Catatan Pendakian Gunung Lembu Purwakarta : Sunset, Sunrise, Nightscape, Danau, kurang view apalagi?

Dibalik ketinggian gunung, ada kerendahan hati – T. Bachtiar

Akhir-akhir ini dunia pendakian di Indonesia diributkan dengan masalah sampah yang ada di gunung-gunung, terutama gunung wisata. Netizen ramai-ramai mengutuk ulah oknum pendaki yang entah sengaja atau tidak meninggalkan sampah di puncak ataupun area camp, langsung dicapnya mereka pendaki alay atau pendaki modal duit. Hal ini sebenarnya bukan masalah baru sih, bahkan di atap bumi Everest, sampah menjadi masalah besar , terakhir masalah sampah pendakian juga bisa ditemui di puncak tertinggi Indonesia. Masa sih pendaki gunung tertinggi dan tingkat kesulitan tinggi itu ga punya tanggung jawab atau kecintaan terhadap alam? Terlepas mungkin ada kesulitan teknis dan non-teknis yang kebanyakan orang tidak ketahui, kalau menurut saya pribadi sih ketinggian gunung tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kesulitan pendakian, coba tengok gunung salak dengan ketinggian 2211 mdpl, atau gunung-gunung Bandung, pasti bikin wakwaw 😁

Oya, akhir-akhir ini saya memilih untuk lebih banyak mengeksplor gunung-gunung sekitar Bandung/Jawa Barat, alasannya sederhana, tidak perlu waktu banyak (untuk perjalanan), juga budgetnya tidak terlalu besar. Gunung Bandung konon memang ada ratusan, tapi untuk menjelajahinya perlu pengetahuan lebih dan disertai pendaki yang lebih berpengalaman. Alhasil, penjelajahan saya di gunung-gunung Bandung juga terbatas. Alhamdulillah, tidak jauh dari Bandung sekitar 60km ke arah barat, terdapat kompleks pergunungan yang sudah ramai dikunjungi. Salah satunya sudah pernah saya kunjungi tahun lalu. Nah, dulu gunung Parang dengan trek via Ferratanya sukses membuat jantung dan lutut saya lemas, ternyata di sekitar gunung Parang ini juga terdapat gunung lainnya dengan pesona masing-masing, gunung Bongkok dan gunung Lembu. Karena jaraknya hanya sekitar 2 jam dari rumah, akhirnya September 2017 lalu berangkat saya dengan rombongan dari Jakarta berjumlah 8 orang. Saya berangkat dengan motor dari Bandung, sementara teman-teman dari Jakarta berangkat menggunakan kereta lokal Walahar Ekspress dari Tanjung Priok ke Stasiun Purwakarta. Tujuan kami : Gunung Lembu, 792 mdpl.

9 September 2017

Teman-teman berangkat dari Tanjung Priok dengan kereta jam 10an. Dengan estimasi perjalanan kereta sekitar 2 jam, saya berangkat dari Bandung jam 9. Melewati Padalarang-Cikalong-Purwakarta saya berangkat menuju Stasiun Purwakarta. Ternyata jalanan cukup lengang saat itu, pukul 11 siang saya sudah sampai di Stasiun Purwakarta, yang ternyata dekat dengan taman air mancur Sri Baduga yang konon merupakan air mancur menari terbesar di dunia. Jelas karena masih siang, saya tidak bisa menikmati keindahannya. Sepertinya matahari berjarak lebih dekat di Purwakarta, di accuweather tercatata suhunya sekitar 37°C, makjang. Rasanya makan eskrim sekali ga cukup menghilangkan gerahnya kota ini. Hingga jam 12 siang, ternyata teman-teman dari Jakarta baru sampai di Cikampek. Mungkin karena kereta dengan tarif 6500 ini prioritasnya lebih kecil, jadi harus rela dilalui kereta-kereta lain. Karena lapar, saya pun makan di warung nasi sekitar Stasiun. Oya, sambil menunggu teman-teman, saya membantu mencarikan angkutan untuk ke basecamp. Di sekitar stasiun terdapat angkot, kebetulan kami dapat tarif 400rb PP stasiun-basecamp, mungkin bisa dapet lebih murah lagi sih, tapi menurut saya ongkos segitu sudah lumayan mengingat jalan ke basecamp lumayan jauh dan sulit.

