Catatan Perjalanan Gunung Salak, Puncak Manik Salak 1, via Cidahu

With great power, comes with greater responsibility – Ben Parker

Salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan orang ke saya soal mendaki gunung adalah “Kak, pernah liat yang aneh-aneh ga sih di gunung?”. Tentunya pertanyaan tersebut mengarah bukan soal ketemu orang-orang dengan kelakuan yang aneh, karena hampir di setiap grup, ada aja minimal 1 orang yang begitu, klo ga ada, ya saya sendiri yang aneh :)) Maksudnya mungkin pengalaman berinteraksi dengan “you know what”. Well, alhamdulillah sih selama sudah menjalani belasan pendakian, belum menemui hal-hal tersebut, walaupun pernah salah satu anggota tim mengalaminya. Mungkin ‘mereka’ tahu sih saya penakut, jadi ga ditakut-takutin juga udah takut sendiri -_-. Bicara soal hal mistis, gunung apa yang katanya paling mistis? Menurut saya sih Merapi, karena dulu ada filmnya 😀 Tapi berdasarkan survei salah satu akun pendaki gunung, salah satu gunung paling mistis adalah Gunung Salak di Sukabumi. Mungkin bukan tanpa alasan, beberapa kejadian tragis terjadi di gunung dengan salah satu puncaknya bernama Puncak Manik dengan ketinggian 2211 mdpl. Sebutlah, kejadian terakhir Sukhoi Superjet 100 yang menabrak tebing di sekitar komplek Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Beberapa acara tv bahkan sempat mengangkat kejadian mistis di gunung Salak. Makanya tidak aneh, dari 5 orang yang saya ajak , 3 diantaranya menolak :))

Tanggal 4-6 Agustus 2017, akhirnya saya rencanakan untuk melakukan pendakian ke gunung Salak, via Cidahu. Motivasi saya bukan untuk membuktikan kemistisannya, tapi sama saja dengan gunung-gunung lain, untuk merasakan kondisi trek serta kondisi flora dan faunanya. Di tanggal yang sudah direncanakan, bersama pak Firman, teh Ayunda, mang Darus dan Mukti, kami berangkat dengan titik awal di rumah pak Firman sekitar pukul 8 malam. Oya, kami menggunakan kendaraan pribadi. Terlebih dahulu kami jemput teh Ayunda dan mang Darus di Cileunyi, sekalian lewat tol keluar Padalarang, karena kami memilih lewat jalur Cianjur-Sukabumi. Jalur ini terhitung lebih dekat ketimbang harus lewat Jagorawi. Perjalanan terasa begitu cepat (yaiyalah karena hampir setelah di mobil saya tertidur pulas) sampai Sukabumi, sekitar 1 jam sebelum sampai di basecamp Cidahu tepatnya campground Cidahu. Di kota Sukabumi kami membeli logistik di gerai minimart yang kebetulan buka 24 jam. Lanjut ke jalan Cidahu, ternyata sedang dilakukan pengecoran jalan, akhirnya harus melipir melalui jalan alternatif lewat perkampungan yang kondisinya jauh lebih buruk, mana sepi banget. Akhirnya kembali ke jalan utama Cidahu, jalannya mulus cuma idealnya dilalui 1 lajur, kalau papasan truk apalagi, bakal susah dilalui. Alhamdulillah kami sampai di basecamp Cidahu sekitar pukul 2 pagi. Rencananya kami mulai treking jam 5 pagi, mengingat kata pa Firman perjalanan bisa mencapai 12 jam.

DSC02994
Peta jalur di pos basecamp Cidahu

Btw, nama gunung Salak diambil dari kata Sansekerta Salaka yang berarti Perak. Berbeda dengan yang dianggap banyak orang yang katanya diambil dari buah Salak. Pertama kali datang, kami langsung melakukan registrasi di pos, semua nama tim harus dituliskan berikut nomor kontak dan backupnya, titip KTP, sama bayar 22.000/orang untuk 2 hari 1 malam. Oya, jalur resmi untuk menuju puncak Salak 1 ini terdapat 2, via Cidahu Cimuncang dan via Pasir Reungit. Adapun via Cimelati jalurnya (saat artikel ini ditulis) masih ilegal walaupun konon jarak tempuhnya lebih singkat. Menunggu waktu subuh, sebagian tim ada yang melanjutkan tidur, sebagian lagi termasuk saya ga bisa tidur, beli teh manis panas dan indomie rebus di warung sekitar basecamp, sekalian ngobrol dengan pengunjung termasuk sekelompok mahasiswa dari Tangerang yang sedang melakukan survey untuk kegiatan kampus. Suasana menghangat dengan diskusi dan api unggun.

