggasana, bilang saja ke supir/kernetnya mau ke basecamp Linggarjati/Linggasana. Dari pertigaan Linggasana bisa menggunakan ojek dengan tarif 10-15rb. Kadang-kadang supir/kernet elfnya juga mau mengantarkan kita dengan tambahan ongkos 15rb sampai basecamp Linggasana yang berjarak sekitar 10 menit. Tapi sebelum beneran diantarkan, minta kernet untuk meminta restu dari penumpang yang ada supaya dibolehkan nganter ke basecamp, kalau engga, bisa ada perang sipil di elf, trust me it happened :v Alternatif lain sih bisa langsung naik travel/DAMRI Bandung-Kuningan.

Oya, sampai di basecamp, kami langsung disambut oleh Kang Pen sebagai koordinator jalur pendakian Ciremai via Linggasana dengan seteko teh manis panas. Lepas men-jama’ sholat Magrib dan Isya, kami sempat mengobrol sekaligus registrasi. Di semua jalur pendakian Ciremai dikenakan biaya SIMAKSI sebesar 50rb/orang. Khusus di jalur Linggasana, tarif 50rb ini sudah termasuk SIMAKSI, teh manis panas, sertifikat (yang nama di sertifikatnya ditulis sendiri) dan paket makan saat turun gunung nanti. Saat registrasi kita hanya perlu menitipkan 1 KTP perwakilan kelompok dan menuliskan nama anggota dan nomor telepon yang bisa dikontak. Urusan registrasi selesai, selanjutnya bismillah, la hawla wa la quwwata illa billah.

jalur pendakian ciremai linggasan.jpg
Peta Jalur Pendakian Gunung Ciremai via Linggasana

Catatan : Jalur Linggasana ini memiliki 2 pilihan jalur, jalur lama dan jalur baru. Lihat di peta jalur di atas, jalur baru adalah dari (sebelum) Kondang amis, alih-alih melalui Kuburan Kuda, kita akan melewati Ciwalengas – Buana Sari. Sementara jalur lama tetap melalui Kuburan Kuda-Tanjakan Bapa Tere. Jalur lama dan baru akan kembali di Batu Lingga, tepatnya di Tanjakan Tarawangsa. Saat pendakian pertama ke Ciremai via Linggasana ini, jalur baru belum resmi digunakan, tapi waktu kedua kalinya (bulan Juli 2016) saya coba menggunakan jalur baru, bedanya? tunggu akhir tulisan ini :p

Rabu, 20 April 2016

Tepat pukul 20.00 WIB, kami berangkat dari basecamp Linggasana, setelah berdoa bersama, ditemani bulan purnama dan lembabnya tanah selepas hujan, kami berangkat melalui jalur lama Linggasana. FYI, jalur pendakian Ciremai via Linggasana/Linggarjati ini termasuk susah mendapatkan mata air, kalaupun ada musiman. Di grup saya, setiap orang membawa air minum sebanyak 4 x 1.5 liter. Jalur pendakian dimulai dari gerbang Linggasana di bawah tower sutet yang menjadi penanda yang cukup mencolok. Jalur awal ini kami melalui hutan pinus, jalanan makadam, kami juga sempat melewati makam Keramat. Setelah kurang lebih 1 jam, kita akan keluar dari hutan pinus dan sampai di Pos Pangbadakan. Penanda pos ini adalah beberapa tempat lesehan dari bambu yang menghadap kota Cirebon/Kuningan. Di sekitar Pangbadakan ini terdapat area untuk mendirikan tenda sekitar 2-3 tenda.

Kami melanjutkan perjalanan ke pos Kondang/Condang Amis yang berjarak sekitar 45 menit dari Pangbadakan. Sekitar 10 menit sebelum pos Kondang Amis terdapat percabangan jalur lama dan baru. Di pos Kondang Amis ini terdapat sebuah bangunan shelter yang bisa digunakan untuk istirahat, bahkan mendirikan 1 tenda. Saat itu kami istirahat sekitar 10 menit, Pak Firman yang memang kurang fit, saat itu nampak sudah kepayahan. Oya, perlu dicatat dari basecamp Linggasana ini treknya relatif datar, dengan gradien dari ketinggian 700 m sampai 1350 m menandakan jalur ini lumaaayan panjang. Belakangan saat turun ke basecamp, bwt saya trek awal ini justru paling melelahkan (rasanya basecamp udah deket, ternyata masih lama).

photo247343692404337223
Shelter di Pos Kondang Amis

Target awal kami tadinya bisa mencapai pos Pangalap malam itu juga, namun kondisi anggota kelompok harus selalu dipertimbangkan. Sekitar 30 menit berikutnya sebelum sampai di pos Kuburan Kuda, Pak Firman sudah tidak kuat melanjutkan, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di samping jalur yang agak miring tapi cukup luas.