Sekitar pukul 13.30 saat tubuh saya hampir meleleh karena matahari Purwakarta, akhirnya teman-teman sampai di Stasiun Purwakarta, menurut cerita mereka parah juga keretanya, udah lama, 1 kursi (yang hadap2an biasa diisi 2-3 orang) bisa diisi 4-5 orang, udah kaya oven aja katanya, lol. Sempat mengisi perut dan logistik di minimart dekat stasiun, sekitar pukul 14.30 kami berangkat ke basecamp gunung Lembu lewat daerah Sukatani, belok tepat di plang PT. Gunung Kecapi.

plang gunung kecapi
Plang PT. Gunung Kecapi

Dari plang ini, perjalanan menempuh sekitar 1 jam melewati jalan yang jelek di awal, melintasi rel kereta, baru lewat jalur aspal perkampungan yang cukup mulus nan sempit dan turun naik, asap knalpot angkot semakin pekat ketika melalui tanjakan. Di perjalanan, kita bisa melihat gunung Parang, gunung Bongkok dan bukit-bukit tetangganya.

Pukul 15.30 kami sampai di basecamp gunung Lembu, kondisi sarana prasarana sudah terbilang bagus, terdapat lapang yang dikelola warga yang bisa digunakan untuk tempat parkir motor/mobil menginap. Sambil repacking, kami langsung registrasi dengan membayar simaksi 12500 per orang. Di basecamp tersedia warung-warung, tempat mandi, toilet dan mushola, ada juga kantor kelurahan, barangkali ngurus surat pengantar nikah dulu #eh.

Di basecamp terdapat banner berisi informasi seputar gunung Lembu, misalnya proses terjadinya gunung Lembu yang ternyata dulunya terdapat gunung yang lebih besar yang kemudian meletus, kemudian erosi menyisakan sumbat lava yang jumlahnya tersebar di sekitar gunung Lembu. Diketahui juga penamaan gunung Lembu karena jika dilihat dari sisi timur (dari gunung Parang?) bentuknya seperti seekor lembu yang sedang duduk #masasih. Pukul 16.30 kami mulai treking melalui jalur di samping basecamp, estimasi awal sampai puncak sekitar pukul 6/7 malam, momen sunset sepertinya akan terlewat apa boleh buat. Yang lebih membuat cemas sih karena kami berangkat hari sabtu, takutnya ga kebagian tempat untuk berkemah. Akhirnya tim dibagi dua supaya tim paling depan bisa ‘booking’ tempat dulu.

Treknya? Dari mulai awal trek, langsung disuguhi tanjakan 30-40° melewati kebun bambu, trek ini awet sampai sekitar 20 menit, kami sampai di Pos 1 Lapang Kapal. Di sini terdapat lapangan untuk 50an tenda, juga terdapat warung serta semacam menara pandang dari bambu. Tidak jauh dari lapang Kapal ini juga terdapat semacam jembatan/dermaga dari bambu untuk foto-foto. Kami istirahat beberapa saat di pos ini.