DSC02630

Pagi Menjelang di Cidahu

Lepas subuh kami melakukan recheck peralatan, oya sekedar tips, jarak dari basecamp ke pintu rimba tempat awal pendakian Salak 1 ada kayaknya 2 km melalui jalanan aspal tapi itu pun tanjakannya lumayan. Kami memilih memarkirkan kendaraan di Javana Spa/Hotel sekitar 500m dari pintu Rimba, di jalan menuju Javana Spa juga ternyata ada jalur menuju Salak 1 tanpa melalui pintu Rimba, dan katanya lebih ‘bersahabat’. Kami membayar parkir 100rb/malam diiming-imingi janji petugasnya katanya nanti klo sudah turun bisa ikut mandi di Javana, saya pikir wah lumayan. Keputusan untuk parkir di Javana ini tidak disesali karena dengan tanjakan seperti tadi, bisa menghemat waktu sekitar 1 jam juga tenaga, fiuhh. Oya, di dekat pintu rimba ada sebuah warung dan toilet, tapi karena datangnya kepagian jadi belum buka. Selain berjalan kaki dari basecamp, sampai pintu rimba juga ada jasa semacam angkot/pickup katanya bayar 20rb/orang.

Efektifnya kami mulai treking pukul 6.30 dari pintu rimba ini melalui jalur alternatif yang nantinya juga bertemu di percabangan jalur utama. Lewat jalur alternatif ini kami melalui jalanan aspal, di sekitarnya terdapat area rekreasi milik Javana Spa, tapi tidak nampak satu orang pun disana, mungkin daerah wisata utamanya di area lain.

DSC02664
percabangan jalur utama & javana spa

Oya, jalur treking Salak 1 ini terhitung yang paling rapi karena terdapat patok penunjuk jarak di setiap 100m. Penamaan patok dimulai dari HM0 (hektometer 0), setiap 10HM berganti jadi KM, sampai puncak Salak 1 di KM5 (HM50), belakangan diketahui ukuran jarak ini berdusta! :)) Jalur dari pintu rimba sampai Simpang Bajuri berjarak sekitar 25HM, treknya mirip jalur Gede Pangrango via Cibodas, terdapat trek yang jelas berupa jalur batu kali. Treknya masih standar, tanjakannya masih manusiawi. Kami sampai di Simpang Bajuri setelah berjalan sekitar 1 jam. Karena berjalan di pagi hari, suhunya masih sangat sejuk, sesekali matahari mengintip dari balik dedaunan.

Simpang Bajuri adalah jalur persimpangan bagi pendaki yang ingin ke puncak dan ke Kawah Ratu, selain itu juga jalur pertemuan pendaki yang memulai dari basecamp Pasir Reungit. Lahannya cukup untuk sekitar 10 tenda lebih, juga terdapat sebuah sungai kecil dengan air sangat jernih, rasanya mirip Aq*ua, toh Aq*ua juga salah satu sumber airnya dari gunung Salak ini 😀 Btw, plis klo buang sisa makanan jangan langsung ke sungai ya, jijik dan sayang juga kejernihan sungai ini dikotori sama sisa-sisa makanan. Di simpang Bajuri ini kami istirahat sekitar 15 menit. Dari simpang Bajuri ke Kawah Ratu berjarak sekitar Di plang yang terdapat di Simpang Bajuri dapat diketahui jarak ke puncak Manik adalah 5km. Dengan ketinggian 2211 mdpl, mulai timbul rasa ‘meremehkan’ gunung ini, paling 3 jam kan ya. ‘Perasaan’ yang saya sesali kemudian :)) Setelah berjalan 5 menit, baru nyadar plang jarak menuju Puncak direset lagi jadi 0KM. Jadi perjalanan kami 2.5KM sebelumnya tidak berarti??!! (efek zoom in zoom out ala sinetron).