Menu sederhana seperti mie instan, telur dan secangkir coklat panas menemani kami melewati malam yang cukup hangat saat itu. Setelah makan, saya pun terlelap dalam keheningan malam #tsah.

Kamis, 21 April 2016

Pagi itu saya bangun hampir kesiangan solat subuh, sebagian teman yang lain sudah terjaga, Kang Mbok malah sudah siap-siap memasak untuk sarapan. Rencana hari ini kami berangkat pukul 8 pagi dengan target pos Batu Lingga atau Sanggabuana 1 supaya tidak terlalu jauh dari Puncak. Saat pagi baru terlihat kondisi hutan di sekitar tenda yang masih rimbun. Sambil menunggu nasi siap, Kang Mbok dan Kang Derul malah sempat membuat hammock. Setelah repacking, maka jam 8 kami melanjutkan perjalanan.

DSC04214

Enaknya treking pagi-pagi adalah kondisi badan masih sangat fit, udara juga sangat segar. Hanya sekali kami menjumpai rombongan pendaki yang naik, karena hari itu memang hari kerja. Tidak jauh dari tempat kami ngecamp semalam, sekitar 15 menit kami sudah sampai di Pos Kandang Kuda. Di pos ini terdapat beberapa lahan datar yang cukup luas untuk berkemah. Konon (jangan dibalik), nama pos ini diambil dari lokasi penguburan kuda-kuda pada masa penjajahan Jepang yang digunakan untuk mengontrol perkebunan kopi yang saat ini memang ada di lereng gunung Ciremai. Secara kasat mata sih tidak terlihat jejak kuburannya, tapi katanya lokasinya ada di sebelah barat jalur pendakian. Kabarnya lagi, para pendaki yang ‘beruntung’ bisa mendengar ringkihan kuda-kuda ini :S

DSC04223
Salah satu sudut di pos Kuburan Kuda, klo beneran sebelah barat jalur sih daerah sini, hati-hati waktu ‘ngegali’ disini, hiii …

Lanjut ke pos berikutnya, treknya masih sama, tanjakan tanpa bonus. Setelah berjalan kurang lebih 45 menit, kami sampai di lapangan yang cukup luas dengan sebuah pohon besar di tengah-tengah lapangan. Dahulu tempat ini dinamakan Pos Pangalap, namun di plang nama lain di tempat sama, pos ini juga dinamakan pos Pamerangan. Menurut saya pos ini adalah pos berkemah paling luas. Saat datang ke sini saya menemui 1 rombongan pendaki yang baru turun. Dari balik rimbun pepohonan ini, saya juga sempat melihat pucuk puncak Gunung Slamet di Jawa tengah dari kejauhan.

 

Kami beristirahat sekitar 10 menit lalu melanjutkan perjalanan ke titik pendakian berikutnya : Tanjakan Sareuni/Seruni. Sebelum Tanjakan Seruni sebenarnya ada tanjakan lain yang tidak nampak di peta yakni Tanjakan Bingbin. Tanjakan Bingbin adalah tanjakan pemanasan sebelum Tanjakan Seruni, ditandai dengan plang nama Tanjakan Bingbin,  treknya berupa jalan tanah agak gembur yang menurut saya ga terjal-terjal amat, tapi kalau sudah diguyur hujan bakal sangat licin. Di beberapa tempat terdapat batang tetumbuhan yang bisa digunakan sebagai pegangan. Hanya tetap berhati-hati karena juga terdapat tetumbuhan berduri di jalur pendakian.