Lepas pos 1, kami menemui kembali kebun bambu lalu, beberapa saat kemudian vegetasi bambu berganti pepohonan rindang. Saat pergantian vegetasi ini kami disambut dengan tanjakan terjal sekira 50°, pendek sih. Btw, sebelum tanjakan tadi ada alternatif trek yang lebih landai di percabangan ke sebelah kanan, lumayan hemat tenaga 😁 Di ujung tanjakan tadi sudah ada bonus dan disambut petilasan Mbah Jonggrang, tidak jauh dari situ sudah sampai di Pos 2 sekitar pukul 17.10. Di pos 2 ini terdapat beberapa warung yang buka, kelapanya sangat menggoda apalagi diminum siang-siang. Dari pos 2 ini trek lalu menurun, di sebrang sana ada sebuah bukit lagi yang sepertinya puncak Lembu, mirip-mirip trek Puntang, untungnya bukitnya tidak menjulang tinggi. Nah, saat trek turun berbentuk seperti sadel ini kita bisa melihat view Jatiluhur dan rumpon-rumpon nelayan, fiuhh, what a view.

Tanjakan terakhir sebelum mencapai puncak Lembu ditempuh sekitar 15 menit, menurut peta sih harusnya ada pos 3 sebelum puncak, di tanjakan juga sempat ada petilasan lagi, tahu-tahu sudah sampai puncak aja. Kami sampai di puncak Lembu 792 mdpl sekitar pukul 17.30. Puncak Lembu ini mungkin bisa menampung 15 tenda lebih + hammock, di sekitarnya rimbun jadi tidak bisa lihat view apa-apa. Kebetulan belum ada tenda lain di puncak, kami memutuskan mendirikan tenda dulu sebelum turun (ya, turun!) ke Batu Lembu tempat utama di gunung Lembu.

DSC04176
Puncak Lembu

Tidak lama setelah mendirikan tenda, kelompok yang lain sampai satu per satu ke puncak. Saya pun langsung berlari membawa perlengkapan lenong untuk turun ke Batu Lembu, masih berharap mendapat sunset, walaupun dari tadi awan mendung. Sekitar 5 menit, saya sampai di daerah terbuka dimana pijakan tanah berganti menjadi batuan padat dengan view 180° ke arah waduk Jatiluhur! Masyaallah. Duh, tapi sayangnya memang belum rejekinya dapet sunset yang cetar di gunung Lembu ini. Oya, terdapat beberapa undakan di Batu Lembu ini, daerah paling luas adalah yang berbatasan langsung dengan jurang, tapi terdapat pagar pengaman berupa kabel sling yang mengelilingi lapangan. DSC03849

Lepas magrib, kabut masih menyelimuti gunung Lembu dan sekitarnya, akhirnya kami putuskan untuk makan malam dulu, berharap nanti malam pemandangannya akan lebih cetar. Setelah mengisi perut, sekitar jam 10 malam kami turun kembali ke batu Lembu, karena penasaran dengan view malam yang katanya lebih indah. Ada sekitar 30 orang di area batu Lembu saat itu. Oya tidak disarankan mendirikan tenda di daerah batu Lembu, selain karena berbatasan langsung dengan jurang, anginnya besar, area tanah juga cukup sedikit, namun demikian di jalan turun ke batu Lembu ada area yang bisa digunakan berkemah. Di batu Lembu ini juga ada warung & toilet kering yang selalu buka. Benar saja, pemandangan di Batu Lembu ke arah waduk Jatiluhur ini memang lebih indah dari pemandangan tadi sore. Lampu-lampu dari rumpon nelayan di waduk Jatiluhur seperti permukiman penduduk di darat. Terbayang, permukiman penduduk jaman sebelum waduk Jatiluhur ini digunakan.

Tidak terasa kami menghabiskan waktu 2 jam di Batu Lembu ini, sepertinya yang tersisa hanya kelompok kami. Terhitung 4 kali saya bolak balik puncak-Batu Lembu -_- Sampai di tenda, kok hawa-hawanya mirip di pantai, gerah-gerah gimana gitu. Apalagi kalau masuk ke tenda hampir seperti oven. Ah, akhirnya saya menggelar matras di luar tenda. Tidak beberapa lama saya pun tertidur. Dilema pun hadir, tidur di tenda gerah, pake sleeping bag gerah, tidur diluar ga pake sleeping bag dikeroyok nyamuk -_- Untungnya waktu subuh tiba, penderitaan pun berakhir.