Tidak jauh dari simpang Bajuri (sekitar HM5-7), kami diingatkan pa Firman soal keberadaan rawa-rawa di trek Salak yang siap menelan hidup-hidup sepatu para pendaki. Kurang lebih ada 3 rawa yang harus kita lalui untuk menuju puncak Manik. Saat melalui rawa-rawa ini terdapat batang pohon untuk membantu melewati trek, klo ga ada batang pohon terpaksa nyemplung, kadang harus merangkak melewati pohon, oya hati-hati juga karena di sekitar rawa terdapat sarang tawon/lebah, beberapa kali pa Firman tersengat tawon di sini. Beruntung saat kami datang, hari sebelumnya tidak turun hujan, jadi kondisinya tidak separah yang diceritakan banyak orang.

Selepas trek rawa ini, trek berikutnya akan terus menanjak hingga puncak bayangan. Target kami saat Dzuhur sudah berada di puncak bayangan untuk ishoma. Setelah berjalan kurang lebih 3 jam, kami sampai di sekitar HM 20, ada tanah cukup lapang untuk beristirahat. Disanalah kami baru bertemu rombongan pendaki lain, kebanyakan yang tektok, ngiri banget lah, mereka cuma bawa tas kecil & botol minum, lha kita bawa kulkas :v Btw, tempat istirahat pertama kami setelah simpang bajuri ini mirip pos Batu Kuda di Ciremai deh.

DSC02773.jpg

Kami istirahat kurang lebih 15 menit, kemudian lanjut perjalanan. Lepas rest area ini, trek kok rasanya familiar, trek dengkul ketemu dada ini mengingatkan saya dengan trek Gunung Cikuray :)) Trek tanah dan terjal silih berganti, rasanya kok ga ada bonusnya ini trek. Setelah 30 menit berjalan, sampailah di tebing ber-webbing pertama kami. Tingginya ada mungkin 7-8 meter. Dari tebing ini juga bisa terlihat pemandangan Kawah Ratu.

Dari tebing tadi, sekitar 15 menit kami sampai di pos bayangan, dan tebak berapa pal jaraknya ? baru HM 25!!! Itu artinya perjalanan kami baru setengah perjalanan, ya Allah, kapan sampenya ini :(( Meningat perjalanan masih jauh, kami pacu kecepatan jalan kami semampunya, beberapa kali kami istirahat, sekitar pukul 12 kami istirahat agak lama di trek, kami sempat ngemil dan bikin minuman panas, saya sendiri sempat tertidur. Lepas itu kami lanjutkan perjalanan, semakin atas rasanya vegetasi sudah berganti dari pepohonan rimbun menjadi lebih terbuka. Kami sempat melewati bagian trek yang sebagiannya sudah longsor, di bawahnya? jurang dalam … Di tempat ini belakangan waktu jalan pulangnya, tas saya sempat tersandung pohon di sebelah kiri, hampir saja saya terhempas ke jurang, Alhamdulillah masih dikasih selamat -_-

DSC02813.jpg

Pukul 13.00 kami sampai di puncak bayangan, suatu area cukup luas sebelum puncak Manik. Walaupun luas, bisa menampung 3-4 tenda, tapi permukaannya tidak terlalu rata, ada banyak batu dan akar pohon. Pendaki bisa menginap di sini untuk melakukan summit attack nantinya. Di puncak bayangan ini kami melakukan ishoma. Walaupun trek Cidahu ini jalur utama selain jalur Cimelati, tapi hanya beberapa kali kami menemui pendaki lain, kebanyakan yang tektok, alasannya mungkin sudah cukup jelas :))

DSC02820

Kami istirahat cukup lama di pos ini, ada kali 1.5 jam. Pukul 14.30 kami melanjutkan perjalanan ke puncak. Dari puncak bayangan ini bisa terlihat trek ke puncak Manik ini menjulang tinggi, apalagi dari puncak bayangan treknya menurun dulu, udah kebayang gimana trek naiknya nanti. Betul saja, selepas sadel pemisah antara puncak bayangan ke trek Puncak, langsung ketemu tebing hampir 80°. Di tebing tersebut terdapat webbing untuk membantu pendaki naik. Mukti bahkan harus dibantu dibawakan dulu kerilnya karena kondisi treknya cukup menyulitkan ruang gerak. Di sini mesti ekstra hati-hati apalagi kalau treknya dilalui saat hujan. Oya, tebing ini ditemui di HM 39, atau sekitar 1 KM sebelum puncak.