DSC04243

Kami sampai di Tanjakan Seruni/Sareuni sekitar 1 jam dari Pangalap. Pos tanjakan Seruni ini ditandai dengan 1 pohon yang terkapar dan bekas tebangan pohon dengan plang nama Tanjakan Seruni dan tanah lapang yang bisa digunakan 2-3 tenda. Kami sempat istirahat beberapa saat sebelum melanjutkan pendakian.

DSC04252

Nah dari pos Tanjakan Seruni ini, sepertinya baru ada pemindahan jalur karena menurut pak Firman, ditandai dengan semak-semak yang sengaja digunakan untuk menutup jalur lama, mungkin karena longsor atau jalurnya terlalu berbahaya dilalui. Jadilah kami melalui jalur yang agak memutar. Jalurnya terlihat masih gembur, bekas hujan di malam hari kemarin membuat tanah di beberapa tempat sangat licin. Setelah berjalan kurang lebih 1 jam, akhirnya kami bertemu dengan tanjakan yang legendaris : Tanjakan Bapa Tere.

 

1-10
Tanjakan Bapa Tere, somehow saya ga punya foto di tanjakan ini, padahal di tanjakan lain ada O_o (sumber foto : http://dailyvoyagers.com/blog/2016/04/09/himbauan-dan-larangan-pendakian-gunung-ceremai-via-linggarjati/)

Tanjakan Bapa Tere ini adalah tebing dengan kemiringan sekitar 80 derajat, dimana kita harus melalui akar-akar pohon untuk sampai ke atasnya. Sebenarnya terdapat jalur menyamping sehingga tidak harus meniti akar-akar pohon ini. Pun terdapat webbing yang bisa digunakan pendaki. Tapi menurut saya tanjakan Bapa Tere ini tidak terlalu menyeramkan, walaupun tinggi tetapi jaraknya pendek, tapi bukan berarti menyepelekan ya, waspada tetap harus, apalagi kalau bawa kulkas full loaded. Oya, konon tanjakan Bapa Tere ini diambil dari kejadian seorang bapa yang mengajak anak tirinya naik Ciremai, lalu dibunuh di tempat ini, well Wallahu a’lam.

Lepas dari tanjakan Bapa Tere ini, bisa istirahat sebentar di dataran sekitar yang bisa digunakan berkemah untuk 1 tenda, karena tanjakan berikutnya masih menunggu. Tidak lama dari tanjakan Bapa Tere ini, mungkin sekitar 10 menit, kita akan sampai di persimpangan antara jalur lama dan jalur baru via Linggasana/Linggarjati. Sampai sini, pak Firman kembali mengeluhkan kondisi badannya, saya dan kang Mbok diminta untuk mencari daerah lapang terdekat sebelum pos Batu Lingga untuk tempat berkemah, kebetulan jaraknya sekitar 5 menit dari titik istirahat terakhir. Tempat ini mungkin bisa digunakan untuk 2 tenda. Kami sampai di tempat kemah ini sekitar pukul setengah 2 siang. Setelah memasak sebungkus mie goreng, saya terlelap di pelukan hammock yang dibuat kang Mbok di depan tenda. Sore itu tidak ada rencana apa-apa selain istirahat menunggu summit nanti pagi, hingga malam menjelang. Setelah briefing singkat soal kapan kami summit, saya pun terlelap dalam belaian angin malam, sampai lupa kalau hari itu malam jum’at :s

Jum’at, 22 April 2016

Wwwugg… Suara melengking yang singkat, padat dan sumber suaranya rasanya cukup dekat itu sukses membangunkan saya dan teman-teman lain di dalam tenda. Itu terjadi sekitar pukul setengah 1 malam. Kami pun berspekulasi suara apakah itu, saya dan pak Firman juga sempet deg-degan, takutnya suara binatang buas. Belakangan suaranya mirip suara babi hutan jantan yang jejaknya sempat kami lihat siang kemarin. Hujan juga sempat turun hingga waktu rencana kami summit pukul setengah 2 pagi.