10 September 2017

Subuh menyingsing di Puncak Lembu, walau tidak terasa dingin, tapi badan saya agak gemetaran. Setelah solat Subuh, membangunkan teman-teman lain, kami bergegas turun untuk menyambut mentari pagi. Jam 5 pagi di batu Lembu ternyata sudah dipenuhi para pendaki. Kebanyakan berangkat tektok pagi buta tadi. Jam 6 lebih, mentari terbit di ufuk timur, bentuknya bulat sempurna, dingin yang sedari tadi bersahabat dengan angin yang sama tadi malam perlahan menghilang. Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami, kepada-Nya lah kita kembali 🙂 Oya, dari batu Lembu ini selain waduk Jatiluhur di selatan, gunung Parang di sebelah tenggara, di arah barat daya kita juga bisa melihat pemandangan serupa pulau Padar dengan perbukitannya. Yah, lihat miniaturnya dulu lah ya.

 

 

DSC04085
sunrise di batu (gunung) Lembu, perlu dilempar ga nih 2 orang?😆 Jam 

Jam setengah 8 kami kembali ke tempat camp untuk sarapan sekalian packing untuk pulang. Setelah sarapan, bukannya langsung packing, ternyata masih ngantuk, jadilah sekitar sejam saya pun tertidur. Baru sekitar jam 10 kami bergegas turun. Jam segini suhunya sudah lumayan terik, jadilah saya pun berjalan agak cepat, sehingga perjalanan turun tidak terasa, mungkin sekitar 30 menit sebagian dari kami sudah sampai di basecamp. Sebagian lagi istirahat di Pos 2 membeli kelapa muda. Bapak angkot juga sudah standby di basecamp. Sebagian mandi di WC umum di sekitar warung dan kantor kelurahan, selepas Zuhur saya pun berpisah dengan rombongan untuk pulang ke tempat masing-masing. Lewat rute yang sama, 2 jam saya sudah sampai di rumah. Dengan demikian, selesai sudah perjalanan untuk melengkapi 2/3 gunung gemes di Purwakarta, lain waktu mungkin saya lengkapi perjalanan ke gunung Bongkok, insya Allah. Rating untuk gunung lembu ini : view 4/5, trek 2/5, akses/sarana-prasarana 4/5.

Summary

Sebagai penutup, berikut rekap waktu tempuh dan biaya yang diperlukan :

Waktu Tempuh :

  • stasiun purwakarta – basecamp : 1.5-2 jam.
  • basecamp-pos 1 : 15 menit
  • pos 1-pos 2 : 30 menit
  • pos 2-puncak : 15 menit
  • puncak – batu lembu : 5 menit
  • total waktu treking naik 60-90 menit, turun ~30-45 menit

Cost Damage :

  • Simaksi : 12500/orang
  • Parkir Motor/malam : 5000

Peta Trek :

trek lembu
Peta Gunung Lembu

 

Iklan

Via Ferrata di Gunung Parang

Ini pertama kalinya Yan yang ga pernah naik gunung, staminanya cuma seupil, males banget olahraga dan penyakitan ini mencoba via ferrata. Yup, dengan modal nekad dan baca-baca informasi tentang via ferrata di gunung parang di internet, akhirnya berangkat. Awalnya cuma pengen nemenin Balim yang mau nyoba, but, setelah baca-baca di internet dan mikirnya “kalau ga sekarang, kapan lagi?” muncullah niat buat nyobain. Hehehe…

Via ferrata atau jalan besi dalam bahasa Italia adalah jalur pendakian menggunakan kabel/kawat baja yang membentang di sepanjang rute yang dilengkapi dengan tangga besi dan secara berkala yang menempel tetap pada batu. Sekarang via ferrata ini sudah ada di Indonesia tepatnya di Gunung Parang yang merupakan gunung panjat tebing tertinggi kedua di Asia, jadi kalau teman-teman tertarik untuk mencoba via ferrata ga usah jauh-jauh ke Kinabalu (Malaysia) lagi.