Mengingat Pal HM yang masih berjarak 1KM saya sudah menduga kalau trek tebing ini akan banyak ditemui di depan, lha biasanya 300 meter vertikal dari puncak Ciremai/Guntur aja bisa sejam lebih. Tidak salah dugaan saya, tebing demi tebing harus kami lalui sebelum mencapai puncak. Ada mungkin sekitar 7-8 webbing yang membantu kami melewati tebing-tebing yang ada. Tutupan vegetasi semakin terbuka. Tidak terasa pal HM sudah menunjukkan HM 49, itu artinya sebentar lagi puncak! Alhamdulillah, kami pun sampai di puncak sekitar pukul 16.00, kami disambut oleh pohon-pohon Akasia yang sepertinya hanya kami temui di puncakan ini. Rupanya puncakan Salak 2 ini mirip-mirip puncakan Tampomas. Terdapat 2 bagian puncak, ada daerah puncak yang terbuka dan daerah yang kami gunakan untuk berkemah yang dinaungi pohon-pohon akasia. Sebelum mendirikan tenda, kami foto-foto dulu di plang puncak. Tidak ada pemandangan yang berarti di puncak ini karena sekitar kami hanya ditutupi kabut. Tapi nyampe puncak pun sudah sangat bersyukur karena perjalanan panjang kami bisa berakhir.

Kami mendirikan tenda di daerah yang ditutupi akasia karena mempertimbangkan angin dan kabut yang datang silih berganti. Pilihan kami tidak salah karena sampai malam, angin terus bertiup kencang, tapi tenda kami aman tentram. Suara angin yang melalui lembah dan membuat pohon bergesekan sepertinya menimbulkan suara cukup seram, mungkin suara-suara ini yang dianggap sebagian pendaki suara dari alam lain. Apalagi saat malam pohon-pohon akasia yang konstan ditiup angin Salak berbentuk seperti makhluk tinggi besar dengan tangannya menjuntai kesana kemari.

DSC02877

Oya, di daerah terbuka Puncak Manik cukup luas untuk menampung hingga puluhan tenda. Di puncak ini terdapat petilasan Mbah Salak, terdapat juga sebuah shelter yang mungkin digunakan peziarah/pendaki beristirahat. Hari itu sepertinya ada beberapa peziarah yang datang, kalau dilihat dari pakaiannya. Keberadaan petilasan ini juga konon menambah kemistisan gunung Salak.

DSC02885

Pukul 21.00 kami sudah membereskan perlengkapan makan kami dan siap-siap istirahat. Karena kami istirahat di puncak, jadi enaknya ga perlu summit attack. Saya sempat terbangun beberapa kali bukan karena mimpi atau dingin, tapi karena pengen foto bintang, Tiap bangun, buka tenda, liat keluar tenda, sambil berharap ga ada yang ngelirik balik :)) Di luar tidak terdengar apa-apa selain suara angin yang tak berhenti berujar. Diluar masih saja berkabut, bahkan hujan sempat turun. Bangun-bangun sekitar jam 4 lebih, beberapa pendaki sudah bangun, apalagi klo bukan buat curhat. Adzan subuh belum berkumandang, karena cuaca sudah membaik saya coba mengabadikan suasana syahdu dini hari di puncak Salak. Milkyway jelas sudah lewat, namun langit cukup jelas berbintang. Di ufuk barat masih nampak sisa-sisa bulan yang terbenam menimbulkan cahaya jingga serupa matahari terbenam. Ah, nikmat mana yang engkau dustakan.