Kami memutuskan summit sambil menembus hujan yang masih turun berbekal jas hujan dan perlengkapan secukupnya. Setelah berdoa, setengah 2 pagi itu kami berangkat summit. Nikmat rasanya mendaki tanpa membawa keril yang berat, seperti melayang #bukansombong. Ternyata setelah 15 menit berjalan kami sudah sampai di pos Batu Lingga, yang kebetulan ditempat 2 tenda. Karena masih hujan, saya tidak sempat foto-foto, sebenarnya bawa action cam, cuma filenya entah kemana 😦 Tidak beristirahat di Batu Lingga, kami teruskan perjalanan ke pos berikutnya yakni pos Sanggabuana 1 yang berjarak sekitar 30 menit. Di pos ini kami istirahat cukup lama, terutama karena kondisi pak Firman. Di pos Sanggabuana 1 ini tempatnya cukup luas untuk 3-4 tenda. Masih diguyur gerimis, saya coba menggerak-gerakkan badan supaya badan selalu hangat. Dari pos Sanggabuana 1 ke Sanggabuana 2 sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi karena istirahat cukup lama, kami membutuhkan waktu 1 jam.

Di pos Sanggabuana 2 juga terdapat tempat cukup luas untuk 4-5 tenda dan terlindung oleh pepohonan. Berikutnya mulai dari pos Sanggabuana 2 ke pos Pangasinan, trek mulai berbeda karena kita melalui jalanan bebatuan. Butuh konsentrasi cukup untuk melalui trek dengan kemiringan hingga 70° ini, salah-salah bebatuan bisa menggelinding ke rekan kita di bawah. Di beberapa tempat kita juga harus melalui tanah yang licin setelah diguyur hujan. Butuh 1 jam perjalanan dari pos Sanggabuana 2 ke pos Pangasinan, waktu di tanjakan bebatuan kita juga sempat istirahat lumayan lama. Alhamdulillah ketika sampai di pos Pangasinan ini hujan sudah berhenti. Di kejauhan juga mulai terlihat awan yang mengarak :3

DSC04265
Yup, yang di belakang itu puncak Ceremai, bentar lagi (katanya)

Di pos Pangasinan ini terdapat tempat yang cukup untuk sekitar 5 tenda, namun kebanyakan daerah terbuka yang langsung kena paparan angin gunung. Tapi menurut saya sih ini tempat camp dengan view terbaik dan lokasinya paling dekat dengan puncak. Kami sampai di Pangasinan pukul 4.15, karena adzan subuh belum berkumandang, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan, karena konon dari Pangasinan ke puncak hanya 30 menit. Tapi ternyata, sampai pukul 5 juga belum sampe-sampe, akhirnya kami solat subuh sebisa-bisanya di tempat yang memungkinkan. Oya, di sekitar perjalanan akan ditemui banyak pohon Edelweis, diantaranya masih kecil-kecil. Selain itu juga ditemukan bekas pepohonan yang terbakar pada periode kebakaran hutan sebelumnya. Perjalanan ke puncak sendiri kita harus melalui celah-celah tanah dan batuan.

Alhamdulillah sekitar pukul 5.30 kami sampai di puncai Ceremai. Saya menjadi orang pertama yang mencapai puncak, dan sepertinya tim kami yang pertama hari itu yang summit, jadi puncaknya masih kosong :O Tidak beberapa lama kawan-kawan lain menyusul sampai di puncak.

Rembulan sempat terlihat terbenam di puncak Ceremai, di arah kota Cirebon dan Kuningan saya melihat kawanan awan yang mengarak. Rasanya sudah lama saya tidak mendapatkan view lautan awan seperti ini.

Syukur alhamdulillah kami panjatkan saat itu, karena dengan persiapan yang minim kami diizinkan Allah menggapai puncak atap Jawa Barat ini. Waktu itu view sunrisenya mungkin kurang sempurna karena matahari masih saja bersembunyi di balik awan. Tapi semakin siang, pemandangan lautan awan malah semakin menakjubkan. Kami pun beruntung bisa melihat puncak Gunung Slamet dari kejauhan. Konon Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing juga bisa terlihat dari puncak Ceremai ini.

Sementara pemandangan ke tengah puncak Ceremai ini juga tidak kalah menakjubkan yakni kaldera kawah ceremai dengan diameter hingga 1 km. Kawah Ceremai terdiri dari 2 kawah, kawah barat dan kawah timur. Di kawah timur ini kita bisa melihat danau genangan hujan yang tertampung di kawah serta vegetasi khas puncak.