about-via-ferrata
Via ferrata di Kinabalu. Sumber gambar : http://mountaintorq.com/via-ferrata/

Malam sebelum berangkat itu Yan gelisah banget, ga bisa tidur, muncul pikiran-pikiran aneh kayak nanti kalau jatuh gimana? Kalau ga berani trus malu-maluin gimana, atau kalau mati gimana, kalau skripisinya langsung diACC gimana (ngelantur kamu Yan!!)? Tapi, berhubung sudah dibooking mau ga mau semua pikiran itu harus dihilangkan dan berserah diri pada Allah SWT (religius beneeer). Paginya berangkat dari Bandung sekitar pukul 5 pagi menuju Purwakarta pakai sepeda motor dan tentunya dibonceng Balim, nah sampainya di Plered Balim ragu-ragu arahnya, awak pun buta jalan. Akhirnya muncullah adegan ini:

Katakan peta

Peta

Katakan peta, katakan peta

Peta, Peta

Katakan lebih keras

Lebih keras

GILA, maksudnya buka gugel mep, dan om gugel pun memberikan jalur maha dewa bekas pertarungan Son Goku sama Friezza, hahaha, haha, ha, meh. Tapi, perasaan sakit hati sama om gugel kebayar sama penampakan Gunung Parang dari jauh, mulai deg-degan, dan tangan berkeringat, gunungnya seolah-olah bilang, “Yakin, neng, mau kesini?”, nyali yang udah dikumpulin selama perjalanan tiba-tiba menciut. Berhubung Balim yang bawa motor, awak ga bisa balik kanan pulang ke Bandung. T.T

P_20160110_074655
Gunung Parang dari Kampung Cihuni

Dan sampailah di kampung Cihuni, tempat kami akan memulai via ferrata. Untuk penyelenggara via ferrata di gunung parang sendiri yang Yan tahu ada Skywalker dan Badega Gunung Parang (BGP). Kebetulan Balim booking di BGP, nah, katanya  BGP sendiri dimiliki dan dikelola oleh orang-orang Cihuni sendiri, makanya harganya lebih murah, tapi pelayanan dari guidenya yang ramah dan safety kit yang diberikan menunjukkan kalau ga selalu harga menunjukkan kualitas. Lanjut lagi ceritanya, setelah sampai di BGP kami pun diberikan waktu untuk beristirahat dulu memulihkan tenaga di saung yang sudah disediakan pengelola, berhubung dikasih bantal, jadilah perjalanan ini berakhir di pulau kapuk, eh, salah, ga bisa tidur kok, beneran. Gimana mau tidur, hati ini ketar ketir banget ngeliat kegagahan Gunung Parang dari deket. Hufft.. Ngeriii.. Langsung ngondek melambai awak jadinya… T.T

P_20160110_091048
Gunung Parang dari Saung BGP

Kira-kira pukul setengah sebelas kami sudah bergabung dengan 4 orang lainnya yang bakalan ikut via ferrata, ada  Diana, mbak Yuli, Mas Ey, sama temennya mbak Diana (Yan lupa namanya! Maaf..) terus kang Ebi, guide kami. Kang Ebi mengajak kami beranjak ke base camp tempat pemasangan safety kit yang akan digunakan untuk via ferrata. Daaannn, Yan dikasih harness trus ga bisa masang, huhuhu, kan Yan ga pernah make begituan, kang. Akhirnya, setelah dibantu sama Balim dan kang Ebi, terpasanglah harness itu, Yeah! Perjalanan pemanasan pun dimulai menyusuri hutan di kaki Gunung Parang selama 30 menit, berhubung semalamnya abis hujan keadaan tanah hutan agak licin dan harus hati-hati banget, soalnya di kanannya jurang, walaupun ga dalem-dalem amat tapi kalau jatuh kan ga lucu juga. Oh iya, berhubung abis hujan dan ini hutan, jangan kaget kalau banyak nyamuk yang akan mengganggu kalian, sekali gigit itu rombongan, jadi sedia lotion anti nyamuk atau minyak kayu putih ya. Teruuuss, beberapa kali kami berpapasan dengan rombongan monyet ekor panjang, berhubung ga mau nyari masalah, lebih baik biarkan mereka lewat dulu baru kita lanjut jalan lagi.