DSC02904-Pano
Puncak Manik Salak 2 di bawah naungan akasia

Subuh menjelang di puncak Manik, dingin tidak terasa menusuk badan, saya tidak menyadarinya sampai setelah ingusan tiada henti. Sambil menunggu sunrise, saya sempat membuat minuman hangat. Satu persatu pendaki mulai bangun dan meriuhkan suasana puncak. Tempat terbaik melihat sunrise di puncak Manik adalah di area terbuka puncak. Dari tempat itu pula di arah tenggara dapat terlihat si kembar Gede Pangrango yang mengintip dari sela-sela pepohonan. Saat melihat Gede Pangrango dengan ambience jingga ini rasanya tak henti bersyukur, mungkin ini salah satu hadiah dari Sang Pencipta Salak bagi para pendakinya 🙂

DSC02937
Gede Pangrango dari Puncak Manik Salak 1

Tiba saat momen sunrise, para pendaki ramai berkumpul di sisi timur semua siap mengabadikan kehadiran sang surya. Saat muncul dari balik awan yang menyelimuti daerah Cianjur/Sukabumi kami sontak berteriak. Lagi, katanya pemandangan ini juga jarang ditemui di gunung yang sejak semalam diselimuti kabut. Alhamdulillah.

DSC02956.jpg

Setelah melihat matahari terbit, kami langsung menyiapkan sarapan dan packing karena pukul 8 nanti kami harus bergegas turun. Karena kabut dan hujan semalam saat turun trek lebih licin tapi masih aman dilalui. Saat turun kami hampir tidak beristirahat, nah tiba saat sampai di daerah rawa-rawa. Tahu-tahu pa Firman berteriak, kaget kan ya kita, ternyata saat menginjak kayu-kayu yang jadi pijakan di rawa itu ada sarang lebah/tawonnya, jadilah dia disengat beberapa kali di tangan. Ada bahkan pendaki yang disengat di jidat, wew. Langsunglah dioles dengan fresh*are, sengatnya juga sempet keluar. Kami sampai di Simpang Bajuri lewat zuhur, disana kami memutuskan istirahat agak lama. Makan-makan lagi kan ya kami, toh basecamp sudah dekat. Kami istirahat disana sampai sekitar 14.30 lalu turun lewat Javana Spa. Waktu melewati jalur turun ini tepat di bawah pohon besar ada 2 lebah yang terus berputar, karena saya paling depan jadilah saya yang pertama dikejarnya. Awalnya saya lari ke depan sambil melindungi muka, terus lari ke belakang, lebahnya malah ngejar teh Ayunda & pa Firman. Jadilah pa Firman disengat lagi, aduh punten pa -_-”

Sampai di Javana Spa niatnya mau numpang mandi, udah kebayang pake air anget kan ya, eh ternyata si bapa yang kemarin ngejanjiin belum shiftnya masuk, zzz. Akhirnya hanya mengambil mobil, lalu mandi dan makan baso tahu di warung sekitar area camp arah basecamp. Fiuh, berakhir pula pendakian yang dibayang-bayangin cerita kemistisan yang ternyata lebih dikalahkan oleh kondisi treknya yang ajip. Seperti yang dibilang, treknya ‘pendek’, ketinggiannya ‘tidak seberapa’, ternyata waktu tempuhnya luar biasa. Jadi pelajaran untuk tidak meremehkan pendakian gunung dilihat dari ‘mdpl’nya. Klo rating saya untuk gunung Salak ini, view 3/5, trek 4/5 dan akses ke basecamp 4/5. Selamat mencoba, keep safe dan berdoa!

trek chart salak agustus 2017
Trek Salak 1

Summary

Waktu tempuh :

  • Basecamp – pintu rimba/Javana Spa : 10-15 menit (klo naik mobil), klo jalan bisa 1 jam
  • Pintu Rimba – Simpang Bajuri : 2 jam
  • Simpang Bajuri – puncak bayangan : 5.5 jam
  • Puncak Bayangan – Puncak Manik : 1.5 jam
  • Turun : X 1/2 ~ 4-5 jam.

Cost Damage

  • Simaksi : 22rb
  • Logistik : ~100rb
  • Mandi : 2rb

Catatan :

Cuaca di Salak umumnya berkabut, selalu siap dengan jas hujan, sumber air terakhir di Simpang Bajuri, konon ada sumber air di dekat puncak sekitar trek dari Cimelati, tapi saya sendiri belum lihat. Untuk camp di puncak usahakan di daerah yang ditutupi akasia/belukar supaya lebih nyaman. Oya, kalau ada budget lebih mending naik ojek/mobil angkutan dari basecamp ke Pintu Rimba, lumayan menghemat waktu & tenaga :))

Kontak BC Salak Cidahu :

  • Gunung Salak Jalur Kawah Ratu / Javana Spa : 085724995370 (P.Dadang)
  • Jalur Cidahu : 08176689004

[Seri Gunung Bandung] Catatan Pendakian Manglayang : Via Tebing Doa

Ah.. Akhirnya bisa apdet blog lagi, alasannya klise : banyak kesibukan. Selain itu juga akhir-akhir ini cuaca kurang baik, jadi tidak banyak melakukan perjalanan 😉 Yap, langsung saja basa-basinya.