Lama-lama berada di puncak ini saya pun kedinginan, apalagi matahari juga tak kunjung muncul, kami pun sempat memasak mie instan dan minuman hangat untuk mengisi perut dan mengusir dingin. Semakin siang, lautan awan tidak kunjung berhenti, kalau sudah ada lautan awan ini rasanya malas sekali turun, kalo ngga inget yang di rumah mungkin pengen extend :3

Setelah 1.5 jam berada di puncak, pukul 7 pagi kami beranjak turun ke tenda kami. Kami pun bertemu dengan pendaki-pendaki lain yang akan summit. Perjalanan ke tempat camp kedua kami ternyata tidak begitu lama, sekitar 2 jam, itu pun sudah termasuk waktu ‘setoran’ di semak-semak tadi. Jam 9 kami sampai di tenda, niatnya kami akan pulang cepat, namun hujan kembali turun, akhirnya setelah masak kami pun ketiduran sampai pukul 11. Setelah agak reda, kami langsung packing dan meluncur ke basecamp Linggasana. Kondisi trek yang licin karena diguyur hujan membuat perjalanan turun tidak mudah karena harus selalu berhati-hati, tak jarang saya tergelincir. Akhirnya setelah perjalanan turun sekitar 5.5 jam, kami sampai di basecamp pukul 16.30. Rasanya kaki ini sudah mau copot, apalagi trek dari Condang Amis ke basecamp itu yang sedianya estimasinya cuma setengah jam, menjadi 1.5 jam entah kenapa rasanya kok trek itu panjang bener. Apalagi dari kejauhan sudah terlihat tower sutet tapi kok ga sampe-sampe.

Tapi bodo amat, yang penting kami sampai di basecamp dengan selamat. Sampai di basecamp kami disambut seteko teh manis hangat dan dimasakkan mie goreng telor plus nasi (ekspektasinya sih nasi ayam goreng -_-) dan sertifikat. Setelah solat magrib dan isya, kami lanjutkan perjalanan pulang. Well, hikmah dari perjalanan ke Ceremai kali ini adalah walaupun perjalanannya terkesan dadakan, mungkin memang sudah rencana Allah kami summit waktu itu dan diberikan pemandangan yang sangat indah. Benar juga pepatah pendaki yang bilang “Tak akan lari gunung dikejar” karena “Gunung yang tepat akan mendatangi pendaki yang telah siap”. Itu …

photo247343692404337294
Salam dari Puncak Ceremai 🙂

DSC04319

DSC04389
Puncak Ceremai, 3078, asli, bukan pake fake GPS :v
DSC04453
View laut selatan
DSC04392
Pose men-strim

Info Basecamp Linggasana :

  • Pak Pen : 0823-1603-6615
  • Pak Yatna : 0857-2447-9446

Cost Damage :

  • Logistik : 50rb/orang
  • SIMAKSI : 50rb/orang
  • transportasi : gratis (dibayarin)

Resume waktu perjalanan :

  • Rabu 19 April 2016
    • 20.00 berangkat basecamp linggasana
    • 21:45 sampe condang amis
    • 22.15 sampe tempat camp malam pertama, antara condang amis-kandang kuda
  • Kamis 20 april 2016
    • 8.30 berangkat tempat camp malam pertama
    • 8.45 sampe kandang kuda
    • 9.30 sampe pangalap
    • 10.30 sampe tanjakan sareuni
    • 13.00 sampe tanjakan bapa tere
    • 13.30 sampe tempat camp malam kedua, antara tanjakan bapa tere-batu lingga
  • Jum’at 21 april 2016
    • 01.30 summit, dari tempat camp malam kedua
    • 01.45 sampe pos batu lingga
    • 02.15 sampe pos sanggabuana 1, istirahat
    • 03.15 sampe pos sanggabuana 2
    • 04.15 sampe pos pangasinan
    • 05.30 sampe puncak
    • 07.00 mulai turun dari puncak
    • 09.00 sampe tempat camp malam kedua
    • 09-11.00 nunggu hujan reda
    • 11.00 mulai turun ke basecamp
    • 14.30 sampe pos condong amis
    • 16.30 sampe basecamp linggasana