Setelah melewati hutan, kita akan sampai di check point pertama, tempat pendakian sebenarnya akan dimulai, di CP ini kita bisa lihat Waduk Jatiluhur beserta keramba-kerambanya yang bikin gigitan-gigitan nyamuk tadi ga (terlalu) berasa. Kami beristirahat sejenak di CP pertama, memulihkan tenaga yang sedikit terkuras dengan minum dan tentunya foto-fotoooo.. hahaha..

IMG-20160111-WA0026[1]
Wefie dulu di check point I

Ga terlalu lama, kang Ebi kembali mengajak kami menghadapi realita di depan mata, tebing Gunung Parang yang akan didaki, aaaaaakkkk.. Ngeliatnya bikin mules perut, tinggi bener, ga ada datar-datarnya (emangnya lantai, Yan?). Mau ga mau, berhubung udah nyampe sini, ga mungkin mundur. Lanjut, ngedaki tebing sedikit, kita sampai di CP kedua, dan tiba saatnya kang Ebi memberikan briefing tentang penggunaan carabiner, apa itu carabiner? Carabiner itu pengait yang dipakai untuk mengaitkan tubuh kita ke kawat baja dan/atau ke tangga besi, supaya kalau ada kejadian (amit-amit) kayak kepeleset gitu, masih ada yang nahan badan kita.

IMG-20160110-WA0026
Briefing santai dulu di check point II

Oh iya, naik bersama BGP ini akan dilakukan setinggi 300 meter dan ga semua vertikal, ada saatnya juga kita harus merayap kayak cicak dan hanya berpegangan pada tebing karena harus berbelok. Awal-awal mungkin emang agak watir, karena mau ga mau ngeliat ke bawah dan itu tinggi bangettt, tapi bisa disiasati dengan dengerin musik atau foto-foto (difotoin guidenya) biar lebih rileks. Ga beberapa lama manjat, Yan udah ga ngerasa ngeri lagi ngeliat ke bawah, karena, masyaAllah, indahnya, ga ngerti tadi kenapa harus takut naik, dan seru banget.

IMG-20160110-WA0030
Baru naikkk…
IMG-20160110-WA0025
Bagian nyamping, jalan kayak kepiting, peluk tebing

Di ketinggian 250 meter terdapat cerukan gitu kayak gua yang bisa dipakai untuk istirahat, inilah CP kita yang ketiga dan di CP ini berhubung tempatnya agak gede bisa ngemping dengan kapasitas terbatas, bahkan ya, kata kang Ebi, kemaren ada yang honeymoon disini. Oh iya, disini juga ada pembatasnya berupa kawat baja, jadi kalau kita berada di dalam lingkup kawat baja, carabine-rnya boleh dilepas, terus kebetulan kita berpapasan dengan rombongan lain yang mau turun. Dari cerita mereka sih, lebih deg-deg ser pas turunnya. Berhubung ga mau merusak kesenangan dan ketentraman hati karena udah rileks dan selow, kata-kata mereka ga terlalu Yan dengerin. “Mari kita rasakan sendiri nanti, jangan dirasa-rasa sekaranglah, yang sekarang nikmatin dulu aja.” Kira-kira gitulah yang Yan bilang dalam hati.