Pagi itu, hari minggu tanggal 26 Maret 2017, saya mendaki gunung yang berada di sebelah timur kota Bandung : Manglayang. Seperti biasa ajakan naik gunung ini berawal dari grup WA. Agak males dan khawatir sih soalnya bulan-bulan ini cuaca masih kurang mendukung untuk melakukan pendakian. Apalagi beberapa kejadian buruk menimpa teman-teman pendaki di beberapa gunung akhir-akhir ini karena cuaca. Tapi Alhamdulillah pagi itu cuaca terbilang cerah walaupun mendung-mendung gemes. Saya berangkat dari rumah sekitar jam 7 pagi untuk kumpul di bumi perkemahan Batu Kuda di daerah Cileunyi/Cinunuk atas yang juga menjadi titik awal pendakian. Pekan itu ada long weekend karena hari nyepi, tapi jalanan cukup lengang, sehingga mungkin hanya butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke daerah Cinunuk.

Untuk menuju ke bumi perkemahan Batu Kuda ini kita bisa melalui jalan gang di samping SPBU 34-40310 Al Masoem Cinunuk, tapi jalannya banyak berliku dan kondisinya kurang mulus. Jalan yang lebih enak sebenarnya lewat jalan Tanjakan Muncang – Villa Bandung Indah yang posisinya tepat di persimpangan Cinunuk lepas jalanan satu arah.

Dari persimpangan Cinunuk itu tinggal mengikuti jalan lurus, hingga menemui percabangan, ambil ke kiri, hampir tidak ada percabangan yang membingungkan. Kondisi jalan aspal mulus sampai sekitar 200 meter dari gerbang buper (bumi perkemahan) Batu Kuda, setelah itu jalan makadam melalui pos tiket sampai tempat parkir. Oya, untuk mencapai buper ini tidak ada angkutan umum, jalanan mungkin cukup untuk 2 mobil berpapasan. Biasanya teman-teman pendaki menyewa angkot di daerah Cibiru/Cinunuk yang menarik tarif borongan sekitar 20rb/orang.

Sampai di pos tiket, per orang dipungut Rp. 7500,- (sudah termasuk 1 botol air minum 600ml) dan parkir motor Rp. 5000,-. Langsung saya bertemu dengan kang Dadan dan Ayunda di saung dan warung-warung yang sudah berdiri lama. Karena masih banyak yang belum datang, jadi saya sempatkan sarapan dulu di salah satu warung. Setelah sarapan, ternyata masih pada belum datang, jadi saya putuskan jalan-jalan di sekitaran, toh sudah lama juga ga kesini. Kondisinya tidak jauh berubah. Di dekat warung-warung terdapat mushola, toilet juga sumber air bagi para pekemah, yang baru mungkin sekarang tidak ada gerbang kayu pembatas tempat parkir. Pagi itu rupanya lumayan ramai karena ada gathering dari suatu kelompok.

Sekitar pukul 10.00 semua anggota rombongan sudah berkumpul, total ada 8 orang yang ikut dalam perjalanan kali ini. Setelah mengecek perlengkapan, briefing singkat tentang medan, diakhiri dengan doa dan sorakan, kami mengawali perjalanan kami menuju puncak manglayang via tebing doa.

Trek puncak manglayang lewat tebing doa ini tidak termasuk ke rute resmi pendakian ke puncak manglayang karena tingkat kesulitan trek yang mengharuskan pendaki menggunakan perlengkapan panjat tebing. Oleh karena itu tidak ada petunjuk menuju kesana. Panduannya dari plang petunjuk pilih jalan lurus/kanan (bukan ke kiri ke arah puncak), hingga melalui bukit sebelah. Jalur ini masih sering dilalui karena juga jalur menuju salah satu spot perkemahan di Manglayang, yaitu Papanggungan.