Oh iya, berhubung belum ada lift atau eskalator ke atasnya maka belum ada yang jualan soto ayam, nasi padang ataupun mie ayam di atas, jadi jangan lupa bawa minum dan cemilan kayak cokelat buat pemulih tenaga masing-masing ya. Hehehe..

P_20160110_115555
Narsis dulu di CP III

Setelah berfoto-foto dan rehat sejenak, pendakian dimulai lagi, hurray! Jalur selanjutnya ini cenderung vertikal walaupun cuma 50 meter lagi berhubung matahari sudah di atas kepala dan angin mulai enggan berhembus (aseek) jadi berasa lebih capek dibanding naik yang 250 meter tadi. Eh, ngomong-ngomong tentang angin yang berhembus nih ya, ini pendapat pribadi Yan aja, untuk orang-orang kutilang darat (kurus, tinggi, langsing, dada rata) kayak Yan, saat angin berhembus jangan lengah dan lantas menikmatinya anginnya aja, tapi tetap berpegangan pada tangga besi atau tebing serta Al-Qur’an dan Hadist (eaaaakk) karena anginnya ga bisa diduga kekuatannya, bisa-bisa nanti bukannya Via Ferrata tapi malah jadi layangan awak yang ada, hehehehe.

 Lanjut nih ya, pendakian 50 meter terakhir ini berakhir di cerukan kayak CP yang ketiga tadi, cuma lebih kecil tempatnya, dan berhubung ini spot terakhir kita puas-puasin foto, ngemil, minum, dan tidur, yak mulai ngaco. Dari atas sini keliatan pemandangan waduk jatiluhur, gunung lembu (dan Yan bingung belah mananya gunung itu yang mirip lembu..), serta pemukiman warga di kaki gunung kumplit dengan hutan-hutan yang masih awet dan sawah-sawahnya yang baru mulai ditanami, masyaAllah. Langsung keinget Surat Ar-Rahman yang 31 dari 78 ayatnya bilang:

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

P_20160110_115928
Waduk Jatiluhur dan Gunung Lembu (?)

 

IMG-20160111-WA0010
Foto-foto dulu kakakkk…

Pemandangan indah, angin sepoi-sepoi, perasaan capek yang mulai datang dan waktu yang sudah masuk jam bobok siang bikin tebing yang keras berasa bantal, jadi mager turun. Tapi, mau tak mau setelah dicekokin coki-coki sama mbak Yuli, akhirnya Yan mau turun, padahal sebelumnya tiap kang Ebi ngajak turun pasti bilang, “Bentar lagi aja kang, selow, poto-poto dulu.” Hehehe..

9409
Ini ga datar ya, cuma salah sudut pengambilan foto aja, Diana, kamu luar biasa!

Akhirnya sesi foto terakhir sebelum turun ini dengan posisi menantang, lepas tangan dan ngehadap tebing alias ngebelakangin waduk jatiluhur, ngeliatnya sih awalnya kayak asik, gampang, cincailah, ehhh, lama-lama atut juga adek, kak… hehehe, mental tempenya keluar lagi. Nyesel sih karena ga berani kayak gitu, hahaha. Dari kami berenam cuma Diana yang berani difoto kayak gitu, daebak Dianaaa, kamu keren!

 

Berakhir sesi poto-poto, mulailah kami menghadapi kenyataan yaitu turun ke bawah tak segampang yang diperkirakan, huhuhu, mamaaaa… Sebenernya sih ya, bukan takut ngeliat ke bawah kalau Iannya, Yan ga ada masalah dengan ketinggian apalagi kalau udah lama di atas, the problem is Yan ga bisa ngeliat tangga yang di bawah buat dipijak selain ketutup sama celana juga ketutup sama jilbab yang melambai-lambai diterpa angin, next time bisa diakalin dengan pake peniti buat ngamanin lambaian jilbabnya.

Beberapa tangga pertama aman, tapiiii, mungkin karena Yan lelah, kurang tidur, dan ga sarapan pagi, jadi aja ini lutut bergetar cetar, hehehe, sebelumnya juga Yan emang pernah ada kecelakaan terkait lutut, intinya kaki kanan Yan ga bisa ditekan, ataupun dikasih beban terlalu lama. Walaupun agak gemetar tiap dipijakin tapi alhamdulillah ga menimbulkan masalah. Turun dari check point terakhir ke check point ketiga itu berat banget, ga tahu kenapa, turun 50 meter ini lebih berat daripada 250 meter selanjutnya. Perjalanan turun ini bikin deg-deg ser, karena harus hati-hati sama pijakan di bawah, jangan sampai kepleset, hehehe, selain itu ga ada lagi sih.

Seru banget! Sampai di check point pertama belum bisa bernapas lega, karena harus segera turun, Diana dan temennya harus naik kereta ke Jakarta, rehatnya cuma bentar, masih sempat poto-poto dulu. Pas di hutan, berhubung beberapa titik menurun, harus hati-hati, licin dan kaki juga gemetar, capek, tapi jangan sampai kehilangan konsentrasi.

Akhirnya, setelah berusaha dengan tenaga terakhir sampailah di base camp, lepas semua safety kit dan beralih ke saung beserta bantalnya. Alhamdulillah. Oh iya, di BGP ini ada kamar mandinya, jadi kalau berkeringat, rambut lepek, bau badan mengganggu, bisa mandi disana. Atau, kalau mau istirahat memulihkan tenaga, bisa tidur dulu di saung, atau pesan makan siang juga bisa. Perjalanan naik turun gunung para via ferrata ini memakan waktu sekitar 2-2,5 jam, ga lama kannn.. 🙂

Pengalaman yang ga direncanakan dan ga terduga ini benar-benar pengalaman berharga pembuka awal tahun buat Yan. Makasih Badim, makasih juga BGP. Buat temen-temen yang mau coba via ferrata ini, yuk ah, jangan ragu-ragu. Di Indonesia via ferrata baru cuma ada di Gunung Parang lho, insyaAllah ga akan nyesel. Oh iya, ada beberapa hal yang harus diperhatiin sebelum ikut via ferrata ini yaitu:

  1. Pastiin kamu ga punya phobia ketinggian;
  2. Pastiin bawa obat pribadi dan kalau punya penyakit asma ataupun jantung, konsultasi dulu sama dokter ataupun guide kamu;
  3. Bawa lotion anti nyamuk dan/atau minyak kayu putih;
  4. Pakai pakaian yang nyaman, untuk cewe, mending jangan pake gamis ya, rempong, neng..
  5. Pakai alas kaki yang nyaman dan tapaknya ga licin;
  6. Berdo’a! Apapun agamamu, percaya kalau kekuatan Tuhan akan selalu menjaga kamu;
  7. Makan maksimal 1-2 jam sebelum kamu naik;
  8. Bawa baju ganti dan peralatan mandi;
  9. Bawa minum dan usahakan pakai tumbler ya;
  10. Bawa cemilan buat isi tenaga di atas nanti;
  11. Buang sampah di tempatnya, jangan jadi tukang nyampah ya;
  12. Perhatikan instruksi dari guidenya;
  13. Biar rileks, silahkan coba dengerin musik, tapi jangan pakai headset, biar kalau ada instruksi dari guide bisa diperhatiin. Atau poto-poto aja, naik dikit, naik banyak, cekrek, cekrek. Pas turun juga, cekrek, cekrek, cekrek. Hehehehe..
  14. Have fun! Jangan mikir yang macam-macam.

Hampir lupa, kalau kamu mau nyoba via ferrata ini bisa cek instagramnya Badega Gunung Parang di https://www.instagram.com/badegaparang/ atau langsung hubungi hotlinenya di +62-8787-470-8230.