Dulu banget pernah ke papanggungan sih, viewnya lumayan bagus dengan view sunrise ke arah Jatinangor. Dari jalur ini, akan ditemui beberapa percabangan, patokannya hampir semuanya ke arah kiri. Jika ke papanggungan ambil arah kanan.

Dari percabangan kita akan melalui kebun warga, salah satunya kebun tembakau. Dari perkebunan tembakau ini trek hampir tidak ada percabangan, hanya ada satu jalur menanjak. Lumayan sih klo kesini klo cuaca cerah, panass. Dari sini pula dari kejauhan sudah terlihat tebing doa yang dimaksud.

DSC00901

Dari perkebunan tembakau, kita akan menemui hutan bambu yang konon menurut rangernya klo malam-malam bisa ditemui ular derik, karena itu kewaspadaan harus ditingkatkan jika melalui daerah ini. Melewati hutan bambu, setelah itu kita akan melalui trek dengan semak belukar cukup rapat, di beberapa tempat juga ada tanaman berduri. Setelah melalui beberapa tanjakan cukup terjal, sekitar 1 jam dari awalk pendakian, akhirnya sampai juga di tempat yang sudah dinantikan : Tebing Doa Manglayang.

Konon dinamakan tebing doa karena untuk melewati jalur ini kita harus banyak-banyak berdoa. Bagaimana tidak, tebing yang menjulang sekitar 10m ini kemiringannya hampir 90°, dimana samping kiri kanannya adalah jurang. Tidak ada pegangan yang bisa digunakan untuk mendaki, makanya agak heran juga pas pak Firman bilang pernah sukses lewat tebing ini tanpa pengaman 😆

DSC00943

Btw, ternyata tebing doa ini terdapat 2 bagian, tebing pertama dengan ketinggian sekitar 6m dan tebing kedua dengan tinggi sekitar 10m. Tebing pertama masih bisa dilalui dengan melewati jalur melipir ke arah kiri yang berbatasan langsung dengan jurang. Tidak perlu menggunakan peralatan khusus, tapi jalurnya cukup sempit jadi tetap harus fokus. Sementara saya melalui jalur jalan kaki, kang Tatan, kang Dadan dan teh Celine penasaran naik tebing pertama dengan peralatan. Satu persatu teman-teman saya pun naik ke tebing pertama.

Pemandangan dari tebing pertama ini juga bagus dengan view ke kota Bandung. Sayangnya kabut menyelimuti bandung saat itu, jadi hampir ga bisa lihat apa-apa. Di arah utara dapat terlihat puncak utama Manglayang.

Setelah semua tim sampai di tebing pertama, kami melanjutkan ke tebing kedua. Rasa was-was mulai timbul gimana cara naik ke atas. Beruntungnya kang Tatan bisa menuju puncak tebing dengan meniti celah-celah batuan untuk memasang anchor dan menarik karmantel. Setelah aman, akhirnya satu per satu tim naik bergantian, sebagian menggunakan harness, ada juga yang hanya menggunakan karmantel untuk pegangan. Sepertinya tidak ada teknis khusus untuk mendaki tebing doa ini, hanya saja kita harus jeli melihat celah-celah batuan untuk pegangan dan pijakan. Tali pengamannya sendiri mungkin sebagai jaga-jaga. Saya kebagian urutan 3 terakhir, katanya tukang foto harus terakhir biar semuanya kefoto  -_-

Alhamdulillah, hanya memerlukan waktu kurang dari 5 menit untuk melewati tebing ini, rasa was-was usai sudah (tadinya). Saya pikir setelah melewati tebing doa ini jalur akan lebih bersahabat, ternyata eh ternyata tepat di depan adalah jalur sempit menanjak yang minim pegangan dengan kiri kanannya jurang menganga. Lebih parah dari pemandangan saat tebing pertama tadi. Saya yang takut ketinggian ini juga jadi agak cemas. Walhasil, setelah membantu teh Una dan Ayunda melewati 1 tanjakan setelah tebing doa, saya percepat langkah ke arah puncak tanpa coba melihat kiri kanan :))

Tapi ternyata nasib berkata lain, setelah hampir melewati tanjakan dengan jalur tipis ini teh Una minta dibantu untuk melalui tanjakan, walhasil harus balik lagi ke bawah -_-“ turunnya lebih ngeri ternyata boi.

DSC01031

Setelah melalui jalur tipis tadi, akhirnya kami sampai di jalur yang cukup rimbun dan banyak akar sebagai pegangan. Bayangan jurang-jurang tadi lewat sudah. Dari sini, trek berupa tanah dan akar-akar dengan kemiringan 60-70°. Trek agak licin mungkin karena hari sebelumnya turun hujan. Dari kejauhan saya mendengar riuh-riuh yang menandakan ada pendaki lain, artinya : puncak sudah dekat! Setidaknya puncak Prisma/puncak timur. Alhamdulillah, setelah 2.5 jam mulai dari kaki tebing doa, kami sampai di puncak Prisma.

Kondisi puncak saat itu tidak ada orang, kabut juga menyelimuti sekitar. Konon di puncak inilah tempat terbaik untuk melihat matahari terbit karena viewnya tidak terhalang pepohonan seperti di puncak utama. Terdapat lahan cukup luas di beberapa tempat untuk mendirikan 10 lebih tenda. Sepertinya sebelum kami sampai di puncak ini ada beberapa pendaki lain terlihat dari bekas-bekas makanan, sampah dan kertas. Bocah pasti ini, kampret betul ninggalin sampah.

Kami memutuskan untuk beristirahat, solat dan makan di puncak timur ini. Dengan menggelar plysheet, kami makan berjamaah dengan bekal yang dibawa dari bawah. Sebiji tomat merah pemberian teh Una pun rasanya segar kali dimakan di puncak ini.

Kami beristirahat kurang lebih 1 jam di sini, kemudian kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang lewat Puncak Utama, karena turun lewat tebing doa tadi rasanya bukan pilihan :)) Dari puncak prisma ini, rupanya juga terdapat jalur Manglayang via Barubeureum ke arah kiarapayung. Dulu saya pernah tidak sengaja ke Barubeureum karena salah jalur. Puncak utama ditempuh sekitar 40 menit pendakian yang terus menanjak, bukan turun gunung sih ini namanya.

DSC01087

Kami sampai di puncak utama sekitar pukul 16.00, lagi-lagi di puncak utama ini tidak ada orang, sepertinya sudah pada pulang karena besok Senin. Bagi yang belum pernah ke Puncak Utama Manglayang, puncaknya berupa lapangan yang tertutup pepohonan dan terdapat sebuah petilasan. Alhamdulillah di sini kondisinya lebih bersih dibanding di puncak prisma tadi. Seperti biasa di puncaknya juga terdapat plang penanda ketinggian. Saya tak melewatkan berfoto bersama plang puncak Manglayang yang berketinggian 1818 mdpl ini (ciee nomor cantik).

DSC01104

Kami tidak menghabiskan waktu lama di puncak karena sudah sangat sore. Hujan pun mulai turun di perjalanan turun. Yang paling bikin males di Manglayang ini memang jalurnya bakal sangat licin klo hujan, makanya saya percepat jalan mumpung hujan belum terlalu deras. Tapi memang kita tidak bisa mengontrol hujan, di sekitar setengah jam sebelum mencapai Batukuda, hujan sangat deras akhirnya saya sempat terpeleset. Di perjalanan juga bertemu 3 orang pendaki yang baru menuju puncak. Sekitar pukul 17.30 saya sampai di Batu Kuda, langsung menuju warung dan memesan segelas kopi panas dan gorengan, ahh nikmat rasanya. Beberapa waktu kemudian semua tim sudah sampai di Batu Kuda. Tidak lama kami pun berpisah menuju rumah masing-masing.

Untuk saya pribadi, perjalanan pendakian lewat tebing doa ini memang menawarkan pengalaman paling berbeda dibanding gunung-gunung lain, salah satunya ya karena harus panjat tebingnya itu, mau balik lagi? Mikir 2 kali sih kayaknya, kecuali perginya sama kamu, iya kamu :”)

Damage Cost

  • Bensin PP : Rp. 18000,-
  • Tiket & Parir : Rp. 7500,- + Rp. 5000,-
  • Indomi rebus telor : Rp. 7000
  • Kopi susu : Rp. 3000,-
  • Roti & madu : Rp. ~20.000,-